alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Senandung Black n Blue
4.94 stars - based on 17 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c3106c00577a9581d06566e/senandung-black-n-blue

Senandung Black n Blue

Tampilkan isi Thread
Halaman 9 dari 25

Part 3.4

Keesokan harinya setelah magrib gue sudah berada di Stasiun Gambir. Setelah sebelumnya berdebat cukup panjang dengan kedua orang tua gue serta Bella tentang keinginan gue ke Jogja yang mendadak ini. Nyokap gue awalnya tidak mengizinkan, karena gue masih harus bersekolah. Walau sudah tidak ada lagi pelajaran namun belum waktunya untuk liburan. Sama halnya dengan nyokap gue, Bella pun awalnya melarang. Namun setelah gue berbisik pada Bella tentang niat gue ke Jogja. Bella akhirnya membantu gue membujuk nyokap gue. Sementara bokap gue, beliau hanya tersenyum-senyum sendiri melihat gue merengek pada nyokap gue. Yang pada akhirnya nyokap gue luluh karena rayuan bokap gue lalu memberikan gue izin dan yang terpenting tiket pergi-pulang. Yah karena sejujurnya izin itu nomer dua yang terpenting itu dana heheheh.

Gue pergi tidak seorang diri, gue meminta bokap gue membelikan tiket untuk 4 orang. Gue pergi bersama Abdul, Jono, dan Malik. Tentu ke 3 orang itu sangat girang saat gue ajak ke Jogja tanpa menimbang mereka langsung mengiyakan ajakan gue.

"Memang dasar rengat!"

Gue menunggu Jono, Malik, dan Abdul seorang diri di sebuah gerai donat yang ada di stasiun ini. Gue mengirim sms pada 3 orang teman gue itu kalau gue menunggu mereka di gerai donat ini. Abdul yang pertama kali datang, disusul Malik, lalu Jono yang telat 30 menit dari waktu yang sudah kami sepakati.

Kereta yang akan kami tumpangi berangkat pukul 8 malam, masih ada waktu sekitar satu jam dan kami habiskan untuk berbincang-bincang tentang apa yang akan kami lakukan di Jogja.

Jono dan Abdul semangat sekali berbicara kalau kami harus kesini, kesini, kesini dan kesini. "Kesemua objek wisata pokoknya. Hahahah." Ucapnya terlihat sumringah.

"Gue tegesin sama lo semua yah sekali lagi, kita ke Jogja bukan buat liburan. Kita nyari orang! Nyari Nina." Sahut gue menegaskan.

"Nyari pacar gue?" Celetuk Jono yang membuat gue tidak bisa berkata apa-apa.

"Sial salah ngajak gue." Ucap gue dalam hati. Seolah merasa menang, Jono lalu tertawa terbahak-bahak. Sementara Abdul dan Malik hanya bisa menahan tawanya.

"Udeh… Mau ketawa-ketawa ae kali, bener kok Jono, kita mau nyari PACARNYA, YANG SELINGKUH SAMA GUA." Sahut gue yang membuat tawa Abdul dan Malik pecah. Sementara Jono diam seperti menahan kesal.

"Jon, gue ngajak lo biar sekalian kelar semuanya. Kita selesaiim masalah ini pas ketemu Nina nanti biar engga ada dari kita yang nyimpen dendam." Ucap gue pada Jono.

"Hahahaha, Nata nata." Jono menggelengkan kepala. "Lo salah, gue engga pernah nyimpen dendam. Iya emang gue kesel sama apa yang lo sama Nina lakuin ke gue. Tapi udah, kesel gue gitu ajah kok gue engga dendam. SUMPAH DEMI TUHAN gue engga dendam. Gue sadar, Nina sayangnya sama lo, Nina cintanya sama lo bukan sama gue. Gue juga tau gimana lo cinta sama Nina bahkan lo engga pernah keliatan segila ini nunjukin cinta lo kayak sebelumnya sama Karina. And here I am, as your friend sebagai sodara lo, udah harusnya gue ngedukung lo kan?" Lanjut Jono sambil menepuk pundak gue yang langsung gue sambut dengan memeluknya.

Gue sedikit terharu dengan apa yang diucapkan Jono, seorang Jono yang gue kenal selalu selebor, sedikit childish, agak alay, namun selama satu semester gue berjarak dengan dia kini dia sudah menjelma menjadi Jono yang sedikit dewasa, walau agak sedikit menyebalkan dengan perubahannya yang semakin blak-blakan dalam berbicara.

"Thanks Bro, be te we, itu pidato lo paling keren sih yang pernah gue denger" Ucap gue sedikit menahan haru.

"KANCING! Hahahahaha"

Senang rasanya bisa tertawa kembali bersama, bisa memaki lagi tanpa harus merasa sakit hati dan gue mengakui kalau gue rindu canda tawa ini.

Pukul setengah delapan kereta kami sudah tersedia di peron. Kami bergegas naik ke lantai atas peron berada. Ini kali keduanya gue naik kereta api jarak jauh. Pertama kali gue naik kereta api jarak jauh yaitu ke Cilacap beberapa bulan yang lalu. Tidak seperti pertama kalinya naik kereta saat itu gue sulit menemukan kursi gue berada. Kini gue sudah sedikit tahu penyusunan letak angka kursi kereta, walau masih harus bertanya gerbong yang kami naiki tapi setidaknya gue masih tidak begitu memalukan dibanding ke tiga teman gue itu yang baru pertama kalinya naik kereta api jarak jauh.

Sialnya tempat duduk kami tidak berurutan, hanya dua tiket yang duduk bersebelahan, sisanya terpencar namun masih dalam satu gerbong yang sama. Gue dan Malik mengalah duduk terpisah. Sementara Jono dan Abdul duduk bersebelahan. Dan pukul 8 lewat kereta mulai melaju, mengantar kami ke stasiun tujuan kami. Sepanjang perjalanan gue hanya mendengarkan musik lewat earphone yang disambungkan ke perangkat pemutar musik gue sambil sesekali memejamkan mata mencoba tidur agar perjalanan tidak begitu terasa.

Ditengah perjalanan gue yang sudah sedikit terlelap terbangun karena beberapa kali handphone gue bergetar karena ada beberapa sms masuk. Ada 5 sms masuk, 2 dari Jono, 2 dari Malik, dan satu dari nomer misterius yang mengirim gue MMS saat ulang tahun gue kemarin.

Gue membuka ke 5 sms masuk itu di mulai dari nomer misterius itu.

"Hati-hati yah di jalan."

"What the hell, ini siapa sih? Kok bisa tau juga gue ke Jogja." Ucap gue dalam hati. Gue tidak membalas sms itu, gue lanjut membuka sms dari Jono lalu Malik.

"Nge makan yuk, laper." Sms Jono pertama.

"Woi!!!" Sms Jono kedua.

"Nat, Abdul ngajakin makan, gue juga laper, kalo mau makan di mana?" Sms Malik.

"Etdahhh cuek." Sms Malik kedua.

"Ayo makan yo, gue juga laper." Gue lalu mengirim sms ke Abdul, Jono, serta Malik. Tidak lama handphone gue bergetar kembali, 3 sms masuk di waktu yang hampir berbarengan. 3 sms masuk dari Malik, Abdul, serta Jono dengan isi yang sama "TELAT, GUE UDAH DI KERETA MAKAN."

"Sial." Gerutu gue dalam hati lalu bergegas menuju ke gerbong restorasi menyusul mereka.

Di gerbong makan gue melihat mereka bertiga tengah duduk bersandar, terlihat ada bekas makanan dihadapan mereka. Sepertinya mereka baru saja menyelesaikan makan mereka. Gue lalu menghampiri, saat gue duduk mereka bangun dan hendak pergi.

"Oh gitu. Fine."

"Ahahah. Ambegan anjir." Sahut Abdul lalu mereka kembali duduk.

Lalu gue memesan makanan. Tidak lama makanan yang gue pesan datang, gue lalu memakanya selagi hangat sambil sesekali mengutarakan protes gue pada ke3 teman gue ini yang meninggalkan gue.

"Parah lo pada ninggalin."

"Nah lu gue sms ga bales, kebiasaan kalo tidur kaya orang mati" Sahut Jono.

"Sms lu baru pada masum njir."

"Masa? Kita sms dari kapan tau, ini ajah udah dua kali kita kesini buat makan.!" Timpal Malik.

"Iye lo sms pas di gunung, pas ga ada sinyal. Baru nyampe sekarang jadinya pas ada sinyal lagi."

"Lah emang kita lewat gunung?" Tanya Abdul. Gue menganggukan kepala.

"Kalo engga salah kita lewat kaki gunung slamet deh. Kalo ga salah yah tapi ga tau juga deh. Malem sih jadi engga keliatan." Jawab gue lalu kembali mengunyah makanan.

"Ngai, by the way kita nyampe berapa jam lagi?" Tanya Malik.

"Ga tau yah, gue juga belom pernah ke Jogja naik kereta juga sih. Eh naik apapun juga belom pernah sih ke Jogja. Ini pertama kalinya." Jawab gue.

"Ohhh." Sahut Malik, Abdul, dan Jono sambil mengangguk. "Terus kita nanti nginep di mana?"

Gue langsung meletakam sendok dan garpu yang sedang gue pegang ke atas piring. Lalu menepuk jidat kemudian mengusap-usap wajah gue.

"Mampus, jangan bilang kita ga tau mau nginep di mana!" Seru Malik.

Gue langsung mengeluarkan handphone gue kemudian menghubungi Bella. Cukup lama sampai Bella menjawab panggilan telpon gue. Dan saat Bella menjawabnya gue langsung meminta tolong pada Bella agar memesankan hotel untuk kami ber4. Menyebalkannya Bella hanya merespon dengan suaranya yang parau "Ganggu gue aja!" tanpa meninggalkan kepastian untuk gue.

"Gimana?" Tanya Abdul.

"Au, ho oh ho oh doang si Bella."

"Yah lu gila, jam berapa ini, orang lagi asik-asiknya tidur." Sambar Malik, lalu gue sedikit kaget saat melihat jam yang ada di handphone gue yang ternyata sudah pukul 03.21 pagi.

"Haaah gila gue tidur lama dong?"

"Menurut lo ajah Nat!!"

Jujur sebenarnya gue sedikit dirundung cemas, berpergian ke tempat yang jauh yang belum pernah sama sekali gue sambangi. Namun gue mencoba tenang karena selagi masih memegang uang, masalah dimana kami akan menginap itu bukan suatu masalah yang harus dikhawatirkan. Toh kami ber4 semuanya lelaki anggap saja ini sebagai pertualangan untuk menambah experience diri. Terlebih kami semua akan ke sebuah kota wisata yang istimewa, bukan pedalaman desa. Sudah pasti nanti kami akan menemui banyak penginapan di sana.

Namun tetap saja gue hanya remaja laki-laki yang manja yang rasanya sulit membayangkan jika harus hidup tanpa segala kemudahan yang telah gue terima.



Kereta yang kami tunggangi tiba di stasiun Yogyakarta pukul 6 pagi kurang beberapa menit sangat-sangat terlambat dari waktu yang diperkirakan. Handphone gue kembali bergetar bersamaan kaki yang melangkah keluar dari gerbong kereta. Sebuah sms yang akhirnya melepas segala kecemasan tentang di mana kami akan menginap.

"Ada yang jemput lo, udah nunggu di luar stasiun arah keluar Malioboro, baju putih topi hitam. Sepupunya Mas Rikky."

