alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
[Prekuel] Sebelum Karma
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5cd416f0337f936916304401/prekuel-sebelum-karma

[Prekuel] Sebelum Karma

[Prekuel] Sebelum Karma


Quote:





I never meant to hurt no one
Nobody ever tore me down like you
I think you knew it all along
And now you'll never see my face again
I never meant to hurt nobody
And will I ever see the sun again?
I wonder where the guilt had gone
I think of what I have become
And still
I never meant to hurt nobody
Now I'm taking what is mine

Letting go of my mistakes
Build a fire from what I've learned
And watch it fade away
Because I have no heart to break
I cannot fake it like before
I thought that I could stay the same
And now I know that I'm not sure
I even love me anymore

I never meant to hurt no one
Sometimes you gotta look the other way
It never should've lasted so long
Ashamed you'll never see my face again
I never meant to hurt nobody
I know I'll never be the same again
Now taking back what I have done
I think of what I have become
And still
I never meant to hurt nobody
Now I'm taking what is mine

Letting go of my mistakes
Build a fire from what I've learned
And watch it fade away
Because I have no heart to break
I cannot fake it like before
I thought that I could stay the same
And now I know that I'm not sure
I even love me anymore

I never meant to hurt nobody
Nobody ever tore me down like you
I never meant to hurt no one
Now I'm taking what is mine..




<< Cerita sebelumya



Quote:


profile-picture
profile-picture
profile-picture
panjang.kaki dan 22 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh ucln
Halaman 1 dari 17
profile-picture
profile-picture
profile-picture
reallylovedaw dan 2 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh ucln

Part #1

Minggu pertama awal masuk ke jenjang SMA sudah berhasil gue lalui, adalah minggu pertama paling bodoh dalam masa sekolah yang gue gak pernah ingat detailnya seperti apa. Tapi yang terjadi adalah hal-hal umum seperti yang dilakukan kebanyakan para siswa baru di masa orientasi sekolah. Maka gue gak perlu menceritakan detailnya karna gue rasa siapapun yang pernah mengalami masa orientasi di sekolah pasti tau bagaimana bodohnya para senior memperlakukan para siswa siswi baru.

Kemudian di hari awal minggu ini, hari senin, adalah hari pertama kalinya gue mengenakan seragam putih abu-abu. Seragam yang saat gue masih di jenjang SMP terlihat keren. Padahal saat gue pakai sekarang rasanya sama aja. Gak menaikkan persentasi kekerenan gue sama sekali. Tentu saja gak keliatan keren karna gue salah seragam. Hari senin kaya gini harusnya gue pakai seragam putih-putih. Bukan putih abu-abu seperti yang gue pakai sekarang. Yang tentu saja membuat gue harus berdiri di jejeran depan saat upacara bendera dilaksanakan. Bersama beberapa siswa yang 'melanggar' atribut upacara seperti tidak memakai topi atau dasi.

Sekolah gue adalah SMA swasta islam yang ada di Jakarta. Sekolah dengan model pendidikan agama dengan aturan-aturan yang lebih seperti mendoktrin para siswa. Ada mata pelajaran baru yang gue gak pernah dapati sebelumnya di jenjang SD ataupun SMP. Yaitu pendidikan bahasa arab. Gue gak buta sama sekali dengan bahasa arab atau huruf-hurufnya karna dari kecil gue udah dimasukkin nyokap gue ke sebuah grup pengajian anak-anak. Tapi entah kenapa, untuk pendidikan bahasa arab ini gue yakin gak akan membuat gue merasa tertarik. Atau lebih tepatnya, gue merasa gak akan mampu mengikuti mata pelajaran itu dengan baik. Tapi mungkin menurut gue ini hanya karna pelajaran ini adalah sebuah hal baru buat gue. Jadi mungkin selama tiga tahun kedepan nanti gue akan menikmatinya. Maka gue memutuskan untuk gak memusingkan hal itu sejak sekarang.

Setelah mendengar pidato omong kosong kepala sekolah yang disampaikan dengan begitu antusias yang diakhiri dengan retorika yang sangat antiklimaks saat jam upacara tadi, para siswa yang sepertinya sama muaknya dengan gue langsung bubar barisan. Ada yang langsung menuju kelas masing-masing, ada yang ke toilet, ada yang memilih ke kantin. Dan gue termasuk kedalam golongan terakhir yaitu memilih ke kantin. Gue masuk kedalam kantin yang sedikit agak ramai. Sepertinya kebanyakan diisi oleh para kakak kelas. Karna sepenglihatan gue, siswa baru kaya gue justru lebih memilih masuk kedalam kelas sesuai upacara.

Gue menghampiri sebuah showcase yang menyediakan beberapa minuman ringan buat mengambil sebotol plastik air mineral, kemudian membayar kepada Mas penjaga kantin dan berniat segera keluar dari kantin karna gak nyaman dengan keramaian orang-orang yang asing bagi gue. Dan saat gue hanya tinggal selangkah menuju pintu luar. Seorang cowok berbadan tinggi dan berkepala nyaris plontos masuk kedalam kantin sambil bercanda tengil dengan temennya lalu menabrak badan gue. Membuat gue kehilangan genggaman atas botol plastik minuman gue yang baru gue minum beberapa teguk. Dan terjatuh lah botol minuman itu sekaligus menumpahkan isinya ke lantai, dan membasahi sepatu si botak tadi.

“Woi. Jalan pake mata dong.” Ucap si botak sambil mendorong badan gue dengan kesal.

Gue harus sedikit mendongakkan kepala buat melihat tampang si botak ini karna tubuhnya yang lebih tinggi dari gue.

Sejak kapan manusia jalan pake mata? Ucap gue dalam hati.

Keliatan jelas dari raut wajahnya dia merasa kesal. Kemudian gue melihat kearah sepatunya. Sepasang sepatu bermerk dan mungkin harganya mahal. Tapi peduli setan, bukan gue yang nabrak dia. Maka gue mengabaikannya dan melanjutkan berjalan keluar kantin menuju kelas gue. Gue sempet mendengar beberapa makian yang si botak ucapkan saat gue mengabaikannya. Tapi gue memilih gak menggubrisnya sama sekali. Gue males cari ribut. Setidaknya untuk di awal masa sekolah seperti ini. Lagipula di sekolah ini gue belom punya temen sama sekali. Maka gue pun juga gak berniat mencari musuh sama sekali.

Saat gue mau masuk pintu kelas, gue melihat wajah yang cukup familiar buat gue. Dan ternyata benar. Dia adalah temen gue di masa SMP. Gue memanggilnya dengan panggilan Boy. Meski nama aslinya gak ada kata Boy sama sekali.

“Lah? Lo sekolah dimari Gus?” Tanya Boy saat menyadari kehadiran gue.

Gue langsung menyalaminya dengan perasaan sangat senang. Maklum aja, gak ada satupun siswa disini yang berasal dari sekolah SMP yang sama dengan gue. Gue terdampar di sekolah ini karna dipaksa nyokap gue. Karna gue gak berhasil masuk sekolah SMA negeri favorit beliau. Selain itu, gue juga sepertinya gak melihat Boy saat masa orientasi kemarin. Maka gue yang sempet berpikir gak akan punya temen di awal masa sekolah inipun akhirnya merasa bahagia bertemu dengannya.

Gue dan Boy masuk kedalam kelas, dan tentu saja gue mengajaknya duduk disamping bangku gue yang masih kosong. Namun Boy hanya berdiri dan melihat ke sekeliling kelas. Lebih tepatnya ke deretan kursi belakang. Gue tau Boy gak bakal nyaman kalo duduk di bangku samping gue karna posisinya ada di urutan kedua dari depan kelas.

Boy pun mengambil tas gue lalu berjalan ke bangku paling belakang di baris meja yang gue tempati. Lalu dia meletakkan tas gue dan tas dia diatas meja yang berada di paling belakang itu, yang mana udah ada dua orang duduk disana. Gue hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan anak ini. Dia memang dikenal sebagai salah satu jagoan di SMP gue. Gak ada seorang pun yang pernah berani melawannya. Padahal tinggi badannya gak lebih dari sedagu gue. Mungkin karna dia termasuk siswa yang paling tua jadi paling disegani. Gak ada yang pernah mau berurusan dengannya. Padahal menurut gue dia termasuk orang yang asik buat berteman. Meski kadang sikapnya sering sok jagoan.

