KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5a062830dac13e9f048b4567/roman-sejarah-sinar-jingga-ditanah-blambangan

[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN

Tampilkan isi Thread
Thread sudah digembok
Halaman 82 dari 231
Ngintip
Msh sepi cak
Makin nagih nungguin update emoticon-clock
aduh blom update jg. kukira dah update biar ada obat penghantar tidur. Lanjut ki, apa mungkin mau double update.
setia menanti
Trit nya belum bersinar lurrr...
pagi siang sore malem cekk teroooss!!
masih menunggumu nanaa....
kang curah haus nih.. kasih minuman ceritamu sikit lahemoticon-Cape deeehhemoticon-Cape deeehh
Kang update kang.....
Saya barusan di kasih tahu Prabu Tawangalun, katanya besok kang curahtangis mau update kang....
emoticon-Toast https://www.tenor.co/QG60.gif
Gan update dobel gann!
menunggu hilal apdet. sepertinya sebentar lagi mecungul.
Quote:


Bener nih gan double update soalnya minggu lalu cuma sekali doang.. biar klimaks nihemoticon-Kaskus Banget


Quote:


Ew.. klimaks apanya kak? 😳
blm update ternyata
Quote:


Klimaks dari seminggu ini nungguin updateanya sisemoticon-Blue Guy Bata (L)emoticon-Sundul Up


Quote:


Saya lakii kak. Agak maleman dikit baru sis. 😓 kidding
Quote:


Hehe maaf kalau kakak di medan itu perempuan gan.. abang baru laki jadi aku pikir agan sista.. maaf
Biasanya agan TS kasih kabar. Lagi bertapa kah
MENOLONG

Andaka menghampiri salah seorang telik sandinya yang berjualan jajanan. Tempatnya tak jauh dari komplek kediaman Raden Dutamandala. Orangnya sudah sepuh, tangannya terlihat gemetar saat melayani para pembeli dagangannya. Saat gilirannya, Andaka meminta beberapa kue basah untuk dibungkus daun pisang. Orang itu melayani pesanan Andaka. Setelah dibungkus, diserahkan ke Andaka.
"Terimakasih," ucap Andaka, membayar kue yang dibelinya lalu pergi.

Sesampai di warung, Andaka membuka bungkusan kue basah. Disalah satu kue terdapat potongan daun lontar berisi laporan pemantauan. Aki penjual kue tadi mengabarkan situasi rumah Raden Dutamandala semakin lengang. Anggota keluarga banyak dipindahkan ke kediaman yang lain. Rumah itu sekarang ditinggali Raden Dutamandala dan para pengawalnya, tidak ada perempuan maupun anak anak seperti kediaman umumnya para bangsawan. Raden Dutamandala jarang keluar rumah. Tamu tamu yang datang terlihat serius semua. Penjagaan semakin ketat.

Jingga sibuk melayani pembeli di depan. Ada pembeli yang lama memilih milih barang. Seorang ibu ibu muda, mungkin selir salah seorang pejabat di Wilwatikta. Dari gelagatnya terlihat ibu itu bukan butuh barang yang dijual Jingga, Ia lebih butuh teman untuk diajak ngobrol atau punya urusan lain yang dia sembunyikan. Jingga membiarkan Ibu itu melihat lihat semua barang dagangannya yang memenuhi seluruh ruang. Jingga melayani pembeli lain yang datang dan pergi.
"Sepertinya toko kalian ini baru ya? Sebelumnya kan jualan kain dan pakaian," tanya Ibu itu sambil memberi tahu pemilik lama adalah pedagang kain.
"Betul Bu, baru menyewa. Kalau penyewa sebelumnya saya belum tahu," jawab Jingga sambil menata dagangan yang baru masuk.
"Sekarang Wilwatikta semakin sepi ya, Pedagang sebelumnya katanya pindah ke Kahuripan. Disana lebih ramai daripada disini. Kamu pindah dari mana?"
"Saya malah dari Kahuripan Bu,"
"Lho kok pindah kesini? Bukankah disana lebih ramai?"
"Ya namanya mencari rejeki Bu, dimanapun rejeki selalu ada, tergantung sebesar apa usaha kita."

