alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Kumpulan Cerita Pendek Oleh. Evy Wahyuni
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c6810cc2525c35a09525e71/kumpulan-cerita-pendek-oleh-evy-wahyuni

Kumpulan Cerita Pendek Oleh. Evy Wahyuni

Kumpulan Cerita Pendek Oleh. Evy Wahyuni

Libur yang Dirindukan

Oleh. Evy Wahyuni

***

Ulangan Akhir Semester(UAS) anak-anak telah usai. Saatnya masuk skedul baru, libur panjang. Akhirnya saat yang ditunggu-tunggu datang juga.
Anak-anakku girang bukan kepalang, tak sabar ingin liburan, walau cuma di kampung nenek tercinta.

Seperti siang ini, saat Nisa pulang sekolah. Wajahnya sumringah banget, senyumnya lebar selebar daun pintu. Hehehe !

“Umi ... Nisa besok sudah libur. Ayo telepon Abi, beri tahu kalo Nisa sudah libur sekolah,” ujar Nisa dengan girangnya.

“Iya sabar, tunggu Abi telepon saja baru di beri tahu. Kalau sekarang tidak bisa, siapa tahu Abi lagi sibuk kerja,” sahutku sambil terus melipat pakaian yang telah kering habis dicuci kemaren.

“Janji ya, Umi? Jangan lupa!”

“Iyaa ....”


Nisa berlalu menuju kamarnya lalu sibuk bermain squishy. Beberapa menit berlalu teleponku berdering, rupanya suamiku.

“Halo, assalamu alaikum Abi. Apa kabar?”

“Wa alaikum salam ... alhamdulillah baik. Gimana kabar Umi dan anak-anak? Semua sehat?”

“Alhamdulillah kami semua sehat-sehat wal afiat, oh iya Nisa besok sudah libur. Tadi dia suruh Umi kasih tahu Abi, sudah tak sabar mau liburan di rumah Neneknya di kampung.”

“Ooh sudah libur ya? Kalo Aidil gimana? Apa sudah libur juga?”
“Alhamdulillah Aidil sudah libur juga Bi.”

“Oke, nanti Abi ijin sama Pak Bos. Siapa tau bisa di ijinkan pulang sebentar sore.”

“Siip. Semoga Abi diberi ijin pulang sebentar. Umi tunggu kabarnya ya Bi?”

“Iyaa ... assalamu alaikum Umi.”
“Wa alaikum salam ....”


Sambungan telepon pun berakhir. Mungkin suamiku langsung menemui atasannya, meminta ijin agar bisa pulang naik kapal sore supaya bisa sampai di kota kami esok pagi.

Suamiku dipindah-tugaskan keluar kota, di seberang lautan beda provinsi. Jika ingin pulang harus naik ferry semalaman di atas lautan lepas baru esok pagi baru sampai ke kota kami. Sejak dipindahkan kesana otomatis suamiku tinggal terpisah dengan aku dan anak-anak. Istilah ‘dua dapur' berlaku bagi kami karena beda tempat tinggal.

Jika ingin pulang harus menunggu akhir bulan atau tanggal merah karena hari-hari penting, untunglah komunikasi lancar setiap hari, baik lewat telepon, sms lewat WA, video call semua dilakukan agar keadaanku dan anak-anak tetap terpantau olehnya.

***

Sore yang temaram, sinar mentari perlahan berubah jingga. Nisa dan Aidil berkali-kali bahkan berganti-gantian mengecek gawai mereka, kira-kira ada telepon atau sms dari sang ayah. Tak luput aku yang sedang sibuk di dapur pun kena serangan pertanyaan, “Umi ... Abi sudah beri kabar belum?”

Setelah terakhir komunikasi tadi aku segera memberitahu Nisa dan Aidil kalau abi sudah menelepon dan sekarang tinggal menunggu telepon lagi sekadar memberi kepastian apakah ayahnya akan pulang hari ini atau tidak.

***

Keesokan harinya, anak-anak masih sarapan, tiba-tiba di ruang depan terdengar suara ketukan pintu. Aku segera ke sana membuka pintu. Rupanya abi telah tiba dengan selamat.

Kuraih tangannya dan menciumnya takzim, lalu membantu membawa tas pakaian yang abi bawa. Kami sama-sama masuk, sebelumnya pintu kembali kututup.

"Anak-anak, lihat siapa yang datang!" seruku.

Mendengar suaraku sontak Nisa dan Aidil menoleh, lalu serempak meninggalkan meja makan lalu memeluk ayah mereka.

"Abiii ... akhirnya Abi datang juga!" teriak Nisa girang.

Aku hanya tersenyum haru menyaksikan kebahagiaan keluargaku. Belum liburan saja hatiku sudah sesenang ini, bisa berkumpul kembali dengan suami dan melihat keluarga utuh dengan kehadiran sosok ayah bagi Nisa dan Aidil.

Tamat. ***
profile-picture
profile-picture
profile-picture
perihbanget dan 18 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh evywahyuni
Halaman 1 dari 22

Kumpulan Cerita Pendek Evy Wahyuni

Beberapa Kisah Kehidupan yang Terangkum Sederhana

GIF

Kumpulan Cerita Pendek Oleh. Evy Wahyuni

Quote:

☆☆☆Happy Reading☆☆☆


Tak Bisa Pulang

Kumpulan Cerita Pendek Oleh. Evy Wahyuni


emoticon-ceyememoticon-ceyememoticon-ceyememoticon-ceyem

Binar mata anak-anakku berpendar laksana cahaya neon, tatkala kuajak mereka ke salah satu swalayan di kota ini. Walau tinggal di kota, tetapi tak membiasakan mereka bila harus setiap saat menjenguk jejeran jajanan yang terpajang di rak-rak yang berbaris rapi sabar menunggu jemputan setiap pembeli yang datang berkunjung. Sehingga, bila ada kesempatan berbelanja bulanan maka, mereka lah yang paling antusias.

Memasuki Swalayan, langkah-langkah kecil mereka berubah drastis, kesana-kemari saling berlarian mengambil jajanan makanan dan minuman yang digemari. Saling bergantian memasukkan barang ke troli barang yang sejak masuk tadi setia kuseret-seret kemana aku pergi.

“Mi, Nisa mau yang itu? Boleh ya?”

Nisa mencolek lenganku sambil tangan satunya menunjuk susu kotak yang berwarna cokelat.

“Iya, boleh.”

Tiba-tiba Aidil, anak bungsuku datang menghampiriku. “Mi, Aidil mau yang itu.” Sambil menarik lenganku menuju rak cemilan ringan, tangan kecilnya menunjuk keripik rasa keju.

“Iya Nak, ambil satu saja ya? Belanjaanmu sudah banyak.” sahutku pelan. Aku cuma membawa sedikit uang, jadi harus memprioritaskan kebutuhan yang utama dulu.

Setelah membayar semua belanjaan kami pun bergegas ke luar swalayan. Sambil bercanda dan bercerita aku menuntun anak-anak pulang.

***emoticon-Takutemoticon-Takutemoticon-Takut***

Memasuki lorong yang menuju rumah, nampak ada keanehan yang terjadi. Nisa dan Aidil seperti merasakannya juga. Ujung baju kiri dan kananku ditarik oleh tangan mereka.

“Mi, jalannya pelan-pelan saja, Nisa takut.”

“ Aidil juga takut Mi,” sahut Aidil yang nampak makin ketakutan.

“Sstt … jangan ribut, kita pelan-pelan saja jalannya. Nisa, Aidil, jangan jauh-jauh dari Ummi.”

Hening menyapa, kilat mulai menyambar sisi langit, guruh sekali-kali menggema di angkasa. Sore tadi hujan memang mengguyur kotaku. Suasana tampak lengang, hanya merasakan gelap dan kelamnya malam tanpa seseorang yang bisa disapa.

Tubuh anak-anakku seakan menciut! Jelas ketakutan tergambar dari wajah mereka, berjalan tertatih dengan bibir yang membisu. Aku menoleh ke belakang, terdengar suara berbisik menyentuh dinding telinga. Namun, tiada bentuk ragawi yang tertangkap di kedua netra ini.

'Suara apa itu? Siapa yang berbisik itu?' Ah … tak boleh takut. Ada buah hati yang harus kujaga kewarasannya menghadapi situasi ini.

Suara gesekan plastik belanjaan mengisi kehampaan, aku seperti berjalan di dunia lain. Tiada seorang pun disini, hanya kami bertiga berjalan menyusuri kegelapan. 'Ke mana rumah-rumah warga yang saling berdempetan itu? Ke mana orang-orang yang selalu ramai di pos ronda?' Ah … di benak penuh tanya. Aku tak mau mati konyol!

Sesekali sambaran kilat menerangi angkasa, menambah ketakutan di wajah Nisa dan Aidil, gemuruh guntur yang saling bersahutan makin membuatku ingin berteriak meminta tolong, tetapi pada siapa?

Quote:


Suara berbisik-bisik itu kembali terdengar jelas di pendengaranku, ketika kumenoleh ke asal suara itu tiada jelas rupa wujud suara.