“Gue duduk disini. Lo bedua pindah kedepan gih. Tukeran tempat.” Ucap Boy kepada dua orang yang sedang duduk di kursi yang ingin dia ambil alih.

“Lah enak aja. Gue udah disini duluan. Lo siapa berani-berani ngusir gue.”

Anak berambut ikal dengan kulit agak hitam yang diminta pindah duduk itu bangkit dan sepertinya siap meladeni ulah Boy. Gue langsung berdiri dan bersiap ikut campur kalo sampe ada aksi pukul-pukulan. Tapi Boy malah menepuk pundak kanan anak itu.

“Lo nanya gue siapa? Panggil aja gue Boy. Kalo nama asli gue nanti lo bakal tau pas guru ngabsenin nama satu-satu. Lo mau pindah duduk atau gue tebalikin meja ini jadi gak ada yang duduk disini sama sekali?”

Gue yang tadinya sempet mikir bakalan ada keributan malah ketawa ngeliat kelakuan Boy. Dan anehnya, anak itu pun akhirnya menyingkir dari meja yang telah ia tempati, mengajak temen sebangkunya buat ikut pindah dan bertukar tempat dengan gue. Dan gue pun akhirnya duduk di kursi paling belakang sama Boy. Bukan posisi kesukaan gue karna gue gak suka duduk di deretan paling belakang.

Dan ya, hari pertama mulai belajar di masa SMA gue jalani dengan duduk sebangku dengan Boy. Seorang yang sama sekali gakbisa menangkap proses belajar di kelas. Dia selalu mendirikan buku pelajarannya menutupi wajahnya, kemudian ia meletakkan kepalanya di meja dan segera tertidur.

*****


Hari kedua, gue bilang sama Boy kalo gue mau pindah duduk. Karna gue gak nyaman duduk paling belakang. Boy tentu saja menahan gue dengan alasan dia nanti bakal kerepotan kalo ada tugas atau PR. Dia terang-terangan bilang mau menyalin tugas. Gue memang bukan termasuk murid pinter, tapi juga gak seburuk Boy yang sama sekali gak tertarik dengan mata pelajaran. Tapi akhirnya gue tetep memutuskan pindah duduk, dua kursi di samping kanan depan kursinya Boy. Tentu saja setelah menenangkannya bahwa setiap tugas ataupun PR yang nanti gue kerjakan pun akan gue berikan padanya buat disalin. Toh saat sekelas waktu SMP dulu gue selalu melakukan itu ke dia. Bukan karna gue takut sama dia. Tapi karna gue tau gimana susahnya minta contekan ke orang lain. Hahaha.

Oh ya, disekolah gue setiap harinya ada agenda membaca Al Quran. Dimulai saat bel masuk sekolah jam 7 pagi sampe jam setengah 8. Kemudian dilanjutkan setengah jam untuk mengkaji makna ayat yang telah dibaca, dibimbing oleh guru agama ataupun guru bahasa arab, tergantung jadwal masing-masing kelas. Dan di hari-hari awal sekolah seperti ini mau gamau gue musti mengikuti rutinitas tersebut. Karna gue gatau mau alesan kemana kalo gak ikut rutinitas itu di dalam kelas. Dan di kursi yang baru gue tempati, kebetulan gue semeja dengan anak yang kayanya keliatan pinter. Namanya Jafar. Wah ini anak nomer satu kalo urusan ngaji. Suaranya asik dan menenangkan. Gue Cuma ikut dengerin dia baca Quran tanpa mengikuti. Karna gue juga gak ngambil jatah Al Quran yang disediakan oleh pihak sekolah.

Jafar juga termasuk murid pinter. Dia sangat cepet nangkep pelajaran. Tapi dia seorang yang pendiam. Seringkali gue mengajaknya bercanda namun hanya diladeni sesekali. Hingga akhirnya gue bosen dan memilih mengajak ngobrol dua orang cowok yang duduk di kursi di depan gue. Meski gue belum mengenal namanya.

Saat jam istirahat, gue biasanya hanya ke kantin buat beli makan, lalu balik dan makan di kelas bersama Jafar yang selalu bawa bekal dari rumah. Sedangkan Boy memilih ke kantin luar sekolah, karna mau merokok. Gue pernah sesekali merokok, tapi masih belum masuk kategori sebagai seorang perokok. Jadi gue memilih beli makan di kantin dalam sekolah. Yang juga kebetulan dua anak yang duduk di depan kursi gue itu biasa makan disana.

“Woi, Gus. Sini lah. Lo mau makan dimana?” Ucap salah satu cowok itu saat gue menenteng makanan yang baru gue beli.

“Mau makan di kelas.”

“Buset makan dikelas. Udah sini aja.”

Gue pun akhirnya mengiyakan dan duduk ditengah diantara dua orang yang gue belum kenal namanya ini.

“Eh nama Lo Bagus kan ya?” ucap salah satu anak itu. Gue mengangguk menjawabnya sambil membuka makanan gue.

“Nama lo siapa deh? Gue gak dengerin pas lagi diabsen soalnya.” Tanya gue.

“Gue Maulana.”

“Lo?” tanya gue ke yang satunya lagi.

“Ayolah masa nama sekeren gue gak lo denger pas dipanggil.” Sautnya becanda.

“Panggil aja dia Rayen (Ryan). Ucap Maulana sambil tertawa.

“Setan. Jangan panggil Rayen. Ri-yan.” Sautnya kesel.

“Emang ejaannya R-i-a-n apa R-y-a-n?” tanya gue meladeni mereka.

“Yaa pake Y sih.” Jawab Ryan pasrah.

“Oh, ya Rayen kalo gitu gue panggilnya.”

“Bodo amat. Kagak bakal nengok gue kalo lo panggil Jayen.”

“Rayen setan, bukan Jayen.” Timpal Maulana sambil tertawa.

Dan gue pun hanya bisa ikut tertawa melihat tingkah dua orang temen baru gue ini. Dan sepertinya mereka berdua memiliki karakter yang cukup asik buat dijadikan teman. Maka mulai saat itulah gue, Ryan, dan Maulana yang kemudian gue panggil Maul karna ngikutin Cara Ryan memanggilnya, mulai berteman dekat dan terbiasa bareng-bareng bertiga setiap di sekolah.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pelauttangguh dan 2 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh ucln

Part #2

Tanpa terasa sudah genap satu bulan gue menjalani masa SMA. Dan dalam waktu ini, gue sepertinya harus mengakui bahwa gue adalah orang yang sangat bodoh dalam bersosialisasi. Gimana gak bodoh, Gue belum mengenal satupun temen sekelas selain Jafar, Maul, Ryan, dan tentu saja Boy. Tapi sepertinya Boy justru mulai akrab dan disegani oleh siswa lain. Bukan Cuma sama siswa sekelas, tapi juga siswa di kelas lain, maupun sama kakak kelas. Pembawaannya yang lucu karna suka bercanda namun juga tegas saat berhadapan dengan orang yang menurutnya sok, membuat dia cepat dikenal di sekolah. Dan juga kelakuannya yang sering tidur dikelas pun membuat dia jadi bahan pembicaraan para guru di sekolah.

Gue ga terlalu sering berkomunikasi sama Boy. Hanya sesekali saat dia perlu menyalin PR yang gue kerjakan. Selebihnya mungkin saat jam istirahat biasanya dia mengajak gue ke kantin luar sekolah, tapi selalu gue tolak karna gue memang ga pengen keluar sekolah di jam istirahat yang Cuma sebentar. Dan setiap hari, saat jam istirahat maupun saat jam belajar, komunikasi gue selalu melibatkan Ryan dan Maul. Keduanya mempunyai minat yang sama dengan gue, yaitu di bidang musik. Bahkan kami bertiga sempat berencana membuat sebuah grup band. Namun karna keterbatasan kemampuan kami bermusik, ga mungkin bisa kami bermusik hanya bertiga, maka rencana itu masih hanya sebatas wacana saat ini.

