alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN
4.93 stars - based on 119 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5a062830dac13e9f048b4567/roman-sejarah-sinar-jingga-ditanah-blambangan

[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN

Tampilkan isi Thread
Halaman 120 dari 215
ada kisah lain cerita jaman dulu ternyata menarik jg. ternyata dr jaman kerajaan SDH ada pasukan mata2 😂
Matur suhun ki muangtabs geber terus kicurah ....
ada cerita roman sejarah gini lagi g ya
Quote:


Coba search the last assassin om. Tapi sayang ga di update
semangat trus ki jangan kasih kendor.
pengen ngeliat jingga beraksi. gak sabar ini ki
monggo dilanjut ki
Klo ditilik dri tulisan,sepertinya ts totalitas dalam mendeskripsikannya...entah pengalaman pribadi atau dari literatur...jika dari literatur,sepantasnya qt ga ngejunk dgn minta update...ckp support aj...ingetlah jika dibalik karya, qt ga tau apa yg dilakukan ts mencari bhn buat karyanya..
Semangat terus buat Ki Curah...
Gaya bahasa nya enak buat di baca
Quote:


Setuju dengan pendapat ki sanak.. kita tetep suport ki curah buat cerita yg luarbiasa hebat ini.. buka trit cuma untuk baca cerita iniemoticon-Hansip
Mendadak jd inget trit yg nggantung kya trit kabut ama assassin,jika mereka itu nglanjutin tritnya...sy yakin bakal jd cerita yg ga kalah hebat dgn penulis2 pro...tp apa daya,.mungkin beliau ad kendala yg bikin ga bisa dilanjut..
Ad yg krasa ga ki curah ga bls2 komen? Jgn sampe deh ndadak ilang ga apdet2 lg kya mereka...
Klo dilihat dari apdetan sebelum e, jadwalnya biasanya setiap malan Jum'at dan malam Minggu.
ki curah sibuk gan, RL nya kan bukan penulis pro. jadi beliau mau fokus ke materi cerita.

untuk komen2 yg ga dibales mohon maklum aja.
Quote:



Iya,,
Syedih trit yg bagus2 ditinggal sang penulis.
emoticon-Mewek
Semoga ki curah semangat nulis'y sampai bisa tamat.
Ane selalu suport wlw terkadang jadi SR.
emoticon-I Love Indonesia
Quote:


Betul,,
G' semua penulis disini balesin komen.
Yg penting lancar update'y.
Mari suport ki curah trus wlw ada sebagian SR.
emoticon-I Love Indonesia
atas gw semangat amat hehehe
BIMBANGNYA HATI JINGGA


JINGGA

Jingga bersama Andaka memacu kudanya menuju Blambangan lewat hutan Baluran. Mereka baru beristrahat kala kuda mereka kelelahan dan kelaparan.

Setelah dua malam menempuh perjalanan panjang. Mereka sampai di Desa Pande lewat tengah malam. Beberapa orang yang berjaga malam terkejut dengan kedatangan Jingga dan Andaka. Rekan Pasus yang bertugas di Desa Pande langsung menemui Jingga dan Andaka, menucapkan duka cita dan melaporkan situasi terakhir dengan bahasa sandi. Sampai saat ini identitas Jingga dan Andaka masih dirahasiakan, agar masyarakat tidak menanggung beban rahasia keberadaan Jingga.
Jingga kemudian berpesan kalau menemukan seorang gadis umur 15 tahun, namanya Untari, tolong dijaga dan disembunyikan, karena Ia adiknya.
"Sampaikan kepada rekan Pasus yang lain,"
"Baik,"
Saat ditawari istirahat dan hidangan makan, Jingga menolak karena buru buru berangkat lagi. Ia hanya minta ditukar kudanya dengan yang segar.
"Hati hati, di Curahuser ada pos jaga Pasukan Majapahit." Peringat Rekan Pasus.
"Terimakasih," ucap Jingga sekalian pamit.
Tanpa menunggu pagi, Jingga dan Andaka memacu kudanya kembali ke selatan. Belum sampai Desa Curahuser, mereka berbelok ke barat menyusuri jalanan yang lebih kecil dan menanjak. Jalan itu menuju ke Pringgodani.

