alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN
4.93 stars - based on 119 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5a062830dac13e9f048b4567/roman-sejarah-sinar-jingga-ditanah-blambangan

[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN

Tampilkan isi Thread
Halaman 121 dari 213
saatnya pasus ki genter beraksi kisanak...
Mantap threadnya
Balasan post sevenblades
Makasih mas curah mantab popok tetep semangat
Ki curah seperti menyihir pembaca mengarungi waktu kembali kezaman majapahit
terimakasih semangat updatenya ki... saya rindu lencari 😍😂😂
semoga cepet update 🙈
MENYERANG SONOKELING

Pembicaraan mereka terus mengganggu batin Jingga. Mereka menunggu dirinya bertindak.
Jingga memandangi kedua tangannya yang direnggangkan, seolah olah meminta pendapat apa yang harus didahulukan.

Mencari adiknya, Untari. Menuntut balas atas kematian keluarganya atau mengambil alih Blambangan.

Rakyat Blambangan sedang menunggu dirinya berbuat.

Karena melamun, Jingga tidak sadar dirinya berjalan mendekati pos prajurit Blambangan.
"Hei kamu berhenti!" Seorang Prajurit meneriakinya.
Jingga berhenti seketika.
"Jongkok!" Teriak prajurit itu lagi.
Jingga jongkok.

Prajurit itu mendekati dengan pedang terhunus. Memeriksa keranjang pikulan Jingga yang berisi batok batok gula aren.
Keranjang ditendang dan dibalik sehingga isinya berserakan di tanah. Karena tidak menemukan barang berharga didalamnya. Keranjang itu dibuang sekenanya. Memang pada saat ini Jingga tidak membawa barang berharga. Bekalnya Ia sembunyikan di hutan bakau demi penyamarannya.
Tak puas, prajurit itu memeriksa kainnya, mencari barang berharga. Ia tak mendapatkan apapun.
Sambil misuh misuh kata kata kotor, prajurit itu meninggalkan Jingga.

Jingga sekuat tenaga menahan amarah. Ia memunguti kembali batok batok gula aren yang berserakan dimasukkan kembali kedalam keranjang.

"Hey kamu! Berhenti!" Petugas lain meneriaki seorang orang lain yang hendak melintas.
Yang diteriaki berhenti dengan wajah ketakutan. Melihat sikap mencurigakan Prajurit lain langsung mengepung orang itu dengan senjata terhunus.
Orang itu tambah ketakutan, dalam ketakutannya yang memuncak, tiba tiba orang itu menghunus belati sambil berteriak "Hidup Blambangan!"
Reflek prajurit itu sangat cepat. Melihat orang itu menyerang menggunakan belati. Prajurit itu serempak menebas dan menusuk mati. Dalam hitungan detik, orang itu sudah bersimbah darah meregang nyawa.
Jingga tertegun melihatnya. Tangannya gemetar menahan diri.
Ia langsung mengingat ingatkan dirinya agar fokus kepada tujuan utamanya. Jangan terpancing.
"Hei pedagang aren! Bawa pergi itu mayat!" Perintah prajurit tadi kepada Jingga.
Jingga menghampiri mayat orang tadi. Dipanggulnya menuju rumah terdekat. Orang orang tidak ada yang berani mendekat. Mereka bersembunyi didalam rumah masing masing.
"Tolong beritahukan keluarganya!" Teriak Jingga setelah meletakkan mayat itu di sebuah lincak bambu.
Jingga lalu kembali menuju pos prajurit mengambil dagangannya.
Suara suara candaan yang menghina bangsa Blambangan meluncur tak terkontrol dari Prajurit prajurit itu.
Jingga segera pergi meninggalkan tempat itu. Namun perasaannya masih penuh amarah dengan kejadian tadi.
"Aku harus bertindak!" Tekad Jingga dalam hati.
Jingga mengalihkan perjalanannya yang semula hendak mencari Untari lebih dulu. Kini Ia fokus melaksanakan pembalasan. Wajah ibunda, ayahanda, kakak dan adiknya membayang terus dibenaknya.