Meski kedua mataku membelalak memaksa menatap obyek suara, namun apa daya, aku tak memiliki aura indra ke-enam.

Langkahku semakin lebar, Nisa dan Aidil pun tak kalah cepat, seakan ingin berlari. Namun, terhalang oleh pekatnya pemandangan di depan mata.

Aku tak tahu apakah rumah kami belum dilewati atau bahkan telah terlewati, entahlah. Hanya berjalan dan terus melangkah, membawa kedua anakku di sisi kiri dan kanan. Kegelapan ini telah memperdayaiku, menuntun jauh ke dalam pusaran kelam. 'Ya, Allah, tolonglah kami.'

Tamat.***


Spoiler for Kumpulan Cerpen Lainnya:

Kumpulan Cerita Pendek Oleh. Evy Wahyuni
profile-picture
profile-picture
profile-picture
perihbanget dan 47 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh evywahyuni
Lihat 3 balasan
ummi.. updet lagi dung
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ajang.dee dan 3 lainnya memberi reputasi

Pelabuhan Terakhir

Kumpulan Cerita Pendek Oleh. Evy Wahyuni
******

“Mas, jangan pergi!” teriak Hana berusaha mencegah langkahku ketika beranjak pelan menuju pintu depan.

“Hana, jangan memperumit masalah, kita akan baik-baik saja, jadi kumohon ... jangan lebay!” ujarku, sesaat menghentikan langkah tanpa menoleh pada Hana yang kudengar perlahan terisak di sudut kursi tamu. Ruangan mendadak hening, seperti suasana pemakaman yang hanya terdengar isakan dan tangisan pelan tanpa suara.

Kumpulan Cerita Pendek Oleh. Evy Wahyuni

Setahun yang lalu, hubunganku dan Hana terbilang akur tanpa masalah, seperti kisah-kisah pada pasangan kekasih lainnya yang terkesan monoton kemudian berefek menjadi rutinitas yang perlahan membosankan.

Hingga kedatangan Arif, teman lama Hana yang notabene sahabatnya sejak masih kuliah. Aku tak mempermasalahkan kedekatan mereka yang bermula sejak Arif bersedia membantu Hana menyelesaikan pekerjaannya bahkan kadang hang out kemana-mana bareng. Wajar, sebagai rekan bisnis sesama pedagang tentu Arif lebih tahu masalah itu daripada aku, yang cuma seorang mandor konstruksi bangunan.

Jelang beberapa bulan, mulai ada gelagat yang aneh pada Arif, walau tak ada urusan bisnis dia selalu ada di rumah Hana. Ketika hari ini, aku tiba-tiba datang tanpa memberi kabar.

Apa yang kau lakukan di rumah ini, Rif?” Rasa heran penuh tanya seperti membuncah rasaku.

Kenapa Bram? Aku ada urusan sedikit dengan Hana, jangan sinis begitulah."

“Stop Rif, jangan macam-macam dengan Hana. Dia itu pacar dan calon istriku !” tegasku.

Mendadak seperti ada penghalang yang tiba-tiba hadir berusaha memisahkan aku dan Hana, penghalang itu adalah Arif, seseorang dari masa lalu Hana. Walau hubungan yang terjalin dengannya terbilang monoton, tetapi aku akan tetap mempertahankan hubungan ini karena Hana mampu menerima keadaan sesulit apa pun dan selalu sabar menghadapi hubungan kami yang terbilang tanpa masalah. Tentu saja, aku tak ingin membuat Hana kecewa dengan status sosial kami yang jauh berbeda.

“Hei ... ada Mas Bram rupanya, ada apa dengan kalian? Kok tegang begitu sih?”
Hana keluar membawa nampan berisi segelas minuman dingin, dan kuyakin itu diperuntukkan buat Arif.
Aku kemudian duduk di depan Arif, menatapnya saat Hana menaruh gelas minuman itu di atas meja.

”Makasih Han, maaf sudah bikin repot.” Senyumnya melebar seperti lebar meja tamu Hana, kutatap sinis penuh kejengkelan.

“Ehmmm ... sepertinya saya mengganggu nih!” sahutku agak keras, membuat Hana mengalihkan pandangannya padaku.

“Maaf Sayang, jangan bilang begitu dong. Sudah lama datangnya ya? Mau kubikinkan minum juga?” tanya Hana kemudian duduk di sebelahku.

“Baru saja, aku punya sedikit waktu istirahat jadi kugunakan untuk datang ke sini menengokmu. Tak usah buatkan minuman, aku tak haus,” jawabku ketus.

Kataku lagi, “selama ini, ada hubungan apa antara kau dan Arif? sampai-sampai dia selalu ada di rumahmu setiap kali aku kesini?”

Pertanyaan yang sedari tadi membuncah akhirnya keluar dengan rasa geram. “Katakan padaku Hana, ada hubungan apa antara kau dan Arif? Apa kalian sedang bermain api di belakangku?”

Hening terjadi .... Arif lalu memandang Hana, mereka saling pandang penuh misteri. Akhirnya ia pun angkat bicara. “Bram ... kau jangan salah paham. Antara aku dan Hana tidak ada hubungan seperti yang kau duga, kami hanya berteman, tak lebih.”

“Iya Bram, kami cuma berteman saja, jangan cemburu begitu dong,
” balas Hana cepat, seperti berusaha meyakinkan perkataan Arif barusan.

Tangan kanan Hana mengelus punggungku, sambil tersenyum seakan menegaskan kalau perasaannya tak teralihkan. Sayangnya, aku bukan Bram yang pandir, laki-laki yang bisa dibodohi oleh drama murahan seperti ini.

“Aku kebetulan singgah, ada proposal yang harus ditandatangani Hana, ini harus di setor ke perusahaan tempat kami mengambil barang nantinya.” Arif berusaha menjelaskan maksud kedatangannya.

“Iya, Mas. Saya dan Mas Arif lagi joint bisnis, kami mengadakan kerjasama dengan pihak penyedia barang. Rencananya bila sudah di ACC, kami mau membuka toko besar semacam swalayan gitu,” ujar Hana menimpali ucapan Arif.

“Jadi, kau melakukan semua ini tanpa memberitahu Hana? Aku ini masih kauanggap pacar atau bukan, sih!” tanyaku sengit, tak menerima dianggap laksana angin lalu.

“Mas Bram! Jangan egois begitu! Sebenarnya belum saatnya kuberitahukan hal ini padamu, aku masih merintis jalan, bila telah selesai di ACC nanti baru kuberitahu.”

Hana berusaha menahan malu, karena pertengkaran kami disaksikan oleh Arif. Meredam kemarahanku memang agak susah, karena aku telah terbakar api cemburu.

Namun, aku tak peduli. Biar Arif sadar, kalau kehadirannya telah mengganggu hubungan kami. Aku hanya berusaha mempertahankan Hana, dia masih berstatus pacarku, dan tak ingin ada orang ketiga yang akan merusaknya.

Kutatap Arif lekat, pandanganku tak lagi ramah. Laki-laki itu seakan paham situasi yang sedang terjadi. Dengan berat hati ia pamit pada Hana dan aku terus mengamati tingkah laku mereka.

Di luar kulihat Hana berkali-kali memohon maaf, berharap Arif memahami keadaannya, dan Arif hanya mengangguk sambil terus tersenyum bijak. Dasar kalian munafik!

Hana kembali masuk ke rumah begitu mobil Arif melaju meninggalkan halaman. Ia kembali duduk di kursi yang tadi diduduki Arif, ia seperti tak lagi betah di sampingku.

Kupandangi dengan pikiran yang masih belum lepas dari bayang Arif. Aku harus mendapat kejelasan Hana, tak mungkin hubungan ini bisa kulanjutkan bila harus selalu merasa was-was akan rasa dikhianati.

Perbedaan status sosial kelak bisa memicu keretakan hubungan ini, Hana akan menjadi seorang pengusaha sukses, sementara aku? Pekerjaan mandor bangunan tak akan selamanya kujalani. Bila pekerjaan itu rampung maka jelas menjadi pengangguran terpampang nyata.

“Hana ... kita tak mungkin selamanya seperti ini, kau pasti tak betah dengan sikapku yang pecemburu, dan kau pasti akan malu mempunyai pasangan seperti aku yang kelak akan menjadi penggangguran. Sementara engkau akan menjadi seorang wanita karier yang sukses.”

Hana yang sedari tadi tertunduk kini mengangkat kepalanya balik menatapku dengan seribu tanya di manik matanya.

“Maksudmu apa, Mas? Bukankah kita sudah berulangkali membicarakan hal ini? Kumohon percaya aku Mas, antara aku dan Mas Arif memang tak ada hubungan apa-apa selain hubungan rekan bisnis saja.

Lanjutnya lagi. “Jika Mas Bram tak suka aku menjalin kerjasama dengan Mas Arif maka aku akan berhenti, Mas. Biarlah aku punya toko kecil asalkan aku tidak kehilanganmu.”

Hana mulai terisak, dia menangis. Aku tak boleh larut dalam situasi drama seperti ini. Aku berpindah duduk di sisinya, merengkuhnya dalam pelukanku. Hana balas memeluk, kukecup lembut keningnya. Memberinya ketenangan akal.

