alexa-tracking
Kategori
Kategori
Pengumuman! KASKUS punya fitur baru: MENTION! Berkomunitas jadi makin seru! Cekidot!
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Post-mortem Love (21++)
5 stars - based on 4 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c04e136d9d7706e168b4567/post-mortem-love-21

Post-mortem Love (21++)

Tampilkan isi Thread
Halaman 3 dari 4
semoga ga gantung ya hehe
Quote:


bae bae di tusb**L gan
bakalan saya coba besok gan, masalah gitu mah kecil gaaannn...
TS mana nih gw pikir sehari update 5 part

Quote:

add aja marthagwn99

Quote:

mungkin memang itu tujuan beliau
Quote:


hahahha emoticon-Ngakak (S)
subscribe dulu baru baca emoticon-Paw
Quote:


Wkwkk.... Mabar ml mobile legend gan hahaa... Ane normal gan, tolong bilangin temen ente si agan ts y gan emoticon-Takut
Nice post
6


PORSENI hari kedua, dan gue menemukan Leila sendirian di ruang berdoa yang paling ujung, tempat misa tiap pagi untuk Rokris. Dia menaruh dagunya diatas meja sementara mendengarkan lagu lewat earphone dan sama sekali nggak sadar ketika gue berdiri di bawah kusen pintu, mengamati dia dengan perasaan aneh saling mencampur.

Situasi yang tepat untuk mesum! Dalam hati gue bercanda, tapi sebenar-benarnya gue berpikir bahwa gue bisa mengambil satu atau dua kecupan dari anak ini. Atau setidaknya, berharap demikian. Leila mendongakan kepala dan menatap ke arah gue. Dia lalu tersipu dan memperbaiki postur tubuhnya. Kini dia duduk tegak sementara kepalanya menunduk menatap roknya.

Gue berjalan mengarah ke Leila, tidak kalah merahnya dengan bando yang sekarang dipakai Leila. Gue menarik bangku dan lalu mengangkatnya untuk bisa duduk berseberangan dengan Leila. Bunyi kaki bangku menyentuh lantai keramik, dan suara dari luar tidak melenyapkan β€˜kesunyian’ diantara kita dan gue membenci kecanggungan ini setiap milidetik-nya.

Leila menghela napas yang panjang dan lalu mendongakan dagu untuk menatap gue. Dia membuka mulut, tapi memutuskan untuk merapatkan bibirnya rapat-rapat. Gue juga nggak tahu harus berbuat apa, selain ngomong. β€œ Kok lo sembunyi disini? Kenapa? β€œ

β€œ Nggak sembunyi kok. β€œ katanya singkat sementara tangannya menyelipkan sejumput rambut yang jatuh ke bibir ke balik telinga kiri. β€œ Tapi kok lo disini? Mau ngapain? Nyari Gian?β€œ

β€œ Eh, enggak lah. β€œ Gue tersenyum. β€œ Gue emang nyariin elo. β€œ

β€œ Oh, β€œ Leila saking gugupnya mukanya jadi sekeras batu. Matanya menatap gue β€˜dingin’ sementara jari-jemarinya saling bertaut. β€œ Lo penasaran sama jawabannya? β€œ

β€œ Iya, kalau bisa dijawab sekarang aja. β€œ

Leila menatap gue seakan kepala gue ada tiga dan tatapan gue membekukan dia menjadi batu, sehingga matanya turun menatap jari-jemarinya lagi dan lalu menghela napas yang pendek.

β€œ Oke. β€œ katanya cepat. β€œ Ayo, jadian. β€œ

Kalau gue seorang Anjing sekarang, ekor gue mengibas-kibas ke kanan dan kiri dengan cepat. Jantung gue berdetak keras, kencang, dan meletup-letup. Dan entah kenapa, situasi ini membuat gue justru merasa sedikit sedih. Sehingga gue menjulurkan tangan di atas meja sementara jari-jari gue bergerak, meminta tangannya.

