alexa-tracking
Kategori
Kategori
Pengumuman! Mau dimodalin 25 Juta untuk acara komunitas? Ceritain aja tentang komunitas lo di sini!
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Rembulan Di Ujung Senja
5 stars - based on 12 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c7bbab9af7e93309a084c6e/rembulan-di-ujung-senja

Rembulan Di Ujung Senja (Saat Senja Tiba episode 3)

Tampilkan isi Thread
Halaman 21 dari 24
Mulustrasine lho ngguathelli.. TSe koplak polll
kt lihat apakh ada pertempuran tekken kahhhh... Hahahhaa..
Balasan post gridseeker
Abis dari sasana lanjut maen teken sama mbak shel gk bg vin? 😁
report ts nya active feeding
Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


shela udah jauh2 kesini buat ketemu sama ane emoticon-Malu (S)emoticon-Malu

jadi harus ane kasih "sambutan" yg menyenangkanemoticon-Malu (S)emoticon-Malu

kaboorrr... emoticon-Ngacir
profile-picture
profile-picture
profile-picture
yusufchauza dan 2 lainnya memberi reputasi
yaela masvino yang b****** lagi emoticon-Ngakak (S)
nenda dulu dah ye
Quote:


sekali kadal tetaplah kadal... makanya istrinya jadi ngeyelan dan mengikuti jejak sang kadal.
Quote:


Sambutannya pasti Sparing di hotel nih. Wkwkwkwk emoticon-Ngacir
Quote:


Ah bilang aja kangen vin
lancrotkan polguso!!!!!

alangkah romantisnyaaa
newbi menyimak

Part 21

"Ya udah deh aku pergi dulu ya, aku gak mau ganggu kalian. Hehe... " timpal Renata ketawa lalu berjalan meninggalkan kami berdua.

"Oh iya mbak, mas... " tiba-tiba Renata yang udah berjalan agak jauh kembali menoleh ke arah kami.

"Jangan lupa, kalo maen yang cantik. Siapin pengaman. ".

"Hiiih Renataaaa !! " teriak Shela dengan nada kesal, tapi Renata cuma cekikikan sembari ngeloyor pergi. Oh boy, bener-bener cewek yang periang dan atraktif, batin ane. Plekk..!! Tiba-tiba Shela mencablek lengan ane, pelan sih gak kayak dulu.

"Napa ? " tanya ane ke sang mantan yang menatap ane dengan kesal.

"Kamu ngapain dateng jam segini ? Tuh liat jadinya malah ketahuan Renata !! " jawab Shela dengan nada tinggi.

"Sorry lah, aku kan nggak tau kalo ada temen kamu itu. Lagian sejak dulu juga aku kalo jemput jam seginian kan ? " jawab ane, tapi Shela gak menjawab lalu duduk di bangku dengan wajah cemberut.

"Iya sorry sorry... " kata ane lagi, lalu duduk di sebelah Shela.

"Soalnya aku takut telat, bukannya sejak dulu kamu benci kalo aku datang telat ? " timpal ane tersenyum.

"Iya sih. " jawab Shela mengangguk.

Dan suasana pun menjadi hening karena ane sama Shela sama-sama terdiam. Rasa canggung itu kembali muncul saat ane berada di deket mantan ane ini, dan sepertinya Shela juga demikian, dia hanya terus menatap luar aula yang sepi. Well, tapi kita gak mungkin diem-dieman terus, selain karena udah malam, ane juga penasaran apa yang sebenarnya mau Shela sampaikan.

"Sebenarnya apa sih yang mau kamu omongin, kayaknya penting banget ? " tanya ane.

"Ada banyak Vin, tapi aku bingung mulainya darimana. " jawab Shela dengan tatapan menerawang.

"Oke. " jawab ane mengangguk.

"Mungkin secangkir caffe-latte hangat bisa ngilangin rasa bingung kamu. Gimana ? " tanya ane seraya menatap Shela, yang langsung tersenyum simpul mendengar kata-kata ane.

"Mulai nih modusnya. " kata Shela dengan nada ngeledek.

"Modusin mantan gak papa kan ? " jawab ane bales tersenyum.

"Eh, mantan kamu ini udah ada yang punya lho. "

"Itu cuma halangan kecil buatku. " kata ane lagi.

