alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN
4.93 stars - based on 122 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5a062830dac13e9f048b4567/roman-sejarah-sinar-jingga-ditanah-blambangan

[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN

Tampilkan isi Thread
Halaman 111 dari 216
Quote:

emoticon-Roll Eyes (Sarcastic)
Diubah oleh dodyrestgoth
Paman, buruan diteruskan ceritanya! 🙏
profile-picture
hsg9617 memberi reputasi
makin galau setelah baca apdet an terbaru emoticon-Mewek

Bagus bener ceritanya gan
Mantappp
wduh raja sendaru n ibu suri mninggal :emoticon-Berduka (S) emoticon-Berduka (S) emoticon-Berduka (S) emoticon-Berduka (S)

smoga utari dan cari selamat


munggu serangan balasan dari jingga n paman andaka emoticon-Mad (S) emoticon-Mad (S) emoticon-Mad (S)
luluh lantakkan wilwilatika dan raden dutamandala+grombolannya emoticon-Bata (S)




mantap pman curah updatenya emoticon-thumbsupemoticon-thumbsupemoticon-thumbsupemoticon-Bata (S)
3 wanita; Ibu Suri, Utari dan Lencari. Wilwatikta genah ajur diorak-arik Jingga! Ha mbok yakin...
Diubah oleh curva.nord
Hati sedih sekali membaca updatean kali ini...hik hik...
pnasaran nih kelanjutan jingga gmana? kyk nya ngamuk bakal balas dendam ke penguasa majapahit.. smngt jingga
bagaimana perasaan jingga setelah mengetahui ya..saya jd sedih baca part ini..lencari gmn nasibnya ya...
PADA SAAT ITU

Senopati Sonokeling bersembunyi di hutan bersama empat pengawalnya. Mereka menyamar menjadi pemburu, Sementara pasukannya sudah tersebar ke seluruh wilayah Kuta Lateng dengan caranya masing masing. Pemetaan obyek obyek penting kerajaan Blambangan sudah dilakukan dan sekarang tinggal mengatur pergerakan pasukannya.
Salah seorang caraka melaporkan Pasukan Senopati Welut Ireng sudah mendekati gerbang selatan Kuta Lateng. Senopati Sonokeling sebagai Pimpinan operasi Blambangan, memerintahkan Senopati Welut Ireng memancing keluar pasukan Blambangan. Kalau bisa pertempuran dilakukan di luar Kotaraja.

Sesuai rencana, pertempuran pecah diluar gerbang kotaraja. Pertempuran yang tidak seimbang. Baik dari jumlah maupun peralatan. Pasukan Majapahit yang berkekuatan duaribu pasukan dilengkapi peralatan perang modern. Seperti meriam meriam cetbang kelas menengah. Dan terbukti selama pertempuran menjadi senjata penentu kemenangan Pasukan Majapahit. Pasukan Blambangan dibuat hancur lebur oleh meriam meriam itu.

Senopati Sonokeling mendengar dentuman cetbang pertama. Ia kembali menggerakkan pasukannya sesuai rencana. Kini semua pasukannya sudah berada di posisi masing masing menunggu perintah terakhir. Mereka mengamati pergerakan pasukan Blambangan yang berada di dalam kotaraja.
"Senopati, Pasukan tambahan sekitar 250 prajurit dikirim ke medan perang diluar gerbang," lapor pasukan telik sandi.
Senopati menghitung sisa sisa pasukan di dalam kotaraja, terutama yang berjaga di Istana. Ia merencanakan peperangan oleh Senopati Welut Ireng berlangsung cepat dan mengejutkan lawan. Agar konsentrasi pasukan beralih ke luar gerbang.

Hari mulai memasuki malam. Para penduduk kotaraja sebagian bertahan di rumah masing masing. Berharap peperangan dimenangkan Pasukan Blambangan. Namun sebagian besar mereka memilih mengungsi ke arah barat, mendaki ke arah gunung Raung. Hanya jalur itu yang menurut mereka aman. Mereka tidak yakin kalau lari ke utara, karena wilayah utara sebelumnya membela Patih Lor yang terbunuh. Kalau ketimur mereka takut dilaut sudah menunggu armada laut Majapahit.

