alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
PENDEKAR SINTING ~Pendeta Sinting~
5 stars - based on 7 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5aad4c105c7798e0518b456d/pendekar-sinting-pendeta-sinting

PENDEKAR SINTING ~Pendeta Sinting~

Tampilkan isi Thread
Halaman 9 dari 9

Pendekar Sinting | Pendeta Sinting | Part 52

PENDEKAR SINTING ~Pendeta Sinting~

"Puspita... Kau dengar ucapanku?" ucap Si Mata Iblis karena muridnya hanya berdiri tegak tak menyahut.

Meski tidak begitu perhatikan apa yang
baru saja diucapkan Si Mata Iblis, Dewi Pencabut Nyawa berpaling sambil anggukkan kepala.

Di lain pihak, mendapati ucapannya tidak
mendapat tanggapan, Ki Banyu Getih merasa geram. Namun sadar situasi, dia cepat tersenyum dan berseru lagi.

"Sobatku, Si Mata Iblis... Bergabunglah
dengan kami orang-orang satu golongan.
Urusan Kitab Serat Kuning nanti bisa kita
rundingkan jika urusan ini selesai." seru Ki Banyu Getih pada Si Mata Iblis.

"Aku tidak sudi jika manusia mata iblis itu ikut bergabung..."

Tiba-tiba satu teriakan terdengar. Yang berteriak ternyata adalah Ratu Pemikat. Seperti diketahui, antara Ratu Pemikat dan Si Mata Iblis pernah terjadi bentrok saat memperebutkan Pedang Perak Sakti. Teriakan Ratu Pemikat membuat Ki Banyu Getih dapat menangkap jika antara Ratu Pemikat dengan Si Mata Iblis ada satu urusan. Namun kakek yang kedua tangannya selalu dimasukkan ke dalam saku jubah hitamnya ini berlaku cerdik. Seraya melangkah ke arah Si Mata Iblis dia berkata.

"Urusan sesama golongan harap bisa ditunda. Kau mesti tahu, tidak ada yang lebih menggegerkan dibanding dengan tumbangnya pendekar-pendekar golongan putih. Hari ini lupakan dulu permusuhan. Kita bersama-sama menghadapi manusia-manusia yang selalu menjadi penghalang setiap langkah kita. Dan kau juga harap sadar, jika kita tidak bergabung, kau tentu tahu apa yang akan menimpa kita." terang Ki Banyu Getih pada Si Mata Iblis.

"Hmm... Ucapan orang ini ada benarnya juga. Tapi aku tidak mudah begitu saja turuti ucapannya. Aku akan bergabung tapi hanya untuk menghemat tenaga. Setelah itu. Ha ha ha... Mereka juga akan merasakan kematian."

Si Mata Iblis membatin dalam hati. Lalu berkata pada Ki Banyu Getih.

"Meski aku sanggup menghadapi mereka,
tapi mengingat kita masih satu golongan,
tidak ada salahnya aku turuti permintaanmu. Tapi setelah urusan ini selesai, jangan ikut campur masalahku dengan perempuan laknat sundal itu..." ujar Si Mata Iblis.

"Aku tidak bicarakan urusan Ratu Pemikat denganmu itu bisa kau selesaikan sendiri
nanti. Aku akan cuci tangan...," ujar Ki Banyu Getih lalu berkelebat ke arah di mana Datuk Belang tegak.

"Sobatku, Datuk Belang. Kau juga kuharap
mau bergabung dahulu. Urusan lain nanti kita bicarakan lagi. Bagaimana?" tanya Ki Banyu Getih pada Datuk Belang.

Karena menyadari siapa lawan yang dihadapi, tanpa pikir panjang Datuk Belang langsung setuju dengan tawaran Ki Banyu Getih. Ki Banyu Getih lantas berkata pada Ratu Pemikat.

"Ratu Pemikat... Harap lupakan dulu urusan dengan Si Mata Iblis..." ujar Ki Banyu Getih.

"Tidak... Kalau dia ikut bergabung, aku keluar tidak ikut-ikutan." teriak Ratu Pemikat sambil memandang tajam pada Si Mata Iblis.

"Hmm.... Kalau begitu baiklah. Silakan hadapi mereka sendlrian. Aku mau lihat" ucap Ki Banyu Getih.

Ucapan Ki Banyu Getih membuat Ratu Pemikat keluarkan gumaman tak jelas. Dia tampaknya tahu, bahwa tidak mungkin baginya berhadapan sendiri jika tidak Ingin mati konyol. Seakan dapat menangkap apa yang ada dalam benak Ratu Pemikat, Ki Banyu Getih tertawa pelan sambil berujar.

"Ratu Pemikat... Urusanmu dengan Si Mata Iblis bisa kau selesaikan setelah urusan
ini beres..." terang Ki Banyu Getih pada Ratu Pemikat.

Habis berkata begitu, Ki Banyu Getih melangkah ke arah Dewi Siluman. Bersamaan dengan itu mata masing-masing orang kini menatap lurus ke arah ilma pendekar-pendekar tua di depan sana. Pendekar Sinting seakan tidak peduli dengan munculnya beberapa orang di pulau itu. Dia sangat mengkhawatirkan keadaan Raras yang kini disandarkan pada satu batu padas. Pemuda Sinting ini lalu memeriksa tubuh gadis salah satu murid Dewi Siluman itu. Namun tangannya yang hendak salurkan tenaga dalam tiba-tiba terhenti tatkala matanya melihat penampakkan payudara yang putih dan bagus. Darah Pendekar Sinting sesaat sirap. Namun buru-buru dia alihkan pandangannya. Gadis yang matanya masih terpejam dan wajahnya tampak berubah kehitaman karena tersambar pukulan Dewi Siluman. Dari ikatan bungkusan di punggung Raras, Pendekar Sinting menemukan satu jubah berwarna merah muda. Dengan cepat Pemuda Sinting ini kenakan jubah merah muda pada Raras hingga dadanya sedikit tertutup.

"Tubuh gadis ini panas bukan main. Akan kucoba salurkan tenaga 'Inti Rogo Sukma Es'." ucap Sima.

Perlahan-lahan Pendekar Sinting putar tubuh Raras berbalik. Lalu dia kerahkan tenaga dalamnya pada kedua lengan. Kedua tangannya ditempelkan pada punggung Raras. Bersamaan itu hawa dingin menyeruak dan perlahan-lahan masuk kedalam tubuh Raras yang panas akibat pukulan 'Tengkorak Pencabut Sukma' yang dilepas gurunya sendiri. Beberapa saat berlalu. Tiba-tiba terdengar erangan halus dari mulut Raras. Pemuda Sinting ini tarik kedua tangannya. Lalu perlahan-lahan pula tubuh Raras diputar dan disandarkan kembali pada batu padas. Setelah mulutnya bergetar, akhirnya Raras membuka kelopak matanya. Kemudian sepasang mata gadis itu menyipit pandangi sosok pemuda di depannya. Mulutnya terbuka, namun belum ada suara yang terdengar.

"Jangan bicara dahulu. Aturlah napasmu...,"
bisik Sima sambil memandang tajam pada
gadis yang kini wajahnya berubah kehitaman.

"Terima kasih... Terima kasih kau telah menolongku." ucap Raras.

PENDEKAR SINTING ~Pendeta Sinting~

Sima letakkan telunjuk jarinya pada bibir Raras memberi isyarat agar gadis itu tidak teruskan bicara. Lalu jari-jari Sima menyeka darah yang masih tampak di sekitar mulut Raras. Gadis ini serasa melayang dan rasa sakit di sekujur tubuhnya laksana hilang. Seolah mendapat keberanian dan kekuatan baru, tangan Raras bergerak pelan memegang tangan Sima dan meremasnya, sementara tangan satunya diangkat dan memegang tangan Sima yang masih menyeka darah di mulutnya. Perlahan-lahan kelopak mata Raras meredup.

"Meski aku tahu gadis berbaju ungu itu
memikat hatimu, tapi aku sangat bahagia
sekali bisa mendapatkan hal seperti ini.
Hanya kenapa saat bahagia ini kurasakan
ketika keadaanku demikian? Yang Maha Kuasa, tolong berikan aku waktu untuk dapat mengecap rasa bahagia ini lebih lama... Aku berjanji, akan menyimpan kenangan ini di lubuk hatiku, akan kuingat selalu...," Raras berbisik dalam hati seraya terus meremas tangan Sima.

Tanpa sadar, Sima balas meremas. Namun
diam-diam dia berkata dalam hati.

"Dia mungkin akan merasa kecewa setelah
melihat perubahan pada wajahnya. Hem... Gadis malang. Tapi aku tidak akan melupakannya. Dia telah berkorban untukku." gumam Sima dalam hati.

Jari-jari tangan Sima kini mengelus wajah
Raras. Gadis ini gigit bibirnya. Dan perlahan-lahan air mata tampak menetes dari kelopak matanya. Bahunya berguncang.

"Kenapa kau lakukan semua ini?" bisik Sima sambil terus mengusap wajah Raras.

Air mata makin bertambah mengalir. Raras gelengkan kepalanya perlahan. Dan tangannya yang meremas tangan Sima diangkat lalu diletakkan di depan dadanya. Di seberang sana, Rasmini dan Ayu Lestari tampak perdengarkan dengusan keras melihat apa yang dilakukan Sima pada Raras. Sementara Puspita Sari alias Dewi Pencabut Nyawa tampak cemberut dan cemburu lalu palingkan kepala ke arah lain dengan raut wajah merah.

Saat itulah tiba-tiba satu bayangan hitam
berkelebat dan tahu-tahu telah tegak tujuh
langkah di samping Pendekar Sinting.

"Dewi Siluman..." desis Sima mengetahui siapa adanya orang yang tegak.

Raras buka kelopak matanya dan memandang ke arah Dewi Siluman.

"Pendekar Sinting. Biarlah dia kuhadapi...,"
bisik Raras.

Entah apa yang membuat Raras berkata begitu, yang jelas gadis ini merasa punya kekuatan baru serta keberanian luar biasa. Malah dalam hati dia telah bertekad berani mati demi Pendekar Sinting.

"Kau masih terluka. Biarlah dia kuhadapi.
Lagi pula aku punya urusan sendiri dengannya..." jawab Sima lalu lepaskan tangannya dari tangan Raras. Lalu berdiri tegak dengan mata tak berkedip memandang angker pada Dewi Siluman.

"Kali ini tidak cukup jika pedangku saja yang kau kembalikan. Kau juga harus merasakan seperti yang dialami gadis itu..." ujar murid Pendeta Sinting.

Dewi Siluman tertawa panjang.

"Ha ha ha ha... Jangan banyak bacot... Pendekar gombal. Hidup dan matimu serta gadis cantikmu itu ada di tanganku. Tapi aku masih punya pertimbangan. Serahkan Kitab Serat Kuning padaku, niscaya kau kubebaskan membawa bekas muridku itu ke mana kau suka." seru Dewi Siluman.

Pendekar Sinting balik tertawa.

"Hi hi hi. Ha ha ha. Tanpa pertimbanganmu, aku bebas membawanya kemana ku suka. Atau barangkali kau mau ikut serta? Namun harap buka dahulu penutup wajahmu, aku takut, jangan-jangan ucapan peramal tua tadi betul. Kau perempuan yang tak punya...." Sima tak meneruskan ucapannya.

"Pendekar Gombal, keparat..." maki Dewi Siluman keras.

Sosoknya segera berkelebat ke depan dengan kedua tangan bergerak lepaskan pukuian 'Tengkorak Pencabut Sukma'. Sima yang sudah waspada tak menunggu lagi. Begitu dari kedua tangan Dewi Siluman melesat kabut hitam, Sima kirimkan pukulan 'Aji Tapak Saketi'. Pukulan 'Aji Tapak Saketi' belum menggebrak, satu kekuatan aneh telah melesat mendahului.

Bummm !!!

