KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Kumpulan Cerita Pendek Oleh. Evy Wahyuni
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c6810cc2525c35a09525e71/kumpulan-cerita-pendek-oleh-evy-wahyuni

Kumpulan Cerita Pendek Oleh. Evy Wahyuni

Tampilkan isi Thread
Halaman 2 dari 23
Quote:


Silahkan, terima kasih berkenan mampir😊👍

Mawar Berduri

Kumpulan Cerita Pendek Oleh. Evy Wahyuni


Dinding usang ini menjadi saksi, lumut-lumut yang menempel erat pun menjadi penonton sejati tanpa suara, ketika piring kaca itu dilempar ke arahnya.

Serakannya berhamburan di lantai, menyisakan kemarahan di ambang batas. Tak ada lagi kesabaran. Semua emosi keluar tanpa ia sadari. Entah sudah berapa piring yang ia lemparkan ke lantai dan dinding, amarah kali ini tak bisa terbendung lagi.

Deni, nama laki-laki itu. Ia adalah suami dari adikku, Lyra. Entah mengapa pulang dari kantor sore ini ia tampak tak baik-baik saja. Sementara itu, Lyra masih sesugukan di meja makan. Aku hanya menjadi penonton, baru kali ini terjadi hal seperti ini, dan kuhanya ingin menjadi saksi saja.

"Mas, maafkan aku," ucap Lyra  lirih.

"Apaa? Sekarang kau baru meminta maaf? Untuk apa, hah! Seenaknya saja kau berbuat di luar, apa kau pikir takkan ada yang memberitahuku?" geram Deni.

Tangannya mengepal, berusaha menahan diri. "Lekas benahi pakaianmu sekarang! Aku tak mau melihat wajahmu lagi!" bentaknya lagi.

Lyra segera jatuh bersimpuh di kaki Deni, tangannya memeluk lutut Suaminya. Seraya mengucap lirih, "Mas, ampuni aku. Maafkan kesalahanku, Mas. Aku berjanji tak akan mengulanginya lagi."

Deni melepas tangan Lyra, melangkah mundur ke belakang. Tangannya menunjuk pintu depan. "Pergi kataku! Pergi sana temui kekasihmu itu! Berbahagialah! Tunggu saja surat cerai dariku."

Lyra kemudian bangkit, berjalan gontai menuju kamar mereka. Deni masih bergeming, menunggu hingga Lyra selesai mengemas pakaiannya.

Dengan sigap aku mengambil sapu ijuk di pojok dapur, lantai ini harus segera dibersihkan. Bisa saja kakiku atau kaki Deni yang kena pecahan beling bila terlambat dibersihkan.


Deni melihatku, pandangannya masih setajam dulu. Ah, aku tak boleh berharap banyak.

"Kau mau apa, Tania?" tanyanya tanpa senyum.

"Aku ... aku hendak membersihkan pecahan beling ini, Mas. Nanti kakimu bisa luka bila menginjaknya," balasku.

"Tak usah. Nanti Mbok Iyam yang mengerjakannya. Letakkan sapu itu kembali, Tania," sahutnya lagi.

Kuletakkan kembali sapu itu di pojok dapur. Meninggalkan Deni yang kini duduk di meja makan. Aku melangkah menuju kamar Deni, tampak Lyra terus mengepak barang-barangnya.

"Apa kau benar-benar ingin pergi?" tanyaku, sambil duduk di pinggir ranjang mereka. Lyra menatapku, mengangguk. "Iya, Mbak. Mas Deni sangat marah, biarlah aku pergi saja. Bila ia merindukanku toh ia pasti akan mencariku."

Aku tersenyum. " Kau mau ke mana?"

"Entahlah, Mbak. Mungkin aku akan ke tempat Mas Bimo dulu. Semoga ia bisa mencarikan aku tempat selanjutnya," ujarnya optimis.

"Kenapa harus ke sana? Apa kau ingin membuat Mas Deni semakin marah? Bimo kan, yang menjadi sumber pertengkaran kalian?"

Aku heran dengan pola pikir Lyra. Suaminya mengamuk karena melihat ia jalan bergandengan tangan bersama Bimo di Mall, dan kini ia hendak ke rumah laki-laki itu. Sungguh nekat!