"Kamu ini ya, sejak dulu emang ga pernah nyerah. " jawab Shela sambil menuding ke hidung ane.

"Kalo buat kamu, lautan terdalam sekalipun aku rela nyeberangi, Shel. " kata ane tersenyum.

"Halah gombal. " jawab Shela dengan nada mencibir, dan ane cuma ketawa. Tapi meski kesannya bercanda, tapi apa yang ane katakan barusan bener-bener from the bottom of my heart.

"Udah yuk ntar keburu malem. " ajak Shela lalu memasukkan HP ke tasnya.

"Emang mau kemana ? " tanya ane.

"Lho tadi bilangnya mau ngajak ke caffe ? " tanya Shela dengan nada heran.

"Kamu mau ? " tanya ane balik.

"Vino, aku cubit nih !! " kata Shela ketus sambil siap mencubit lengan ane, dan ane lagi-lagi ketawa ngeliat dia uring-uringan.

"Oh iya, Renata masih di warung bakso seberang lho, ntar dia liat kita jalan apa nggak makin heboh dianya. " kata Shela dengan nada cemas.

"Emang kenapa ? Dia nggak kenal Wulan apalagi Mas Fadli kamu itu jadi dia tau nggak masalah kan ? Lagian dia temen kamu dan aku liat dia juga menghormati kamu sebagai guru Karatenya dulu, pasti nggak bakalan cerita ke siapapun. " jawab ane.

"Ayolah... my princess. " ajak ane setelah Shela keliatan ragu-ragu.

"My princess my princess terus Mbak Wulan apanya kamu ? "

"Oh dia...my angel. Dulunya sih. " jawab ane.

"Dulu ? Kalo sekarang ? " tanya Shela lagi.

"Mabes POLRI. " jawab ane sembari nyengir dan....plekk !! Lagi-lagi sebuah cablekan pelan mendarat di lengan ane dan Shela hanya tersenyum sambil geleng-geleng.

Karena udah dapet sinyal positif dari sang tuan putri, maka kami langsung berjalan keluar sasana dan menuju parkiran dimana Makarov (nama motor ane) diparkir. Saat ane sama Shela sampai parkiran terdengar suara cewek memanggil dari kejauhan, dan bener aja ane liat si Renata alias Shela KW terlihat ketawa ketiwi di depan sebuah warung bakso yang ada di seberang jalan. Ane sama yayang.. eh Shela nggak ada pilihan lain selain balas melambaikan tangan.

Sebenarnya sih Shela pengen ke café di mall yang dulu sering kami tongkrongin, tapi karena biar ada suasana baru, ane ajak dia ke sebuah café lain yang letaknya agak di pinggiran kota. Meski agak jauh dari pusat kota, café ini lumayan terkenal dan sebelumnya ane pernah ke café tersebut bersama beberapa temen kantor.

“Vin, ini sebenarnya mau kemana sih ? Kamu jangan aneh-aneh lho. “

“Tenang aja, aku nggak bakal aneh-aneh kok sama cewek yang udah punya suami. “ jawab ane sembari memacu motor dengan kecepatan sedang.

“Ah yang bener. “ jawab Shela.

“Bener kok, kecuali… “

“Kecuali apa ? “ tanya Shela.

“Kecuali khilaf. “ jawab ane ketawa, dan lagi-lagi plekkk…!! Kali ini sebuah cablekan pelan mendarat di punggung ane, dan ane liat dari spion motor Shela tersenyum simpul.

Kira-kira setengah jam kemudian, kami sampai di café tersebut (yang letaknya di Shrimp River Street). Untungnya café-nya nggak begitu ramai, hanya ada dua tiga pengunjung. Setelah parkir motor, kami lalu masuk ke dalam dan langsung disambut oleh lagu jazz yang mengalun pelan.

“Silahkan tuan putriku yang cantik. “ kata ane sambil menarik kursi.

“Makasih. “ jawab Shela tersenyum senang lalu duduk di kursi itu. Nggak berapa lama datang seorang waiter membawa notes yang siap mencatat pesanan kami. Dengan sigap, waiter itu mencatat pesanan kami, dan setelah itu berlalu.

