alexa-tracking
Kategori
Kategori
Pengumuman! Kuis ini Cuma Buat Fans Game of Thrones Sejati. Hadiahnya Mangstab Gan!
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Rumah Terbengkalai (True Story)
5 stars - based on 10 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c8b2d0709b5ca16c40401cc/rumah-terbengkalai-true-story

Rumah Terbengkalai (True Story)

Tampilkan isi Thread
Halaman 4 dari 9
ditunggu lanjutannya gan, semalam bacanya pas malam jumat lagi, berasa juga horornya
mantaf gan, numpang bikin Tenda emoticon-Ngakak
Oke ane tandain.
Asal ente jgn jd penghuni rumah kentang ya
emoticon-Hansip
profile-picture
ryochin memberi reputasi
Quote:

siap gan...

Quote:

smoga trhibur gan..

Quote:

syhapp..

Quote:

mksih gan.. mga bisa menghibr ya

Quote:

monggo gann..

Quote:

siap update.

Quote:

mantap gan.. silhkn..

Quote:

siap gan.. hihi

Menguji Mental Part 2

***
Apa aku tertidur di dalam toilet lalu bermimpi?

"Sudah selesai Mas?" ucap Arif, dengan datar dan menerobos masuk ke dalam toilet.

"Udah Rif," jawabku masih linglung.

Aku berjalan menuju kamar dengan wajah kosong menatap lantai, aku masih tidak mengerti apa yang sebenarnya telah terjadi.

Setibanya aku di kamar, terlihat Arif sedang duduk bersila, dengan asap rakok yang masih mengepul pada asbak di depannya, ia sangat asik bermain game seorang diri.

"Rif?" tanyaku singkat, ia menoleh sesaat melihat ke arahku.

"Yo, main game ini seru banget gile," jawabnya.

Lalu yang di toilet ?

"Kebanyakan bengong nih anak, nanti kesambet baru tau," tambah Arif.

Aku duduk bersandar pada tembok di dalam kamar, pandanganku tak henti mentap tajam ke arah Arif yang berada di depanku, hingga aku menjulurkan kaki untuk menyenggol pinggangnya dengan jempol kakiku.

Ah, tidak tembus, berarti makhluk ini yang asli.

"Rif, gimana, ada kabar dari yang lain?" tanyaku dengan nada sedikit bergetar, aku masih sangat syok denga kejadi yang baru aku alami.

"Coba cek di henphone 'ku, apakah ada balasan dari mereka," jawabnya memberikan handphone.

Ada tiga pesan masuk yang berisi dari Jainal, ia menulis pesan jika nanti akan bermalam di rumah Loji berserta dua temannya setelah usai latihan Band. Sedikit perasaan lega, seakan ada harapan baru yang membuatku tenang.

"Jenail, mau ke sini, tapi masih latihan sama Band 'nya," ujarku sambil meraih Stick game dan memulai tarung permainan.

Tepat jam 23:00 Wib, terdengar suara kendaraan beroda dua yang datang menghampiri, aku sudah mengenali suara motor Janial, lagi pula tidak ada motor yang mau melintas malam hari di lokasi ini.

"Wis, anak Band datang juga, sama siapa Nal," seru Arif, Jainal masuk ke ruangan kami di susul oleh Kopral dan Mahyong, mereka berdua teman satu Band Jainal, namun tidak begitu akrab denganku.

"Sorry lama, biasa kalau sudah di dalam studio, pasti minta nambah, gakakak," jawabnya sangat riang.

"Eh, Pral, Yong, masuklah sini, bikin kopi gih, ada di belakang," sapaku berjabat dengan mereka berdua.

"Wah bener Den, enak kopi ada Game ada," jawab Kopral.

"Iya gini deh kerjaan gue sih Pral, kalau ente suka, main aja ke sini, jangan sungkan-sungkan," tambahku.

"Wah, yang bener kaka, bisa tiap malam kita nginep kalau tau ada beginian," saut Mahyong.

"Gue aja baru tau dari Ardan, kalau kalian nginep lagi di rumah Loji, makanya gue ke sini," tambah Jainal, ia berjalan ke arah dapur, mungkin hendak membuatkan kopi untuk ke dua temannya.

"Ya sudah kalian duduk aja dulu, mau main game silahkan tuh tarung sama Arif," ujarku.

"Siap, gampang itu sih," jawab Mahyong mengacungkan jempol ke atas.

"Ngomong-ngomong, ini rumah berapa lantai Den, dari kapan mulai di bangun," tanya Kopral berjalan melihat-lihat ruangan.

"Kurang lebih enam bulan, lantai bawa 80% sudah jadi, tapi dari lantai dua sampai lima masih tahap pekerjaan," jawabku.

"Calon keren ini rumah, tapi sayang daerah sini masih jarang rumah, gue jalan aja dari tadi gelap gitu sepanjang jalan," tambah Jainal berjalan menghampiri dengan segelas kopi panas yang ia bawa.

"Beh, daerah sini mah suram dah," aku mengkerutkan halis menangkap perkataan Kopral.

"Suram?" tanyaku memperjelas.

"Tanya noh si mahyong rumah dia di Ciomas, desa tetangga, cuma di tempat dia sudah ramai," tambah Kopral.

"Ah, besok pagi aja mau cerita sih, ngga enak cerita sekarang," jawabnya nyengir kuda.

"Serius apaan Yong," paksaku.