Senopati Sonokeling sudah bersiap di posisinya. Dari tempat persembunyian Ia bisa mengamati keadaan Istana Kutalateng. Para pengawal Raja terlihat bersiaga penuh. Sesekali datang prajurit caraka menyampaikan perkembangan yang terjadi di Gerbang selatan. Dari gerak gerik mereka yang gelisah, Senopati menangkap isyarat kekalahan mereka di medan peperangan. Mereka terlihat sibuk mengumpulkan prajurit. Kentongan tanda panggilan dipukul bertalu talu. Seketika rumah rumah di Kutalateng menjadi gelap. Orang orang yang masih berada didalam rumah menangkap isyarat kentongan itu adalah tanda musuh mengalahkan Pasukan Blambangan. Agar tidak menjadi sasaran musuh. Mereka mematikan penerangan di rumah masing masing. Seolah olah rumah mereka sudah kosong.

***

Raja Sendaru keluar menemui pasukannya yang berbaris dihalaman depan istana. Ia memberikan perintah ke pasukan itu untuk membantu Pasukan Patih Etan yang mengalami kekalahan.
Senopati pengawal istana, Ki Daksana, yang menemani Raja Sendau seperti keberatan. Ia menginginkan pasukannya tetap mengawal Raja dan seluruh keluarganya di istana. Kalau pergi ke luar, lalu bila ada pasukan lawan yang menyerang langsung Istana, siapa yang menjaga, begitu pikirnya.
Raja Sendaru terhenyak dengan pendapat Senopatinya yang usianya jauh diatasnya.
"Tapi aku tidak tega dengan meninggalkan Patih Etan berperang sendirian. Kalau perlu aku sendiri akan turun dalam medan pertempuran sekarang."
"Kami berperang, rela mati untuk menjaga Gusti sebagai simbol kerajaan Blambangan. Maka keselamatan Gusti adalah yang utama."
"Apakah ada pergerakan Pasukan Majapahit selain di gerbang selatan?"
"Telik sandi di pantai dan di Blambangan Lor tidak melihat pergerakan pasukan seperti yang diselatan Gusti,"
"Berarti kita bisa konsentrasi dengan pasukan Majapahit di gerbang selatan,"
"Untuk sementara seperti itu."
"Kalau begitu, bukankah lebih baik kita bergabung dengan Patih Etan bertempur di gerbang selatan?"
"Tidak perlu turun sendiri. Gusti adalah pusat nadi Blambangan. Lebih baik kami yang menjadi pelapis kulit Gusti."
"Tapi kalau pasukan Patih Etan hancur, bukankah sama saja? Jadi aku tidak menginginkan pertahanan Patih Etan jebol sehingga Pasukan Majapahit menginjak injak kotaraja dengan semena mena."
"Adilnya, akan kami kirimkan separo pasukanku membantu pasukan Patih Etan. Separonya lagi tetap disini."
"Tidak, kirimkan semua, sisakan pengawal yang bisa bergerak cepat membawa keluargaku pergi dari sini." Raja Sendaru memikirkan, kalau pasukan Majapahit dapat mengalahkan Patih Etan. Maka sebuah hal mustahil pasukan pengawalnya mampu mengimbangi gempuran Pasukan Majapahit. Untuk itu Ia hanya butuh pasukan yang ramping dan cepat bisa mengevakuasi dirinya dan keluarganya.
Akhirnya Senopati Daksana menyisakan duapuluh lima prajurit inti pengawal Raja. Sisanya dikirim semua ke gerbang selatan, bergabung dengan pasukan Patih Etan. Ia juga mengirim sepuluh prajurit pilihan untuk menjaga Ibunda Raja dan adiknya di Puri.