Leila melihat tangan gue dan detik berikutnya dia menaruh telapak tangannya diatas telapak tangan gue yang terbuka. β€œ Makasih. β€œ kata gue, merasakan tiap huruf di lidah gue berdansa. β€œ Makasih udah mau jadi pacar gue lagi. β€œ

Gue melihat ke dalam memori Leila yang melumuri tiap sudut tulang gue tanpa menyisakan satu area kosong sekalipun. Leila yang selalu mengamati gue dari jauh, dan dalam hati berpikir untuk nggak berurusan dengan gue, karena dia juga sedang pacaran sama orang lain. Tapi nggak membuat dia berhenti untuk menatap gue dari jauh. Gue menyicipi rasa kesepian yang pekat di lidah ketika memori itu mengerumuni kepala gue. Sehingga gue menarik tangan gue dan mengeluarkan segenggam permen cokelat dari saku celana.

β€œ Kata Gian, lo suka cokelat. β€œ

Leila ganti menatap gue dan cokelat itu dengan tatapan mata yang berbinar-binar. " Makasih! "

Dan diluar mulai gerimis. Gue suka bau air yang menyentuh tanah dan mencintai situasi yang terjadi sekarang. Semuanya memiliki kombinasi yang tepat untuk menciptakan momen sekali untuk selamanya. Mungkin dulu, gue sedikit berpikir bahwa jatuh cinta terlalu dalam ketika masih SMP sesuatu yang terlalu cepat dan nggak seharusnya terjadi. Karena setelah cinta kekanak-kanakan ini, akan disusul dengan cinta yang lebih serius, lebih dewasa, lebih mendalam. Tapi ketika gue dewasa, gue sadar akan satu hal. Bahwa cinta yang terlalu dalam, meskipun terjadi ketika gue masih pubertas, tetap merupakan cinta yang terlalu dalam. Dan perasaan yang ditimbulkan, nggak akan muncul lagi dan cinta yang lebih dewasa tidak bisa mereplika setiap perasaan yang muncul pada saat itu.

Sekarang, merasakan setiap perasaan itu seakan-akan semuanya masih β€˜baru’.

Perasaan yang persis selalu gue cari-cari ke dalam orang lain setelah Leila. Muncul untuk yang kedua kalinya.

Dan Gue tadi menggenggam erat tangan Leila. Membuat kepala gue mengingat terakhir kali Leila berusaha menyentuh tangan gue tapi nggak bisa. Dan gue nggak bisa menghiraukan perasaan sedih yang kini bergumul ke dalam hati.

Leila membuka kemasan plastik permen, dan aroma cokelat menguar samar-samar dari sana.

72 Jam.

Pada kenyataannya gue sudah 72 jam berada didalam tanah, dikuburkan. Apakah gue tahu satu hal pun tentang kematian? Nggak juga. Dan gue masih nggak tahu tujuannya apa si laki-laki tersebut, yang beraroma kayu oak, mengirim gue kembali ke sini.

Mungkin kematian adalah proses untuk menyesali setiap keputusan yang diambil di kehidupan yang sebelumnya.

Mungkin.

Tapi, yang jelas. Selain aroma tanah yang basah dan cokelat samar-samar. Gue sadar kenapa Leila adalah jodoh yang terlewatkan.

*

Quote:

ayo doa bareng gan, gue juga takut dengan hal yang sama.emoticon-Kiss (S)

Quote:

makasih kenditz emoticon-Betty (S)

Quote:


ah bisa ae lu, gagang ember. emoticon-Kiss (S)
Quote:


Cinta masa SMP memang ganas kenangan nya
Lanjut bosqu
Baru kali ini ada yg overdosis kafein dengan ngopi, jadi inget dulu ada kasus copywriter yg bangga bekerja gak tidur berhari3 dengan dopping minuman energi.
Untung bagi perusahaan, kerugian bagi keluarga nya. Perusahaan hanya menemanimu kala kmau punya karya, tapi keluarga lah yg selalu disisi mu
sial kirain double apdet taunya komen di kuot emoticon-Nohopeemoticon-Cape d... (S)
7


Bokap menjemput gue di sekolah, dan entah kenapa dia memutuskan untuk berhenti di Indomaret untuk membeli sesuatu. Dia menawarkan gue untuk ambil apapun yang gue butuhkan saat dia mendorong pintu kaca, dan aroma plastik bercampur lantai yang baru di pel menyerbu indera penciuman gue.