Jingga kembali diperiksa ketika masuk gerbang kota. Kembali perlakuan tidak mengenakkan diterimanya, Ia diperiksa, barangnya diacak acak. Setelah tidak ditemukan barang berharga, Ia diijinkan masuk.

Jingga berkeliling kota raja sambil menjajakan dagangannya. Berulangkali diperiksa, Jingga tidak kapok untuk terus berkeliling. Tindakannya terbilang nekat. Ia bisa saja jadi sasaran senjata seperti orang yang ditusuk pagi tadi.

Akhirnya Jingga mempunyai gambaran dimana para pimpinan pasukan Majapahit berada. Ia kembali ke luar kota. Dagangannya tinggal separo. Prajurit di gerbang kembali memeriksa. Namun uang hasil penjualan tidak diambil.

Senja sudah datang. Jingga sudah berada di gubuk ditengah hutan bakau. Sejenak Ia beristirahat sambil menunggu kalau kalau Andaka datang.
Jingga terjaga mendengar ada orang yang berjalan menerobos hutan bakau. Ia tersenyum setelah mengenal irama langkah yang datang. Itu langkah Andaka.
"Kok cepat?" Tanya Jingga menyambut kedatangan Andaka.
"Istri hamba menyuruh cepat cepat membawa makanan ini, takut keburu basi," jawab Andaka sambil mengeluarkan bungkusan besar berisi makanan.
Yang dibawa Andaka amat menggugah selera. Ada nasi, sayur urap, sambal dan ingkung ayam.
Andaka langsung menghidangkan makanan itu.
Jingga langsung menyantap hidangan itu bersama Andaka.
"Paman, malam ini kita menyusup kedalam kota mencari dimana pimpinan prajurit Majapahit tinggal."
"Siap Pangeran," sambut Andaka bersemangat.
Cepat mereka makan lalu mempersiapkan diri melakukan penyusupan.

Mengikuti jalur yang sudah direncanakan siang tadi. Jingga dan Andaka masuk Kota Raja dari sisi utara. Mereka lalu memanjat pohon mengamati dari atas, tempat mana saja yang terlihat masih beraktivitas.

Beberapa tempat terlihat masih beraktivitas, Prajurit terlihat banyak berjaga dan keluar masuk. Istana malah terlihat gelap gulita.
Yang terlihat dijaga ketat adalah Kepatihan Etan. Jingga hati hati bergerak mengamati dari dekat. Andaka mengawal di belakang, memastikan Jingga tidak diikuti orang lain.

Seperti tupai, mereka berloncatan dari pohon ke pohon mendekati kepatihan. Sejenak Jingga berhenti mengamati pohon yang cukup strategis. Memastikan pohon itu steril dari pengamatan musuh.
Setelah dirasa aman, Jingga bergerak menuju pohon itu, sebuah pohon beringin besar. Disana Ia leluasa mengamati kegiatan di dalam Kepatihan.

Jingga mengamati pergerakan Prajurit didalam. Dari pola penjagaan, Jingga sudah dapat menemukan dimana pimpinan prajurit itu berada. Kini tinggal menunggu pimpinan itu muncul. Mereka mencari tempat yang nyaman bersembunyi, agar nanti bila harus bergerak cepat tidak kesemutan atau kaku.

Dalam penantian, Jingga menajamkan panca indranya. Suara suara di kepatihan mulai terdengar jelas. Para Prajurit itu membicarakan kejenuhan karena harus berjaga terus tapi tidak bertempur. Kondisi tenang tanpa serangan balasan membuat pikiran mereka dihinggapi kebosanan dan jemu harus bersiaga terus.
"Mending kita kejar mereka sampai tumpas semua, daripada setiap hari berjaga tanpa jelas kapan bertempurnya."
"Jangan berharap macam macam, pimpinan kita juga pasti sudah memikirkannya. Jadi ikuti perintah saja dan laksanakan sebaik baiknya."
"Besok kita jalan jalan keluar kota raja, kan banyak janda yang ditinggal mati suaminya saat perang. Tidak ada salahnya kita hibur mereka, ha ha ha,"
Yang lain ikut tertawa, mengerti maksud dari kata hibur tadi.
Jingga mengepalkan tangan menahan amarah.
"Jangan, awas hal itu akan menjadi penyebab istri istri kalian diperlakukan sama oleh orang lain selama kita tinggal," cegah salah seorang prajurit yang mendengarkan pembicaraan mereka.
"Hah, kamu mendoakan buruk terjadi pada keluarga kami? Jangan sok suci!" Omel Prajurit yang mengajak pergi.