Berkali kali Ibu itu melihat lihat keluar, seperti menunggu seseorang.
Tak beberapa lama datang seorang laki laki, seumuran dengan Ibu itu. Laki laki itu berlagak melihat lihat barang dagangan Jingga. Ibu itu mendekati Jingga sambil berbisik, "Maaf, aku boleh pinjam tempat mau membicarakan urusan rahasia dengan seseorang?"
Jingga memandang Ibu itu dengan selidik, dari rona mata Ibu itu terlihat memelas berharap diijinkan. Jingga tidak tega, Ia lalu masuk ke bilik belakang, menemui Andaka yang sedang bersantai. Berbicara sebentar dengan Andaka. Lalu mereka berdua keluar ke depan.
"Silahkan Bu, mana orangnya?" Jingga mempersilahkan sambil menanyakan dengan siapa Ibu itu akan berbicara.
"Cak, sini," panggil Si Ibu. Yang dipanggil ternyata laki laki yang baru datang melihat lihat.
"Ini orangnya Mas," Si Ibu merendahkan kepalanya bersama laki laki itu. Jingga mempersilahkan mereka masuk bilik belakang. Kedua orang itu langsung masuk meninggalkan Jingga sendiri di toko. Andaka sudah pergi ke kedai depan.

Meski tidak berniat mendengarkan, naluri telik sandi Jingga membuat telinganya sensitif dengan pembicaraan pelan di belakang. Setiap kata bahkan desah nafas terdengar jernih di telinga Jingga.

Ternyata mereka adalah sepasang kekasih. Dari bahasanya mereka berasal dari Plembang. Jingga sedikit sedikit mengerti apa yang dibicarakan. Laki laki itu bersikeras mengajak kekasihnya kabur. Namun Si Ibu terlihat takut ketahuan Bangsawan yang memilikinya. Nyawa keduanya bisa terancam kata Si Ibu.
"Tapi buat apa hidup menderita seperti ini? Menahan rindu dan sakit melihat kekasih berada di pelukan laki laki lain?"
"Aku juga menderita, betapa sakitnya harus bersama laki laki yang tidak aku cintai."
"Maka itu ayo kita kabur ke hutan atau kemana saja, asal kita kembali bersama."
Ibu itu terdiam agak lama, "Baiklah, akan kupersiapkan. Besok kita pergi bersama. Bertemu disini."
Serta merta laki laki itu memeluk erat kekasihnya yang saat ini dimiliki orang. Badannya bergetar menahan gejolak rindu. Air mata mengalir di sudut matanya.
Lama mereka berpelukan menenangkan diri. Ibu itu melepaskan diri, lalu merapikan wajahnya yang memerah oleh tangis. Lalu keluar bilik seolah tidak terjadi apa apa.
"Terimakasih Mas," Ibu itu menemui Jingga. Mengambil sembarang barang lalu dibayar.
Jingga memberikan kembaliannya, namun ditolak oleh ibu itu, "Ambil kamu saja, bisa untuk beli minum."
"Terimakasih,"
Ibu itu lalu keluar menuju kereta kuda yang menunggu di luar pasar.

Setelah cukup lama, laki laki itu keluar dari bilik belakang, menemui Jingga.
"Terimakasih Mas," ucapnya sambil menunduk dalam, hormat.
"Sama sama," jawab Jingga membalas hormat.
Laki laki itu tidak beranjak pergi, Ia malah duduk di lincak disamping Jingga didepan toko. Kebetulan toko sedang sepi pembeli.
Tanpa diminta, Laki laki itu langsung bercerita asal usulnya. Ia berasal dari Plembang, mengejar kekasihnya yang dibawa pergi Bangsawan Wilwatikta. Sudah setengah tahun Ia mencari cari. Selama ini Ia kerja serabutan dan akhirnya dipercaya menjaga toko kebutuhan sehari hari.
Usahanya tidak sia sia, berbekal nama Bangsawan yang merampas kekasihnya. Ia akhirnya bisa bertemu dengan kekasihnya. Mereka akhirnya secara rutin bertemu di suatu tempat. Namun bukan hubungan seperti ini yang ingin Laki laki itu jalani. Ia tidak ingin terlihat sebagai perebut selir orang. Ia ingin kehidupan yang sempurna, hidup bersama sebagai suami istri dan mempunyai anak anak yang lucu dan berbakti.
"Dan waktu itu akan segera tiba," katanya gembira. Ia lalu memegang tangan Jingga berterimakasih lagi. Lantas pamit kembali ke tempat kerjanya.