Membaca sms itu gue langsung merasa lega, lalu gue langsung menelpon Bella. "Thanks Anabel." Ucap gue saat Bella menjawab panggilan telepon gue.

"Terimakasihnya nanti ajah sambil bawain gue bakpia, gudeg Yu Jum, sama dress batik Sidamukti, kan lo nginep nanti deket dari galerinya tuh."

"Kalo gue inget."

"Lo bakal sengaja lupa! Yes or gue suruh lagi yang jemput lo pulang."

"Okeh-okeh sms gue lagi buat ingetin nanti."

"Iya nanti gue sms tiap 3kali sehari sampe lo pulang. By the way good luck mencari cintanya, jangan sampe 30 hari yah jagoan. Hahahaha."

"Sial. Hahahah."

Setelah selesai menelpon Bella, gue menyusul ke tiga teman gue yang sudah terlebih dahulu berjalan keluar meninggalkan gue. Sesampainya di luar stasiun gue langsung mencari orang yang Bella maksud. Sementara menjelaskan pada teman-teman gue kalau kami sudah dijemput.

Dugaan gue salah pada orang yang akan menjemput kami. Saat Bella mengatakan kalau sepupunya Mas Rikky yang akan menjemput, gue beranggapan orang itu seusia Mas Rikky atau setidaknya Bella. Ternyata orang yang menjemput kami terlihat seusia kami. Mengenakan kaos oblong putih, celana hitam pendek berbahan denim serta topi hitam. Dia terlihat memegang handphone blackberry melihat ke arah gue berdiri lalu menghampiri kami.

"Mas Nata yah?" Tanya dia sopan dengan dialeg jawanya yang terasa kental sekali. Sehingga membuat Malik, Abdul, dan Jono seperti ingin tertawa.

"Iya Mas, aa Mas ini …" Ucapan gue terhenti. "Ah sial gue lupa nanya namanya sama Bella." Ucap gue dalam hati.

"Njih, saya Aji Mas, sepupunya Mas Rikky" Sambarnya sambil menjulurkan tangannya, lalu kami pun bersalaman.

"Jangan panggil Mas lah, kayanya kita seumuran. Oh iya ini kenalin temen-temen gue."

Setelah selesai berkenalan, Aji langsung mengantar kami menuju ke area parkir. Satu yang gue senang dari Aji, dia ramah. Bahkan terlalu ramah sampai-sampai mau membawakan tas gue namun buru-buru gue tolak, dan berkata kalau gue dan dia ini secara tidak langsung saudara. Tidak perlu memperlakukan gue hingga sebegitunya. Selain ramah Aji juga banyak bicara dalam artian sebenarnya. Dia senang bercerita, saat perjalanan dia bercerita bagaimana dia ngambek saat itu pada kedua orang tuanya saat tidak diajak ke Jakarta di waktu pernikahan Bella dan Mas Rikky. Dan itu membuat gue jadi lebih mudah untuk mengakrabkan diri. Karena tidak perlu berpikir untuk mencari bahan pembicaraan.

Namun ada sedikit yang mengganggu buat gue juga ke tiga teman gue. Bukan sebuah gangguan yang menyebalkan sebenarnya. Hanya saja kami berempat sudah sedari lahir di Jakarta yang dalam keseharian kami menggunakan diksi betawi. Kami sedikit kesulitan mengimbangi Aji yang sedari lahir berada dalam lingkungan yang menggunakan diksi Jawa. Mungkin Aji paham dan dia memang tidak menggunakan Bahasa Jawa saat berbicara dengan kami. Namun ada beberapa diksi yang sedikit mengganggu, seperti dia menggunakan kata aku untuk aku, dan kamu untuk kamu.

"Oh c'mon guys, kita orang Jakarta hanya menggunakan aku kamu saat bersama pacar, gebetan, selingkuhan dan semacamnya, untuk menggunakannya bersama teman? Bahkan saat bulan Bahasa di sekolah saat kami diwajibkan berkomunikasi dengan menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar kami masiih merasa canggung untuk menggunakannya."

Penggunaan diksi-diksi Aji tak ayal membuat kami beberapa kali harus menahan tawa kami saat Aji sedang berbicara dan itu sungguh mengganggu. Gue takut Aji malah menganggap kami sedang meledeknya, yang pada kenyataanya kami hanya tidak terbiasa mendengar itu dari sesama laki-laki, terkecuali dari laki-laki yang feminim.

"Ji sebelumnya gue minta maaf yah. Maaf banget nih bukanya kita gimana, tapi lo bisa ga pake lo gue ajah. Sorry, kita rada engga biasa pake aku kamu." Ucap gue pada Aji yang langsung disambut tawa oleh Malik, Abdul, dan Jono yang sepertinya aspirasi mereka telah gue utarakan.

"Oalah hahahaha." Aji ikut tertawa. "Sorry guwa luppa ngkalo elo orang EDJAKARTA." Lanjut Aji yang membuat gue dan ketiga teman gue diam dan saling pandang.

"Okeh, Ji ga usah pake ellloh guwaaa. Aku kamu better." Ucap Abdul.



Tidak sampai setengah jam, kami sudah ada di depan sebuah rumah agak tua namun masih sangat terawat. Halamannya lumayan besar, muat untuk parkir 3 sampai 4 mobil gue rasa. Sebuah pohon beringin besar dengan akar yang menembus hingga keluar pagar. Daunya lebat sehingga seperti menjadi atap untuk jalanan yang ada di depannya. Gue melihat juga ada sebuah motor matic berwarna hitam tengah parkir di sudut lain halaman.

Aji lalu mengajak kami masuk. Gue terpukau saat melihat interior rumah ini. Sebuah perpaduan modern dan klasik menyatu indah dalam rumah ini. Tv yang sangat besar serta tatanan home teatre yang terkesan futuristik tidak sama sekali merusak keeksotisan sebuah jam tua yang besar dengan gandulan besi di dalamnya. Gue seperti merasa berada di sebuah jembatan antara masa lalu dan masa depan saat berada di dalam rumah ini. Walau tanpa pendinging ruangan, rumah ini sangat sejuk bahkan terkesan dingin serta magis. "Ah semoga ini tidak akan membawa kami pada pengalaman mistis." Ucap gue dalam hati sedikit meringis.

"Ini sebelumnya rmah Kakek sama Nenekku, Kakek-Nenek Mas Rikky juga." Ucap Aji tetiba seolah bisa membaca pikiran gue yang menanyakan ini kediamannya siapa.

"Sebelumnya?" Tanya gue memastikan.

Lalu Aji menceritakan sedikit sejarah rumah ini yang awalnya menjadi rumah tinggal keluarga besar mereka. Namun saat kakek nenek mereka meninggal. Rumah ini seakan menjadi sengketa, anak-anaknya yang berjumlah 5 orang berseteru. Sebagian meminta untuk dijual, dan sebagian memilih untuk mempertahankam karena menurut mereka rumah ini sangat memiliki nilai sentimental yang amat besar. Dari cara Aji menceritakan yang sedikit emosional, gue yakin kalau dia dan orang tuanya berada dipihak yang menolak rumah ini dijual. Gue sedikit terkejut kalau orang yang membuat akhirnya rumah ini dijual adalah Bokapnya Mas Rikky, anak tertua dalam keluarga mereka. Namun berbeda dengan Ayahnya. Mas Rikky justru menolak rumah ini dijual tapi karena saat itu Mas Rikky tidak punya daya untuk bersuara apalagi Aji yang saat itu baru berusia 11 tahun mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Dan harus merelakam rumah ini dijual. Mas Rikky sekeluarga pindah ke Jakarta, Aji dan keluarganya pindah ke daerah Sleman. Sedangkan sisanya masing-masing pindah ke Pemalang, Kutoarjo, hingga Ponorogo.

Lalu hingga kurang dari setahun yang lalu Mas Rikky kembali membeli rumah ini dan merubah pemiliknya menjadi atas nama Bella. Aji juga memberitahu gue alasan Mas Rikky membeli kembali rumah ini. Selain karena rumah ini memiliki nilai sentimentil yang besar untuk Mas Rikky, rumah ini juga kelak akan ditempatinya saat anaknya sudah memasuki usia sekolah. Karena Mas Rikky berkeinginan anaknya tumbuh kembang di Jogja bukan di Jakarta. Entah apa alasanya tapi gue rasa itu sudah menjadi hal yang sudah menjadi pertimbangan terbaik menurutnya.

Setelah cukup panjang Aji bercerita, lalu kami semua memilih kamar yang akan kami gunakan. Rumah ini memiliki banyak kamar, ada 6 kamar gue menghitungnya dan itu sudah melebihi jumlah kami seharusnya kami bisa menggunakan satu orang satu kamar. Tapi yang terjadi justru kami sepakat menggunakan hanya satu kamar saja.

Saat ditanya kenapa, tentu jawaban kami adalah agar kami tidak terlalu merepotkan siapapun yang bertugas mengurusi rumah ini dan Aji hanya tertawa mendengar jawaban kami. Tentu dia bukan anak ABG labil yang percaya begitu saja dengan alasan kami. Bahkan ABG labil pun gue rasa tahu alasan kami sebenarnya bukan karena takut merepotkan, tapi karena kami takut yang takut "direpotkan".

Setelah kami melihat kamar yang akan kami tempati, Aji lalu memberikan kunci mobil yang dia gunakan tadi untuk menjemput kami, tidak lupa dia memberikan kunci rumah ini.

"Ini maksudnya gimana yah Ji?" Tanya gue sambil menerima kunci yang dia berikan.

"Ini mobil disewa Mbakmu buat dipake kamu selama kamu disini katanya. Aku ndak bisa ngancani lama-lama masih ada kuliah, tapi kalo ada apa-apa iki nomorku sama pin bb ku. Nanti ada Mas Surya yang jaga rumah ini, tadi wis tak kuhubungi katanya jam sembilanan dia kemari." Jawab Aji lalu pamit untuk kembali kerumahnya menggunakan motor matic hitam yang ternyata miliknya.

"Gila, gue ngerasa gue yang udik." Ucap Abdul selepas Aji pergi.

"Lah ngapa?" Tanya gue.

"Kita orang kota bung, handphone kita semua pada masih poliklinik…

"Poliponik sat!!"

"Iya itu, nah lo liat tuh Aji handphonenya bebe njir. Ini yang orang kota siapa coba!"

"Eh pinter. Jogja juga kota kampret. Lo pikir pedaleman!" Sahut gue.

"Iyah sih, tapi tetep ajah ga terima gue begini, ngerasa kehina sih gue sebagai orang Jakarta."

"Haaah serah lo Dul, terserah lo pokoknya! Semua orang sayang sama lo Dul."

"Tahik!!"

"So, kemana nih kita abis ini?" Tanya Malik sambil bersandar pada mobil yang akan kami gunakan selama di Jogja ini.

"Rebaan dulu kali yah, nanti jam satu atau jam 2 gitu kita langsung ke SMA blablabla buat cari Nina." Jawab gue.

"Okeh, tapi ada satu masalah nih." Sahut Malik.

"Apaan?"

"INI JOGJA!!"



Adakalanya suatu hal berbeda akan lebih baik jika tetap berbeda. Adakalanya sesuatu yang menurut kita baik akan lebih baik jika tetap berada dalam pikiran saja
profile-picture
profile-picture
profile-picture
yusufchauza dan 3 lainnya memberi reputasi
Quote:


Rasanya rame. Manis, asem, asin. Cuma pait ajah yang ga ada. Karena mantan tuh ga ada yang pait. Ehh.