Ledakan dahsyat menggelegar membuncah
tempat itu. Sosok Dewi Siluman terpental
satu tombak kebelakang. Akibat pukulan 'Tengkorak Pencabut Sukma' bentrok dengan kekuatan yang melesat mendahului pukulan sakti 'Aji Tapak Saketi'. Sepasang mata Dewi Siluman terbelalak, karena baru saja kakinya menjejak tanah, gelombang angin panas pukulan 'Aji Tapak Saketi' menggebrak Dewi Siluman tidak menunggu, kedua kakinya segera dihentakkan ke atas tanah. Dari sepasang matanya melesat sinar hitam yang langsung diarahkan pada pukulan yang kini mengarah padanya.

Jlegaarrrrrrr !!!

Gelombang panas ambyar bertabur sinar
hitam. Sosok Dewi Siluman terjengkang roboh. Di depannya Pemuda Sinting terhuyung lalu jatuh terduduk. Namun karena khawatir lawan hendak lepas kan pukulan lagi dengan menahan rasa nyeri di dada masing- masing, Dewi Siluman dan Pendekar Sinting segera sama-sama bergerak bangkit. Tiba-tiba Dewi Siluman cabut Pedang Perak Sakti dari balik jubahnya. Tangan kanannya menarik pedang dari sarungnya yang dipegang tangan kiri. Lalu tangan kirinya mencampakkan sarung pedang itu ke tanah. Sembari menyeringai ganas, Dewi Siluman segera melompat ke depan. Pedang Perak Sakti dibabatkan ke arah kepala Pendekar Sinting. Sinar kekuningan yang dikeluarkan hawa luar biasa panas segera menghampar bersamaan dengan membabatnya pedang. Maklum akan kehebatan pedang miliknya sendiri, Pemuda Sinting ini segera mundur satu langkah. Lalu sambil melompat dari arah samping kedua tangannya bergerak menggebrak ke arah tangan Dewi Siluman yang membabatkan pedang.

Dewi Siluman hentikan babatan pedangnya. Dan secepat kilat dia tarik kedua tangannya, sementara tubuhnya ditarik sedikit, hingga gebrakan tangan Sima menghantam tempat kosong. Saat kedua tangan Sima lewat, Dewi Siluman sentakkan tangan kanannya yang memegang pedang.

Breettt !!!

Pakaian Pemuda Sinting ini robek besar pada bagian samping lambung. Untung Pendekar Sinting cepat berkelit. Terlambat sedikit, bukan tidak mungkin perutnya akan ambrol terbabat Pedang Perak Sakti. Dewi Siluman tertawa pendek.

"Ha ha ha... Masih ada waktu untuk berpikir. Lekas serahkan Kitab Serat Kuning atau kepala dan perutmu akan ku buat jebol." ujar Dewi Siluman.

Raras tampak cemas melihat kejadian itu. Diam-diam dia bergumam.

"Perempuan ini penghalang kebahagiaan
ku. Kalau Pendekar Sinting tak bisa bertahan, rasanya aku tak bisa hidup sendirian. Lebih baik mati bersama daripada hidup merasa sendirian..." gumam Raras

Serentak Raras bergerak bangkit. Meski
masih terhuyung-huyung namun gadis ini kuatkan diri.

"Bagus... Ku turuti kehendak kalian yang ingin mampus bersama." teriak Dewi Siluman geram.

Saat itulah satu bayangan ungu berkelebat disusul dengan menderunya angin keras. Dewi Siluman cepat berpaling. Dewi Pencabut Nyawa kini tampak tegak lima jangkah di depannya.

"Kau...? Katakan apa maksudmu." tanya Dewi Siluman.

Dewi Pencabut Nyawa tidak menjawab. Mata gadis murid Si Mata Iblis ini memandang pada Raras lalu pada Pendekar Sinting. Raras balas memandang. Hingga kemudian kedua gadis ini sama bentrok pandangan.

"Dewi Pencabut Nyawa..." kata Sima.

"Harap kau tidak ikut campur. Dan harap jangan mengambil keuntungan dari keadaan..." sahut Raras karena masih menduga jika Dewi Pencabut Nyawa menginginkan Pedang Perak Sakti seperti yang pernah didengarnya saat Dewi Pencabut Nyawa bercakap-cakap dengan gurunya Si Mata Iblis beberapa waktu lalu di lereng bukit.

Mendengar ucapan Raras, Dewi Pencabut Nyawa yang telah dilanda rasa cemburu membuang muka sambil berkata keras.

"Jangan sembarangan berucap menuduh
orang. Sekali lagi kudengar ucapanmu yang bukan-bukan, aku tak segan menambah tamparan pada mulutmu..." sentak Dewi Pencabut Nyawa.

Habis berkata begitu, Dewi Pencabut Nyawa mundur agak menjauh. Tapi sepasang matanya tak hendak beranjak dari tubuh Raras. Sebaliknya Raras tak juga palingkan wajahnya dari menatap ke arah Dewi Pencabut Nyawa.

"Hmm... Tampaknya gadis-gadis ini iebih mementingkan urusan cinta. Dasar gadis
bodoh. Mereka kira cinta dapat membahagiakan hidup Hik... hik... hik.... Mereka tidak tahu, justru cinta adalah pangkal malapetaka dan sengsara."
ujar Dewi Siluman dalam hati.

Lalu memanfaatkan keadaan, perempuan bercadar dan berjubah hitam ini cepat meloncat ke arah Pendekar Sinting. Tangan kanannya kembali babatkan pedang, sementara tangan kirinya melepaskan pukulan mengarah pada kepala Pendekar Sinting yang diam-diam telah kerahkan tenaga dalam pada kedua lengan dan kedua tangannya segera menyambuti dengan angkat kedua tangannya.

Bukkk !!!

Buukkk !!!

Dewi Siluman terpekik keras. Tangan
kirinya yang beradu dengan tangan kanan
Pendekar Sinting mental balik ke belakang.
Sementara tangan kanannya yang memegang pedang dan baru saja bentrok dengan tangan kiri Sima tampak bergetar keras serta kejang kaku dan dingin tidak bisa digerakkan Hingga tatkala Dewi Siluman mundur, Pedang Perak Sakti terlepas dari tangannya. Pemuda Sinting yang baru saja lepaskan tenaga 'Inti Rogo Sukma Es' segera merangsek ke depan. Namun Dewi Siluman segera berkelebat menghadang dengan kaki menginjak Pedang Perak Sakti. Karena sudah telanjur merangsek, kedua tangan Sima segera pula berkelebat lepaskan pukulan. Dewi Siluman tak berani berlaku gegabah. Kedua kakinya cepat menghentak tanah. Saat itu juga dari sepasang matanya melesat dua sinar hitam.

PENDEKAR SINTING ~Pendeta Sinting~
Diubah oleh salim357
lanjut pendekar
kisanak tunggu pendekar xena sudah lama saya tidak bentrok hihihihehehe

Pendekar Sinting | Pendeta Sinting | Part 53

PENDEKAR SINTING ~Pendeta Sinting~

"Sinar Iblis..." seru Raras.

"Menyingkir..."

Tak ada kesempatan lagi bagi Pemuda Sinting ini untuk menghindar selamatkan diri. Hingga pada saat genting itu dia cepat alirkan tenaga dalamnya di telapak tangannya. Lalu seraya terus merangsek dia menghadang dengan lepaskan pukulan 'Aji Tapak Saketi'.

Dess !!!

Desss !!!

Baik Dewi Siluman maupun Pendekar Sinting tak dapat hindarkan diri dari pukulan lawan. Hingga saat terjadi bentrok pukulan, sosok masing-masing sama-sama terpelanting. Sima jatuh terkapar dengan pakaian hangus dan sebagian robek. Wajahnya pucat pasi dengan dada berdebar sakit. Meski pukulan 'Sinar Iblis' yang dilepas Dewi Siluman menghantam tubuhnya, namun karena Sima
telah melindungi diri dengan tenaga inti
'Rogo Sukma Es', maka tubuhnya tidak melepuh hangus, walau tak urung darah segar nampak keluar dari mulutnya pertanda dia terluka bagian dalam.

Sebaliknya Dewi Siluman sendiri telentang
di atas tanah berpasir dengan tubuh bergeletar dan mata memejam rapat. Dari bagian bawah cadar penutup wajahnya tampak darah menetes, pertanda dia juga terluka bagian dalam. Bahkan untuk beberapa lama perempuan bercadar dan berjubah hitam ini diam tidak bergerak-gerak. Saat itulah tiba-tiba bayangan ungu berkelebat dan menyambar Pedang Perak Sakti beserta sarungnya yang tergeletak di atas pasir.

* * * *

KITA kembali sejenak ke tempat agak jauh di sebelah kanan. Begitu Ratu Pemikat melihat Dewi Siluman berkelebat ke arah Pendekar Sinting yang coba salurkan hawa murni selamatkan Raras, perempuan cantik bertubuh bahenol ini yang urusannya pernah dihalangi oleh Sesat beberapa waktu yang lalu segera berkelebat ke arah kakek ini yang tetap berdiri tegak memunggungi. Melihat hal ini, Datuk Belang yang punya dendam dengan Nyi Kembang Malam segera pula melompat ke arah si nenek yang duduk mencangklong di atas gugusan batu padas. Si Mata Iblis tak tinggal diam. Dia cepat melesat ke depan dan tegak tiga langkah di hadapan Dewi Banyu Es. Ki Banyu Getih memandang sejenak pada Ki Lontar dan Si Peramal Gila. Dia seolah menimbang. Lalu sekejap kemudian dia telah berkelebat ke arah Ki Lontar. Si Tapak Beracun kemudian merasa kebingungan. Karena tinggal Si Peramal Gila yang masih tampak belum ada yang menghadapi, akhirnya laki-laki setengah baya ini merangsek ke arah Si Peramal Gila yang masih telentang menindih tubuh Janggala.

Karena jarak yang paling dekat adalah antara Si Tapak Beracun dan Si Peramal Gila, maka laki-laki setengah baya ini sekejap saja sudah tepat berada di hadapan Si Peramal Gila, Dan tanpa menunggu lama dia segera lepaskan satu tendangan dengan pengerahan tenaga dalam tinggi. Gelombang angin terdengar menderu keras mendahului tendangan yang dilepas Si Tapak Beracun. Si Peramal Gila kucek-kucek matanya, lalu berguling ke samping kanan. Tendangan maut Si Tapak Beracun sejengkal lewat di samping tubuhnya, membuat Si Tapak Beracun menggeram. Dia putar tubuhnya sekali. Lalu maju selangkah dan serta-merta tangan kanannya berkelebat menghantam ke arah sosok Si Peramal Gila yang telah kembali menindih sosok Janggala.

"Mampus kau...," teriak Si Tapak Beracun.

Saat melihat Si Peramal Gila tidak membuat gerakan meski telah lepaskan satu pukulan ke arahnya.Namun sejengkal lagi tangan kanan Si Tapak Beracun menghantam batok kepala Si Peramal Gila, kakek berjubah hijau ini gerakkan kaki kanannya sambil berguling.

Settt !!!

Si Tapak Beracun terkesiap. Kaki kanannya terdorong deras ke belakang hingga tubuhnya melipat ke depan. Namun Si Tapak Beracun tak hendak urungkan tangan kanannya yang menghantam.

Buukkk !!!

Terdengar seruan tertahan keras. Bukan dari mulut Si Peramal Gila melainkan dari mulut Janggala yang terkena hantaman tangan Si Tapak Beracun. Bukan hanya sampai di situ, saat tubuh Si Tapak Beracun melipat ke depan, Si Peramal Gila angkat kaki kanannya dan di tendang pada pantat Si Tapak Beracun. Si Tapak Beracun terjerembab menelungkup di atas tubuh Janggala dengan deras, membuat Janggala kembali berseru seraya memaki tak karuan.

“Keparat... Kau memukul dan menindihku." teriak Janggala lalu gerakkan kedua tangannya memukul ke atas, di mana saat itu sosok Si Tapak Beracun berada di atasnya.

Bukk !!!

Bukkk !!!

Mendapati dirinya dihantam dari bawah, Si Tapak Beracun tak tinggal diam, kedua tangannya yang tertindih tubuhnya segera ditarik keluar lalu dihantamkan ke arah punggung Janggala.

Bukkk !!!

Bukkk !!!