Suatu hari sepulang sekolah, Maul mengajak gue dan Ryan untuk tetep nongkrong disekolah meski jam pelajaran sudah selesai. Dia sempat bilang bahwa gue anak yang gak asik karna pulang sekolah langsung pulang terus, gak pernah mau nongkrong ngobrol-ngobrol dulu sama mereka atau sama teman yang lain.

“Lagian apaan kerennya sih nongkrong di sekolah doang?” Tanya gue dengan nada malas sambil berjalan ke halte depan sekolah saat Maul mencoba menahan gue yang berniat segera pulang.

“Bukan soal keren doing, men. Kalo kita pulang langsung pulang mulu kaya gini kapan gue bisa dapet kenalan sama kakak kelas yang cakep-cakep nih?” Saut Maul dengan wajah sok cool nya.

“Ngapain nyari kakak kelas? Kan dikelas kita juga banyak cewek.”

“Ah kagak demen gue. Gue mau nyari yang seumuran, biar asik aja kalo pacaran seumuran gitu.”

“Seumuran? Lo setaun diatas gue dong?”

“Lah si bego. Lo baru tau?”
“Gue sama Ryan lebih tua dari lo setaun. Makanya tiap ketemu gue sama Ryan lo harus cium tangan. Iya gak Yan?”

Ryan hanya mengangkat kedua alisnya sambil berjalan mendekat kearah gue dan Maul. Lalu memberikan Maul sebuah minuman kopi dingin di gelas plastik yang sepertinya dia beli di kantin dalam sekolah tadi.

“Lo ngerokok gak Gus?” Tanya Maul sambil mengeluarkan dompetnya, yang sempet gue tebak bahwa dia mau beli rokok di sebuah warung kecil di halte.

“Mau dong, sebatang aja.” Jawab gue sambil duduk di kursi halte yang jugadisusul Ryan.

Maul membuka dompetnya dan mengeluarkan dua batang rokok yang sepertinya sejak seharian tadi disimpan di lipatan dompetnya, Hingga bentuk rokok itu telah berubah menjadi gepeng seperti sebuah keris.

“Gak jadi dah. Gue lagi gak pengen.” Ralat gue ketika disodorkan keris, eh rokok dari Maul.

Maul kemudian memasukkan kembali sisa sebatang rokok itu ke lipatan dompet dan menyimpan dompetnya ke saku belakang celana sekolahnya. Lalu berjalan ke warung untuk meminjam korek dan menyulut rokok yang akan dia nikmati.

Gue dan Ryan searah dalam perjalanan pulang. Sedangkan Maul diarah sebaliknya. Tapi Maul malah duduk di kursi halte di samping gue, bukan menyebrang jalan menunggu angkot di seberang. Dia menikmati tiap hembus asap rokoknya sambil menatap kumpulan para siswi di seberang jalan.

“Gila, cowok sekeren gue duduk disini sama dua cowok yang sama sekali gak dilirik cewek diseberang jalan. Kutukan ini. Kutukan!” Gerutu Maul sambil menggelengkan kepalanya yang kemudian di toyor oleh Ryan.

“Eh, ngomong-ngomong berarti lo berdua pernah gak naik kelas setaun dong ya? Kok sekarang bisa seangkatan sama gue?” Tanya gue ke Ryan dan Maul.

“Enak aja. Gue gak segoblok itu.” Saut Maul.

“Iyee udah iyein aje ngapa sih.” Selah Ryan.

Kemudian Maul pun menceritakan bagaimana dia bisa terdampar disekolah yang sama dengan gue, sekaligus sekelas. Meski Ryan sempat lagi-lagi menoyornya karna gak ingin Maul menceritakannya ke gue.

Singkatnya, Ryan dan Maul berteman sejak SMP. Dua taun lalu mereka sama-sama lulus SMP, namun berpisah karna Maul masuk STM dan Ryan masuk SMA di salah satu SMA swasta umum. Baru 6 bulan mereka duduk di bangku kelas 1, Maul dikeluarkan dari sekolah karna 'memecahkan' kepala lawan berantem nya di STM. Hal yang termasuk umum bagi gue karna anak STM emang setau gue doyan berantem.

Namun yang gak umum bagi gue adalah alasan Ryan dikeluarkan dari sekolahnya yang lalu, Yaitu karna menggampar gurunya. Iya, beneran ngegampar gurunya. Karna dia kedapatan berambut panjang dan tertangkap dalam razia kerapihan yang rutin ada di sekolahnya saat itu. Maka iapun harus menerima ketika rambutnya dipotong oleh guru. Ryan memang mencoba menerima hukuman dari gurunya tersebut, meski sempat menggumam pelan dengan ucapan 'kalo bukan guru gue udah gue gampar lo.’ Dan gumaman itu terdengar oleh gurunya yang malah menantang Ryan. Ryan sempat berhasil menahan emosinya dan gak meladeni lalu berjalan meninggalkan gurunya. Namun entah apa yang kemudian diucapkan si guru pada saat itu membuat Ryan berbalik arah dan melayangkan pukulan sekencang-kencangnya ke wajah sang guru yang membuatnya terjatuh dan berdarah di pelipis. Yang beruntungnya hal itu ‘hanya’ diselesaikan dengan Ryan dikeluarkan dari sekolah.

Sampai kemudian mereka berdua bertemu lagi saat mendaftar di sekolah yang sama dengan gue. Mereka pun meminta pada pihak sekolah untuk diatur supaya bisa satu kelas. Jadilah gue bertemu mereka dan kini gue duduk di halte dengan dua orang sialan yang pernah -tanpa ragu- ‘menghabisi’ orang yang menurutnya menyebalkan. Gue hanya menelan ludah mendengar cerita itu dari Maul. Dan jujur saja, gue pun merasa ngeri dan buru-buru menyetop angkot yang melewati arah kerumah gue.

*****


Besoknya, Maul masih berusaha mengajak gue dan Ryan buat nongkrong dulu sepulang sekolah. Tapi dia gak keabisan akal kali ini. Dia mengajak gue dan Ryan nongkrong gak jauh dari rumahnya, dimana ada sekolah SMK disana. Sekolah yang dikenal banyak cewek cakepnya. Karna gue gamau bernasib seperti anak yang kepalanya pernah 'dipecahin' oleh Maul, atau guru yang pernah dibuat tersungkur oleh Ryan. Gue pun terpaksa mengikuti ajakan Maul. Kami naik angkot kearah yang gak jauh dari rumah Maul. Dimana sekolah SMK itu berada.

Setelah berdebat mengenai arti kata 'keren' dalam memilih tempat nongkrong di dekat sekolah SMK itu, gue dan Ryan sepakat buat duduk di salah satu warung tenda yang menjual macam-macam jus buah. Yang diikuti oleh Maul dengan wajah cemberut sambil gerutuan 'yaelah, apaan kerennya nongkrong di warung jus begini.’

Ryan gak berhenti meledek Maul yang masih enggan memudarkan wajah cemberutnya. Salah satunya dengan memesankan jus anggur untuk Maul.

“Nih ul, kita minum anggur dulu yee kan biar keren..” Ucapnya sambil mentertawakan Maul.

Gue berjalan ke warung seberang jalan membeli beberapa batang rokok sambil tentu saja gak bisa menahan tawa melihat kelakuan Ryan yang meledek Maul.

Setelah dari warung rokok, gue berjalan kembali ke warung jus dimana Ryan dan Maul berada. Gue sempat berpapasan dengan seorang wanita berseragam sekolah SMK yang sedang kami 'pantau.’ Dan gue gak bisa memungkiri bahwa wanita yang barusan berpapasan dengan gue tadi sangat cantik. Setidaknya buat gue. Meski hanya bisa melihat wajahnya sekilas. Gue mempercepat langkah berniat menceritakannya ke Maul dan Ryan.