Sampai Pringgodani, hari mulai terlihat pertanda sudah pagi. Kabut menyelimuti tempat itu. Jingga memasuki kawasan pemukiman. Sepi, tak ada seorangpun disana.
"Kemana mereka?"
Andaka menjelaskan waktu itu Ia berkunjung kesini dan mengijinkan mereka menemui keluarga di kampung halamannya, agar bisa melepas rindu dan berkumpul lagi dengan keluarga.
Pembicaraan terhenti ketika muncul seorang laki laki dari bawah tergopoh gopoh menemui Jingga.
"Maaf Ndoro, hamba tadi ke Sumber," kata laki laki itu menjelaskan keterlambatannya menyambut.
"Tidak apa apa, kapan rekan rekanmu berangkat?"
"Sehari setelah Ndoro pergi,"
"Ada orang lain yang kesini?"
"Tidak ada Ndoro, kalaupun ada hanya penduduk bawah yang numpang istirahat setelah lelah berburu."
"Kalau ada orang dari Kutalateng, mengungsi mau menumpang istirahat, ijinkan dan jamulah. Karena mereka sedang kesusahan. Juga kalau ada perempuan yang bernama untari, tolong jaga dia, karena dia adikku,"
"Baik Ndoro,"
Kami titip kuda,"
"Baik Ndoro," Laki laki itu menyambut tali kekang kuda Jingga dan Andaka.
Jingga dan Andaka berpamitan lalu berjalan kearah selatan menelusuri jalan setapak.

Dua hari Jingga dan Andaka menembus lebatnya hutan untuk mencapai tempat persembunyian prajurit Blambangan. Seperti biasa, mereka diminta menunggu penjemput untuk mengantarkan ke pimpinannya di seberang jurang.
Jingga dan Andaka dikawal lima orang prajurit saat menuju pimpinan Prajurit Blambangan.
Sampai Diatas jurang, Pimpinan Prajurit itu mengenali Jingga, langsung memerintahkan semuanya memberi hormat kepada Raja baru Blambangan.
Jingga langsung memerintahkan mereka bersikap biasa saja. Ia beralasan dalam misi menyamar. Jangan sampai penghormatan itu malah membongkar identitas dirinya.
"Ki, Apakah melihat adikku Untari diantara pengungsi?" Jingga langsung menanyakan adiknya. Berharap adiknya berada diantara pengungsi disini.
"Ampun Pangeran, hamba belum mendapatkan laporan keadaan Ndoro Untari sejak pergi dari Puri."

Tanpa menunggu waktu, Pimpinan prajurit itu membawa Jingga ke tempat para pejabat Blambangan mengungsi yang juga tempat keluarga Kakaknya dan Ibundanya dikubur.

Melihat pusara Ibu dan kakaknya, Jingga langsung bersujud ditanah.
"Ibu, Kakak, maafkan aku. Karena kesalahanku, Ibunda harus terbunuh dengan keji. Karena kesalahanku, kakak juga harus mengalami hal yang sama," ucap Jingga lirih seperti berbisik kepada kedua jasad didalam tanah.
Selanjutnya Jingga seperti komat kamit berbicara sendiri tanpa suara. Andaka yang setia mendampingi tidak mengerti apa yang dibicarakan Jingga. Hanya Ia melihat Jingga meremas batu hitam yang digunakan untuk batas penanda kubur. Batu itu diremasnya hancur. Agak lama Jingga berdiam disana. Orang orang sudah berkumpul siap menyambut Jingga.
"Pangeran, orang orang menunggu Pangeran," bisik Andaka.
Hening tak ada jawaban.
"Pangeran,..." Andaka membisiki Jingga lagi. Namun belum selesai berbicara, Jingga membuka matanya,
"Paman, tolong wakili aku bertemu mereka. Aku masih ingin bersama Ibu dan Kakakku."
Andaka menghormat lalu beringsut muncur untuk bertemu para pejabat yang masih setia kepada Blambangan.