"Ya gitu deh, pokoknya kalau ada yang aneh-aneh jangan dianggap serius, diemin aja," singkat Mahyong sambil menyeruput kopi hangatnya.

Perkataan Mahyong sungguh membuatku sangat penasaran, "udah ceritain aja sekarang biar seru," tambahku.

"Ayo, duduk, kumpul-kumpul," ujar kopral, kami mulai duduk menanti apa yang akan diceritakan oleh Mahyong.

"Tahukan belokan yang tidak jauh dari rumah ini, yang ada dua pohon kapuk besar," ujar Mahyong sambil menunjukkan lengannya.

"Di sana tempat orang buang jin, banyak juga yang bunuh diri," raut wajah Mahyong nampak serius dengan perkataannya.

"Sudah ngga kehitung berapa banyaknya," tambahnya mengakhiri percakapan.

"Ah, serius loe Yong? perasaan biasa aja kalau kita lewat situ," tanyaku semakin penasaran.

"Jangankan di sini yang deket, kampungan gue aja sering di ganggu," jawabnya.

"Tapi, semoga saja sudah tidak ada lagi," tambahnya.

"Berr, merinding gue denger cerita lu Yong," cetus Kopral mengusap tengkuk lehernya.

Jika apa yang diucapkan Mahyong benar, itu sudah sedikit mewakili semua hal ganjil yang kerap aku rasakan di rumah ini, ingin sekali rasanya menyampaikan yang sedang terjadi di sini pada keluarga Arif, namun lebih baik mereka yang menyadarinya sendiri.

"Yang pasti kalian jangan ngusik meraka, biarkan saja masing-masing," ujar Mahayong, terdengar mengingatkan kami, "jangan bersikap sompral, dan jangan takabur," tambanya.

"Gue, bermimpi, ada seorang nenek di sini yang sangat marah dengan kedatangan kami, apa itu seperti pertanda?" ujarku.

"Ya ngga tau juga deh, tapi semoga saja bukan," jawab Mahyong singkat.

"Lalu, kejadian apa aja yang menghantui kampung u Yong," ujar Kopral.

"Terakhir, tentang kuntilanak yang mebuat hebong seisi kampung," jawab Mahyong.

"Oh, iya, ia, aku juga pernah dengar," balas Kopral, "oh, ternyata di sini toh sumbernya," tambah Kopral.

Angin berhempus kencang menerpa kaca kamar, udara malam sangat dingin terasa..

"Tahu apa penyembabnya?" Mahyong melirik pada kami dengan pandangan berganti, "dulu, ada satu keluarga yang hidup miskin di desa kami, suaminya meninggal akibat kecelakaan, Sehingga mengharuskan Siti, ibu dari satu orang anak ini bekerja keras siang dan malam, guna mencukupi kebutuhan mereka.
Hingga hari naas itu terjadi, Siti dijadikan kambing hitam oleh seorang teman kerjanya, ia dituduh sebagai pencuri perhiasan majikannya. Warga yang geram lantas mengusir Siti dan anaknya keluar dari kampung kami, tidak puas hanya mengusir keluarga malang itu, warga yang tak ingin Siti kembali ke desa lalu membakar rumah gubuk yang terbuat dari dinding bilik hingga rata dengan tanah, selang berapa hari dari kepergian Siti, warga mendapatkan kabar dari luar desa jika anak Siti yang baru berusia enam tahun telah meninggal dunia karena terserang penyakit demam berdarah, dalam hitungan hari setelah berita itu tersebar teror pun dimulai, satu persatu warga desa didatangi oleh sesosok wanita berkain putih yang di penuh dengan noda darah di sekujur tubuhnya. Hanya ada satu orang yang mendapat teror hebat dari sekian banyak warga, orang itu bernama Ayu, ia teman satu pekerjaan dengan Siti, dan ia juga yang telah menjadikan Siti sebagai kambing hitam. Kemana pun Ayu pergi, terutama saat menjelang malam, Ayu dan keluarganya selalu diteror habis-habisan oleh sesosok kuntilanak yang diduga perwujudan dari mendiang Siti, tak kuat dengan apa yang selalu menggangunya, Ayu dan keluarga memutuskan untuk menjual rumahnya dan berpindah ke desa sebelah dengan harap Ayu dan keluarga bisa lepas dari jeratan teror kuntilanak itu,"

"Lantas apa yang terjadi terhadap Ayu dan keluarganya?" tanyaku yang semakin penasaran.

"Rumah yang baru ia beli, terbakar secara misterius, beruntung suami dan tiga orang anaknya berhasil meloloskan diri dari insiden itu, namun Ayu tewas mengenaskan, tubuhnya hangus terpanggang hingga sulit untuk dikenali," ujar Mahyong membuat kami hanyut dalam suasana menegangkan di tengah kesunyian angin malam, kami masih melanjutkan perbincangan menarik ini.

"Masih bingung, kenapa tiba-tiba Siti menjelma menjadi sesosokan kuntilanak?" potong Arif dengan singkat.

"Tubuh Siti diketemukan tewas pada sebongkah batu di tepi sungai, kepalanya rusak akibat benturan, diduga ia bunuh diri dengan cara terjun dari atas bukit," kata Mahyong mengakhiri ceritanya.

"Rumah terbakar? sungai?" aku mencoba mengingat akan sesuatu.