Maul kini sudah tertawa-tawa dan saling menoyor kepala dengan Ryan. Entah apa yang mereka bercandakan. Gue menyelah candaan mereka berniat menceritakan bahwa tadi gue melihat ada cewek cakep.

“Ah sayang banget lo Gus gak ketemu cewek cakep barusan.” Ucap Ryan saat melihat gue datang.

“Lah, tadi dijalan gue juga papasan sama cewek. Cakep mampus dah pokoknya.” Saut gue.

“Tapi bukan temennya Maul kan? Soalnya cewek tadi yang cakep si Maul ngaku-ngaku kenal sama dia.”

“Emang gue kenal kunyuk. Temen gue itu anak komplek seberang rumah gue.”

“Alah, gue temenan sama lo dari SMP setan, gue gak pernah tau lo punya temen cakep kaya gitu.”

“Ya tapi emang temen gue. Kan tadi gue tegor dia nyaut.”

“Udah, iyain aja Yan. Besok juga dia ngakunya udah dia pacarin itu orang.” Timpal gue.

“Kagak lah gila. Anak orang kaya itu. Gue pacarin mah jadi sampah doang gue buat dia.”

“Ntar dah, kapan kalo gue ketemu dia gue ajak dia nongkrong dulu disini kalo lo pada gak percaya.” Lanjut Maul.

Gue dan Ryan hanya mengibaskan tangan meremehkan ucapan Maul yang kemudian dapat toyoran bergantian dari Maul.
profile-picture
g.gowang memberi reputasi
Diubah oleh ucln

Part #3

Suatu hari, gue bangun kesiangan dan terpaksa harus buru-buru berangkat sekolah. Tentu saja lengkap dengan omelan nyokap yang gak henti-hentinya menyalahkan kelakuan gue semalam yang nonton bola sampe larut. Akhirnya gue pun memilih langsung berangkat tanpa sarapan, yang tentu saja membuat gue mendapat omelan lebih lanjut dari nyokap karna beliau adalah orang yang selalu mementingkan sarapan bagi kedua anaknya; Gue dan abang gue.

Gue berangkat dengan diantar oleh abang gue sampe halte yang lumayan jauh dari rumah gue buat kemudian nyambung naik angkot menuju sekolah. Sedangkan abang gue menuju sekolahnya dengan motornya. Jarak antara gue dan abang gue yang kurang lebih hanya sekitar sebelas bulan membuat jarak pendidikan gue dengannya pun hanya satu tingkat.

Oh ya, Abang gue namanya Adam. Dan sejak kecil, gue gak pernah manggil dia dengan sebutan Abang. Dia selalu jadi orang yang sangat diutamakan oleh nyokap gue. Setidaknya begitu menurut gue. Apalagi dalam soal pendidikan. Karna gue gagal masuk ke sekolah favorit pilihan nyokap gue sementara Adam berhasil. Makin jelas lah perbedaan perlakuan dari nyokap gue ke gue dengan ke Adam.

Bangun kesiangan dan naik angkot yang hobi banget ngetem membuat gue semakin kesiangan sampe di sekolah. Waktu itu udah jam setengah 8 lewat. Yang tentu saja pagar luar sekolah sudah dikunci. Gue berjalan menuju pagar sekolah dengan tanpa berharap akan dibukakan. Namun ternyata disana juga ada Maul. Yang sepertinya tengah merayu seorang satpam penjaga untuk diizinkan masuk. Gue mempercepat langkah mendekati Maul.

“Beh. Ayo bukain dong. Saya makin kesiangan nih.” Ucap Maul dengan memasang wajah memelas ke satpam sekolah yang akrab dipanggil Babeh.

“Lah kan Elu emang udah kesiangan, tong. Makanya pager ini gua gembok.”

“Ya kalo Babeh bukain dari tadi kan saya bisa masuk daritadi.”

“Enak aja. Lu aja baru dateng mau minta bukain dari tadi. Udah pulang aja lu sono.”

Gue hanya tertawa melihat Maul yang hanya bisa mengangkat kedua pundaknya kearah gue. Seperti kehabisan akal merayu Babeh.

Dan beberapa menit berselang, berhenti sebuah angkot gak jauh dari pagar sekolah dimana gue dan Maul tengah berdiri. Muncul makhluk sialan yang turun dari angkot dengan wajah yang jelas sekali masih seperti orang baru bangun tidur. Dia mendekat kearah Maul dan menjulurkan tangannya yang diladeni dengan sebuah tos oleh Maul. Dan gue pun mengikuti ketika Ryan juga menjulurkan tangannya ke gue.

“Kok lo pada disini bukannya masuk aja? Mau cabut lo ya?” tanya Ryan dengan konyolnya.

“Palalu sini gue cabut. Kita kagak bisa masuk, udah dikunci pagernya.” Jawab Maul.

“Kuncinya mana?”

“Mana gue tau. Emang gue pake seragam satpam?” Maul mulai makin kesel.

“Woi, Beh. Kuncinya mana?” Tanya Ryan ke Babeh.

“Kagak ada. Udah diambil Bu Endang (guru BP) tadi dari jam 7.” Babeh menjawab sambil duduk kembali didalam pos nya.

“Lah terus gue mau masuk gimana?”

“Ya kagak bisa. Lu pada pulang aja sana.”

“Yee pulang. Emang lo yang bayarin sekolah gue.” Jawab Ryan sambil melepaskan tas dari punggungnya dan melemparkannya ke area dalam sekolah melalui atas pagar.

Dan dengan santainya, dia mulai memanjat pagar sekolah. Lalu melompat turun saat sudah berada dibagian dalam.

“Lo bedua kagak masuk?” Tanya Ryan santai sambil mengebaskan tangannya ke celananya, membersihkan beberapa debu yang menempel setelah dia berhasil memanjat pagar.

Gue melihat Babeh mengangkat gagang telepon yang sepertinya menghubungi kedalam sekolah, lalu melihat Maul yang menatap gue dan menganggukkan kepala mengisyaratkan untuk memanjat pagar sekolah juga. Dan tanpa aba-aba, gue dan Maul pun bergegas mulai memanjat pagar.

Baru saja gue lompat menuruni pagar saat berhasil masuk ke bagian dalam sekolah. Kerah baju sekolah gue sudah ditarik dengan kasar. Gue menoleh dan mendapati Babeh menenteng gue dengan tangan kirinya sementara Maul berada di tangan kanannya. Sedangkan Ryan ditarik tangannya oleh Bu Endang dengan kasar menuju sebuah meja yang berada di bagian dalam sekolah.

Tentu saja, kelakuan kami gak serta merta lolos dari hukuman. Kami dijatuhi hukuman yang menurut Ryan terlalu enteng, yaitu lari mengelilingi lapangan sekolah sebanyak 20 putaran. Dan lapangan sekolah kami memang hanya sebesar lapangan basket, yang menurut gue memang bukan hukuman yang berat daripada gue harus pulang lagi dan mendapat cacian dari nyokap gue karna kesiangan.

Setelah menyelesaikan hukuman yang kami jalani dengan sambil ngobrol dan tertawa-tawa. Kami kembali ke meja tadi untuk mengisi buku izin terlambat yang kemudian mendapat cubitan kecil namun perih dari Bu Endang. Gue, Ryan dan Maul bergantian menyalami Bu Endang sambil meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.

Meski tanpa pernah kami rencanakan, hari ini adalah hari pertama dimana kami bertiga datang terlambat. Dan entah bagaimana caranya, terlambat masuk menjadi rutinitas yang terus berulang setiap hari sampai kami lulus dari bangku SMA.

*****


“Men, ntar balik sekolah kita nongkrong di SMK xx lagi ya. Gue semalem ketemu Sisil, dia bilang dia tiap pulang sekolah pasti beli jus disitu.” Ucap Maul dengan sangat antusias saat jedah pergantian mata pelajaran menuju pelajaran terakhir hari ini.

“Sisil siapa?” Tanya Ryan Sambil bergantian menatap gue dan Maul, yang gue jawab dengan mengangkat kedua pundak gue.