Leila suka cokelat, sehingga gue mengambil dua Cadburry untuk β€˜persembahan’ hari besok. Toh, besok PORSENI hari terakhir. Hari dimana gue bakalan manggung, mainin lagu Mr.Brightside dengan gitar listrik. Jantung gue langsung berdegup gugup setiap kali memikirkan bahwa besok ada pacar gue yang nontonin gue manggung. Meskipun gue tahu, Leila nggak bakalan menganggap tingkat kemahiran gue dalam main gitar yang intermediate dengan terkagum-kagum. Karena ibunya musisi, dan gue baru tahu itu belakangan.

Melihat muka bokap gue membuat gue langsung teringat dengan Virdi. Bulu kuduk gue di belakang leher berdiri disaat memori Virdi berkelebat di balik kelopak mata. Tapi, gue sedikit-banyaknya berterimakasih terhadap Virdi. Karena lewat memorinya, gue bisa melihat Leila sewaktu SMA.

Dan sekarang gue jadi sedih sendiri, sementara sekarang kaki gue mengikuti Bokap gue yang mengambil satu-persatu barang-barang β€˜rumah’ seperti pelembut pakaian, detergent, dan beberapa bungkus besar Chicken nugget, satu liter cola dan dua bungkus kentang goreng beku.

Gue langsung sadar, bahwa hal tersebut nggak bakalan dibawa pulang ke Rumah gue melainkan langsung ke Virdi. Mengingat betapa bencinya nyokap gue dengan sesuatu yang tinggi kalori dan cepat saji.

Bokap gue sebenarnya adalah back end programmer di salah satu perusahaan e-commerce terkenal di Indonesia. Gajinya lumayan, tapi yang membuat dia sebenar-benarnya bisa hidup diatas kata β€˜nyaman’ karena Kakek gue orang kaya. Dan Bokap adalah anak laki satu-satunya yang Kakek punya. Kakek gue masih hidup, tapi sudah jelas kemana akhirnya hartanya bakalan diwariskan.

Gue menaruh dua batang cokelat itu diatas meja kasir dan lalu memandangi muka Bokap gue dari samping. Tangan gue, iseng, menjulur ke sisi lengannya yang berbulu untuk melihat ke dalam memorinya.

Lalu semua itu mengalir, seperti tenggelam sejenak dan hidung gue dipenuhi aroma kaporit. Memori itu menghujam kepala gue, menusuk setiap sel otak, meminta untuk ditonton.

Dan sekalipun gue benci dia karena perselingkuhannya, sekarang gue jadi nggak bisa menyalahkan dia. Karena sejak awal, gue sadar bahwa Nyokap nggak pernah membiarkan Bokap gue untuk menceraikan dirinya. Dan posisi Nyokap sebagai menantu yang disayang Kakek gue juga sama sekali nggak membantu, mengingat Bokap menghormati Kakek gue sedemikian rupa sampai-sampai dia rela untuk tidak menceraikan Nyokap–selama Kakek masih hidup.

Dulu, gue sama sekali nggak sadar bahwa Bokap memiliki kehidupan ganda dibalik matanya yang selalu memancarkan sinar pesimistik. Sekarang, setelah menyelami setiap kenangannya. Gue cuma bisa merasakan kesedihan yang gue tutupi dengan ekspresi datar.

Bokap nggak bisa mendatangi pemakaman gue. Bukannya nggak mau, tapi dia sendiri juga sudah meninggal lebih dahulu ketimbang gue. Dia bahkan nggak mau repot-repot bikin surat bunuh diri, karena dia ingin membawa rahasianya sampai ke dalam peristirahatan terakhir.

Meskipun pada akhirnya, semua menjadi jelas pada kematian gue juga. Tapi gue sama sekali nggak bisa memahami dia, satu kalipun ketika gue masih hidup.

Bokap mengangkat dua plastik berat itu dengan kedua tangan sementara gue jalan didepannya, mendorongkan pintu kaca itu lalu menahannya sebentar untuk Bokap gue. Bokap gue tersenyum, dan tetapi dia lanjut membuka pintu mobilnya lewat kunci otomatis.

Gue melihat belakang kepalanya dan merasa ingin menangis.

Kenangan ini, adalah kenangan kedua yang paling kuat dan sering menghantui gue di belakangan hari.

Gue nggak mau merusaknya dengan menghujami dia dengan hujatan. Tapi, apakah dia bakalan senang kalau seandainya gue bilang ke dia bahwa gue β€˜mengerti’ sebagian dari penderitaannya?