Quote:


Eneran. Umpeh. Eheheh.

Quote:


Iyah nih, kirain ada apdet, kan bingung kalo tau2 orang lain yang apdet. Hehehehehe

Quote:



Ah Agan bisa ajah emoticon-Malu emoticon-Maluemoticon-Embarrassment
Gimana dah tuh nyarinya emoticon-Leh Uga
profile-picture
nyunwie memberi reputasi
bahasanya enak banget gila berasa lagi nongkrong bacanya
profile-picture
nyunwie memberi reputasi
"Okeh, tapi ada satu masalah nih." Sahut Malik.

"Apaan?" 

"INI JOGJA!!"



bener tuh jadi masalah, emang tau alamat dan jalan? sementara baru pertamakali ke Jogja?
emoticon-Ngakakemoticon-Ngakakemoticon-Ngakak
profile-picture
nyunwie memberi reputasi
Kapan update lg om emoticon-Turut Berduka
profile-picture
nyunwie memberi reputasi

Part 3.5

Sesuai rencana pukul 13.00 waktu Jogja kami mulai mencari Nina. Pencarian akan kami mulai di salah satu SMA yang menurut hasil penyelidikan Malik adalah SMA Nina bersekolah. Sebelum berangkat gue bertanya jalan mana yang harus kami lalui untuk sampai ke SMA yang di maksud pada Mas Surya orang yang menjaga rumah ini.

Sebenarnya Mas Surya ingin mengantar kami, sayangnya hari itu dia harus mengurus segala surat menyurat rumah ini sesuai perintah Mas Rikky. Tak apalah lagi pula gue tidak ingin terlalu merepotkan.

Abdul yang mengendari mobil ini, karena diantara kami hanya Abdul yang sudah memiliki surat izin mengemudi baik tipe C maupun A. Gue takut kalau bukan Abdul yang mengemudi kami akan mendapat masalah. Abdul melaju sangat lambat, karena kami terus meraba jalan, mengurutnya sesuai petunjuk dari Mas Surya. Tentu kami tidak ingin kami nyasar jika kami melewatkan apa yang telah Mas Surya katakan.

Satuhal yang gue kagumi saat menyusuri jalanan kota Jogja ini. Gue jarang sekali menemui pengendara-pengendara nakal yang melanggar lalu lintas. Saat lampu merah mereka semua berhenti dengan teratur, dan tidak akan melaju sampai lampu lalu lintas berubah menjadi hijau. Bedakan dengan Jakarta, masih merah saja kadang ada orang yang nekat menerobosnya. Terlebih Jogja itu indah, setiap sudut kotanya membuat hati selalu berdecak kagum melihat arsitektur bangunan-bangunan khasnya. Seolah kami dibawa kembali ke masa lalu. Tidak heran banyak orang yang jatuh hati pada kota ini.

Jogja memang istimewa.

Karena kami melaju sangat lambat, alhasil kami baru sampai di tempat tujuan 45 menit setelahnya. Perjalanan kami tidak mudah, karena beberapa kali gue harus turun dan bertanya pada orang, takut-takut kami salah mengambil jalan.

Abdul lalu menepikan laju, tepat diseberang bangunan sekolah yang didominasi warna putih dan biru. "Disini?" Tanya Abdul.

"Yah dari nama sama alamatnya sih bener." Jawab Malik.

"Yaudah lo turun dah Nat, gue cari parkiran." Ucap Abdul.

Ditemani Malik, gue lalu turun sementara Abdul dan Jono mencari tempat yang tepat untuk memarkirkan mobil. Setelah turun Malik lalu berjalan menghampiri salah satu gerobak pedagang.

"Pak maaf, kalo anak-anak sma ini pulangnya jam berapa yah?" Tanya Malik pada pedagang itu.

Pedagang itu lalu menjawab dengan bahasa Jawa. Gue dan Malik hanya menggaruk-garuk kepala mendengar jawaban tersebut. Seolah mengerti kalau kami tidak mengerti lalu pedagang itu menjawab kembali dengan Bahasa Indonesia.

"Biasanya pulang jam 3, tapi biasanya. Tapi hari ini sepertinya lebih cepat, soale kemarin jam 2 sudah pulang. Tunggu saja, sebentar lagi juga keluar. Mas-masnya dari mana toh?"

"Kita dari Jakarta Pak, mau ketemu temen kita yang pindah ke sini." Sahut gue.

"Oalah pantes, di Jakarta sudah libur apa?" Tanya pedagang itu ramah.

"Sudah pak. Mangkanya mau minta temeni teman saya liburan di sini." Jawab Malik.

"Oh, tapi kebanyakan murid sini tinggal di asrama, apa boleh keluar jalan-jalan?"

"Haaah" Gue dan Abdul sedikit tercengang.

Sambil menunggu sekolah ini pulang, gue dan Malik memutuskan menunggunya bersama pedagang es keliling ini. Hitung-hitung melepas dahaga karena kondisi siang ini sedikit menyengat. Sekitar 10 menit Abdul dan Jono datang menghampiri, sedkit mengeluh karena mereka parkir cukup jauh.

Tidak lama Jono dan Abdul datang, pintu gerbang sekolah terbuka. Satu persatu murid dengan seragam yang khas keluar dari sekolah itu. Mata gue lalu fokus dan terus melihati wajah-wajah yang keluar dari sekolah itu seraya mencari satu wajah yang selalu teringat di dalam memori. Tapi karena murid sekolah itu semunya perempuan, Jono, Abdul dan Malikpun menjadi salah fokus dan mencari hal lain. Gue hanya bisa menggelengkan kepala tiap kali muka teman-teman gue berubah saat melihat perempuan-perempuan cantik.

Kondisi sekolah yang awalnya ramai perlahan menjadi sepi, gue juga masih belum menemukan Nina. Dan semakin runtuhlah semangat hati ini tat kala sudah tak ada lagi siswi yang terlihat dan gue juga masih tidak menemukan apa yang gue cari.

"Gimana Nat?" Tanya Malik.

Gue tidak bisa menjawab pertanyaannya, gue tidak tahu lagi apa yang harus gue lakukan. Gue hanya bisa duduk di atas trotoar dan mulai berpikir apa yang gue lakukan sia-sia.

"Udah Nge, besok kita kesini lagi. Besok gue samperin deh gue tanya-tanya." Ucap Abdul menyemangati. Gue hanya bisa menganggukan kepala. Lalu bangkit dan berjalan agak gontai menuju mobil diparkir. Lalu kami kembali pulang ke rumah kami menginap. Sialnya karena melalui jalan yang berbeda kami tidak tahu jalan pulang. Bukan hanya itu, kami tidak tahu alamat rumahnya Mas Rikky itu. Walau menyebalkan, tapi setidaknya kebodohan kami membuat gue sedikit teralihkan dari kecewa gue yang tidak bisa menemukan Nina hari ini. Setidaknya gue bisa kembali tertawa dengan kelakuan Jono yang benar-benar bertanya pada orang dengan pertanyaan yang absurd.

"Anjing lo bener-bener nanya di mana rumah neneknya Mas Rikky, buangkek lo Jon buangkek. Hahagahahag." Ucap gue tertawa terbahak-bahak. Ya Jono benar-benar bertanya di mana Rumah Neneknya Mas Rikky.

Sudah kepalang tanggung nyasar, akhirnya kami memutuskan untuk makan sejenak di sebuah rumah makan. Gue tidak tahu di mana, namun saat melihat plang jalan gue melihat tulisan Jl. Raya Magelang. Dan saat itu gue benar-benar tidak tahu kalau kami nyasar cukup jauh.

Saat makan gue menanyakan alamat rumah neneknya Mas Rikki pada Mas Rikky sendiri. Tidak lama dia menelpon dan menyakan keadaan kami apakah baik-baik saja. Lalu gue menjawab kalau kami tengah tersasar dan memberitahu lokasi kami saat ini.

Mas Rikky tertawa, katanya sebentar lagi gue sudah sampai Borobudur, kami nyasar terlampau jauh. "Rumah Nenek gue ada di jalan Nogosari, masih di pusat Jogja, gampang sebenernya. Pokoknya kalo lo nanya sama orang tanya ajah Taman Sari atau engga Universitas Widya Mataram orang pasti tau. Yaudah kalo ada apa-apa lagi lo hubungin gue ajah yah Nat. Aji lagi kuliah dia bilang sama gue jadi engga bisa nemenin lo." Ucap Mas Rikky.

Setelah mendapat penjelasan dari Mas Rikky kami akhirnya kembali ke rumahnya, kami tiba kembali bersamaan dengan adzan magrib. Gue juga sedikit terkejut karena sudah ada banyak makanan yang tersaji. Tidak lama, Mas Surya datang dan memberi tahu kalau makanan tersebut adalah buatan istrinya. Walau habis makan, kamipun tetap memakan makanan itu dengan lahap hingga habis tak bersisa.

Malam harinya Mas Surya mengajal kami berjalan-jalan ke alun-alun utara serta selatan kota Jogja. Walau bukan hari libur, suasan alun-alun sangat ramai pengunjung, setelag puas di alun-alun kami beranjak ke Malioboro untuk berkeliling. "Belum ke Jogja Mas kalau belum mampir ke Malioboro " Kata Mas Surya.

Saat berada di Malioboro gue kembali dibuat terpesona dengan suasan kota Jogja ini. Mungkin kalau di Jakarta mirip seperti Kota Tua. Tapi ini jauh lebih ramai dan jauh lebih mempesona. Deretan pedagang yang berjajar, rumah makan dari kelas restoran hingga pedagang kaki lima semua ada di sini. Musisi-musisi jalanannya yang mempertunjukan keahliannya bukan cuma sekedar berorasi dengan kalimat-kalimat ancaman. Semuanya membuat gue nyaman dan merasakan kalau inilah Indonesia seharusnya dengan segala tata krama, adat budaya, serta keramahannya.

"Sekalipun nanti aku tidak menemukan hati yang ku cari, tapi aku yakin hatiku akan selalu tertinggal di kota ini."  Ujar gue dalam hati. Pukul 1 dini hari kami kembali, dan mengistirahatkan tubuh agat kembali segar saat mencari Nina kembali.

Sayangnya tidur gue tidak lelap. Pukul 5 pagi gue terbangun dan sulit untuk kembali tidur. Gue lalu keluar dari kamar, sementara teman-teman gue yang lain masih terlelap pulas. Gue mencuci muka lalu terbesit pikiran untuk ke SMA itu sekarang juga. "Mungkin gue tidak bisa menemukan saat pulang sekolah, tapi bagaimana jika saat berangkat sekolah?." Bergegas lalu gue mengambil kunci mobil dan berniat kembali ke sana seorang diri. Namun saat ingin berangkat Malik tiba-tiba ada di samping mobil.

"Lo mau ke sana sendiri? Emang lo inget jalannya?" Tanya Malik sementara gue menggelengkan kepala.

"Yaudah berdua." Ucap Malik lalu masuk ke dalam mobil.

"Lo inget?" Tanya gue.

"Engga, yah tapi kan seenganganya kalo nyasar jadi berdua, hahahaha." Ucap Malik lalu gue mulai melajukan mobil. Di luar dugaan ternyata Malik hapal jalan ke SMA tersebut. Namun Malik berkara kalau dia hanya sempat menghapal jalan menuju kesana, tidak jalan kembali pulang.