“Yah si bego. Yang waktu itu kita ketemu di warung jus deket SMK xx. Kan udah gue bilang dia temen gue. Semalem tuh gue ketemu, pas dia lagi main ke daerah rumah gue.”

Ryan mengibaskan tangannya ke Maul yang seakan bermakna “ah sepiik”.

“Yee serius. Ntar ya kita buktiin, gue panggil tuh anak buat nongkrong bareng kita.” Ucap Maul dengan lebih antusias lagi.

Dan sepulang sekolah, karna gue ga mau berdebat soal serius atau sepik nya si Maul ke kami. Maka gue pun memilih mengikuti keinginannya untuk nongkrong di warung jus yang terakhir kali kami datangi. Kali ini Maul gak lagi memasang wajah cemberut. Gue dan Ryan gak perlu lagi berkonspirasi mendefinisikan arti kata keren buat maksa Maul masuk dan duduk di warung jus ini. Karna kali ini justru dia yang sangat semangat. Dia langsung memesan jus anggur, yang tempo hari dipilihkan oleh Ryan dengan iming-iming soal arti kata keren.

Setelah sekitar setengah jam kami bercanda sambil menikmati jus yang hampir habis kami minum, seorang perempuan masuk kedalam warung dimana gue langsung sangat yakin bahwa perempuan ini yang waktu itu gue lihat. Wajahnya yang cantik diiringi dengan kulitnya yang putih bersih tanpa cela dengan mengenakan seragam putih hitam sekolah SMK nya membuat gue gak mungkin lupa dengan paras wajahnya. Rambutnya dibiarkan tergerai diatas pundaknya. Gue melihatnya melangkah perlahan menuju Ibu penjual jus, yang sepertinya dia tengah memesan jus kesukaannya. Suara ribut Ryan dan Maul hanya terdengar seperti dengung lebah saat gue memperhatikan setiap gerakan perempuan cantik yang hanya berjarak beberapa meter dari gue.

“Sil.. sini dong gabung.”

Lamunan gue pecah oleh suara teriakan Maul yang mulutnya begitu dekat dengan telinga gue. Perempuan yang kata Maul bernama Sisil itu membalas panggilan Maul sambil mengangguk dan tersenyum tipis. Lalu mengambil pesanan jus nya dan berjalan mendekat kearah kami.

Sial. Entah kenapa saat melihat senyum tipisnya tadi membuat gue merasa begitu mengagumi sang pemilik senyum itu. Senyumnya benar-benar melekat langsung dalam ingatan gue. Dan membuat gue langsung bersedia tanpa perlawanan untuk menjadi seorang pemuja senyum itu.

“Nih Sil, kenalin temen-temen gue.” Ucap Maul sambil berdiri dari duduk nya dan memberikan Sisil space untuk duduk diantara gue dan Ryan.

Gue dan Ryan bergantian berjabat tangan sambil menyebutkan nama kami. Yang jugadiikuti oleh Sisil.

“Nama Gue Silvinia. Jangan ikut-ikutan manggil gue Sisil kaya Maulana. Gue gak suka. Panggil aja gue...”

“Nia. Gue manggilnya Nia aja ya?” Selah gue.

Sisil menoleh kearah gue sejenak, dan mengangguk pelan. Sementara gue langsung tertegun saat mata gue menatap langsung kedalam bola matanya yang berwarna kecoklatan. Sepasang bola mata yang sangat indah menurut gue. Yang membuat gue semakin yakin bahwa gue siap untuk memuja perempuan ini meski mungkin hanya akan menjadi rahasia gue sendiri.

“Yaudah kalo gue manggilnya Vini. Biar beda dari lo bedua.” Ucap Ryan asal yang disambut tawa oleh Sisil, atau Nia, atau Vini.

Nia adalah tipe orang yang menurut gue lumayan asik buat diajak ngobrol. Cuman gayanya agak sedikit tomboy, yang kebetulan adalah gaya cewek yang gak begitu gue suka. Tapi semua itu kalah dengan senyumnya yang bener-bener membuat gue mengaguminya.

Nia suka musik. Amat sangat suka musik. Katanya, Dia bisa 24 jam sehari penuh diem di kamarnya dengan sambil denger musik. Apapun jenis aliran musiknya. Kata Nia, musik adalah Cara bagaimana seseorang menyampaikan sesuatu yang gak bisa diucapkan atau dilakukan. Kurang lebih itulah hal-hal pertama yang gue kenal dari obrolan awal kami dengan Nia.

“Eh kalian itu emang suka nongkrong disini ya? Maksud gue, di warung jus ini?”

“Oh, enggak jugasih, Sil. Kita kesini bisaanya pulang sekolah sambil nunggu jam kita latian band gitu.” Jawab Maul yang tentu saja dengan kebohongan.

“Latihan Band? Kalian suka main band?” Nia bertanya dengan nada antusias kali ini.

“Yaa bukan sekedar suka sih. Tapi emang rutinitas kita aja tiap pulang sekolah. Iya kan?” Maul melempar tanya ke gue yang bodohnya gue jawab dengan anggukan. Pertanda mendukung kebohongannya.

“Kalian Cuma bertiga? Posisinya apa aja?”

“Gue main gitar, sekalian nyanyi. Ryan juga nyanyi sambil main Bass. Si Bagus main drum karna ga bisa nyanyi dan karna kita bukan boyband yang nyanyi semuanya. Tapi paling kita Cuma...”

“Berarti abis ini kalian mau latihan dong? Gue ikut yaa? Mainnya dimana?” Nia yang semakin antusias langsung menyelah omongan Maul.

Ryan berdiri dan meninggalkan meja menuju Ibu penjual jus. Tapi gue sempet denger dia membisikkan kata “mampus lo” ke Maul sebelum beranjak menjauh. Yang hanya bisa gue tanggapi dengan tawa kecil sambil menggelengkan kepala.

“Yah, kebetulan hari ini kita gak kebagian jam sewa studionya. Tadi sebelum kesini tuh kita ke studionya dulu buat booking, tapi ternyata penuh sampe malem. Makanya kita jadinya kesini aja minum jus.” Maul masih berusaha mengelak meski tadi raut wajahnya terlihat mulai panik.

“Yaah. Emang kalo sewa studio gitu dimana biasanya?” Nia gak lagi seantusias tadi, namun sepertinya masih berusaha memburu Maul dengan pertanyaannya.

“Deket sekolah kita sana. Nanti deh kapan kalo kita latihan gue ajak lo.”

“Yaa gatau kapan itu mah. Mumpung sekarang kita ngumpul mah mending sekarang aja yuk.Kalian latihan di studio rumah gue aja.”

Gue sedikit kaget dan menoleh kearah Nia.

“Kenapa? Gamau ya kalo dirumah gue?” Tanya Nia kini ke gue.

“Maksudnya, studio band nya dirumah lo?” Tanya gue mempertegas.

“Iya. Punya abang gue dulu. Tapi udah gak pernah dimainin sih. Ga tau apa masih bagus alatnya atau enggak. Makanya sekalian kalian liatin aja. Yuk, mau ga?”

Gue menatap Maul yang kini sepertinya merasa terpojok. Ryan kembali ketengah kami dan menepuk pundak Maul, lalu kemudian duduk di kursi yang tadi ia tempati. Dan sepertinya dia memahami kondisi Maul yang semakin terpojok.

“Gue harus cabut nih men. Udah jam pulang sekolah adek gue, tadi dia minta dijemput. Besok-besok aja lah latiannya.” Ucap Ryan ke Maul dan Nia.

“Yaah. Kok gakasik sih malah mau pulang.” Nia kini memasang wajah cemberut. Yang justru membuat gue gemas melihatnya.

“Iya nanti gampang lah Sil kapan kalo kita mau latian gue kabarin Lo. Tapi jangan dirumah lo, gak enak lah kita.” Maul belagak menengahi.

Nia hanya mengangguk beberapa kali sambil tetap memasang wajah cemberutnya. Membuat gue terpaku beberapa saat menikmati wajahnya.

