alexa-tracking
Kategori
Kategori
Pengumuman! KASKUS punya fitur baru: MENTION! Berkomunitas jadi makin seru! Cekidot!
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Rindu Dalam Secangkir Matcha Latte
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5cb47d52018e0d54a931b0f4/rindu-dalam-secangkir-matcha-latte

Rindu Dalam Secangkir Matcha Latte

Part 1

"Tahukah kamu, siapa orang yang paling kubenci di dunia ini?" Tanyaku sambil membuang pandang ke luar jendela.

Lelaki di sebrang mejaku malah cengengesan. "Siapa?"

Kutatap matanya yang polos itu, "kamu! Kamulah yang paling kubenci, sekaligus juga paling kucintai." Dengusku sebal.

"Kamu kalau lagi marah makin terpancar aura cantikmu. Marah terus ya tiap hari, biar makin cantik." Ujarnya santai.

Aku memukul meja dengan telapak tangan kanan, "Aku serius, Yanuar! Kamu membuatku frustasi. Aku menunggu kamu beberapa hari lamanya dan kamu tidak pernah kelihatan. Di kosan, di kampus, di rumah temanmu nggak ada. Sebenarnya kamu pergi ke mana!?" Kataku nyaris meratap.

Yanuar masih senyum-senyum. "Belum saatnya kamu tahu." Ucapnya dengan masih amat santai.

"Sok misterius!" Umpatku.

"Raini, dengar! Aku memang sering menghilang, tapi bukan berarti aku meninggalkanmu. Percayalah, aku tidak melakukan hal yang aneh-aneh. Suatu saat akan kuberitahu semuanya kepadamu."

"Aku mau kita putus!" Kataku cepat. "Putuskan saja pertunangan kita. Aku nggak mau menikah dengan lelaki yang penuh teka-teki." Pungkasku lalu berdiri dan dia tidak mencegah. Kuhampiri kasir dan mengeluarkan dompet.

"Dua cangkir matcha latte... Seratus ribu, Mbak." Kata kasir.

Aku tertegun, lalu berbalik ke meja tempat kami duduk tadi. Aku pasti akan merindukan minuman ini dan seluruh kenangan tentangnya, juga tentang lelaki itu. Tapi aku sudah memutuskan, bahwa hatiku bukan pelabuhan yang bisa dia singgahi sekehendak hati, lalu dia kembali berlayar tanpa memberi kabar akan ke mana dia.

"Raini, ke sini sebentar." Bujuk Yanuar dari mejanya.

Aku diam.

"Raini, kemarilah. Aku akan menceritakan semuanya kepadamu. Terserah kamu mau terima atau tidak, tapi dengarkanlah dahulu."

Aku bimbang. Kuhampiri atau tidak, ini tentang kelanjutan masa depan hubungan kami. Aku memejamkan mata cukup lama dan sepertinya aku harus siap mendengar semua teka-teki tentang lelaki yang paling kubenci dan kucintai ini.
(*)
profile-picture
profile-picture
maulanazn dan rasyidenaboy memberi reputasi
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 3

Part 2

Yanuar adalah kawan dekatku di kampus. Hari demi hari kami lalui bersama, hingga kebiasaan itu berubah menjadi tak biasa. Sesuatu bernama 'cinta' itu hadir sebagaimana lazimnya jika perempuan dan laki-laki menghabiskan waktu bersama-sama. Aku mengajaknya menikah!

"Kita nikah aja kali Yan." Ujarku.

"Nikah? Kapan?" Tanyanya santai.

"Setelah lulus kuliah?" Tawarku.

"Oke." Dan benar-benar biasa tanpa sesuatu yang disebut romantis. Apakah memang begitu, cinta yang dimulai dari persahabatan?

Kami lulus kuliah, dia datang menghadap ayahku yang memandangnya penuh selidik. Yanuar dengan senyum santainya menjelaskan maksud itu.

"Pak, izinkan saya menikahi Raini..." Katanya. Ayah cemberut. Entah karena tidak menerima Yanuar, atau karena tidak rela putri tunggalnya ini menikah secepat ini.

