alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Demi Ibu Kutebus Dosa Ayahku - Kemarau Panjang di Kota Hujan
5 stars - based on 5 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5be91ad0ded770fa028b4571/demi-ibu-kutebus-dosa-ayahku---kemarau-panjang-di-kota-hujan

Demi Ibu Kutebus Dosa Ayahku - Kemarau Panjang di Kota Hujan

Tampilkan isi Thread
Halaman 6 dari 7
ditunggu lanjutannya gan
Demi Ibu Kutebus Dosa Ayahku - Kemarau Panjang di Kota Hujan
(Part 12)

PENYESALAN
Tangan mencencang bahu memikul, telah karam maka tertimpa..

Semenjak pulang dari makam Ibu, Ayah menjadi lebih religius, tidak pernah putus Shalat dan Ibadah sunnah lainnya, apalagi ketika tahu Natan juga sudah tiada, doa-doa selalu dia panjatkan untuk Ibu dan Natan, walaupun dengan keterbatasan fisik, penyakit stroke dan katarak yang mengganggu kondisinya, dia tetap menerima semuanya sebagai pertaubatan atas dosa di masa lalu, aku memanggil suster khusus untuk merawatnya di rumah, setiap hari aku selalu ajak dia mengobrol supaya syaraf-syaraf di tubuhnya terutama mulutnya bisa kembali normal, belum pernah aku merasakan sebegitu dekatnya dengan Ayah setelah sekian tahun, dia bercerita tentang masa lalunya ketika meninggalkan keluarga sampai pada akhirnya dia kembali ke Bogor, dia sungguh sangat menyesal telah melakukan itu semua kepada aku, Natan dan Ibu. Tetapi Ayah bersyukur masih diberi kesempatan oleh Tuhan bisa dipertemukan denganku kembali,
Quote:
Bulan-bulan berlalu, belum ada perkembangan yang signifikan dari tubuh Ayah, dia hanya bisa terbaring di atas Kasur dan dibantu oleh perawat yang aku sewa setiap harinya untuk mengurusi Ayah apabila aku sedang bekerja.

Hari benderang, aku ajak ayah berjalan keliling taman dengan kursi rodanya, Ayah terus bercerita tentang dirinya yang ketika itu pergi meninggalkan keluarga kami, hal itu membuat luka dihatiku terbuka lagi namun aku tetap dengarkan, ada sedikit rasa benci yang juga timbul kembali tapi aku berusaha menutupi semua itu dengan mengingat pesan Ibu.
Quote:
Dia tidak tahu bahwa anaknya pernah menjadi musisi terkenal, bakat yang kudapati dari Ibu, karena Ibu dulu ternyata adalah seorang penyanyi Broadway disalah satu opera di Jakarta menurut cerita dari bibi Gita.