Andaka menemui para pejabat yang menunggu Jingga bangkit menemui mereka.
"Maaf Pangeran sedang amat berduka, Beliau menugaskan saya mewakili Beliau menemui saudara saudara semua.
Orang orang mengangguk memahami. Mereka lalu berembug membahas Blambangan kedepan.

Setelah rapat pertemuan para pejabat dan pimpinan prajurit Blambangan. Andaka kembali menemui Jingga yang masih duduk beku diantar dua pusara.
"Pangeran, rapat sudah selesai, mereka mendukung Pangeran. Selanjutnya mereka menunggu titah Pangeran,"
Jingga dua kali menarik nafas untuk menekan perasaannya. Ia kemudian bangkit berjalan menuju Para pembesar Blambangan yang setia menunggunya.
Jingga menolak penghormatan berlebih yang biasa diterima raja. Ia meminta selanjutnya mereka bersikap biasa saja. Dihadapan Para pembesar Blambangan, Jingga menyampaikan ucapan terimakasih atas pengabdian dan kesetiaannya pada keluarga dan kerajaan Blambangan. Ia meminta maaf karena tidak turut menjaga Blambangan kala diserang.

Andaka menyerahkan data pembesar Blambangan, prajurit dan kantong kantong pengungsian yang tersebar di sekitar gunung Raung. Jingga lalu menemui satu persatu pejabat itu, menanyakan kondisinya beserta keluarganya dan menyimak keinginan dan keluh kesahnya. Setelah semua ditemui, Jingga sudah punya gambaran tentang kondisi pendukungnya.

"Saudara saudara, tempat pengungsian tidak layak untuk ditempati dalam waktu yang lama. Sebaiknya mulai dicari tempat yang lebih layak, yaitu di dusun dusun terdekat dari sini namun cukup jauh dari jangkauan Pasukan Majapahit. Atau kalau punya saudara yang jauh dari Kotaraja, mintalah ijin menumpang disana.

Agar tidak terjadi penumpukan, maka harus diatur, dibagi untuk disebar di berbagai tempat yang cukup aman. Karena bila terlalu banyak di suatu tempat, akan sangat memberatkan dusun tersebut dan itu memancing kerawanan.
Untuk itu segera bentuk organisasi yang mengaturnya. Data tempat tempat yang layak. Tampung usulan tempat yang diinginkan pengungsi.
Bagi para Pimpinan Prajurit, kawal perpindahan mereka agar aman di sampai tujuan.
Sebagai pimpinan kalian sementara, aku angkat Raden Pakistaji."
Jingga meminta Raden Pakistaji, sesepuh Blambangan rekan Ayahanda Kebo Marcuet maju kedepan. Pengangkatan ini tidak mendapat tentangan, karena sebelum diangkat Jingga. Raden Pakistaji sudah dianggap pimpinan seluruh pengungsi di Gunung Raung.

"Nanti kalian yang akan menumpang di dusun dusun, berbuat baiklah, berbaurlah menjadi rakyat biasa. Karena dengan begitu kalian akan memenangkan hati mereka. Juga menjaga identitas dari mata mata Majapahit."