Sesampainya kembali di sekolah yang kami tuju, gue tidak turun dari mobil. Gue menepi tepat di seberang pintu gerbang. Lalu kembali mengamati satu persatu siswi yang datang. Berharap kali ini gue menemukan Nina. Tapi sayangnya itu tidak terjadi, lalu gue dan Malik memutuskan untuk pulang dan kembali saat siang hari.

Siang harinya sesuai janji Abdul mulai agresif mencari, dia mulai menanyakan murid-murid SMA itu, bahkan Abdul bertanya pada security SMA tersebut. Harus gue akui Abdul sangat pintar untuk mencuri hati. Selain mendapatkan sedikit informasi tentang Nina dia bahkan mendapat beberapa nomer anak-anak SMA itu, DASAR!

Dari informasi yang Abdul kumpulkan memang benar Nina bersekolah di sini. Nina tinggal di asrama, namun sudah dari kemarin dia tidak sekolah dan sedari kemarin pula Nina meninggalkan Asrama. Saat ditanya kemana, salah satu murid yang mengaku teman sekelasnya Nina hanya mengatakan kalau Nina pulang ke rumahnya karena dia sedang sakit. Dan permasalahannya adalah tidak ada satupun orang yang mengetahui di mana rumah Nina di Jogja.

"Aku ndak tau kak rumahnya, tapi masih di Jogja juga katanya. Nina pernah bilang kalau dia memang dari Jakarta pindah rumah ke Jogja. Tapi aku ndak tahu persisnya di mana, Nina tertutuo banget masalah pribadinya, padahal kita sekelas sama sekamar di asrama" Begitu kata salah satu murid yang ditanya Abdul.

Sekali lagi gue dibuat frustasi, karena sangat sulit pastinya mencari satu orang tanpa mengetahui alamat pastinya. Ini bukan lagi sesulit mencari daging di toko buah. Ini seperti mencari matahari di malam hari. Hampir mustahil, ya hampir.

Karena ada saatnya Matahari datang menutupi bulan di malam hari.



Gue tidak tahu lagi harus berbuat apa. Sudah lima hari gue di Jogja dan masih saja tidak ada titik cerah untuk menemukan Nina. Sementara waktu kami hampir habis karena besok kami harus kembali ke Jakarta sesuai tiket yang dipesan bokap gue sebelumnya.

Malam terakhir sebelum besok kami kembali ke Jogja, gue duduk seorang diri di halaman. Sementara teman-teman gue sedang sibuk mengepaki barang. Rasanya enggan untuk gue kembali pulang ke Jakarta. Tidak lama Abdul menghampiri "Udahlah Nat, kalo jodoh engga akan kemana." Ucap Abdul sambil sedikit merangkul guna menguatkan gue yang sudah tenggelam dalam frustasi.

Gue sedikit menghela nafas, lalu tanpa sadar gue mengeluarkan air mata. "Gue engga tau yah Dul, rasanya nyesek banget, ini lebih-lebih nyesek dari putus sama Karina, padahal gue ga ada apa-apa sama Nina."

"Lo cinta namanya. Dan lo bukan engga ada apa-apa sama Nina, tapi pernah ada apa-apa, hahaha."

"hahaha, sial." Sahut gue sambil mengusap air mata gue. "Gue cengeng yah Dul?" Lanjut gue.

"Hahahaha. Setiap orangkan emang punya sisi cengeng ngai" Jawab Abdul. "Mungkin kalo gue jadi lo atau seengganya ada diposisi lo mungkin gue bakal cengeng. I know how much you love her. Setiap orang pasti bakal sedih kalo orang yang dicintainya pergi. Tapi Nina engga pergi buat selamanya Nat. Nina masih ada di sini di kota ini. Lo udah ngelakuin segala cara buat ketemua dia. Tapi emang belom waktunya ajah…"

"That's right! Kapan pun lo mau ke sini lagi buat cari dia, kita siap nemenin lo lagi." Sambar Malik yang entah sejak kapan ada di belakang gue.

"Yap, asal diongkosin. Hahahah." Kali ini Jono berkata.

"Hahahah, walaupun lo semua kek rengat tapi lo semua tetep sahabat gue yang paling hebat." Sahut gue.

"Ye sianjing hahahaha." Sahut mereka kemudian kami kembali melempar canda dan saling berbagi tawa walau kami saling menoyor kepala. Setelah waktu sudah menunjukan pukul 10 malam kami pun bergegas untuk ke kamar. Beristirahat karena kereta yang akan membawa kami pulang berangkat pukul delapan pagi.

Pukuk 06.45 kami diantar Mas Surya ke stasiun Jogja atau orang biasa menyebutnya Stasiun Tugu. Mas Surya mengantar kami hingga ke peron. Bahkan menunggu hingga kereta kami tiba dan berangkat. Saat 5 menit lagi kereta akan berangkat Mas Surya memberikan gue sebuah kado kecil dengan pita berwarna ungu menghiasinya.

"Mas Nata, ini kemarin ada anak perempuan yang kerumah ngasih ini. Tapi dia bilang disuruh ngasihnya pas Mas Nata udah mau pulang kalau perlu kalau sudah dikereta atau pesawat katanya." Ucap Mas Surya.

"Haah anak perempuan?? Siapa Mas?" Tanya gue.

"Aku ndak tahu yah Mas, ndak kenal, sepertinya orang dari Jakarta. Aku juga baru sekali itu ketemunya." Jawab Mas Surya seiringinan dengan announcer bahwa kereta yang kami tumpangi akan segera berangkat. Kami semua lalu pamit pada Mas Surya yang berdiri diluar kereta. Lalu kami duduk dikursi kami sambil melambaikan tangan pada Mas Surya yang masih setia berdiri.

Gue membuka perlahan kotak itu, isinya sebuah gelang dari rajutan benang dengan dua bandulan kecil huruf yang tebuat dari besi ringan. Sebuah huruf yang seolah mengisyaratkan sebuah inisial. NN. Dan di dasar kotak tersebut terdapat sebuah kertas gue lalu membacanya.

Quote:


Setelah membaca surat itu, gue langsung bangkit dari kursi gue duduk. Namun Abdul dan Malik langsung menahan gue.

"Lepas njing!"

"Lo mau ngapain !!" Ucap Abdul.

"Gue mau turun." Sahut gue.

"Brugghhhh." Malik langsung memukul gue. "Lo gila! Kereta udah jalan. Kalo lo mau balik lagi tunggu kereta berenti. Gue temenin lo balik lagi." Ucap Malik lalu mengambil surat yang barusan gue baca lalu dia membacanya. Sementara gue kembali duduk dan berharap kereta ini berheti agar gue bisa kembali lagi.

Setelah Malik selesai membacanya, gantian Abdul yang membacanya, dan terakhir Jono yang membaca surat itu.

"Lo mau balik lagi buat apa begok!? Udah jelas-jelaskan dari kemaren kita mondar mandir di sekolahnya dia liat! Tapi emang dia yang engga mau ketemu lo. Pake akal lo bos!" Ucap Jono sambil melepar surat itu kearah gue.

"Jono bener Nat." Timpal Malik.

"Ga ga ! Gue harus ketemu dia. Gue yakin ini engga seperti yang dia mau."

"Udeh sakit nih orang. Kalo ini engga kaya yang dia mau kenapa dia engga nemuin lo langsung ajah. Ini udah jelas dia yang mau!!" Ucap Jono lagi.

"Iyaaa tapi kenapaa!??"

"Mending lo ga usah tau kenapa deh. Di suratnya Nina nulis kemarin, sekarang, ataupun nanti cerita lo berdua bakal berakhir saling menyakiti! Gue engga tau maksudnya, tapi logikanya Nina engga mau ngejalanin yang ujung-ujungnya nyakitin dia kan?" Ucap Malik.

"Maksudnya Lik?" Tanya Abdul.

"Yah maksudnya kalopun Nata ketemu lagi sama Nina trus resmi pacaran terus apa?" Tanya balik Abdul.

"Apa?" Tanya Abdul lagi sementara kini gue mulai memperhatikan Malik.

"Yah apa? Ga ada apa-apakan? Misalnya nih kemaren lo ketemu, lo jadian, bah seneng kan lo. Tapi apa yang berubah? Nata tetep harus balik ke Jakarta dan Nina tetap di Jogja kan? Ayolah engga mungkin kan karena Nata jadian sama Nina terus Nina balik ke Jakarta. C'mon men maksud gue Nina engga mau LDR-an. Iyah ga sih!"

"Iyah juga yah." Ucap Abdul dan Jono sambil menganggukan kepala. Dan jujur analisa Jono masuk akal hingga dalam hati juga gue berkata "Iyah bener juga sih."

"Kecuali kalo lo ketemu terus nikahin Nina, kan Nina bisa langsung lo bawa balik tuh ke Jakarrrrr…" Ucapan Malik terhenti sambil melihat ke arah gue begitu juga Abdul dan Jono. "Please Nat, ini gue cuma ngomong ngaco please." Lanjut Malik sambil memegangi dengkul gue.

Walau penuh tanda tanya, walau banyak hal yang masih tidak bisa gue mengerti. Namun rasanya gue memang sudah harus merela hati. Bukan letih mencintai tapi seperti katanya, gue hanya perlu memahami. Dan gue memahami, Nina bukanlah seorang perempuan yang tidak bisa menimbang dengan baik. Nina bukanlah perempuan lemah yang dengan mudah memutuskan untuk menyerah. Nina pasti sudah memikirkan segala putusnya matang. Sebagai orang yang mengaku cinta, sudah seharusnya gue paham dirinya. Gue tidak membunuh cinta gue pada Nina. Gue hanya menyimpanya di suatu tempat istimewa di sudut hati agar suatu saat gue dapat mengenangnya kembali.

Tidak lama kereta berhenti di Stasiun Kutoarjo terdengar samar sebuah pemberitahuan kalau kereta harus menunggu bersilangan dengan kereta lain. Gue pun lalu turun dari kereta bersama ke tiga sahabat gue yang selalu setia menemani gue.

"So?" Tanya Abdul.

Gue sedikit menghela nafas. "Emang dasar lo semua kambing! Bisa-bisanya lo ngeduga-duga sampe segitunya." Ucap gue sambil menyalakan rokok.

"Lah benerkan gue, Abdul, Jono kali ajah Nina emang ga mau LDR, atau udah punya cowo laen, atau karena emang dia udah dijodohin atau …"

"Yayayayaya what ever you say!"

"Lo belom jawab pertanyaannya Abdul loh!?" Lanjut Malik.

"Gue bakal balik lagi ke Jogja…" Sahut gue sambil menghembuskan asap. "Nanti, engga sekarang. Mungkin untuk Nina mungkin juga engga, yang jelas gue bakal balik lagi Dab, Jogja terlalu istimewa ada atau ga ada Nina."

"Yoi Dab, kita bakal balik lagi. Dan harus berempat lagi." Sahut Abdul sambil merangkul gue dan Malik, yang disusul Jono menyambung rangkulan Abdul.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
labankabir dan 7 lainnya memberi reputasi
updatenya malem tapi tetep baca langsung abis update, dasar aku
profile-picture
nyunwie memberi reputasi
Di part ini semakin yakin bahwa bini bang nata adalah nina emoticon-Mewek
profile-picture
nyunwie memberi reputasi

Part 3.6

Rona jingga di ufuk barat menyambut kedatangan gue di Stasiun Gambir. Dari peron gue bisa melihat deretan gedung menjadi latar megahnya bangunan Monumen Nasional. Jakarta atau Jogja, tidak akan pernah bisa gue adu karena menurut gue masing-masing mempunyai keindahanya tersendiri. Jakarta dan Jogja dua kota yang akan selalu hatiku tertinggal di dalamnya.