Bahwa gue sekarang melihat dia sebagai manusia, seutuhnya, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, tanpa mengekspetasi apapun dari dia?

β€œ Nggak ada yang mau lo omongin ke dia? β€œ

Mata gue melihat ke cermin belakang mobil dan memandangi Laki-laki berpakaian rapi, yang menguarkan aroma rokok dan kayu oak. Lagi-lagi mengepit koran di ketiaknya sementara dia duduk dengan kaki terbuka selebar mungkin.

Gue menggelengkan kepala dan membuang muka. Tangan gue menarik sabuk seatbelt dan lalu memasangnya. Sementara Bokap gue menyalakan audio music didalam mobil. Lalu parfum mobil bau cemara itu menyeruak ke setiap sudut mobil sementara mesin menderu dengan lembut di belakang telinga gue.

*



Quote:


makasih banyak momod. makasih juga udah setia ngirimin cendol. jadi banyak dikulkas, dibekuin juga cendolnya biar awet ampe lebaran nanti.emoticon-Betty (S)

Quote:
wedew, minuman energi kan konten kafeinnya kayak 80-100 mg, bukan? karena caffeine od itu kayak 2000 mg atau kayak 2 gram lah. hati-hati lah, mati karena od kafein kagak enak bos.

Quote:

pengen double update, tapi nanti gue kagak mancing di stardew valley dongemoticon-Berduka (S)

hari ini double dehemoticon-Betty (S)
Quote:


5 part pls

BTW nice update gan
tulisan ente kenapa ya kayaknya ganas di hati
mantap ,,, imajinasi gue jadi kemana mana baca ini cerita ....
8


Gue membuka website chord guitar Mr.Brightside, memainkannya di gitar akustik, dan bolak-balik ganti menatap layar handphone ke gitar sekalipun gue sudah hapal diluar kepala. Gue bolos rehearsal kemarin, dan sebenarnya nggak ada yang perduli juga gue ikut atau nggak, mengingat gue paling fleksibel dan jujur aja, gue yang paling jago diantara mereka bertiga.

Bahkan disaat gue berumur 19, gue juga mulai ngeband dengan teman kampus gue dan mengcover lagu-lagu The beatles, The Strokes, dan sebagainya dan rutin latihan di rumah temen gue.

Hanya saja, sekarang ini Leila β€˜tertarik’ dengan kegiatan gue, membuat gue bisa mendengar detak jantung gue yang menggebu dibalik belakang telinga. Meskipun β€˜mental’ gue berusia 24 tahun, tapi tetap saja β€˜badan’ gue berusia 13 tahun.

Disaat gue mengulang lagunya dari awal, gue sadar bahwa gue sebenar-benarnya nggak pernah dengar Leila menyanyi. I mean, gue β€˜dengar’ dia somewhat nyanyi pas misa pagi tapi dia kelihatan seperti buka mulut lalu menutupnya tanpa mengeluarkan satu nada keras sekalipun.

Leila yang nggak tertarik dengan misa pagi adalah Leila yang gue tahu. Mungkin karena itu juga dia terkesan misterius di mata gue, karena gue sama sekali nggak tahu apa-apa soal dia.

Jam dua siang adalah slot waktu untuk band gue naik panggung setelah dari ekskul tari Saman selesai, sehingga gue masih memiliki banyak waktu panjang untuk main-main sebenarnya. Leila juga tampaknya lari ke kafetaria dan mengungsi disana, sementara gue di ruang musik sambil sesekali menyesap fruitea apel dari botol 500 mililiter. Gue mengecek jam tangan gue. Pukul sebelas lewat sepuluh pagi. Yep. Waktu masih panjang. Dan bahkan gue berpikir untuk pacaran kilat sama Leila, kalau bisa kabur dari ruangan ini.

Gue menyadari bahwa permainan gue bahkan tiga kali lipat lebih bagus daripada permainan gitar gue pada waktu itu. Hal ini mendongkrak rasa percaya diri gue, lumayan tinggi apalagi beberapa orang nyadar akan hal yang sama.