“Aku mencintaimu, Han. Sangat mencintaimu malah. Namun, aku tak mau egois hanya karena memperturutkan ego belaka. Kau harus sukses menggapai cita-citamu, menjadi wanita karier yang selama ini kau impikan.”

Hana semakin erat memelukku, tubuhnya terguncang. Mungkin perkataanku ada benarnya, tetapi malah membuatnya makin tak bisa memilih.

“Mas, jangan katakan kau akan meninggalkanku,” katanya pelan, kini ia menatapku penuh linangan air mata.

“Iya Hana, aku telah memutuskan. Jalan kita tak searah, aku tak bisa membimbingmu dengan kelakuanku yang kekanak-kanakan. Biarlah untuk sementara waktu seperti ini. Bergaullah dengan Arif, dia laki-laki yang baik. Aku percaya dia bisa menuntun menggapai cita-citamu.”

Lepas berkata demikian, kulepas tangan Hana yang masih memelukku. Sempat kucium pipi, mengecup kening dan lembut bibirnya sesaat. Lalu beranjak berdiri meninggalkan ia yang masih terus menatapku.

“Mas, jangan pergi!” teriak Hana berusaha mencegah langkahku ketika beranjak pelan menuju pintu depan.

“Hana, jangan memperumit hal ini, kita akan baik-baik saja, jadi kumohon ... jangan menahanku,” ujarku. Kuteruskan langkah tanpa menoleh pada Hana yang kudengar perlahan kembali terisak di kursi tamu. Ruangan itu mendadak hening, seperti suasana pemakaman, yang hanya terdengar isakan dan tangisan pelan tanpa suara.

Kumpulan Cerita Pendek Oleh. Evy Wahyuni

Tak terasa sudah enam bulan berlalu dan aku masih menjadi mandor di perusahaan tempatku mencari rezeki. Sejak pertemuan terakhir dengan Hana, tak sekilas pun bertemu dengan gadis itu lagi. Mungkin sekarang ia telah menjalani kehidupannya yang baru bersama Arif.

Suasana sore lepas pulang kerja sangatlah ramai oleh lalu lalang kendaraan di jalan. Kukemudikan kendaraan roda dua yang selalu setia menjadi teman menyusuri jalan, dengan hati yang riang sambil sesekali bernyanyi.

Keputusan untuk meninggalkan Hana kurasa sangat tepat, setidaknya saat ini hatiku tak perlu lagi merisaukan dan memikirkannya kala bersama Arif. Kecemburuan kecil yang perlahan merusak hubungan.

Hubungan tanpa masa depan yang jelas sudah tentu bisa menjadi kendala, apalagi bila tidak dilandasi dengan kepercayaan yang kuat. Selalu merasa kuatir dan cemas, selalu beranggapan rendah dan akan dipandang remeh dengan status pekerjaan yang tidak berimbang tentu akan mempengaruhi langkah selanjutnya. Belum lagi perbedaan pendapatan dalam segi ekonomi, sangat jelas membuat jurang pemisah.

Aku bernapas lega, setidaknya telah membebaskan seorang gadis dari dilema rumah tangga yang tak harmonis, membiarkannya menemukan dunia yang ia inginkan. Setidaknya kini aku bisa mencari seorang pengganti Hana yang se-level denganku. Kembali mencari cinta yang hilang itu dari sosok wanita lain yang bisa menerima keadaan dan menjalani rumitnya hubungan berumah-tangga bersamaku.

Sudah sebulan ini, aku berkenalan dengan Dewi-anak Pak Karim-tetangga baruku, ia seorang buruh di sebuah pabrik konveksi. Semoga hubungan ini bisa mengembalikan rasa percaya diri dan semangatku untuk kembali membuka hati melangkah ke jenjang yang lebih serius nantinya dan menghilangkan jejak Hana sepenuhnya dari hidupku. Semoga.

TAMAT.***
profile-picture
profile-picture
profile-picture
perihbanget dan 12 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh evywahyuni

Cemburu Menguras Hati

Sebelum ia hadir, hari-hari penuh ceria dengan teriakan dan tawaku ketika bermain-main dengan buah hatiku. Hidupku berwarna warni laksana crayon anakku yang bertebaran di lantai saat mencoba menggambar pemandangan atau gambar-gambar kesukaannya.

Ketika suami pulang pun tak ada wajah cemberut dan merenggut , semua kisah berjalan sempurna. Sungguh keluarga yang harmonis, tenteram, aman, dan damai.

Tak kusangka, di saat masuk akhir bulan yang mencekam seiring isi dompet yang mulai tampak horror, ia pun datang tanpa kusadari. Pandangan menjadi tak seindah biasa, senyum pun hilang satu persatu.

‘Sungguh, aku tak terima!’

Seisi rumah menjadi kacau! Anakku yang biasa bersama tertawa penuh canda bermain akhirnya kehilangan waktu untuk itu, crayon yang setiap saat terhambur bersama kertas gambarnya juga tak ada lagi menghiasi lantai. Semua mendadak dangdut, eeh! Sepi!

Suami perlahan menyadari perubahan tingkahku yang kebanyakan uring-uringan daripada hari kemarin, bermuka manis sambil menyodorkan segelas kopi hitam kesukaannya.

“Umi, sakit?” Terlontar juga rasa ingin tahunya, ‘hmm ... suamiku kepo, aah ....’ Sesaat kumenoleh ke arahnya.

“Entahlah, moodku lagi kacau, Abi! Jangan kepo deh.”

Kembali tak mengacuhkan dirinya, aku pun masuk ke dapur. Mencari apa yang patut dikerjakan tanpa harus beradu argumen dengan suami yang mulai kepo.

Jujur, andai bisa memilih, aku tak mau ia datang! Membuatku kehilangan keceriaan, tawa lepas, dan senyum yang semanis kue lapis legit buatan ibu, eeh!

Ketika ia datang pun seperti bayangan, kemana aku pergi selalu saja ia mengekor, membuntuti, bahkan selalu ingin ada dimanapun aku berada.

Melihatnya membuatku selalu meringis pilu bahkan aura kecantikanku seakan pudar, wajah yang berseri-seri menjadi kehilangan cahaya mentari di pagi hari, aduuh!

‘Kenapa sih, harus datang!’

Merenggut cemberut tak ada guna, hanya makin menyiksa batin. Seribu satu cara untuk mengusirnya pergi tak jua berhasil, bikin kepala mendidih meler, dan meleleh!

‘Menjengkelkan!’

‘Sudah datang di tanggal tua, tak di undang pula!’

******

“Umi, sabar ya? Terima saja dengan lapang dada, ikhlas atau tidak ikhlas, dia akan selalu datang tiap bulan menengok Umi, ia kan?” Suamiku akhirnya paham kegundahan hati istrinya yang secantik Happy Salma, eeh!

Diberi wejangan kayak gitu mestinya kepala jadi sedikit adem, yaa ... sedikit! Tapi lebih banyak dongkol dalam hati, tiap hari harus, wajib, mesti lihat dia! Apalagi dengan rona kemerah-merahan miliknya makin membuat hatiku meringis sakit, perih dan pedih. Wah, pokoknya rasanya sampai membuat air mataku keluar tanpa permisi.

“Umi, menangis ya?” Rima-anakku-menegur, kala melihat air mata tak sadar menetes di pipi.

“Wajah Umi keliatan cantik hari ini nak, makanya sampai nangis-nangis begitu.” Sambil melirik genit, suamiku menjawab pertanyaan anaknya yang kini melongo heran.

“Jadi, kemarin Umi nda cantik ya Abi?” Tiba-tiba tangisku jeda, menatap garang wajahnya yang mulai cengengesan, apa karena dia akhirnya memupuskan pujian Suamiku? Siap perang berarti!

Mata suamiku menatap tajam, seakan tak takut melihat istri tercinta yang siap ber-argumen dengan segala pola pikir sederhananya.

“Astagfirullah al adziim, Umi selalu cantik! Bahkan dengan jerawat besar di pipi Umi sekalipun!” Akhirnya tawa suamiku membahana hingga ke langit ketujuh.

Hmm ... jerawat sialan! Gara-gara kau datang akhirnya aku tampak bodoh di hadapan suami dan anakku.

emoticon-Lempar Bata
profile-picture
profile-picture
profile-picture
perihbanget dan 10 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan

Black Pink VS Sabrina

Menuk, si anak tunggal Pak Wiro lagi asik denger lagu Black Pink, badannya meliuk-meliuk mirip layangan putus, mulutnya komat kamit menirukan bahasa korea yang entah dia tahu artinya atau tidak, gue juga kagak paham. emoticon-Bingung

Sementara itu, Pak Wiro datang. Menuk yang tidak menyadari kehadiran bapaknya malah makin asik bergoyang mirip gasing mau jatuh. Perlahan pundaknya ditepuk ....

“Nduk, kamu itu kemasukan jin ya? Mulut komat kamit seperti baca mantera, menari kayak kuda lumping, kesambet jin opo tho Nduk?”