"Tul, di depan sana ada sebuah rumah yang hangus terbakar, di sanalah Ayu meregang nyawa," pangkas Mahyong, aku mengangguk-anggukan kepala menyadarai akan satu hal.

Oh, jadi seperti itu.. pantas saja..



Next Episode>🙏 Mohon maaf jika ada tutur kata yang kurang berkenan. Sampai berjumpa lagi di episode berikutnya.
profile-picture
profile-picture
meizhaa dan dupa.fair memberi reputasi
ngeri juga asal muasalnya, ini loji nya dimana om? udah banyak rumah sekarang yah?
lanjut gaan...
ditunggu kelanjutannya
Quote:


Start reading klo gitu
emoticon-Blue Guy Cendol (L)
Quote:


ane lupa alamtnya.. emng dari awal jga ga prnah tau almt lengkpnya gan.. iya udh rame skrng mh, cuma rumah ini tetp ada.. msih beraura mistis..

Quote:



Quote:


Quote:


Otw update gan...

Menguji Mental Part 3

Mendengar apa yang diceritakan Mahyong aku hanya terdiam dengan sejuta tanda tanya.

Mungkinkah semua kejadian ini saling berkaitan. pikirku melayang pada Kakek dan Nenek pemilik rumah ini sebelumnya.

Tapi aku tidak bisa begitu saja berspekulasi, karena belum tentu apa yang aku alami itu benar-benar terjadi.

"Lantas apa yang terjadi setelah rumah Ayu terbakar?" tanyaku, semakin penasaran dengan kisah Ayu.

"Setelah kejadian itu keluarga Ayu menghilang entah ke mana, jazad Ayu dimakamkan jauh dari desa ini, namun, arwah Ayu selalu menghantui setiap kali warga melintas tepat di depan rumahnya, itu semua membuat Desa sangat tidak nyaman," tambah Mahyong.

"Apa ada hubungannya dengan rumah ini?" tanyaku.

"Sepertinya tidak ada," Mahyong menatap langit-langit mengusap dagunya, mencoba mengingat sesuatu, "tapi aku tidak tau pasti, menurut warga, jazad anak Siti dikuburkan pada suatu tempat, entah di mana."

"Ya, aku sendiri yang memakamkannya."

"Aduh Den, udah ga usah bahas hal kaya gitu deh, kita ke sini buat senag-senang, bukan buat cerita horor," potong Jainal, yang mulai merasa risih dengan percakapan kami.

"Ya tadikan gue bilang, gak perlu cerita yang aneh-aneh, tapi Bapak ini pengen tahu banget," balas Mahyong menunjuk padaku.

"Dah, sini main game aja lawan gue," jawab Arif.

Jainal, Kopral dan Mahyong menerima ajakan Arif untuk bermain game bersama, namun tidak denganku.

Entah mengapa, hatiku terasa teriris-iris ketika mendengar kisah Siti dan Anaknya, rasa penasaran yang kuat berkecamuk dalam benak-ku.

Malam yang terus merambah membuka kesunyian yang semakin dalam, Arif, Jainal, Kopral dan Mahyong tengah asik bermain game,
hingga kami dialihkan oleh suatu suara yang sangat aneh.

"Ssseeett, diem," Ucap Kopral membuat kami serentak membisu, meningkatkan indra pendengaran.

"Nah, tuh, dengar ngga?"

"Iya, denger gue, kaya ada yang getok-getok tembok di kamar sebelah," Jawab Arif berbisik.

Kami semua mendengar suara benturan bertubi-tubi, seperti benda tumpul yang dipukulkan pada dinding kamar yang menjadi pemisah ruang kami dan kamar sebelah.

"Eh, itu kamar sebelah ada orangnya ngga si Rif," tanya Mahyong.

"Cuma ada bahan bangunan di situ, ngga ada orang lain lah," jawabnya.

"Cek yu, takut maling," bisik-ku mengajak.

Kami semua beranjak dari duduk, dan mulai melangkah perlahan-lahan menghampiri pintu kamar nomer dua yang tertutup rapat.

"Ssssttt, pelan-pelan," bisik Arif yang memimpin di depan kami.

"Itu, ambil balok," tunjuk Jainal pada sebongkah balok yang tergelatak di bawa meja ruang tamu.

Aku mengambil balok yang tak terlalu besar mungkin cukup hanya untuk berjaga-jaga.

"Siap? gue buka nih pintu," bisik Arif yang telah bersiap membuka pintu kamar.

Arif membuka pintu kamar dengan kasar hingga membuatnya terbuka lebar. Senter yang dipegang Jainal serentak menerangi setiap sudut kamar yang gelap gulita.

Hanya ada satu jendela mati berada di sudut atas yang tak mungkin bisa di raih atau membukanya.

Kamar ini begitu tercemar oleh debu semen yang sangat pekat, di dalam hanya ada ember-ember berisi perkakas pekerja dan tumpukan semen memenuhi sudut kiri ruangan.

Mustahil untuk tikus masuk ke ruang tertutup ini, dan lagi suara tadi terdengan di bagian tengah dinding yang bersebelahan dengan ruangan kami.

"Jendela aja jauh gitu, gak bisa di buka itu-kan?" tanya Jainal menyorot sebuah jendela dengan senternya.

"Ngga ada, itu jendela mati buat fentilasi doang," jawab Arif.

"Ah sudahlah, mungkin cuma tikus," tambahku.