Sejak terapi syaraf secara medis dan juga alternative, berangsur Ayah mulai bisa berbicara dengan lancar walaupun tidak senormal orang kebanyakan berbicara, saat ada waktu, aku dan Ayah selalu berziarah ke makam Ibu dan Natan di Jakarta sembari mampir ke rumah satu-satunya keluarga Ibu disana, yaitu Bibi Gita yang tinggal dengan Suami juga 2 orang anaknya yang terpaut 8 tahun usianya dibawahku, aku menceritakan semua kepada bibi Gita, Bibi Gita dan suaminya sudah memaafkan perlakuan Ayah yang dulu menelantarkan Ibu, aku dan Natan sekian tahun. 2 Orang anak bibi Gita Riven dan Angela,
Quote:
Riven dulu seorang anak yang energik dan resik, terlihat hingga kini dari stylenya yang bersih dan penuh semangat.
Quote:
Obrolan kami pun terus berlanjut sampai Angela pulang dari kuliahnya,
Quote:
pembicaraan kami pun berlanjut dengan hangat dan penuh suka cita.
Quote:
Bibi Gita dan suaminya serta anak-anaknya adalah contoh keluarga yang harmonis sampai saat ini selain Pak Par dan Ibu Yem. Mereka merupakan Katolik yang taat, sehingga pantangan bagi mereka bercerai dalam kondisi apapun, itu yang membuatku dulu kecil kadang iri melihat keharmonisan keluarga mereka dibanding keluargaku, dulu Ibu juga merupakan seorang Katolik hingga akhirnya bertemu dan menikah dengan Ayah, Ibu menjadi seorang Muslim, hubungan mereka sempat di tentang oleh kedua orang tua Ibu, saat itu karena Ibu juga sedang kuliah semester akhir di IKJ, makanya bakat seni aku sebetulnya berasal dari Ibu, tetapi Ayah membawa ‘kimpoi lari’ Ibu dari orang tuanya, sehingga kuliahnya terhenti, jelang beberapa bulan hingga pernikahan mereka, Ayah dan Ibu akhirnya bisa diterima oleh kedua orang tua Ibu, mereka tinggal di Jakarta, dirumah orang tua Ibu beberapa tahun sampai Ibu dan Ayah punya rumah dan tinggal di Bogor, Ibu telah banyak melakukan pengorbanan yang besar terhadap Ayah, tetapi Ayah tega menyianyiakan pengorbanan Ibu. Dan kini Ayah telah menyadari kesalahannya, memang penyesalan selalu datang terlambat.
=> Next (Part 13)
Sorry tmn2 agak lama updatenya, soalnya saya lagi ada dinas keluar kota minggu2 ini, makasih bwt supportnya emoticon-Jempol
Pertamax part 12 emoticon-Ultah

Lama2 ane jadi distorsi antara fiksi & realita emoticon-Hammer

Ini fiksi atau realita sih? emoticon-Bingung (S)
akhirnya ada update-any juga, ditunggu part 13-nya yah emoticon-Angkat Beer
Ngecek kulkas ada cendol, ane kira ada update, ternyata emoticon-Frown
Demi Ibu Kutebus Dosa Ayahku - Kemarau Panjang di Kota Hujan
(Part 13)

KEBANGKITAN
Menatap seringai mimpi buruk yang berjalan terjal, membiarkan nafas keinginan terbakar didalam dunia yang penuh sampah, kepada siapa jiwa harus ditawarkan? Mengikat dan menikmati air mata, iblis sedang berpesta..

Aku menengadah, menghadap langit malam dimana tidak ada orang lain disana, hampir setiap tengah malam diriku selalu seperti itu, terbangun oleh mimpi buruk tentang teman-teman dan keluargaku, semenjak kecelakaan yang mencederai kepalaku, mengakibatkan gejala demensia ringan berkepanjangan, kubakar rokok dipelataran rumah, kuingat kembali nama-nama orang-orang yang pernah kukenal tetapi sulit sekali hanya wajah-wajah mereka yang tergambar kuat diingatanku, aku berjalan menuju kamar Ayah, melihatnya sedang terlelap, seperti ada suara yang berbisik didalam kepalaku,
Quote:
aku menggeleng-gelengkan kepala mencoba sadar, tetapi rasanya tanganku seperti bergerak sendiri ingin mencekiknya, aku berjalan semakin mendekatinya yang sedang berbaring, tiba-tiba wajah Ibu melintas dibenakku, aku berhenti mengarahkan tanganku pada leher Ayah, aku menangis tanpa suara dihadapannya, segera kuambil langkah seribu menuju kamar mandi untuk berwudhu dan shalat tahajud, berangsur sedikit demi sedikit nama-nama mereka kembali dapat kuingat seiring waktu sepertiga malam menuju pagi.