Janggala menggeram marah. Dia kembali hendak menghantam pukulan ke atas, sementara si Tapak Beracun yang tahu hendak dihantam kembali hantamkan kedua tangannya. Ketika kedua pasang tangan itu sama-sama hendak menggebuk, tiba-tiba si Peramal Gila jejakkan tangan dan kakinya ke tanah berpasir. Tubuhnya membal ke udara lalu bergerak ke samping ke arah si Tapak Beracun dan Janggala.

Brukkk !!!

Terdengar dua seruan keras berbarengan. Sosok Si Peramal Gila kini telentang menindih tubuh Si Tapak Beracun dan Janggala. Janggala sama-sama tercekat. Karena tindihan si Peramal Gila dengan pengerahan tenaga dalam, maka kedua orang di bawah tubuh si Peramal Gila hanya bisa gerak-gerakkan tangan tanpa bisa gerakkan tubuh.

"Ha...ha... ha... Rasanya enak juga berkasur
manusia." kata si Peramal Gila sambil tertawa terkekeh-kekeh hingga tubuhnya berguncang-guncang, membuat dua orang di bawahnya menyumpah tak karuan.

"Setan alas...," teriak Si Tapak Beracun lalu hantamkan sikunya ke arah tubuh Si Peramal Gila.

Dukkk !!!

Sosok Si Peramal Gila bergoyang-goyang. Namun sekejap kemudian Si Peramal Gila bergerak bangkit. Mengelus-elus jenggotnya lalu kaki kanannya menjulur kebelakang dan bergerak menendang kaki Si Tapak Beracun.

Desss !!!

Karena tendangan itu bukan tendangan
biasa, maka saat itu juga sosok Si Tapak Beracun tampak berputar-putar di atas tubuh Janggala laksana baling-baling. Saat itulah Janggala sentakkan kedua tangannya ke atas tanah. Tubuhnya melonjak ke atas, membuat tubuh Si Tapak Beracun ikut membumbung ke udara. Kesempatan itu tidak dilewatkan oleh Janggala. Dia segera balikkan tubuh. Ketika sosok Si Tapak Beracun yang tetap berputar melayang turun, Janggala yang sudah merasa geram cepat rentangkan kedua tangannya, sementara kakinya ditekuk sedikit ke atas.
Saat setengah lagi tubuh si Tapak Beracun menghempas tubuhnya, Janggala angkat kedua tangan dan kakinya.

Prakkk !!!

Desss !!!

PENDEKAR SINTING ~Pendeta Sinting~

Si Tapak Beracun menjerit keras. Tubuhnya
kembali membumbung ke udara, lalu melayang jatuh dengan kepala retak dan nyawa melayang. Janggala menyeringai lalu cepat bergerak bangkit. Menatap sesaat pada mayat si Tapak Beracun lalu berpaling pada si Peramal Gila. Untuk beberapa saat Janggala tampak ragu-ragu. Dari beberapa kali bentrok, tampaknya Janggala memahami, bahwa ilmu kepandaiannya masih berada di bawah Si Peramal Gila. Namun hawa amarah tampaknya lebih menguasai dirinya. Hingga didahului bentakan keras, pemuda ini melesat
ke depan seraya lepaskan pukulan 'Bayu Api Jagat'. Namun baru saja dari kedua tangannya yang mengepal keluarkan cahaya terang, beberapa pantulan cahaya telah melesat hingga kedua tangan Janggala terpental ke belakang. Janggala cepat melompat mundur, lalu secepat itu pula kedua tangannya diangkat. Namun belum sampai kedua tangannya bergerak lepaskan pukulan, kembali beberapa pantulan cahaya menggebrak, malah kali ini disertai menderunya angin keras. Karena saat itu Janggala sedang siapkan pukulan 'Bayu Api Jagat', hingga dia tidak kuasa membendung gebrakan angin yang mengarah padanya.

Desss !!!

Deesss !!!

Sosok Janggala mencelat dan terjengkang di
atas tanah berpasir dengan mulut keluarkan darah. Entah karena merasa khawatir si Peramal Gila hendak menyerang kembali, Janggala cepat bergerak bangkit meski sekujur tubuhnya merasa luluh lantak.

"Kau...,"

"Kau..., Adalah manusia pertama yang kelak akan ku cari..." ujar Janggala dengan memandang tajam pada si Peramal Gila yang tegak sepuluh langkah di hadapannya.

Habis berkata begitu, Janggala terhuyung-huyung balikkan tubuh lalu berkelebat ke arah pinggir pulau. Si Peramal Gila tertawa mengekeh, lalu melangkah ke arah satu gugusan batu padas dan duduk bersandar dengan mata memejam.

Di sebelah samping, tiba-tiba terdengar letupan. Lalu tampak kepingan batu padas bertabur ke udara. Disusul bentakan keras yang ternyata keluar dari mulut Datuk Belang karena sosok Nyi Kembang Malam yang duduk mencangklong di atas batu padas tiba-tiba berkelebat lenyap hingga hantaman tangan Datuk Belang melabrak batu padas yang tadi diduduki Nyi Kembang Malam. Datuk Belang kertakkan rahang. Lalu berpaling ke samping kanan. Tangan kanannya menyibak rambutnya yang terurai ke wajahnya. Sepasang matanya mendelik angker menatap pada Nyi Kembang Malam yang kini tegak dengan kacak pinggang dan mulut bergerak-gerak mainkan gumpalan sirih.

"Terimalah kematianmu..." teriak Datuk Belang.

Lalu laksana terbang kakek berwajah belang ini melesat ke arah Nyi Kembang Malam. Kedua tangannya mengembang lalu menghentak ke depan lepaskan pukulan. 'Guntur Bumi'.

Wuuttt !!!

Wuuutttt !!!

Sesaat suasana berubah hitam. Lalu
terdengar deru keras disertai menggebraknya hamparan angin deras berhawa panas. Nyi Kembang Malam dongakkan kepala. Gumpalan sirih di mulutnya tampak keluar mencuat, namun sekejap kemudian tertarik dan masuk lagi ke mulutnya. Bersamaan itu kedua tangannya mendorong ke depan lalu disentakkan ke bawah. Gebrakan gelombang angin yang keluar dari kedua tangan Datuk Belang tertahan di udara, lalu bersamaan dengan menyentaknya tangan Nyi Kembang Malam ke bawah, gebrakan angin itu menukik deras menghantam tanah berpasir.

Bummm !!!

Tanah berpasir berwarna biru berhambur
ke udara. Lalu tampak lobang besar menganga karena akibat pukulan Datuk Belang yang berbelok menukik. Meski tidak langsung bentrok pukulan, namun sosok Datuk Belang tampak tersurut lima langkah dengan wajah makin mengehitam. Dadanya berdenyut nyeri sementara kedua tangannya bergetar. Sebenarnya nyali Datuk Belang sudah pupus tatkala mengetahui pukulan andalannya begitu mudah dipangkas oleh Nyi Kembang Malam. Namun berpikir Nyi Kembang Malam tidak akan membiarkannya pergi, membuat Datuk Belang nekad. Sepasang kaki Datuk Belang segera menjejak tanah. Tubuhnya membumbung ke udara, di atas kakek berwajah Belang ini membuat gerakan telentang dan berputar- putar. Lalu melesat ke depan sambil kirimkan pukulan 'Guntur Bumi' untuk kedua kalinya Nyi Kembang Malam komat-kamitkan mulut. Tiba-tiba nenek ini putar tubuh dan sekejap lain tubuhnya membal tinggi ke udara satu tombak di atas tubuh Datuk Belang, membuat pukulan Datuk Belang menghantam tempat kosong. Dan begitu melihat sosok Nyi Kembang Malam melayang di atas tubuhnya, Datuk Belang tersentak kaget. Takut Nyi Kembang Malam lepaskan pukulan, Datuk Belang segera bergerak mendahului lepaskan pukulan dengan sentakkah kedua tangannya ke atas.

Namun bersamaan dengan itu, kedua tangan Nyi Kembang Malam menyentak ke bawah. Hingga gelombang angin yang melesat dari kedua tangan Datuk Belang tertahan malah kini berbalik menggebrak ke arah si kakek. Tidak ada waktu lagi bagi Datuk Belang untuk menangkis atau menghindar dari pukulannya sendiri yang membalik, hingga saat itu juga Datuk Belang Cumiik keras terhantam pukulannya sendiri. Sosoknya lebih keras berputar lalu melayang jatuh bergedebukan di atas tanah berpasir dengan mulut dan hidung keluarkan darah. Untuk sesaat kakek berwajah belang ini mengerang, namun sekejap suara erangannya terputus. Tubuhnya mengejang sejenak sebelum akhirnya diam kaku tak bernyawa lagi.

Nyi Kembang Malam melayang turun sambil usap-usap jubah kuningnya di bagian bahu yang tampak hangus. Memandang sejenak pada soso Datuk Belang yang sudah tidak bernyawa, lalu melangkah ke arah batu padas di mana si Peramal Gila duduk bersandar. Sekejap lain nenek berambut putih sebatas tengkuk ini telah duduk mencangklong di atas batu sandaran si Peramal Gila. Saat Datuk Belang berkelebat menggebrak ke arah Nyi Kembang Malam, di sebelah samping, Ratu Pemikat telah pula melesat dan langsung lepaskan jotosan tangan kiri kanan ke arah belakang kepala Sesat Tua. Kakek tua ini tengadah sedikit, mulutnya dibuka lebar-lebar. Karena dia tegak memunggungi, begitu sejengkal lagi kedua jotosan Ratu Pemikat menggebrak kepalanya, Sesat Tua lipat tubuhnya ke depan, hingga jotosan Ratu Pemikat hanya menghantam angin di atas kepala Sesat Tua yang telah menghindar. Malah karena Sesat Tua melipat tubuhnya ke depan, membuat pantatnya mencuat menungging. Hingga karena Ratu Pemikat tidak menduga, maka tak ampun lagi pantat Sesat Tua menumbuk deras perut Ratu Pemikat.

Buukkk !!!

Sosok Ratu Pemikat mental ke belakang.
Namun sebelum tubuhnya menjejak tanah,
Ratu Pemikat telah kerahkan tenaga dalam,
lalu melesat kembali ke depan dengan mengambil posisi agak ke samping. Setengah tombak lagi sampai, Ratu Pemikat putar tubuh, lalu disertai bentakan keras kaki kanannya membuat gerakan menendang sosok Sesat Tua yang masih menunggingi. Tapi bersamaan dengan melesatnya kaki Ratu Pemikat menendang, tiba-tiba Sesat Tua tarik tubuhnya lalu cepat tubuhnya bergerak rebah ke bawah rata dengan tanah. Melihat hal ini, Ratu Pemikat cepat tarik kakinya, namun secepat itu pula kakinya dihentakkan ke bawah menggebrak ke arah sosok Sesat Tua. Tapi perempuan cantik bertubuh bahenol ini melengak kaget. Karena bersamaan dengan itu kaki Sesat Tua bergerak menyapu ke arah sebelah kaki Ratu Pemikat yang digunakan sebagai tumpuan tubuhnya.

Desss !!!

Tubuh Ratu Pemikat terhuyung ke depan
sebelum akhirnya jatuh telengkup di atas
tubuh Sesat Tua.

"Sial... Seandainya aku telentang, tentu kenikmatannya akan bertambah." ujar Sesat Tua.

Di seberang terdengar suara orang tertawa
mengekeh panjang.

"Hik... Hik...hik... Perutku sakit, menahan tawa."

"Hei… Kau tertawa sendirian. Ada apa? Katakan apa yang kau lihat." Si Peramal Gila berucap saat mendengar Nyi Kembang Malam yang duduk mencangklong di atasnya tertawa terpingkal-pingkal.

"Mau-maunya perempuan cantik itu menindih tubuh bau Sabakti Hik... hik... hik... Apa dikira tubuh tua bangka itu masih menjanjikan kehangatan?” seloroh Nyi Kembang Malam.

"Jadi...?" sahut Si Peramal Gila.

"Gadis bahenol berbaju merah muda itu saling tindih dengan saudaramu Sabakti. Malah sempat menciumi punggungnya Hik... hik... hik..." terang Nyi Kembang pada Si Peramal Gila.