Raja Sendaru masuk ke dalam istana. Mengatur segala sesuatu bersama para punggawa kerajaan. Ia mengumpulkan para sesepuh kerajaan yang menunggu dengan gelisah di balai utama, didampingi senopati Daksana.
"Saudara saudaraku, saat ini kerajaan Blambangan dalam keadaan genting. Pasukan Majapahit di selatan terlalu kuat untuk dilawan.
Untuk itu aku sampaikan mandatku untuk kalian sampaikan kepada siapapun. Apabila aku mati dalam peperangan ini. Maka tahta kerajaan Blambangan aku serahkan kepada adikku, Pangeran Jingga. Jadi nanti sepeninggalku, kalian dukunglah Pangeran Jingga untuk mengembalikan kejayaan Blambangan."

Itu mandat singkat dari Raja Sendaru. Tidak ada sesi tanya jawab dan keputusannya itu sudah bulat. Raja Sendaru langsung memerintahkan para sesepuh dan pejabat kerajaannya segera pergi mengungsi beserta keluarga sejauh mungkin dari Kutalateng. Sedangkan para abdi dalem sudah diperintahkan mengungsi lebih dulu.

Kini didalam istana hanya tersisa Raja Sendaru beserta istri dan anak anaknya yang masih kecil. Mereka dijaga pasukan Senopati Daksana dan beberapa abdi dalem yang tidak mau mengungsi dan memilih mendampingi apapun yang terjadi.

Rentetan dentuman Cetbang terdengar lagi. Suaranya menggelegar menggetarkan dada siapapun yang mendengarnya. Tak terkecuali para penghuni istana. Suara suara itu terdengar dekat membuat dada mengkerut mengecil menyesakkan nafas. Permaisuri memeluk erat kedua putrinya yang ketakutan dan terus bertanya tanya ada apa.
"Itu bunyi petir Nduk, Jauh diselatan, sepertinya disana hujan," jelas ibunya berbohong agar tidak ketakutan dan bertanya tanya lagi.

Saat ini suasana istana begitu hening dan tegang. Mereka gelisah menunggu tamu dalam kegelapan. Setiap ada derap kuda, darah mengalir deras ke sekujur pembuluh darah.

***

Senopati Sonokeling mengamati pergerakan pasukan pengawal istana yang menuju gerbang selatan dan sepasukan kecil bergerak ke barat. Ia tersenyum melihat perkembangan ini. Pekerjaannya akan jauh lebih mudah. Sepertinya semua konsentrasi diarahkan ke gerbang selatan. Tapi Ia tidak boleh gegabah, jangan sampai terlalu yakin dengan kemampuan diri malah hancur oleh detil detil kecil. Maka Senopati tetap menahan diri menunggu perkembangan terakhir di selatan. Seorang caraka kembali datang melaporkan situasi terakhir di selatan. Senopati langsung keluar mengawasi langit selatan, menunggu pertanda dari sana.

Yang dinanti nanti akhirnya datang. Di kejauhan terbang panah api menjulang tinggi. Panah yang digunakan sebagai sandi untuk memulai penyerangan. Secepat kilat pasukan Senopati Sonokeling yang menunggu dalam gelap bergerak cepat menyusup kedalam istana dari segala arah. Mereka melompati pagar istana yang tinggi seperti melompati punggung kuda saja. Sangat cepat dan mudah. Tanpa banyak bicara, mereka langsung menyerang menggunakan senjata andalan masing masing. Ada sekitar seratus orang pasus jalapati yang menyerbu. Pertempuranpun tidak terelakkan. Sebagai penyerang, Pasus Jalapati diuntungkan. Mereka sebelum menyerang sudah memetakan dimana dan siapa saja yang menjadi targetnya. Apalagi kini mereka menang jumlah. Dalam gebrakan pertama mereka sudah mengurangi pasukan pengawal separohnya yang tidak siap mendapatkan serangan dari dalam. Mereka berkonsentrasi menghadapi serangan di gerbang Istana. Dan dalam waktu singkat Raja dan Senopati Daksana sudah terkepung oleh pasukan khusus Jalapati. Dua orang melawan duapuluhan orang. Perbandingan yang tidak seimbang. Sedangkan pasus yang lain menyisir semua tempat didalam istana, memastikan tidak ada yang lolos. Mayat bergelimpangan dimana mana.
Senopati Daksana meski cukup berumur, merupakan seorang pilih tanding. Ia masih bisa mengimbangi pengeroyoknya yang bukan prajurit biasa. Pedangnya beberapakali mampu melukai pengepungnya. Namun usia tidak bisa bohong. Tenaganya cepat habis. Gerakannya semakin lama semakin lambat. Nafasnya mulai tersenggal senggal saat menempis dan menghindar. Dan akhirnya Senopati Daksana berada diujung kemampuannya. Ia sudah tidak bisa menghindar lagi dari serangan. Seketika dari depan belakang dan samping senjata senjata pasus Jalapati menghunjam tubuhnya.