"Punya apa kamu?" Tanya ayahku, standar sekali.

"Saya... Begini Pak, kalau soal harta saya belum punya. Saya baru lulus kuliah, dan sekarang sedang bekerja bersama teman merintis bisnis percetakan buku."

"Buku?" Potong ayah. "Apa masih ada orang Indonesia yang baca buku? Sekarang zamannya gadget, koran dan majalah apalagi buku sudah masuk era digital. Yakin bukumu bakalan laku?"

Yanuar menahan senyum, "Yaaah.... Pasti laku. Nggak semua orang Indonesia suka e-book kok Pak. Saya yakin masih banyak yang suka buku cetak."

Ayah menatapku, aku tersenyum. Ayah merestuinya! Ayahku memang predator buku, ada ruangan khusus yang diubah menjadi perpustakaan tempat menyimpan koleksi bukunya. Pasti karena kesukaan ayah berkaitan dengan pekerjaan yang Yanuar tekuni saat ini. Ah, aku senang sekali....

Namun saat ini, ketika aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami, ada rasa sangat sedih yang menjalari setiap urat dalam tubuhku. Yanuar mengatakan apa yang menjadi rahasianya, tentang mengapa dia sering menghilang tanpa kabar.

"Aku akan mengajakmu ke sebuah tempat, dan kamu akan tahu apa yang kulakukan selama ini."
(*)
lanjut lagi dong sis...
Quote:


Siaaap
Taruh jangkar, trit star up kayak gini harus di bantu sundul emoticon-Malu (S)
Quote:


Thanks gan emoticon-Angel

Part 3

siapa yang kulihat di depan pagar rumahku? Yanuar? Dia mengejar saat matanya tertumbuk padaku. Aku melotot padanya.

"Mau apa kamu ke sini?"

"Rain. Aku minta maaf. Aku salah, nggak cerita sejak awal. Sekarang, aku mau cerita."

"Cerita apa lagi?"

"Ada yang terlewat, tentang..."

"Perempuan yang hamil tua dan anak kecil yang manggil kamu Bapak?"

"Ya.... Kamu harus dengar semuanya."

"Maaf aku nggak ada waktu buat denger ocehan kamu. Permisi!" Kataku sambil turun dari motor dan membuka pintu pagar. Memasukkan motorku, lalu mengunci kembali pintu pagar.

"Rain, dia bukan istriku!" Kata Yanuar tegas.

"Aku masih cukup paham atas apa yang terjadi. Anak itu manggil kamu 'Bapak'. Kamu mau mempermainkan aku?"

"Kamu ingat Reza?" Tanyanya, mengalihkan pembicaraan. Aku diam.

"Reza teman baikku sejak SD. Kawan yang sangat bengal, pembuat onar dan suka bikin masalah itu." Jelasnya karena aku diam saja.

"Mereka adalah anak istri Reza." Lanjut Yanuar. Aku terpaku. Tampak Yanuar menundukkan kepala, menceritakan kembali kisah Reza sahabat baiknya sejak kecil.

"Reza meninggal enam bulan lalu..." Ucap Yanuar. "Sejak itulah aku merasa bertanggung jawab terhadap anak dan istrinya. Ya, aku memang sering datang ke rumahnya untuk membantu mereka. Tak lebih. Alasan kenapa aku sering menghilang, karena aku harus kerja ekstra untuk memberi mereka bantuan."

Aku terhenyak. Benarkah yang diceritakannya itu? (*)

Part 3.2

Aku diam menatap langit yang mulai murung, wajahnya kelabu. Di teras rumah Nesa aku duduk menanti si tuan rumah keluar lagi setelah tadi menyambutku hangat.

"Ada apa sih Rain?" Tanya Nesa.

"Aku putus sama Yanuar. Pernikahan itu batal." Jawabku pelan.

"Apa Rain? Kamu bercanda? Jangan gegabah, kenapa tiba-tiba gini Rain?" Sergahnya.

"Aku mantap. Dia udah punya istri dan anak!" Kataku sengit. "Istrinya bahkan sedang hamil tua."