Setelah itu Nia pamit berpisah untuk menuju rumahnya. Gue, Maul, dan Ryan saling tos untuk segera berpisah juga. Hanya gue dan Ryan yang akan pulang searah. Kemudian tiba-tiba Ryan balik badan sedikit berlari mengejar Maul, lalu memiting lehernya dan memukuli kepala Maul beberapa kali.

“Gue gak suka main bass. Kalo boong juga jangan bilang gue main bass, setan.” Ucap Ryan sambil tetap memiting leher Maul meski Maul sudah berteriak meminta ampun.

Gue hanya tertawa, lalu terdiam dan melamunkan kembali wajah Nia yang dengan mudahnya begitu membekas dalam ingatan gue sejak tadi.
profile-picture
g.gowang memberi reputasi
Diubah oleh ucln

Part #4

Memasuki  bulan ketiga gue duduk di bangku SMA. Gue, Ryan, dan Maul semakin terbiasa main bersama. Gak lagi Cuma di jam sekolah, tapi  juga diluar jam sekolah. Akhir-akhir ini kami bertiga terbiasa kumpul dirumah Maul setiap pulang sekolah. Karna jarak rumahnya yang hanya sekitar 30 menit naik angkot dari depan sekolah, gue pun merasa gak terlalu keberatan untuk main dulu kerumahnya setiap selesai jam sekolah.

Tentu saja hal ini membuat Nyokap gue marah. Beliau paling gak suka kalo kedua anaknya gak langsung pulang setelah jam sekolah selesai, Untuk alasan apapun. Maka gue pun selalu menjawab apa adanya setiap kali gue pulang sekolah terlalu sore sepulang dari rumah Maul. Yang kemudian membuat nyokap gue malas menanyakan lagi alasan kenapa gue pulang terlambat setiap hari. Akhirnya nyokap gue juga malah menawarkan gue untuk mengajak dan mengenalkan teman sekolah gue untuk main kerumah.

Hari sabtu, sekolah gue hanya diisi dengan kegiatan ekstrakulikuler, Kegiatan tambahan untuk menampung bakat para siswa di sekolah. Ada yang memilih masuk ke kegiatan sepak bola, basket, rohani islam atau disebut rohis, grup kesenian seperti menari, berpuisi dan menulis cerpen untuk majalah dinding di sekolah, dan tentu saja grup musik. Kegiatan yang membuat gue sangat bersemangat untuk ikut dan terlibat di dalamnya.

Di sekolah gue juga ada sebuah acara tahunan yang biasa disebut pentas seni sekolah. Yang mana biasanya menampilkan para siswa yang terlibat di ekskul masing-masing untuk mengisi acara tersebut. Berada diatas panggung menyajikan ‘keahlian’ mereka masing-masing. Dan katanya, ekskul musik dan tari menjadi ‘primadona’ di acara tahunan tersebut. Yang artinya menjadi tampilan yang paling ditunggu oleh para siswa lainnya.

Gue sejak awal sudah berencana untuk masuk dan terlibat kedalam ekskul musik. Yang justru gak sejalan dengan keinginan Ryan dan Maul yang ingin masuk grup sepak bola. Mereka sudah sejak bulan pertama mengikuti seleksi penerimaan anggota baru di tim sepak bola SMA kami. Yang biasanya mengikuti event-event pertandingan antar sekolah yang gue gak begitu mengerti jenis kompetisi apa. Sedangkan gue, baru di bulan ketiga inilah mulai mencoba masuk kedalam ekskul musik. Meski sedikit dipandang remeh oleh para senior yang mengelola ekskul tersebut. Gue datang dan mengajukan diri untuk bergabung sendirian. Sementara kebanyakan yang lainnya justru mengajukan bergabung ke ekskul musik itu dalam sebuah grup band yang menempati posisi mereka masing-masing.

Gue tengah sok serius mengisi selembar kertas formulir pendaftaran yang menurut gue Cuma sekedar formalitas saja. Yang berisi kolom pertanyaan seperti biodata diri dan sejenisnya. Hanya saja ada sebuah kolom yang menanyakan soal hobi. Yang tentu saja diisi ‘bermain musik’ oleh kebanyakan siswa yang mencoba mendfaftar ke ekskul ini. Tapi gue justru mengisinya dengan ‘menulis puisi’ biar beda dari yang lainnya.

“Woi. Lo dari kelas X-C juga kan ya?” Tanya seorang lelaki yang menenteng selembar kertas formulir yang sama dengan gue.

“Iya. Gue Bagus.” Ucap gue sambil menjulurkan tangan.

“Gue Azzam. Kita sekelas padahal ya tapi gak pernah ngobrol.” Ucapnya sambil menyambut juluran tangan gue dan tertawa.

Gue pun Cuma bisa ikut tertawa karna memang gue gak pernah memperhatikan murid lain dikelas gue. Bahkan gak menghapal nama-nama mereka.

Azzam duduk disamping gue dan melihat form yang sedang gue isi. Lalu membandingkannya dengan form yang dia punya.

“Kok yang ini lo gak isi?” Tanya Azzam sambil menunjuk form gue pada kolom ‘alat musik yang dikuasai’

“Gue bingung mau isi apaan.” Jawab gue singkat

“Lah, lo bisanya main apaan?”

“Alat musik di grup band gitu? Gue bisa semuanya sih.”

“Wah, serius? Gue demen nih. Kita bikin band aja lah yuk. Gak usah ikut-ikutan ekskul kaya gini.” Ucap Azzam dengan sangat antusias.

“Mana bisa main band bedua doang?.”

“Bertiga aja. Ada satu lagi temen gue anak X-B. Lo mau main Bass apa Drum?”

“Kok gak ada pilihan gitar?”

“Gitar gue aja. Lo pilih antara dua alat itu. Ntar kita daftarin buat ikut acara pensi (pentas seni).”

“Yaudah kapan ntar kita atur aja buat main bareng dulu.”

“Udah sekarang aja. Ayok kita ke kelas X-B ajak temen gue sekalian.”

Gue dan Azzam pun akhirnya membuang form pendaftaran ekskul musik, lalu bergegas menuju kelas X-B untuk mendatangi temannya Azzam. Setelah berkenalan singkat dengan temannya Azzam yang bernama Bayu tapi lebih pengen dipanggil dengan sebutan Ubay, kami pun bergegas menuju sebuah studio band sewaan yang gak begitu jauh dari sekolah.

Setelah sejam main bareng Azzam dan Ubay, gue semakin merasakan minat yang sangat tinggi untuk meneruskan bermain musik lagi. Maklum saja, sejak gagal masuk SMA negeri pilihan nyokap gue waktu itu, gue udah gak lagi bermain musik bersama temen-temen kecil gue. Padahal gue sudah suka main musik sejak kelas 1 SMP dengan mengambil posisi bermain drum. Tapi kini sama Ubay dan Azzam, gue ditempatkan untuk bermain Bass. Karna Azzam memang gue akui sangat terampil bermain gitar, dan Ubay memiliki power yang sangat baik dalam menabuh drum. Kami bertiga memainkan lagu-lagu yang disajikan oleh SUM 41 dan Blink 182.

Hari-hari berikutnya, gue kini malah semakin dekat dengan Azzam. Gue bahkan memutuskan pidah tempat duduk dan memilih satu meja dengannya. Yang tentu saja membuat Ryan dan Maul jadi sering menyindir gue dengan ungkapan ‘anak band mah gak mau ya deket-deket sama kita lagi.’ Tentu saja hanya sebuah candaan. Karna diluar kelas pun, khususnya saat jam istirahat, kami tetep sering bareng. Malah kadang Azzam yang nimbrung bersama kami.

Azzam dan Ubay sebenarnya satu SMP dengan Ryan dan Maul. Tentu saja Azzam dan Ubay adalah adik kelas mereka saat SMP. Dan Ryan pun mengakui kehebatan Azzam dan Ubay dalam bermusik. Kata Ryan, Azzam dan Ubay adalah ‘jagoan musik’ di SMP mereka dahulu. Maka gue pun merasa cukup beruntung bisa satu band sama orang sehebat mereka. Banyak pelajaran baru yang bisa gue dapatkan.