"Setelah relokasi pengungsi, baru kita menyusun kekuatan,"
Semua yang hadir setuju. Ini memang cara terbaik saat ini. Mereka tidak bisa berbuat banyak bila harus dibebani banyaknya pengungsi. Hampir seluruh penduduk kotaraja mengungsi. yang terbanyak berada di sini, di lereng gunung Raung. Dan kini mulai kesulitan makanan.
"Baik, saya akan pergi dulu. Raden Pakistaji, segera laksanakan yang saya perintahkan,"
"Baik Pangeran,"
"Dan saya mohon bantuan Saudara saudara semua, apabila melihat keberadaan adikku Untari, tolong jaga dia, kabari aku."
"Siap Pangeran," jawab mereka serentak.
Jingga langsung pamit melanjutkan pencarian adiknya. Andaka sigap mengikuti langkah Jingga dari belakang. Setelah agak jauh, Jingga mempercepat larinya menuruni gunung. Ia kini berlari kencang ke arah timur. Kearah Kutalateng.
Andaka lari mendahului Jingga. Ia khawatir Jingga berbuat nekad menyerang ke Kutalateng.
"Pangeran mau kemana?"
"Kotaraja."
"Jangan Pangeran, bahaya," cegah Andaka.
"Kenapa?"
"Jumlah mereka terlalu banyak, dua ribu lebih pasukan disana. Sesakti saktinya orang, tidak akan mampu bertempur dengan orang sebanyak itu."
"Iya saya tahu, saya ke mau ke Puri, melacak adikku."
Andaka bernafas lega. Ia takut Ndoronya tak kuat menahan ujian berat ini.

Sampai di hutan dekat Puri, hari sudah malam. Andaka mengingatkan kalau Puri diawasi sepasukan Majapahit. Mereka mengendap endap mencari tempat yang aman dari pengawasan.
Dalam gelap Jingga melompat masuk tanpa bersuara. Ia langsung menuju bilik ibunya. Andaka mengikuti tapi berjaga diluar, bersembunyi di rimbunan taman. Suara suara mahluk malam terdengar riuh. Andaka memusatkan pendengaran dan penglihatannya. Beberapa kali terdengar suara kuda melintas dijalan depan puri dan suara bentakan agar berhenti untuk diperiksa.
Didalam bilik Ibunya, Jingga memeriksa barang barang milik ibunya yang tersisa. Ia menangis mendapati kamar Ibunya berantakan dan barang barang berharga kesayangan ibunya sudah raib entah kemana. Jingga berpindah ke ruangan lain milik adiknya. Keadaan sama, berantakan seperti habis dijarah. Tak ada barang berharga tersisa. Ditengah pencariannya, Jingga menemukan pakaian yang bukan ukuran adiknya. Apakah ini pakaian milik Ratna dulu? pikir Jingga. Namun Ia tersentak menghirup aroma dari pakaian itu. Ini aroma yang dikenalnya, aroma yang dirindukannya.
"Ah tidak mungkin," bantahnya dalam hati. Bagaimana mungkin pakaian Lencari ada disini. Jingga kembali mencium pakaian itu, memastikan. Dan kembali Jingga dibuat bingung. Jingga mencari cari bukti lain dugaannya didalam bilik adiknya. Jantungnya berdegup keras menemukan hiasan rambut berada disela sela tempat tidur. Hiasan rambut yang dulu sering dikenakan Lencari saat masih di Kahuripan. Cepat cepat Jingga memasukkan hiasan rambut kedalam ikatan kainnya. Ia kemudian berpindah ke bilik Ayahandanya. Keadaannya juga berantakan. Tempat tidurnya acak acakan bekas diinjak banyak orang. Barang barang berharga hilang semua. Jingga gemetar melihat penghinaan terhadap ayahandanya ini.

Jingga mendengar suara langkah memasuki Puri. Dari langkahnya sekitar lima orang. Sepertinya ada pemeriksaan mendadak dari Prajurit Majapahit. Seseorang menyalakan obor membuat puri menjadi terang benderang. Jingga langsung bersembunyi dibawah dipan tempat tidur mendiang ayahnya. Jingga menempel berpegangan pada galaran dipan.
Lima orang itu berjalan menuju bilik Kebo Marcuet. Mereka mencari sisa sisa pusaka peninggalan Kebo Marcuet. Semua laci diperiksa. Meja lemari digeser berharap ketemu barang pusaka. Mereka menunduk memeriksa adakah benda berharga dibawah dipan.
"Terlambat kita, sudah diambil orang,"
"Coba di ruangan lain."
Mereka lalu bergerak ke bilik bilik lain di dalam puri. Jingga akhirnya bisa turun dari persembunyiannya. Saat turun, lututnya menghantam lantai. Suara lantai menimbulkan kecurigaan Jingga. Lututnya seharusnya menghantam lantai batu paras halus. Tapi ini bersuara seperti kayu tebal. Jingga kemudian meraba raba sambil mengetuk lirih. Memeriksa. Dari perbedaan suara ketukan, Jingga menduga ada lubang ditutup kayu utuh dibawah tikar. Jingga menunggu orang orang pencari barang berharga itu pergi.

