alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Cerita Dari Norlorn (True Story, Romance 17+, Horor)
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b5694b9620881f31b8b4567/cerita-dari-norlorn-true-story-romance-17-horor

Cerita Dari Norlorn (True Story, Romance 17+, Horor)

Tampilkan isi Thread
Halaman 2 dari 2
Quote:

bakar aja ya biar rame emoticon-Ngakak


Quote:

fans ente ga ada yang nongol di trit ini emoticon-Nohope

Balasan post 3121X
Gue kan bukan artis om
Balasan post viviangj
emang harus artis yang punya fans, penulis jg bisa punya fans ko.
Balasan post 3121X
paling karena masih 'awal-awal'😳, yang cerita dari sudut pandang cowok dan belum ada ++nya. emoticon-Ngakak
Balasan post viviangj
Otak lu nganu mulu kl nilai cowo emoticon-Nohope

4. Affaire De Coeur

Kontradiksi di ruang kerja telah berakhir. Aku bersumpah, semua perkataan dapat dipertanggungjawabkan sesuai permintaan Ayah. Keluar dari kamar merupakan hal terbaik untuk memastikan perselisihan selesai. Di jendela, Ayah kelihatan melamun. Pikirannya mengawang-awang entah ke mana.

kan aku tepati janji itu, Ibu…

Gambar Ibu di dinding menjadi saksi ikrarku pada mambang kuning hari ini. Ingatan insiden berdarah seratus lima puluh tahun lalu kembali terpatri. Ketika di belahan bumi lain sosok berusia seratus delapan puluh tahun melakukan hal produktif atau memilih menikah lalu mengurus banyak anak yang seharusnya lebih pantas disebut tim sepak bola bersama finansial kepapaan , aku harus mengalami kekecewaan.

Penyesalan menyaksikan Ayah dalam keadaan terluka bersama para prajurit dan Ibu sekarat di koridor istana. Kami sebagai anak tersedu-sedu tanpa bisa berbuat apa-apa. Ibu terbaring, tatapan dia muram. Tubuhnya berusaha bangun seraya mendekap kami. Luka di perut dan dada Ibu menganga, terlihat dalam. Ucapan dia tertatih-tatih setengah berbisik, “Nue–le–th… Ibu titip Ayah dan adikmu,”

“Bertahanlah, Bu.” Kak Nueleth terisak-isak.

“Ibu, bertahanlah. Aku akan memanggil bantuan,” Perih melihat Ibu tak berdaya, mata biru terang milik dia sinarnya meredup. Cahaya wajahnya memudar, pelupuk mata dia turun perlahan. Bibir Ibu tersenyum tipis padaku.

“Ibu tak akan lama lagi di sini. Jaga Ayah dan diri kalian.” Kalimat dia lirih.

“Ibu…” Kak Nueleth tersedan-sedan.

“Ibu, jangan tinggalkan kami.” Air mata mengalir deras membasahi pipi. Ibu masih memeluk kami dengan tenaga terakhirnya sebelum pendar muka dia hilang untuk selamanya.

“Norl, carilah sosok itu. Kelak, dialah yang akan menjadi tujuan akhirmu.”

Sesaat setelah mengatakan, Ibu mengembuskan napas terakhirnya. Tiada lagi pelukan hangat setiap hari kami terima, tak ada ocehan jika latihan ilmu pedang kami semua salah, bahkan canda dan tawa Ibu saat bersama Ayah.

“Ibu…!!”

“MARYN…!!”

Ayah melaung. Ayah bersusah payah bangun menyokong tubuh dia dengan tombak. Gerakannya terseok-seok menggapai jasad Ibu. Dia tersedu sedan meratapi peristiwa. Ayah kelihatan tertekan memandang Ibu, bidadari telah gugur menjaga kerajaan dan negeri.

Ku lepas pelindung tubuh Ibu yang rusak beserta pelindung tangan. Kak Nueleth memasukan kembali pedang ke sarung pedang. Kenapa Ibu memakai pedang latihan untuk bertempur? Tidak seharusnya itu terjadi!

“Kita tidak bisa memprediksi, Norl.” ujar Kak Nueleth melarau.

“Tidak seharusnya Ibu memakai pedang latihan untuk melawan!”

“Kalau aku tahu, aku juga akan melarangnya, Norl!”

“Apa yang sebenarnya terjadi dengan negeri kita, Kak!?”