PENDEKAR SINTING ~Pendeta Sinting~
Diubah oleh salim357
pendekar sinting, salam
Mantapp.. Lanjutkan gan
Quote:


"Hi hi hi... Ha ha ha. Salam Tuan Pendekar astalavista."
emoticon-Toast
Quote:


"Baik.., tuan pendekar."
emoticon-Hammer2

Pendekar Sinting | Pendeta Sinting | Part 54

PENDEKAR SINTING ~Pendeta Sinting~

"Walah..., mimpi apa dia tadi malam hingga
hari ini mendapat rezeki besar. Sampai-sampai punggungnya di ciumi gadis cantik. Sekarang katakan padaku apa lagi yang dilakukan gadis cantik itu." tanya Si Peramal Gila.

"Dia mengelus-elus leher Sabakti Hik...hik.. hik...?" jawab Nyi Kembang Malam.

"Apa? Mengelus lehernya?" ulang si Peramal Gila sambil geleng-geleng kepala.

"Dunia ini yang sudah gila atau orang-orang itu yang gila-gilaan? Beraninya mereka bermesra-mesraan di hadapan orang ramai...." seloroh Si Peramal Gila.

Ratu Pemikat menggereng marah. Dia cepat tarik kepalanya dari punggung Sesat Tua. Lalu tubuhnya ditarik ke depan dan kini menduduki pantat Sesat Tua. Sekejap lain kedua tangannya bergerak menghantam ke arah kepala si kakek. Nyi Kembang Malam tiba-tiba putuskan tawanya, sepasang matanya yang sipit perhatikan ke arah Ratu Pemikat tak berkedip. Sementara Ratu Pemikat menyeringai seraya teruskan hantamannya. Dia yakin kali ini Sesat Tua tidak akan bisa lolos dari hantaman tangannya, karena tubuhnya tertindih tak bisa bergerak. Namun saat kedua tangan Ratu Pemikat sejengkal lagi menghantam kepala si kakek, tiba-tiba kedua kaki Sesat Tua bergerak terangkat ke belakang.

Buukkk !!!

Buukkk !!!

Punggung Ratu Pemikat tertumbuk kedua
kaki Sesat Tua, hingga bukan hanya
membuat hantaman tangannya melenceng
menghantam tangan di samping kepala si
kakek, lebih dari itu kembali tubuhnya jatuh telungkup di atas tubuh Sesat Tua Nyi Kembang Malam angkat tangannya menutupi mulutnya, namun tak urung suara tawa cekikikannya masih terdengar keluar. Ratu Pemikat sudah tidak dapat lagi membendung marah. Tanpa menarik lagi kepalanya dari punggung Sesat Tua, kedua tangannya yang berada di sebelah kepala si kakek segera bergerak menghantam. Saat itulah mendadak sepasang kaki Sesat Tua menekuk ke atas. Lalu....

Wuttt !!!

Pantat Sesat Tua bergerak mencuat ke atas. Sosok Ratu Pemikat terpental ke depan. Untung perempuan ini cepat dapat kuasai tubuh, hingga walau sejenak tampak terhuyung, namun kejap lain telah tegak. Dengan wajah merah mengelam, Ratu Pemikat putar tubuh. Di depannya, Sesat Tua bergerak bangkit, namun sekarang kemudian dia berbalik dan memunggungi Ratu Pemikat dengan mulut dibuka lebar- lebar. Malah sesaat kemudian tangan kanannya meraba punggungnya.

"Ah, hangatnya masih terasa... Ha ha ha ha." gumam Sesat Tua lalu tertawa terbahak.

Dia memandang sejenak pada si Peramal Gila dan berkata.

"Darsana... Tidakkah kau ingin
menikmatinya juga? Dadanya hangat, aromanya harum...." ujar Sesat Tua pada si Peramal Gila.

"Sialan kau Sabakti, ucapanmu membuat jantungku berdebar-debar..." sahut si Peramal Gila.

"Jahanam...," maki Ratu Pemikat dengan mata mendelik.

"Hei... Kalian ini sedang bermesraan atau
apa? Satunya mengatakan kenikmatan, tapi
satunya lagi memaki tak karuan. Heran aku..." ujar Si Peramal Gila sambil mengelus-elus jenggotnya.

"Ah, kau juga pura-pura tak tahu. Perempuan biasanya kan begitu. Memaki-maki tapi sebenarnya hatinya mau.... Hik... hik... hik..." Yang menyahut adalah Nyi Kembang Malam.

"Kalian semua tua-tua bangka busuk..." teriak Ratu Pemikat. Lalu angkat kedua tangannya dan lepaskan pukulan sakti 'Guntur Buana'. Sinar terang biru melesat mengembang lalu menyungkup tempat itu. Gelombang angin deras berkiblat. Sesat Tua maju satu tindak ke depan. Lalu kedua tangannya menyentak ke belakang.

Wusss !!!

Wuusss !!!

Dari kedua tangan Sesat Tua melesat dua bola asap sebesar roda kereta keluarkan suara berderak-derak laksana roda kereta melaju di atas pasir. Saat sinar terang biru hampir bentrok dengan dua bola asap, tiba-tiba bola asap Itu mengembang besar. Sekejap lain, laksana punya kekuatan sedot luar biasa, sinar biru terang pukulan andalan Ratu Pemikat masuk lenyap ke dalam dua bola asap. Pada saat bersamaan, terdengar ledakan hebat. Bola asap ambyar bertabur ke udara pancarkan warna putih dan biru. Sosok Ratu Pemikat terpelanting ke belakang dan jatuh berlutut dengan mata terpejam dan mulut keluarkan darah. Wajahnya berubah pucat pasi. Di sebelah depan Sesat Tua terdorong ke muka sampai tiga langkah. Terhuyung sejenak namun saat lain dia telah memandang Ratu Pemikat dari sela kedua kakinya dengan tubuh melipat ke depan dan pantat menungging.

Ratu Pemikat terhuyung bangkit. Kerahkan tenaga dalam, lalu kembali melesat ke arah Sesat Tua. Namun baru saja kedua tangannya hendak bergerak lepaskan pukulan, tiba-tiba perempuan ini rasakan tubuhnya terlanggar gelombang angin dahsyat, hingga sosoknya mental balik dan terjengkang roboh di atas tanah berpasir. Belum sempat dia bangkit, tampak dua bola asap menggelinding deras ke arahnya. Meski sudah terluka, namun perempuan cantik ini tidak mau pasrah. Dia segera gulingkan tubuhnya ke samping kanan. Meski tubuhnya selamat dari derakan bola asap yang keluar dari tangan Sesat Tua, namun.tak urung kaki kirinya sempat terlonggar, hingga sambil terus bergulingan dia menjerit dan tarik kaki kirinya menekuk di depan dada. Begitu gulingan tubuhnya berhenti, perempuan ini perlahan-lahan bangkit. Wajahnya sudah pucat pasi. Pakaian yang dikenakan berubah menghitam.

"Aku bisa celaka sendiri jika meneruskan pertarungan ini...," desisnya sambil melirik kanan kiri. Begitu dilihatnya Sesat Tua tak juga membuat gerakan lagi, Ratu Pemikat cepat putar tubuh lalu berlari menuju pinggir pulau.

Sesat Tua hanya memandang dari sela kedua kakinya lalu tertawa terkekeh-kekeh dan terus buka mulutnya meski suara tawanya telah tidak terdengar lagi.

* * * *

SI Mata Iblis yang tidak mengenal siapa adanya Dewi Banyu Es tampaknya hanya memandang sebelah mata. Hingga tatkala dia lepaskan tendangan ke arah Dewi Banyu Es yang duduk bersila di hadapannya, dia hanya andalkan tenaga luar. Namun demikian sebelum tendangan itu sendiri menghantam sasaran kepala Dewi Banyu Es, gelombang angin menderu keras hingga curahan air yang tampak mengguyur dari atas tubuh Dewi Banyu Es menyibak. Tapi setengah jalan tendangan kaki Si Mata Iblis yang mengarah pada kepala Dewi Banyu Es, mendadak perempuan berjubah putih yang tubuhnya selalu tampak diguyur air ini angkat kepalanya dengan kelopak membuka. Tangan kirinya diangkat sejajar bahu lalu didorong pelan ke depan. Udara tiba-tiba berubah dingin. Lalu Si Mata Iblis rasakan kakinya kejang beku. Sadar akan bahaya, cepat Si Mata Iblis tarik kakinya. Namun tak urung juga kakek bermata merah ini terlengak kaget. Karena saat itu juga gelombang angin dingin menyambar hingga tubuhnya tersurut dua langkah ke belakang. Hal ini menyadarkan Si Mata Iblis jika lawan yang dihadapi tidak bisa dipandang enteng. Sambil mendelik besar, Si Mata Iblis kembali melangkah maju. Kedua tangannya diangkat tinggi-tinggi. Dengan kerahkan separo tenaga dalamnya, guru Dewi Pencabut Nyawa ini ayunkan kedua tangannya lepaskan hantaman. Untuk kedua kalinya Dewi Banyu Es hanya angkat tangan kirinya sejajar bahu. lalu didorong agak ke atas. Kedua tangan Si Mata Iblis terpental balik ke belakang. Untung kakek bermata merah ini cepat kerahkan tenaga murni pada kedua tangannya, jika tidak niscaya kedua tangannya akan kejang beku Karena ketika Si Mata Iblis meneliti, ternyata kedua tangannya tampak dibungkus oleh gumpalan-gumpalan es.

"baik, jahanam..." maki Si Mata Iblis marah karena merasa disepelekan. Kakek ini kerahkan segenap tenaga yang dimiliki.

PENDEKAR SINTING ~Pendeta Sinting~

Di dahului bentakan keras, ia melompat ke depan dengan tangan kiri kanan mengayun deras. Sosok Dewi Banyu Es terlihat bergoyang akibat bias tenaga dalam yang menyertai ayunan kedua tangan Si Mata Iblis, membuat Si Mata Iblis percaya diri, dan teruskan ayunan kedua tangannya yang mengarah pada kepala Dewi Banyu Es. Sejengkal lagi kedua tangan Si Mata Iblis menggebrak pecah kepala Dewi Banyu Es, perempuan ini angkat kedua tangannya sekaligus.

Desss !!!

Desss !!!

Si Mata Iblis berseru keras. Kali ini bukan hanya kedua tangannya yang baru saja bentrok dengan kedua tangan Dewi Banyu Es yang mencelat mental namun tubuhnya ikut tersapu mundur dan kalau saja dia tidak cepat bisa kuasai diri, niscaya tubuhnya akan terjengkang roboh di atas tanah berpasir. Si Mata Iblis sudah kehabisan akal, hingga jalan satu-satunya adalah langsung lepaskan pukulan andalan. Kakek ini sejenak pandangi Dewi Banyu Es. Lantas maju tiga tindak. Tubuhnya tiba-tiba bergetar. Sekejap lain kedua tangannya bergerak menghantam.

Wuuttt !!!

Wuuttt !!!

Dari tangan kiri Si Mata Iblis membersit sinar hitam, sedang dari tangan kanannya melesat sinar berwarna-warni. si Mata Iblis sekaligus telah lepaskan dua pukulan andalan. Tangan kiri kirimkan pukulan 'Gelombang Kematian' sedang tangan kanan lepaskan pukulan sakti 'Iblis Pencabut Nyawa' Hingga seketika itu pula, terdengar deru gelombang angin dahsyat yang ditingkahi dengan muncratnya bunga-bunga api hamparkan hawa luar biasa panas. Dewi Banyu Es pejamkan kembali kelopak matanya. Lalu keduatangannya disentakkan keras ke depan. Dari tangan perempuan ini tampak muncratan air disusul dengan melanggarnya gelombang angin dingin. Terdengar letupan beberapa kali tatkala bunga-bunga api pecah dan meredup. Sesaat kemudian terdengar ledakan keras ketika dua gelombang angin beradu di udara. Sosok Si Mata Iblis tersapu dan mencelat lalu jatuh terkapar dengan napas megap-megap dan tubuh bergetar.