Menuk kaget, malah mirip orang kerasukan sekarang, matanya melotot sempurna, tubuh yang tadi luwes meliuk-meliuk kini tegang menatap sang bapak yang lagi tersenyum menahan tawa. Dimatikannya lagu Black Pink dari gawai.

“Iish Bapak gimana sih, Orang lagi latihan nari dibilangi kemasukan jin!” Mulutnya maju tiga senti alias manyun bin cemberut.

“Lha abis kamu menari kayak orang kemasukan gitu. Mending pake lagu dangdut Nduk, lebih enak,” sahut Pak Wiro sambil meniru gerakan dangdut di depan Menuk.

“Ealah Bapak, ini lagu yang lagi hits jaman now lho Pak, girl band dari Korea, namanya Black Pink, ayeee ... ayeee, duu ... duu ... duuu ....” emoticon-Kaskus Radio

“Wih, lebih enak dengerin lagunya Sabrina Nduk, Goyang Dua Jari biar kita hepi” balas Pak Wiro memperagakan lagu Sabrina.

Akhirnya perdebatan berakhir seru. Menuk kembali memutar lagu Black Pink, mulut komat kamit bahasa korea lalu meliuk-liukkan badan. Sementara Pak Wiro tetap memperagakan lagu Sabrina, sambil mengangkat dua jarinya ke atas.

Gue, emaknya gak ikutanlah. Mending nonton ceramah Ustadz Somad di TV, lalu menambah volume TV. Rumah mendadak rame, biarin!
emoticon-Betty
profile-picture
profile-picture
profile-picture
indahmami dan 9 lainnya memberi reputasi

"Siapa Dia, Mas?"

Butiran air yang bercucuran dari langit tumpah ruah malam ini mengimbangi buliran air asin yang tercurah dari netraku, menderingkan suara, pekik tak jelas kala kata-kata saling bersahutan.


“Via, hentikan amarahmu. Jangan berburuk sangka. Percaya padaku, suamimu ini masih laki-laki setia.”


Dia, Mas Arul. Lelaki tampan yang lima tahun belakangan ini telah mengganti identitas KTP dan menggenapkannya dengan membuat Kartu Keluarga dengan memasukkan namaku di bawah namanya, tentu saja setelah terlebih dahulu resmi menjawab ijab qabul pada penghulu.


Entah mengapa, kepulangannya sore tadi memicu pertengkaran hingga berlanjut malam hari. Saat tanpa sengaja menemukan selembar resi tanda terima pembelian barang pada saku bajunya. Ya, pembelian sebuah gelang emas seberat 10 gram!


***** *****

Hatiku mendadak panas, mendidih sampai ke ubun-ubun. Rambut rontok tak mengapa, panasnya hati mengalahkan logika.


“Mas Arul jangan bohong! Ngaku saja lah, Mas selingkuh di belakangku selama ini, ia kan?” balasku tak kalah sengit, rasa tak terima diduakan membuatku lupa akan kewajiban menyediakan makan malam untuknya.
emoticon-Marah

Huh! Tak ada makan malam sampai masalah ini tuntas sampai ke akar-akarnya. Aku harus tahu siapa selingkuhan Mas Arul, siapa yang telah mencoba mendekati pasangan hidupku, berani betul dia ingin merebut suamiku. Enak saja!


“Mas, jawab! Siapa dia? Jangan diam kayak keong! Bukti sudah di tangan, jujur saja. Apa Mas sudah tak mencintaiku lagi?”
emoticon-Blue Guy Bata (L)

“Sayang, kenapa uring-uringan begitu sih? Apa ini karena kedatangan si bulan dua hari yang lalu, sampai-sampai emosimu menjadi tak terkendali?” ujarnya pelan, mencoba meredam amarahku, seperti tak terpengaruh emosi yang kini meledak-ledak.


Mas Arul kemudian mendekat, ikut duduk di pinggir peraduan kami sambil mengelus tangan dan rambutku, mencoba merayu sang istri yang lagi ngambek. Mendapat perlakuan seperti itu makin menderaskan buliran air dari kedua bola mata jeliku.


“Bukti apa yang kau maksud tadi Via? Kenapa menuduh suamimu ini selingkuh? Kenapa harus mencari selingkuhan jika dirimu saja sudah cukup bagiku?”


Lalu kuperlihatkan bukti nyata yang sedari tadi ada di genggaman, menyodorkan di hadapannya sambil terus terisak tak beraturan. emoticon-Bingung


Aku harus siap menerima jawaban pahit itu, aku harus tegarkan hati ini, walau sakit sampai menusuk seluruh sendi.


Netra Mas Arul membulat, memperhatikan bukti itu, tapi anehnya … dia malah tersenyum, manis sekali.


Pandangannya berpindah ke arahku, bibirnya terus tersenyum. Ah, aku harus bisa menahan diri untuk tak langsung memeluknya erat.


Butiran air langit yang sedari tadi tumpah ruah tak terdengar lagi, sereda tangisku. Kini tinggal gerimis, seperti isakanku yang tinggal satu-satu.


“Via, ini hadiah untukmu, sayangnya kau sudah tahu padahal ingin kusembunyikan sampai hari ulang tahunmu tiba esok hari.”
emoticon-DP

“Mas, tidak bohong kan? Tidak sengaja mengelabuiku dengan cerita palsu itu kan?” ujarku ingin memastikan.


“Tidak sayang, Mas tidak bohong, apa kau lupa esok adalah hari ulang tahunmu?”


“Terima kasih Mas, maaf sudah menduga berlebihan. Lalu … mana hadiahnya Mas?” Kutarik diri, tersenyum menatapnya lembut.


“Sayang, ulang tahunmu besok. Gelangnya masih nginap di toko emas, tadi rantainya putus pas kucoba, jadi diperbaiki dulu besok baru bisa diambil.”


Oalah Mas, jadi kejutan hari ini cuma resinya doang. Itu pun sudah membuatku mewek semalaman.


“Ya sudah, yuk kita makan. Dah lapar nih.” ujarku cemberut.


Tamat.***emoticon-Cape deeehh
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ajang.dee dan 9 lainnya memberi reputasi

Assalamualaikum, Cinta

“Assalamualaikum, Cinta.”

Salam perdana yang dia layangkan saat pertama kali kumelintas di koridor kampus menuju ruang perpustakaan. Kuhentikan langkah, menoleh, menatapnya tanpa senyum.

“Wa alaikum salam, maaf namaku bukan Cinta,” jawabku ketus.

Dia tersenyum, semanis lolipop. Tangannya terulur maju. “Iya tau. Perkenalkan, namaku Rifatul Ihsan, panggil saja Ifat.”

emoticon-Baby Boy 1
Wajah ketus yang kupasang sedari tadi akhirnya berganti senyum, kujabat tangannya seraya berkata, “Hai Ifat, namaku Alena Rahman. Panggil saja Alena.” Genggaman itu lalu kulepas segera, hmm … perkenalan yang unik.

“Ingin ke Perpus? Barengan yuuk,” ajaknya kemudian.

“Ayo....” Kami pun segera berlalu menuju perpustakaan sebelum jam istirahat berakhir.


*******

Sejak saat itu komunikasi dengan Ifat berjalan baik-baik saja, dia orangnya ramah, perhatian, dan sedikit posesif. Tempat curhat terbaik lho! jika ada yang kukeluhkan maka selalu ada solusi yang dia berikan. Meski berbarengan dengan petuah dan nasehat yang kadang membuat tawa karena hampir mirip dengan ayahku jika lagi marah-marah. Hahaha …. emoticon-2 Jempol


Selain sifat dan karakternya yang tadi kuceritakan, ternyata Ifat orangnya suka humor juga. Cocok dengan pembawaanku yang sedikit garing, gesrek, atau apalah kata orang.


Cuma herannya kok sampai sekarang gak ada yang naksir sama dia ya? Padahal wajahnya tampan, kulit putih bersih, alis tebal, hidung mancung, bermata elang, dan senyumnya itu lho. Bikin aku meleleh saat pertama berkenalan. Es krim kali!

*****

emoticon-Selamat
“Hei Alena, kok melamun? Mikirin aku ya?” cetusnya saat melihatku bengong di taman kampus.

“Enak aja, kalo mikirin kamu bisa keenakan dong,” balasku malu-malu. Kedapatan melamun sih. Hehehe ….

“Emangnya mikirin apa sih? Apa ada masalah? Curhat dong,” ujarnya sambil duduk di sampingku.


Angin sepoi-sepoi menyentuh raga, wangi bunga di taman seakan ikut menambah suasana siang ini. Di taman hanya ada aku dan Ifat, entah kemana teman-teman yang lain. Aku tak tau dan memang tak mau mengurusi itu.


“Gak mikirin siapa-siapa, cuma mikirin kamu aja.”

Ifat terbelalak kaget, saking kaget bola matanya  hampir terpingpong keluar dari kelopaknya.

“Ciiee … beneran nih mikirin aku? Kalo begitu kita jadian yuuk,” sahutnya enteng, sontak membuat hatiku tiba-tiba berdebar berdetak tak karuan. Sejak kapan ada jam berdetak di hatiku ya?


“Eh, ap-apa tadi Fat?” Aku latah terbata-bata, sejak kapan juga jadi latah begini? Haduh.

