alexa-tracking
Kategori
Kategori
Pengumuman! KASKUS punya fitur baru: MENTION! Berkomunitas jadi makin seru! Cekidot!
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
[TRUE STORY] Dating Mr. Bule : A Short Escape
1 stars - based on 4 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5cd0211b365c4f09dc6242be/true-story-dating-mr-bule--a-short-escape

[TRUE STORY] Dating Mr. Bule : A Short Escape

Tampilkan isi Thread
Halaman 2 dari 2
Quote:


Gak boleh yak. Klo gak boleh. Gk jadi dah kalo gituemoticon-Ngakakemoticon-Ngacir2
Quote:


Hahaha, barangkali ada maksud tersembunyi. Ngena di hati ato gimana gitu. Just asking. 😂
Quote:


You are most welcome, sist. Olrait, enjoy your time..
[TRUE STORY] Dating Mr. Bule : A Short Escape

[PART 4]

Sembari menunggu, dia mengirimiku sepaket makanan ringan dan obat tetes mata yang tidak bisa didapatkan di Indonesia karena saking bagusnya. Dia tahu bahwa aku cukup sering mengeluh dengan mata kering akibat polusi udara. Butuh waktu sebulan untuk paket itu sampai karena dia lupa untuk mengirim dengan jasa ekspres. Kami sempat was-was jika paket itu datang setelah aku pergi ke Australia. Tetapi beruntung, paket itu datang di minggu terakhir bulan Februari.

Beberapa hari setelahnya pula, dia memberiku kejutan yang sedikit terlambat dalam rangka hari Valentine. Ini adalah sebuah kartu ucapan berisikan kata-kata yang manis dan lagu ‘Fly Me to The Moon’ oleh Frank Sinatra yang pernah aku nyanyikan di Instagram dan kebetulan dia juga sangat sukai. Memang sepertinya kartu ucapan fisik sudah tidak umum dikirimkan di era globalisasi ini. Tetapi bagiku, itu justru lebih berarti ketimbang kartu ucapan elektronik yang bahkan sudah tersedia default template-nya dan tinggal dipilih. Kalau dengan cara begini, jelas terlihat niat dan perhatian yang diberikan.

Semua barang sudah siap. Papa, mama dan adikku mengantarku ke bandara. Mereka menemaniku sebentar sampai satu jam sebelum keberangkatan. Setelah itu aku check in dan memasukkan sebuah koper besar dan tas yang sedikit lebih kecil ke dalam bagasi.

Penerbangan berjalan sesuai dengan jadwal. Aku tiba di Bali dua jam berikutnya. Aku segera check in kembali karena penerbanganku kali ini dengan airline yang berbeda. Setelah itu aku menunggu beberapa jam malam itu sebelum akhirnya naik ke dalam pesawat dan resmi meninggalkan Indonesia sendirian, untuk yang pertama kalinya.

Sejak kecil aku memang dikenal mandiri dan pemberani. Tetapi karena aku seorang perempuan, keinginanku untuk melakukan perjalanan kemana saja sendirian tidak bisa kulakukan begitu saja semauku. Orang tuaku begitu protektif terhadapku maupun adikku. Jika kali ini aku diijinkan pergi sendirian ke negeri orang, mungkin memang karena ada maksud dari perjalananku kali ini. Mungkin ini memang…jalanku?

Pukul enam di Sabtu pagi itu, aku menginjakkan kaki di Sydney. Jeda untuk transit di kota itu memakan waktu sekitar lima jam. Aku berdoa agar aku tidak bosan, dan itulah yang terjadi. Aku kelimpungan mencari WiFi karena entah bagaimana aku berada di lokasi yang koneksi WiFi-nya begitu lemah dan aku juga lupa untuk memasang data roaming. Aku mencoba menghubungi Mr. Bule tetapi selalu gagal. Karena itu aku merelakan pulsaku untuk mengiriminya SMS.