“Konkurensi bangsa kita dan manusia…”

“Apa?!”

“Ya. Ramalan itu sudah terjadi!”

“Tuhan…”

“Sudah masanya bangsa kita bertempur dengan bangsa manusia, Norl.”

Mimik Kak Nueleth datar. Mulut dia menggumam tanpa suara. Netra Kak Nueleth pirau merenungi horizon berona kelabu. Suasana di lorong istana berawan duka. Redup. Ayah mengangkat tubuh Ibu seraya memeluk Ibu erat. Raga Ibu begitu dingin. Dewi alam telah menjemput Ibu bersamanya.

Kami mencium kening Ibu untuk terakhir kali. Meninggalkan koridor istana, salah satu tempat menjadi saksi bisu pertempuran di kastel. Ayah berjalan di depan bersama Alfonso, asisten Ayah yang membantu menggotong Ibu ke lantai dasar.

Keadaan lantai dasar sangat kacau. Cerai berai tak keruan. Barang-barang berserakan, morat-marit. Bukan hanya prajurit, para pelayan juga terluka. Adome merintih kesakitan bersama dua pelayan lain.

“Adome… siapa yang menyerangmu?”

“T–tu–an–Mu–da—“ Adome terputus-putus.

“Siapa Adome?”

“G–ge––ro–m–bo–lan– ma–nu–si–a…”

“Manusia?!”

“Bb–e–tul, Tuan Muda.” sahut Tavin, wakil kepala pelayan.

“Mm–af, kami—tidak mampu menahan mereka.” Syo Ri menyambung.

“Bagaimana dengan keadaan yang lain?”

“Masih di bangsal, Tuan Muda.”

“Bangsal?”

Beberapa jam lalu, kami bersama pangeran, beberapa pelayan laki-laki serta pelayan perempuan juga berada di bangsal atas perintah Ayah tanpa alasan jelas dan tak diberi kesempatan keluar untuk memastikan apa yang terjadi. Jangan-jangan…

Sewaktu di bangsal kami tak mendengar keributan atau merasakan kehadiran musuh. Saat itu, pikiran hanya merasa janggal tanpa kehadiran Ayah, Alfonso, Ibu, Paman Morgan dan Bibi Erendina, Adome, Tavin, bersama Syo Ri ikut ke barak.

Apakah ini alasan Ayah menyuruh menunggu di bangsal karena ada peperangan tanpa kami ketahui? Dari sayap kiri istana terdengar pekikan kepiluan. Aku berlari ke sana melihat keadaan. Diriku syok, Bibi Erendina tergolek dengan keadaan mengenaskan. Kondisi Bibi Erendina lebih serius dibanding Ibu.

Tidak adil! Tuhan… kenapa Engkau menciptakan manusia hanya untuk membuat kehancuran di negeri kami yang damai? Apa salah bangsa kami? Apa karena kami berbeda dengan mereka dan tak pantas hidup bahagia saling berdampingan?

Jika memang manusia merupakan makhluk dengan derajat paling tinggi dan berakal, mengapa mereka mengusik kami yang tak pernah mengganggu bangsa manusia?

Dahulu, manusia dan bangsa kami berdampingan dengan damai. Sekarang? Semua berubah. Manusia mempunyai sifat serakah untuk mengejar nafsu duniawi sehingga melakukan penyerangan pada negeri kami tanpa tahu tujuan. Apakah hanya pemuas nafsu belaka?


Bibi Erendina lebih parah, luka tusuk memenuhi seluruh tubuhnya. Paman Morgan menangis melihat Bibi Erendina telah tiada. Manusia biadab! Hanya berani pada perempuan, menyerang membabi buta sampai Ibu dan Bibi Erendina pergi selamanya. Kelak, bangsa kalian akan mendapat balasan suatu saat dari semesta. Aku yakin. Terutama, untuk gerombolan manusia penyerang negeri kami.

Bangsa manusia juga harus ingat, Tuhan tak pernah tidur. Bukan berarti, Dia tak melihat perbuatan kalian setiap jam, menit, dan detik.


“Adome, kau bisa berdiri?” tanyaku pada Adome.

“Ss–a–ya—“

“Jangan bergerak dulu, Adome.”