Selepas tiba di Stasiun Gambir kami semua berpisah. Malik pulang bersama Abdul karena rumah mereka memang searah, Jono pulang sendiri. Sedangkan gue, turun ke bawah ke tempat loket berada, lalu membeli tiket KRL Pakuan ekspress untuk menuju ke rumah Bella. Gue memutuskan tidak langsung ke kosan, tapi ke rumah Bella. Selain untuk memberikan titipannya, ada beberapa hal yang harus gue tanyakan pada Bella.

Pukul delapan malam gue tiba di Stasiun Bogor, di sana gue sudah di jemput Bella dan langsung menuju ke rumahnya. Di rumahnya gue memberikan semua titipannya, Bella sedikit protes pada dress yang gue belikan. Motifnya tidak seperti yang dia mau katanya.

"Yaudah kalo ga mau sini, biar gue kasih sapa kek. Ga ngehargain banget udeh gue beliin." Protes gue.

"Cie ngambek, ini bagus kok. Tapi kalo buat gue kayanya kurang cocok ajah. Gue gendutan tau."

"Lo udah punya anak Bel!"

"Yah mangkanya, tapi kayanya ini cocok buat Karina, nanti biar gue kasih dia ajah." Ucap Bella.

"What? Karina!? Bell lo masih suka kontekan sama dia?" Tanya gue.

"Nata, yang putus sama Karina kan elu. Bukan gue. Lagipula gue ini alumninya. Gue juga masih aktif bantu-bantu kalo ada acara di sekolah sama temen-temen gue. Yah wajarlah kalo gue masih kontekan sama dia. Lagi pula…" Ucapan Bella terhenti.

"Lagi pula apa?" Sambar gue.

"Gapapa, oh iya gimana di sana ketemu sama Nina?"

Tanya Bella.

"Pertanyaan gue belom lo jawab Bel."

"Hahahah, gapapa gue masih berpikir ajah kalo lo mungkin bisa balikan sama Karina." Bella terlihat menghela nafas. "udah udah lupain gue engga mau intervensi hidup lo, gue yakin lo udah bisa milih mana yang baik yang bisa bikin lo lebih baik. Terus terus gimana di Jogja?"

"Ga gimana-gimana, yah pada akhirnya gue liburan di sana." Jawab gue.

"Nina?" Tanya Bella.

Gue tidak menjawab, gue hanya memperlihatkan apa yang diberikan Nina pada gue. Lalu Bella melihatnya kemudian membacanya. Bella sedikit terisak saat membaca surat dari Nina. Setelah selesai membacanya, dia lalu meletakan semua kembali seperti semula di dalam kotaknya.

"Kasian banget sih adek gue sini-sini." Ucap Bella lalu memeluk gue. Bella memeluk gue guna menguatkan, gue tau itu. Bella memeluk gue memberikan gue tempat untuk meluapkan apa yang gue rasakan. Gue paham itu. Harusnya gue menangis dalam pelukan kakak gue, tapi yang terjadi justru Bella yang menangis.

"Bell, kan harusnya gue yang nangis Bel, ini kenapa lo yang nangis sih!" Protes gue.

"Gue sedih, Nata gue sedih. Gue sedih ngeliat lo mati-matian nyari dia, buat ketemu dia, tapi dia malah milih buat ngehindar dari lo. Tega banget sih sama adek gue. Lagian emang lo ga mau nangis Nat?"

"Pengen sih, tapi lo udah duluan ngambil jatah nangis gue. Gue jadi males." Ucap gue lalu Bella melepaskan pelukannya.

"Ehehehhe. Sorry. Hehehe." Sahut Bella sambil menyeka air matanya. "So, your good?" Tanya Bella

"Engga bisa dibilang good juga sih. This breaking me in two. Tapi gue harus gimana lagi selain nganggep semuanya baik!? Nangis ngerengek kayanya engga berguna juga kan? Nangis sambil garukin tanah juga percuma juga kan? Mungkin satu-satunya yang belom gue coba sih bunuh diri. Apa kalo gue ngancem bunuh diri Nina bakal ngerubah pikirannya yah?"

"Sounds good. Kenapa ga lo coba?" Sahut Bella.

"Hmmm nanti gue pikirkanlah. Kalau akal sehat gue udah keabisan stok."

"Took" Kepala gue lalu dijitak oleh Bella.

"Aduh sakit ihh." Protes gue sambil mengusap-usap bekas jitakannya. "Tapi jujur masih ada satu sih yang ngeganjel di pikiran gue Bel."

"Apa?" Tanya Bella.

"Gini, Nina ngasih ini ke Mas Surya sekitar hari ke dua atau ke tiga gitu gue di Jogja, dan Mas Surya ngasih ini tuh pas kereta udah mau jalan. Ganjel ga sih? Maksud gue Nina tau dari mana rumah gue nginep? Terus Mas Surya kenapa bisa nurut gitu ajah sama Nina. Ga masuk di akal."

"Yah mungkin ajah Nina ngikutin lo!" Sahut Bella.

"Ga mungkin! Gue selalu nyasar tiap pulang dari nyari Nina. Ga mungkin dia ngikutin gue, kadang gue juga ga langsung pulang, kadang gue kemana dulu. Jadi ga mungkin Bel. Satu-satunya kemungkinan yah ada orang dalem." Sahut gue menatap Bella penuh curiga.

"Haah? Lo nuduh gue!?"

"Gue engga nuduh, gue cuma bilang ada kemungkinan orang dalem. Bisa ajah salah satu atau salah dua atau mungkin malah tiga-tiganya temen gue sekongkol sama Nina kan? Engga menutup kemungkinan lo juga kan?"

"Gue punya alibi, gue engga punya kontak Nina." Ucap Bella. Gue tidak menggubris ucapannya. Gue hanya melihat tajam ke arah matanya. Sulit memang membedakan Bella sedang berbohong atau tidak. Bella jauh lebih dewasa dari gue. Dia sangat mahir mengontrol ekspresi serta emosinya. Tapi bukan berarti tidak ada celah untuk gue mengorek Bella.

"Oke oke gue nyerah. Tapi ini engga seperti yang lo kira." Ucap Bella lalu dia mengambil handphonennya. "Gue kadang heran ini yang tua lo apa gue sih." Gerutu Bella sambil memberikan gue handphone BlackBerrynya dan menunjunkan gue sebuah percakapan telpon yang direkam Bella saat dia menghubungi Nina.

Quote:


"kok udahan Bel?" Tanya gue.

"Yah kapasitasnya cuma segitu muatnya." Jawab Bella.

"Bohong lo Bel. Gue tau lo bohong, Nina ngomong apa buat gue?" Tanya gue lagi.

"Ga ngomong apa-apa. Dia bilang nanti ajah ngomong sama lo sekalian kadonya. Mangkanya pas gue baca gue ngejerit. Gue engga tau yah anak-anak sekarang pada makan apa kok kayanya pada tuanya kecepetan. Perasaan gue dulu SMA ga gitu-gitu banget." Ucap Bella.

"Dih yakin? Dulu keknya waktu gue SD gue pernah liat ada anak SMA perempuam gitu yang nangis 3 hari 3 malem di kamar. Sok ga mau makan gitu." Ledek gue.

"Isshhh Nata kok lo ngeselin sih."

"Gue tau lo bohong Bel, gue tau lo emang sengaja engga mau gue denger apa yang Nina ucapin buat gue. Tapi apapun alesan lo bohong. Gue tau lo bohong demi kebaikan gue. Engga selalu sih, kadang lo juga suka bohong beli tas seken padahal baru, lo juga suka bohong kalo lo ke mall cuma mau ketemu orang padahal cuma engga mau gue nitip. Ahh lo emang kaka yang nyebelin Bel."



Gue tidak bilang kalau gue bisa menerima ini dengan mudah. Hari-hari gue mungkin sudah sangat terbiasa tanpa Nina. Namun sebelumnya gue merasa seperti ada setitik cahaya Nina yang, setitik harapan gue bertemunya kembali, memeluknya lagi, dan menciumnya lagi. Tapi kini justru Nina yang menyuruh gue menghilangkan cahaya itu. Gue bukannya tidak mencoba, tapi semakin gue coba cahayanya semakin memenuhi hati gue yang sudah kehilangan warna sebelumnya.

"Hay Nin, apa kabar? Aku serius menanyakan kabar kamu. Bukan aku rindu karena jelas kamu melarangku merindu. Aku hanya penasaran bagaimana kamu di sana? Baikkah? Atau sama seperti aku? Tak melihat warna lain selain hitam dan putih? Atau justru sebaliknya? Kini hidup kamu penuh warna? Kalau iya, bagaimana bisa? Kamu jahat Nin. Kamu jahat menyuruhku membunuh cinta ini tanpa memberiku sebilah pisau. Tanpa memberiku seutas tali untuk menggantung raga cinta ini. Bahkan kamu tidak memberi tahu aku setidaknya cara untuk membunuh cinta ini."

Setiap hari gue hanya bisa mengirim email pada Nina. Gue tidak bisa menghubunginya. Nomer yang digunakan untuk menghubungi Bella sudah tidak aktif. Nina benar-benar menutup akses untuk gue menghubunginya. Guepun sangsi pada alamat email yang selalu gue cantumkan sebagai penerima email-email gue pada Nina. Walau terkirim tapi gue tidak yakin kalau itu masih digunakan.

Facebooknya pun baru dan kini lebih private. Tidak ada satupun permintaan pertemanan dari gue maupun teman-teman gue, maupun fake akun yang kami punya yang di konfirmasi oleh Nina. Gue hanya bisa memandangi beberapa photonya yang sempat gue abadikan saat kami masih bergandeng tangan bersama tanpa status yang jelas. Dan juga photo profil facebooknya dengan senyum yang selalu gue rindu untuk menyentuhnya.

KEADAAN GUE TIDAK BAIK-BAIK SAJA! Bahkan hingga berjalan dua bulan setelah gue dari Jogja. Keadaan gue tidak selangkahpun membaik bahkan terkesan mundur jauh kebelakang. Teman-teman gue bukanya tidak menyadari, mereka semua menyadari. Jono, Abdul, Malik, Faisal beberapa kali mereka mencoba mengenalkan gue pada seseorang berharap gue bisa segera melupakan Nina.

"Salah! Lo semua salah! Gue ga bakal bisa lupain Nina! Lo mau gue lupain Nina? Lo jedotin pala gue sampe amnesia! C'mon guys yang gue butuh bukan amnesia. Yang gue butuh gimana cara biar gue bisa nganggep Nina biasa ajah." Ucap gue pada Malik, Jono, dan Abdul yang sedang berada di kamar kos gue.

"YA SEKARANG GIMANA LO MAU NGANGGEP NINA BIASA AJAH KALO LO NEMPATIN NINA DI TEMPAT YANG SPESIAL DI HATI LO ONCOM!!!!!" Kesal Malik.

"Tau ari-ari monyet, gimana lo mau ilangin perasaan lo sama Nina kalo dari lo nya sendiri nolak! Lo sendiri engga ada keinginan buat ilangin atau seengganya kubur perasaan lo." Sambar Abdul.