β€œ Gila, Jo. β€œ Kata Adit, drummer yang sekarang sedang strumming lantai karpet yang bikin gatal kulit dengan ekspresi takjub. β€œ Kok lo jago banget sekarang? Kemarin-marin pas latihan nggak kayak begini. β€œ

Gue mulai mengeluarkan beberapa lagu andalan yang gue hapal mati dan memainkannya dengan lidah menjulur dan mata ke belakang kepala sehingga yang terlihat cuma putihnya aja. Adit ketawa-tawa, tapi gue bisa melihat bahwa kekagumannya nggak berhenti sampai disitu.

Sekarang tenggorokan gue kering karena yang sedari tadi gue tenggak adalah minuman yang kelewat manis. β€œ Gue mau beli aqua. β€œ kata gue, begitu saja.

β€œ Yaudah, tapi jangan susah dicari nanti. β€œ kata Adit mendongakan kepala menatap gue yang bangkit berdiri. β€œ Nggak kayak kemarin, susah banget dicari. β€œ

Gue mendengus dan teringat bahwa gue kemarin emang sembunyi sama Leila. Tapi kalau gue ceritain, yang ada kebakaran jenggot doang ini anak.

Bagaimana gue bisa mengatakannya? Adit... nggak begitu suka sama Leila.

Sehingga ketika gue menutup pintu kayu dibelakang gue. Gue langsung jalan dengan langkah kaki selebar mungkin, mengejar Leila di kafetaria. Siapa tahu dia masih mengungsi disitu sehingga gue bisa duduk bareng dia, mengeluarkan gombalan satu atau dua seenggaknya.

*

Gue bertemu Leila di kafetaria yang sedang makan indomie rebus lengkap dengan sawi dan bakso. Tapi kuahnya yang merah seperti darah, membuat maag akut gue naik dan gue bisa merasakan asam lambung lagi naik tangga menuju tenggorokan gue ketika mencium betapa pedasnya aroma indomie tersebut.

β€œ Buset. β€œ Kata gue, sambil menjepit hidung dengan jari. β€œ Gila pedes banget itu kelihatannya! β€œ

Leila mendongakan kepala nya, ganti menatap gue dari handphonenya yang sedang terbuka website fanfiction. Dia cuman menghendikan bahu lalu berkata, β€œ Nggak kok, warnanya doang yang merah. Tapi rasanya nggak begitu. β€œ

Nggak begitu gimana. Gerutu gue dalam batin. Gue kan pernah nyobain juga sambel buatan warung indomie sini. Abis itu gue sampe minum promag dua tablet.

Seperti Vampir yang dipaparkan bawang putih yang dikalungkan dileher, gue memutuskan untuk mundur sambil mengibaskan bau indomie itu jauh dari muka. β€œ Cuma mau ngasih tau aja, nanti gue manggung jam dua. Lo nonton ya! β€œ

β€œ Oke? Gue tahu kok. β€œ katanya tanpa menghiraukan gue.

Agak sedih karena dicuekin, gue langsung pergi ke ibu-ibu yang jualan minuman dan membeli botol aqua 250 mililiter. Setelah gue selesai membayar, gue berjalan mendekati meja Leila lagi.

β€œ Awas, kalau nggak nonton. β€œ kata gue, sedikit mengancam. Lalu gue mengeluarkan dua batang cadburry dari kantong celana gue. β€œ Atau nggak nanti gue jual lagi ini cokelat ke Indomaret. β€œ

Pupil mata Leila langsung melebar dan dalam beberapa kedipan, matanya langsung berkaca-kaca. β€œ Ta-tahu darimana kalau gue suka cokelat itu! β€œ Katanya nyaris histeris.

Gue balas nyuekin dia dan langsung jalan meninggalkan area kafetaria, balik lagi ke ruang musik yang karpetnya cuman bikin bentol-bentol di betis.


*

Sekarang gue berdiri di pinggir panggung sementara mata gue menunggu ekskul tari Saman berhenti memutarkan lagu yang super keras dan mengamati beberapa cewek yang agak sedikit ketinggalan daripada cewek-cewek yang lain. Menghancurkan ilusi aja.

Adit mulai menggigiti kuku jarinya dan meludahi kukunya ke lapangan. Sementara yang lainnya cuek aja, bahkan nyaris kasual. Gue mencari-cari Leila diantara banyaknya kepala yang duduk bersila di depan panggung yang tingginya nggak lebih dari semeter. Dia nggak disitu, sehingga gue mencari kepalanya di lantai dua. Siapa tahu dia mau nontonnya dari situ aja. Dan benar saja, dia berdiri di sudut yang bahkan nggak bisa nonton gue di panggung.