Perhatian Jingga berpindah. Ia melihat beberapa anak kecil, atau orang yang berpostur kecil memasuki sebuah rumah yang gelap gulita. Rumah yang ditinggalkan penghuninya. Padahal rumah itu lumayan dekat dengan Kepatihan.
Orang orang itu keluar masuk ruangan, kemudian keluar membawa barang yang dimasukkan dalam karung.
"Para penjarah, pencuri rumah kosong," kata Jingga dalam hati.
Pasti mereka tidak bergerak sendiri. Jingga mengalihkan perhatian ke jalanan depan rumah itu. Tak terlihat pergerakan.
Orang orang berpostur kecil itu keluar kejalan, ada tiga orang.
Mereka lalu masuk rumah kosong sebelahnya. Melakukan hal yang sama seperti tadi.

Tiba tiba Jingga melihat pergerakan selain ketiga orang itu. Dugaan Jingga benar, ada dua orang yang menjaga diluar. Keduanya bersembunyi di saluran air yang kering dibalik rimbunan tanaman pagar.
Saat akan mengamati kepatihan lagi, Jingga melihat sekelebat bayangan selain orang orang tadi. Siapakah Ia? Gerakannya terlihat terlatih. Berbeda dengan orang orang penjarah tadi. Ia berharap bayangan itu muncul lagi.
Kini para penjarah itu berpindah rumah lagi. Pengawalnya bergerak berpindah tempat persembunyian. Begitu juga penguntitnya. Ternyata penguntitnya tidak hanya satu melainkan tiga orang. Gerakan mereka gesit dan ringan.

Setelah rumah ketiga, sepertinya mereka hendak pergi. Kedua pengawal terus mengikuti di belakang orang orang kecil itu. Sedang ketiga penguntitnya tidak berbuat apa apa. Mereka bersembunyi membiarkan orang orang itu melintas didepannya.

Karena penasaran, Jingga memfokuskan indera pendengaran dan penglihatannya kepada ketiga penguntit itu, penasaran apa yang akan dilakukannya. Jingga berharap ketiga orang itu mengeluarkan suara.
Jingga terkejut melihat salah satu dari mereka memberi kode dengan gerakan tangan. Ia langsung mengenalnya. Ya itu adalah Gembong. Mau apa Ia disini?
Jingga memberitahu Andaka tentang keberadaan Gembong. Andaka yang sedang fokus mengamati kepatihan, terkejut. Jingga menunjuk dimana keberadaan Gembong.
Untuk memastikan, Jingga menyapa menggunakan tenaga batin.
"Gembong, kamu dengan siapa? Jawab pakai sandi," bisik Jingga dari jauh.
Gembong terlihat terkejut disapa orang seperti berdengung didalam telinganya. Suara itu amat dikenalnya, suara Jingga.
Gembong langsung memberi kode dengan jari, menyebutkan nama Bango dan Tumar.

"Ajak kembali mereka, kami ikuti dari belakang," bisik Jingga lagi.
Gembong mematuhi dengan mengajak Bango dan Tumar kembali ke persembunyiannya. Kedua rekannya ikut tanpa bertanya.
Gembong sesekali memeriksa kebelakang, berharap bisa mengetahui posisi Jingga. Namun usahanya tidak mendapatkan hasil.

Dibelakangnya, Jingga dan Andaka mengikuti dari samping. Mereka terus bergerak menuju pagar batas kota raja.