"Gue mau gue mau! Lo pikir gue engga cape begini!? Gue mau bisa ilangin perasaan gue tapi gimana!?" Gerutu gue sambil mengacak-ngacak rambut gue.

"Jujur dulu Dab sama hati lo! Antara pala sama hati lo ajah engga singkong …"

"Sinkron Jon Sinkronn!!"

"Ya gue engga bisa ngomong sinkron."

"Taaaaaeeeee ga lucu ah Jhon."

"Gini deh, mending lo atur ulang kepala sama hati lo. Karena percuma kalo akal lo teriak-teriak bilang lo mau ilangin perasaan lo sama Nina tapi hati lo selalu nolak itu? Yang penting, sekarang gimana caranya lo damaian hati sama pikiran lo. Lo buat dia akur berdua, baru lo bisa ngelangkah lagi yang bener. Karena percuma kan, kalo lo lari sekenceng apapun kalo larinya di threatmil lo engga bakal kemana-mana" Ucap Jono.

Gue tidak bisa berkata apa-apa lagi. Semua yang dikatakan teman gue benar dan gue mengerti betul maksudnya. Tapi betul apa yang Jono bilang, percuma kalau gue mengerti tapi tidak sampai hati. percuma gue berlari kalo hanya di treatmil gue berlari.

Tapi …

Tetap saja, walau secara teori gue mengerti gue masih belum mendapat nilai dalam prakteknya. Bicara memang mudah, tapi melakukannya itu yang susah!



Senin, 17 Agustus 2009

Selepas upacara bendera hari kemerdekaan yang diselenggarakan sekolah. Gue dan Jono langsung pulang menuju kosan. Beberapa teman mengajak nongkrong terlebih dahulu sebenarnya. Tapi rasanya enggan, gue ingin cepat-cepat merebahkan badan.

Namun baru beberapa langkah dari pintu gerbang. Gue mendengar ribut-ribut. Jujur awalnya gue tidak peduli, Jono yang meminta untuk melihat terlebih dahulu pun gue halangi. Namun saat salah seorang teman gue menghampiri dan memberi tau kalau Malik sedang memukuli Faisal gue langsung berlari menembus kerumunan dan melerai keributan ini.

"Ehh anjing! Lo kenape!?" Ucap gue sambil mendorong Malik hingga ke tembok lalu menyudutkannya dan membatasi geraknya yang terus mencoba melepaskan dirinya dari cengkraman gue. Sementara Jono dia sedang membantu Faisal berdiri.

Malik tidak henti-hentinya berusaha melepaskan diri, dia terlihat sangat emosi sekali. Menenangkanya dengan ucapan rasanya tidak berguna lalu sekali gue menghantam wajahnya.

"Udah? Tenang belom! Lo kenapa?" Tanya gue pada Malik. Dia tidak menjawab dia hanya menatap tajam ke arah Faisal, matanya seolah ingin membunuh. "Eh b*ngsat gue nanya!" Tanya gue lagi, yang justru membuat Malik mendorong gue lalu kembali menghajar Faisal.

Dengan terpaksa akhirnya gue menjatuhkan tubuh Malik ke tanah, dan mengunci badannya dengan kaki dan tangan gue. "Lo engga bisa kalem juga gue bisa ngelakuin lebih dari ini. Lo bisa kalem ga! Malu Sat sama anak-anak baru, nyontohin berani berantem sama temen sendiri. Kalo mau berantem, berantemin sekolah laen yok sama gue njing!" Ucap gue.

"ITU TEMEN LO NJING, BUKAN TEMEN GUE!" Teriak Malik.

"Lo berdua temen gue, gue yang malu liat lo berdua gini. Bangs*t lo!" Sahut gue sambil memukul kepala Malik. "Sal lo cabut Sal, Jon Faisal." Lanjut gue kemudian menyuruh orang-orang yang berkerumun untuk cepat membubarkan diri.

Setelah Faisal dan Jono pergi gue lalu melepas Malik dan menggiringnya menuju ke warung biasa dia dan teman-teman seangkatannya nongkrong. Saat tiba di warung itu gue melihat Dita dan beberapa temanya. Dita terlihat seperti habis menangis dan gue langsung bisa menebak alasan atas semua ini.

Gue langsung mendudukan Malik di samping Dita. "Eh lo kenapa?" Tanya gue pada Dita. Bukannya menjawab dia malah menangis.

"Lo bisa ga sih ga kasar sama cewe." Ucap Malik.

"Gue liat temen gue nampolin temen gue juga dan lo mau gue nanyanya begini 'hey Dita sebenernya ada apa, kok sampe jadi dua temen aku berantem' gitu? Taee!!"

"TEMEN LO NYAKITIN TEMEN GUE! TEMEN LO SELINGKUHIN TEMEN GUE, BISA GUE ENGGA EMOSI!?"

"Aduhh udoooooo." Ucap gue dalam hati sambil menggaruk jidat gue yang sebenernya tidak gatal.

"Oke-oke tapi apa yang lo lakuin bener Lik? Buat apa? Apa lo puas Ta, Malik gebukin Faisal? Tanya gue pada Malik dan Dita.

Dita tidak menjawab dia hanya menangis dipelukan temannya yang gue tau bernama Ica dan Dian. "Lo liat, lo liat kambing lo liat! Tega lo ngeliat perempuan nangis sampe kaya begini?" Ucap Malik sambil menunjuk wajah gue.

"Ye lo ga usah nunjuk-nunjuk gue kampret!" Ucap gue sambik menepak tanganya Malik. "Kalo gue ada perasaan sih gue empati, tapi kalo ga ada yah gue sekedar simpatii." Lanjut gue yang kemudian disusul sebuah tendangan kecil dari Malik dan wajahnya kini terlihat memerah.

"Jangan dengerin Nata Ta."

"Oke Lik, gue boleh minta ijin ga biar gue ajah yang tanganin Faisal. Gue engga mau ah temen gue berantem. Antara Malik sama Faisal ga bisa akrab ajah gue puyeng, ditambah kalo berantem, halaah pecah pun ini kepala. Gimana Lik? Ta?" Tanya gue pada Dita dan Malik.

Dita menganggukan kepala, sementara Malik dia tidak bisa berkata apa-apa karena Dita sudah menganggukan kepala. Lalu gue bertanya apa yang sebenarnya menjadi permasalahan. Kemudian Dita menunjukan gue sebuah sms yang berisi kata-kata makian bahkan sms itu menyebut kalau Dita seorang pelacur. Saat membaca sms itu jujur gue sedikit mengenal nomornya, lalu gue menelpon nomor yang mengirimi Dita sms itu melalui handphone gue. Ternyata nomor itu sudah tersimpan dalam handphone gue dengan nama SARAH.

"Aduh Sal, lo ada-ada ajah." Ucap gue dalam hati.



Saat dunia menjadi hitam dan putih hanya kamu yang kulihat penuh warna.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
hayuus dan 5 lainnya memberi reputasi
Quote:


Nyasar-nyasar pokoknya hahahahah.

Quote:


Ini udah update om emoticon-Turut Berduka

Quote:


Dasar! Hehehehe
Gitu dong, jangan di quote semua, bingung nanti akunya hihihihihi emoticon-Ngakak

Quote:


Masih yakin kah? Hahahaha emoticon-Big Grin
profile-picture
ariid memberi reputasi
Quote:

Gak berani nerusin ah. Bini ts sama nina juga sohib2 ts juga kayaknya mantengin ini thrit emoticon-Leh Uga
Ijin soundtrackin ya ts kalo sekiranya rusuh ntar ane hapus
profile-picture
nyunwie memberi reputasi
Diubah oleh ariid
itu faisal selingkuh sama Sarah. sama kek Nata yang selingkuhin Karina. emoticon-Shutup
profile-picture
nyunwie memberi reputasi
baru mau baca, ntr dilanjut komen emoticon-Leh Uga

Edited :

Bagus Nat cerita lu, lanjutin yak emoticon-Ngacir

Tapi agak sangsi nih yg ketemu sama lu di tempat konser SID itu Nina tapi yg jadi istri lu bukan dia, hanya nebak sih wkwkw emoticon-Hammer (S)
profile-picture
nyunwie memberi reputasi
Diubah oleh DanyMartadinata

Part 3.7

"Iyah Nata, kenapa tumben lo nelpon gue udah lama banget." Suara Sarah terdengar diujung telepon.

"haah, gapapa Sar, lagi bersih-bersih kontak ajah, yang udah ga aktif mau gue apus-apusin. Oh iya gimana kabar?" Tanya gue.

"Baik, berarti lo hubungin satu-satu dong nomer yang ada di kontak lo? Rajin bener. Oh iya Nat, lo kenal cewe yang namanya Dita-Dita gitu ga?" Jawab Sarah sekaligus bertanya.

"Emmpp kenal sih engga cuma tau ajah. Emang kenapa Sar?"

"Iya ganjen banget dia sms-smsin cowo gue mulu."

"Siapa? Faisal? Bukannya kalian udah putus yah? Kapan balikan? Kok gue engga tau?" Tanya gue.

"Balikan sih belom Nat, lagi proses tapi itu gue kesel sama cewe yang namanya Dita itu. Lo kasih tau gue dong yang mana, biar gue labrak dia."

"Wets galak. EMMMP JADI LO BELOM BALIKAN SAMA FAISAL?" Tanya gue memastikan dengan suara yang agak keras agar Dita mendengar lalu gue mengaktifkan mode speaker.

"IYA GUE BELOM BALIKAN, BANTUIN DONG HEHEHE BIAR KITA BISA DOUBLE DATE LAGI. GUE SAMA FAISAL LO SAMA KARINA."

"HAHAHA, BISA-BISA ASAL ADO PITI BISO IKO ATUR HAHAHA. TAPI BUAT DOUBLE DATE KAYANYA GA BISA, GUE UDAH LAMA PUTUS SAMA KARINA, HIKS HAHAHAH."

"OH YA? ADUH SAYANG BANGET, PADAHAL LO BERDUA TUH PASANGAN PALING SERASI LOH MENURUT GUE."

"HAHAHA, BISA AJAH LO. Eh ini kok jadi ngomongin gue sama Karina sih, yaudah yah Sar gue mau ngecek yang lain nih, nanti kalo ada-ada waktu kita meet meet, sukses sama progresnya yah." Ucap gue sambil menonaktifkan mode speaker.

"Oke Nata, Bye, eh jangan lupa bantuin yah."

"Hahaha, iya-iya nanti gue sms juga nomer rekening gue yah."

"Hahaha. Sialan. Udah ah bye Nata." Ucap Sarah lalu mengakhiri panggilan.

"Perasaan gue yang nelpon tapi dia yang matiin." Ucap gue sambil memasukan kembali handphone gue dalam saku celana. "See, Faisal belom balikan. Lo semua denger sendirikan?" Ucap gue pada Dita, bukan hanya pada Dita sebenarnya, gue berbicara pada semua yang ada di istananya Malik ini.

"Tapi tetep ajah kak dia lagi deket lagi kan sama mantanya, tetep ajah kak gue sakit hati sama sms mantanya." Sahut Dita.

"Loh berarti kita belom bisa memastikan disini Faisal yang salah dong? Kali ajah emang mantanya yang masih ngarep." Ucap gue mencoba meredam semua emosi semua yang ada di sini. Walau sebenarnya gue banyak mencium kesalahan Faisal di sini. "Terus sekarang gue tanya nih sama lo. Lo maunya sama Faisal gimana?" Tanya gue pada Dita.