Seharusnya hari itu berjalan dengan tenang seperti biasa, tetapi ternyata tidak, shubuh hari, pintu rumahku digedor oleh beberapa orang, ternyata anak-anak dari basecamp datang, segera kubangkit dari lelapku dan membuka pintu, tidak seperti biasa mereka bertamu sepagi itu, dengan raut muka panik juga kelelahan tiba-tiba beberapa dari mereka berkata,
Quote:
Aku menelfon Pak Par agar segera datang kerumah lebih pagi karena suster yang biasa menjaga ayah sedang berhalangan hadir, aku titip Ayah apabila tidak ada kabar tentangku lagi, lalu aku juga SMS Arif bahwa aku tidak bisa ke kantor hari ini sampai batas waktu yang tidak bisa ditentukan, aku berpesan kepadanya apabila terjadi sesuatu pada diriku, aku titip perusahaan dan rumahku kepadanya, aku sudah tinggalkan portofolio perusahaan, rekening tabungan, juga beberapa asset perusahaan di dalam brankas yang kodenya sudah aku taruh dibawah bantal. Kucium kening Ayah sebelum berangkat, saat ku berdiri dan berbalik pergi, ternyata dia bangun untuk shalat subuh lalu memanggilku,
Quote:
.

Kulaju sepeda motorku menuju terminal baranangsiang, sampai didepannya kulihat jajaran bus-bus antarkota, beberapa diantaranya sedang dipanaskan untuk menarik penumpang, kupelankan laju sepeda motorku sembari melihat-lihat sekitar, kemudian kuparkirkan di pojok dekat pos penjagaan polisi, aku berjalan kaki kedalam terminal itu menuju gedung kumuh yang kuyakini terdapat seseorang yang berpengaruh di Bogor yaitu bang Febri.
Quote:
Seperti biasa aku ambil tangannya dan kubalikan todongan pisau kearah mukanya, kedua temannya pun mulai menyerangku tetapi aku dengan cepat menendang wajah mereka, lalu kupatahkan jari-jari preman yang menodongku tanpa ampun, preman itu pun meringis kesakitan dan berlari bersama kedua temannya, aku melanjutkan langkahku menuju tempat bang Febri. Saat tiba didepan ruangan bang Febri aku disambut dengan para penjaga berotot besar, berpakaian hitam dan berbadan tegap dengan kacamata hitam, tetapi aku cukup terkejut karena mereka dengan santai membukakan pintu untukku, saat didalam ruangan yang cukup besar itu, , ada penjaga lagi yang berstyle sama seperti diluar, tetapi bang Febri masih belum nampak, ada salah satu ruangan kotak tidak besar ukuran 3x4 meter tertutup tirai, kupikir bang Febri didalam sana,
Quote:
tiba-tiba dari arah kanan, salah satu penjaga yang tadinya terlihat santai menangkap tanganku dan mencoba mengunciku, tapi dengan cepat kuhajar wajahnya dengan bagian belakang kepalaku sampai dia kesakitan memegangi hidungnya, kemudian beberapa penjaga itu pun mulai menyerangku dengan pukulan dan tendangan yang kencang tapi dapat kuhindari dan kutangkis, lalu ku balas dengan pukulan dan tendangan yang melumpuhkan mereka, beberapa saat sampai mereka bisa bangkit lagi, ada kurang lebih 20 orangan yang kulawan termasuk penjaga yang didepan pun ikut masuk kedalam, gerakan mereka sepertinya sudah terlatih, kuda-kuda mereka tidak berantakan, sekarang aku dikelilingi oleh 20 orang penjaga yang siap menghabisiku, satu penjaga maju mulai menyerangku, aku menghindar kekiri lalu lompat dan kutendang wajahnya dengan cepat, tetapi dia hanya ambruk sebentar lalu bangkit lagi, gila pikirku orang macam apa mereka ini, gerakan mereka lambat tetapi fisik mereka kuat-kuat, satu-per-satu dari 20 orang itu sudah kuhajar dengan tendangan dan pukulan, aku pun sempat terpukul tetapi tidak terlalu parah karena dengan tekhnik pernafasan aku bisa cepat pulih, sudah hampir 10 menit berlalu pertarungan hanya menyisakan luka sedikit diwajah mereka lalu mereka bangkit lagi, aku tambah kekuatanku dengan tenaga dalam, saat itu beberapa dari mereka mulai roboh dan sulit bangkit, tetapi aku lengah, tiba-tiba dari arah belakang salah seorang penjaga menangkap