Aku mengobati Adome dengan serbuk daun Eakolia kuambil dari saku celana. Serbuk daun Eakolia kuusap pada luka Adome dan membiarkan hingga menutup. Adome meringis saat serbuk mengenai semua luka pada dada hingga tangan.

“Bertahanlah, Adome.”

Adome mengangguk, keringat dia menetes. Menandai luka-luka Adome sudah mulai menutup dan pulih. Berangsur-angsur, Adome berdiri. Aku memberikan serbuk Eakolia untuk pertolongan pertama pada Paman Morgan, Ayah, Alfonso, Tavin dan Syo Ri bersama prajurit lain yang berada di lantai dasar dan koridor lantai dua.

Daun Eakolia berasal dari danau Clerahm. Danau saksi bisu sosok Derenia, sang Dewi langit turun ke tanah ini jutaan tahun lalu. Dewi yang berasal dari bangsa Cylops (baca: Sailops), keturunan penghuni langit tak bersayap. Dewi Derenia tak bisa bicara, dia bertirakat memohon pada Tuhan untuk meminta kurnia.

Tuhan mengabulkan doa dan memberikan karunia kepada Dewi Derenia. Dewi Derenia dapat berkomunikasi lebih dalam dengan semesta dan seluruh isinya. Kata pertama diturunkan semesta melalui perantara Xenomorph, makhluk hibrida legenda dari perkimpoian burung Phoenix dengan Griffin. Terlepas sejarah atau legenda, aku percaya Dewi Derenia turun atas perintah Tuhan bersama Xenomorph untuk kehidupan lebih baik di masa mendatang. Seperti terciptanya alam ini dan bangsa kami hingga sekarang.

***


Kita tak dapat menafikan, sesekali memoar negatif datang di situasi kurang tepat. Seperti aku tadi, dipanggil Ayah bersamaan keyakinan pengundang perdebatan kami di ruang kerja. Tak masalah bagiku, kadang kala berbeda pendapat dengan orang tua merupakan hal wajar jika hanya sesekali. Kalau terlampau sering mungkin salah satu dari diri kalian ada yang salah.

Aku beranjak ke kamar meninggalkan ruang kerja Ayah. Kubaca lagi buku catatan Erlan, pusing tujuh keliling. Tak salah dia diberi predikat playboy oleh teman-teman, taktik mendekati satu sosok saja hampir setengah buku. Melihat siasat konyol Erlan membuat dahi berkerut. Apa-apaan dia itu?!

Salah satunya tertulis dalam bahasa alam kami, “Dan schönz wert èit kítß fîr vér neīm yofėr, Nórl.” Sungguh saran yang menarik sekaligus kurang waras. Artinya adalah jika ciuman pertama sudah kau lakukan sentuhlah dia tepat di hatinya, Norl. Sentuh hati? Bagaimana caranya? Ada-ada saja anak itu.

Daripada pusing, memang lebih baik tanyakan pada si pemberi saran. Kulanjut perjalanan ke kamar sambil mempelajari strategi lain untuk menggali info lebih dalam pada perempuan bermata dwi warna berambut ikal panjang kutemui saat tersesat di desa antah berantah.

Konyolnya anak ini! Dia malah enak-enakan tidur!

“Erlan!” panggilku di ranjang. Tak ada sahutan darinya. Tubuh Erlan malah berbalik menghadap dinding. Keadaan penting begini malah pulas. Sesudah itu, dia pun mendengkur.

“Erlan…!!”

Aku jiwit lengan dia tanpa ampun. Erlan tetap bergeming dari posisinya. Anak ini benar-benar! Diriku dibuat kesal oleh dia. Memang salah membuat Erlan terlalu lama menunggu perdebatan dengan Ayah di ruang kerja selesai.

“Sentuhlah dia tepat di hatinya, pasti dia akan jadi milikmu selamanya.”

Aku melihat Erlan. Tubuh dia masih menghadap dinding kamar dan membelakangi aku. Rasanya dia mengigau. Kalimat itu lagi? Bahkan mengigau pun masih bisa berbicara sesuai topik. Aku mengerti sekarang apa maksud bocah tua berambut kuning gading ini. Perempuan hanya butuh rasa penasaran bukan rayuan gombal tak berkelas.

“Terima kasih, Er.”