"Gue cuma mau kalo dia emang masih mau sama gue, gue mau Isal udah engga usah kontakan lagi sama mantanya, kalo perlu ganti nomer." Jawab Dita.

"Dih kok lo masih mau-maunya sih sama Faisal. Udah jelas lo disakitin gini!" Celetuk Malik.

"Lo kenapa ngomong gitu Lik, gue rasa lo yang paling paham gimana orang masih bertahan walau disakitin kan, apppfffttt." Sahut gue sambil menahan tawa.

"Eh upil kering. Kok lo lama-lama ngeselin gue sebor aer basah lo!" Celetuk Malik.

"Lah gue benerpan!? Iyah kan Ta? Hahaha."

"Tau lu Lik, lo yang paling paham urusan bertahan, hahaha." Dita ikut menimpali karena gue yakin Dita juga mengetahui apa gue maksud.

"Ah lo berdua berani keroyokan, cabutlah gue." Sahut Malik.

"Dih ambegan." Sahut gue.

"Bodo, Ta lo masih mau di sini apa balik? Gue anterin balik hayo." Ucap Malik.

"Ga usah, kan lo katanya mau jemput kak Alo, nanti telat dia marah lo." Jawab Dita.

"Eaaaaa." Sahut gue meledek Malik. Lalu Malik pergi sambil mengacungkan jari tengahnya ke arah gue.

Gue tau Malik memang emosi karena Faisal menyakiti Dita, gue juga tahu kalau Malik perduli pada Dita tapi hanya sebatas teman dekat lebih pada sahabat. Kedekatan itu yang kadang membuat Faisal cemburu pada Malik dan akhirnya tidak bisa akrab. Ditambah kejadian ini, pasti akan lebih sulit lagi niat gue untuk mengakrabkan mereka.

Satu persatu orang-orang yang ada di depan warung ini pergi, hanya gue, Dita dan Dian yang tersisa. "Dian lo baliknya kemana?" Tanya gue.

"Ke arah ****** Kak, kenapa?"

"Oh searah sama Dita, baguslah. Jadi gapapa yah gue balik duluan?" Tanya gue.

"Iyah gapapa Kak." Jawab Dian dan Dita bersamaan.

"Oke yaudah gue balik duluan yah, tiati lo di jalan." Pamit gue pada Dita dan Dian. Setelah cukup jauh meninggalkan mereka berdua, lalu gue menelpon Jono menanyakan posisinya berada. Jono mengatakan kalau dia masih bersama Faisal.

"Gue di tempat biasa anak-anak kelas 12 nongkrong ngai." Jawab Jono.

"aaaa Jon, kita kan kelas 12 sekarang!?" Sahut gue.

"Lah iyah yah, lupa gua, pantes nih tongkrongan sepi. Tekin lah jadi tongkrongan kite, asik nih tempat." Ucap Jono.

"Sikat Jon, gue otw." Sahut gue lalu mempercepat langkah. Tidak sampai sepuluh menit gue sudah sampai di sebuah warung pop ice yang jaraknya tidak begitu jauh dari sekolah. Saat gue sampai gue melihat Jono sedang duduk bersandar dengan kakinya diangkat hingga ke meja. Sedangkan Faisal, lukanya tidak begitu parah, hanya sedikit bekas darah diujung bibirnya.

"Etdah kek jagoan kaki lo Jon." Ucap gue sambil menepak turun kakinya.

"Senior bebas, hahahah." Sahut Jono.

"Kambing! Hahahaha." Gue lalu menghampiri pedagang pop ice ini. Biasa anak-anak memanggil Mpok Ruli. Gue tahu karena beberapa kali gue pernah nongkrong di sini. "Mpok rasa taro dong Mpok, pake keju ajah Mpok yang laen ga usah. Oh iye Mpok kite nongkrong dimari gapapakan yak?" Ucap gue pada Mpok Ruli.

"Lah gapapa biasanya juga temen-temen lu ngejedog di mari. Lu yang namanya Nata kan yak? Yang tukang berantem! Gapapa nongkrong di mari asal jangan berantem yak." Sahut Mpok Ruli.

"Lah Mpok, kita mah ga jualan berantem. Lagi mpok ada-ada ajah masa berantem dijual beli." Sahut gue.

"Lah begimane maksud lo?" Tanya Mpok Ruli terlihat bingung.

"Itu tadi Mpok bilang tukang berantem. Lah pan tukang pedagang yak, ahahaga."

"Ah bisa ae lo daki semut." Sahut Mpok Ruli. "Pokoknye lo dimari gapapa, asal inget ye jangan pade berantem sama mabok, kalo lo padean berantem sama mabok gue laporin guru-guru lo pada." Lanjut Mpok Ruli.

"Kalo ngerokok Mpok ngerokok?" Sambar Jono bertanya.

"Nah kalo itu urusan lo dah pada, gue mau ngelarang tapi iye gue ngerokok, gue juga paham lu lu pade, gue juga pan pernah muda."

Mpok Ruli orang yang sangat menyenangkan menurut gue, bahkan bukan hanya menurut gue. 90% murid di sekolah gue juga setuju dengan gue. Sedangkan 10% sisanya adalah mereka yang mungkin tidak pernah tau di mana Mpok Ruli. Entah mereka sengaja Absen dari pergaulan atau memang mereka hanya memfokuskan masa-masa indah mereka hanya untuk belajar. Entahlah. Yang jelas 10% sisanya itu adalah tipe-tipe orang-orang yang sama sekali tidak pernah hadir saat reuni SMA karena merasa tidak berkawan dengan teman-temanya di SMA.

Belajar penting! Tapi koneksi lebih penting. Percuma kalian briliant tapi tidak punya koneksi untuk menyalurkan kepintaran kalian? Untuk apa gunanya kalian belajar!

Setelah memesan pop ice gue lalu menghampiri Faisal. Gue mempertanyakan duduk permasalahan. Sesuai dugaan, Faisal memang sedang kembali dekat dengan Sarah dan dia juga mengatakan pada Sarah kalau dia tidak mengenal Dita.

"Aduh Sal, kan gue udah bilang gue engga mau berurusan begini." Ucap gue pada Faisal.

"Sorry Ngai, gue juga ga tau bakalan jadi kek gini. Awalnya gue ga sengaja ketemu Sarah, eh keterusan sampe jalan lagi."

"Yah lo jangan minta maap sama gue lah, minta maap sama Dita. Salah lo bukan sama gue."

"Iyah Nat."

"JANGAN IYA-IYA DOANG CONGE!" Sahut gue sambil menggebrak meja. Sehingga membuat beberapa orang yang ada di sini kaget.

"WOI MEJA GUE LO APAIN!" Teriak Mpok Ruli.

"Nyamuk mpok, nih nih…" PLAAAKKK!! Gue menampar pipinya Jono.

"Weh kambing, ngape jadi gue ditabok!" Protes Jono.

"Nyamuk Jon nyamuk hahahaha."

"Muke lu kek nyamuk!" Protes Jono lalu fokus pada BB nya.

"Eh kunyuk, lo dari kapan pake bebe setan!" Ucap gue pada Jono.

"Yee jigong kebo, lo kemane ae, udeh 3 hari gue pake bebe, Abdul, Isal, Malik juga. Lo doang udig. Ono lu cabut dari Jakarta anying, malu-maluin gue lo kalah sama anak Jogja." Ledek Jono dengan gaya tengilnya.

"Ye si buabiiii songing!"

"Songhong!!!"

"Dah, balik lagi Sal. Terus lo mau gimana setelah ini?" Tanya gue kembali pada Faisal.

"Ga tau Nat!"

"BISAAAA…" Saat gue hendak menggebrak meja lagi. Mpok Ruli berdiri bertolak pinggang sambil melotot ke arah gue. "Bisa engga tau gimane sih." Sahut gue berbisik sambil menunduk dan mengetuk meja dengan pelan karena Mpok Ruli sedang memperhatikan gue dengan tampang yang menakutkan.

"Gue ga tau Nat, satu sisi gue engga mau kehilangan Dita. Tapi di satu sisi gue ngeliat Sarah udah berubah, dia jadi dia yang dulu gue inginkan. Gue bingung sekarang harus gimana, please Nat. Gue butuh solusi." Ucap Faisal sambil mengusap-usap wajahnya.

"lo tinggal pilih ajahkan Dita atau Sarah, susah bener." Celetuk Jono tanpa sedikitpun memalingkan muka dari bebenya.

"Engga segampang itu Jono." Sahut Faisal.

"Yang bikin susah elu sendiri Sal." Sahut Jono lagi kini dia meletakan bebenya di atas meja "Gue heran sama lo berdua, kadang lo berdua pinter, sekalinye bloon, bloon banget." Lanjut Jono.

"Anjrit kenapa gue juga!" Protes gue pada Jono.

"Lo berdua samanye, lo udah pada tau apa yang harus lo lakuin, tapi lo berdua malah bingung. Apaan namanye kalo bukan bloon!? Eh dua pangeran kodok sini lo berdua gue kasih tau." Ucap Jono lalu menarik telinga gue dan Faisal. "Yang namanye orang berani jatuh cinta, harus berani sakit karena cinta. Lo ga bisa terus-terusan mau yang enaknya doang. Pengecut namanya. Boy, yang namanya awal pasti ada akhir, yang namanya pilihan pasti ada konsekuensi. Kalo idup lo saben hari mau pada manisnya doan. Lo berendem sono di aer gula tiap hari. Di semutin di semutin lo. Paham ga!" Lanjut Jono lalu melepaskan jarinya dari tangan gue dan Faisal.

Gue sedikit heran, Jono kini banyak berubah. Semenjak perselisihan gue dengan Jono dan seolah menjelma menjadi lebih wise, lebih banyak menimbang saat mengambil keputusan dan lebih fokus pada solusi permasalahan ketimbang permasalahannya. Joni telah beranjak lebih dewasa. Satu yang paling-paling mengena untuk gue Jono pernah mengatakan pada gue yang hingga kini masih gue ingat.

"Kadang keinginan yang membuat kita lupa untuk terus melangkah."




Malam pertama solat tarawih tahun ini gue lalui bersama Abdul dan keluarganya. Gue berniat melalui puasa tahun ini dengan sungguh-sungguh dan gue memulai malam pertama di daerah rumah gue. Gue juga berniat selama puasa ini gue tinggal di rumah Abdul, agar meminimalisasi godaan-godaan yang mungkin akan datang kalau gue melalui romadhon tahun ini di kosan.

Namun selepas tarawih saat hendak pulang ke rumahnya Abdul dari masjid Faisal menelpon gue. Dia mengatakan kalau ada sesuatu yang penting yang harus dibicarakan dan Faisal sudah menunggu gue di kosan. Dengan meminjam motor Abdul gue langsung berangkat ke kosan seorang diri.

Sesampainya di kosan Faisal langsung to do point maksudnya. Gue sedikit terkejut dengan apa yang diucapkanya. "Lo engga salah? Perasaan lo yang awalnya semangat milih Dita dari pada Sarah, sedangkan sekarang lo udah pacaran hampir setaun lo malah milih balik sama Sarah? Lo kenapa sih Ngai?" Tanya gue pada Faisal.

"Ga tau Ngai, gue ngerasa makin hari gue pacaran sama Dita dia makin berubah, gue makin engga kenal sama dia. Makin lama makin jauh, engga kaya di awal pacaran. Sedangkan Sarah …"

"Sarah dateng lagi dengan membawa dirinya yang baru yang sesuai apa yang lo mau?" Sambar gue lalu Faisal menganggukan kepalanya.