“Gimana ? Lumayan kan café ini ? “ tanya ane.

“Hmmm lumayan sih. “ jawab Shela sembari melihat sekeliling.

“Yah, mungkin masih kalah bagus sama café punya kamu. “

“Ya nggak lah Vin, café-nya Mas Fadli itu masih baru, menunya aja lengkap sini, dan juga gak seluas ini. “ jawab Shela sembari menatap sekeliling.

“Oh ya, Dina ada masalah ? “ tanya ane langsung to the point, soalnya ane udah penasaran apa yang mau mantan ane ini omongin.

“Dina ? “ tanya Shela balik.

“Iya, kamu mau ngomong soal Dina kan ? “

“Salah satunya. “ jawab Shela sembari menatap ane.

“Salah duanya ? “ tanya ane.

“Ya nanti lah, sekarang aku mau ngomong ke kamu soal adik kamu itu. “ jawab Shela.

“Ntar biar aku tebak, bocah itu ada masalah sama pacarnya. Iya kan ? “ tanya ane.

“Iya bener. “ jawab Shela mengangguk.

“Dan aku tebak lagi, mereka baru aja putus ? “ tanya ane lagi, dan Shela cuma mengangguk pelan.

“Ternyata kamu udah tau banyak yah, apa dia cerita ke kamu soal pacarnya ? “ tanya Shela.

“Nggak, FB-nya Dina yang cerita banyak. Aku tau tingkah polah Dina dari timeline FB-nya. Dia kan lumayan aktif nulis status. “ jawab ane.

“Emang kamu temenan sama dia ? “ tanya Shela.

“Nggak sih, aku add dia pake akun palsu, pake foto cowok ganteng. Akun-ku udah dia blokir sejak lama. “ jawab ane ketawa.

“Mungkin baiknya kamu lebih halus sama Dina Vin, jangan terlalu keras. Bagaimanapun kamu ini kakak kandungnya, harusnya kamu bisa jadi sosok pembimbing buat Dina. “ kata Shela.

“Aku ngerti Shel, cuma bocah satu itu kalo dibilangin selalu aja ngeyel dan bikin emosi. “ jawab ane dengan nada agak ketus.

“Mungkin cara penyampaian kamu aja Vin. Dina itu masih remaja, umur segitu lagi labil-labilnya jadi wajar kalo sukanya ngeyel dan emosinya gak terkendali. Justru kamu yang orang dewasa harus lebih sabar, jangan malah ikut-kutan emosi. “ kata Shela dengan nada serius. Ane nggak menjawab dan hanya mengangguk-angguk karena yang dikatakan Shela bener semua.

"Cuma yang aku agak heran, kayaknya Dina udah dua atau tiga kali putus pacaran tapi selama ini nggak ada masalah, tapi kenapa kali ini dia bisa sedih kayak gitu ya ? " tanya ane.

"Karena Dina serius sama pacarnya kali ini dan dia pengen serius tapi ternyata pacarnya itu malah minta putus. Itu yang bikin adik kamu sedih banget, Vin. " jawab Shela, cuma entah kenapa ane ngerasa ada suatu hal yang dia tutup-tutupi. Obrolan kami terhenti saat waiter datang membawa pesanan kami yaitu satu caffe-latte hangat, satu americano dan dua porsi croissant.

Sebenarnya sejak awal ane udah ada sedikit hipotesis soal masalah Dina, karena ane ~meski kami jarang bertemu~ tapi setidaknya ane sedikit gimana kelakuan si bocah tengil nan centil itu, terutama pergaulan dia sama cowok-cowoknya selama ini, apalagi kalo amat-amati, Dina itu sebenarnya lumayan good looking untuk ukuran cewek SMU. Mungkin hanya sebatas dugaan, tapi tetep aja harus ditanyakan ke Shela, mengingat mereka sangat deket.

"Tapi tetep aja ada yang ngeganjel pikiranku Shel. " kata ane sembari menuang gula sachet ke cangkir americano lalu mengaduknya.

"Apa itu Vin ? " tanya Shela.

"Aku sama Dina emang nggak deket dan kami juga sering berantem, tapi jujur aja, aku tetep memantau dia, lewat ibu atau lewat FB-nya. Dan aku sempet kuatir juga sama pergaulannya yang menurut aku nggak terkontrol. " kata ane.