Biar saja Erlan beristirahat setelah menemani dari Freiburg, berjibaku di Kanonenplatz dengan Parkour sampai berada di puncak Schlossberg. Kubuka jendela kamar. Kaki langit sudah berubah, sandekala tiba. Di alam ini waktu berlalu begitu cepat tanpa ada yang tahu. Penanda waktu hanya jam dinding, arloji, atau gawai milik kami.

Perlahan-lahan usia kami semakin tua dimakan waktu, sedangkan fisik masih tetap sama seperti saat ini. Yang membedakan cuma kesehatan masing-masing individu , tubuh menjulang serta pikiran semakin matang. Apakah kami bisa mati? Tentu saja bisa, tak ada satu makhluk abadi selain Tuhan.

Biasanya kami mati karena sakit dimakan usia atau kalah dalam perang. Kalian harus tahu, umur ras asli lebih panjang dibanding umur ras keturunan. Sepertiku tentunya. Ayahku ras asli, ibuku ada jiwa dari manusia, manusia yang terlebih dahulu berdampingan bersama ras kami sebelum terpecah dan menjadi tamak sekaligus nafsu dengan duniawi.

Ada pembeda dari segi rupa ras keturunan ataupun ras asli. Paling umum adalah, ras keturunan terlihat lebih ‘manusia’ dibanding ras asli. Kalian mungkin pernah mengalami pada suatu waktu melihat bangsa kami namun dia tak terlihat mencolok seperti ‘hantu’ dengan kulit putih pucat mirip vampir anemia.

Sedangkan ras asli, sekali pun berjenis ras matahari kulitnya tetap berwarna putih pucat, hanya rambut dan warna mata saja berwarna gelap atau agak terang. Cokelat muda, kuning gading, burgundi, mahoni merupakan warna paling umum ditemukan dari ras matahari.

Kembali lagi ke topik perempuan kutemui waktu tersesat di desa. Perempuan amat mirip cinta pertama waktu aku belia. Perempuan mungil berambut ikal panjang bersikap masa bodoh pada dirinya sendiri, tatapan sedingin es di kedua mata dia membuat ingin tahu semua tentang dia.

Apakah dia benar-benar ada kekerabatan dengan Akshita? Sungguh rumit urusan percintaan ini. Permasalahan hati pembuat kesal dan penasaran bertumpuk.

Affaire de coeur, ungkapan permasalahan hari ini. Campur aduk membuat sakit kepala. Memikirkan dan mengurusi perempuan adalah hal cukup sulit bagi laki-laki seperti aku. Aku bukan playboy layaknya Erlan, banyak perempuan termakan rayuan manis dari ucapan dia.

Aku tak munafik pernah menyukai perempuan, tetapi bukan berarti aku harus menjadi ‘kolektor perempuan’ mirip Erlan. Yang aku mau hanya satu, dia—
Dia cinta pertama yang sedang aku cari.

Besambung
Diubah oleh 3121X
ouucchh ... kesian mas norlorn di marahin ayahnya.
pasti sakit ya pipinya kena ajian tapak maut ...
Quote:


Sakit berbuah manis. emoticon-Wowcantik
Balasan post 3121X
emoticon-Ngakak
Balasan post 3121X
uhuuuyy ... cinta pertama memang tak terlupakan yeess
Balasan post vhytha
Eh mami kapan mau jalan² sombong ga pernah ngubungin lg emoticon-Nohope
Balasan post 3121X
papi siy sibuk sendiri, aku gak pernah diurusin lg ... hikkss ... hikks ... mau ngubungin papi tapi takuuut
Balasan post vhytha
Takut apaan dah, emang saya ngegigit emoticon-Nohope
ok pi ... siippp.
makasih info nya.
Quote:




Itu piaraan papi yg gigit 🙈🙈
Quote:


Siapa bilang ngegigit, dia biasa nyembur ko emoticon-Nohope

Kalo ga percaya tanya non vivi aja tuh emoticon-Big Grin
Diubah oleh 3121X

5. Kaulah Ahlinya Bagiku

Di mana dirimu Akshita pada waktu aku ingin bertemu? Apa kau juga memikirkan memoar kita di sana? Dengarlah kesepianku di sini sayang. Kau memang ahlinya agar selalu berpikir tentang engkau yang tak tahu di mana kini. Haruskah keliling dunia untuk mencari di mana cintaku? Jika itu bisa membuat pertemuan denganmu akan kulakukan.

“Norl—“ Aku menoleh. Erlan sudah bangun dari tidur cukup panjang. Mata Erlan berkejap, mulut dia menguap sembari menimpali.