Dan karena saking seringnya Azzam ikut main bersama Gue, Ryan, dan Maul. Azzam pun kembali mencetuskan ide untuk membuat band lagi, yang personilnya adalah kami berempat. Dia beranggapan gak masalah mau punya berapa grup band sekaligus, malah lebih banyak lebih bagus karna dapat ilmu baru dan teman baru. Dan tentu saja segera diiyakan oleh Maul yang memang sudah berhasrat untuk membuat sebuah grup band bersama gue dan Ryan.

Dalam grup band kami berempat, Azzam tetap memilih bermain gitar. Namun dia meminta gue untuk mengisi posisi sebagai drumer di band ini. Dia pun menyerahkan pada Ryan dan Maul untuk memilih posisi masing-masing. Ryan tentu saja merebut posisi gitar kedua dan memaksa Maul memegang posisi pemain bass. Ryan langsung mengambil kendali di dalam grup ini. Dia mengangkat dirinya sebagai pemain gitar sekaligus bernyanyi, dan memilih aliran musik apa yang akan kami mainkan. Azzam yang tentu saja menurut gue lebih layak memimpin band ini justru malah menyerahkan segala urusan tentang band ini kepada Ryan. Kami berempat rutin memperkuat kekompakan bermusik setiap hari rabu dan kamis sepulang sekolah. Tentu saja jadwal tersebut diagendakan oleh Ryan. Padahal gue bersama Azzam dan Ubay gak punya agenda khusus kapan kami akan bermain. Hanya sesempatnya saja. Gue mengakui bahwa bermain bersama Azzam dan Ubay membuat gue lebih banyak mendapatkan ilmu dan pengalaman baru ketimbang bersama Ryan dan Maul yang lebih memilih memainkan lagu-lagu Pop yang lagi hits di tanah air seperti Sheila On 7, Padi, Slank, dan sejenisnya. Tapi gue juga gak bisa memungkiri bahwa bersama Ryan dan Maul, gue bebas menjadi diri gue sendiri. Bermain dengan cara gue sendiri. Gak terlalu merasa harus bermain sebaik-baiknya seperti saat bersama Azzam dan Ubay.

Hingga suatu hari, setelah Gue, Azzam, Maul dan Ryan telah cukup sering bermain musik bersama. Maul mulai kembali terbawa oleh sikap ingin terlihat keren. Dan ingin mengajak Nia untuk ikut hadir saat kami bermain musik sepulang sekolah.

“Men, kemarenan gue ketemu Sisil. Dia mau nih gue ajak ikut kita latihan.” Ucap Maul pada Gue, Ryan, dan Azzam.

“Sisil siapa?” Tanya Azzam yang belum pernah bertemu dengan Nia sebelumnya.

“Ada lah temen gue. Boleh ya kapan-kapan gue ajak dia?”

“Ya ajak aja. Cuman, emang keliatan keren ya kalo kita cuman mainin lagu-lagi pop?” Saut Ryan.

“Iya ya.” Ucap Maul pelan sambil menganggukkan kepalanya berkali-kali.
“Lo kalo sama Ubay biasa mainin lagu apaan Zam?” Tanya Maul sejenak kemudian.

“Ya apaan aja. Lagu-lagunya SUM 41, Blink 182, Greenday..”

“Nah, kita mainin lagunya Blink. Gue suka mereka dari SMP. Besok latihan kita coba mainin lagu mereka ya.” Ucap Maul semangat yang disambut helaan napas berat dari Ryan.

“Kenapa Lo? Kok kaya gak suka gitu?” tanya gue ke Ryan.

“Segala mainin lagu-lagu Blink, bahasa inggris aja gue kagak bisa.” Jawab Ryan.

“Kan pake teks, Samsul.” Toyor Maul.

“Mau pake teks juga kalo gue kagak bisa bacanya gimana gue bisa nyanyiinnya, Hartono.” Toyor balik Ryan ke Maul yang kemudian disambut tawa oleh Azzam.
Diubah oleh ucln

Part #5

Hari ini harusnya kami dijadwalkan bermain musik sepulang sekolah seperti biasanya. Namun karena Azzam hari ini gak masuk sekolah, dan Ryan sedang sakit flu yang membuat suaranya jadi terdengar seperti suara bapak-bapak, maka kami memutuskan untuk gak main dulu hari ini. Ryan pun langsung pulang selepas jam sekolah berakhir, sedangkan gue mengajak Maul nongkrong dulu di SMK xx, berharap bisa bertemu Nia disana. Tentu saja dengan alasan ingin minum jus buah biar gak gampang sakit kaya Ryan dan Azzam. Dan Maul pun mengiyakan tanpa rasa curiga.

Setelah hampir satu jam berada di warung jus bersama Maul. Gue gak mendapati tanda-tanda kehadiran Nia. Maul juga sepertinya sudah mulai bosan karna kami mulai kehabisan bahan obrolan. Akhirnya Maul pun mengajak pulang. Yang tentu saja mau gak mau harus gue ikuti daripada semakin terjebak dalam kebosanan.

Maul melanjutkan berjalan kaki menuju rumahnya, sementara gue menunggu angkot di sebuah halte diseberang SMK xx. Hari sudah semakin sore. Dan sekolah SMK pun sudah terlihat cukup sepi. Hanya ada satu-dua orang siswa yang terlihat baru keluar dari dalam gedung sekolah.

Tepat saat angkot yang gue tunggu telah menampakkan kaca depannya perlahan mendekat kearah gue, dari dalam gedung sekolah gue melihat Nia berjalan perlahan menuju pelataran luar sekolahnya. Membawa dua buah tas tenteng yang berisi gulungan-gulungan kertas karton. Gue tertegun sejenak menatapnya dari kejauhan. Hingga tanpa sadar gue tersenyum menatapnya. Seperti menemukan sebuah jawaban atas rindu yang telah menggebu untuk menatap wajahnya.

“Oi. Mau naek gak, tong? Cengengesan aje lu.”

Angkot yang sejak tadi gue tunggu kini sudah berhenti tepat di depan gue. Dengan kepala sang supir yang melongok dari kursi kemudinya dan memanggil gue, membuyarkan lamunan gue yang berharap ada backsound lagu-lagu india untuk memperindah suasana.

“Kagak bang.” Jawab gue singkat dan mencoba menyeberang jalan dengan berlari kecil untuk menghampiri Nia.

Setelah jarak gue hanya beberapa langkah dibelakang Nia, gue menghentikan lari kecil dan mulai berjalan perlahan dibelakangnya, lalu menyamakan irama kaki gue untuk sengaja gak mendahului atau berjalan disampingnya. Gue memilih menikmati berjalan dibelakangnya sesaat, sambil tersenyum kecil melihatnya kerepotan membawa tentengannya.

“Perlu bantuan?” ucap gue dari belakang Nia yang langsung menoleh kearah gue.

Dia berhenti dan menatap gue sejenak. Seperti berusaha mengenali wajah gue. Dan jujur saja, ada sedikit rasa kecewa saat melihatnya membutuhkan waktu cukup lama untuk mengenali gue.

Nia akhirnya tersenyum begitu berhasil mengingat gue. Lalu ia memberikan dua buah tas tenteng nya yang berisi banyak gulungan kertas karton itu ke gue. Pertanda meminta gue membawakannya.

“Tadi nawarin bantuan kan? Ini bawain dong.” Ucapnya sedikit kesal saat gue gak segera mengambil tas nya.

“Bisa pake kata tolong?” ledek gue.

Nia menggelengkan kepalanya lalu meletakkan kedua tas nya di tanah, dan melanjutkan berjalan. Gue hanya tertawa melihat tingkahnya sambil kemudian membawa dua tas tentengnya dan berjalan mengejar Nia. Gue bisa mendapati dengan jelas dia tersenyum ketika ia menoleh kebelakangnya, kearah gue. Senyuman yang seolah meledek gue, namun bagi gue justru senilai sebuah kata ‘aamiin’ yang diucapkan setelah doa.