Perjalanan mereka berakhir di sebuah hutan selatan kota raja. Disana terdapat gumuk, sejenis bukit kecil ditengah tengah sawah yang penuh ditumbuhi pohon besar.
Meski tidak ada yang mengikuti, mereka tetap merayap dibawah tinggi batang padi. Jingga dan Andaka melakukan hal yang sama.
Ditengah gumuk itu, mereka langsung memberi hormat kepada Jingga.
Gembong memberikan laporan mengapa mereka sampai kesini. Sementara Ki Genter memimpin operasi ke Wilwatikta.

Jingga berterimakasih atas usaha mereka. Jingga menitikkan airmata karena terharu. Ia merasa dunia tidak sempit lagi.

Sambil duduk dalam gelap, Gembong melaporkan hasil pengamatan timnya selama ini. Seluruh pasukan khusus sudah memetakan dan terhubung dalam satu komando. Mereka menunggu perintah Jingga.

Jingga menyampaikan rencananya yang awalnya hendak dilakukan bersama Andaka. Namun dengan jumlah pasukan yang lumayan banyak, Jingga menambah targetnya. Menghantam para pimpinan pasukan.
"Bagaimana lokasi Senopati Pasus Jalapati tinggal?"
"Di rumah salah satu pejabat, disamping kanan Istana."
Gembong menggambarkan tata letak rumah itu dan dimana bilik yang ditempati Senopati itu.
Dari cerita prajurit Blambangan di pengungsian, yang menghabisi raja beserta ibunya adalah pasukan khusus yang menyusup disaat pasukan reguler bertempur di gerbang selatan.
Jingga kini fokus menghabisi Senopati dan pimpinan pimpinan Pasus itu.
"Apakah tempat ini aman?"
"Aman Pangeran, disekitar sini sudah dijaga pasukanku. Sedang sawah ini tidak diurus, mungkin pemiliknya menjadi korban atau mengungsi."
"Panggil para komandan regu pasus, kita siapkan operasi besok malam,"
"Siap Pangeran," jawab Tumar, Ia yang bertugas menjadi penghubung.

Tengah malam, para Danru pasus sudah berkumpul. Jingga mengucapkan banyak terimakasih kepada rekan rekannya. Yang sampai saat ini mendukungnya.

Mereka rapat operasi besok malam. Jingga bolak balik memeriksa detail operasi yang direncanakan. Bolak balik dianalisa kemungkinan kemungkinan terburuknya. Tak terasa hari sudah menjelang pagi. Rapat pun bubar, mereka kembali ke regu masing masing.

Jingga, Andaka, Gembong, Bango dan Tumar bergantian tidur. Mengumpulkan tenaga untuk penyerangan nanti malam.

***

Saat hari memasuki malam, satu persatu bergerak menuju titik yang direncanakan. Mereka melalui jalan semalam. Lalu menuju sebuah rumah yang ditempati Senopati pasus Jalapati. Gembong dan Bango bergerak menuju Kepatihan, mereka bertugas menggempur Pasukan Reguler Majapahit, dengan target utamanya Senopati Welut Ireng. Sedang Jingga dibantu dua regu pasus dipimpin Tumar.

Kini semua pasukan bersiap di posisi masing masing. Suasana hening seperti malam malam sebelumnya. Prajurit Jaga mulai mengantuk dan bosan. Obor obor mulai mati kehabisan minyak. Sehingga sebagian tempat gelap gulita.

Komando operasi berada di tangan Jingga. Semua menunggu.
Jingga sendiri menunggu targetnya menampakkan diri. Dari tempat persembunyian, Jingga melihat Senopati itu masih bekerja diruang kerjanya ditemani salah seorang Bekel. Mereka sedang membahas pembiayaan operasi. Dari obrolan mereka, nama Dutamandala beberapa kali disebut sebagai sumber pendanaan.
Pembicaraan akhirnya selesai, Bekel pasus pamit kembali ke barak. Sekelompok prajurit bersama Bekel bergerak keluar gerbang. Prajurit penjaga segera menutup gerbang.
Didalam, Senopati Sonokeling menata dokumen lalu mematikan lampu. Ia berjalan menuju biliknya. Jingga memberi aba aba untuk bersiap.
Tik
Tik
Hening
Senopati Sonokeling keluar lagi dari biliknya. Ia mengenakan kain saja. Menuju bilik mandi di belakang rumah.