“Daripada tiap hari melamun mikirin aku, mending kita jadian aja, biar hatimu tenang gak mikir macam-macam lagi.”

emoticon-Kimpoi
Duh, nih orang. Masa ngajak jadian gak ada romantis-romantisnya sih? Mana momennya di taman lagi, kasih bunga kek, coklat kek.


Ifat bicara lagi. “Aku juga sudah lama suka sama kamu, Alena. Sejak pertama melihatmu mau ke perpus, masih ingat?” ujarnya sambil tersenyum.


“Kita jadian ya?”


***
emoticon-Peluk
Sejak saat itu kami masih berteman seperti biasa, tapi sudah berganti status menjadi sepasang kekasih. Sapaannya menjadi semakin mesra tiap bertemu. “Assalamualaikum, Cinta.”

Aiih ….


Tamat.***
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ajang.dee dan 8 lainnya memberi reputasi

Dinda Nestapa

Kumpulan Cerita Pendek Oleh. Evy Wahyuni

emoticon-roseemoticon-roseemoticon-rose

Kala itu, tepat setahun yang lalu. Di saat denting suara pagi masih menggema, cahaya sang fajar pelan menyingsing di ufuk timur. Desau angin menyapa bibir pantai, mengelus pipinya yang kian merona. Sepagi itu, ia telah hadir menyaksikan fenomena pagi di pantai. Sungguh pemandangan bak lukisan dalam galeri dan ia tak mau melewatkan hal itu meski sedetik.

Dinda, nama yang telah dilekatkan oleh ibundanya. Lembut kulit sawo matang, mata sayu, dan gerai rambut panjang sebahunya kini makin liar diterbangkan angin yang mulai nakal bermain-main di sekitar. Ia tertawa riang, sesekali menepis hembusan angin dingin yang berusaha merusak tatanan rambut indah itu.

"Dinda sayang, pakai mantel ini. Udara pagi bisa membuatmu masuk angin," ucap seorang lelaki yang terpaut usia tak jauh darinya. Mantel yang sedari tadi dibawa lelaki itu, segera dipakaikan di tubuh rampingnya.

Dia hanya menoleh, senyum manisnya tak lepas dari kedua bibirnya yang mungil. Selalu seperti itu, Dinda seakan tahu bahwa lelaki itu akan datang membawakan mantel untuknya.

Kemudian seperti biasa pula, mereka menghabiskan pagi sambil menikmati debur ombak kecil yang sesekali memecah bibir pantai. Ia menggenggam erat jemari gadis itu, mereka berjalan menyusuri pinggir pantai tanpa alas kaki. "Aku menyukainya," kata Dinda riang. "Aku ingin merasakan sentuhan pasir pantai di telapak kaki indahku."


'Andai waktu itu bisa kembali'.

***

Kini gadis periang itu menangis sesugukan, isak tangis begitu perih terdengar. Perlakuan kasar ayahnya tak bisa ia cegah, semua terjadi tanpa ada siapa-siapa di rumah mereka, dan kini gadis malang itu balik menyalahkan lelaki yang selalu melindunginya.

"
Quote:


Lelaki itu terdiam, ingin menyela, tetapi itu pasti tambah membuat gadis itu makin emosi. Ingin membantah, tetapi tak mau makin membuat Dinda membencinya.

"Dinda, ak--aku tak tahu kalau ayah bakal melakukan hal ini padamu. Maaf, tak bisa menjaga kehormatanmu. Aku lalai. Maafkan aku, Dinda sayang," ujar lelaki itu lirih. 

Quote:


Dinda hanya menangis, meraung, dan terus terisak ketika lelaki itu merengkuh tubuhnya dalam pelukan. Hanya itu yang bisa ia lakukan, hanya itu.

***

Dinda terpekur, menatap jalan berbatu di bawah kakinya. Siang terik tak lagi menjadi kendala, ia terus menyusuri jalan itu. Melangkah menuju pantai yang sedang sepi. Hatinya diliputi galau tingkat tinggi, entah pada siapa mesti berbagi.

Dirinya di ambang putus asa, semakin terpuruk. Siang itu, pantai lengang. Hanya deburan ombak mengisi kesunyian pandang, lambaian nyiur seakan mengejek dirinya yang sudah ternista. Tak ada lagi suara ibu yang selalu melindungi dari amukan marah sang ayah ketika pulang ke rumah dalam keadaan mabuk, tak ada siapa-siapa. Kini, ia merasa sendiri.

Laut sedang pasang. Ombak sedang bergulung menuju ke arahnya. Memecah dan menyisakan buih di pasir pantai. Laut seakan mengajaknya bermain, sejenak lupakan lara dan nestapa.

Dinda melangkahkan kakinya meninggalkan jejak duka di butiran pasir pantai. Ketika tiada tempat bernaung lagi, maka lautlah teman sejati. Ketika kepahitan hidup menghampiri, hanya ombak yang bersenandung menjadi pelampiasan sekejap.

Selesai.***
profile-picture
profile-picture
profile-picture
indahmami dan 7 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh evywahyuni

Retaknya Sebuah Hati

Siang itu. "Mirna! Jangan pergi! Please!" Teriakan seseorang memecah hening di sebuah cafe yang sepi pengunjung. 

Seorang wanita berjalan tergesa-gesa bahkan sedikit berlari. Ke luar dari tempat orang-orang biasa menghabiskan waktu, menikmati secangkir kopi plus layanan WiFi gratis.

Sang lelaki pun memburu, segera menangkap lengannya. Ia memberontak. "Lepaskan, Dion! Jangan pernah coba-coba menyentuhku lagi!" serunya, "aku membencimu!" 

Dion melepas lengan calon pengantinnya yang dicengkeram erat. "Mir, kau boleh membenciku, tetapi dengarkan dulu penjelasanku," sahutnya.

Mirna terdiam dengan napas tak beraturan. Pandangannya masih menyimpan amarah, tiada lagi tatap lembut nan mempesona itu. Semua sirna sejak beberapa menit lalu.

Seharusnya ia tak perlu menyanggupi permintaan Dion untuk bertemu, kata orang 'pamali' kalau sudah dekat waktu nikah, tetapi masih ketemuan. Ya! seminggu lagi akad nikah mereka akan dilaksanakan, semua telah tertata rapi. Gaun pengantin yang jauh-jauh hari sudah dipesan telah tiba tadi pagi di rumahnya.

Gaun pengantin yang cantik! Sangat elegan dan menawan, berwarna putih gading polos. Tak sabar ingin mencoba, merasakan lembut sentuhan gaun itu di kulit bersih nan terawat miliknya.

Namun, baru saja gaun itu melekat di tubuh rampingnya. Tiba-tiba ponsel di atas nakas berdering, ada nama Dion di sana. Dengan senyum semringah ia menerima panggilan sang kekasih. "Ya, ada apa, Sayang? Tau gak, gaunku baru tiba tadi pagi. Aku sementara mencobanya, tetapi kau sudah menelepon."

"Boleh kita ketemu hari ini? Ada hal yang harus kubicarakan denganmu. Kutunggu di tempat biasa. Datang ya Mir?" Suara Dion terdengar lesu, seperti tak bersemangat. 'Aku harus optimis. Bisa saja dia kelelahan habis mengantar undangan,' batin Mirna bercampur rada was-was.

"Baiklah, aku akan datang."

Meski ibunya tak mengijinkan ke luar rumah, ia tetap ngotot. Dengan alasan ada sesuatu yang penting ingin dibicarakan Dion.

***

"Mirna, aku tahu kau pasti marah padaku. Tak kusangka akan terjadi seperti ini, Mir. Ini sungguh di luar kuasaku, maafkan aku Mirna," cecar Dion. Ia terus menjelaskan sesuatu hal yang tak ingin wanita itu dengar lagi.

"Sudahlah Dion, aku mau pulang. Lebih baik kau secepatnya datang ke rumah dan jelaskan semua ini kepada orang tuaku. Pernikahan kita sisa seminggu lagi, harus ada penjelasan bagi keluargaku, karena ini bukan hanya masalah kita lagi."

Mirna segera berlalu, menjauh pergi dengan membawa tetes air bening dari kelopak matanya. Saat ini, ada luka tengah menganga lebar dalam hati. Sakit, tetapi tak berdarah. Ia dikhianati sang kekasih pada saat jelang pernikahan.

Sepanjang jalan pulang ke rumah, kembali terngiang ucapan Dion yang tiba-tiba membuatnya mendadak kehilangan keseimbangan.

"Mirna ... maaf. Pernikahan ini tak bisa kita lanjutkan lagi. Kemarin Sherly datang ke rumah, ia menuntut aku menikahinya. Sherly hamil, Mir."

Seketika petir menggelegar di pucuk kepala Mirna. Ingin menangis, tetapi tak akan menyelesaikan masalah. Sherly, mantan kekasih Dion. Telah tiga bulan mereka putus dan kini tiba-tiba ia datang menuntut pertanggungjawaban lelaki itu.

'Mungkin inilah petunjuk yang Tuhan beri. Biarlah luka ini menjadi saksi atas bisunya sebuah hati yang terbiar sendiri menunggu pasti akan jalan menuju masa depan,' batinnya pilu.