Aku tak punya tempat lain yang bisa kutuju sekarang, Mbak. Biarlah untuk saat ini aku di tempat Mas Bimo. Secepatnya aku akan mencari kontrakan.”


Jangan lupa menghubungiku ya? Jaga dirimu baik-baik. Ingat! Kau masih berstatus istri Mas Deni,” sahutku sambil memeluknya erat.


Tas koper miliknya telah siap, aku mengantarnya ke luar kamar. Lyra melangkah menuju Mas Deni, hendak meraih tangan laki-laki itu sekadar ingin berpamitan.


Namun, tangannya segera di tepis. Mas Deni membuang muka,  tak mau melihat wajah Lyra yang sembab oleh air mata.


Pergilah! Jangan pernah tampakkan wajahmu di rumah ini lagi.”


Lyra mengangguk pelan, kembali ia seret tas kopernya ke luar pintu depan. Mbok Iyam yang sedang menyapu halaman tergopoh-gopoh mendatanginya. Menjemput tas milik sang nyonya, lalu membantu membukakan pintu taksi yang sedari tadi dipesannya atas suruhanku.


“Terima kasih, Mbok. Saya pergi dulu.” Lyra menutup pintu taksi yang segera membawanya pergi ke rumah Bimo.


Kuhela napas panjang, akhirnya drama ini pun usai. “Mbok, tolong tutup pintu pagar ya?” Setelah berkata kepada Mbok Iyam, aku segera masuk melihat kondisi Mas Deni.


Laki-laki rapuh itu rupanya masih duduk di meja makan. Tertunduk memandangi pinggiran meja makan yang penuh ukiran Jepara.


Tak menghiraukan ucapannya tadi, aku langsung mengambil sapu yang tadi kuletakkan kembali di pojok. Segera menyapu pecahan piring yang masih berserakan di lantai. Ia menatapku, pura-pura tak melihatnya segera kuselesaikan aktifitasku, dan membuang sampah itu ke tempat sampah tentunya.


Ia masih memandangiku. Aku paham. Segera ku dekati, meraih jemarinya lalu menepuk punggung tangannya lembut.


Sabar ya, Mas. Lyra sudah pergi. Ia ke rumah Bimo. Mas tak perlu tegang begini, nanti penyakit darah tinggimu kambuh lagi.”


Deni tersenyum, senyuman itu dulu pernah kugilai semasa di bangku SMA. Namun, keakraban kami terputus karena aku memilih kuliah di luar kota. Sementara ia malah memilih menjalin hubungan dengan Lyra di belakangku.


Ah, senyuman itu masih tetap hangat. Meski ia bukan lagi seorang lelaki yang pantas kumiliki, karena statusnya sekarang adalah adik iparku.


“Terima kasih, Tania. Atas dukunganmu. Terima kasih pula karena telah membantuku membuka kedok Lyra selama ini.” Deni berkata  lagi, “Aku tak pernah tahu, jika selama ini Lyra berhubungan intim dengan Bimo, mantan kekasihnya sejak SMA. Sungguh, aku merasa dibohongi.”


Kulepas genggamanku, tak mau Deni merasakan getaran hatiku. Biarlah kenangan cinta yang hilang dulu hanya menjadi sebuah kenangan. Tak mungkin berharap lebih. Aku hanyalah seorang kakak ipar.


“Itulah ujian kehidupan, Mas. Hadapilah dengan lapang dada, semua pasti akan ada hikmahnya.”


Ia merenung cukup lama. Mungkin membayangkan kehidupan di hari- hari selanjutnya. Tanpa Lyra, tanpa istrinya.


“Mas, kalau bukan besok atau lusa aku juga mau pamit pulang ke rumah bapak. Tak enak bila berlama-lama di sini. Nanti muncul fitnah.”


Deni lantas menatapku, tak menyangka kata-kata itu bakal kuucap. “Kau mau pulang, Tania? Meninggalkanku sendiri di sini?”


Aku mengangguk. “Iya Mas, Bapak juga tak ada teman di rumah. Sakit asam uratnya sering kambuh bila makannya sembarangan. Lagi pula ada Mbok Iyam yang menemani Mas di sini.”