Setelah begitu lama mencoba mendapat WiFi tapi gagal, pada akhirnya aku memutuskan untuk membeli simcard sendiri dengan bekal ‘pernah melihat’ salah satu teman memakai provider itu. Dengan uang 32 dolar Australia, atau sekitar 320.000 rupiah, aku mendapat simcard baru beserta 30 GB data untuk satu bulan. I think it’s worth it. Di Indonesia 30 GB dari provider yang ‘itu’ juga tarifnya tidak jauh beda.

Aku begitu lega karena aku bisa menghubungi dia. Sedih sekali ketika aku mendengar darinya bahwa simcard yang aku pilih itu adalah yang terburuk dan dia sama sekali tidak merekomendasikannya. Tetapi aku hanya beriman saja bahwa semua akan baik-baik saja dengan simcard ini. Jika tidak, bulan depan aku akan mengganti simcard.

Hujan turun ketika aku hampir naik ke pesawat berikutnya ke Canberra. Itu adalah pesawat yang kecil, dan suaranya lebih berisik daripada pesawat besar. Tetapi tentu saja aku tidak mengeluh karena semua ini anugrah jika aku bisa sampai di negara yang sudah lama ingin aku datangi.

Dataran dan bukit berwarna kekuningan aku lihat saat pesawat hampir mendarat. Kupikir Canberra, ibu kota Australia, adalah tempat yang sangat hijau. Rupanya ini justru lebih gersang dari yang kupikirkan. Tetapi mungkin saja karena aku belum melihat tempat-tempat yang lainnya.

Turun dari pesawat, aku segera menuju ke tempat pengambilan bagasi. Tepat saat aku turun dengan eskalator, disitulah aku kembali melihat dan menyentuhnya secara langsung.

“Apa kabar? Bagaimana dengan penerbangan barusan?” Tentu saja itulah yang dia tanyakan karena aku sudah menceritakan padanya perjalananku dari Bali ke Sydney.

Aku mengangguk sembari berkata, “Ya, semua baik. Tidak ada delay, dan walaupun pesawat kecil dan sedikit bising, semua baik.”

“Baguslah. Ayo kita kesana dan menunggu bagasimu.” Dia menunjuk ke suatu area di dekat jalan keluar, dimana bagasi mulai dikeluarkan.

Syukurlah hanya sekitar lima sampai sepuluh menit kami menunggu untuk bagasiku datang. Tanpa instruksi, dia segera mengambil semua barangku dan membawakannya tanpa terlihat keberatan.

Sedan BMW silver miliknya sudah terparkir dekat pintu masuk parkiran dan dia memasukkan semua barangku ke dalam bagasi mobil. Aku pun masuk ke dalam mobil dan hal pertama yang kuingat adalah memasang seat belt. Inilah satu hal yang membuatku bersyukur karena aku suka memakai seat belt, sehingga ini merupakan suatu keuntungan bagiku di negara yang sangat ketat aturannya berkendara.

Saat kami siap keluar dari parkiran, dia teringat bahwa dia belum membayar tiket parkir sehingga kami harus berputar ke tempat parkir sebelumnya. Aku sedikit tertawa geli, begitu pula dia yang menertawakan kelalaiannya. Kemungkinan dia sedikit grogi karena akhirnya bertemu denganku lagi.

Dia menawarkan padaku apakah aku ingin makan siang karena jam makan siang sudah terlewat. Tetapi karena aku belum merasa lapar setelah mendapatkan banyak makanan di pesawat, kubilang padanya nanti saja. Karena itu dia mengajakku untuk berdiri di salat satu puncak tertinggi di Canberra yang lokasinya mengharuskan kami untuk melewati tempat kerjanya. Beberapa saat lamanya ia juga menunjukkan lokasi-lokasi dimana ia bekerja dan secara rutin pergi ke gym milik tempat ia bekerja.

Mobil berhenti dan kami menemukan bahwa hanya ada kami disana. Matahari sedang panas-panasnya, tetapi udara yang sejuk dan dingin menutupinya sehingga tetap saja suasana seperti ini masih bisa dinikmati.