Kumpulan Cerita Pendek Oleh. Evy Wahyuni
profile-picture
profile-picture
profile-picture
indahmami dan 8 lainnya memberi reputasi

Saksi Bisu

Kumpulan Cerita Pendek Oleh. Evy Wahyuni

Ada riuh tak bergema, di bilik usang nan kumuh, beberapa orang berkerumun seperti sedang melakukan suatu adegan ilegal. Entah menyabung ayam, berjudi, atau lagi bermabuk-mabukan.

Aku mendekat, mengintip dibalik dinding kayu yang mulai tampak keropos di sana-sini. Kulihat ada tiga lelaki dewasa saling berhadapan. Ada rasa tertarik ingin menyaksikan apa yang sedang mereka perbuat.

"Sekarang giliranmu, Mat!" seru seseorang. Aku tak dapat melihat wajahnya, karena ia sedang duduk membelakangiku.

Lelaki yang diseru itu segera melakukan aksinya. Tunggu! Ia sedang memegang parang tajam! Ada ada ya? Aku berpindah posisi mencari titik pandang yang lebih jelas. Sayangnya, tak ada ponsel di saku padahal seingatku tadi benda pipih itu kubawa. Biarlah cuma kesaksian mata saja yang bisa kulaporkan. 

Nah. Aku mendapat celah sedikit lebar. Serasa tak percaya, di hadapan mereka ada sesorang yang sedang terbujur penuh luka. Oh, tidak! Sungguh kasian orang itu. Ia di mutilasi oleh orang-orang biadap! 

Kedua kakinya telah terpotong sempurna, lutut, paha, dan kedua tangannya pun telah lepas dari raga. Tinggal kepala yang belum di eksekusi.

Bulu kudukku meremang, ini pemandangan yang mengerikan. Lututku goyah. Bau amis merajalela, sempat kuhirup sedikit. Mual! Isi perutku seakan hendak keluar. Namun, mereka seperti telah terbiasa dengan suasana itu. Tak ada raut jijik apalagi ngeri. Semua tampak biasa saja.

Sedikit panik, tanpa sengaja kakiku menginjak batang ranting yang kering, Gerakan panikku membuat suara. Mereka sontak menghentikan aksi. Pandangan mereka tertuju pada celah tempatku mengintip. Aku terdiam, gemetar sendiri.

"Ada apa di luar? Bahar, coba kauperiksa dulu," sahut lelaki besar yang tadi memunggungiku, sepertinya dia pemimpin kelompok itu.

Bahar, nama pria berkumis lebat itu beranjak ke luar, membuka pintu dan sedikit berdiri agak jauh dari pintu. Semoga ia tidak melihat tubuhku yang kini makin merapat di pinggir dinding. Kepalanya celingak-celinguk mencari sumber bunyi di sekeliling pandangan.

"Aman, Bos! Mungkin tadi cuma gesekan angin. Tidak ada siapa pun di luar." Bahar kembali duduk di samping laki-laki yang dia panggil 'Bos' itu.

"Okey, cepat lanjutkan pekerjaanmu, Somat!" Perintah sang Bos. Laki-laki yang bernama Somat segera menuju korban mereka.

Sekali tebas! Putuslah kepala itu. Darah kian mengucur deras. Kututup rapat bibirku, hendak menjerit. Namun, apa daya kekuatanku pun seakan melemah. Kepala itu menggelinding tepat di ujung mataku. Hingga tampak jelas rupa korban mutilasi keroyokan mereka. Itu aku!

Tamat.***
profile-picture
profile-picture
profile-picture
indahmami dan 6 lainnya memberi reputasi
Kumpulan Cerita Pendek Oleh. Evy Wahyuni

***

"Dasar anak-anak tak berguna!" 

"Bego!"

"Disuruh kerja yang gampang, malah ngeyel!"

"Mau kalian apa, haah!"

Entah sudah makian ke berapa yang laki-laki itu lemparkan, tangannya tak lelah menunjuk muka-muka tak berdosa yang sedang berdiri di depannya.

Anak-anak itu berdiri ketakutan. Bayangan hukuman berseliweran di kepala mereka. Minggu lalu, rotan kecil cambuk laki-laki itu melayang lepas di badan mereka. Menyisakan bilur luka, jejak rotan itu masih membekas di raga anak-anak itu.

"Sekarang ... pergi dari depanku! Jangan sampai bila pulang nanti kantong itu masih kosong! Ingat! Ada Bang Jalu yang mengawasi gerak-gerik kalian."

"Camkan itu!"

Anak-anak liar itu segera keluar dari ruangan yang disebut markas oleh bos mereka, Bang Madin.

***

Di sebelah ruang rapat tadi, ada anak yang sedang terbaring lemah. Badannya panas, sudah beberapa hari ini terkena demam. Namun, ia hanya dibiarkan terbaring begitu saja.

"Nanti juga akan sembuh, itu hanya demam biasa," kata Bang Madin tempo hari.

Tubuhnya menggigil, selimut bekas yang dipakainya tak mampu menghilangkan rasa dingin yang dirasakan. "Abang ... tolong, Bang." Perlahan ia mencoba memanggil Bang Madin.

"Ya! Ada apa, Adi?" Bang Madin menghampirinya.

"Saya dingin, Bang. Boleh minta selimut lagi?"

Laki-laki itu duduk di samping ranjang, meletakkan telapak tangannya ke dahi Adi. "Kau demam, badanmu panas sekali. Tunggu ...!"

Ia keluar, mengambil handuk putih kecil yang biasa dia jadikan lap muka. Tak lupa mengambil baskom mengisinya dengan air. Lalu membawa peralatan itu ke kamar Adi.

Sesampainya di kamar, diperbaikinya selimut anak itu, hingga menutupi seluruh tubuhnya. Kecuali bagian muka. Diletakkannya handuk basah yang sudah diperas itu ke dahi Adi. 

"Sekarang, cobalah untuk tidur! Aku keluar dulu." Bang Madin lalu meninggalkan Adi seorang diri.

Bang Jaing menghampirinya. "Gimana keadaan Adi, Bang?"

"Badannya masih panas, dia sempat menggigil tadi. Kau pergilah ke apotek di ujung jalan sana, beli obat penurun panas untuk Adi. Lekas!" Disodorkannya uang lima puluh ribu ke tangan Bang Jaing. Katanya lagi, "Jangan lupa kembaliannya, belikan Adi nasi bungkus dengan air mineral!"

Bang Jaing bergegas. Adi perlu obat sekarang. Gara-gara beberapa hari yang lalu ia kehujanan sepanjang siang, akhirnya anak itu terkena demam. 

Di jalan ia sempat bertemu dengan Bang Jalu, setelah melakukan tanya jawab tentang Adi. Ia segera berlalu, meninggalkan Bang Jalu yang asyik mengawasi anak-anak asuhannya sedang melakukan kegiatan mengemis dan mengamen di simpang jalan dekat lampu merah.

***

Di markas Bang Madin. Ia tampak sedang memeras kompres yang sekejap tadi telah mengisap panas tubuh Adi. Tubuh anak itu pun masih menggigil. 'Lama benar kau, Jaing!' dengusnya.

Tak lama kemudian, Bang Jaing datang membawa bungkusan berisi obat, dan sebungkus nasi beserta sebotol air mineral. Bungkusan itu segera ia serahkan pada Bang Madin.

Dibangunkannya Adi dari tidur. "Adi ... bangunlah! Ini ada obat untukmu, tetapi sebelumnya kau harus makan dulu. Ayo bangun."

Adi membuka mata. " Terima kasih, Bang," ucapnya.

"Kau bisa makan sendiri? Apa perlu kusuapi?" tanya Bang Madin.

"Tak usah, Bang. Biar saya makan sendiri saja," jawab Adi sambil berusaha duduk. Diraihnya makanan yang sudah dibuka bungkusnya itu, memakannya dengan lahap.

Setelah selesai makan, diraihnya botol air mineral. Meneguknya pelan. Lalu dengan sigap Bang Madin menyodorkan sendok obat yang berisi sirup penurun panas, dan langsung diteguk Adi.

"Tidurlah sekarang! Semoga obatnya lekas bereaksi. Kalau ada apa-apa berteriak saja. Ayo, tidur."

Setelah memperbaiki posisi Adi agar anak itu kembali telentang tidur, lalu memperbaiki selimutnya. Bang Madin segera ke luar kamar diikuti oleh Bang Jaing.

***

"Bang, maaf kalau saya lancang. Saya perhatikan Abang sangat perhatian pada Adi. Padahal dia cuma seorang anak jalanan yang kita pungut sebulan lalu." Bang Jaing memulai percakapan, ketika mereka duduk di luar markas. 

"Kau jangan bicara begitu lagi padaku, Jaing. Aku ini manusia, bukan preman yang tidak punya hati. Kau tahu sendiri kalau anak itu sedang sakit. Masa aku tega membiarkannya?"

Lanjutnya lagi. "Kalau dia sehat tentu dia bisa kembali bekerja, nah ... kalau dia sakit? Tentu kewajiban kita untuk merawatnya. Siapa lagi coba?"