tubuhku dan mengunciku, aku berusaha untuk keluar dari kunciannya dengan cepat, tetapi 2 orang penjaga memegangi tanganku dan ditambah 2 orang lagi memegangi kakiku, aku tidak bisa bergerak, dan dari sanalah tubuhku mulai dihajar habis-habisan oleh mereka, aku mencoba bertahan dengan nafas yang kuatur diperut juga dada, tetapi aku tak bisa bertahan lama, tubuhku lemas, wajahku terluka dan lebam karena pukulan mereka, aku diseret oleh mereka dan diikat dengan kedua tangan digantung di tiang dalam ruangan itu, sesekali tubuhku masih dipukuli oleh para penjaga itu, kesadaranku mulai berbayang-bayang, kunang-kunang, lalu gelap… aku tersadar lagi, beberapa suara kudengar parau..sedikit pandangan dengan cahaya putih berdiri dihadapanku bayangan 2 orang sedang berbincang, lalu yang 1nya pergi dan yang 1nya lagi berjalan kearahku, kucium aroma kemenyan semerbak disekitar ruangan itu, lalu wajah orang itu mulai Nampak dihadapanku, wajah lebar dengan blangkon khas tanah pasundan melingkar dikepalanya yang botak juga kumis serta jenggot putih yang menyatu,
Quote:
menyingkap tabir gelap di batinku. Ada apa ini tanyaku, otakku seperti prosesor yang sedang kusut, sekelebat kilatan cahaya-cahaya putih mengangkat memori-memori hitam didalam otakku, aku dapat melihat Natan sedang bermain sepeda bersamaku dijalanan depan rumahku, lalu tiba-tiba mobil dari arah belakang menabrak kencang tubuh dan sepedanya, Ibu yang sedang menyuapi kami menjerit, aku histeris melihat darah keluar dari tubuhnya dan mengenai wajahku seperti sirup cocopandan yang tumpah, tubuh kecil itu tergeletak diam tak berdaya, Ibu segera memelukku dengan menutupi wajahku lalu hanya keheningan yang tersisa.
Quote:
Kesadaranku mulai mengerti, selama ini aku memang menganggap bahwa Natan hadir dan selalu ada, bermain bersama dan melindungiku, tetapi sesungguhnya itu adalah aku, aku yang berperan sebagai dirinya. Semenjak kejadian itulah makanya Ibu selalu menangis dalam doanya, Ayah jadi pergi meninggalkan Ibu menganggap Ibu tidak bisa menjaga anak-anaknya, dan orang-orang disekitar pun mulai bisa menerima dan memaklumiku sebagai anak dengan trauma mental yang kronis (post traumatic stress disorder), juga mengalami halusinasi dalam waktu tertentu, terkadang berbicara sendiri, bertingkah laku aneh bahkan diluar nalar, itu mengapa kami pindah ke Jakarta supaya Ibu bisa bertahan sebagai single parent, ada keluarga disana, setidaknya ada yang membantu Ibu secara keuangan, keuangan Ibu memang banyak terkuras habis, selain untuk membiayai sekolahku, dia juga membiayai terapi pengobatan mentalku (yang kusebut biaya sekolah Natan) biayanya itu tidak sedikit, Pak Par dan Bu Yem mungkin juga sudah mengerti kondisiku makanya mereka sangat sayang kepadaku sedari dulu.
Quote:
Jadi selama ini yang bertarung bisa kebal terhadap benda tajam untuk melindungi diriku ketika pulang sekolah itu adalah aku sendiri, yang menjadi jungkies serta pengedar narkoba juga adalah aku sendiri, yang ditembak polisi dan tercebur kelaut, lalu lumba-lumba membawanya ketepian pantai sampai nelayan merawatnya selama seminggu namun ternyata sudah berbulan-bulan itu adalah aku sendiri, aku ingat setelah itu kutemui Ibu dirumah sakit dengan kondisi menyedihkan, disuapi makanan pun sudah tidak masuk, tubuhnya menolak, sampai menghembuskan nafas terakhirnya karena memikirkanku mengakibatkan kanker dihatinya menjalar sangat cepat ke seluruh organ ditubuhnya. Kesadaran-kesadaran itu mulai kembali.
Quote:
yang membuat aku kaget dan secara cepat bayangan-bayangan tentang diriku yang lain terlintas kuat dipikiranku, api yang berkobar-kobar dan tawaku, tak kusangka aku yang telah melakukan semua itu, aku tak bisa menerima itu semua, tiba-tiba aku pun pingsan tak sadarkan diri.