Aku berdiri memandang kota Canberra yang terhampar begitu luas di depanku. Kuhela nafas dalam-dalam dan terselip di hatiku ucapan syukur karena aku akhirnya sampai di tempat ini dengan selamat.

Puas dengan pemandangan indah itu, dia mengajakku ke beberapa tempat lainnya seraya memperkenalkanku dengan lingkungan baru ini. Karena itu aku bergurau bahwa aku bersyukur memiliki seorang pacar pemandu wisata. Setelah itu, kami menuju ke apartemen dimana aku tinggal.

Disana, pemilik apartemen yang merupakan orang India menyambutku dengan sangat baik; ia, bayi laki-laki kecilnya serta saudara laki-lakinya yang kebetulan sedang mengunjunginya juga. Aku berkenalan dengannya dan meletakkan semua barangku disana.

Kami tidak terlalu lama berada di apartemen karena setelah itu dia mengajakku untuk pergi ke rumahnya yang hanya berjarak dua menit. Inilah rumah yang selama ini ia perlihatkan padaku selama kami melakukan video call. Aku hanya melihatnya di dunia maya, dan sekarang aku melihat dan berada di dalamnya.

Lagi-lagi aku menghela nafas. Dua bulan lamanya kami berpisah dan akhirnya bertemu lagi. Aku tidak bisa berkata-kata apapun kecuali bersyukur dalam hati.

Tapi dasar perut, tiba-tiba saja berbunyi meminta makan. Dia pun segera membuka lemari es dan bertanya apa yang ingin kumakan.

“Hmm, sandwich?” terlontar begitu saja ucapan itu ketika melihat roti dan selada.

Dia tersenyum. “Ide yang bagus.” Dengan sigap dan tampak seperti ahli, dia mengambil semua bahan yang diperlukan dan mulai membuat sandwich. Dalam waktu lima menit, sandwich ala pacar pun jadi.

“Hebat sekali.” Aku bertepuk tangan atas ‘kerja keras’-nya sambil tertawa.

Dia pun bertingkah seperti seorang bangsawan atau konduktor konser yang melepaskan topinya dan membungkuk saat mengucapkan terima kasih. “Saat kamu hidup sendirian tanpa satu pun keluarga, kamu harus bisa melakukan hampir semua hal,” dia menjelaskan.

Aku tersenyum. Memang luar biasa karena dia mampu bertahan dengan baik hidup tanpa keluarganya yang nun jauh di Selandia Baru. Sementara saudara-saudaranya tetap di tanah kelahiran mereka, ia memilih untuk merantau dan akhirnya mendapatkan karir yang mantap.

Kami banyak bercerita dan melepas rindu sampai jam 10 malam. Ya, itulah batas malam kami karena sedari awal kami memang telah bersepakat dan berkomitmen begitu. Sekali lagi, ini hal yang kuno bagi manusia modern, tetapi inilah hal yang membuatku mengatakan ‘ya’ untuk menjalani hubungan ini. Dia begitu menghargai komitmen yang sudah aku lakukan selama ini.

Esoknya, di hari Minggu, kami pergi bersama ke gereja dan dia memperkenalkan aku dengan pendeta, istri dan anak-anak mereka serta seluruh jemaat yang ada. Rupanya ia memang telah banyak bercerita tentang aku dan mereka pun menyambutku dengan baik. Rasanya bahagia sekali karena aku langsung menemukan sebuah keluarga di tempat yang benar-benar baru bagiku.

Setelah dari gereja, dia kembali mengajakku berjalan-jalan di tempat lainnya. Bahkan tiga hari setelahnya dia sengaja mengambil cuti khusus untukku demi mengajakku berwisata di kota Canberra. Benar-benar puas rasanya aku mengenal kota ini dalam waktu yang singkat.

Namun, saatnya tiba ketika dia harus kembali bekerja. Pada awalnya aku pikir akan sedikit kesepian karena aku sudah terbiasa untuk menghabiskan waktu sepanjang hari dengannya lima hari ini. Tetapi ide demi ide muncul di otakku sehingga aku banyak menghabiskan waktu pada siang hari, selain menjalankan karirku sebagai guru online, dengan mengeksplorasi tempat-tempat di sekitarku. Pada sore harinya dia akan menjemputku dan kami menghabiskan sisa hari dengan makan malam lalu menonton atau hanya mengobrol.