Setelah kelima orang itu pergi. Puri kembali gelap gulita. Jingga dengan tenaga batinnya memanggil Andaka masuk bilik Kebo Marcuet. Andaka hati hati meripit masuk Bilik yang dimaksud. gelap gulita. Jingga meminta Andaka menggeser dipan kesamping. Jingga membuka tikar lebar. Dugaannya terbukti, dibawah tikar terdapat kotak kayu penutup lubang yang rata dengan lantai yang lain. Saat penutup dibuka, terpaan udara dingin mengenai wajah Jingga. Menunjukkan lobang ini terhubung ke luar.

Andaka dan Jingga kemudian menata kembali agar tempat itu seperti semula. Mereka masuk lubang itu dan menutup kembali. Tikar didorong dari dalam lubang agar tertutup rapat.

Andaka dan Jingga beriringan didalam gua. Mereka berjalan menunduk sambil meraba. Setelah sekian lama berjalan. Jingga menemukan barang yang tercecer. Ia periksa barang itu. Ini milik adiknya, Untari. Berarti Untari melewati jalan ini. Bertambah semangat Jingga mencari adiknya.


Jingga menelusuri lorong dalam gua.
Ia menemukan obor yang ditinggal ditengah gua. Obor itu kainnya terbakar habis.
Dengan pandangannya yang tajam, Jingga bisa mengamati kalau tanah didalam goa ini beberapa waktu lalu dilewati dua orang wanita. Dari langkah yang pendek bertumpuk terlihat mereka kesulitan berjalan dalam gelap setelah obornya mati kehabisan minyak.

Akhirnya perjalanan mereka sampai di mulut Goa. Goa itu berada di lereng sungai. Suara aliran air dibawah terasa menenangkan pikiran. Udara sejuk bercampur uap air terasa melegakan dada. Jingga menarik nafas dalam dalam mengganti udara pengap goa di paru parunya.
"Kita menunggu pagi disini,"
"Baik Pangeran,"
Andaka memeriksa ruangan dalam goa yang cukup lega. Memastikan tidak ada ular atau kalajengking bersembunyi disana.
Pagi masih agak lama, mereka memutuskan tidur untuk mengembalikan tenaga.

Pagi pun datang.
Sinar matahari memantul disela sela dedaunan. Cahayanya menerangi mulut Goa.
Jingga dan Andaka terbangun, mereka lantas merapikan kain yang dijadikan alas tidur.

Cahaya mentari menerangi lantai goa. Bekas jejak kaki terlihat jelas dari dalam goa.
"Pangeran, sepertinya Ndoro Untari tidak sendiri," kata Andaka setelah mengamati jejak di pintu goa.
Jingga hanya mengangguk menanggapinya, Ia tidak menyampaikan kalau yang menemani kemungkinan adalah Lencari. Mengingat kebencian Andaka kepada keluarga Lencari.