Sementara dari mulutnya mengalir darah segar akibat bentrokan tadi, kakek bermata merah ini telah mengalami luka cukup parah di bagian dalam. Sementara Dewi Banyu Es sendiri tampak terseret ke belakang dan baru terhenti tatkala punggungnya menumbuk satu gugusan batu padas. Namun perempuan ini tidak mengalami cedera sama sekali, malah perlahan-lahan dia bergerak bangkit. Si Mata Iblis bergerak bangkit sambil mengusap mulutnya yang keluarkan darah. Diam-diam nyali kakek ini telah menciut, apalagi ketika matanya menangkap sosok Ratu Pemikat yang melarikan diri dan melihat si Tapak Beracun yang telah jadi mayat. Dia berpaling ke belakang. Dia jadi terkesiap tatkala melihat Dewi Pencabut Nyawa tidak ada lagi di tempatnya. Sebenarnya Si Mata Iblis sudah punya niat untuk meninggalkan pulau melarikan diri, namun karena Dewi Pencabut Nyawa tampak berada jauh ke depan, membuat kakek ini tampak kebingungan bercampur jengkel, karena muridnya tidak turuti apa yang dikatakannya. Selagi Si Mata Iblis dilanda kebimbangan, tiba-tiba terdengar satu suara.

"Boleh leluasa tinggalkan pulau, tapi tinggalkan dulu pakaian yang melekat. Hik...hik... hik..."

"Benar... Celananya tampak bagus, aku menginginkannya" sahut suara lain.

Ternyata yang keluarkan suara adalah Nyi Kembang Malam dan Sesat Tua.

"Ah, karena pakaiannya mungkin tak cukup untukku, aku menginginkan matanya saja. Bagus merah menyala, tapi lumayan." ujar Si Peramal Gila. Lalu tertawa berkekeh.

"Jahanam... Mereka pasti tak akan membiarkan orang lolos. Apa boleh buat, daripada menanggung malu lebih baik mampus bersama." ujar Si Mata Iblis.

Untuk kedua kalinya, kakek bermata merah ini melompat ke depan. Dari jarak tujuh langkah, dia lepaskan pukulan sakti 'Iblis Pencabut Nyawa'. Dewi Banyu Es angkat kedua tangannya ke atas kepala. Bunga-bunga api yang melesat tertahan di udara, membuat Si Mata Iblis tersentak. Dia buru-buru hendak menyingkir, namun sebelum tubuhnya berkelebat selamatkan diri, Dewi Banyu Es telah dorong kedua tangannya ke depan. Bunga-bunga api berbalik dan kini makin kencang melesat ke arah Si Mata Iblis. Karena tenaganya telah terkuras, dan lebih-lebih lagi dirinya telah terluka, meski Si Mata Iblis masih sempat angkat tangannya namun bunga-bunga api telah menggebrak lebih dulu Si Mata Iblis perdengarkan pekikan tinggi. Tubuhnya terhuyung dengan jubah dan sebagian anggota tubuh berlobang-lobang terkena hamburan bunga-bunga api. Dari tiap lobang anggota tubuhnya keluar darah kehitaman. Sementara dari mulut makin banyak lagi darah yang mengalir.

'Kalian... Kalian semua....,"

Hanya itu ucapan yang terdengar dari mulut Si Mata Iblis. Bersamaan itu sosoknya tumbang di atas tanah tewas seketika.

***

Ki Banyu Getih tampak terkejut tatkala mengetahui Si Tapak Beracun, Datuk Belang serta Si Mata Iblis menggeletak tewas. Apalagi tatkala memandang ke arah lain agak jauh terlihat Dewi Siluman terkapar di atas tanah berpasir. Gemuruh kemarahannya naik ke ubun-ubun. Namun diam-diam hatinya mulai dirasuki rasa gentar, apalagi saat dia sudah tidak lagi menangkap sosok Ratu Pemikat hingga meski sepasang matanya memandang tajam ke arah Ki Lontar yang tegak di depannya, tapi dia juga mencuri kesempatan untuk edarkan pandangannya berkeliling. Hai ini membuat kakek berjubah hitam ini mulai melupakan tujuannya yang hendak memburu Kitab Serat Kuning. Yang terpikir dalam benaknya sekarang adalah bagaimana selamatkan diri setidak-tidaknya bisa lolos dari pulau dengan nyawa masih utuh. Rupanya apa yang di dalam otak Ki Banyu Getih dapat ditangkap oleh Sesat Tua. Hingga sambil melangkah mondar-mandir dia berkata.

"Hidup dan mati memang sudah ditentukan. Tapi mumpung masih ada kesempatan, harap gunakan otak biar tidak salah jalan. Karena sekali kaki salah bergerak, nyawa akan berpindah letak..." ujar Sesat Tua.

"Jahanam... Apa dikira mereka bisa seenaknya memindah nyawa orang." desis Ki Banyu Getih. Lalu tanpa pedulikan lagi keadaan sekitar, kakek ini melompat ke arah Ki Lontar.

Kedua tangannya serentak keluar dari saku jubahnya dan sekonyong-konyong berkelebat menghantam ke arah dada Ki Lontar. Ki Lontar lintangkan kedua tangannya di depan dada. Lalu diangkat ke atas.

Desss !!!

Desss !!!

Dua pasang tangan bertenaga dalam tinggi
bentrok. Sosok Ki Banyu Getih tetap tegak, namun wajahnya tampak berubah sementara kedua tangannya yang baru saja beradu dengan tangan Ki Lontar tampak berubah memerah dan bergetar. Ki Lontar sendiri tubuhnya bergoyang lalu kibas-kibaskan tangannya dengan raut meringis menahan sakit.

"Aku tak bisa lama-lama. Kulihat Dewi Siluman pun butuh pertolongan..." gumam Ki Banyu Getih dalam hati.

Lalu melangkah mundur dua langkah. Sekejap lain tangannya telah kembali bergerak dan kini langsung lepaskan pukulan 'Tengkorak Pencabut Nyawa'. Ki Lontar tidak berani bertindak sembrono, karena kali ini pukulan 'Tengkorak Pencabut Nyawa' dilepaskan sendiri oleh dedengkotnya. Hingga tatkala kabut hitam telah melabrak, dia lorotkan sedikit tubuhnya. Kedua tangannya disentakkan ke depan.

Wuttt !!!

Wuuttt !!!

PENDEKAR SINTING ~Pendeta Sinting~
Diubah oleh salim357

Pendekar Sinting | Pendeta Sinting | Part 55

PENDEKAR SINTING ~Pendeta Sinting~

Gelombang angin dahsyat menggelegar tanpa
terlebih dahulu perdengarkan deruan. Meski kabut hitam dan gelombang angin sempat beradu di udara, anehnya tidak terdengar ledakan, malah seolah tanpa penghalang sama sekail, baik kabut hitam pukulan Ki Banyu Getih maupun gelombang angin pukulan Ki Lontar terus melesat ke arah lawan masing-masing. Dua orang ini sama-sama tersentak kaget. Namun mereka berdua sudah demikian terlambat untuk menghindar, hingga tanpa ampun lagi keduanya sama-sama tersapu pukulan lawan. Sosok Ki Banyu Getih melenting deras ke belakang lalu jatuh terkapar dengan mulut keluarkan darah. Di pihak lain, sosok Ki Lontar tampak terbuang kebelakang dan bergedebukan menghantam batu padas hingga pecah berkeping-keping. Dari mulutnya juga terlihat darah mengalir. Melihat hal ini Ki Banyu Getih tampaknya mulai berpikir lagi tentang keselamatannya. Karena seandainya dia mampu mengatasi Ki Lontar, maka tidak mungkin lagi baginya menghadapi Nyi Kembang Malam atau Sesat Tua. Apalagi Ki Banyu Getih telah tahu sampai di mana ketinggian ilmu dua orang tadi. Belum lagi. Jika ditambah dengan Si Peramal Gila dan Dewi Banyu Es. Memikir sampai di situ, Ki Banyu Getih segera bangkit, lalu lemparkan sesuatu ke udara. Sekejap lain di atas udara tampak kepulan asap hitam

* * * *

GADIS berbaju ungu itu tegak dengan
tangan kanan menggenggam Pedang Perak Sakti sementara tangan kiri memegang sarung pedang. Namun belum sempat tubuhnya bergerak lagi, satu bayangan merah muda berkelebat dan tahu-tahu telah tegak dengan sikap menghadang.

"Jangan berani bergerak dari tempatmu. Dan serahkan pedang itu padaku..." bentak perempuan yang tegak menghadang yang bukan lain adalah Raras dengan mata nyalang tak berkedip.

Sosoknya masih tampak sedikit limbung, namun gadis berbaju merah muda I seolah tidak menghiraukan keadaan dirinya. Sebaliknya gadis berbaju ungu yang memegang pedang dan bukan lain adalah Dewi Pencabut Nyawa menyeringai sambil berkata keras.

"Sekali lagi kuperingatkan. Jangan berani buka mulut menuduh yang bukan-bukan. Aku tidak punya niat untuk memiliki pedang ini..." ujar Dewi Pencabut Nyawa pada Raras.

"Mulut bisa bicara, tapi kenyataannya kau mengambilnya." Raras tak mau kalah. Dia berkata pula dengan suara keras.

Mungkin karena geram, Dewi Pencabut Nyawa melangkah maju satu tindak sambil membentak.

"Kalau aku mengambilnya, kau mau apa?" ujar Dewi Pencabut Nyawa.

Raras tidak segera menjawab ucapan Dewi Pencabut Nyawa yang bernada menantang. Dia tampaknya maklum, dalam keadaan masih terluka begitu rupa, adalah tolol jika melayani ucapan orang meski hatinya panas. Tapi saat itu rupanya Raras sudah tidak pikirkan lagi dirinya yang terluka. Hingga meski dengan menahan sakit pada dadanya, dia coba kerahkan tenaga dalam. Namun baru saja salurkan tenaga dalam, gadis bekas murid Dewi Siluman ini rasakan peredaran darahnya menyentak-nyentak. Dadanya berdenyut nyeri. Dan tak lama kemudian sosoknya limbung dan jatuh terduduk. Dewi Pencabut Nyawa menatap sejenak, lalu alihkan pandangannya pada Dewi Siluman dan Pendekar Sinting yang bergerak-gerak hendak bangkit.

"Aku harus selamatkan pedang ini..." gumam Dewi Pencabut Nyawa, lalu secepat kilat dia putar tubuh dan berkelebat tinggalkan tempat itu. Namun gerakan murid Si Mata Iblis ini tertahan, tatkala tiba-tiba dua bayangan telah berkelebat dan telah tegak di hadapan Dewi Pencabut Nyawa.

"Serahkan padaku pedang itu atau nyawamu melayang." seru Rasmini.

Dewi Pencabut Nyawa tersentak. Dia cepat
belalakkan sepasang matanya dan memandang ke depan. Terlihat seorang gadis cantik berbaju kuning dengan tangan kiri diangkat seolah siap lepaskan pukulan, sementara tangan kanan membuat gerakan seperti orang meminta. Gadis berbaju kuning yang bukan lain adalah Rasmini. Di sebelah Rasmini tegak seorang gadis berbaju biru dan tidak lain Ayu Lestari adanya.

"Hmm... Kita memang punya urusan yang belum selesai. Tapi urusan itu akan kulupakan. Jika kalian angkat kaki enyah dari hadapanku." kata Dewi Pencabut Nyawa sambil memandang silih berganti. Rasmini menyeringai.

"Jika kau tak mau turuti ucapanku, berarti urusan lama kita teruskan. Dan kali ini harus tuntas. Kau dengar?” sambung Dewi Pencabut Nyawa.

Di lain pihak, melihat munculnya Rasmini
dan Ayu Lestari, Raras makin khawatir. Namun gadis berbaju merah muda ini tidak bisa berbuat banyak, karena saat dia coba lagi kerahkan tenaga dalam, tubuhnya bergetar hebat dan peredaran darahnya laksana tersumbat dan menyentak-nyentak.

"Kalian telah kuberi tawaran, tapi tampaknya kalian pilih yang lain. Baik pedang ini akan kuserahkan padamu, tapi kalian harus serahkan nyawa kalian sebagai gantinya..." dengus Dewi Pencabut Nyawa.