"Ya udah, cabut dah," tambah Kopral.

Kami menutup kembali pintu kamar tersebut dan kembali pada ruangan kami, tapi, tak lama aku berpaling dari bibir pintu, kami kembali mendengar suara ketukan yang sama namun dengan nada yang lebih besar dari sebelumnya.

"Ada lagi?" ucap Arif dengan wajah memias.

"Wah, gak beres nih," balas Mahyong.

"Cek lagi?" tanyaku.

Kami memutuskan untuk kembali pada kamar tersebut dan mencari tahu penyebab dari ketukan itu.

"Gua buka ya?" ujar Kopral yang membuka pintu tanpa ragu-ragu.

Pemandangan tak jauh berbeda dengan sebelumnya, kami tidak melihat satu tikus-pun yang berlalu-lalang di dalam kamar.

Tak sampai di sini, kami yang penasaran lantas mencari kesemua penjuru kamar, sampai celah-celah kecil tak luput dari pencarian kami.

"Duh, ini kamar lampunya mati ya?" ujar Arif, menaik turunkan sakelar lampu.

"Lah, kemarin si masih idup lampunya," jawabku.

"Udah, boro tikus, kecoa aja gak ada di sini," ujar Mahyong.

Pencarian sia-sia kami hentikan, tak ada satu ekor-pun tikus yang terjebak di dalam kamar ini.

"Bukan tikus kalau kata gue sih, kalaupun suara itu dari tikus, pasti tikusnya badak," ujar Jainal sedang menerawang pada celah-celah tumpukan semen.

"Terus apa dong," balas Kopral, menatap kami satu persatu.

"Entahlah," jawabku menaikan pundak sesaat.

"Udah main game lagi aja, biarkan pintu ini terbuka, kalau tikus dia pasti keluar sendiri," ujar Arif.

Kami kembali meninggalkan kamar dengan pintu terbuka lebar.

"Emang sering ya ada hal kaya gini?" ucap Mahyong dalam perjalanan menuju kamar pertama.

"Ngga sih, baru kali ini doang," komentarku.

"Dah, mending tidur aja deh yuk, udah mau jam 2 ini," tukas Jainal merebahkan tubuhnya pada kasur lantai.

Kami tidur berjajar pada kasur busah yang berada di ruangan tak berpintu, yang menjadi tempat kami bermain game.

Aku berbaring tepat di sisi paling kiri, menatap langi-langit dengan penuh keraguan yang tak menentu.

Hantu hanya ada pada serial TV maupun film, mungkin tidak jika terjadi pada dunia nyata?

Aku sangat penasaran dengan suara ketukan yang baru saja kami alami dan memutuskan untuk mencoba hal konyol yang tak mungkin terjadi.

Melihiat Arif dan lainnya sudah tak bersuara, aku beranjak dari tidur, merangkak perlahan menuju dinding yang memisahkan ruang kami dan kamar tersebut.

Dugg.. Dugg..
Aku mengetuk tembok dengan lenganku .., namun tak ada jawaban.

Dugg.. Dug.. Dugg...
Masih juga tak ada jawaban.

Aku tersenyum tipis dalam kecemasan.

Tindakan yang sangat bodoh.

Kembali aku berbarangi pada tempatku, dengan mata sayup aku mulai terpejam...

Bruuuuuaakkkk ...!
Bantingan pintu menggelegar keras, memecah keheningan, membuatku terperanjat hingga terduduk.

Detak jantungku terasa mati seketika, hingga akhirnya berdebar dengan cepat, memompa pembuluh darah naik sampai kepalaku.

Belum usai tubuhku terguncang oleh hentakan pintu, aku kembali dihadapkan oleh sebuah bayangan hitam yang melintang dari arah dapur hingga pintu depan.

Bayangan itu hanya diam, tak bergerak sedikitpun, hingga aku menyadari, jika ada sesuatu yang sedang memperhatikan ku pada sudut kanan pintu, meski aku tidak meliriknya samar terlihat sesosok kepala dengan rambut yang sangat panjang, sedang menatapku dari bibir pintu.

Bayangan hitam yang aku pandangi, mulai berbentuk menjadi sebuah rambut panjang yang kusam bagai kawat halus yang berkarat.

Berpura-pura tidak melihatnya, hanya itu yang bisa aku lakukan, dengan tubuh yang kaku menatap lurus ke depan tanpa berkedip sedikitpun.

Jangankan untuk berbicara, untuk menalan ludah saja aku tak bisa, ingin rasanya menanyakan siapa dia, namun aku hanya membisu.

***
'Bused, ini bocah panas amat.'
'Beh, sakit dia.'
'Den, Den. Udah siang,'

Merasa hentakan kuat pada tubuh, aku membuka mata perlahan, terlihat teman-temanku sedang berkumpul menanti aku tersadar.

Kepalaku terasa sangat pusing dengan badan bergetar tak karuan, nafasku terengah-engah seakan tertekan oleh sesuatu.

"Panas amat badan loe Den," aku melirik lemas kearah Arif.

"Bawa ke dokter aja Rif," tambah Janial.

"Ya udah cuci muka aja gih sana, kita ke dokter," ujar Arif, mempahku terduduk.

Badanku terasa sangat berat, dengan tubuh lemas, aku mencoba berdiri dengan segenap tenaga yang ada.

Aku nyaris terhepas, namun Arif menahan tubuhku, sekejap aku merasa seakan dunia berputar dengan cepat.