[TO BE CONTINUED]
Diubah oleh yohanaekky
[TRUE STORY] Dating Mr. Bule : A Short Escape

[PART 5]

Hari demi hari kulewati seolah aku memang dilahirkan disana. Aku menjadi sangat terbiasa dengan ritme dan gaya hidup disana sehingga mesin otomatis di hampir setiap tempat, aturan di jalan, etika antar sesama. Bagiku tidak ada yang namanya ‘tersesat’ selama masih ada orang di sekitarku yang bisa kuajak mengobrol.

Aku pun terbiasa memasak makan malam atau terkadang makan siang saat dia pulang lebih awal di hari Jumat sebelum mengikuti les piano beberapa jam setelahnya. Bukan hanya di apartemenku, aku juga membantu berberes jika kulihat ada yang berantakan. Meskipun dia bisa dikategorikan orang yang sangat rapi di antara laki-laki kebanyakan, tentu saja wajar jika dia terkadang tidak rapi. Karena itu, jika dia tidak rapi, mungkin karena terburu-buru bekerja, aku membantu membersihkan rumahnya. Rasanya seolah-olah aku sudah menjadi seorang istri.

Tanpa terasa hampir sebulan lamanya aku berada di Australia. Kami sudah banyak mencurahkan hati, mengenal satu sama lain, bukan hanya kepribadian masing-masing tetapi juga latar belakang keluarga. Dia menerimaku apa adanya, begitu pula aku menerima dia apa adanya setelah kami mempelajari bahwa masing-masing kami memiliki kelemahan tersendiri.

Namun, satu hal ini terus mengganjal. Satu hal yang selalu aku coba tepis selama ini. Aku adalah orang yang mandiri dan suka melakukan banyak tantangan. Selama ini banyak orang menilaiku sebagai sosok pemimpin di antara teman-temanku karena gesit melakukan banyak hal. Sementara itu, aku tahu bahwa dia merindukan seorang istri yang mau tinggal di rumah dan bersedia menjadi ibu rumah tangga, mengurus anak-anak dan suami. Itu adalah sebuah dilema yang begitu mengusik pikiranku.

Sempat selama kami berdiskusi, ada saat dimana kami sedikit bersitegang. Aku berusaha untuk menyesuaikan konsep satu sama lain, yaitu menjadi ibu rumah tangga karena pada kodratnya aku adalah seorang wanita, tetapi pada saat yang sama juga sedikit kebebasan untuk aku agar bisa bekerja di rumah sebagai guru online. Dengan begitu, semua akan baik-baik saja.

Aku hanya berdoa, berdoa dan berdoa agar Tuhan menunjukkan kami berdua jalan yang baik, solusi dari semuanya ini. Namun kali ini aku tidak berdoa memaksa seperti aku pernah berdoa untuk hubungan yang sebelumnya. Aku mengutarakan doa, yang mungkin terdengar aneh.

“Tuhan, kalau kami berdua memang ditentukan untuk bersama, tunjukkan jalan untuk kami. Tetapi kalau tidak, biarlah ‘pernyataan’ itu keluar dari mulutnya. Dengan begitu aku akan tahu bahwa itu adalah jawaban dariMu.”

Meskipun dalam satu hal itu kami memiliki konsep yang berbeda, semua tetap berjalan baik-baik saja di antara kami. Tetapi pada malam itu, 26 Maret 2019, kami berbicara di lantai dua di rumahnya, dimana suasana sedikit berbeda dari biasanya.

Sebenarnya akulah yang meminta untuk berbicara dengannya mengenai pernikahan adikku dan kepulanganku ke Indonesia, serta tawaran yang aku dapatkan dari seorang teman untuk berlibur ke Perth. Aku ingin meminta ijin padanya jika boleh aku pergi lebih awal dan kembali lagi ke Canberra sesegera mungkin.

