alexa-tracking
Kategori
Kategori
Pengumuman! Mau punya username yang simple? Klik di sini infonya!
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Sejarah dan ajaran agama Sunda Wiwitan
5 stars - based on 2 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c6610a08d9b170fb22c6458/sejarah-dan-ajaran-agama-sunda-wiwitan

Sejarah dan ajaran agama Sunda Wiwitan



Sejarah dan ajaran agama Sunda Wiwitan

PUBLISHED ON:14 Februari 2019

REPORTED BYemoticon-Big Grinhuha Hadiansyah

Sejarah dan ajaran agama Sunda Wiwitan

Agama Sunda Wiwitan adalah agama asli Indonesia. Makna wiwitan dalam Sunda Wiwitan adalah ‘permulaan’ atau ‘awal’. Pemahaman Sunda Wiwitan sendiri antara lain sistem keyakinan tradisi Sunda Lama sebelum datangnya agama-agama lain ke nusantara. Kata sunda bukan hanya bermakna etnis Sunda, tetapi bermakna filosofis yang artinya damai atau cahaya.

Berbagai literatur menyebutkan, Agama Sunda adalah kepercayaan sejumlah masyarakat yang tersebar di daerah Kecamatan Cigugur, Kuningan, Jawa Barat. Agama ini juga dikenal sebagai Cara Karuhun Urang (tradisi nenek moyang), agama Sunda Wiwitan, ajaran Madrais atau agama Cigugur.

Namun, Abdul Rozak, peneliti kepercayaan Sunda, menyebutkan bahwa agama ini adalah bagian dari agama Buhun, yaitu kepercayaan tradisional masyarakat Sunda yang tidak hanya terbatas pada masyarakat Cigugur di Kabupaten Kuningan, tetapi juga masyarakat Baduy di Kabupaten Lebak, para pemeluk "Agama Kuring" di daerah Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung dan masih banyak lagi komunitas masyarakat memeluk agama tersebut.

Jumlah pemeluknya di daerah Cigugur sekitar 3.000 orang. Bila para pemeluk di daerah lain ikut dihitung, jumlah pemeluk agama Buhun ini, menurut Abdul Rozak, mencapai 100.000 orang, sehingga agama Buhun termasuk salah satu kelompok yang terbesar di kalangan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Agama Sunda atau agama Sunda Wiwitan ini dikembangkan oleh Pangeran Madrais dari Cigugur, Kuningan. Oleh pemerintah Belanda, Madrais belakangan ditangkap dan dibuang ke Ternate, dan baru kembali sekitar tahun 1920 untuk melanjutkan ajarannya.

ADVERTISEMENT

Madrais, yang biasa juga dipanggil Kiai Madrais, adalah keturunan dari Kesultanan Gebang, sebuah kesultanan di wilayah Cirebon Timur. Ketika pemerintah Hindia Belanda menyerang kesultanan ini, Madrais diungsikan ke daerah Cigugur.

Madrais yang juga dikenal sebagai Pangeran Sadewa Alibasa, dibesarkan dalam tradisi Islam dan tumbuh sebagai seorang spiritualis.

Ia mendirikan pesantren sebagai pusat pengajaran agama Islam, tetapi kemudian mengembangkan pemahaman yang digalinya dari tradisi pra-Islam masyarakat Sunda yang agraris.

Ia mengajarkan pentingnya menghargai cara dan ciri kebangsaan sendiri, yaitu Sunda.

Dalam ajaran dan ritual, Madrais menetapkan tanggal 22 Rayagung menurut kalender Sunda sebagai hari raya Seren Taun yang diperingati secara besar-besaran.

Upacara ini dipusatkan di Paseban Tri Panca Tunggal, rumah peninggalan Kiai Madrais yang didirikan pada 1860.

Dalam upacara ini, berbagai rombongan dari masyarakat datang membawa bermacam-macam hasil bumi. Padi-padian yang dibawa, kemudian ditumbuk beramai-ramai dalam lesung sambil bernyanyi (ngagondang).

Upacara ini dirayakan sebagai ungkapan syukur untuk hasil bumi yang telah dikaruniakan oleh Tuhan kepada manusia. Upacara "Seren Taun" yang biasanya berlangsung hingga tiga hari dan diwarnai oleh berbagai kesenian daerah ini, pernah dilarang oleh pemerintah Orde Baru selama 17 tahun, namun kini upacara ini dihidupkan kembali.

Madrais juga mengajarkan penghormatan terhadap Dewi Sri (Sanghyang Sri) melalui upacara-upacara keagamaan penanaman padi. Ia memuliakan Maulid serta semua Nabi yang diturunkan ke bumi.