“Ada apa, Er? Lelap ‘kan tidurmu?”

“Kau ini, Norl.” Erlan merah muka.

“Aku perlu bantuanmu, Er.”

“Bantuan apa? Tentang cinta pertamamu?”

“Sedari tadi kita memang membahas itu ‘kan?”

“Maksudku, apa buku catatan kuberi padamu masih kurang jelas?”

“Ada salah satu saranmu menggelitik diriku, Er.”

“Yang mana?” Erlan bimbang.

“Di buku dan waktu kau mengigau, kau berkata sentuhlah dia tepat di hatinya.”

“Ya. Lalu?”

“Apa kau maksud itu adalah rasa penasaran?”

“Bukan Norl.” Erlan menggeleng.

“Lantas?”

“Kau paham konsep tarik-ulur?” tanya Erlan. Dia tertawa.

“Tidak.”

“Norl… Norl… mau sampai kapan sikapmu begitu terus?”

“Ada yang salah?” Dahiku mengerut.

“Kau ini kaku. Kurang cekatan memahami isi hati wanita.” jawab Erlan. Dia terpingkal. Aku paham Erlan menyindir tindak-tandukku pada para gadis. Individualistis, acuh tak acuh dengan mau nona-nona di negeri ini. Tak heran, hampir seluruh hawa lebih banyak memberi umpatan tentang rasa hati yang tak kubalas dibanding mendoakan agar aku masih dapat menjaga alam ini selamanya.

“Jadi?”

“Ada beberapa bagian konsep tarik-ulur akan aku jelaskan, Norl.” Erlan mengembus.

“Jelaskan padaku.”

“Kau sadar tidak? Perempuan yang kau temui tadi aku yakin menggunakan konsep tarik-ulur padamu.”

“Tidak.” Aku menggeleng.

“Aku belum selesai bicara, Norl.” Erlan memutar mata. Kelihatannya aku harus benar-benar mendengarkan penjelasan Erlan kali ini.

“Maaf. Silakan lanjut penjelasanmu, Er.”

“Konsep utama dari tarik-ulur adalah memperlihatkan ketertarikan kepadanya, kemudian memperlihatkan rasa ketidaktarikan setelah itu. Lalu diulangi lagi dan lagi. Kau mengerti, Norl?”

Konsep apa ini? Bukankah itu sama saja memberi harapan palsu pada wanita? Namun bisa jadi maksudnya lain. Sabar Norlorn, dengar penjelasan dari ahlinya sampai selesai. Siapa tahu dengan cara Erlan berikan, Akshita kembali padaku.

“Wanita mana pun sering melakukan konsep tarik-ulur pada pria, terlepas dia melakukan secara sengaja atau tidak.”

Perkataan Erlan ada benarnya. Kebanyakan wanita paling sering melakukan tarik-ulur pada laki-laki. Aku sudah menangkap esensi para nona mendekatiku, lalu final mereka memaki-maki di belakang lantaran konsep tarik-ulur tak kumengerti.

“Jangan-jangan Akshita…”

“Belum tentu Norl!” Erlan membantah.

“Tadi kau bilang perempuan sering melakukan konsep tarik-ulur pada pria.” Aku mengernyit.

“Pada umumnya. Namun tidak semua.”

“Oh ya?”

“Iya. Belum tentu cinta pertamamu menggunakan konsep itu.”

“Mungkin.” Kuangkat bahu tanda tak tahu. Aku sadar diri ini amat payah mengikuti dan memaklumi para noni termasuk Akshita. Bisa saja Akshita pergi karena keteledoran kubuat sendiri tanpa disadari.

“Wanita kau temui sudah pasti menggunakan konsep tarik-ulur.”

“Siapa? Wanita yang mirip Akshita?”

“Jelas.”

“Dari mana kau yakin dia sedang melakukan tarik-ulur?”

“Dari rasa penasaranmu, Norl.”

“Kau amat jeli, Er. “ Aku mencibir.

“Dari awal kau menceritakan tentang dia, aku sudah tahu.” Erlan tergelak. Ledekan dia membuatku mempertimbangkan tingkah laku serta sikap dingin kepada semua perempuan di negeri ini kecuali keluargaku. Sesungguhnya aku ingin bersikap terbuka dengan wanita meski sulit sejak Ibu gugur melindungi negeri.