“Mungkin ini jawaban dari doaku. Doamu. Sepertinya kita memang tidak bisa bersama.” Ucapan itu menusuk tepat di jantungku.

Namun aku tidak bisa membiarkan air mataku mengalir. Sebaliknya, aku menghela nafas dalam diam-diam dan kemudian tersenyum padanya. “Kamu pikir begitu?” aku mengusahakan untuk menanggapinya semaksimal mungkin, dan hanya itulah yang keluar dari mulutku.

“Aku benar-benar merindukan seorang istri sepertimu yang aku pikir sesuai dengan harapanku. Tetapi mungkin Tuhan berkata lain. Satu konsep yang berbeda itu juga mungkin sepertinya tidak akan masalah di awal, tetapi itu bisa jadi memicu pertengkaran dan aku tidak ingin kita tidak bahagia. Tetapi tentu saja kita akan terus menjadi teman.”

“Ya, teman yang baik,” timpalku. Lagi-lagi aku tidak bisa berbicara lebih banyak.

“Pertemuan kita tidak sia-sia. Sederhananya, mungkin Tuhan memakai aku untuk membawamu traveling ke Australia.”

Aku menggeleng. “Lebih dari itu. Tuhan memakaimu untuk menyembuhkan luka masa laluku juga,” ucapku sedikit terbata-bata dan air mataku pada akhirnya keluar sedikit tetapi cepat-cepat aku menyekanya.

Seperti biasanya dia sangat peka karena kemudian dia mengambilkanku beberapa helai tisu untuk menyeka air mata yang tersisa di pipiku dan juga hidungku yang mulai berair.

“Aku menjadi seseorang yang baru setelah aku mengenalmu. Aku tahu bagaimana rasanya mencintai dan dicintai pada waktu yang sama. Terima kasih untuk itu. Semua kebaikan hatimu padaku sangat berarti. Aku tidak akan melupakannya.”

Dia tersenyum, seolah tidak merasa kehilangan atau sakit hati dengan keputusan kami bersama malam ini. Namun setelah beberapa waktu mengenalnya, aku tahu bahwa ia merasa kecewa juga karena hubungan kami harus berakhir.

“Hei, aku punya sebuah lagu. Kuciptakan di tahun 2017. Coba dengarkan.” Aku membalik badanku menghadap piano elektrik yang berada di belakangku. Aku memainkannya dan mulai bernyanyi.

//////////////////////////////

Who holds the key to my heart?
God, please direct my way
‘Cause I don’t wanna fall for someone else’s spouse
Open my eyes and let me see
The one for me

I’m trusting You to write my life
‘Cause You’re the best Author I’ve ever known
Here is my life, an open book for You to write
A love story of mine


Siapakah yang memiliki kunci hatiku?
Tuhan, tolong arahkan jalanku
Karena aku tak mau jatuh cinta
Pada pasangan orang lain
Buka mataku dan biarkan ku melihat
Seseorang yang memang untukku

Kupercayakan Kau untuk menulis hidupku
Karena Kau lah Penulis terbaik yang pernah kutahu
Inilah hidupku, buku terbuka untuk Kau tulisi
Kisah cintaku

//////////////////////////////

“Itu adalah lagu yang indah. Kamu memang pantas mendapatkan orang yang lebih baik dari aku. Kamu orang yang sangat enerjik, kamu memiliki wawasan yang luas dan masa depanmu cemerlang. Aku percaya ada seseorang yang akan mendampingimu untuk menggapai semuanya itu.”

Hancur. Hatiku hancur mendengarnya. Tetapi ini bukan saatnya aku menangis. Aku menegakkan kepalaku, tersenyum lebar dan mengangguk menyetujuinya.