Deni kembali terpekur menatap jari-jari kedua tangannya yang saling bertaut. Ia tak bisa menahanku lagi. Aku harus pulang. Masih ada seorang bapak yang harus aku rawat. Sejak Ibu wafat dua tahun yang lalu, akulah yang mengurus beliau. Makanya, sampai sekarang aku masih betah sendiri. Bukan karena terlalu memilih jodoh, tetapi karena tak ingin bapak menjadi tak terawat. Orang tuaku cuma beliau seorang. Masalah jodoh sudah di atur Tuhan, tetapi masalah orang tua itu menjadi tanggung jawabku sepenuhnya.


Lagipula, izin dari kantor cuma beberapa hari saja. Banyak pekerjaan yang menantiku. Soal Deni dan Lyra, biarlah mereka menemukan solusi dari pertengkaran mereka. Semoga hubungan pernikahannya tak berakhir di meja pengadilan. Itu harapanku.


Gema suara lantunan ayat-ayat suci Alquran berkumandang, pertanda waktu salat Magrib telah masuk. Mbok Iyam juga sedari tadi telah berkutat di dapur menyiapkan menu makan malam.


“Ayo Mas, lekas ke Mesjid. Bersihkan beban di benakmu dengan air wudhu, sholat dan berdoalah. Semoga diberi jalan yang terbaik,” ucapku sambil beranjak dari kursi lalu menepuk bahunya pelan.


“Biar aku salat di rumah saja, Tania. Nanti keburu telat ke mesjid,” ujarnya.


“Mas, laki-laki itu wajib salat di mesjid lho, kalau bukan kita yang memakmurkan mesjid, siapa lagi? Ayo bergegas sekarang, sebelum suara adzan berkumandang.”  


Deni menuruti kata-kataku. Tanpa banyak bicara ia segera menuju ke belakang, mengambil wudhu lalu pergi ke mesjid dekat kompleks. Aku pun mengajak Mbok Iyam salat berjamaah di rumah.


***


Setelah selesai makan malam, aku membantu Mbok Iyam membereskan meja makan. Deni sedang menonton tivi di ruang tengah. Tampak asyik menatap layar kaca itu.


Kubuatkan secangkir kopi hitam kesukaannya, setelah menghidangkannya aku pun ikut duduk di seberang kursinya. Setelah mengucap terima kasih ia pun menyesap kopi itu perlahan, penuh kehati-hatian.


“Tania, bisakah kau pulang beberapa hari lagi? Aku butuh teman bicara, Tania. Aku … aku sangat terkesan denganmu. Kau pandai menyenangkan hati, mau mendengar keluhku, dan juga pandai mengurus rumah.”


Aku berpaling, enggan menatapnya. Ada nada keputus-asaan dari kata-kata yang ia ucapkan.


“Maaf Mas, waktu cutiku berakhir lusa. Aku hanya meminta waktu seminggu saja, itu pun sudah terlalu lama. Kasian bapak juga, Mas. Tak enak bila harus merepotkan Tante Murni, ia telah kerepotan mengurus keluarganya mana harus mengurus bapak juga.”


Tante Murni itu adik kandung bapak, rumahnya tak jauh dari rumah kami. Sehingga bila aku mengunjungi Lyra, bapak kutitip rawat kepadanya.


“Sekarang aku baru menyesal, kenapa tidak dari dulu menyadari hal ini. Sejak lama Lyra tak pernah bisa mencintaiku, hanya aku saja yang tergila- gila padanya, dan melupakan cinta sejatiku.”


Kupandangi wajah Deni, ia pun ikut memandangku. Hatiku berdentum ‘apakah aku yang dia maksudkan sebagai cinta sejatinya?’


“Maksudmu apa, Mas?” tanyaku hati-hati.


“Maafkan aku, Tania. Aku memang laki-laki yang bodoh. Sejak SMA, aku sudah tahu kalau kau diam-diam menyukaiku. Namun, pada saat itu aku hanya menganggapmu sebagai sahabat, dan malah menyukai Lyra.”


Aku tak tahu harus senang atau sedih. Hanya mencintai sebelah pihak, bagai bertepuk sebelah tangan. Cinta yang dulu ada telah terkikis oleh sebuah kata “persahabatan’.