Setelah Senopati Daksana tumbang, Pasus Jalapati tinggal mengepung Raja Sendaru seorang diri. Mereka menahan diri tidak menyerang lagi hanya mengurung ketat. Sesaat kemudian Senopati Sonokeling masuk dalam lingkaran dengan senjata terhunus.
Raja Sendaru menyadari dirinya pada titik akhir. Sekarang percuma dirinya melakukan perlawanan. Ia menegakkan dirinya lalu berjalan menuju singgasananya. Ia hanya sedih melihat kerajaan Blambangan berakhir begini.
"Senopati, silahkan kau laksanakan tugasmu!"
Senopati Sonokeling maju mendekat. Sejenak memberi penghormatan. Keduanya lalu berhadapan dengan senjata terhunus. Raja Sendaru dengan senjata keris. Sedangkan Senopati Sonokeling dengan senjata pedang. Ketika terjadi benturan pertama. Raja Sendaru langsung menyadari, dirinya sudah berada pada titik terendah. Senjata pusaka yang digenggamnya saat berbenturan terasa kosong tanpa isi. Para pembela gaibnya ternyata sudah hilang. Pergi entah kemana.
Kini Ia bertarung dengan kekuatannya sendiri. Keris ditangannya sudah tidak berguna kala melawan pedang besar dan tajam milik Senopati Sonokeling. Beberapa jurus kemudian, kerisnya sudah terlepas, terpental kearah pasus jalapati yang mengepungnya.
Senopati Sonokeling menyarungkan pedangnya. Ia melanjutkan serangan tangan kosong. Kembali Raja Sendaru terdesak. Ia sampai terduduk di singgasananya tanpa bisa berdiri lagi. Apalagi pedang pedang pasus menempel di lehernya.

Senopati Sonokeling mengambil keris Raja Sendaru yang terlempar tadi.
"Kerismu saja sudah meninggalkanmu," kata Senopati pelan kepada Raja Sendaru yang duduk tegang di singgasana. Sekelebat kemudian, keris itu dihunjamkan ke dada Raja Sendaru dengan keras. Menembus sampai menancap sandaran singgasana.

Setelah memastikan Raja Sendaru tewas, Senopati bergerak menuju kaputren. Tempat dimana Permaisuri dan putri putrinya bersembunyi.
Sampai di kaputren, Ia mendapati pasukannya mengepung sebuah bilik. Dari keterangan mereka, Permaisuri anak anaknya dan dayangnya berada didalam.
Senopati mengetuk pintu. Semakin lama semakin keras. Namun tidak ada sahutan dari dalam. Karena diburu waktu. Senopati langsung mendobrak jebol pintu kayu jati. Tampaklah pemandangan mengerikan. Permaisuri, kedua putrinya dan beberapa dayang tergeletak dengan mulut berbusa. Mereka meminum racun setelah mengetahui kedatangan pasukan asing masuk kaputren.
Senopati langsung memeriksa satu persatu nadi mereka. Dan dipastikan mereka tewas keracunan semua.