Hubungan kami berakhir malam itu dengan baik. Bukan sesuatu yang kubayangkan sejak pertama kali menyetujui untuk datang ke Australia, tetapi sejak itu juga aku sudah mempersiapkan diri untuk malam ini. Bahkan segala yang telah kami rencanakan di sepanjang perjalanannku di Australia seperti menikmati indahnya pantai bersama di Gold Coast, pergi ke rumah investasinya di Brisbane yang mungkin menjadi rumah masa depan, dan pergi ke gunung salju di daerah Sydney untuk bermain ski lagi pada hari ulang tahunku telah kurelakan.

Sampai di kamarku, aku tidak dapat tidur. Kali ini aku benar-benar tidak tahan sama sekali. Air mataku jatuh tanpa henti, dan aku mencurahkan seluruh perasaanku ke dalam pesan di WA padanya, seolah itu surat ‘terakhir’-ku. Isinya mengatakan agar menunggu sampai aku siap untuk menghapus jejak keromantisan yang kami pasang di sosial media, yang mana aku akui terburu-buru, dan menyisakan hanya kenangan yang menunjukkan pertemanan kami.

Sebagai tanda hubungan baru di antara kami berdua, pada Jumat malam minggu itu juga, kami berdua pergi menonton pertandingan olahraga terbesar di Australia yang kebetulan diadakan di Canberra. Tidak lagi bergandengan tangan atau saling merangkul seperti dulu, kami berjalan berdampingan layaknya teman. Kami berteriak menyoraki tim mana saja yang menang dan bercanda mengenai hal itu layaknya teman. Kami sekarang adalah teman.

Tibalah waktunya aku harus meninggalkan Canberra, di hari Rabu minggu depan. Pemilik apartemen pun meminta ijin untuk pulang lebih awal dari rumah sakit tempat ia bekerja demi melihatku terakhir kali dan mengucapkan perpisahan. Selama ini kami sudah merasakan ikatan satu sama lain layaknya saudara.

Aku bersyukur lebih lagi karena awalnya Mr. Bule tidak yakin apakah bisa mengantarku ke bandara berkaitan dengan jam kerjanya yang terlalu ketat. Namun beruntung sekali, itu adalah minggu dimana hari Rabu merupakan hari singkat kantornya. Dia pun bisa mengantarkan aku ke bandara.

Tidak banyak yang kami bicarakan selama perjalanan menuju bandara. Rasanya sangat canggung seolah kami baru pertama kali bertemu.

“Aku tidak tahu apakah keputusan kita tepat atau tidak—“

“Jangan khawatir.” Aku memotong ucapannya cepat. “Kalau kita ditakdirkan bersama, kita akan bertemu lagi dan bersatu bagaimanapun caranya.”

Tidak ingin aku menoleh ke belakang. Saat ini aku ingin berjalan maju. Di satu sisi aku tidak ingin perasaanku dipermainkan dengan situasi ini, tetapi di sisi lain aku juga ingin menegarkan diri karena aku tahu aku bisa sakit saat aku berada dalam situasi yang buruk.

Dia menyetir ke arah parkiran bawah, tetapi tanpa berpikir aku mengatakan padanya agar dia berbelok ke kiri dan naik ke jalan atas dimana area pemberhentian untuk keberangkatan berada. Itu adalah hal yang aku sedikit sesali karena mungkin dia bermaksud untuk menghabiskan sedikit waktu bersamaku, karena dia berkata bahwa dia tidak bisa memarkirkannya berlama-lama jika berada di area ini.

Karena itu, setelah menurunkan barang-barangku dan meletakkannya ke atas troli, kami berdua berpisah. Benar-benar berpisah dengan kemungkinan bertemu lagi yang sangat kecil. Rasanya sangat canggung sekali ketika kami cipika cipiki seperti yang normal dilakukan oleh orang-orang disana.

Aku berjalan mendorong troli dan menoleh ke belakang saat aku berada di dalam bangunan untuk melihatnya terakhir kali. Mobilnya masih disana, entah apa yang dia lakukan atau pikirkan. Yang pasti, aku jelas mengerti rasa kehilangannya atas diriku yang sempat dia utarakan di malam kami memulai hubungan baru.