Nesa mengusap punggungku. "Jadi, kamu akhirnya ketemu dengan perempuan itu?"

"Apa Nes? Kamu nanya apa aku akhirnya tahu? Maksudmu, kamu udah tahu lebih dulu?" Tak dapat kutahan emosi yang bersarang di dada.

"Aku hanya nggak mau merusak hubungan kalian..." Lirih kata Nesa.

"Tapi sekarang kamu lihat? Berantakan! Kalau aku tahu lebih dulu, aku nggak akan mau menerima lamarannya!" Kataku. "Ah, aku nggak sudi melihat wajahnya!"

Seketika tangisku pecah, bersamaan dengan tumpahnya air dari langit. Yanuar sudah menikah dan Nesa tahu itu tapi dia merahasiakannya dariku!

"Rain, Rain dengerin aku dulu Rain..." Teriak Nesa berusaha mencegahku. Bagaimana bisa aku menghentikan langkah, saat aku menyadari kebodohanku selama ini. Buat apa aku percaya pada seorang sahabat yang sudah diam-diam menyembunyikan hal sepenting ini?

Aku buru-buru mengendarai motor matic meninggalkan rumah Nesa. Perasaanku berkecamuk antara marah, kesal dan ingin memaki.

Entah kenapa aku ingin segera sampai di rumah. Namun, di tengah perjalanan aku malah melihat Yanuar dan perempuan itu sedang berdiri di tepi jalan, seperti sedang menunggu angkutan umum. Rasanya ingin kuhantamkan saja motorku ini ke arah mereka!

Bersambung ke Part 4

Part 4

Rindu dalam Secangkir Matcha Latte
(Part 4)

Lima tahun lalu....

Anggaplah hujan merupakan takdir yang tidak diduga, seperti pertemuanku dengan Yanuar. Seorang pemuda berkemeja biru berlari ke arahku, ah tidak, maksudku ke halte yang di situ ada aku. Bajunya basah kuyup kena hujan, dia melindungi kepalanya dengan ransel lusuh yang kemudian dikibaskannya sembarang.

Aku mengibaskan lengan bajuku yang terkana cipratan air dari rambut gondrong dan ransel lusuhnya itu.

"Oh, hey, maaf. Gak sengaja." Katanya dengan senyum lebar.

"Ya." Sahutku sekenanya.

"Gak sengaja, tapi niat. Niat biar bisa ngobrol sama kamu." Lanjutnya, disertai cengiran lebar.

"Apa sih?" Desisku.

"Nggak ada apa-apa. Di sini kan cuma ada aku, dan kamu." Katanya. Refleks aku tertawa kecil.

"Apaan kali."

"Kayaknya hujannya awet ya. Seakan-akan nggak mau berhenti biar kita bisa lebih lama berteduh di sini."

Makin lama pemuda aneh ini membuatku tidak nyaman. Maka aku menghindar beberapa langkah, sambil berharap bus tujuan Cilegon segera datang.

"Kamu pasti risi ya deket-deket sama aku?" Tanyanya. "Sudah kuduga, kamu pasti lupa sama aku."

Aku menoleh, "Hah? Emangnya kamu siapa?"

"Terima kasih udah nanya lebih dulu. Kenalin, aku Yanuar. Kamu?" Ujarnya sambil mengulurkan tangan. Aku menggeleng, dia menggunakan trik aneh untuk berkenalan.

Syukurlah bus berhenti tak lama kemudian, aku bergegas naik. Lumayan penuh, hanya ada satu jok kosong di bagian belakang. Aku menuju ke sana. Rupanya, Yanuar juga ikut naik. Dia tidak mendapat tempat duduk, maka Yanuar berdiri persis di sebelahku.

"Kamu ngikutin aku?" Tanyaku curiga.

"Heuh! Jangan GR kamu, mentang-mentang kamu cantik terus bisa nuduh aku sembarangan. Rumahku di Merak, ini bener kan busnya?"

Aku diam, terbuai oleh rintik hujan di luar jendela. Baru sebentar berjalan, penumpang di sebelahku turun. Aku pindah ke sisi jendela, otomatis Yanuar duduk di sebelahku.