Senopati keluar mengatur kembali pasukannya. Cepat mereka bergerak meninggalkan istana dalam gelap menuju barat. Menuju puri, tempat kediaman Ibu suri Raja. Salah seorang membakar tumpukan kayu di halaman samping istana, untuk memancing perhatian.

Sampai di dekat puri. Pasukan pengintai sudah menunggu dan memberikan gambaran keadaan terakhir. Mereka melaporkan akan kedatangan sepuluh orang pasukan penjaga.

Tanpa membuang waktu, mereka menerobos masuk puri. Melumpuhkan semua penjaga baik yang berada di luar dan di dalam. Para penjaga itu tidak bisa berbuat apa apa menghadapi serbuan pasus sebanyak itu. Senopati memerintahkan cepat menghabisi seluruh penghuni puri ini tanpa kecuali. Ia sendiri enggan masuk, karena yakin didalam tidak ada musuh yang mumpuni.

Tak butuh waktu lama, pasukannya sudah keluar dari puri memberikan laporan telah menuntaskan tugas. Senopati langsung memerintah seluruh pasukannya menyerbar kembali ke posisi semula membentuk unit unit kecil seperti sebelum peperangan dimulai.

Malam itu, Pemerintahan Raja Sendaru jatuh.

****

PURI

Siang itu Ibunda Suri sedang merapikan barang barang pribadi peninggalan mendiang Kebo Marcuet. Entah kenapa perasaannya tiba tiba merindukan kebersamaan dengan suaminya. Barang barang yang sudah tertata rapi dibersihkan dan ditata lagi. Diluar, Untari bermain memanah dibimbing Lencari. Mereka demikian akrab mirip kakak adik saja. Lencari merasakan nikmatnya punya adik, sebuah perasaan yang belum pernah dirasakan selama ini. Sedang Untari merasakan kehadiran Kakaknya Jingga dalam diri Lencari.

Setiap hari Lencari banyak mengajari Untari berbagai keahlian yang Ia pelajari saat di Kahuripan. Keahlian yang biasa didapatkan laki laki. Selama ini Untari dilarang melakukan hal hal yang berbahaya oleh Ibundanya. Namun seiring waktu dan ketidakjelasan situasi. Ibundanya menyadari Untari harus bisa menjaga diri. Ia akhirnya menginjinkan Untari belajar kepada Lencari. Asal tidak jauh jauh dari puri. Dengan Menyamar, mereka berdua keluar puri untuk berlatih berkuda, memanah dan bermain pedang. Lencari menyempatkan diri mengambil pedang pemberian Eyangnya. Ia gunakan berlatih dengan Untari. Dengan begitu Lencari bisa membawa masuk pedang itu kedalam puri,