Madrais wafat pada tahun 1939, dan kepemimpinannya dilanjutkan oleh anaknya, Pangeran Tedjabuana, dan kemudian oleh cucunya, Pangeran Djatikusuma yang 11 Juli 1981 mendirikan Paguyuban Adat Cara Karuhun Urang (PACKU).

Penganut ajaran ini dapat ditemukan di beberapa desa di provinsi Banten dan Jawa Barat, seperti di Kanekes, Lebak, Banten; Ciptagelar Kasepuhan Banten Kidul, Cisolok, Sukabumi; Kampung Naga; dan Cigugur, Kuningan.

Menurut penganutnya, Sunda Wiwitan merupakan kepercayaan yang dianut sejak lama oleh orang Sunda sebelum datangnya ajaran Hindu dan Islam.

Ajaran Sunda Wiwitan

Agama Sunda Wiwitan tidak mengenal Kitab Suci, namun memiliki berbagai ajaran kebijaksanaan hidup dan tuntunan moral, aturan dan budi pekerti. 

Agama Sunda Wiwitan memiliki unsur monotheisme purba, yaitu di atas para dewata dan hyang terdapat dewa tunggal tertinggi maha kuasa yang tak berwujud yang disebut Sang Hyang Kersa yang disamakan dengan Tuhan Yang Maha Esa.

Kekuasaan tertinggi berada pada Sang Hyang Kersa (Yang Mahakuasa) atau Nu Ngersakeun (Yang Menghendaki). Dia juga disebut sebagai Batara Tunggal (Tuhan yang Mahaesa), Batara Jagat (Penguasa Alam), dan Batara Seda Niskala (Yang Gaib). Dia bersemayam di Buana Nyungcung. Semua dewa dalam konsep Hindu (Brahma, Wishnu, Shiwa, Indra, Yama, dan lain-lain) tunduk kepada Batara Seda Niskala.

Ada tiga macam alam dalam kepercayaan Sunda Wiwitan seperti disebutkan dalam pantun mengenai mitologi orang Kanekes:

Buana Nyungcung: tempat bersemayam Sang Hyang Kersa, yang letaknya paling atas

 Buana Panca Tengah: tempat berdiam manusia dan makhluk lainnya, letaknya di tengah

 Buana Larang: neraka, letaknya paling bawah

Dalam ajaran Sunda Wiwitan penyampaian doa dilakukan melalui nyanyian pantun dan kidung serta gerak tarian. Tradisi ini dapat dilihat dari upacara syukuran panen padi dan perayaan pergantian tahun yang berdasarkan pada penanggalan Sunda yang dikenal dengan nama Perayaan Seren Taun.

Meskipun sudah terjadi inkulturasi dan banyak orang Sunda yang memeluk agama-agama di luar Sunda Wiwitan, paham dan adat yang telah diajarkan oleh agama ini masih tetap dijadikan penuntun di dalam kehidupan orang-orang Sunda. Secara budaya, orang Sunda belum meninggalkan agama Sunda ini.

Tempat Suci

Tempat suci atau tempat pemujaan yang dianggap sakral atau keramat dalam Agama Sunda Wiwitan adalah Pamunjungan atau disebut Kabuyutan. Pamunjungan merupakan punden berundak yang biasanya terdapat di bukit dan di Pamunjungan ini biasanya terdapat Menhir, Arca, Batu Cengkuk, Batu Mangkok, Batu Pipih dan lain-lain.

Pamunjungan atau Kabuyutan banyak sekali di Tatar Sunda seperti Balay Pamujan Genter Bumi, Situs Cengkuk, Gunung Padang, Kabuyutan Galunggung, Situs Kawali dll. Di Bogor sendiri sebagi Pusat Nagara Sunda dan Pajajaran dahulu terdapat Banyak Pamunjungan beberapa diantaranya adalah Pamunjungan Rancamaya nama dahulunya adalah Pamunjungan Sanghyang Padungkukan yang disebut Bukit Badigul namun sayang saat ini Pamunjungan tersebut sudah tidak ada lagi, digantikan oleh Lapangan Golf.

Pada masanya Pamunjungan yang paling besar dan mewah adalah Pamunjungan Kihara Hyang yang berlokasi di Leuweung (hutan) Songgom, atau Balay Pamunjungan Mandala Parakan Jati yang saat ini lokasinya digunakan sebagai Kampung Budaya Sindang Barang.