"Keparat..." teriak Rasmini.

Lalu gadis berbaju kuning ini telah melompat dan segera lepaskan pukulan sakti 'Tengkorak Pencabut Sukma'. Gadis berbaju kuning ini tidak mau bertindak gegabah, karena lawan yang dihadapi memegang senjata sakti, hingga dia tidak berani bentrok jarak dekat, karena bukan tidak mungkin lawan akan pergunakan senjata di tangannya, itulah pertimbangan Rasmini hingga begitu menyerang dia langsung lepaskan pukulan 'Tengkorak Pencabut Sukma'. Di pihak lain, begitu kabut berwarna kuning menggebrak, Dewi Pencabut Nyawa cepat pula sentakkan tangannya lepaskan pukulan 'Iblis Pencabut Nyawa'.

Bummm !!!

Untuk kesekian kalinya, Pulau Biru diguncang ledakan keras. Sosok Rasmini dan Dewi Pencabut Nyawa sama-sama terpental. Keduanya sama terhuyung-huyung dengan wajah pucat. Hal ini tak dilewatkan oleh Ayu Lestari. Begitu Dewi Pencabut Nyawa belum bisa kuasai tubuh, gadis berbaju biru telah melesat ke depan dengan tangan kanan memukul ke arah kepala sedangkan tangan kiri menyambar pedang.

"Pengecut busuk...," maki Dewi Pencabut Nyawa dengan raut wajah terkejut.

Karena mengkhawatirkan pedang jatuh ke tangan orang lain, gadis berbaju ungu ini tidak lagi hiraukan tangan kanan Ayu Lestari yang berkelebat ke arah kepalanya. Dia hanya pusatkan perhatiannya pada tangan kiri Ayu Lestari yang menyambar akan mengambil pedang, hingga tanpa ampun lagi tangan kanan Ayu Lestari menghantam kepalanya. Namun bersamaan dengan itu, Dewi Pencabut Nyawa tarik tangannya yang memegang pedang. Begitu tangan Ayu Lestari yang menyambar pedang lolos, dia segera membabatkan pedang ke tangan lawan.

Buukkk !!!

Craasss !!!

Sosok Dewi Pencabut Nyawa terhuyung deras ke belakang lalu jatuh telentang dengan kepala berdenyut sakit. Dari mulutnya tampak meleleh darah segar, akibat kepalanya terhantam tangan Ayu Lestari. Sementara Ayu Lestari perdengarkan jeritan tinggi. Tubuhnya tersentak mundur dengan tangan kanan pegangi tangan kirinya yang ternyata telah putus sebatas pergelangan tangan tangan. Darah tampak mengucur deras dari pergelangan tangan itu. Dan tak lama kemudian, tubuh Ayu Lestari tampak melorot lalu jatuh terduduk dengan mulut mengerang.

"Biadab.... Aku mengadu jiwa denganmu." seru Rasmini melihat Ayu Lestari cedera parah.

Lalu tanpa menunggu lama, dia melesat ke depan dengan tangan kiri kanan lepaskan pukulan ke arah tangan Dewi Pencabut Nyawa yang memegang pedang. Dewi Pencabut Nyawa cepat berguling. Namun Rasmini tak memberi kesempatan. Kemana gulingan tubuh Dewi Pencabut Nyawa, ke sana kedua tangan Rasmini mengarah. Bahkan kini kaki kanan gadis berbaju kuning ini mulai ikut bergerak lepaskan tendangan. Entah karena telah terluka atau percuma terus menghindar, pada satu kesempatan Dewi Pencabut Nyawa hentikan gulingan tubuhnya lalu serta-merta tangan kirinya memapak pukulan tangan kanan Rasmini sementara tangan kanannya membabat pedang. Karena tidak menyangka, Rasmini tidak bisa berkelit lagi. Hingga jika dia tidak menangkis dengan tangan atau kakinya ke arah pedang yang kini membabat, niscaya perutnya akan ambrol. Dalam keadaan terjepit demikian rupa, akhirnya Rasmini menangkis dengan menggunakan kaki kanannya, sementara kedua tangannya tetap teruskan memukul.

Bukkk !!!

Bukkk !!!

Craaasss !!!

PENDEKAR SINTING ~Pendeta Sinting~

Terdengar dua jeritan tinggi. Dewi Pencabut Nyawa mental dengan pedang lepas dari genggamannya. Sementara Rasmini terhuyung lalu roboh dengan kaki kanan putus sebatas betis. Karena terpaku dengan Pedang Perak Sakti yang tergeletak di tanah, baik Ayu Lestari maupun Rasmini tidak pedulikan tangan dan kakinya yang telah putus dan banyak kucurkan darah. Sebaliknya kedua gadis ini sama-sama bergerak. Ayu Lestari melangkah cepat ke arah pedang, sedang Rasmini bergulingan mendekat. Sejengkal lagi tangan kanan Ayu Lestari dan tangan Rasmini menyambar pedang, tampak bunga-bunga api bertaburan mengarah pada kedua gadis murid Dewi Siluman itu.

Dess !!!

Desss !!!

Desss !!!

Desss !!!

Rasmini dan Ayu Lestari sama menjerit. Tubuh keduanya terjengkang roboh dengan baju berlobang-lobang demikian juga sebagian tubuhnya Untuk beberapa saat, kedua gadis ini menggeliat-geliat laksana orang direbus. Tapi sekejap lain tubuh keduanya diam tak bergerak-gerak lagi

Di seberang, sosok Dewi Pencabut Nyawa yang baru saja lepaskan pukulan 'Iblis Pencabut Nyawa' tampak pucat pasi lalu kepalanya terkulai. Gadis ini kehabisan tenaga lalu telentang pingsan. Ketika Dewi Siluman bergerak bangkit dan melihat asap hitam di udara, perempuan bercadar dan berjubah hitam ini cepat berpaling ke arah di mana Ki Banyu Getih berada. Sejenak sepasang matanya dari lobang cadar terlihat mendelik.

"Celaka Ki Banyu Getih tampaknya perlu bantuan. Padahal urusanku sendiri belum selesai..." ujar Dewi Siluman.

Dewi Siiuman palingkan kepalanya pada
Pendekar Sintingyang juga telah tegak. Lalu layangkan pandangannya pada Pedang Perak Sakti yang masih tergeletak dengan sebagian bilah pedang ternoda darah. Sepasang matanya hanya menyipit sesaat tatkala menyaksikan Rasmini dan Ayu Lestari telah tidak bergerak-gerak lagi.

"Terpaksa urusan ini harus kutunda...," desis Dewi Siluman, lalu berkelebat ke depan hendak menyambar pedang yang tergeletak.

Pendekar Sinting rupanya sudah waspada. Dia pun segera berkelebat hendak menyambar pedangnya. Namun gerakan Dewi Siluman dan Pendekar Sinting sudah terlambat, karena bersamaan dengan itu satu bayangan merah muda rnendahului melompat dan....

Bukkk !!!

Sosok merah yang bukan lain adalah Raras telungkupkan tubuhnya di atas Pedang Perak Sakti.

"baik, murtad..." teriak Dewi Siluman marah.

Dia teruskan kelebatan tubuhnya dengan tangan diangkat ke atas sedang tangan kiri membuat gerakan mengayun. Melihat Raras terancam nyawanya, Pendekar Sinting teruskan juga kelebatannya. Kedua tangannya segera pula didorong.

Wuuusss !!!

Dewi Siluman berseru keras. Dia merasakan dirinya dihantam sapuan gelombang angin dahsyat yang sangat dingin, hingga tubuhnya sejenak laksana ditahan dan tak bisa bergerak maju. Tapi perempuan ini teruskan pukulannya pada Raras yang telungkup di atas Pedang Perak Sakti.

Wuuttt !!!

Kabut hitam melabrak ganas ke arah Raras, membuat murid Pendeta Sinting terkesiap
karena tak mungkin lagi memangkas pukulan Dewi Siluman yang sudah begitu dekat dengan Raras. Saat setengah lagi kabut hitam menghantam telak sosok Raras, tiba-tiba tampak dua cahaya memantul.

Blaappp !!!

Blappp !!!

Bummm !!!

Kabut hitam bertabur buyar di udara. Sosok
Dewi Siluman terdorong deras ke belakang
sebelum akhirnya jatuh terduduk dengan
mulut makin banyak keluarkan darah yang merembes lewat penutup wajahnya.

Di seberang sana, si Peramal Gila yang baru saja selamatkan Raras tampak mengelus-elus jenggotnya. Batu yang dibuat sandaran berguncang keras. Namun Nyi Kembang Malam yang duduk di atas batu tadi sepertinya tidak merasakan guncangan. Dia enak saja tetap duduk mencangklong dengan mulut mainkan gumpalan sirih. Sedangkan Raras yang berada dekat dengan bentroknya pukulan tampak mental sejauh dua tombak. Karena keadaannya sudah terluka, apalagi baru saja terkena getaran bentroknya pukulan Dewi Siluman dengan tapak saktinya si Peramal Gila, membuat Raras tak bisa berbuat banyak saat tubuhnya melayang turun.

Ketika setengah tombak lagi tubuh Raras menghantam tanah, satu bayangan berkelebat, lalu telentang menyusur tanah. Dan....

Blukkk !!!

Sosok Raras mendarat di atas tubuh yang telentang itu. Raras yang sesaat tadi tampak pasrah karena tidak bisa berbuat apa-apa pejamkan sepasang matanya. Namun ketika menyadari tubuhnya tidak menghantam tanah, dia segera buka kelopak matanya. Mungkin karena senang ada orang selamatkan dirinya dari menghantam tanah, gadis yang sudah terluka ini tanpa pikir panjang lagi segera memeluk orang di bawahnya. Orang yang berada di bawah tubuh Raras sejenak tampak diam saja, namun tak lama kemudian tubuhnya menggeliat, hal ini membuat Raras malah mempererat pelukannya karena khawatir dirinya akan terjatuh terguling. Saat itulah terdengar suara orang tertawa cekikikan ditingkah dengan suara berat.

"Hik... hik... Hikk."

“Kau cekikikan lagi, Sasmita. Ada apa?" seru Si Peramal Gila.

Sasmita alias Nyi Kembang Malam putuskan tawanya.

"Setan Sesat itu, besar sekali rezekinya hari
ini. Tadi punggungnya diciumi perempuan cantik. Sekarang tubuhnya saling tindih dan dipeluk erat-erat gadis cantik.... Hik... hlk... hik..." seloroh Nyi Kembang Malam pada Si Peramal Gila.

Si Peramal Gila mengeluh.

"Dasar curang. Dia memang sengaja memilih gadis- gadis agar bisa begitu. Jika tidak, mana mungkin ada perempuan atau gadis mau memeluknya. Jangankan memeluk, berdekatan pun mungkin tak sudi. Mulutnya yang selalu terbuka itu membuat perut mual." ujar Si Peramal Gila.

"Hai.... Lepaskan pelukanmu...," gumam orang di bawah Raras.

Seakan baru tersadar, Raras cepat lepaskan pelukannya. Sepasang matanya dibuka. Lalu kepalanya ditarik ke belakang. Yang terlihat pertama kali oleh Raras adalah satu wajah pucat dengan rambut putih. Lalu sepasang mata besar. Dan gadis berbaju merah muda ini tersentak tatkala melihat mulut orang di bawahnya terbuka lebar.

"Maaf...." Hanya itu suara yang terdengar parau dari mulut Raras sambil bergerak bangkit dengan tubuh limbung dan sekejap lain jatuh terduduk.

Orang yang tadi di bawah tubuh Raras dan bukan lain adalah Sesat Tua usap-usap pakaiannya. Lalu bangkit dan berpaling pada Pendekar Sinting.

"Cepat sandarkan dia pada batu dekat si Peramal Gila ini...." ucap Sesat Tua pada Sima.