“Sudahlah, tak usah bahas itu lagi. Kita semua sudah menemukan jalan hidup masing-masing. Mari saling menjaga toleransi, menjaga komitmen, dan saling menjaga kepercayaan. Saat ini hatimu sedang galau, maka perbanyaklah zikir dan sholawat. Semoga Allah selalu meridhoi dan memberikan petunjuk yang terbaik buat rumah tanggamu.”


Aku berdiri di hadapannya. “Maafkan saya, Mas. Bila ada kata-kata yang sedikit tajam. Aku ke kamar dulu, hendak berbenah.” Setelah mengucapkan itu, aku segera berlalu dari hadapannya.


***


Lepas salat Subuh aku sudah di dapur membantu Mbok Iyam menyiapkan sarapan pagi, Mas Deni baru juga pulang dari mesjid langsung masuk kamar. Mandi dan berganti pakaian kantor. Harus segera berangkat sebelum macet menghadang di jalan


Makanan telah tersaji, menu sarapan sederhana. Nasi goreng plus telor mata sapi, tak lupa secangkir kopi kusajikan tepat di sebelah kanan Mas Deni yang dengan lahapnya menyantap makanan yang kusajikan.


Aku pun ikut duduk di samping Mas Deni, makan tanpa suara. Seakan berburu waktu menyelesaikan sarapan dengan suasana tenang, karena sedikit terburu-buru makan Mas Deni akhirnya terbatuk-batuk. Lekas kusodorkan segelas air minum dan diteguknya sampai tandas.


“Makannya pelan-pelan, Mas. Kayak dikejar mikrolet saja,” gurauku.


“Terima kasih perhatianmu, Tania. Tinggallah dulu, jangan pulang hari ini, ya?” pinta Mas Deni.


Aku tersenyum, lagi-lagi Mas Deni berusaha menahanku. “Maaf, Mas. Sebentar aku mau pulang. Sudah pesan taksi juga.”


“Kok buru-buru gitu?” tanya Mas Deni sambil meneguk kopinya perlahan.


“Gak buru-buru juga, aku kan sudah seminggu lebih di sini, lagi pula Lyra tak ada. Mas Deni harus segera menyelesaikan urusan Mas, jangan biarkan berlarut-larut. Tak enak bila Lyra harus tinggal di rumah Bimo sementara dia masih berstatus istrinya Mas.”


Aku agak menekan kata-kataku di akhir, berharap Mas Deni mau memperhatikan dan itu berhasil. Mas Deni lalu menatapku. “Iya, hari ini aku akan mengurus semua itu, tolong hati-hati sampaikan ke Bapak masalah rumah tangga kami. Semoga Bapak bisa menerima keputusanku nanti.”


Aku mengangguk. “Baiklah Mas, nanti akan kusampaikan. Kamu hati-hati ya? Jangan salah mengambil keputusan, ini soal masa depan kalian sendiri.”


Aku berdiri, hendak berlalu. Namun, Mas Deni sigap meraih tanganku. Kaget, langsung ku menoleh ke arahnya. “Kenapa, Mas?”


“Tania, aku mencintaimu.”


Deg! Jantungku serasa mau copot mendengar pengakuan lelaki yang dulu sempat menghiasi  relung kalbu. Merenda tepi harapan penuh bunga mawar, tetapi durinya menusuk terlalu dalam. Harapanku sirna karena cinta yang kurasa tak mendapat balasan sedikit pun.


Kutarik tanganku kembali, senyumku masih mengembang. “Maaf, Mas. Aku tak mungkin mengkhianati adikku sendiri, walaupun kalian tak bersama nantinya, tetapi aku tak mungkin mengambil apa yang dulu adikku punyai. Kuakui pernah jatuh cinta padamu, tetapi rasa itu telah lama hilang. Jadi, maafkan aku, Mas.”  


Setelah mengucapkan kata-kata itu aku segera berlari menuju kamar, meninggalkan Mas Deni yang terpaku menatapku.


Dalam kamar, aku duduk di tepi ranjang sambil terus menangis pilu. Tak ada yang lebih menyesakkan hati daripada mendengar pengakuan cinta yang terlambat datangnya. Aku tak boleh menjadi duri dalam rumah tangga adikku, biarlah tetap menjadi bunga mawar berduri asalkan tidak melukai perasaan orang-orang yang mencintaiku.


