alexa-tracking
Kategori
Kategori
Pengumuman! KASKUS punya fitur baru: MENTION! Berkomunitas jadi makin seru! Cekidot!
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
[CerpenReligi] Mengharu Shubuh
5 stars - based on 3 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b04994fde2cf216408b4570/cerpenreligi-mengharu-shubuh

[CerpenReligi] Mengharu Shubuh

[CerpenReligi] Mengharu Shubuh

[CerpenReligi] Mengharu Shubuh


Pagi turun. Daun-daun berembun. Hujan sudah sedari tadi berhenti. Meninggalkan jejak tanah yang basah. Becek. Adzan shubuh masih bertalu. Seperti genderang perang bagi siapa saja yang tidurnya merasa terganggu. Bangun untuk menggerutu, menarik selimut ke seluruh tubuh, kemudian meringkuk lagi. Mendengkur kembali.

Seorang perempuan berjalan sendiri. Langkahnya gontai. Muka dan pakaiannya lusuh. Hatinya keruh. Ketika lewat di depan sebuah musholah, langkahnya agak bergegas. Dia menengok sekilas ke arah musholah. Sholat shubuh sedang berlangsung. Dia meyakinkan dirinya sendiri bahwa tak ada yang melihatnya. Sampai di depan rumah kontrakan yang ia tinggali, cepat-cepat ia membuka pintu. Masuk dan kemudian menutup kembali pintunya, tak lupa juga menguncinya.

Tas yang berisi peralatan make-up diletakkannya begitu saja di atas meja rias. Dia lalu berbaring di atas kasur lantai yang sudah tiga bulan tak diganti sepreinya. Lamat-lamat ia mendengar suara doa-doa yang dipanjatkan dari musholah depan rumah. Ada yang menjalar dalam hatinya. Mengaduk-aduk perasaannya. Risau. Pikirannya kacau.

Sholat shubuh sudah usai. Jama'ah banyak yang sudah kembali ke rumah masing-masing. Menyiapkan diri untuk bertebaran di muka bumi. Mencari setitis rezeki. Ada juga yang masih berdiam diri. Melangitkan dzikir dalam hati atau membaca Kalam Suci.

Perempuan itu masih berbaring. Seruan adzan dan doa-doa masih tetap terdengar di telinganya padahal sholat shubuh di musholah itu sudah selesai sedari tadi. Dia coba memejamkan mata.Tapi semakin ia terpejam semakin jelas seruan dan doa-doa itu terdengar. Mengiang-ngiang menubruk gendang telinganya. Ada apa dengan dirinya? Ini bukan pertama kali dia mendengar suara adzan, bukan pertama kali dia mendengar doa-doa dipanjatkan, tapi entah kenapa untuk kali ini ada yang terasa berbeda. Apa karena ini bulan Ramadhan? Bulan suci. Entahlah. Yang jelas suara adzan dan doa-doa itu terus menggedor gendang telinganya. Masuk meresap ke dalam hatinya. Tak terasa ada yang mengalir di sudut kedua matanya. Bahunya terguncang, menahan tangis. Seperti ada kekuatan yang mendorongnya agar bangkit. Dan dia pun bangkit menuju kamar mandi. Mengguyur seluruh tubuhnya. Membersihkan noda-noda dosa yang menempel di tubuhnya. Bahunya masih terguncang, ada isak tangis yang tertahan. Air mata bercampur dengan siraman air yang mengguyur.

Selesai ritual bersuci di kamar mandi, dia mengambil mukenanya yang entah sudah berapa lama hanya tersimpan rapih di tumpukan paling bawah lemarinya. Menyebabkan ia harus bersimpuh untuk mengambilnya. Sebelum dikenakan, mukena itu diciumnya, membangkitkan rasa rindu pada waktu dahulu ketika dia masih menjadi perempuan desa yang lugu, yang masih taat kepada ajaran agama yang ditanamkan oleh orangtuanya sejak kecil. Sampai pada suatu ketika, dia merasa tersakiti oleh pria pujaan hatinya yang ia berharap lelaki itu menjadi pendamping hidupnya. Cinta perempuan lugu yang menggebu dimanfaatkan oleh lelaki yang tidak bertanggungjawab dan tak tahu malu. Hancur hatinya, hilang kehormatannya. Seorang kawannya menunjukan jalan terbaik melampiaskan dendamnya pada laki-laki, pada keadaan yang kejam terhadapnya. Dan hari-harinya pun dilalui dalam pelukan laki-laki yang berbeda, silih berganti.
Quote:

Dipakainya mukena berwarna putih itu dan dia mulai berdiri. Berdiri untuk menyatakan diri bahwa hanya DIA lah yang Maha Besar dan dia begitu kecil. Dalam sujud yang dalam dia terpaku, isak tangisnya lirih, selirih doa mohon ampunnya kepada pemilik jiwanya. Di luar mentari mulai meninggi, memberikan energi kehidupan dengan sinarnya yang hangat. Perempuan itu masih bersimpuh, melangitkan selaksa doa-doa. Pipinya basah. Mukenanya basah. Hatinya basah.


Wahai Tuhanku..., aku bukanlah ahli syurga
tapi aku tidak kuat dalam neraka
maka berilah aku taubat dan ampunilah dosaku
sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dosa yang besar

Dosaku bagaikan bilangan pasir
maka berilah aku taubat duhai Tuhanku yang memiliki keagungan

Umurku ini setiap hari berkurang
sedang dosaku selalu bertambah
bagaimana aku menanggungnya

Wahai Tuhanku...
hambaMu yang berbuat dosa telah datang kepadaMu
dengan mengakui segala dosa
dan telah memohon kepadaMu

Maka jika Engkau mengampuni
maka Engkaulah yang berhak mengampuni
jika Engkau menolak
kepada siapakah lagi aku mengharap selain kepada Engkau?*

[CerpenReligi] Mengharu Shubuh
The End

[CerpenReligi] Mengharu Shubuh

Cerita ini terinspirasi dari lagu Adzan Shubuh Masih di Telinga - Iwan Fals

Sumber gambar : google image

*Terjemahan Lirik Al I'tiraf (Syair Abu Nawas)
Diubah oleh zafinsyurga
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Bagus gan memunajatkan doa kepada Illahi emoticon-Matabelo emoticon-Matabelo emoticon-Matabelo emoticon-Matabelo
inspiratiff
Quote:


Quote:


Terimakasih, Gan, dah mampir... emoticon-terimakasih
Ane termasuk orang yg masih sering lalai ibadah subuh emoticon-Sorry
Baca dulu ya om
Quote:


Quote:


Makasih, Kak, dah mampir...emoticon-terimakasih
Syukurlah ia mau bertaubat, karena hidayah itu nian mahalnya.
emoticon-Rate 5 Star
Quote:


Quote:


Makasih, Kak, dah mampir...
Cerpen yang singkat tapi menggugah hati.. Bahkan di hati kecil setiap insan masih ada sudut yang bisa diketuk selama belum tertutup sepenuhnya dari hidayah.. Sip ini cerpen seharusnya masuk koleksi ane emoticon-Jempol bookmark ya gan..
Quote:


Terimakasih atas apresiasinya, Gan...
Quote:


Kembali kasih gan.. Tetep berkarya emoticon-Cendol (S)
Nice, ane ikut hanyut dlm ceritanya ganemoticon-Keep Posting Gan
syukulah dia masih mau bertaubat dan di bukakaan pintu hidayah
konveksi tas

Azan Subuh Masih Di Telinga

Ketika fajar menjelang
Terlihat dia melangkah enggan
Seirama dengan dendang subuh
Yang singgah di hati keruh

Sempit jalan berdesak bangunan
Memandang sinis, mendakwa bengis
Perempuan satu dan hitamnya waktu

Dihapusnya gincu dengan ujung baju
Dibuangnya dengus birahi sejuta tamu

Hari pagi menyambut kau kembali
Mengusap nadi, mengelus hati
Sesal di hatimu kian mengganggu

Kau reguk habis semua doa-doa
Dari surau depan rumah yang kau sewa
Tak terasa surya duduk di kepala
Azan subuh masih di telinga

Terdengar renyah tawa gadis sekolah
Menyibak tabir cerita lama
Di depan retaknya cermin yang telah usang
Menari dia seperti dahulu

Terdengar pelan ketuk pintu
Tegur anakmu buyarkan lamunan
Perempuan satu kian terbelenggu

Dihapusnya gincu dengan ujung baju
Dibuangnya dengus birahi sejuta tamu

ngena banget kisahnya..
profile-picture
ilotino memberi reputasi
bagus, singkat tapi menyentuh..
subhanallah
keren ... ini kompetisi menulis ya? info pengumumannya di mana ya?


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di