"Ett, ett, aduh lebay amat," Arif membantu-ku berjalan hingga depan pintu kamar mandi.

"Sumpah gue lemes Rif," kataku datar.

"Ya udah sana cepat, kita ke dokter, nanti keburu siang."

Aku bergegas masuk ke dalam toilet berniat membasuh wajahku, namun ketika hendak mengambil gayung pada Bak mandi.

Aku terpana mengkerutkan kedua halis, melihat pantulan wajahku di atas air yang berwujud seorang wanita dengan kulit putih pucat.

Reflek terkejut aku memukul kuat genangan air yang berada di hadapanku, hingga membuat suara gaduh.

"Oy, ngapa Den," nada Arif mengetuk pintu toilet.

Ini halusinasi, ya, aku hanya berhalusinasi.

Dengan nafas masih tak beraturan, perasaan yang was-was, aku kembali mencoba bercermin pada air di dalam Bak mandi.

Mataku membesar, bibirku bergetar, tak mampu berkata apa-apa.

Pantulan wajahku kembali menyerupai seorang wanita, kulitnya begitu putih pucat, wajahnya terlihat kecil oleh dagu yang hampir meruncing, dengan rambut panjang berponi yang menutupi alis namun tidak dengan mata sedikit sipitnya. Lengkung hidungnya berayun memancung menghiasi bibir tipis-nya.

Aku terus memandangi pantulan wajahku dengan penuh kebingungan,
sesekali aku menoleh ke belakang memastikan jika tidak ada orang lain pada toilet ini.

Oke, ini hanya halusinasi, kondisi-ku sedang tidak stabil, dan lagi, tidak ada hantu di pagi hari. Sebaiknya aku segera ke dokter.

Beberapa saat aku memandangi pantulan wajahku, meski tidak menyeramkan namun tetap membuatku terheran-heran.

Aku bergegas keluar dari toilet, dan bersiap untuk meninggalkan rumah Loji.

"Udah siap semuanya?" tanya Arif bersandar pada tiang pintu, "jangan ada yang ketinggalan, jaga-jaga takut ngga nginep di sini lagi," tambah Arif mengepulkan asap pekat dari batang rokoknya.

Tubuhku terhenti sesaat, menoleh cepat kearah Arif yang berada di belakangku, "maksud loe apa, ngga balik ke sini lagi?" jawabku, yang tanpa sadar menggengam kerah baju Arif dengan sangat kuat.

"Den?" wajah Arif terlihat dalam kebingungan, "Loe ngapa," Arif mengoyak bahuku.

Amarah yang tak jelas, memudar seketika, aku sadar, aku bisa melihat, namun aku tidak mengerti mengapa, kenapa aku berubah menjadi sangat sensitif.

Aku yang melirik kaki Arif yang telah setengah berjinjit, serentak melepas genggamanku.

"Den?"

Aku hanya menunduk dengan tatapan kosong, dalam ketidak pastian aku mencoba mengatur laju nafasku yang berhembus dengan cepat.

Ada apa denganku? aku tidak bisa mengendalilan amarahku? aku hampir melukai Arif sodara terbaikku.

"Ma-maafin gue Rif, gua benar-benar ngga enak bedan hari ini." ujarku dengan nada datar.

"Slow aja Den, ya udah ke dokter yuk," aku mengangguk samar.

Sesaat kami di depan rumah terlihat para pekerja yang mulai berdatangan. wajahnya masih sangat asing untukku, mungkin mereka yang berasal dari Serang Banten.

"Eh, Arif, Den," sapa Mang Usman yang baru turun dari motornya.

Ia berbadan tinggi besar, kulitnya coklat ke putihan, dengan seragam loreng-nya ia terlihat gagah.

"Yah, payah, Mamang ke sini malah pada pulang," lanjutnya, berjalan menghapiri kami, "itu Deni pucet amat Rif, sakit?"

"Panas banget Mang badannya dari tadi pagi, ini juga mau ke dokter," balas Arif.

Mang Usman seperti terkejut saat menempelkan telapak lengannya pada kening-ku, "duh, panas amat Den," aku mengangkuk samar, "ya udah cepet di bawa ke dokter Rif, di pas pertigaan Ciomas ada," tambah Mang Usman, menunjukan jalan.

"Iya Mang, bisa ya lewat situ."

"Iya bisa nanti lewat pintu keluar Yoniv."

Aku hanya terdiam, pandanganku blur, sangat tidak fokus.

"Ya udah Mang ya, Arif nganter dulu," balas Arif, bersalaman.

Kami pun mulai meninggalakan Rumah Loji. berjalan menuju Ciomas untuk memeriksakan keadaanku yang sudah tak berdaya ini.
profile-picture
profile-picture
meizhaa dan dupa.fair memberi reputasi
Diubah oleh wedi
[quote=wedi;5cbb3a1ff4d695644c21115b]ane lupa alamtnya.. emng dari awal jga ga prnah tau almt lengkpnya gan.. iya udh rame skrng mh, cuma rumah ini tetp ada.. msih beraura mistis..







Gak bakalan ilang yah gan aura mistisnya
Quote:




trakhir ane ksitu si masih ngga bnyak prubhan gan.. cma agak rame aj si skrng mh..
Quote:


Jd penasaran ini gan
Pelanggan setia iji berteduh gan emoticon-2 Jempol
Seremm

Aku Kembali Part 1

Sabtu Pukul 13:00 WIB tepatnya Tahun 2004.

aku yang tengah berada di rumah Cilebut mendapatkan kabar dari Yudi yang memintaku segera kembali ke Bogor, untuk memantau aktivitas pembangunan rumah Loji.