Aku sudah hendak protes, dia segera berkata, "Apa? Kamu mau ngelarang aku duduk di sini? Emangnya ini bus punya bapak kamu? Hey, kamu nggak bisa ngelarang siapapun duduk di sini, sebagaimana kamu nggak bisa ngelarang siapapun buat suka sama kamu." Katanya lagi.

Keningku mengernyit.

"Namamu Raini Febriasari kan? Persis seperti hari ini, namamu seperti hujan di bulan Februari..." Ujar Yanuar mengejutkan.

"Siapa yang nggak kenal kamu. Mahasiswi cantik, berbakat, yang baru saja memenangkan lomba karya tulis ilmiah tingkat nasional. Juara debat antar fakultas, dan menjadi pembicara hebat di seminar mahasiswa. Apa aku salah?"

"Ka...kamu?" Aku tercekat.

"Ya, kenapa?" Dia balik tanya.

"Kenapa kamu tahu itu?"

Yanuar tertawa. "Cuma cowok culun yang nggak tahu kamu, Rain..."

Kurasa wajahku memerah, kualihkan pandang ke luar jendela. Hujan masih begitu deras.....


*Bersambung ke Part 5

Part 5

Rindu dalam Secangkir Matcha Latte (Part 5)


"Namamu Raini Febriasari kan? Persis seperti hari ini, namamu seperti hujan di bulan Februari, nyaman dan menyejukkan." Ujar Yanuar mengejutkan.

"Siapa yang nggak kenal kamu. Mahasiswi cantik, berbakat, yang baru saja memenangkan lomba karya tulis ilmiah tingkat nasional. Juara debat antar fakultas, dan menjadi pembicara hebat di seminar mahasiswa. Apa aku salah?"

"Ka...kamu?" Aku tercekat.

"Ya, kenapa?" Dia balik tanya.

"Kenapa kamu tahu itu?"

Yanuar tertawa. "Cuma cowok culun yang nggak tahu kamu, Rain..."

Kurasa wajahku memerah, kualihkan pandang ke luar jendela. Hujan masih begitu deras. Untunglah sepanjang perjalanan dia tak banyak omong. Namun dia melambaikan tangan dengan senyuman lebar. Pertemuan yang aneh, tak kusangka akan berlanjut dengan pertemuan selanjutnya. Kami berjumpa lagi di perpustakaan!

"Hay, Raini..." Sapanya sambil membawa setumpuk buku dan meletakkannya di atas meja, di sebelahku.

"Kamu suka baca juga?" Tanyanya. Aku diam, masih fokus membaca jurnal.

"Bacaan kamu lumayan berat ya. Nggak kayak aku, sukanya novel." Kata Yanuar, dan aku masih enggan menanggapi.

Kami juga bertemu di toko buku dekat kampus.

"Hay, Raini..." Sapanya selalu. "Kamu suka baca buku banget ya? Di mana ada buku, di situ ada kamu. Kenapa sih?"

Aku diam.

"Aku tahu jawabannya."

Detik demi detik berlalu, Yanuar diam. Menit pun berlari, dia masih diam.

"Kenapa?" Tanyaku.

"Eh, kamu penasaran? Hehehe, aku tahu jawabannya. Tapi nggak harus aku ucapkan di depan kamu kan?"

Apa coba?! Nyebelin kan Yanuar itu.

"Oya, kapan-kapan kamu harus coba datang ke kafe di ujung jalan sana itu. Namanya 'Kafe Literasi'. Pemiliknya sangat suka sama buku, jadi di kafenya selain menjual makanan dan minuman​, ada banyak buku juga yang boleh dibaca." Ujarnya.

Aku diam, tapi menyimak.

"Rain, maaf ya aku tinggal. Aku udah nemuin buku yang aku cari. Sekarang aku pergi dulu. Dah..."

Namun tampaknya dia tak membeli satu pun buku. Maka aku beranikan diri bertanya. "Mana bukumu?"

"Bukuku? Kamu."