Jingga tercenung meresapi kejadian yang baru saja terjadi. Ingatannya langsung melayang ke Lencari. Dalam bayangannya, Ibu tadi berubah menjadi Lencari, dan laki laki itu adalah dirinya. Sejenak Jingga terinspirasi melakukan hal yang sama dengan kedua orang tadi. Membawa lari Lencari kedalam hutan, meninggalkan semua kehidupan. Hidup berdua di sebuah pulau atau didalam hutan belantara.
Kenangannya selama pelarian di hutan bersama Lencari, berdua di pinggir sungai makan udang bakar, memandanginya dalam setiap helaan nafas dan kata. Membuat Jingga tersenyum sendiri.

Tapi....
Statusnya apa setelah ini bila membawa lari Lencari?
Pembawa lari istri orang?
Menjadi buronan Wilwatikta karena membawa istri salah satu pangerannya?
Bukan tidak mungkin Prabu Wikramawardhana akan bersatu dengan Raden Dutamandala menghancurkan Kuta Lateng, sebagai imbalan atas perbuatannya mempermalukan keluarga Raja.
Bila sudah seperti ini, akan banyak korban tidak bersalah berjatuhan.
....

"Siapa mereka?" Tanya Andaka, membuyarkan lamunan Jingga.
"Oh, orang dari Plembang," jawab Jingga singkat.
Andaka duduk disebelah Jingga. Ia tidak bertanya lebih jauh.

Sudah cukup lama mereka berada di Wilwatikta. Jaringan telik sandi sudah berjalan. Sudah waktunya Jingga menjalankan langkah selanjutnya.

"Sepertinya kasus kematian Raden Rawiteja sudah tidak dilanjutkan lagi, dan tuduhan kepada Pangeran semakin tidak terdengar."
"Tapi naluriku merasakan ada sesuatu yang terjadi yang tidak kita ketahui, jadi sebaiknya kita tetap menyamar dan semakin waspada."
"Analisaku, Mereka bergerak dengan cara senyap, tidak frontal dengan mengirim pasukan untuk melakukan pencarian seperti dimasa lalu, dikarenakan respon dari masyarakat yang kurang mendukung mereka," papar Andaka.

Usaha pihak Raden Dutamandala menjelek-jelekkan Jingga sepertinya gagal. Masyarakat di Wilwatikta tidak merespon baik ajakan membenci Jingga, mereka malah lebih mendukung Jingga daripada membencinya. Mungkin masyarakat Wilwatikta terlalu muak dengan perilaku mereka selama ini. Namun mereka tidak berani mengungkapkannya. Sejak kemunculan Jingga yang dikabarkan memenggal anak orang kuat itu, mereka seperti menemukan pelepas semua rasa muak. Jingga oleh orang orang itu dianggap sebagai Satriya Piningit. Tokoh yang ditunggu tunggu kedatangannya untuk memberi keamanan, keadilan dan kesejahteraan. Sebuah pengharapan ditengah sulitnya situasi yang mereka hadapi. Jadi kalau ada pergerakan terang terangan dari Pasukan pendukung Raden Dutamandala, mereka akan menghadapi banyak lawan dan rintangan dalam usahanya menangkap Jingga.

"Sekarang apa rencana Pangeran?" tanya Andaka,
Jingga terdiam mendapat pertanyaan itu. Selama di Wilwatikta tak terasa Jingga mulai terbiasa dengan kegiatan mengamati aktifitas Lencari dari jauh. Melihat Lencari datang ke Kementrian, pulang ke kediaman Pangeran Mahesa, memandangi biliknya dari jauh, kadang semalaman duduk diatas pohon, berharap Lencari keluar dari biliknya. Kini saat ditanyakan apa rencana selanjutnya, tidak mungkin Ia mengatakan akan terus begini, menjadi penguntit Lencari. Sementara pengikutnya menunggu di lereng Gunung Raung.