Dengan banyaknya Pamunjungan atau Kabuyutan tersebut di Tatar Sunda membuktikan bahwa agama yang dianut atau agama mayoritas orang Sunda dahulu adalah Agama Jati Sunda atau Sunda Wiwitan, ini adalah jawaban kenapa di Sunda sangat jarang sekali diketemukan Candi.

Namun begitu, Hindu dan Budha berkembang baik di Sunda bahkan Raja Salaka Nagara juga Tarumanagara adalah seorang Hindu yang taat. Candi Hindu yang ditemukan di Tatar Sunda adalah Candi Cangkuang yang merupakan candi Hindu pemujaan Siwa dan Percandian Batujaya di Karawang yang merupakan kompleks bangunan stupa Buddha.

http://rimanews.com/readup/read/2019...Sunda-Wiwitan/

Semoga bisa lestari nih sunda wiwitan, apalagi sekarang sudah bisa dicantumkan di kolom agama di ktp
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Cavir emoticon-Smilie
asli sih, tapi kayaknya sedikit banyak udah ada kena pengaruh Hindu.

yg asli itu pasti coraknya Animisme- dinamisme.
sunda wiwitan... semoga lestari
Islam datang itu asing dan ia akan kembali asing
Top emoticon-Cendol Gan
dan masih banyak org telanjur ke cuci otak agama impor itu paling benar..

cuma karena samawi ini penyeberannya udah global dulu jadi paling besar skrg. emoticon-Big Grin
Udah jamannya agama impor ini, agama yg aslii pribumi malah terkucil emoticon-Traveller
Pernah punya dosen masa kuliah satu dekade lalu, kepercayaan Sunda Wiwitan, pertama kali tau beliau aliran kepercayaan setelah lihat KTPnya, di kolom agama-nya ditulis "-" tanda strip aja (mungkin sekarang sudah dibolehkan mencantumkan "aliran kepercayaan" di KTP oleh Mahkamah Konstitusi).
pengamatan ane sih penganut (kalo ane liat dosen ane) aliran kepercayaan itu tidak pernah mengumbar kepercayaan mereka ke orang lain, dan rata-rata ga ada masalah sama orang lain.
semestinya kita yang beragama yg diakui pancasila jangan ngusik dan menghakimi mereka, seakan kitalah paling benar, dan mereka kaum tersesat.
Karena di agama ane tidak boleh mencela atau memaksakan agama, dan Undang-undang tertinggi pun demikian.
kenapa namanya harus wiwitan
kenapa bukan wowotan / verotan atau tan tan yg lainnya heh?
emoticon-Marah
Quote:


betul, padahal banyak pula agama yang mendunia tanpa harus menyebarkannya kepada orang lain

Sejarah dan ajaran agama Sunda Wiwitan
Ane suka sejarah
Lanjut breemoticon-thumbsup




*bata donk ganemoticon-Blue Guy Bata (S) txemoticon-Malu (S)
KEPAHITAN PENGIKUT SANGHYANG KERSA


Hak sipil penganut kepercayaan Sunda Wiwitan masih terganjal. Tak butuh pengakuan sebagai agama baru.

Sejarah dan ajaran agama Sunda Wiwitan


Administrator


Edisi : 14 Agustus 2006



i

PULUHAN tahun sudah Rusman, 57 tahun, hidup seperti paria di negeri sendiri. Semua birokrasi pemerintahan menjauhinya seakan ia pernah berbuat makar atau mengkhianati Tanah Air. Tengoklah status lelaki tua ini. Kendati sudah lama menikah dan memiliki dua anak yang kini sudah dewasa, negara tetap menganggap bapak ini sebagai bujangan.

Akibatnya, selama bertugas sebagai pe-gawai Dinas Pariwisata Kabupa-ten Kuningan, Jawa Barat, ia tak pernah mendapat tunjangan untuk anak dan istri. Kini, sesudah pensiun dan bila kelak ia meninggal, istrinya pun tak berhak menikmati uang pensiun. "Sam-pai pensiun ini, saya masih di-hitung sebagai bujangan," ujarnya pasrah.

Semua kesulitan itu terjadi lantar-an Rusman menganut ajaran Sunda Wiwitan. Kantor catatan sipil di de-kat tempat tinggalnya di Cigugur, Ku-ning-an, tak mengakui pernikahannya. Pe-ga-wai di sana berdalih belum ada pe-tun-juk pelaksanaan yang membo-leh-kan pengesahan pernikahan adat ala Sunda Wiwitan.