***
Diubah oleh bungarusa

Part 6

Rindu dalam Secangkir Matcha Latte (Part 6)
🍵🍵🍵🍵🍵🍵🍵🍵

Pada suatu hari yang cerah, aku datangi kafe yang dimaksud Yanuar. Kafe bernuansa klasik. Penuh rak buku di mana-mana. Rak buku kayu, rak buku meja kopi, rak buku melayang, rak buku di sela-sela sofa. Buku bertebaran sepenuh ruangan seakan-akan ini perpustakaan.

Aku memilih sebuah meja dekat jendela. Mengambil sebuah buku kumpulan puisi Kahlil Gibran dan mulai membacanya.

_CINTA YANG AGUNG_

"Adalah ketika kamu menitikkan air mata
dan masih peduli terhadapnya
Adalah ketika dia tidak mempedulikanmu dan kamu masih
menunggunya dengan setia."

Tiba-tiba secangkir minuman​ beraroma yang sangat kukenal, terhidang di atas meja, persis di depanku. Matcha latte?

"Akhirnya kamu datang. Lama aku menunggu sejak aku kabarkan padamu soal tempat ini." Yanuar dengan senyum khasnya.

"Silakan, lanjutkan membaca sambil menikmati minuman hangat ini. Lihatlah ke luar, langit mulai mendung. Tampaknya akan segera turun hujan​. Selamat menikmati buku, matcha latte, dan hujan."

Yanuar sendiri duduk di salah satu sudut ruangan, tampak membaca sebuah buku kumpulan puisi Kahlil Gibran juga, sendirian dan begitu khusyuk. Aku kembali membaca buku, sambil masih agak ragu menyeruput matcha latte, dan mengintip hujan di luar sana.
***
"Adalah ketika dia mulai mencintai orang lain
dan kamu masih bisa tersenyum sembari berkata ‘Aku
turut berbahagia untukmu.."
(Kahlil Gibran)

Apa artinya lima tahun baginya? Pengkhianatan itu akan selamanya menyakitkan. Aku telah mempercayai pemuda itu, yang lima tahun lalu dia tampak keren duduk membaca buku dengan serius. Dia yang berpenampilan sederhana, gondrong dan tersenyum ramah. Sekarang apa?

Sejak aku mengikutinya ke pemukiman​ padat penduduk itu, sejak aku bertemu perempuan dan anak lelaki lima tahun itu, rasanya aku tak bisa percaya pada apa itu cinta.

"Rain, kapan kamu mau netepin tanggal?" Tanya bapak.

"Tanggal apaan Pak?" Aku balik tanya.

"Ya tanggal pernikahan. Kamu jadi nikah sama Yanuar nggak?"

Aku terdiam cukup lama, lalu tanyaku, "Menurut Bapak, aku sebaiknya nikah sama dia atau nggak?"

Bapak mengerutkan wajah, "Apa maksud kamu?"

"Ng.... Seandainya Raini nggak jadi nikah sama dia. Gimana?"


*Bersambung ke Part 7

Part 7

(Part 7)

"Rain, Rain, kabarnya kamu lagi deket ya sama Yanuar?" Tanya Nesa suatu ketika. Nesa sahabat baikku sejak SMA.

"Kok, kamu tahu?" Heranku. "Wait, aku nggak sedekat yang kamu kira ya. Aku cuma temanan dengan dia."

Aku benar. Meski sering bertemu dengannya, aku hanya duduk diam membaca, dia pun membaca bukunya sendiri. Mungkin karena aku kini sering main ke 'Kafe Literasi'.

"Dia itu kan Ketua HMJ Sastra Indonesia. Fansnya banyak, di mana-mana. Aku dengar juga otomatis mereka jadi hatters kamu." Ujar Nesa.

"Hah?!"

"Jadi apa hubunganmu sama Yanuar?"

"Nggak ada, Nes. Bener, cuma temen kok."

"Cuma temen?" Itu Yanuar! Kenapa dia bisa mendadak muncul di sini?