"Do, segala sesuatu ga ada yang bakal bertahan sama, semua pasti berubah. Patung pancoran yang dari kapan tau manteng juga berubah, lumutnya, warnanya yang makin pudar, ga ada yang bakal sama Sal." Lanjut gue.

"Gue paham Ngai, tapi gue engga bisa nyesuain diri gue terus sama Dita, gue juga pengen gue yang disesuaikan." Ucap Faisal.

"Hemmm, oke oke gue paham. So, keputusan lo udah udah final sekarang? Tanya gue.

"Udah Ngai."

"Kapan lo mau putusin Dita?" Tanya gue.

"Sekarang!"

"Secepat ini?" Tanya gue.

"Lebih cepat lebih baik, gue ga mau gue malah goyang lagi nanti."

"Oke,and than…"

"Dari itu gue minta tolong sama lo sekarang. Yoh know, Malik." Sambar Faisal.

"Yaudah lo sekarang hubungin Dita lo ajak ketemuan, gue engga mau lo putusin dia lewat bbm, sms, telpon atau apalah, gue mau lo ngomong langsung. Malik biar urusan gue. Gue pastiin dia ga bakal nyolek-nyolek lo." Sahut gue. Faisal lalu menghubungi Dita, dia mengajaknya bertemu.

"Lo sms gue tempat lo ketemuan." Ucap gue saat Faisal berangkat menemui Dita. Setelah Faisal berangkat, gue lalu ke kamarnya Malik. Beruntung Malik ada di kosan.

"Ngapain tuh uda gila?" Tanya Malik.

Gue lalu memberitahu Malik maksud dan tujuan Faisal. Sesuai dugaan gue, Malik langsung tersulut emosi. Namun gue sudah mengantisipasi, gue menahannya untuk menuruti emosinya.

"Eh dengerin gue Sat, kalo emang lo sayang sama Dita, kalo emang lo nganggep dia sahabat, dan engga mau Dita sedih. Lo percaya sama gue, ini yang terbaik dia putus sama Faisal." Ucap gue.

"Ya tapi tetep ajah dia udah maenin Dita Sat!" Sahut Malik.

"Engga! Dia engga maenin Dita, mereka saling sayang cuma emang perasaanya engga bisa berkembang. Ga mungkin kalo mereka ga saling sayang bisa awet hampir setaun kan? C'mon lo temenya Dita kan harusnya lo tau dong. Kecuali lo emang ada perasaan lebih sama Dita, gue bakal biarin lo ngelakuin apa yang mau gue lakuin." Ucap gue kemudian Malik mereda, dan tidak lagi memberontak dari jeratan gue. "Gue tau lo orang yang paling hebat dalam berperasaan Lik. So lo mau samperin mereka sebagai temenya Dita atau lo mau samperin mereka sekarang sebagai orang yang punya keinginan sama Dita?" Tanya gue.

Tidak lama gue dan Malik langsung meluncur ke tempat Faisal dan Dita bertemu di sebuah cafe burger di daerah tebet. Letaknya tidak jauh dari rumah gue dan Abdul. Jadi gue memarkir motor Abdul di rumahnya, kemudian sedikit menceritakan pada Abdul apa yang terjadi. Abdul kemudian memutuskan untuk ikut. Lalu berjalan kaki dari rumah Abdul, tapi kami tidak langsung menghampiri Dita dan Faisal. Kami memilih duduk menunggu di cafe di seberangnya.

Sekitar satu jam kami duduk, kami melihat Dita menangis. Tentu Malik langsung bergerak cepat, menyebrang dan langsung menghampiri Dita dan Faisal. Malik sangat cepat, hingga tidak sempat gue dan Abdul menahannya. Gue dan Abdul langsung mengejar Malik, tak ayal kami yang berlarian membuat kami menjadi pusat perhatian.

Malik langsung menarik pakaian Faisal, saat ingin memukulnya. Beruntung Abdul berhasil menahan Malik. Gue lalu menarik Malik. "Laki omonganye yang dipegang Bos." Ucap gue sambil menunjuk wajahnya. "Dul, bawa ke rumah lo Dul." Lanjut gue.

Kemudian Abdul menggiring Malik ke rumahnya. Sementara seorang petugas cafe memberi ultimatum jika kami mencari keributan, lebih baik kami pergi. Gue meminta maaf padanya atas semua keributan ini kemudian gue duduk bersama Dita dan Faisal.

"Gimana udah selesai? Kalo belom gue cabut nih." Ucap gue.

"Udah, udah kak. Kak lo bisa anterin gue pulang ga?" Tanya Dita suaranha parau. Gue melihat ke arah Faisal, dia mengangguk.

"Okeh, motor gue ada di rumah. Yuk." Ucap gue, kemudian gue mulai beranjak, sementara gue mendengar Faisal kembali meminta maaf pada Dita walau tidak digubris oleh Dita.

"Ayo kak." Ucap Dita sambil menarik tangan gue.

"Aaa, arah sana bukan ke sana." Sahut gue karena Dita menarik gue ke arah yang salah. Lalu dia berjalan mendahului gue, sementara gue kembali menoleh kebelakang.

"Tolong anterin." Gue membaca gerak bibir Faisal yang sengaja berbicara tanpa bersuara.

Dita berjalan beberapa langkah di depan gue. Langkahnya sedikit goyang, sesekali gue melihat pundaknya bergetar. Gue tahu dengan sangat dia pasti sedang menahan gejolak di dalam hatinya. Gue lalu menyamakan langkahnya, memberi tahu kalau jalan harus berbelok masuk ke area perumahan. Tidak jauh setelah berbelok ada sebuab taman, kondisinya agak sedikit sepi. Hanya ada beberapa remaja seusia gue yang sedang duduk di tengah lapangan, sepertinya mereka sedang beristirahat sehabis bermain bola basket.

Salah satu dari mereka berteriak menyapa gue. Lalu gue meminta Dita sebentar berhenti untuk menghampiri kawan-kawan lama gue itu. "Woi Nata anjrit kemana ajah lo! Sombong lo ga pernah main-main lagi kemari" Ucap salah satu teman gue sambil kami berjabat tangan dan beradu bahu.

"Hahaha, lo sombong ga pernah main ketempat gue, lagi tiap gue kemari lo semua pada gada."

"Lo kemari malam mangkanya, siang mana ada. Basket lagi lah sepi anjrit ga ada lo. Kalah mulu kita." Sahut salah satu teman gue.

"Boleh, jadwal masih sama kan? Oh iya puasa ga ada pergerakan apa nih? Gue sebulan tinggal dirumah Bdul nih."

"Serius!? Bedul ga ngomong?"

"Gimana sih bedul, yaudah gerakin lah, tong masih ada kan?" Tanya gue.

"Masih, kulitnya doang tapi ga ada, udah berapa taun njir ga dipake, udah sowek."

"Yaudah, besok cari sama gue. Patungan pada!"

"Asik, akhirnya komandan balik. Siap Dan! Oh iya ngomong-ngomong itu cewe baru?" Tanya salah satu teman gue. Kemudian kami semua menoleh ke arah Dita yang gue tidak sadar Dita berdiri dibelakang gue memegangi jaket gue sambil tersenyum namun terlihat sedikit takut.

"Oh bukan, ini bukan pacar gue. Pacar temen gue." Sahut gue.

"Mantan kak." Sahut Dita.

"Ehiya, hahahah. Oh iya, gue anterin dia dulu yah, nanti gue balik lagi." Pamit gue pada teman-teman gue.

"Itu temen-temen lo kak?" Tanya Dita.

"Iyah, gue kan kecil sampe awal-awal SMA di sini. Ini rumah gue." Jawab gue dan menghentikan langkah tepat di depan rumah gue. "Dikontrakin, dan gue ngekos. Lucy yah, orang Jakarta asli malah ngekos, rumahnya dikontrakin. Hahahaha" Lanjut gue. Sementara Dita tersenyum menanggapi ucapan gue. Lalu gue kembali melanjutkan langkah dan membuka pintu gerbang rumah Abdul yang berada tepat di sebelah rumah gue.

"Ini rumah siapa Kak?" Tanya Dita.

"Rumah sahabat gue, Abdul namanya. Faisal ga pernah cerita?"

Dita menggelengkan kepala. "Dia sering ceritanya tentang lo ajah kak. Dia juga bilang lo satu-satunya sahabat dia." Jawab Dita.

Gue lalu masuk ke halaman rumahnya Abdul. Gue tidak mendapati Abdul maupun Malik. Gue juga tidak mendapati motor Abdul. Lalu gue masuk ke dalam rumahnya sambil mengajak Dita masuk terlebih dahulu. Baba (bokapnya Abdul) sedang terlihat duduk di sofa sambil menonton tv, sementara Umma (nyokapnya Abdul) terlihat sedang repot di dapur bersama Assistant rumag tangganya. Kedatangan gue masuk sedikit menyita perhatian Baba dan Umma, sebenarnya Dita yang lebih menyita perhatian mereka.

Umma langsung menghampiri dan menanyakan siapa Dita. Apa pacar baru gue, atau siapa. Sementara Baba langsung menyuruh gue dan Dita duduk disamping beliau dan bertanya pada Dita menggunakan bahasa Arab. Tentu Dita tidak mengerti, dia hanya celingukan sesekali menggaruk keningnya yang gue yakin tidak gatal.

"Ba, ni harim ahwal Ba." Sahut gue akhirnya yang menjawab pertanyaan Baba.

"Waduh Baba pikir Syarifah, hahahah."

"Syarifah apaan kak?" Bisik Dita bertanya.

"Ba, Dita nanya nih Syarifah apaan?" Sahut gue yang kemudian sebuah cubitan mendarat diperut gue.

Baba lalu menjelaskan sedikit tentang Syarifah dan Habaib. Tentu dengan Bahasa Indonesia yang mudah dimengerti oleh Dita. Sementara Baba menjelaskan, gue pergi ke dapur. Melihat seksama ekspresi wajah antusias Dita yang mendengarkan penjelasan dari Baba.

"Cantik yah."
profile-picture
profile-picture
profile-picture
yusufchauza dan 2 lainnya memberi reputasi
Quote:


Hahahah, tenang tiap karakter yang ada dicerita gue ini semua udah gue sumpel, ga bakal ada yang nongol lagi. DIJAMIN.

Quote:


emoticon-Cape d...
Aduh, emang nih Nata ngajarin selingkuh orang-orang.

Quote:


Siap. Pasti gue lanjutkan. Btw agan lagi baca karena aku suka ujan yah? Bae bae mewek wkwkwwkwk. Itu keren banget ceritanya sumpah.
profile-picture
yusufchauza memberi reputasi
Quote:


Yang punyanya Bang Putra ?iya udah baca dari tahun kemarin, trus baca dari awal lagi karna agak lupa haha emoticon-Nohope
profile-picture
nyunwie memberi reputasi
Quote:

Ini para tokoh yang mantengin ini thrit berapa persen?
profile-picture
nyunwie memberi reputasi
Nata mulai mikirin Dita nih. emoticon-Ngakak
profile-picture
nyunwie memberi reputasi


Quote:


Sepertinya Nata mulai berubah arah ke Dita nih

profile-picture
profile-picture
yusufchauza dan nyunwie memberi reputasi
Diubah oleh mirzazmee
Halaman 9 dari 25


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di