"Menurut paman, apa prioritas yang harus aku kerjakan?" Jingga bertanya balik, memancing Andaka apakah Ia tahu apa yang dipikirkannya.
"Kalau bisa, kita membuktikan kepada Mahapatih bahwa Pangeran tidak bersalah,"
"Terlalu beresiko, Mahapatih dikelilingi banyak kelompok yang tidak jelas kesetiannya kepada siapa. Untuk mendekati Mahapatih adalah pekerjaan sulit. Bila aku kepergok didalam Kepatihan, akan menjadikan pembenaran kalau diriku yang melakukan pembunuhan."
"Bagaimana kalau menemui penghubung Pangeran?" Yang dimaksud Andaka adalah Raden Sidatapa.
"Aku rasa juga tidak perlu. Menemuinya tanpa data kuat malah membuatnya menjadi sasaran musuh musuhku. Aku yakin Ia terus diawasi orang orang yang memburuku. Dan sampai saat ini tidak ada sedikitpun bocoran siapa pelaku sebenarnya. Benar benar rapi."

"Kalau begitu kita masuki kediaman Raden Dutamandala. Saya duga disanalah semua rahasia berada,"
"Kalau sudah masuk kesana, mau mencari apa? telik sandi yang setiap saat melaporkan saja tidak menemukan jejak para pembunuh itu. Kecuali kalau kita hendak bertarung kanuragan dengan para pengawalnya yang banyak itu."

"Bagaimana kalau aku menyusup menjadi salah seorang pengawalnya?"
"Itu butuh proses yang lama dan membuang buang waktu, tidak semudah itu mendekati orang yang licik seperti dia. Ia pasti akan mencari keluargamu, mengikatnya dengan harta dan pedang. Sudah lupakan ide itu, sebaiknya kita fokus ke rencana kita kedepan. Dutamandala atau siapa saja yang akan menyerang kita, kita hadapi."

"Siap!"
"Dua hari lagi kita kembali,"
"Siap!"

Mendapat perintah itu, Andaka menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan. Semua data telik sandi Ia bakar di tomang. Kemudian Andaka pamit keluar mencari orang yang mau oper kontrak beserta barang dagangannya.

Jingga menutup toko. Hari hampir malam. Ia masuk kedalam bilik, tercenung memikirkan tindakan apa yang akan dikerjakan selama dua hari ini. BUkan untuk memutihkan namanya, Ia tidak peduli itu. Yang Jingga pikirkan adalah apa yang akan dia lakukan sebelum meninggalkan Lencari. Ingin sekali saja Ia menemuinya sebelum pergi. Tapi adabnya melarang melakukan itu. Jingga tidak ingin kesucian cintanya dinodai oleh perilaku asusila. Cintanya tidak boleh bercela. Namun rasa rindu dan takut berpisah membuatnya bingung. Akalnya buntu dikendalikan perasaan kesepian dirinya. Akhirnya Jingga memutuskan untuk mencurahkan isi hatinya dalam seikat daun lontar.

***

Keesokan harinya, seperti biasa, Jingga keluar memikul dua keranjang berisi barang barang dagangan menuju jalan dekat Kementrian Kawula Muda. Dijalan inilah Jingga melihat setiap hari Lencari lewat bersama suaminya mengendarai kereta. Belum Jingga duduk, ditikungan jalan muncul kereta Lencari. Jantung Jingga langsung berdegub kencang seiring semakin dekatnya derap langkah kuda penarik kereta menyusuri jalan. Sekejap jantung Jingga berhenti saat melihat wajah Lencari yang murung melintas didepannya. Ingin sekali mulutnya memanggil namanya, namun tercekat melihat laki laki yang berada bersamanya di dalam kereta.

Mengapa Lencari wajahnya murung?
Siapa yang menyakiti dirinya?
Apakah suaminya?

Cukup lama Jingga terdiam memandang hampa kejalan. Beberapa prajurit penjaga datang membangunkan Jingga dari linglungnya. Prajurit itu mengusir Jingga, dikira akan berjualan di jalan. Sambil meminta maaf, Jingga segera pergi kembali ke toko.