"Setelah banyak rintik hujan membersamai kita, kamu anggap hubungan kita cuma teman? Rain, kamu yakin?" Kata Yanuar.

"O-ow...." Gumam Nesa, lalu menyingkir dariku.

"Yan! Maksud kamu apa?!" Hardikku. "Di antara kita memang tidak ada apa-apa kok!"

"Tadinya, iya. Sekarang, aku maunya ada apa-apa. Gimana? Kamu bersedia jadi kekasihku?" Ujarnya.

Aku menggelengkan kepala sambil menahan kesal. Nggak! Aku nggak suka caranya! Aku nggak suka dia 'menembakku' dengan cara ini. Bukan berarti aku tidak menyukainya! Lalu aku berlari meninggalkannya.

"Rain! Tunggu!"

Itu terakhir kali aku bertemu Yanuar. Sejak kesalahpahaman itu, aku enggan berjumpa dengannya. Enggan mendatangi Kafe Literasi. Selesai kuliah langsung pulang. Meminimalisir pertemuanku dengannya.

"Baguslah akhirnya kamu putus dengan Yanuar. Nggak baik Rain, terlalu dekat dengan lelaki. Kata Ustazah, mah, bukan mahrom...." Kata Nesa.

Benar apa kata Nesa, meski masih beberapa kali aku melihat Yanuar aktif berkegiatan di kampus. Entahlah, melupakannya ternyata tidak mudah. (*)

Part 8

Kuliah. Skripsi. Lulus. Wisuda. Kerja. Begitulah alur yang kujalani. Benar-benar menjauh dari Yanuar dan sibuk aktualisasi diri. Hingga aku sekarang bekerja di sebuah perusahaan kimia di Kota Baja.

Entah kenapa setiap saat kenangan tentang Yanuar menyeruak kembali, terutama setiap aku membaca buku sambil menikmati secangkir matcha latte, ditemani rintik hujan. Tiga hal itu menjelma dirinya. Yanuar.

"Jangan kau kira cinta datang dari keakraban dan pendekatan yang tekun.
Cinta adalah putra dari kecocokan jiwa dan jikalau itu tiada cinta tak akan pernah tercipta, dalam hitungan tahun, bahkan milenia."
(Kahlil Gibran)

Ah, Kahlil membuatku semakin teringat pada Yanuar. Apa kabarnya lelaki gondrong dengan senyum ramah itu?

"Permisi, boleh saya pinjam sebentar?" Sebuah tanya dari suara yang amat kukenal, menggema tak hanya di toko buku kecil ini, tapi juga di hatiku. Ada buliran bahagia menetes perlahan.

"Hay, Raini. Apa kabar?"

"Ba-baik...."

"Aku juga baik Rain, mungkin kamu malu bertanya. Namun aku tahu, kamu pasti ingin menanyakan hal itu. Oya, tadi apa aku boleh pinjam?"

"Pinjam apa ya?"

"Pinjam dirimu untuk menjadi tulang rusukku. Kalau sudah kupinjam, aku izin untuk selamanya tak pernah kukembalikan."

Air mataku meleleh. Nesaaaaa! Aku ingin melonjak rasanya! Begitulah ceritanya sampai dia melamarku, tetapi kebiasaan buruknya adalah menghilang tanpa kabar. Sangat menyebalkan. Ternyata, dia bersama perempuan lain. Ternyata, Yanuar yang kukenal begitu baik, tak lebih dari pendusta yang gemar mengoleksi wanita.

Pagi ini, sebuah telepon mengagetkanku.

"Mbak Raini ya? Kenalin, saya Anaya. Mmm..... Kita pernah bertemu di rumah saya, Mbak Raini bersama Yanuar."

"Oh!" Ada apa dengan perempuan ini, berani-beraninya dia meneleponku!

"Mbak, kita bisa bertemu? Ada hal penting yang ingin saya sampaikan...."

(*)

Part 9

Bodohnya aku! Buat apa aku datang ke tempat yang ditentukan Anaya? Siapa dia, kenal pun tidak! Apa hak dia mengajakku bertemu? Baiklah... Aku harus mau meluruskan masalah ini, meskipun sampai saat ini aku belum mendengar penjelasan dari Yanuar, sebab aku memblokir semua kontaknya.