Merasa kondisiku yang sudah sangat baik, mengingat. 3 minggu yang lalu aku terkapar tak berdaya oleh penyakit Cacar Api yang menjalar pada Radang Tenggorokan, diperburuk Maag Kronis yang membuat Fisikku dalam keadaan yang cukup lemah.

Tidak lepas dari tanggung jawab, Yudi yang mendengar aku jatuh sakit lantas mengirimkan sejumlah uang dan merujuk-ku untuk segera menjalani pengobatan di rumah sakit ternama Di Bogor, hingga kondisiku benar-benar pulih sepenuhnya.

Semua itu tentu saja membuat aku merasa tidak enak hati jika menolak tugas yang diberikannya, sampai hari ini aku telah memutuskan untuk kembali melanjutkan pekerjaanku.

***
Ditengah cuaca yang tidak begitu bersahabat, Angkutan Umum yang perlahan menepi. Aku tiba di pintu masuk Gg Rangai.

Jalan masih terlihat basah, dengan genangan air mengisi lubang-lubang jalan, dinginnya angin yang berhembus seakan jaket merah muda-ku tak berguna menahannya.

Begitu dingin di sini. Mengingat hujan yang baru mengguyur di kawasan ini, masih nampak sebagian orang yang sibuk membersihkan lantai dari genangan air pada depan rumahnya, bahkan ada sebagian yang masih berjalan dengan celana tergulung hingga tumitnya, sambil menyandang payung dan memakai jaket tebal, berlalu-lalang di sekitar Gg Rantai.

Aku berteduh dari hujan halus yang masih berjatuhan pada warung kelontong tepat di pintu masuk Gg Rantai.

Melihat kondisi cuaca dan jalan yang tergenang air hujan membuatku enggan untuk melangkahkan kaki, meski terlihat ada beberapa tukang ojek yang melambai ke arahku, namun biasanya mereka mematok harga yang lumayan mahal jika cuaca seperti ini.

Tak sabar menanti hujan halus mereda, aku membuka resleting pada tas selempang dan mengambil ponsel-ku.

"Hallo, Rif, gue udah di Gg Rantai nih, bisa jemput gak," ucapku, dengan ponsel hinggap pada daun telinga.

"Oke siap Den, tunggu yak," seru Arif, terdengar sangat bersemangat, mengakhiri panggilanku.

15 menit aku menunggu dan akhirnya terlihat dari kejauhan Arif berkendara menggunakan sepeda motor biru-nya.

"Oy, aduh, gimana, udah sehat bos," seru Arif yang baru tiba, berjabat tangan dengan meriah.

"Sehat, makin gagah aja loe Rif," balasku, ia terlihat rapih menggunakan celana Jeans hitam, dan sweater abu-abu, lengkap dengan jam tangan, walau sepatu putih hijau-nya, nampak kotor dan basah.

"Wah, biasa aja, eh sudah cepet naik, gerimis nih, nanti masuk RS lagi," cibir Arif membuatku tersenyum.

"Gimana kabar di Cilebut Den, sehat?" tanya Arif mulai melajukan motornya.

"Sehat Rif, cuma gue doang yang kena cacar, pipi kanan sampai bolong gini,"

"Waduh, terus sekarang udah sembuh total-kan?"

"Cacar si udah total sembuh, cuma Maag aja yang agak bandel."

"Biasanya gampang nular itu penyakit Den, tapi syukurlah kalau keluarga semuanya sehat."

"Eh, gimana itu Loji?" tanya-ku merubah pembicaraan.

"Ya gitu aja Den, lagi ribet banget."

"Ribet?"

"Yang kerja selalu minta pulang, ngga ada se-minggu udah tumbang satu persatu."

Mataku berkeliling, memikirkan sesuatu dari penjabaran Arif,
"kok bisa ya, terus sekarang ada yang kerja apa ngga Rif?"

"Ada, sisa tiga orang, tadinya team dia ada delapan orang, tapi yang lima udah pulang duluan."

"Hayyyaah, hamsyong amat."

"Iya pusing gua juga, yang tiga ini aja udah minta pulang, tapi masih ditahan."

"Alasannya apa si Rif?"

"Gak jelas alasannya, Istri lahiran-lah, sodara meninggal-lah, ada juga yang ngomong ngga nyaman tinggal di rumah itu."

"Suram amat, terus kalau ini pulang siapa yang mau ngerjain rumah."

"Tau deh, tapi A Yudi lagi cari orang, cuman belum dapat-dapat."

Percakapan kami terhenti ketika motor yang perlahan menepi, terlihat rumah berjajar 3 dan 2 yang mengahadap pintu masuk utama, hampir membentuk huruf 'L' jika melihat dari sudut udara, di sini-lah kampung halamanku.

tapi sepertinya penghuni di sini sedang berada di dalam rumahnya masing-masing, mungkin karena cuaca yang kurang bersahabat.

Suara gemerincing diiringi hentakan kunci, mengalihkan pandanganku pada daun pintu yang bersebelahan dengan rumah Arif.

Aku memanggut, tersenyum santun, melihat Mang Usman setengah melongok dari ambang pintunya.