Saat Senopati Sonokeling masuk bilik mandi. Jingga memberi perintah menyerang. Andaka mendampinginya. Sedang Tumar bertugas menyergap para penjaga. Mereka harus bisa membunuh dalam satu serangan agar tidak terjadi kegaduhan yang memancing prajurit lain datang membantu.

Sepertinya Senopati ini terlalu jumawa akan kemampuannya. Kediamannya hanya dijaga sekitar sepuluh prajurit. Mirip penjagaan kediaman pejabat biasa.

Saat Jingga menerjang kedalam bilik mandi, itulah aba aba dimulai serangan kilat.
Didepan, prajurit penjaga langsung diserang belasan pisau terbang yang sudah dilumuri warangan. Meski mereka prajurit khusus, diserang dalam kondisi tidak bersiap dan mengantuk, membuat mereka tidak bisa melakukan perlawanan yang optimal. Yang berdiri dan berjaga didepan langsung ambruk terkena pisau di leher dan jantungnya. Sebagian yang berada di dalam pos jaga keluar menghunus pedang, namun kemudian ambruk terkena pisau terbang.
Setelah serangan pisau terbang, Tumar merampas pedang yang sudah tewas digunakan menyerang kedalam. Terjadi pertempuran sengit. Namun berlangsung singkat karena tidak seimbang. Sekejap saja kesepuluh prajurit khusus itu tewas bersimbah darah.
Tumar membagi dua pasukannya, separuh berjaga di depan, separuh masuk kedalam. Semua menggunakan senjata rampasan.

Di belakang, Jingga menyerang tanpa memberi peringatan sama sekali. Ia meloncat dari atas langsung masuk kedalam bilik. Bilik mandi tidak memakai atap. Sehingga Jingga leluasa menyerang dari atas.
Malang nasib Senopati Sonokeling yang terkenal di medan laga. Kali ini Ia tidak berdaya mendapat serangan mendadak Jingga dari jarak dekat.
Jingga menendang wajah Sonokeling yang sedang buang hajat. Bau kotoran menyeruak. Jingga kemudian menyerang cepat menggunakan belati menusuk dan menyayat seluruh bagian tubuh Sonokeling.

Kalau di medan laga, Sonokeling terkenal kebal senjata. Namun kala di kamar mandi, tubuhnya bagai bantal kapuk yang ditusuk belati. Semua ajian yang Ia punya ditanggalkan di biliknya. Karena pantangan membawa barang pusaka ke peturasan.

Sekejap saja Jingga mandi darah terkena cipratan darah Sonokeling.
Pintu bilik mandi terbuka, Jingga keluar menyeret mayat Sonokeling yang telanjang bulat dan bau kotoran ke tempat terbuka. Ditinggal begitu saja. Andaka diperintah mengambil dokumen di meja kerja Sonokeling. Jingga sendiri mengambil cetbang kecil yang dijadikan hiasan di dinding ruang kerja Sonokeling. Ukurannya cukup di genggamannya.

Jingga lalu memerintah seluruh pasukan keluar menuju Kepatihan melompati pagar belakang.

profile-picture
profile-picture
makan.sederhana dan andir004 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Trimakasih mas
Terima kasih Ki curah updatetannya
Balasan post curahtangis
Matursuwon cak
Pembalasan dimulai emoticon-Cool
dibuat novel ga ki?
Matur suwun ki
Mantap mantap mantap ki makin seru makin menegangkan ....ini baru the real kicurah mengganas double impact...geber betot terus ki jangan kasih kendor
woooo.....
ini baru mantap emoticon-Kiss

dobel2 updatenya ...menegangkan emoticon-Matabelo
emoticon-Toastemoticon-Toast mantap kang curah
huffttt seru bingiitttsss
Mantab
Sembah nuwun kisanak
mantab ki curah

emoticon-Hansipemoticon-Hansipemoticon-Hansip
Halaman 121 dari 213


×
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di