Ya, hubungan kami tidak berakhir. Aku lebih suka mengatakan bahwa kami hanya memulai hubungan baru: Pertemanan. Aku sudah sangat bersyukur Tuhan mengijinkan aku mengenalnya, karena melalui dialah aku menjadi seseorang yang jauh lebih dewasa dalam segala aspek.

Kini, aku menikmati kesendirianku lagi. Bukan dengan kesedihan tetapi dengan rasa syukur. Aku pun mempergunakan masa ini sebaik-baiknya karena tidak akan lama lagi aku akan merindukan masa-masa seperti ini ketika pada akhirnya aku harus bersatu dengan ‘nya’, dia yang ada disana.


~THE END~

~~~~~~~~~~

Terima kasih untuk semua yang sudah membaca yaaa! Maaf ini memang cerita singkat, semoga menikmati kisah ini dan ada hal positif yang bisa diambil. Saya harap saya bisa kembali dengan cerita-cerita lainnya disini.

Klik disini untuk mendengarkan lagu.
Diubah oleh yohanaekky
Post ini telah dihapus oleh kaskus.support16
Orang bilang itu eksotis. Gw bilang itu dekil
Quote:


Hahaha, tergantung cara ngeliatnya dan siapa yang diliat tapi gan. 😂😂
Quote:


Michael jackson saja sampe oplas berkali2 biar jadi putih dan gak keliatan kalo dia aslinya orang kulit hitam.
Orang negro di US pada berbondong2 nikah sama orang kulit putih biar anaknya mixed jadi bersihan

Sedangkan sebagian orang yang kulit aslinya putih dan kuning langsat malah ingin kayak jadi negro hitam2 dekil. Manusia memang tak pernah puas emoticon-linux2
Quote:


Tipikal manusia yah gan.. Sempurna aja jadi ga sempurna.. Wkwkwkkw. Padahal being just the way we are itu lebih baik. Banyak juga kan orang dekil sukses.
Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Halo gan! Cuman mo summon kalian aja nih yang pernah baca cerita pendek ini. Barangkali mau lanjut baca. Karena udah ane selesain. Hehehe. Ini cuman cerpen sih. Tapi ane harap agan2 suka. Makasih sebelumnya udah baca! 😁😂
Balasan post yohanaekky
Ane udah tamat sist.. tapi kalau boleh, sista cerita² lagi pengalaman lain tentang sista dong.. hehe, maaf sist, tapi bacaan nya kurang panjang, mending sista bikin serial sist, di waktu luang aja... hehehehehe. Sekalian sharing sama kita² disini..
profile-picture
yohanaekky memberi reputasi
Quote:


Hehehe, makasih ya gan. Sebenernya pengen banget cerita yang lainnya. Ydh daru dulu. Tapi masalahnya ane pake nama asli. Takutnya dibaca banyak orang yg ane kenal. Wkwkwk. Ada cara untuk ganti username ga sih? Kalo foto kan bisa ganti nih.

Btw, ane punya cerita lain kalo mau baca. Ini nih : Pintu Mimpi https://kask.us/ix67N.
Diubah oleh yohanaekky
menarik ceritanya gan..
mending di page pertama untuk cerita selanjutnya dikasi index, jadi pembaca tinggal klik dan gak perlu mencari dgn cara next2 pagenya hehe
profile-picture
yohanaekky memberi reputasi
Quote:


Iya gan, kali ini ane lupa. Hahahha. Tp cerita yg lainnya udah sih. 😂😂

Makasih ya gan udah baca... 😊😀😁
Quote:


Hahahaha, oh gitu... kalau username sih nggak bisa ganti, kalau ane disini paling nama tokohnya aja yang di blur... tapi terserah sista... oke boleh... nanti ane baca...
😀😁 hehehe oke deh gan!
Diubah oleh yohanaekky
Quote:


Hehehe, iya deh, gan. Nanti dipikirkan lagi. Soalnya banyak yang kenal, nanti kalo pas baca cerita aku takutnya gimana gitu. Sakit hati kan berabe. Hahaha. But thanks again ya!
Halaman 2 dari 2


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di