"Bunda, mau dibantu?" Untari menawarkan diri membantu merapikan barang barang Ayahandanya.
"Tidak usah, sudah berlatihnya?"
"Belum, istirahat sebentar, haus,"
"Bawakan Lencari minum,"
"Iya Bunda,"
Untari beranjak mengambil air di dapur.
Tiba tiba terdengar rentetan ledakan keras dari arah tenggara. Serta merta Ibunda Suri keluar menanyakan ada apa?
Tapi para penjaga juga sama sama tidak tahu ledakan itu sumbernya apa. Ibunda Suri mencari Untari untuk bersiap siap. Firasatnya mengatakan akan terjadi hal buruk di tanah Blambangan.
"Untari, Lencari, kalian kemari,"
"Iya Bunda,"
"Untari, Lencari, Firasat bunda merasakan akan terjadi hal hal buruk disini. Untuk itu kalian mumpung masih sempat, pergilah sejauh mungkin. Menyamarlah agar tidak mencurigakan."
"Tapi Bunda, aku ingin bersama Bunda," Untari langsung memeluk Ibundanya. Ia tidak mau meninggalkan Ibundanya.
"Jangan Nduk, Ibunda tidak bisa meninggalkan puri ini. Kalau ibunda pergi, bagaimana dengan rakyat Blambangan sendiri. Lagipula Ibunda sudah terlalu tua untuk melakukan perjalanan berat. Toh kalian pergi untuk sementara waktu, kalau situasi sudah baik, kalian bisa kembali kesini."
"Lencari, tolong jaga adikmu ya,"
"Baik Ibunda,"
"Untari, jaga kakakmu Lencari,"
"Iya Bunda,"
"Sudah bersiap sana, semoga firasat ibu salah."
Tanpa menunda waktu, mereka cepat bersiap. Untari bingung. Selama ini Ia selalu bersama Bundanya. Baru kali ini Ia harus berpisah.
"Untari, sekarang waktunya kamu menjadi gadis kuat. Buatlah bangga Ayah dan ibumu,"
Untari tidak menjawab, hanya memeluk erat ibundanya dengan wajah penuh airmata.
Tangisan Untari tidak menggoyahkan kehendak Ibundanya. Ia lalu memeluk Lencari, tidak ada kata kata yang terucap, hanya tatapan pengharapan agar menjaga Untari disaat pelarian. Lencari membalas memeluk, sambil mengangguk.
Ibunda Suri lalu membawa keduanya ke bilik ayahanda. Ia meminta tolong menggeser dipan kayu kesamping. Lalu menyingkirkan tikar pandan. Terlihatlah lantai papan kayu yang bisa dibuka. Ternyata itu adalah terowongan rahasia untuk pergi dari Puri. Lorong itu hanya Kebo Marcuet dan dirinya yang tahu. Anak anaknya tidak ada yang tahu. Konon gua ini dibuat sendiri oleh Kebo Marcuet diwaktu senggangnya. Tanpa bantuan orang lain.
"Masuklah, nanti kalian akan keluar di Gua lereng sungai. Hati hati, jaga diri kalian."
Lencari lebih dulu masuk disusul Untari yang masih saja menangis. Dengan perasaan dikuatkan, Ibunda Suri menutup papan kembali diiringi tatapan sembab Untari dari bawah. Semua dikembalikan seperti semula.
"Semoga kalian bisa selamat anak anakku," batin Ibunda suri. Meledaklah tangis yang sedari tadi ditahannya. Setelah tenang, Ia keluar bilik menemui para abdi puri.
"Kalian bisa pergi kembali ke keluarga,"
"Ampun Ndoro, kami salah apa sehingga harus pergi dari puri?"
"Kalian tidak salah apa apa, tapi kondisi Blambangan sedang kisruh. Kalian pergilah demi keselamatan kalian."
"Ampun Ndoro, ijinkan kami mengabdi kepada Ndoro sepanjang hidup kami, Ndorolah keluarga kami." Para Abdi menolak pergi, mereka memilih terus bersama Ndoro Ibu suri.

Seorang prajurit penjaga datang bersama seorang utusan Istana Kuta lateng menghadap Ibunda Suri. Menyampaikan kabar kalau Blambangan diserang.
"Kami diutus Paduka Raja untuk menjaga Paduka Ibunda Suri, kalau berkenan bisa pergi mengungsi meninggalkan Blambangan sekarang,"
"Kalian saja yang pergi, aku tetap disini saja. Tulang tulangku terlalu rapuh untuk melakukan perjalanan jauh. Kalian kembali saja, jaga Raja dan keluarganya. Itu lebih penting daripada menjagaku yang tua renta ini."
Karena ditolak, utusan Istana itu pamit undur diri kembali ke Kuta lateng.
Kepada para prajurit yang setiap hari menjaga Puri, Ibunda Suri meminta mereka pergi kembali ke keluarganya. Namun permintaan itu ditolak, sama seperti alasan abdi dalem. Mereka akan berbakti kepada Ibunda Suri sampai mati.