"Mbak!" Perempuan itu datang. Dia mengajakku ke sebuah kafe pinggir jalan.

"Segera saja, aku buru-buru. Kamu mau bilang apa?" Tanyaku, tanpa memandang wajahnya.

Anaya memanggilku pelan. "Mbak, lihat saya..."

Aku hanya melirik, tampak perutnya semakin buncit. Suasana kafe terasa gerah tiba-tiba.

"Mbak, sebentar lagi saya mau melahirkan. Saya ingin melahirkan dengan tenang. Kalau boleh saya meminta, Mbak batalkan pernikahan dengan Mas Yanuar. Demi bayi ini..." Katanya.

Tunggu. Bukankah suasananya sedikit aneh? Dalam hal ini aku hanya tunangan Yanuar, Anaya hamil besar tapi justru mendatangiku dan memohon padaku untuk membatalkan pernikahan kami. Kini aku menatap wajah perempuan itu. Tampak masih muda, tapi kerutan di wajah itu menandakan dia jarang tersentuh make-up.

"Aneh. Kenapa kamu memohon padaku? Reaksi normal seorang perempuannya jika suaminya akan menikah lagi adalah marah. Namun kamu memohon?" Kataku.
"Kamu... Bukan istri Yanuar kan?" Tanyaku ragu. Anaya mendongak.

"Saya...saya belum dinikahi olehnya..." Gumamnya.

"Apa? Jadi maksudmu, selama ini kamu dan Yanuar menjalin hubungan macam apa? Kamu punya anak dan sekarang hamil besar tapi mengaku belum dinikahi? Perempuan macam apa kamu Ana!"

"Ya saya memang perempuan bodoh. Seharusnya saya nggak boleh percaya begitu saja sama Mas Yanuar. Seharusnya saya pergi saat rasa cinta itu belum tumbuh. Namun sekarant saya ingin menjadi istrinya!"

Refleks bening-bening kekecewaan itu membasahi pipiku. Kelewatan! Keadaan ini sungguh di luar nalar! Yanuar yang selama ini aku kenal sangat baik, rupanya hanya seorang biadab!

"Mbak Rain, bisa tolong ikhlaskan Mas Yanuar?" Pintanya. (*)

Part 10

Aku menatap pantulan wajahku di cermin. Mata sembap dan muram cahayanya. Aku menghabiskan waktu semalaman untuk menguras air mata. Menyebalkannya, demi seorang Yanuar!

"Ayolah Rain, bukankah ini harus diakhiri? Aku tak ingin hubungan yang menggantung sepertu yang kujalani sekarang." Usik batinku. Maka dengan gemetar aku membuka blokir kontak Yanuar. Tak butuh waktu lama, pria itu segera menelepon.

"Rain! Rain..! Aku tahu kamu pasti akan menghubungiku. Tahu tidak, aku meneleponmu ratusan kali tetapi..."

"Langsung aja." Potongku. "Yan, kita putus. Aku memilih untuk melepaskan kamu bersama Anaya." Lalu klik. Aku mengakhiri panggilan dan memblokirnya kembali. Kemudian aku menangis lagi. Begini dalamkah rasa cintaku kepadanya? Sungguh menyakitkan.

"Ada hal-hal yang tidak ingin kita lepaskan,
seseorang yang tidak ingin kita tinggalkan,
tapi melepaskan bukan akhir dari dunia,
melainkan suatu awal kehidupan baru,
kebahagiaan ada untuk mereka yang tersakiti,
mereka yang telah dan tengah mencari dan
mereka yang telah mencoba.
Karena merekalah yang bisa menghargai betapa
pentingnya orang yang telah menyentuh kehidupan mereka"
(Kahlil Gibran)

Siang itu Nesa menjengukku ke rumah, setelah tiga hari aku tidak masuk kerja. Nesa tampak cemas, tapi aku masih kesal kepadanya.

"Kamu putus sama Yanuar?" Tanyanya, aku menjawab dengan angkat bahu.