"Eh, jagoan, kemana aja ini," seru Mang Usman lantas keluar dari rumahnya menyadari kedatanganku.

"Sakit Mang, kena Cacar Api," balas ku, mencium tangannya.

Merespon perkataanku, expresi gembira Mang Usman berubah.
"Ya Allah, penyakit mah ngga bisa di prediksi Den, makanya jaga kondisi baik-baik," aku mengangguk dengan senyum dalam,
"ini juga nih, si Gorif, begadang terus sama si Dede, belom aja kena penyakit," tambah Mang Usman sedikit mengejek, membuat Arif tertawa geli.

"Atuh Mang, mau begadang di rumah Loji massa-nya ngga ada, jadi weh di depan sini begadangnya," balas Arif mengusap kepalanya.

"Gelo, sampe jam empat subuh coba Den bayangin, pada main karambol, meuni hayang nyebor teh aing," kata Mang Usman seakan curhat namun membuatku ikut terbawa oleh sikap lucunya.

"Aduh, Mang, ampun-ampun, hampura," komentar Arif sambil terbahak-bahak.

"Yeh, Deni udah sampai," aku menoleh pada suara Ibu Arif yang baru membuka pintu rumahnya, "kirain suara si Dede," tambah Ibu Arif menyapaku.

"Iya, Wa, baru banget sampai," balas ku, santun mencium tangannya.

"Masuk atuh, kehujanan ngga? bikinin kopi atuh Rif," Ibu Arif, mempersilahkanku masuk.

"Apa mau di rumah Mamang aja, yu Den," sambar Mang Usman, masih penuh seru.

"Iya Mang, gampang di depan aja ngopinya," balas-ku sedikit sungkan.

"Yeh, mau di dalam juga gak apa-apa Den, lagi gak ada siapa-siapa, Bi Ida lagi pergi," kata Mang Usman, lantas menggandeng pundak-ku untuk ikut bersamanya.

"Ya udah atuh, kalau mau di rumah Mamang, nanti Uwa buatin makan aja ya," Kata Ibu Arif yang berdiri di ambang pintu.

"Iya, Wa, jangan repot-repot," balasku dengan nada rendah.

"Hayu atuh Mang, kita ngopi, karambolan ngga?" seru Arif, menyusul dengan langkah cepat.

"Ngga.. ngga, Mamang mah mau juga sama Deni, bosen maneh wae Rif," ejek Mang Usman tertawa membawa-ku masuk ke dalam rumahnya.

"Tega ih, Mamang satu ini," jawab Arif dan menyusulku.

"Ah, udah duduk kau Rif, Mamang mau bikin kopi," seru Meng Usman, ia lantas menuju dapur.

"Duh, jadi merepotkan Mang, oya, memang Bi Ida kemana Mang," tanyaku, lantas duduk bersandar pada sebuah sofa bludru berwarna hitam kecoklatan.

"Ga apa-apa, kaya sama orang aja, Bi Ida lagi ke rumah Kakak-nya Den, yang baru lahiran," balas Mang Usman, dengan membawa 2 cangkir kopi panas.

"Mang, gimana ini ya, rumah Loji," kata Arif, setelah ia melihat pesan di handphone-nya, wajahnya nampak kebingungan.

"Gimana apanya Rif," balas Mang Usman, menaruh kopi pada meja kaca yang tepat di depan kami.

"Ini si Babang, bingung mau cari perkerja kemana lagi, tiga orang yang ada juga mau pulang," lanjut Arif.

"Iya Ibu Arif juga cerita sama Mamang makanya kemarin dicariin orang lebak, mudah-mudahan aja ada yang mau," jawab Mang Usman, membungkukkan punggung perlahan duduk.

"Jadi penasaran, kenapa pada gak betah," kataku, menyandarkan kepala pada sofa, "padahal mereka enak, makan dapet, kopi ada, rokok-pun disediakan."

"Susah Den, Yudi narik orang dari Serang, mungkin ngga betah sama suasana di sini," balas Mang Usman menggelengkan kepala sedikit sinis.

"Jam 7 kita ke Loji aja Rif, tanya langsung ke pekerja," saran-ku, membuat Arif mengangguk samar.

"Ya sudah, minum dulu itu kopi, keburu dingin," kata Mang Usman menekan suasana yang mulai terasa serius.

Lalu kami hanya berbincang penuh canda gurau, tak ada percakapan penting selain membicarakan penyakitku, hingga kami berhasil membunuh waktu sampai pukul 7 malam.

Arif nampak melirik pada Arloji yang melingkar di lengannya.
"Udah jam 7, Mang Arif mau siap-siap dulu deh," kata Arif membuat kami beranjak satu persatu dari duduk.

"Buru-buru amat, hati-hati, kalau ada apa-apa telp Mamang Rif, Den," balas Mang Usman.

"Siap Mang," balas Arif, lalu berjalan keluar.

"Maksih Mang kopi-nya, Deni permisi dulu," tambahku, lantas pergi menuju rumah Arif, untuk mempersiapkan segala keperluan kami.

"Den," sapa Mang Usman menghentikan langkahku dan menoleh cepat kearahnya.

Aku terdiam menanti Mang Usman bicara, namun belum sempat aku menjawab panggilannya, Mang Usman mengalihkan pembicaraan.