Mereka mengamati sekitar goa, memeriksa apakah ada orang lain diluar.
"Aman," kata Andaka lalu berjalan keluar. Bekas tapak hilang di lereng sungai yang penuh ditumbuhi rumput.
Jingga mencari kebawah sampai ke bibir sungai. Sementara Andaka mencari keatas. Tak ada jejak yang tertinggal yang mengarah keatas. Rumput dan tanaman perdu tidak ada yang rebah atau patah. Di batu batu juga tak ada sisa sisa tanah bekas injakan. Andaka mengawasi sekitar dari atas. Sepi, hanya hutan lebat mengitarinya. Karena tidak ada yang mencurigakan, Andaka kembali turun menuju tempat Jingga yang sedang jongkok memeriksa.
"Tidak ada jejak yang mengarah keatas," kata Andaka.
"Jejaknya menuju sungai,"
"Sepertinya mereka terpeleset," Jingga menunjuk garis rumput yang rebah bercampur tanah.
"Lalu jejaknya menghilang," Jingga menarik nafas menenangkan diri.
"Apakah mereka tercebur sungai?" Tanya Andaka.
"Iya," jawab Jingga, bangkit berjalan ke timur mengikuti aliran sungai. Diamati kanan kiri sungai apakah ada jejak yang tertinggal.
Sampai siang hari mereka berjalan menyusuri sungai, namun tak ada tanda tanda keberadaan Untari. Kini mereka sudah mendekati perkampungan. Disisi sungai terlihat jalan setapak menuju perkampungan. Dan batu batu ditata untuk alas mencuci pakaian.
Jingga dan Andaka berjalan menelusuri jalan setapak itu. Untuk menghindari kecurigaan, Andaka dan Jingga menyapa orang orang yang berpapasan dengan bahasa Oseng, bertanya dimana alamat kepala kampung. Seorang anak laki laki dengan senang hati mengantarkan.

Jingga menyapa laki laki tua yang ditunjukkan anak yang mengantarkan tadi. Andaka memberi sepotong gula aren sebagai rasa terima kasih ke anak itu. Setelah menerima, Ia langsung berlari gembira kembali ke sungai.

Kepala kampung seorang yang sudah sepuh, tubuhnya kurus kering dengan gigi hitam bekas biji pinang dan daun sirih.

Andaka membisiki Kepala Kampung untuk merahasiakan kedatangan mereka. Lalu menanyakan apakah pernah melihat seorang gadis yang hanyut di sungai.

Kepala kampung langsung menghaturkan hormat tapi dicegah Jingga.
"Ampun Ndoro, sampai saat ini belum pernah melihat atau mendapat laporan tentang ditemukannya seorang gadis hanyut."
Andaka menanyakan apakah ada pasukan Majapahit datang kesini?
"Dusun ini terlalu jauh, tidak pernah ada prajurit yang datang kesini."
"Apakah selama ini pernah ada gangguan begal atau maling?"
"Dulu pernah, tapi sekarang aman tentram."
"Baiklah Ki, terimakasih atas kerjasamanya. Kami pamit dulu,"
"Iya sama sama,"

Jingga dan Andaka kembali ke pinggir sungai menelusuri aliran air, berharap bertemu dengan Untari. Setiap orang yang ditanya, tidak ada yang tahu dimana keberadaan Untari. Perjalanan mereka berakhir di muara. Hari sudah hampir gelap. Jingga memutuskan beristirahat di Hutan bakau. Kebetulan ada gubuk yang biasa digunakan nelayan untuk beristirahat bila ada badai.

Untuk makan, mereka mencari ikan yang bersembunyi di akar akar bakau menggunakan tombak ranting. Tak butuh waktu lama, sudah empat ekor ikan mereka tangkap. Ikannya cukup besar.

Ditempat perapian disamping gubuk, Andaka memanggang ikan sampai matang. Ikannya kemudian mereka makan bersama di gubuk.