Pemuda Sinting ini cepat turuti ucapan Sesat Tua. Dia melangkah ke arah Raras. Gadis ini telah pejamkan sepasang matanya. Sementara tangan kanannya tampak gemetar. Di tangan kanan gadis ini tampak Pedang Perak Sakti. Dengan perlahan-lahan Pedang Perak Sakti diambil oleh Pendekar Sinting lalu diselipkan di balik pakaiannya. Kedua tangannya lantas menjulur dan membopong tubuh Raras ke arah si Peramal Gila. Di seberang, Dewi Siluman menggeliat bangkit. Dia memaki panjang pendek tatkala mengetahui Pedang Perak Sakti sudah tidak ada lagi di tempat tadi menggeletak. Dan saat berpaling dia lihat Ki Banyu memberi isyarat. Tanpa pedulikan lagi pada kedua muridnya yang telah tewas, Dewi Siiuman berkelebat ke arah Ki Banyu Getih.

* * * *

"Kita harus meloloskan diri. Tidak mungkin lagi kita menghadapi mereka..." bisik Ki Banyu Getih begitu Dewi Siiuman telah tegak di sampingnya.

"Tapi...."

"Dewi... Jangan mencari urusan. Nyawa kita ada di ujung tanduk." ujar Ki Banyu Getih memperingatkan tatkala dilihatnya Dewi Siluman sepertinya masih enggan meninggalkan pulau.

"Kau cepat ke arah selatan. Aku menunggu
di pinggir pulau..." sambung Ki Banyu Getih, lalu hendak berkelebat. Dewi Siluman sendiri tampak hendak putar tubuh dan berkelebat.

Namun belum ada yang sempat berkelebat,
Nyi Kembang Malam yang masih duduk di atas gugusan batu padas berteriak.

"Meski datang tidak diundang, seharusnya pulang dengan pamit. Lebih dari itu, tak enak rasanya punya tamu yang masih belum dikenal wajahnya...." teriak Nyi Kembang Malam.

Dewi Siluman tersentak. Ucapan Nyi Kembang Malam jelas menghendaki dirinya buka cadar yang selalu menutupi wajahnya. Dewi Siluman tampak bergetar, sepasang matanya membelalak.

PENDEKAR SINTING ~Pendeta Sinting~
Diubah oleh salim357

Pendekar Sinting | Pendeta Sinting | Part 56

PENDEKAR SINTING ~Pendeta Sinting~

"Aku tak akan turuti kata-katanya...," desis Dewi Siluman. Ki Banyu Getih sendiri terlihat tertegun dengan mulut membisu.

"Betul... Meski tak perduli urusan orang, setidaknya aku bisa mendengar cerita tentang wajah yang selalu ditutup cadar hitam. Siapa tahu dugaanku salah." sahut Si Peramal Gila timpal ucapan Nyi Kembang Malam sambil bergerak bangkit karena Pendekar Sinting telah berada di dekatnya dan hendak sandarkan tubuh Raras pada batu padas yang tadi di sandari si Peramal Gila.

"Aku tidak sudi turuti ucapan kalian...," teriak Dewi Siluman.

"Jika begitu, aku akan minta lebih dari yang diminta tadi. Bukan hanya minta kau buka
penutup cadarmu, tapi juga minta kau
buka...," Sesat Tua yang menyahut tidak lanjutkan ucapannya. Sebaliknya tertawa
terbahak-bahak.

"Walah.... Kau selalu membuat dadaku jadi
berdebar-debar dan jakun turun naik. Tapi omongan begitu memang lebih sedap
didengar Ha... ha... ha..." Si Peramal Gila ikut-ikutan tertawa.

"Dewi... Untuk sementara ini kita mengalah saja. Turuti apa yang mereka minta, ini demi keselamatan kita. Kita masih punya waktu untuk memperhitungkan pembalasan." Gumam Ki Banyu Getih.

"Aku tidak mau. Kalau kau takut mati, silakan pergi dahulu..." sahut Dewi Siluman dengan menatap tajam pada Ki Banyu Getih.

Ki Banyu Getih gelengkan kepala.

"Percuma kau berkeras kepala. Kau telah
terluka. Membunuhmu, bagi mereka semudah membalik telapak tangan..." terang Ki Banyu Getih.

Dewi Siluman terdiam mendengar ucapan
Ki Banyu Getih.

"Kau tak perlu khawatir. Aku duga, mereka sebenarnya telah mengetahui siapa kau sebenarnya. Kalau mereka ingin kau membuka cadarmu, mungkin hanya untuk meyakinkan. Jadi tak ada gunanya lagi bersikap keras kepala." ujar Ki Banyu Getih.

Di depan sana, Nyi Kembang Malam
tiba-tiba mendongak.

"Hari sudah hampir malam. Jika keadaan gelap, dan aku tak dapat mengenali wajah di balik cadar, mungkin aku juga minta
tambahan...," seru Nyi Kembang Malam.

"Dewi... Cepat buka cadarmu. Ucapan
orang-orang seperti mereka setiap saat bisa
berubah." ujar Ki Banyu Getih.

Dewi Siluman berpaling pada Nyi Kembang Malam.

"Baik, kalian lihat yang jelas...," Habis berkata begitu, Dewi Siluman angkat tangan kanannya.

Breettt !!!

Kain hitam penutup wajah Dewi Siluman
terenggut lepas. Kini tampaklah seraut wajah cantik jelita dengan mata bulat dan bulu mata panjang lentik. Bibirnya bagus dan merah. Hidungnya mancung dengan kulit putih agak kekuningan.

"Waranggani...," gumam Nyi Kembang Malam hampir berbarengan dengan Sesat Tua.

Sementara Ki Lontar hanya terdiam dengan sepasang mata memandang tak berkedip. Di sampingnya Dewi Banyu Es buka kelopak matanya sejenak, namun sekejap lain telah memejam kembali. Untuk beberapa lama suasana hening. Hanya tampak beberapa pasang mata saling pandang lalu bersama-sama terarah pada Dewi Siluman. Dewi Siluman menyeringai. Lalu tangan kanannya terangkat kembali hendak memasang kain cadarnya. Namun gerakan tangan sang Dewi tertahan tatkala tiba-tiba Ki Lontar meloncat ke depan dan seolah hendak menghadang kelebatan Ki Banyu Getih dan Dewi Siluman. Sepasang matanya mengawasi Dawi Siluman tajam. Dewi Siluman dan Ki Banyu Getih terkesiap kaget.

"Apa maumu? Aku telah turuti yang kalian minta. Jangan tarik ucapan sendiri." teriak Dewi Siluman sambil balas menatap pada Ki Lontar.

"Yang berkata tadi Sesat Tua dan Nyi Kembang Malam Malam. Aku belum mengatakan apa yang kuminta." jawab Ki Lontar

"Hmm.... Nyatanya kalian orang-orang yang tidak bisa pegang janji." ujar Dewi Siluman.

"Waranggani... Aku belum ucapkan janji."
ujar Ki Lontar, membuat Waranggani
alias Dewi Siluman menyeringai meski air
mukanya tampak membayangkan rasa takut. Perempuan cantik ini berpaling pada Ki Banyu Getih. Ki Banyu Getih, tampak kernyitkan dahi namun belum juga buka mulut.

Di sebelah depan, Dewi Siluman dan Ki
Banyu Getih mundur dua tindak. Tanpa bicara lagi, Ki Banyu Getih segera menarik tangan Dewi Siluman. Keduanya lalu berkelebat menuju arah pinggir pulau. Melihat Dewi Siluman dan Ki Banyu Getih hendak meloloskan diri, Pemuda Sinting berkelebat mengejar. Namun gerakannya tertahan tatkala tangan kanan si Peramal Gila mencekalnya.

"Biarkan mereka pergi...." ujar Si Peramal Gila.

"Tapi, Kek. Orang seperti mereka akan
menjadi duri di kemudian hari..." ucap Sima.

"Kau tidak tahu siapa perempuan itu?" tanya Si Peramal Gila.

"Peduli apa dengan dia?" ujar Sima.

Si Peramal Gila gelengkan kepala.

"Dengar..., Anak muda. Mendiang guruku pernah mempunyai seorang murid perempuan. Karena dia buruk dalam bertingkah dan selalu melanggar perintah, pada akhirnya dia diketahui hamii. Dia lantas diusir. Di kemudian hari dia melahirkan seorang anak perempuan yang diberi nama Waranggani. Jadi bagaimanapun juga, Waranggani masih saudaraku...," terang Si Peramal Gila.

Pemuda Sinting ini tercenung dan akhirnya hanya bisa memandang punggung mereka yang terus berkelebat. Sampai ke pinggir pulau.

"Jangan terpaku pada apa yang terlihat.
Masih ada yang harus dikerjakan." ujar si Peramal Gila.

Lalu melangkah pada batu padas di mana Raras bersandar. Ki Lontar balikkan tubuh, lalu melangkah ke arah Si Peramal Gila. Sesat Tua segera pula mendekat. Dewi Banyu Es bergerak bangkit dan melangkah ke arah tubuh Dewi Pencabut Nyawa yang tergeletak pingsan. Si Peramal Gila jongkok di samping tubuh Raras. Kedua tangannya sejenak meraba tangan si gadis. Lalu kepalanya manggut-manggut. Sekejap kemudian dia keluarkan dua butiran hitam dari balik pakaian hijaunya yang gombrong. Butiran itu diserahkan pada Sesat Tua. Sesat Tua menyambuti lalu sambil jongkok, kedua butiran itu dimasukkan kedalam mulut Raras.

"Ku kira urusan di sini telah selesai. Kita pulang...," kata Ki Lontar sambil berpaling pada Dewi Banyu Es yang kini telah tegak sambil membopong tubuh Dewi Pencabut Nyawa.

"Biar gadis ini ku urus...," ujar Dewi Banyu Es lalu melangkah mendahului ke pinggir pulau.

Sima bungkukkan tubuh hendak membopong Raras yang kini matanya terpejam dan tampak lemas. Namun buru- buru si Peramal Gila lantangkan tangan kirinya, membuat gerakan Pemuda Sinting tertahan.

"Gadis ini urusanku...," ucap si Peramal Gila lalu sekali sambar tubuh Raras telah berada di pundaknya.

"Tuntun aku ke pinggir pulau..." ucap Si Peramal Gila pada Sima.

Akhirnya rombongan itu melangkah ke
pinggir pulau. Tapi sesampainya di pinggir
pulau, mereka tampak kebingungan. Karena tidak ada satu pun perahu terlihat.

"Tidak mungkin sekarang naik es lagi. Kita harus cari tumpangan yang layak..." ujar Si Peramal Gila setelah mengetahui di situ tidak ada perahu dan Ki Lontar mengusulkan agar Dewi Banyu Es membuat tumpangan es seperti tatkala mereka menuju Pulau Biru.

Ketika orang-orang sama bingung, tiba-tiba
Sima berteriak.

"Lihat... Ada perahu." teriak Sima.

PENDEKAR SINTING ~Pendeta Sinting~

* * * *

PERAHU itu meluncur deras menuju pulau laksana anak panah. Namun begitu perahu merapat, semua orang jadi tercengang. Sepasang mata Nyi Kembang Malam tampak bolak-balik memejam membuka dengan mulut makin keras komat- kamit. Sementara Sesat Tua mendongak dengan mulut di buka lebar-lebar. Di sampingnya Ki Lontar mendelik dengan mulut terkancing rapat. Dewi Banyu Es kernyitkan kening dengan mata sedikit menyipit. Pemuda Sinting sendiri mendelik dengan kepala berpaling ke sana kemari seolah ingin minta penjelasan. Hanya Si Peramal Gila yang tampak tenang-tenang saja. Karena ternyata perahu itu tidak berpenumpang.

Belum hilang rasa kejut mereka, dan belum sempat ada yang buka suara, tiba-tiba dari
belakang perahu meluncur sebuah papan kayu yang melaju kencang menerjang ganasnya gelombang laut. Di atas papan kayu terlihat seorang kakek berjubah kuning. Sepasang matanya terpejam rapat, sementara mulutnya berkemik. Kakek ini rambutnya putih panjang dikepang dan dikalungkan di lehernya. Dia duduk bersila dengan kedua tangan saling menakup di bawah dagu. Di belakang kakek berjubah kuning ini tegak berdiri seorang laki-laki berusia lanjut. Wajahnya amat pucat dan berkeriput. Tapi keriputan wajah kakek ini hanya merupakan garis samar-samar karena kulit wajah itu demikian tipis. Rambutnya yang putih panjang di biarkan tergerai melambai-lambai ditiup angin laut. Kumis dan jenggotnya juga lebat menutupi sebagian wajahnya. Dia mengenakan jubah besar kusam yang bertambal-tambal dari beberapa kain yang berwarna-warni.