Bunyi klakson taksi yang kupesan meredakan isak tangisku. Segera kuraih koper yang sejak semalam kusiapkan, aku harus tegar di hadapan Mas Deni. Aku adalah mawar berduri, sanggup menahan setiap goncangan dan tangguh menghadapi setiap masalah.


“Mbak Tania, taksinya sudah ada di depan.” Suara Mbok Iyam ada di depan pintu kamar, dengan perlahan pintu kubuka.


“Iya, Mbok. Terima kasih atas semuanya ya? Maaf bila selama di sini ada salah dan khilaf.” Kupeluk tubuh renta itu erat-erat.


Iya, Mbak. Hati-hati di jalan ya?”


Mbok Iyam membantu membawa koperku, di depan Mas Deni juga telah bersiap ke kantor. Ia terus memandangiku, mungkin ada tanya dalam hatinya. Mengapa tadi aku menangis dan sekarang telah tampil tegar bak tak ada masalah apapun.


Aku menghampirinya. “Mas, aku pulang dulu. Maaf bila selama di sini ada salah yang tidak kusengaja. Aku pamit ya?”


Tanpa menunggu jawabannya, aku segera memasuki taksi yang telah dibuka pintunya terlebih dahulu oleh Mbak Iyam. Kulambaikan tanganku pada Mbok Iyam selaras laju taksi membelah jalanan yang mulai ramai.


Biarlah seperti ini dan terus seperti ini. Tak ada yang mustahil bila Tuhan telah berkehendak, harus optimis. Jalan masih panjang untuk kulewati sendiri. Bila nanti Tuhan mempertemukan jodohku, semoga itu yang terbaik buat hidupku.


Kisah Mas Deni, biarlah tetap abadi menjadi bagian masa lalu. Setiap orang berhak mendapatkan pelajaran dari setiap luka dan mendapatkan pengalaman untuk setiap bagian hidup yang penuh warna. Hari ini bisa saja terluka, karena duri mawar yang tajam menghujam. Namun, kelak akan sembuh dan meninggalkan bekas yang akan terus terkenang menjadi sebuah pengalaman yang berharga.


TAMAT.
profile-picture
begundal memberi reputasi
Lihat 3 balasan
Balasan post evywahyuni
Ane dipojokan ya, sambil ngemil kembang dan ditemani cendol ha ha ha boleh tak?
Quote:


Boleh ... boleh😂 bagi cendolnya, Gan😃 Ehh, ngemil kembang emang di situ Suzanna ya, Mas?🤔🤔😅
Balasan post evywahyuni
Bagus, tak pelajari cara bikin thread
Balasan post evywahyuni
Loh aku tadi komen di mana he he
Bagus mbak cantik
profile-picture
begundal memberi reputasi
Quote:


Terima kasih😍😍
Quote:


Update cerita misteri lagi? Kalau cerita yang ini udah selesai😊
waahhh... lha kok cpt gitu?

Astro, Si Monyet Pemberani

Kumpulan Cerita Pendek Oleh. Evy Wahyuni

Alkisah di dunia antah berantah, hiduplah seekor monyet yang ceria. Setiap hari harus belajar bergelantungan berpindah ke pohon yang satu ke pohon lainnya, sebagai pembelajaran karena dirinya masih sangat muda.

Kata ibunya, sedari kecil ia harus bisa belajar mandiri. Lepas masa menyusu, ia harus bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan, harus bisa beradaptasi dengan cuaca panas maupun hujan. Harus bisa mencari makan sendiri, walau orang tua masih kuat mencari sebonggol pisang untuknya.

Nasehat itu tertanam di otak kecilnya, setiap hari dengan bantuan sang ibu ia membelah hutan dengan kelincahan melompat dan bergantung. Ayahnya telah pergi sejak ia masih dalam susuan sang ibu. Terpikat dengan seekor monyet yang membawa sang ayah berada jauh dari rumah.

Namun, kehilangan sosok ayah tak berpengaruh baginya. Hanya sang ibu yang setia mendampingi, mengasihi dan melindungi, yang menjadikannya seekor monyet yang tabah.