Di toko, Jingga tidak bertemu Andaka. Sepertinya menemui semua telik sandi untuk berpamitan. Jingga membuka toko, membersihkan dan menata barang barang yang diletakkan di depan.

Sedang asyik menata dagangan, datang Ibu yang kemarin. Wajahnya terlihat tegang. Pakaiannya ringkas dengan membawa buntalan barang. Tidak ada kereta yang menghantarkan. Sepertinya Ia jalan kaki kesini. Terlihat dari kakinya yang berdebu.
"Mas, bisa numpang sembunyi?"
Jingga hanya mengangguk mempersilahkan, Ia melanjutkan menata dagangan. Pasar masih sepi, orang orang datang ke pasar perabotan dan pakaian biasanya agak siang. Keramaian masih berpusat di pasar sembako.
Tak lama kemudian, datang laki laki kemarin. Ia mendekati Jingga.
"Mas, apakah melihat kekasihku?" Tanyanya sopan.
Jingga mengangguk sambil memberi kode kalau kekasihnya ada di dalam.
"Boleh aku masuk?"
"Silahkan," ijin Jingga.
Laki laki itu masuk menuju bilik di belakang. Mereka berpelukan melepas rindu dan ketegangan. Setelah tenang, mereka beriringan keluar. Berpamitan dan mengucap terimakasih kepada Jingga. Lalu berjalan keluar menuju ke Utara.
Jingga memandang haru sepasang kekasih itu. Hatinya tiba tiba tergerak untuk menjaganya sampai keluar gerbang kota. Cepat Ia tutup kembali tokonya. Lalu mengejar sepasang kekasih itu. Syukurlah Jingga tidak kehilangan jejak mereka. Jingga hati hati mengikuti dari jauh.

Perjalanan mereka terlihat lancar, tidak ada aral melintang. Mereka berjalan cepat setengah berlari menuju gerbang utara. Jingga langsung teringat pertempurannya dengan pasukan penghadang saat melihat gerbang utara. Pertempuran melawan loyalis Raden Dutamandala.

Sepasang Kekasih itu melewati gerbang utara tanpa pemeriksaan. Tidak terlihat penjaga berjaga di gerbang itu. Jingga terus mengikuti sampai diluar gerbang. Nalurinya menangkap ada pergerakan tidak biasa didepannya. Beberapa orang yang terlihat berjalan terpencar, terlihat berlari cepat mendekati sepasang kekasih itu. Dan benar, mereka menyergap lalu dibawa ke timur, menjauhi jalan utama. Kedua orang itu ditodong senjata dipaksa menuju rerimbunan semak belukar. Tempat yang cukup tersembunyi dari jalanan utama.

Jingga mengendap endap mengikuti kemana kelima orang membawa sepasang kekasih itu. Ternyata mereka dibawa ke sebuah tanah lapang yang tersembunyi. Disana sudah menunggu dua orang, dari pakaiannya terlihat yang seorang adalah tuannya, Orang gemuk penuh lemak.
"Bawa kesini kedua binatang itu!" Teriaknya.
Dibawah ancaman senjata senjata terhunus, sepasang kekasih itu berjalan ketakutan dengan tangan saling genggam menguatkan.
"Lepas tanganmu!" Teriak laki laki gendut itu, sigap anak buahnya melepas paksa genggaman kekasih itu.
"Perempuan tidak tahu malu! Beraninya mencoreng tuanmu!" Sebuah tamparan mengenai pipi putih perempuan itu. Darah menetes di bibirnya. Tapi Ia tidak mengeluh, hanya air matanya membasahi tanah.
Kekasihnya berusaha menghalangi, namun dirinya langsung ditelikung dan diikat erat. Laki laki itu hanya bisa meronta ronta tanpa bisa menolong kekasihnya yang terus ditempeleng kedua pipinya.
"Kamu tahu hukuman laki laki perusak rumah tangga orang?"
Laki laki itu diam saja tidak menjawab.
Orang gemuk itu langsung melakukan pukulan lurus ke hidung laki laki itu.
Prok!
Tulang hidung laki laki itu patah. Darah sengar mengucur dari hidungnya. Tak berhenti disitu, kembali pukulan mengenai pelipisnya, dagu dan diakhiri tendangan di dadanya membuat laki laki itu terjengkang. Lalu ditarik bangkit lagi oleh orang orang yang memeganginya.
"Kamu ini tak tahu diuntung! Keluargamu sudah saya tolong dari kemiskinan, namun balasanmu kepadaku begitu hina!" Orang gendut itu sekarang berpaling ke wanita yang bersimpuh di tanah. Tendangan menghantam pundaknya membuat perempuan itu terguling.