“Aku tahu, Er. Mungkin benar sikap dingin dan kaku tidak baik jika diteruskan.” Aku menunduk. Hal dialami saat ini menjadi pelajaran untuk pria paling tolol dalam memahami wanita.

“Akhirnya kau sadar juga,” Erlan terkikik.

“Aku harus bagaimana?”

“Aku sudah menjelaskan konsep tarik-ulur.”

“Baru dasarnya. Aku perlu lebih banyak, Er.”

“Sebaiknya kau praktik langsung dengan perempuan itu, Norl.” Erlan memerintah seraya berpindah dari ranjang ke sofa.

“Harus?”

“Kenapa kau masih bertanya?”

“Kalau tidak berhasil bagaimana?”

“Ya ampun. Mulai lagi— mana Norlorn kukenal?”

“Mendekati wanita butuh strategi yang tepat, Er. Apalagi mengenai cinta lama yang hilang.”

“Aku yakin perempuan itu memakai konsep tarik-ulur,”

“Jadi?”

“Kau harus melakukan hal sama padanya, Norl.” Taklimat Erlan mengidealisasi taktik mengorek fakta tentang Akshita dari dia.

“Baiklah.” Aku menyeringai nakal. Erlan terperanjat melihat karakter diriku tak biasanya. Tabiat totaliter bergeser sedikit menjadi petualang cinta. Itu mau Erlan bukan? Mengapa dia terkejut?

“Norl, kau tidak akan melakukan hal di luar logika ‘kan?” Erlan bergidik.

Aku duduk di sofa seraya merisik di telinga Erlan, “Menurut kau aku akan melakukan apa ke perempuan itu?”

Erlan mengelu, diam seribu basa.

“Kenapa Er?”

Dia menggeleng kelesah. Roman Erlan sano kepadaku. “Norl, jangan-jangan kau akan…”

“Kalau iya memang kenapa?”

“Jangan lakukan itu, Norl.”

“Kau juga suka melakukan itu dengan para nona bangsawan yang termakan rayuanmu. Lalu aku tidak boleh?”

“Tapi Norl…”

“Apanya yang tapi? Aku yakin perempuan itu tidak akan menolak!”

“Kau bukankah sudah tahu risiko berhubungan dengan manusia?”

“Ya.”

“Kenapa kau ingin melakukannya?”

“Strategi tarik-ulur kau berikan terlalu lama prosesnya. Jika ada cara lebih cepat kenapa tidak?”

“Ya… ya… sebaiknya kau tidak melakukan pada perempuan kau temui, Norl. Tapi jika itu mau kau, aku tidak bisa memaksa.” Erlan tersimpul.
“Lihat saja nanti, Er.”

“Aku harap kau dapat memperlakukan dengan baik wanita itu.” Erlan berucap.

“Pasti. Aku akan memperlakukan dia dengan baik pada pertemuan kedua,”

“Jangan sampai dia pergi sebelum kau menemukan fakta tentang cinta pertamamu.” Erlan bertalaran.

“Aku pastikan dia tidak pergi!”

“Semoga berhasil, Norl.” Erlan menepuk bahuku. Suntikan psike membenam perspektif gamam menjadi kesungguhan tetap mencari separuh semara yang sedang pergi.

“Terima kasih, Er. Doakan aku semoga usaha pencarian Akshita tidak sia-sia.”

“Aku selalu mendoakanmu.” Erlan tersenyum.

“Er, kaulah ahlinya bagiku.”

“Ahli apa?” Alis Erlan mengkerut.

“Ahli mengubah pikiranku tentang wanita.”

Serta-merta Erlan dan aku terpingkal-pingkal mengingat sikap pada para dara di negeri ini yang mengenalku sesaat saja. Acuh tak acuh adalah hal paling idiot kulakukan kepada mereka. Masa lalu sesekali pasti teringat. Hanya saja, masa lalu tak perlu ditakutkan. Jadikan cambuk tujuan menjadi lebih baik dalam hidup. Sekarang dan selamanya.

bersambung dulu ya gan emoticon-Peace
Diubah oleh 3121X
Quote:


Cinta pertama nggak balik lagi—

Quote:


Mami pita lebih sering ke realm emoticon-Ngakak

Quote:


Quote:


Anjir sembur(?) emangnya mbah dukun?
Halaman 2 dari 2


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di