Beranjak remaja, ia mulai bergabung dengan teman-teman yang lain. Saling berburu makanan ke tempat-tempat yang jauh. Meski ibunya selalu mengingatkan agar ia tak jauh bermain. Namun, karena jiwa mudanya maka ia mulai tak menggubris perkataan sang ibu.

Suatu hari, kawannya Arbei mengajaknya menyusuri kawasan tengah hutan. Persediaan makanan mulai menipis, sebagai satu-satunya lelaki di rumah maka ia menyanggupi ajakan Arbei. Namun, sebelum pergi ia mendatangi ibunya yang sedang menyusun dedaunan sebagai alas tidurnya yang baru.

“Ibu, Arbei mengajakku berburu makanan di kawasan tengah hutan. Aku pergi dulu ya, Bu,” ucapnya sambil mencium tangan sang ibu.

“Astro ... jangan ke sana, Nak. Kawasan tengah hutan itu sangat berbahaya, banyak kaum kita yang mati diserang binatang buas. Ibu takut nanti kau dalam bahaya dan tak bisa menjaga diri.”

“Ibu, aku sudah besar. Sudah bisa menjaga diri. Kalau bukan aku yang mencari makanan, siapa lagi? Ibu tunggu saja, akan kubuktikan kalau aku bisa!” ujarnya angkuh.

Lalu ia ke luar menuju Arbei yang sedang menunggunya. Tak dihiraukan panggilan sang ibu yang mengkhawatirkannya. Ia tetap membulatkan tekad melompat dari dahan rumahnya ke dahan pohon lain.
‘Aku harus buktikan pada ibu, kalau aku bukan Astro yang lemah,’ batinnya.

“Ayo ... Astro, kita harus buru-buru sebelum malam turun!” teriak Arbei yang sudah lebih dulu berayun di depannya.

“Oke, aku di belakangmu. Lekaslah.”

Tak terasa, perjalanan mereka telah memasuki kawasan tengah hutan. Tanpa mereka sadari, suasana mulai tampak hening. Tak ada kicauan burung atau senda gurau binatang lainnya. Mereka terus saja berpindah pohon, melompat dan bergelantungan kesana-kemari.

Akhirnya mereka tiba di sebuah ngarai di antara tebing curam nan terjal. Tampak beberapa buah matang bergantungan di pepohonan rindang di pinggir tebing.

Arbei menghentikan langkah lalu membuka tas ransel yang sedari tadi dibawanya. Astro pun melakukan hal yang sama. Mereka sibuk memetik buah-buah yang masak dan memasukkannya ke dalam tas. Tak memperhatikan sekeliling, tak menyadari bahaya yang sedang mengancam, dan tak melihat ada sesuatu yang sedang mengincar mereka.

Astro merasakan sesuatu, ia menyikut lengan Arbei. “Ssstt, Arbei, apakah kau tidak merasa ada sesuatu yang aneh dengan kawasan ini?”

Arbei yang sedang memetik buah di dekat Astro langsung menghentikan aksinya. “Ada apa? Sudahlah tak usah dihiraukan, ayo kita selesaikan memetik buah lalu segera pulang.”

Astro kembali memetik buah-buah itu. Berusaha menghilangkan rasa was-was dalam hatinya. Sesekali melihat ke belakang ketika telinganya mendengar gesekan ranting patah. Ia berpindah tempat, kini ia berpijak pada sebuah dahan di atas tebing.

Tak terasa pula tas Arbei perlahan mulai sesak. Sementara tas bawaan Astro masih berisi setengahnya, ketakutan yang hinggap menjadikannya tak berkonsentrasi penuh memetik buah.

Tak lama kemudian, dari rimbunan pepohonan muncullah seekor ular yang sangat besar! Ular raksasa itu mengendap-endap merayap di antara dahan pohon. Gesekan kulitnya yang lembut, luput dari perhatian Arbei yang asyik memakan buah karena tasnya sudah penuh. Ia menunggu Astro yang sedang sibuk memenuhi isi tasnya. Ternyata ular besar itu mengincar Arbei!