Jingga masih menahan diri melihat dari balik semak semak. Ia ingin lebih jelas tahu duduk perkaranya. Meski Ia miris melihat perlakuan terhadap keduanya. Namun hukum disini masih lebih sadis lagi. Karena hukuman bagi perebut istri orang adalah mati.

Orang gendut itu masih belum puas menyiksa, Ia menarik pakaian perempuan itu dengan paksa sampai terlepas semua. Kulit wanita itu berdarah oleh tarikan paksa pada kainnya.

Jingga tidak tahan melihatnya, Ia langsung meloncat maju merampas kain yang dipegang orang gendut itu, lalu memberikan kembali ke perempuan itu.
"Siapa kamu! Jangan turut campur urusan rumah tangga!" Orang itu terkaget marah mendapati seseorang bergerak cepat merampas kain di tangannya.
"Bisakah kita bicara baik baik Tuan?" Tanya Jingga tenang.
"Kamu membela binatang liar itu?"
"Ya, karena Tuan menganiayanya. Ada masalah apa sehingga harus menyiksa mereka?"
"Anak kencur ikut campur! Tangkap!" Orang Gendut itu malah memerintahkan anak buahnya menangkap Jingga.
Serentak mereka mengepung Jingga seperti mau menangkap ayam. Dengan santai Jingga berkelit berkali kali menghindari sergapan. Sesekali kakinya menjatuhkan mereka dengan jegalan.
"Bodoh kalian! Nangkap gembel saja tidak bisa!" Orang gendut itu ikut menerjang. Namun bukannya menangkap, Ia sendiri tersungkur mencium tanah terkena tenaga dorongan Jingga.
"Bajingan tengik!" Orang gendut itu bangkit. Wajahnya merah bercampur debu. Marah.
Sekarang niatnya bukan menangkap lagi. Niatnya melukai Jingga. Kerisnya Ia hunus langsung menusuk lambung Jingga. Kembali Jingga berkelit lalu menangkap pergelangan tangannya. Dengan puntiran sederhana laki laki itu berputar menahan rakit di sendi sendi tangannya. Jingga mengamankan keris ditangan orang itu, sebelum melukai orang lain dan dirinya sendiri.
"Mundur kalian semua, kalau tidak ingin tuanmu tertusuk kerisnya sendiri!" Perintah Jingga.
Keenam orang yang mengepung Jingga mundur berlahan dengan senjata tetap terhunus.
"Kamu lepaskan selirmu pada pria itu!"
Pria gendut itu berkelit berusaha melepas koncian Jingga. Tidak menjawab permintaan Jingga. Jingga semakin mengeraskan pelintirannya sampai berbunyi,
Tak!
Terdengar suara sendi terlepas. Pria gendut itu menjerit kesakitan.
"Kamu lepaskan selirmu pada pria itu!" Ulang Jingga.
"Iya, iya..,"
"Dengarkan kalian, perempuan ini sudah milik laki laki itu, urusan sudah selesai!" Kata Jingga kepada orang orang yang ada disana.
Semua diam, siaga.
Jingga memukul tengkuk orang gendut itu, membuatnya tersungkur pingsan.
"Bawa pergi tuan kalian, cepat! Sebelum saya berubah pikiran membunuh kalian semua!"
Dari pertempuran sesaat tadi, Jingga sudah bisa mengukur kemampuan orang orang ini. Orang orang itu juga jeri dengan kemampuan Jingga seperti siluman belut. Setelah saling berpandangan, mereka kemudian sepakat membawa pergi tuannya.