"Itulah Vin, aku juga prihatin sama pergaulannya Dina, makanya tadi aku minta sama kamu sebagai kakaknya agar lebih deket sama adik kamu itu. " jawab Shela.

"Aku ngerti Shel, kalo ada apa-apa sama Dina itu juga salah aku, dan... aku mau tanya sama kamu. "

"Tanya apaan ? " tanya Shela sembari mengaduk caffe-lattenya.

"Apa Dina cerita ke kamu kalo dia pernah ngelakuin... maksudku sama pacarnya... " dan ane nggak meneruskan pertanyaan ane, dan hanya mengerak-gerakkan tangan sebagai kode. Mendengar pertanyaan ane Shela nggak menjawab dan hanya balas menatap ane, tapi kemudian dia mengangguk pelan.

"Astagaaaaaa..!!! " jawab ane sembari menggelengkan kepala, karena apa yang ane kuatirkan selama ini terjadi juga, dan jawaban dari Shela meski hanya sebuah anggukan cukup membuat darah ane naik.

"Aku udah berkali-kali ngingetin bocah genit itu tapi selalu aja ngeyel ngeyel ngeyel terus !! Dan liat ini kan yang terjadi ?! Terus pacarnya itu setelah ngegarap Dina minta putus gitu aja ?! " kata ane dengan nada tinggi.

"Vin, sabar Vin, kamu jangan emosi dulu, kita bicarakan ini... "

"Kamu tau nggak rumah cowok baj*ngan itu dimana ?! Aku harus bikin perhitungan sama dia !! "

"Bukan gitu caranya Vin, kalo kamu nyakitin cowok itu sama aja kamu nyakitin Dina karena dia masih sayang sama pacarnya itu. " kata Shela berusaha membujuk ane tapi ane udah terlanjur emosi.

"Halah sayang apaan ?! Bullsh*t itu !! Nggak pantes cowok baj*ngan kayak gitu pacaran sama Dina. Kalo perlu aku bakal pastiin mereka ga bakal bisa ketemu lagi !! "

"Iya aku ngerti perasaan kamu Vin, tapi tolong.. " brakk...!! Ane spontan menggebrak meja agak keras karena ane udah bener-bener emosi atas apa yang udah terjadi sama Dina, dan Shela hanya bisa diem sembari terus menatap ane. Mungkin sekarang kami udah jadi perhatian pengunjung cafe tapi ane nggak peduli.

"Vin, sekali lagi aku minta kamu tenang dan dengerin aku ngomong... " kata Shela pelan.

"Kalo kamu nggak mau ngelakuinnya demi Dina, kamu mau kan ngelakuinnya demi aku ? " tanya Shela, dan ane nggak menjawab dan melempar pandangan ke arah jalan raya.

"Vin, kamu mau kan ? " tanya Shela lagi sembari memegang lengan ane, dan entah kenapa saat itu juga hati ane yang tadinya mendidih meluap-luap tiba-tiba berangsur-angsur menjadi adem, seperti kena guyuran air es.

"Yah kamu benar, nggak seharusnya aku emosi kayak gini. Maafkan aku ya ? " tanya ane sembari menatap Shela, dan dia hanya mengangguk sembari tersenyum.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
AKlewang dan 9 lainnya memberi reputasi
Balasan post gridseeker
baru sampe di bab Dina... aslinya ane nunggu bab berikutnya yang ane yakin bikin Vino tambah semangat balik ke Shela.
we want more vin, kurang partnya emoticon-Mad
profile-picture
bogalbogel28 memberi reputasi
Nanggung amat vin emoticon-Confused
aduh si Vino, ampun deh. masa mantan tercinta di bilang princess, sedang istri di bilang mabes polri. emang di rumah serasa dalam tahanan ya mas Vin ? wkwkwkwk emoticon-Ngacir
di tunggu lanjutannya mas
#salamGunungkidul
wew bininya dibilang mabes polri, knapa nggak sekalian aja dibilang Kalapas vin????? emoticon-Hammer2
puasa2 bikin kentang itu dosa BESAAAAAAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRR
Halaman 21 dari 24


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di