"Ah, sudahlah, ngga penting, ya udah hati-hati Den ya, jangan terlalu terbawa suasana di sana," tutupnya, menepuk pelan pundak kanan-ku.

"Oke, siap Mang," aku melanjutkan langkah untuk segera menyusul Arif.

Sesampainya di rumah Arif, aku membantu mempersiapkan segala keperluan untuk kami bermalam di rumah Loji, sempat sesaat aku berbincang sedikit dengan keluarga Arif, mencari solusi terbaik untuk para pekerja rumah Loji.

Usai semua kami kemas, aku dan Arif segera meluncur ke rumah Loji, mengingat hujan yang telah sedikit mereda, kami tak ingin membuang-buang waktu.

Malam terasa semakin gelap, angin terasa sangat dingin, di bawah rintik hujan yang tidak begitu besar, kami melaju dengan kendaraan roda dua.

"Wah, jalan Loji makin suram ini, mana abis ujan lagi," keluh Arif, sambil mengemudikan kendaraannya.

"Iya santai aja Rif, jangan buru-buru, licin pasti jalan di sana," balasku, mendekap tubuh merasakan dinginnya malam.

Selang berapa menit kami melaju pada jalan raya utama yang menghubungkan Bubulak dan Pasar Gunung Batu, motor perlahan berbelok. Kini kami telah memasukin Gg Loji, suasana mencekam sudah bisa aku rasakan di sini.

Jalan lurus di hadapan kami, nampak samar tertutupi oleh kabut tebal, hanya ada satu lampu bercahaya kuning, tapi seakan tak berarti untuk jalan yang terhimpit oleh rimbunnya pepohonan.

"Duh bahaya, di sini aja udah berkabut gini," keluh Arif, sesekali ia menggunakan lampu jauh pada jalan yang sangat gelap.

"Slow aja Rif, dari pada jungkir balik kita," singkatku, sedikit cemas dengan cara berkemudi Arif yang sudah sedikit ugal-ugalan.

"Walah, pelan-pelan gue serem, di bawa ngebut ya jalan licin," nadanya yang terus mengeluh.

Mungkin ada baiknya jika aku mengalihkan suasana,
"cie, yang lagi deket sama cewek," cibirku sedikit meledek, berbicara dekat daun telinganya.

"Tahu dari mana lu," balas Arif, dengan nada yang mulai tersipu.

"Ada dah pokoknya, orang Ciomas-kan?" nadaku sok tahu, mengejeknya.

"Si Ardan pasti nih," gumam Arif, "iya, orang Ciomas, ngga jauh dari sekolahan gue dulu," tambah Arif. Ia memang alumni SMP PGRI 3, saat itu Arif belum satu perguruan denganku, namun setelah lulus SMP, kami melanjutkan sekolah bersama di Bandung.

"Kalau ngga jauh berarti satu sekolahan dong?"

"Emang iyah, satu sekolahan sama gue."

"CLBK berarti? Cari Lama Beli Kaga," candaku, membuat Arif menahan tawanya.

"Oya, Gini-gini ... Gue ada carita lucu tentang si Ardan, kemari..."

Ditengah perbincangan yang hampir membuat kami tenang, tiba-tiba saja lambungku terasa sangat perih tak terkendali, usus-ku bagaikan tertusuk sebilah pisau yang sangat tajam, sakit yang luar biasa hingga membuat fakus-ku pudar dengan apa yang sedang Arif bicarakan.

"Oe, Den, dengerin ngga si? Tidur lu ya?"

"Oh, ia-ia Rif, terus?"

"Auh ah, terus apaan."

"Sorry, lagi baca SMS Rif."

Percakapan terhenti sesaat hingga akhirnya kami tiba di sebuah kelokan.
"Den, rumah itu ..," nada serius Arif memancing rasa penasaranku untuk menoleh.

Suasana hening dan gelap berselimut kabut halus yang menambah kesan berbeda pada jalan yang berada tepat di depan bangunan tua itu.

Lenganku berkeringat, bulu roma-ku serentak berdiri, teringat akan kejadian aneh yang kerap kali aku alami, dan lagi cerita Mahyong membuat aku mengerti, akan kisah kelam rumah ini di masa lampau.

"Oy .., Den, diem aja dari tadi, gue ngomong dicuekin," aku sontak terkejut oleh Arif yang menepak paha kiri-ku dengan cukup keras.

"Oit, i,i-ia, ... ngapa Rif." nadaku gugup.

"Kok, Gue jadi merinding gini ya," kata Arif, mengusap tengkuk lehernya.

"Udah jalan aja, jangan mikir macem-macem," balasku datar.

Firasat-ku terasa berat untuk melanjutkan perjalanan ini, seperti terbebani oleh perasaan yang tak bertuan, namun kami harus tetap melaju hingga sampai pada tujuan.

*****************
Bersambung ...
*****************

-Mohon maaf jika ada tutur kata yang
  kurang berkenan. 🙏

-Terima kasih telah membaca, semoga
  bisa menghibur dan mengisi
  kekosongan waktu kalian.

-Sampai berjumpa lagi di episode
  berikutnya. 👋👏 secepat mungkin
  kami menyelesaikan lanjutannya.
  Insyaallah.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
oldmanpapa dan 2 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh wedi
Quote:

siap gan.. smoga bisa trhibur..

Quote:


itu ane update baru gan..
gelar tiker dlu gan
lanjut terus gan biar makin merinding
Halaman 4 dari 9


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di