Tanpa mereka sadari, diluar puri, para telik sandi pasukan Sonokeling terus mengamati pergerakan orang orang yang keluar masuk puri. Sekeliling Puri juga sudah mereka amati. Tidak ada yang istimewa. Penghuninya hanya kaum perempuan. Laki laki hanya penjaga puri, mereka berjaga diluar. Yang membuat para telik sandi tergetar dadanya, saat melihat dua gadis cantik berlatih didalam puri. Meski mengamati dari jauh, mereka tidak bisa memungkiri kecantikan gadis gadis itu, terutama yang lebih tinggi. Seumur hidup baru kali ini melihat gadis begitu cantik. Timbul rasa belas kasihan kepada mereka. Tidak tega bila nanti mereka mendapat tugas untuk mengeksekusi gadis itu.
Dalam penantian perintah selanjutnya, para telik sandi itu berdiskusi tentang perasaan mereka. Ternyata mereka punya pikiran yang sama. Mereka semua memikirkan kedua gadis itu.
"Kasihan bila kedua gadis itu harus menjadi korban perang ini."
"Jangan bicara begitu, nanti kamu dikira menentang perintah."
"Ini beratnya jadi telik sandi. Kalau mengamati orang jahat, kita yang sakit hati duluan. Kalau mengamati orang baik, kita juga yang menderita."
"Iya, aku merasakan hal yang sama. Apalagi melihat kegembiraan mereka, aku jadi ingat anak anakku dirumah."
"Lalu baiknya bagaimana?"
"Entahlah, kita bisa apa?"
"Setidaknya kita tidak melaporkan kelebihan gadis gadis itu, semoga itu menyelamatkannya."
"Maksudnya?"
"Kalau kita tidak menyebarkan kecantikan mereka. Setidaknya tidak memancing atasan kita mengambilnya. Dan menurutku itu akan menambah penderitaan mereka."
"Aku memilih tidak ikut penyerbuan ke puri ini, biar yang lain saja, Aku tidak tega."
Begitulah, mereka berdiskusi dalam rimbunnya hutan disekitar Puri. Mereka sepakat untuk tidak membicarakan dan tidak melaporkan keberadaan dua gadis itu. Agar pimpinan tidak tertarik melakukan penyerangan ke Puri ini. Hanya itu yang mampu mereka lakukan.
profile-picture
profile-picture
makan.sederhana dan andir004 memberi reputasi
ahhh ternyata adiknya jingga sama lencari selamat,,,,jadi beristri dua ni jinggaemoticon-Hammer2
Terima kasih ki curah.... jadi ngerti lencari dan untari ternyata selamat...
Terima kasih kicurah sungguh luar biasa mantap dan makin penasaran saja kisahnya benar benar tidak pake kendor kenceng ki betot terus....
Ternyata benar dugaan saya, mreka sudah pergi trlbih dahulu sblum diaerang
Tapi ibu suri harus meninggal emoticon-Sorry, semoga mereka cepat ktemu jingga, kmudian jingga mmbentuk pasukan untuk mnyerang majapahit
matur nuwun update nya mbah..... emoticon-Cendol Gan
matur sembah nuwun ki curah.. lelaku lencari kalian untari mugi dados priyayi ingkang adingung adiguno kagem negri blambang.. horasemoticon-Pelukemoticon-Peluk
percakapan telik sandi terakhir sangat mencurigakan. Apakah mereka terpaksa karena tugas?
Mungkin mereka salah satu Dari sekian banyak prajurit Majapahit yang masih menjaga sifat ksatria nya.

Coba kalo mereka pernah berurusan dg kementrian pemuda pasti langsung tahu kalo itu Lencari : kiss
Jingga auto raja ini mah
Go go jingga sikat dutamandala
"Ketika terjadi benturan pertama. Raja Sendaru langsung menyadari, dirinya sudah berada pada titik terendah. Senjata pusaka yang digenggamnya saat berbenturan terasa kosong tanpa isi. Para pembela gaibnya ternyata sudah hilang. Pergi entah kemana..."

Para pembela sudah tahu tidak akan menang.. jadi lebih milih untuk menjaga raja selanjutnya yaitu pangeran jingga..
update malam minggu sudah keluar,,, kapan lagi kiii,,,?emoticon-Wow
Halaman 111 dari 216


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di