*****


Gue dan Nia berjalan kaki tanpa sebuah obrolanpun yang menengahi. Hingga beberapa ratus meter kemudian kami sampai di sebuah gerbang masuk komplek. Yang gue tau gak begitu jauh dari rumah Maul. Sepertinya kali ini gue harus mengakui bahwa apa yang pernah Maul ucapkan memang benar. Bahwa rumah Nia berada di komplek seberang rumah Maul.

Nia memelankan langkahnya ketika kami telah berada tepat di depan sebuah rumah yang menurut gue cukup besar, atau bahkan terksean mewah. Hingga akhirnya ia menghentikan langkahnya, dan menunggu gue yang tertinggal beberapa langkah darinya. Lagi-lagi dia melemparkan senyumnya. Sebuah senyum yang langsung ditangkap oleh hati gue, meski raga gue hanya bisa turut tersenyum membalasnya.

“Gak berat kan?” Tanya Nia sambil kembali mulai melangkah begitu gue berada tepat disampingnya. Gue hanya menjawabnya dengan gelengan kecil.
“Masuk dulu ya, gue bikinin minum.” Lanjutnya sambil membukakan pintu pagar rumahnya dan mempersilahkan gue untuk masuk.

Nia membuka sepasang daun pintu masuk utama rumahnya dan menunjuk kearah dalam bagian rumah dengan kepalanya, pertanda meminta gue masuk. Gue mengikuti sesuai arah yang ia tunjukkan. Lalu kami berjalan menuju sebuah sofa yang dipersilahkan ke gue untuk gue duduki. Nia kemudian mengambil dua tas tenteng yang sejak tadi gue bawa, lalu berjalan ke sudut kanan rumahnya. Menaiki sebuah tangga melingkar sambil tersenyum pertanda meminta gue menunggu sebentar. Yang gue jawab dengan senyum dan anggukan.

Gue melihat ke sekeliling rumah yang besar namun benar-benar terasa sepi ini. Terlalu besar untuk ditinggali hanya satu keluarga menurut gue. Ada beberapa foto dipajang ditembok yang terlihat langsung dari sofa yang gue duduki saat ini. Satu foto seorang lelaki muda yang sedang memakai pakaian wisuda. Yang gue tebak sebagai abangnya Nia. Kemudian foto seorang wanita muda, dengan rambut pendek mirip potongan serang lelaki. Yang ini gue susah membedakan apakah ini adalah Nia saat kecil, atau malah adiknya. Dan sebuah foto besar sepasang suami istri yang jelas sekali adalah kedua orang tua Nia.

“Maap, Den. Mau minum apa?” seorang wanita agak paruh baya membuyarkan lamunan gue saat memperhatikan jejeran foto ditembok.

“Eh? Engg.. Apa aja Bu. Ga usah repot-repot.” Jawab gue ke seorang yang gue duga assisten rumah tangga disini.

Si Ibu menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, lalu berjalan kembali kearah bagian dalam rumah yang posisi duduk gue membelakanginya.

“Gus. Bentar ya. Lo buru-buru gak?” Tanya Nia dari lantai atas dengan melongokkan kepalanya.

Gue harus mendongakkan kepala untuk dapat meraih Nia kedalam pandangan gue, dan lagi-lagi hanya menjawab dengan gelengan kecil dan senyuman. Menandakan gue ga sedang buru-buru dan bersedia menunggunya.

Beberapa menit gue gunakan dalam mode bengong sampai Ibu tadi mengantarkan segelas minuman buat gue yang gue terima dengan ucapan terima kasih. Terdengar suara senandung Nia dari lantai atas. Diiringi dengan suara sandal karet dan irama langkah Nia yang menuruni anak tangga satu per satu.

“Lo udah makan belom Gus? Keluar yuk cari makan.” Ajak Nia sambil membanting tubuhnya ke sofa disamping gue.

“Belom sih. Mau cari makan dimana? Emang ada yang buang?”

“Ya bukan nyari di sampahan juga kali. Gue pengen makan mie ayam di deket rumahnya si Maulana situ. Mau gak jalan kesana?”

“Yaudah, ayok.” Jawab gue singkat sambil bangkit dari duduk dan diikuti oleh Nia.

Matahari pun telah semakin jatuh menuju tempat istirahatnya saat cakrawala telah di dominasi oleh warna jingga. Kami berjalan santai beriringan keluar komplek perumahan. Menuju seberang jalan yang gak begitu jauh dari rumah Maul.Sesekali Nia menanyakan hal-hal mendasar seperti gue tinggal dimana, atau apa kesukaan dan hobi gue, serta hal basa-basi lainnya. Gue pun menjawab dan balik bertanya beberapa hal kecil demi mempertahankan obrolan dengan Nia.

Ya, hanya beberapa hal kecil dan mendasar. Namun obrolan itu mampu masuk dengan mudahnya membuat gue bergegas menuju dasar hati gue, dan berbenah untuk menyiapkan tempat untuk Nia disana.
profile-picture
phntm.7 memberi reputasi
Diubah oleh ucln
Laaah, kok ganti lapak lagi? Yo wis lah, jadi kebagian pejwan. Hihihihi. emoticon-Leh Uga

Apa kabar Om Ucln yang ganteng? emoticon-Kiss (S)
profile-picture
profile-picture
KrocoOnly dan ucln memberi reputasi
Diubah oleh @soygeboy
numpang di pejwan emoticon-Cool
di thread baru
Komen dulu baru baca emoticon-Big Grin
Lanjutkan emoticon-Hammer
profile-picture
ucln memberi reputasi
Diubah oleh dewapanggung
pindah di sini rupanya tritnya,
Pantesan ane liat di trit Q&A kok yg trit kemaren di req delete.emoticon-Big Grin

Nia jadi target pertamanya si bagus nih.
profile-picture
ucln memberi reputasi
Diubah oleh g.gowang
Quote:

Ah siaap.

Quote:

Ribet kalo TS sama yg apdet beda akun emoticon-Hammer
Quote:


Ribet ganti2 akun emoticon-Ngakak (S)

Kabarnya masih sibuk narik, jadi masih susah nyari waktu buat buka kaskus
lah ganti lapak ini lagi haha. lanjutkan gan.
btw rules updatenya kayak di note lapak sblmnya kah ?
profile-picture
ucln memberi reputasi
Quote:


Lagian kenapa juga musti ganti ganti akun? Eeh eh kenapa sih ya? Ane ndak faham soalnya. emoticon-Big Grinemoticon-Big Grin


Widih persiapan lebaran yaa, banyakin recehan om buat nyawer bocah bocah. emoticon-Big Grinemoticon-Hammer (S)
profile-picture
ucln memberi reputasi
ane pasang patok ya om ucln emoticon-Ngacir
Quote:


Bukan target pertama, tapi yg pling indah emoticon-Ngacir
profile-picture
profile-picture
ucln dan g.gowang memberi reputasi
Quote:

Rules atau jadwal apdet nih?
Kalau jadwal sesempatnya sibagus ngirim tulisan emoticon-Ngakak (S)

Quote:

Tau aja yang ponakannya banyak 😂

Quote:

Om Ipunk ga ada jadwal ngejunk kah emoticon-Leh Uga
Quote:

Sibagus demen sama Nia apa indah sih? emoticon-Ngakak
Quote:


Update nya om. Kan sblmnya page genap & tgl genap tuh hehe
profile-picture
ucln memberi reputasi
Quote:


Ga jadi, tergantung kiriman stok ceritanya aja
profile-picture
tom122 memberi reputasi
Quote:


Siap. Lanjutkan pokoknya dah hehe
profile-picture
ucln memberi reputasi
Quote:

Sipp, pakai Id yg ini aja yg ter famous, emoticon-Ngakak (S)
Quote:

Tetep yg paling indah yg jadi bininya sekarang dong,,emoticon-Big Grin

--------------
walik versi kasap,emoticon-Hammer2
profile-picture
ucln memberi reputasi
Diubah oleh g.gowang
Halaman 1 dari 17


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di