"Kenapa Rain? Kamu udah ketemu dia?"

"Dia sudah punya Anaya dan anak lima tahun itu. Anaya sedang hamil dan memintaku mengingat Yanuar. Sudahlah, lelaki bukan hanya dia." Jawabku.

"Tapi hatimu tahu bahwa cintamu hanya untuk dia." Sergah Nesa.

"Kata siapa? Aku nggak peduli sama dia."

"Kamu nggak serius, Rain."

"Nes, kalau kamu jadi aku, apa yang akan kamu lakukan?"

Nesa diam cukup lama, dalam posisi duduknya dia seperti merenung. Lalu bangkit dan menggenggam tanganku. "Pasti ini berat bagimu, tapi setidaknya aku akan bicara dengan Yanuar dan percaya kepadanya." (*)

Part 11

Aku terpekur mendengar pendapat Nesa. Saat dia hendak beranjak, aku mencegahnya.

"Nes, sebaiknya kamu jujur. Kamu tahu sesuatu kan? Saat pertama aku ceritakan ini, kamu tidak kaget sama sekali. Malah kamu balik tanya, 'oh jadi kamu udah ketemu perempuan itu?' Maksud kamu apa Nes?"

Nesa menatapku lama, sementara aku tak sabar ingin tahu apa yang dia tahu selama ini.

"Rain, sekarang aku mau tanya. Apa kamu yakin cinta sama Yanuar sehingga mau menikah dengannya?"

"Jangan balik nanya Nes, aku butuh jawaban." Desakku.

"Kalau kamu butuh jawaban, kenapa kamu menghindarinya? Kenapa kamu blokir semua kontaknya? Kenapa kamu memutuskannya dan kenapa kamu meragukannya? Cinta itu, Rain, dijaga dengan kepercayaan. Kalau kamu nggak bisa percaya sama Yanuar, ya baguslah kamu putuskan dia." Ujarnya, memukul kedalaman hatiku.

Tanggal pernikahan masih belum jelas, tetapi pemesanan untuk jasa rias dan busana sudah direncanakan jauh-jauh hari. Jika aku saja memutuskan untuk membatalkan pernikahan ini, aku harus segera membatalkan pemesanan jasa rias dan busana pengantin. Aku lalu mendatangi tempat rias dan busana pengantin, tetapi sayang tidak bertemu dengan pemiliknya sebab dia sedang merias di tempat lain.

Siapa yang kulihat di depan pagar rumahku? Yanuar? Dia mengejar saat matanya tertumbuk padaku. Aku melotot padanya.

"Mau apa kamu ke sini?"

"Rain. Aku minta maaf. Aku salah, nggak cerita sejak awal. Sekarang, aku mau cerita."

"Cerita apa lagi?"

"Ada yang terlewat, tentang..."

"Perempuan yang hamil tua dan anak kecil yang manggil kamu Bapak?"

"Ya.... Kamu harus dengar semuanya."

"Maaf aku nggak ada waktu buat denger ocehan kamu. Permisi!" Kataku sambil turun dari motor dan membuka pintu pagar. Memasukkan motorku, lalu mengunci kembali pintu pagar.

"Rain, dia bukan istriku!" Kata Yanuar tegas.

"Aku masih cukup paham atas apa yang terjadi. Anak itu manggil kamu 'Bapak'. Kamu mau mempermainkan aku?"

"Kamu ingat Reza?" Tanyanya, mengalihkan pembicaraan. Aku diam.

"Reza teman baikku sejak SD. Kawan yang sangat bengal, pembuat onar dan suka bikin masalah itu." Jelasnya karena aku diam saja.

"Mereka adalah anak istri Reza." (*)
waw..
pengorbanan demi teman baik..
langka bener yang seperti itu,.
profile-picture
ilotino memberi reputasi
Cinta
FAVORITE KU CAFE LATTEemoticon-shakehand emoticon-shakehand
way jadi penasaran lanjutannya. nama yanuar jadi inget temen smk
izin menjejakkan diri
Halaman 1 dari 3


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di