Bersambung..
Suara tetesan air mengalun deras ditelingaku, membangunkanku dalam tidur yang lelap, kicauan burung-burung sangat merdu, aroma kayu bakar dan udara sejuk mampir di indera penciumanku sampai ke paru-paru, aku lihat tubuhku dibalut oleh pakaian serba putih dengan ikatan batik dikepala,
Quote:
ternyata aku ada didalam saung, setelah kukeluar kudapati air terjun yang indah jatuh menuju sendang dibawahnya, banyak bebatuan alam purba terhampar ditanah, tenang sekali,
Quote:
ternyata itu adalah bang Febri,
Quote:
Sejak tubuhku mulai dibersihkan dan ditempa lagi dari awal selama berbulan-bulan oleh bang Febri sejak saat itu pula sosok Natan tidak pernah hadir lagi didalam hidupku, hatiku lebih terasa tenang,
Quote:
Singkat cerita setelah penempaan diri di bawah kaki gunung Salak selama 41 hari oleh bang Febri, aku kembali ke Kota Bogor di Baranangsiang, tetapi perjalananku masih berlanjut, tak sempat aku pulang kerumah menemui Ayah, disana aku sudah disiapkan koper berisi pakaian, tiket pesawat, atm, kartu kredit, uang dollar cash dan beberapa perlengkapan untuk berangkat ke Las Vegas.
Quote:
Aku sedikit terkejut melihat mereka ternyata adalah preman-preman yang saat itu menghadangku didepan, kami pun bersalaman, dan kulihat jari-jari salah satu dari mereka yang pernah kupatahkan sudah pulih, aku pun bersalaman sembari meminta maaf kepadanya,
Quote:
Kami pun saling tertawa. Lalu kami berangkat dengan mobil armada milik bang Febri menuju bandara. Dan saat itulah awal dimana perjalananku akan dimulai.

Bersambung..
mantab twist nya gan lanjoot
profile-picture
ritzpringadie memberi reputasi
Yuuhuuu double update emoticon-Big Grin

Mengacak2 las Vegas
profile-picture
ritzpringadie memberi reputasi
ijin deprok dimarih bang emoticon-linux2
profile-picture
ritzpringadie memberi reputasi
kok bisa ya?
profile-picture
ritzpringadie memberi reputasi
mantap, lanjutkan emoticon-Angkat Beer
profile-picture
ritzpringadie memberi reputasi
Mulai mumet

Keep writing ya gan

emoticon-2 Jempol
profile-picture
ritzpringadie memberi reputasi
emoticon-Turut Berduka
profile-picture
ritzpringadie memberi reputasi
emoticon-Turut Berduka
profile-picture
ritzpringadie memberi reputasi
Post ini telah dihapus oleh kaskus.support16
Akan dilanjutkan ceritanya??
profile-picture
ritzpringadie memberi reputasi
aku seperti baca novel. ini mah udah super good nulisnya. kereeen
profile-picture
ritzpringadie memberi reputasi
Post ini telah dihapus oleh Kaskus Support 15
Baca dari awal ane jd seperti terbawa ke dalam cerita itu sdri
keren nih
lanjutkan gan
profile-picture
ritzpringadie memberi reputasi
Halaman 6 dari 7


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di