Belum sampai papan kayu yang ditumpangi
kedua kakek merapat, dua kakek tersebut membuat gerakan. Sekejap lain tujuh langkah di samping rombongan orang di Pulau Biru telah duduk bersila kakek berjubah kuning, sementara di sampingnya tegak kakek berjubah kusam bertambal-tambal. Belum ada yang membuat gerakan, Pendekar Sinting mendahului berkelebat lalu menjura di depan dua kakek yang baru datang.

"Eyang... Manusia Setengah Dewa...," kata Sima begitu mengenali siapa adanya dua orang tua itu.

Kakek berjubah kuning yang rambutnya di kepang dan bukan lain memang 'Manusia Setengah Dewa' adanya buka kelopak matanya, lalu anggukkan kepala tanpa berucap sepatah kata. Di sebelahnya, kakek berjubah kusam bertambal-tambal dan bukan lain 'Pendeta Sinting' adanya tertawa panjang sambil manggut-manggut. Sepasang mata kakek ini lantas mengedar memandang satu persatu pada semua orang yang ada di situ. Mulutnya membuka hendak bicara, namun sebelum ucapannya terdengar, Nyi Kembang Malam telah mendahului.

PENDEKAR SINTING ~Pendeta Sinting~

"Dasar orang sinting. Datangnya jika urusan
sudah selesai. Apa saja yang dikerjakan? Padahal kudengar anak belum punya..." ucap Nyi Kembang Malam.

"Bagaimana punya anak. Perempuan saja
tidak ada yang mau didekati." sahut Sesat Tua, lalu mendekat pada Manusia Setengah Dewa dan berkata.

"Sudah beberapa puluh tahun tidak jumpa, nyatanya kau masih awet muda, kalau tak
keberatan mau berikan ilmunya padaku. Terimalah hormatku, Manusia Setengah Dewa." ujar Sesat Tua.

"Ah... Ternyata ada sahabat. Kalau benar yang datang adalah Manusia Setengah Dewa dan sobatku Pendeta Sinting, sungguh ini sebuah pertemuan yang membahagiakan. Di atas semua itu, pasti ada hal yang perlu dibicarakan." Si Peramal Gila menyahut sambil tangan kirinya mengelus-elus jenggotnya.

"Senang sekali Pendeta Sinting dan
Manusia Setengah Dewa bisa datang ke sini meski hidangannya telah habis." Yang angkat bicara kali ini adalah Ki Lontar.

Sedangkan Dewi Banyu Es yang membopong tubuh Dewi Seribu Bunga hanya mengangguk pada Pendeta Sinting dan Manusia Dewa.

"Maaf sahabat-sahabat. Kami datang terlambat. Namun itu masih tidak apa daripada tidak datang. Bukankah begitu Pendeta Sinting...?" ujar Manusia Setengah Dewa. Pendeta Sinting lirikkan sepasang matanya.

“Benar... Meski hidangan telah habis
sesungguhnya masih ada hidangan baru
yang lebih lezat dan memerlukan tenaga lebih banyak." ujar Pendeta Sinting.

"Eh, sepertinya kedatangan kalian membawa kabar baru..." ujar Si Peramal Gila. Setelah menyimak kata-kata Pendeta Sinting.

"Bukan kabar, tapi kenyataan. Tapi untuk itu biarlah sahabatku Manusia Setengah Dewa yang mengatakannya..." terang Pendeta Sinting.

Suasana sejenak hening. Pendekar Sinting
melangkah mendekat ke arah Eyang gurunya. Lalu berbisik.

"Eyang. Ada kabar apa sebenarnya?" tanya Sima.

"Itu nanti akan dikatakan Manusia Setengah Dewa. Sekarang aku tanya padamu. Bagaimana dengan tugas mu?" jawab Pendeta Sinting sekali tanya balik pada Sima.

"Berkat doa restu Eyang, aku berhasil mendapatkan Kitab Serat Kuning...."

Sima hendak keluarkan kitab dari balik pakaiannya, tapi Pendeta Sinting memberi isyarat agar muridnya urungkan niat. Kakek ini lantas berkata.

"Jaga baik-baik kitab itu. Sekarang dengarkan apa yang diucapkan Manusia Setengah Dewa." Murid dan guru ini sama berpaling pada Manusia Setengah Dewa.

"Anak muda Kudengar kau tadi mengatakan Kitab Serat Kuning. Aku ikut merasa gembira. Namun lebih dari itu, kau harus segera mempelajari isinya, karena di depan sana sudah ada lagi hal yang harus kau selesaikan..." tutur Manusia Dewa seraya memandang pada Pendekar Sinting.

"Luar biasa sekali pendengaran orang tua ini. Namun ucapannya tadi sepertinya telah membebankan tugas baru lagi padaku..." gumam Sima.

Diam-diam murid Pendeta Sinting membatin. Sima lantas berbisik pada Eyang gurunya mengatakan apa yang ada dalam hatinya. Pendeta Sinting tertawa pendek lalu berujar.

"Ha ha ha... Sontoloyo. Tanpa bertanya seharusnya kau sudah mengerti. Dan aku tidak bisa menjamin apakah aku bisa membantu atau tidak." ujar Pendeta Sinting.

"Aku juga..., urusan selanjutnya harap kau sendiri yang selesaikan." sahut Sesat Tua.

"Ah..., aku juga tak mau ikut campur." Si Peramal Gila angkat bicara.

"Aku pun tak akan cari urusan baru...," ucap Nyi Kembang Malam menimpali.

"Sahabat-sahabat sekalian. Sebenarnya urusan ini adalah urusan kita semua sebagai orang rimba persilatan. Namun kalau sahabat sekalian punya halangan, apa hendak dikata. Sekarang semuanya tergantung pada Pendekar Sinting." ujar Manusia Setengah dewa.

"Jika itu demi keselamatan dan ketenangan dunia persilatan, tanpa bantuan pun aku akan laksanakan tugas ini." ujar Pendekar Sinting sambil memandang satu persatu pada orang yang ada di tempat itu.

"Hmm.... Bagus Memang itulah watak yang harus dimiliki seorang pendekar. Gelombang lautan api, gemuruh ombak bukanlah satu halangan jika demi keselamatan dunia persilatan." tutur Manusia Setengah Dewa.

Habis berkata begitu, Manusia Setengah Dewa dongakkan kepala.

"Ku kira sahabat sekalian tidak berniat menginap di sini bukan? Nah, malam tampaknya sudah menjelang, berarti sudah waktunya untuk tinggalkan tempat ini" Tanpa menunggu jawaban. Manusia Dewa gerakkan bahunya dua kali. Tubuhnya tiba-tiba melesat dan kejap lain telah duduk bersila di atas perahu.

"Memang apa enaknya menginap di sini.
Hanya beralas pasir dan berselimut langit. Hik... hik... hik..." ujar Ratu Malam lalu berkelebat ke arah perahu.

"Tubuh reot begini memang sudah tidak
seharusnya tidur sembarangan. Apalagi di
tengah gelombang ombak lautan" timpal Sesat Tua lalu ikut melesat ke arah perahu dan tegak memunggungi Nyi Kembang Malam. Pendekar Sinting melangkah cepat ke arah Dewi Banyu Es yang membopong tubuh Dewi Pencabut Nyawa. Namun baru saja dekat dan belum sempat buka mulut bicara, Dewi Banyu Es telah mendahului berkata.

"Untuk sementara kau tak usah tanyakan
urusan gadis ini. Biarlah dia jadi urusanku...." Pemuda Sinting hanya bisa mengangguk. Lalu memandang pada Si Peramal Gila yang memanggul tubuh Raras. Buru-buru Sima mendekat. Namun lagi-lagi si Peramal Gila telah berkata mendahului.

"Anak muda. Urusanmu di depan masih besar. Jangan ditambah dengan mencemaskan gadis-gadis ini. Kelak mungkin kalian akan bertemu lagi. Sekarang ayo tunjukkan arah perahu." ucap si Peramal Gila.

Selesai berkata Si Peramal Gila rentangkan tangan kirinya. Namun Sima tidak segera tuntun Si Peramal Gila. Sebaliknya dia palingkan kepala ke belakang. Karena tiba-tiba Pemuda Sinting ini teringat pada Pertapa Suci namun kakek berjubah putih penjaga Kitab Serat Kuning itu telah tidak ada lagi di tempatnya.

"Hei.... Kau dengar ucapanku, bukan?" ujar
Si Peramal Gila. Pendekar Sinting menyengir
lalu menggandeng tangan Si Peramal Gila dan melangkah ke arah perahu. Di belakang mereka menyusul Ki Lontar dan Dewi Banyu Es.

"Meski tidak ada perempuan yang mau
kudekati, tapi bukan berarti aku senang tidur di tempat seperti ini..." gumam Pendeta Sinting lalu berkelebat ke arah perahu.

Tak berselang lama, perahu berpenumpang
sepuluh orang itu meluncur membelah ombak. Anehnya meski tidak ada satu pun yang kemudikan perahu dengan mendayung, namun perahu itu meluncur deras. Yang tampak hanyalah gerakan-gerakan tangan yang mengayun ke bawah seolah orang menari. Tapi begitu gerakan-gerakan tangan itu makin keras, perahu melaju makin deras.

"Untuk sementara kau tak usah tanyakan
urusan gadis ini. Biarlah dia jadi urusanku...." Pemuda Sinting hanya bisa mengangguk. Lalu memandang pada Si Peramal Gila yang memanggul tubuh Raras. Buru-buru Sima mendekat. Namun lagi-lagi si Peramal Gila telah berkata mendahului.

"Anak muda. Urusanmu di depan masih besar. Jangan ditambah dengan mencemaskan gadis-gadis ini. Kelak mungkin kalian akan bertemu lagi. Sekarang ayo tunjukkan arah perahu." ucap si Peramal Gila.

Selesai berkata Si Peramal Gila rentangkan tangan kirinya. Namun Sima tidak segera tuntun Si Peramal Gila. Sebaliknya dia palingkan kepala ke belakang. Karena tiba-tiba Pemuda Sinting ini teringat pada Pertapa Suci namun kakek berjubah putih penjaga Kitab Serat Kuning itu telah tidak ada lagi di tempatnya.

"Hei.... Kau dengar ucapanku, bukan?" ujar
Si Peramal Gila. Pendekar Sinting menyengir lalu menggandeng tangan Si Peramal Gila dan melangkah ke arah perahu. Di belakang mereka menyusul Ki Lontar dan Dewi Banyu Es.

"Meski tidak ada perempuan yang mau
kudekati, tapi bukan berarti aku senang tidur di tempat seperti ini..." gumam Pendeta Sinting lalu berkelebat ke arah perahu.

Tak berselang lama, perahu berpenumpang
sepuluh orang itu meluncur membelah ombak. Anehnya meski tidak ada satu pun yang kemudikan perahu dengan mendayung, namun perahu itu meluncur deras. Yang tampak hanyalah gerakan-gerakan tangan yang mengayun ke bawah seolah orang menari. Tapi begitu gerakan-gerakan tangan itu makin keras, perahu melaju makin deras.

SEKIAN.

PENDEKAR SINTING ~Pendeta Sinting~
Diubah oleh salim357
Baiklah, sementara kita berpisah disini..tapi kelak kita akan bertemu lagi kisanak.
Terima kasih dan sampai jumpa lagi!
Diubah oleh hrwb
Quote:


"Hi hi hi...Ha ha ha. Terima kasih Tuan Pendekar. Kelak aku akan kembali."
emoticon-Hai
Diubah oleh salim357
hihihi...kancutkan...
Quote:


emoticon-Hammer2
Diubah oleh salim357
Balasan post salim357
kereeen
Halaman 9 dari 9


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di