Leila menyadari gue mencarinya dan cuman mengangkat tangannya, melambaikan dengan sebentar lalu mengangkat ibu jarinya sambil tersenyum kaku.

Gue langsung ingat, bahwa ada beberapa hal dimana gue berharap dia lebih normal sedikit. Orang lain kalau pacaran, seharusnya lebih
perhatian dan pengen duduk didepan panggung persis β€˜kan, kalau seandainya cowoknya mau naik ke atas panggung dan main satu lagu?

Ketika gue menyuruh dia turun dengan jari gue dan membuat kotak persegi panjang dengan jari telenjuk lalu menepuk-nepuk saku celana. Leila langsung memutar kedua bola matanya dan menyuruh gue untuk menunggu, lalu dia menghilang dari pandangan gue.

Nggak berapa lama kemudian, dia ikut duduk di bawah terpal dan duduk di lapangan. Tapi paling jauh, dan bahkan dia mengajak Gian disampingnya supaya nggak canggung.

Gian mengangkat satu jari telunjuk sambil menunjuk mulutnya.

Sialan dia minta cokelat juga. Batin gue dalam hati. Kenapa bocah-bocah ini doyan makan sih?

Dan ketika musik Saman itu berhenti membuat tuli telinga kiri gue, gue langsung tepuk tangan sementara cewek-cewek saman yang dahinya berkeringat dengan kostum yang gue tebak, pasti cuman menjebak panas dan membatasi pergerakan badan, satu-persatu menunggu dengan sabar untuk bisa menuruni panggung itu dengan tangga besi. Bahkan ada satu yang nyaris kepleset dan menyambar lengan gue sebagai penyangga. Beruntungnya, yang kepleset itu yang paling cantik. Claudie. Gue langsung melihat Leila, dan Leila melihat kejadian itu dengan seksama tapi ekspresinya cuman datar. Tapi gue tahu, amat-sangat tahu bahwa kejadian itu mengusik dirinya.

Gue naik ke atas panggung paling pertama, mencolok gitar listriknya ke amplifier, lalu setelah melihat satu-persatu anggota band gue dan menunggu aba-aba dari Adit yang kali ini sudah tenang.

Lalu ketika gue memainkan intro dari Mr.Brightside, semua langsung jejeritan. Kalau Leila seorang anjing, telinganya langsung tegak. Karena intro yang gue barusan mainin benar-benar bagus banget, dan kelihatan dari reaksinya. Dia sendiri nggak nyangka gue bisa mainin gitar sebagus itu.

Pfft. Gue mendengus. Gue kasih lihat nih hasil latihan selama 24 tahun.

Adit main drumnya dengan sangat bagus, dan yang lainnya juga jadi semangat karena gitarnya sekelas pemain gitar aslinya. Kalau gue bisa bilang, semuanya langsung hype dan bahkan Claudie menunjuk-nunjuk ke arah gue dari sudut panggung dan membisikan sesuatu ke temen ceweknya.

Rasa percaya diri gue makin naik, bahkan didongkrak dengan kenyataan bahwa Leila ikut teriak juga.

Lalu gue ikut nyanyi sebagai suara dua. β€œJealousy, turning saints into the sea. Swimming through sick lullabies. Choking on your alibis β€œ

Setelah itu, gue melirik Leila. Gue memergoki Gian membisikan sesuatu ke arah Leila dan lalu Leila malah sibuk ngobrol ke Gian.

Si bangke. Dalam hati gue mengerang sebel. Lihat gue! Gue cowok lo sekarang. Lihat gue!

Claudie bahkan terang-terangan melihat ke arah gue. Dengan senyuman terlihat di mukanya yang berbentuk hati. Seakan-akan cuman gue cowok yang tersisa di dunia.

Ketika tiba di permainan Outro, gue ikut menyanyi lagi sambil jelas-jelas menatap ke arah Leila. Memperhatikan dia masih aja ngobrol ama Gian, dan bukannya merhatiin gue.

Si bangke ini bener-bener baik. Seru gue dalam hati. Jangan lovey-dovey sama cowok lain didepan gue, sialan.