Bang Jaing tersenyum, mengangguk paham. Tak disangka, lelaki yang terkenal ber-temperamen kasar itu ternyata punya hati yang sangat lembut. Meski tak ditampakkannya, tetapi tergambar jelas dalam perbuatannya kepada Adi.

Meski ia ditakuti dan dianggap manusia tiada guna di mata orang lain, ber-temperamen kasar, dan bak berandalan. Namun, ada hati yang manusiawi, ada empati, dan kasih sayang yang tak bisa ia tampakkan. Watak dan karakter jiwa Bang Madin terbentuk karena tempaan kerasnya kehidupan.

Selesai.***
profile-picture
profile-picture
profile-picture
indahmami dan 7 lainnya memberi reputasi
Kumpulan Cerita Pendek Oleh. Evy Wahyuni

***

Kemarin, kau masih duduk bersamaku di bangku ini. Kita saling bercengkrama berdua, tertawa sambil saling mengolok-olok satu sama lain. Indahnya persahabatan kala itu, tiada rahasia apapun di antara kita.

Namun, entah mengapa kau tiba-tiba mendadak asing. Menjadi sosok yang tak kukenal dan tak lagi membuat persahabatan kita se-nyaman dulu. Kau telah berubah karena dia!

Ya! Dia ... Ayuni, anak baru pindahan dari seberang pulau menjadi teman dekatmu sekarang. Kau sudah melupakan aku. Tak ada lagi sisa-sisa kebersamaan kita dulu, entah kau buang ke mana.

Kemarin, aku melihatmu bersamanya. Duduk bersama di bangku yang biasa kita duduki bersama. Apa kau tak melihat goresan nama kita di papan bangku itu? Apa tak memperhatikan 'namaku' yang pernah kau tulis dengan sangat indahnya?

Sungguh tega, kau membuatku ingin membencimu. Apa kau tak mengingat waktu kita sama-sama di hukum karena kompak tidak mengerjakan tugas matematika? Setelah jam istirahat, kita sama-sama tertawa menceritakan hukuman itu, sama-sama saling menguatkan agar besok tidak lupa mengerjakan tugas dan mengabaikan waktu bermain PS sejenak. 

Aduhai ... sungguh kenangan yang tak bisa kulupakan, tetapi dengan mudahnya kau lupa hanya karena ada 'dia' yang menggantikan posisiku.

Aku terus menguntit kebersamaan kalian. Ke mana pun kau pergi selalu kuusahakan untuk mengikutimu. Ada rasa tak rela, kau campakkan begitu saja. Aku masih ingin bersamamu, setidaknya untuk beberapa waktu yang tersisa.

Seperti kemarin, aku tetap mengikuti kebersamaanmu dengan Ayuni. Ke sebuah toko buku dekat sekolah. Biasanya kita sama-sama menghabiskan waktu di sana hanya sekadar membaca buku komik gratis, atau memang mencari buku untuk tugas sekolah.

Aku bersembunyi di rak buku paling belakang, memantau kegiatanmu bersama Ayuni, sepertinya kalian sedang mencari buku sejarah. 'Uups, bukankah rak buku-buku sejarah yang kini kutempati bersembunyi? Aku harus berpindah tempat, tak mau terduduk olehmu'.

"Ooh, rak buku sejarah ada rak paling belakang, dik." Tunjuk pelayan toko padamu.

Segera kupindah posisi, kini ke rak paling ujung. "Oh iya, rupanya sudah dipindah ke belakang toh? Makasih ya, Mbak?" ujarmu. Betapa sakitnya hatiku melihat kau lalu menggamit tangan Ayuni menuju rak yang kau tuju.

"Aduuh!" jeritmu. Rupanya karena tak berhati-hati kau menubruk seseorang.

"Hei ... kamu Abimanyu, kan? Teman Rendra dulu?" tanya orang kau tubruk. 'Hei ... darimana ia tahu namaku?'

"Oh, rupanya Mbak Ranti. Maaf Mbak, tadi Abi tak sengaja menubruk Mbak. Soalnya buru-buru mau cari buku untuk kerja tugas," jawabmu riang setelah tahu siapa orang itu.

"Eh, tak apa-apa. Oh iya, kebetulan kita bertemu. Jangan lupa, besok datang ke rumah ya? Ibu berencana mengadakan pengajian sekaligus doa bersama."

"Insyaallah, Mbak. Saya bisa membawa Ayuni? Kebetulan dia juga teman kami, Mbak," ucapmu sambil menoleh ke arah Ayuni yang kini sedang tersenyum manis pada wanita yang kau sebut Mbak Ranti itu.

"Ooh ... boleh, boleh. Kamu datang juga ya, Ayuni. Semakin banyak yang mendoakan semakin baik." Kata perempuan itu lagi, "Ya, sudah. Mbak pamit dulu. Buku yang Mbak cari sudah ketemu. Sampai jumpa besok, ya?"

***
Singkat kata, hari ini aku pun berpakaian rapi. Agar bisa berbaur dengan tamu-tamu yang datang di rumah Mbak Ranti. Seperti biasa, aku mengikutimu dengan Ayuni dari belakang, tak ingin tampak terlalu menyolok. Sengaja memakai topi untuk menutupi sebagian muka. 

Tak berapa lama, sampailah kalian di sebuah rumah yang terbilang megah. Halamannya cukup luas, rupanya sudah banyak mobil berjejer di sana.
Taman-taman yang berada di sekeliling rumah itu tampak asri menawan, penuh bunga mawar beraneka warna.

'Eiits, bukankah ini rumahku?'

Bukan seribu, tetapi ratusan tanya berseliweran dalam benak. Barusan ada acara di rumah sementara aku tak di beri tahu sama sekali. 'Apa keluarga ini juga sudah mulai melupakan keberadaanku?'

Kulihat tamu-tamu yang datang kompak memakai 'dresscode' pakaian putih, ada yang memakai gamis, kemeja, jilbab bahkan ada yang memakai celana putih. 'Apa ini pengajian atau acara reuni, ya?'

Seperti pakaian yang kau dan Ayuni kenakan, kompak memakai pakaian dan gamis berwarna putih. Sementara aku? Bukankah pakaian yang melekat di badan ini juga berwarna putih? Ah ... aku terkena amnesia rupanya.

Aku mengikutimu masuk ke dalam rumah, duduk tepat di belakangmu. Kau takkan mengetahuinya, karena begitu padatnya tamu yang sekarang duduk bersila.

Setelah semua undangan telah duduk, terdengar suara dari mikrofon. Itu terdengar seperti suara Mbak Ranti. Setelah memberi salam dan sedikit kata sambutan. Kalimat berikutnya membuat bulu kudukku merinding. 

"Terima kasih atas kehadiran kalian semua di rumah kami, untuk ikut melaksanakan pengajian dan doa bersama atas hilangnya adik kami 'Rendra Wicaksono' yang sampai hari ini belum ditemukan oleh pihak yang berwenang. Semoga jasadnya segera ditemukan dalam keadaan utuh, agar kami bisa menguburkannya dengan layak."

'Haah ...? Rendra Wicaksono itu namaku. Jadi, aku ...?'

Pantas selama ini engkau selalu berdiri di tepi jembatan tua yang biasa kita kunjungi bersama, menatap jauh bahkan kadang tunduk menatap riak air sungai kala sedang banjir. Entah apa yang terlihat di bawah sana. Terakhir kali kau mengajakku sambil membawa buku cerita terbaru yang baru saja kaubeli.

Kejadian itu kembali terbayang. Saat kau sodorkan buku itu, dari sampulnya jelas terbaca 'Selaksa Teror'. "Apa sudah kaubaca, Abi?" tanyaku. Menimang buku yang kulihat jumlah halamannya 194 itu.

"Belum. Aku belum membacanya. Ini khusus untuk kaubaca di duniamu berikutnya," jawabnya penuh misteri.

"Aku tak mengerti apa maksudmu, Abi. Dunia berikutku?" tanyaku.

Kau makin menghampiriku, makin mendekatiku yang berdiri di pinggir jembatan. Kedua tanganmu memegang ujung bahuku, kukira kau ingin memelukku, tetapi ternyata ....

Kau mendorongku sangat keras. Aku yang tidak siap karena memegang buku itu, akhirnya terjungkal ke belakang. Di detik-detik sebelum tubuhku dan bukumu masuk ke dalam air sungai yang dalam itu, kudengar teriakanmu, "Selamat tinggal kawanku yang bodoh! Tenanglah kau di duniamu berikutnya!"

***
Semua dalam ruangan ini mengikuti pengajian yang dipimpin oleh seorang ustad. Namun, tidak bagiku. Hanya terus menatap tubuhmu. Kau terlihat khusyu, entah kau ikut mengaji atau ikut mendoakanku, aku tak peduli.

'Aku akan terus mengikutimu, hingga tiba saat membalas apa yang sudah kau lakukan padaku. Nikmatilah waktumu, Kawan. Aku tak sebodoh yang kau kira!'. 