Dalam kolom agama di kartu tanda penduduknya cuma terlihat tanda ku-rung dan di tengahnya diberi tanda strip. Di masa Orde Baru dulu, tanda seperti itu kerap membuatnya dicurigai di mana-mana. Pria bertubuh tam-bun itu dikira ateis atau pengikut partai terlarang.

Kepahitan hidup akibat diskrimina-si birokrasi seperti itu tak cuma diala-mi Rusman, tapi semua penganut Sun-da Wiwitan. Situasi itu tak banyak ber-ubah, pun pada zaman reformasi se-karang, ketika negeri ini sudah 61 tahun lepas dari belenggu penjajahan.

Kalau sekarang mulai ada catatan sipil di luar Cigugur yang mau meng-akui pernikahan pengikut Sunda Wiwit-an, "Itu setelah kita mengajukan gugatan ke pengadilan," kata De-wi Kanti, 30 tahun. Perempuan pengikut Sunda Wiwitan itu termasuk gigih me-lakukan advokasi bagi komunitasnya.

Sunda Wiwitan merupakan salah sa-tu aliran kepercayaan yang terhitung paling tua di Indonesia. Djatikusuma-, ayah Dewi-yang kini jadi kokolot alias pimpinan Sunda Wiwitan-menyebut kepercayaan itu sudah dianut orang Sunda sejak zaman dulu, jauh sebelum masuknya agama-agama besar yang kini diakui di Indonesia. Namun keyakinan itu tak disebut agama, melainkan wiwitan, yakni kepercaya-an yang pertama kali.

Mula-mula, masih menurut Djatikusuma, kepercayaan itu ditujukan kepada matahari yang bersinar, bebatu-an besar, atau pepohonan besar. Kemudian berkembang menjadi kepercayaan kepada Gusti yang satu. Mere-ka menyebutnya Sanghyang Kersa (Yang Maha Kuasa), Batara Tunggal (Yang Maha Esa), Batara Jagat (Pe-nguasa Alam), atau Batara Seda Niskala (Yang Maha Gaib).

Pada awal 1920-an Pangeran Madra-is, yang tadinya seorang kiai dan memi-liki pesantren, menggali kembali ajaran nen-ek moyang tentang Sunda Wiwitan. Ajarannya dikenal juga dengan agama Djawa Sunda. Tokoh inilah yang menetapkan tanggal satu Suro se-bagai hari besar Seren Taun-pesta panen yang dilarang semasa Orde Ba-ru.

Setelah Madrais meninggal pada 1939, ajarannya diteruskan anaknya, Pa-ngeran Tejabuana, dan cucu-nya, Djatikusuma, kini 74 tahun. Pada 11 Juli 1981, Djatikusuma mendirikan -Pa-guyuban Adat Cara Karuhun U-rang (PACKU) untuk melestarikan ajaran nenek moyang orang Sunda.

Seperempat abad berjalan, komuni-tas yang kini ditaksir berjumlah tiga ribu orang ini tetap mengalami peng-ing-karan hak-hak sipil dari ne-ga-ra. Tak hanya soal pernikahan, kesulit-an ju-ga dialami saat mengurus surat izin me-ngemudi (SIM) atau kartu keluarga.

Pendeknya, masalah selalu muncul da-lam urusan yang di dalamnya ada kolom agama yang harus diisi. Maklum, menu isian kolom hanya menampung agama yang diakui negara. Sedangkan kepercayaan Sunda Wiwitan tak ada di dalamnya.

Menghadapi situasi seperti itu, ada penganut Sunda Wiwitan yang mencari jalan gampang dengan menipu dirinya sendiri-sekaligus menipu si petugas-dengan menyebut agama ter-tentu. Tapi Rusman dan Dewi Kanti berkukuh untuk bersikap jujur.

Alhasil, butuh waktu lama bagi mereka, komplet dengan penjelasan panjang lebar dan berbuih-buih, untuk sekadar mendapat kartu identitas. Dewi, misalnya, baru memperoleh KTP DKI Jakarta setelah mengurus dan menunggu lebih dari tiga tahun.

Kendati ngotot menuntut hak-hak sipilnya agar disamakan dengan warga yang lain, komunitas Djatikusuma tak terlalu pusing dengan urusan peng-akuan dari negara tentang keper-ca-yaannya. Mereka tak butuh peng-akuan sebagai agama baru. "Tidak men-cari pengakuan," kata Djatikusuma, "Kami hanya meminta pengertian agar pengikut Sunda Wiwitan tak diganggu dalam menjalankan ke-percayaan." n 

https://majalah.tempo.co/read/121421...anghyang-kersa




GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di