Lalu gue mendengar semua orang menjerit teriak heboh dan beberapa tepukan tangan. Adit meloncat dari bangkunya dan merangkul gue dari belakang, sementara yang lainnya bergabung. Gue melihat dari balik bahu, Leila setidaknya sekarang tepuk tangan.

Ketika gue turun paling terakhir di tangga. Claudie nyamperin gue sambil menyentuh ujung lengan gue. β€œ Tadi sorry ya, gue megang lo pas jatoh tadi. β€œ

β€œ Eh, iya nggak masalah. β€œ Kata gue sambil tersenyum.

β€œ Tapi tadi keren dah lo main gitarnya. β€œ tambah Claudie sambil mengangkat dua ibu jarinya ke udara. β€œ Gila, kayak pensi aja rasanya. β€œ

Lalu Claudie pengen ngomong lagi, tapi dia ditarik sama adek kelas dan lalu dia berkata. β€œ Eh, oke. Yaudah gue ganti baju dulu, ya Jo. β€œ

Gue melambaikan tangan ke Claudie lalu menghela napas. Gue menyeka keringat gue yang sebesar biji jagung dengan punggung tangan sementara gue berjalan menuju ke ruang musik untuk menyimpan gitar listrik ke tasnya lagi.

Nggak sadar, Leila ternyata berada di belakang gue meskipun beda beberapa langkah. Leila tepuk tangan pelan-pelan sehingga gue melihat ke belakang dan lalu menghampiri dia.

β€œ Gimana? β€œ tetap saja, gue perduli sama pendapatnya. β€œ Keren nggak tadi gue main gitarnya?”

β€œ Gila lo doang yang paling jago daripada yang lain. β€œ puji Leila cepat, lalu dia menyerahkan kemasan plastik berisi tisu yang muat dikantong ke arah gue. β€œ Nih, pake. Lo keringatan banget.β€œ

β€œ Eh, makasih. β€œ kata gue sambil menyambar tisu itu dari tangannya. β€œ Tapi tadi lo gimana sih, masa lo ngomong ama Gian terus dan bukannya ngeliatin gue? β€œ

β€œ Tapi tadipun kita juga ngomongin lo kok. Gian kaget lo sejago itu main gitarnya, dan dia bilang ke gue kalau gue harus bangga punya cowok β€˜anak band’. β€œ

Gue nggak menghiraukannya dan langsung ngomong, β€œ Tapi tadi kayak dia yang pacaran sama lo, dan bukannya gue. β€œ

Muka Leila langsung keras dan matanya menyipit. β€œ Gue kan sama dia cuman temenan? Terus kenapa kalau dia deket sama gue? Gue sama dia juga nggak pernah pacaran kan? β€œ

β€œ Ya, tapiβ€“β€œ

β€œ Pokoknya lo mainnya bagus, udah itu aja. β€œ Lalu Leila putar balik badan dan langsung berjalan menuruni tangga dengan cepat. Gue nggak langsung mengejarnya karena gue tahu, hal ini kalau gue terusin bakalan berakhir putus aja. Apalagi baru sehari. Masih belum ada apa-apanya gue dimata Leila, dan gue tahu itu.

Sehingga gue menerima β€˜kekalahan’ ini dan menelan kecemburuan ini bersama dengan asam lambung yang mulai naik karena gue telat makan.

*
Quote:

udah itu double ya, lima kagak kuat. emoticon-Berduka (S)

Quote:

ai syap banggg emoticon-Kiss (S) emoticon-Betty (S)
Nice update gan!

btw ane punya 3 pertanyaan. mohon maaf kalo ga berkenan.

[1] apakah TS masih SMA? tulisan nya enak bgt dibaca.
[2] apakah ada unsur real story?
[3] bolehkah minta mulustrasi?

Mohon pamit juga uninstall Kaskus app karena sangat menghambat proses moderasi forum. Ane bakal ga dapet notifikasi update lagi untuk quote & subscribed threat, jadi musti cek manual lewat browser. Rajin2 di-update gan. Penonton mari kita ramaikan.
Halaman 3 dari 4


GDP Network
Beritagar β€’ Bolalob β€’ Garasi β€’ Historia β€’ IESPL β€’ Kincir β€’ Kurio β€’ Opini β€’ Womantalk
Β© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di