Tamat.***
profile-picture
profile-picture
profile-picture
indahmami dan 6 lainnya memberi reputasi

Balada Selembar Nyawa

Pagi tadi, ia masih ada di sekolah. Belajar dan bermain bersama teman-teman sebayanya, tertawa riang saling mengganggu, bercanda dan saling kejar-kejaran.
Hingga pulang sekolah, ia berjalan beriringan dengan Iwan, Arul, dan Tomi teman sekelas yang kebetulan rumahnya searah.

Di simpang jalan, satu persatu teman-temannya berbelok ke arah rumah masing-masing. Tinggal ia sendiri, berjalan lurus menyusuri jalanan beraspal . Sesekali tertunduk menghindari panasnya matahari, sesekali pula menendang batu-batu kerikil yang kebetulan berada di depan kaki.

Keasyikan berjalan ia tak menyadari ada seseorang yang rupanya mengikuti sejak tadi. Orang itu kemudian mensejajarkan langkahnya di sampingnya. Tangkas menepuk bahu kiri, membuatnya menoleh, menatap orang itu sambil mngerutkan dahi.

"Om, siapa?" tanyanya.

Laki-laki itu tersenyum, badannya sedikit kekar, kumis agak tebal, dan rambut yang tercukur rapi. Menelisik penampilannya, laki-laki itu seperti bukan lelaki jahat. Mungkin mau bertanya barangkali, pikirnya.

"Panggil saja Om Karta, Om mau minta tolong. Jalan Garuda di mana ya?" tanyanya.

Bocah tujuh tahun itu membalikkan badan, hendak menunjukkan jalan yang dimaksud. Namun, belum sempat mengangkat telunjuk, tiba-tiba indra penciumannya tertutup selembar sapu tangan yang beraroma wangi. Sempat terhirup, dan tak berapa detik kemudian tak sadarkan diri.

*** emoticon-Frownemoticon-Roll Eyes (Sarcastic)emoticon-Roll Eyes (Sarcastic)

Saat tersadar, ia seperti berada di ruang bercahaya putih, semuanya serba putih. Dinding dan lantai berwarna sama pula. Pakaian di badan pun bukan lagi putih merah seperti seragam yang tadi ia kenakan saat ke sekolah, entah siapa yang menggantinya. Kini ia berpakaian hampir sama dengan warna dinding dan lantai. Cuma satu benda di ruangan ini yang tidak berwarna putih, pintu! Ya, ada satu pintu berwarna coklat.

Perlahan berdiri, beranjak menuju pintu. Hendak ke luar dari ruangan tak bernyawa ini. Gagang telah ia pegang, pintu terbuka. Namun, apa yang ia lihat?

Pemandangan yang sungguh tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Entah di mana letaknya tempat ini, semua tampak berbeda dari ruangan sebelum ia berasal.

Anak-anak seumurannya tampak asyik bermain, berlari saling kejar-kejaran di padang bunga nan mewangi, langit berwarna biru cerah, sebuah soneta indah terlahir. Berasa ingin ada di sini selamanya.

Ketika hendak melangkah ke luar, tiba-tiba ada suara menyeru, lembut nadanya menenangkan gairah, turut menahan langkahnya.

"Jangan keluar, Nak. Belum saatnya kau ke sana."
Suara itu sungguh menenangkan batin. Ia tak ingin melihatnya, kedua netranya masih nyaman dengan pemandangan yang terlihat. Rasa menggebu akhirnya kandas. Harus bersabar menunggu waktu yang tepat.

Pintu kembali tertutup rapat, memutus rantai pandang mata. Tangan lembut itu menggiringnya kembali ke peraduan, entah ... ia menurut saja. Berbaring dan kembali tertidur, seperti rasa kantuk terlalu berat menindih kedua matanya.

*** emoticon-Mewekemoticon-Mewek

"Papah ... Ray mau sembuh. Ray tidak mau sakit lagi, Pah." Lamat-lamat ia mendengar suara seorang anak laki-laki.

Pelan mencoba membuka mata, tetapi tak bisa. Mata seperti enggan berkompromi. Sepertinya ia kini berada di sebuah ruangan yang berbau obat, entah itu bau karbol atau apa, ia tak mau cari tahu. Anak laki-laki itu pun seperti tengah berbaring dan dia kayaknya berada tepat di sebelah ranjangnya.

"Iya, Sayang. Ray pasti akan sembuh. Papah sudah menemukan teman buat Ray. Seorang anak laki-laki yang sehat, baik dan seumuran denganmu." Itu suara Om Karta!

Pikiran menerawang, terakhir kali yang ia ingat adalah Om Karna meminta bantuan menunjukkan Jalan Garuda. Lantas kenapa sekarang aku berada di sini?, ibu pasti tengah keliling mencari keliling kompleks di rumah teman-temanku. Ibu pasti bertanya, mengapa belum sampai di rumah sejak pulang sekolah tadi? batinnya terus bergejolak, memikirkan kemarahan ayah pada ibunya bila ia terlambat pulang ke rumah.

Terdengar suara langkah sepatu, berhenti di ujung ranjang."Bagaimana, Dok? Apa operasinya bisa dilakukan sekarang?" Kembali suara Om Karta menggema.

Tak ada jawaban, ia masih menunggu. Suara langkah sepatu itu mendekati ranjangnya, lalu terdengar menjauh. Suara anak laki-laki yang bernama Ray itu juga tak terdengar lagi. Hening ....

*** emoticon-Sorryemoticon-No Hope

Entah berapa lama tertidur, tak ada jam di ruangan ini. Ia terbangun, masih menggunakan pakaian yang sama, tetapi ... hei? Apa ia tak salah lihat?

Pintu coklat itu kini terbuka lebar! Suara tawa anak-anak di luar riang memenuhi gendang telinga. Ia beranjak turun dari peraduan indahnya. Segera menuju pintu yang kini penuh cahaya warna warni. Tak sabar ingin berjumpa dengan mereka, siapa tahu ada mengenali dirinya di sana.

Ia melangkahkan kaki, tak ada suara lembut yang menahannya lagi. Rerumputan hijau menggelitik ujung-ujung jari kaki, angin sepoi-sepoi menyapu pipi, ia termangu sesaat. Ada di dunia mana ia sekarang? batinnya.

Entah dari mana datangnya, di depannya kini ada seorang anak laki-laki, dia tersenyum lebar menampakkan gigi yang berbaris rapi. Pakaiannya pun sama dengan dirinya. Bocah itu mendekat, lalu meraih tangannya.

"Ayo, mari kita temui teman-teman yang lain, jangan takut. Ini tempat yang aman, takkan ada yang mengganggumu lagi. Ini dunia kita, dunia untuk anak-anak baik seperti kita. Ayo!"

Ia pun mengikutinya, sempat berbalik sejenak ke pintu di belakang. Ajaib! Pintu itu kini menghilang! Tak ada ruangan putih lagi, tak ada pula suara merdu yang menenangkan jiwanya, semua tiada. Hanya ada hamparan padang penuh bunga-bunga yang bermekaran.

Semakin mendekati kumpulan anak-anak yang riang bermain itu, perasaan di dada juga semakin ringan. Seakan oksigen di tubuh bertambah, pikiran yang tadi menggelayut manja di benak pun hilang. Berganti rasa senang, bahagia tanpa henti. Tak ada yang lucu. Namun, tawa dan senyuman tak pernah lepas dari wajahnya. Ia sungguh lega tiada terkira.

*** emoticon-Frownemoticon-Frownemoticon-Frown

Sementara itu, di sebuah rumah sempit di tengah kompleks. Ada senandung ayat-ayat tahlilan tengah dilantunkan beramai-ramai. Anak bungsu mereka yang hilang selama tiga hari telah ditemukan tewas dengan bekas jahitan di dada. Sepertinya ia adalah salah satu korban penculikan anak yang telah diambil organ tubuhnya.

Sementara di sebuah rumah mewah tak jauh dari pusat kota, terlihat ramai oleh banyaknya tamu yang datang. Rupanya sang tuan rumah sedang mengadakan acara syukuran. Anak bungsu mereka telah pulih dari sakit gagal jantung yang diderita selama ini dan telah mendapatkan donor jantung yang sesuai.

Tamat.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
indahmami dan 9 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh evywahyuni
Lihat 1 balasan
wah...keren keren cerpennya mbak...ini ada RL nya lho emoticon-Wakaka
Quote:


Terima kasih sudah berkenan baca, RL itu apa ya?😁
Balasan post evywahyuni
Mbak Thread utama, jangan di pisah dengan foto sampul ya. Minimal 2000 kakter atau lebih baru dipisah ya. Biar bisa pean ajukan review . Ini harusnya ikutkan event aja
profile-picture
mbakendut memberi reputasi
Quote:


Oke, terima kasih, Mas.
profile-picture
ajang.dee memberi reputasi
Quote:


real life mbak..kehidupan nyata emoticon-Big Grin
profile-picture
ajang.dee memberi reputasi
Quote:


Ooh, gitu to, hehehe😁. Makasih ya😊
profile-picture
profile-picture
ajang.dee dan febrianaryna memberi reputasi
ijin nyimak cerita2 nya mbak emoticon-Cendol (S)
Halaman 1 dari 22


×
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di