Arbei yang sejak tadi tak sadar diri menjadi sorot mangsa terenak bagi ular itu. Tubuhnya yang berisi kini tengah menjadi incaran sang ular raksasa. Astro merasa ada yang aneh sejak tadi itu tiba-tiba melihat ke arah Arbei, sontak ia kaget. Di belakang Arbei telah ada seekor ular raksasa yang sedang mengawasi temannya itu.
Tubuh Astro mendadak beku, tak ingin menarik perhatian sang pemangsa. Dengan sedikit berbisik, ia mencoba menyelamatkan Arbei.

“Ssstt, Arbei ... hei, lihat aku,” bisiknya pelan.

Arbei menoleh, ia mengangkat kepalanya. “Ada apa? Apa tasmu sudah penuh? Ayo kita pulang kalau begitu, perutku juga sudah kenyang,” tanyanya.

“Lihat di belakangmu sekarang,” jawab Astro, tak bergerak sedikit pun.

Perlahan Arbei memutar tubuhnya, ular itu makin menyeringai kejam. Sorot mata yang merah pertanda rasa lapar yang tiada kira. Arbei tersentak kaget, ia berusaha melarikan diri. Namun, beratnya tas yang ada dipunggung membuat langkahnya terhalang.

Dengan sekali gerak, ular itu melilit tubuh Arbei, melilit hingga napas Arbei sesak dan kehabisan oksigen. Mulut ular itu yang menganga lebar perlahan menelan tubuh Arbei yang sudah mati lemas. Astro ketakutan bukan main, kembali terngiang ucapan ibunya. Ia menyesal memperturutkan kata hati, kini ia harus menyelamatkan nyawanya dari sang predator di depannya.

Tampaknya sang predator telah menelan tubuh Arbei, kini mata memerah itu kembali jalang menatap Astro. Rupanya, ia masih lapar. Astro berpindah dahan, kepalanya celingak-celinguk mencari celah untuk lari. Ular raksasa itu kini telah memantapkan posisinya di depan Astro yang tak menyadari pula kalau dahan yang dipijaknya berada di atas tebing nan curam.

Untung tas yang dia bawa belum sepenuhnya penuh, sehingga ia bisa memprediksi langkah selanjutnya. Dengan sekali lompat, ia berayun di atas dahan yang cukup tinggi, terus berayun dan terus mengayunkan badannya hingga meninggalkan pohon ular raksasa itu.

‘Aku harus selamat! Harus bisa meninggalkan tempat ini. Ibu, maafkan aku. Lain kali akan kudengarkan kata-katamu, Ibu. Doakan aku selamat.’ batinnya.

Astro terus mengayunkan tubuhnya, tak ingin dimangsa seperti Arbei. Tak kenal lelah ia terus berlari berusaha menjauhi kawasan tengah hutan. Dengan penuh konsentrasi ia pacu langkahnya melompati setiap dahan pohon dan ranting.

‘Aku monyet yang kuat, aku harus bisa membuktikan kalau aku bisa menaklukkan kawasan tengah hutan ini, aku harus selamat supaya bisa menceritakan kematian Arbei kepada keluarganya,’ batinnya terus memacu semangatnya.

Akhirnya, ia tiba di gerbang kampung, dengan hati yang lega, ia berayun menuju rumahnya. Sang ibu yang setia menunggu, akhirnya melompat dan memeluknya bahagia.

Tamat.
profile-picture
profile-picture
begundal dan smersh64 memberi reputasi
Lihat 6 balasan
Balasan post evywahyuni
Astro semangat
profile-picture
begundal memberi reputasi
Quote:


Yess! Komen perdana. Lope-lope deh buat Mbak❤🌷❤
Quote:


Asyik dapat loveemoticon-Cendol Gan
Balasan post evywahyuni
Seru ceritanya
Quote:


Yess🌷🌷! Coba buat di thread ya? Panjang cerita bisa sampai 1000 kata dulu. Kalau tak bisa Fabel, bisa coba cerita fiksi lainnya. Kalau sudah nanti saya ke sana beri cendol juga😍😍😊
Lihat 1 balasan
Balasan post evywahyuni
Aku baru nyoba nulis puisi mbk. Belum validasi akun soalnya
Quote:


Validasi kartu identitas?
Eh saling follow dulu dong😊
Quote:


Heheehe, emoticon-Big Kiss
Balasan post evywahyuni
Saya suka ini
Quote:


Terima kasih, Mbak cantik😊🌷
Halaman 2 dari 23


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di