Langit Blambangan sangat cerah. Bintang bintang bersinar terang.
"Paman, terimakasih atas pengabdian Paman selama ini,"
"Itu sudah kewajiban hamba Pangeran,"
"Tapi sekarang kerajaan Blambangan sudah hancur, sudah tidak ada lagi. Jadi Paman tidak perlu lagi mengabdi seperti dulu,"
"Tidak Pangeran, ini kehendakku mengabdi kepada Pangeran. Bukan perintah kerajaan. Memang dahulu hamba diutus mendiang Raja Kebo Marcuet untuk menjaga Pangeran. Namun sejak Pangeran Sendaru diangkat menjadi Raja Blambangan. Tugas pengawalan dibubarkan. Waktu itu Pangeran sudah menjadi Prajurit. Jadi pengawalan sudah dianggap tidak diperlukan.
Namun hamba tetap mengabdi kepada Pangeran atas kehendak pribadi."
"Lalu siapa yang membayar Paman kalau sudah dibubarkan?"
"Saat dibubarkan, Raja Kebo Marcuet memberikan pesangon amat banyak. Uang itu hamba gunakan untuk membuat usaha bersama anak buah hamba di tempat selama ini bekerja. Dari sanalah kami bisa hidup berkecukupan."
Jingga langsung mengingat, orang orangnya Andaka rata rata punya kedai. Baik di Kahuripan, maupun di Pamotan.
"Jadi selama ini dana yang Paman berikan kepadaku adalah uang Paman sendiri?"
"Bukan Pangeran, itu uang Pangeran sendiri yang hamba kumpulkan sejak dulu. Setiap kiriman, uang itu hamba simpan, ternyata selama di Kahuripan Pangeran tidak banyak menggunakannya, sehingga uangnya terkumpul banyak."
"Terimakasih Paman,"
"Dengan mengijinkan hamba terus mendampingi Pangeran, itu sudah lebih dari cukup untuk hamba Pangeran."
"Apa Paman tidak rindu anak istri dirumah?"
"Namanya manusia, pasti punya rasa rindu. Namun hamba ini dilatih sejak kecil menjadi prajurit penjaga Raja Kebo Marcuet dan Pangeran. Hanya itu tujuan hidup hamba."
"Besok kita ke rumah Paman,"
"Bukankah kita belum menemukan Ndoro Untari?"
"Kalau begitu, Paman pulang dulu, aku yang mencari Untari."
"Tapi?"
"Ini perintah, temui anak istri Paman, aku yakin mereka cemas merindukan Paman. Kalau sudah, kita bertemu disini saat senja hari. Aku akan kesini setiap senja."
"Terimakasih kasih Pangeran."
Awalnya Andaka ragu untuk pulang, tapi Jingga terlihat bersungguh sungguh memintanya pulang.

Pagi hari, mereka berpisah, Andaka ke selatan, Jingga berjalan kembali ke barat. Berharap Ia bertemu Untari dan Lencari kali ini.
Kali ini Jingga menyamar seperti orang Blambangan kebanyakan. Kulitnya diberi minyak kelapa dicampur abu sisa pembakaran kayu. Membuat kulitnya yang putih menjadi coklat tua. Rambutnya dibuat kotor dan gimbal. Tak lupa penyumpal gigi agar terlihat tongos. Ditambah membawa dagangan gula aren yang dipanggul menggunakan pikulan bambu. Barang itu Ia beli dari seorang kakek yang berjualan. Tanpa menawar, Jingga membeli seluruh dagangannya beserta pikulannya. Dengan penampilan seperti itu, Jingga lebih leluasa berjalan tanpa dicurigai orang.

Jingga berjalan menelusuri kampung kampung sepanjang sungai. Menawarkan dagangan sambil mencuri dengar kalau ada yang membicarakan adiknya dan Lencari.
Tapi orang orang lebih sibuk membicarakan kejatuhan Blambangan. Dan berharap agar Jingga segera kembali merebut Blambangan dari pasukan Majapahit.
Jingga hanya bisa menarik nafas haru mendengar harapan mereka.

Pembicaraan mereka terus mengganggu batin Jingga. Mereka menunggu dirinya bertindak.


profile-picture
profile-picture
makan.sederhana dan andir004 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Mantab ki Curah...
Terima kasih updatenya
Lihat 1 balasan
Maturnuwun Ki Curah..
emoticon-Cendol Ganemoticon-Cendol Ganemoticon-Cendol Gan
double dong ki sekali sekali
Mantep lah, sdah ada apdet,
menegangkan kira bakal ketemu Untari dan Lencari, dan harus nunggu apdetan selanjutnya untuk menjawab ituemoticon-Cendol Gan
Balasan post curahtangis
Terimakasih update nya ki
Semangat semangat
Halaman 120 dari 215


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di