Jingga menghampiri sepasang kekasih yang sudah tidak karuan tampangnya.
"Kalian masih bisa jalan?"
"Masih Mas," jawab keduanya, mereka langsung menyungkurkan diri di hadapan Jingga, berterimakasih.
Jingga menahan mereka, memerintahkan bangun dan segera berangkat. Takut nanti orang gendut itu akan datang lagi dengan membawa orang lebih banyak lagi.
"Kalian berangkatlah, kalau mau kalian menuju tempatku, kalian bisa hidup tenang disana," Jingga memberikan petunjuk jalur ke tempatnya. Ia memberikan bekal secukupnya. Sepasang kekasih itu berusaha menolaknya, tapi Jingga memaksanya.
"Semoga kita segera bisa bertemu disana," Jingga menuliskan surat untuk diberikan disana.
"Terimakasih mas," ucap mereka sambil membungkuk hormat.
Jingga memandangi kedua kekasih itu berjalan pergi. Semoga mereka selamat, doa Jingga.
Agak lama Jingga berdiam di dekat gerbang utara, memastikan ada tidaknya pergerakan mencurigakan mengejar sepasang kekasih itu. Ternyata Tuan gendut tadi tidak berniat memperpanjang urusan, sehingga Jingga bisa melanjutkan rencananya hari ini.

***
profile-picture
profile-picture
profile-picture
itkgid dan 10 lainnya memberi reputasi
PAMIT KEMBALI

Saat menjelang malam, Jingga akhirnya kembali ke toko setelah memandangi Lencari keluar dari kementrian seperti hari hari biasa. Di toko, Andaka sudah menunggunya.
"Saya sudah dapat yang akan membeli barang barang kita. Jadi besok pagi sudah bisa berangkat," Andaka melaporkan kesiapannya.
"Terimakasih Paman,"
Jingga ke belakang membersihkan diri. Andaka mempersiapkan makan malam setelah menutup toko.
Mereka kemudian makan malam sambil membahas persiapan dan laporan terakhir para telik sandi. Setelah makan, Jingga berpamitan mau jalan jalan keluar.

Malam ini Jingga menuju kediaman Pangeran Mahesa, mau melihat Lencari sebelum besok pagi pergi. Tempatnya cukup jauh, namun karena Jingga sudah terbiasa jaraknya menjadi terasa dekat. Sampai di pohon tempat Ia biasa mengamati Lencari, Jingga setelah mengamati sekitar memastikan situasi aman, Jingga menaiki pohon dan duduk memandang ke kejauhan, bilik Lencari.
Semalaman.

Menjelang pagi Jingga gelisah. Batinnya meminta lebih daripada hanya memandangi seperti ini sebagai ritual perpisahan. Ia meraba coretan perasaannya yang digurat di daun lontar. Jingga menarik nafas panjang membulatkan tekad untuk melaksanakan rencananya malam ini.
Hati hati Jingga turun. Ia menyusup diantara daun daun menuju kediaman Pangeran Mahesa. Diamatinya sekeliling, tak ada penjagaan yang ketat. Penjaga lebih terkonsentrasi di gerbang depan. Lampu bilik utama tempat Pangeran Mahesa sudah lama padam.Bilik Lencari tertutup seperti biasa. Tidak ada yang menjaga. Jingga meloncati pagar disisi gelap langsung menyusup didalam rimbun tanaman hias. Ia terus mengendap endap mendekati bilik Lencari. Sejenak menunggu apakah ada langkah lain yang mengawasinya. Merasa aman, Jingga bergerak cepat menyusupkan seikat lontar di sela sela bawah pintu bilik Lencari. Ia kemudian kembali masuk rimbunan bunga, merangkak lalu meloncat keluar pagar. Secepatnya Ia lari menjauh menuju perbukitan, sembunyi, mengamati adakah yang mengejarnya diam diam. Suasana menjadi hening, hanya suara desau dedaunan dan sisa sisa binatang malam yang belum selesai dengan urusannya. Tak ada tanda tanda orang mengikutinya. Dirasa aman, Jingga turun kembali menuju pohon tempat Ia bersembunyi mengamati. Kali ini Ia ingin memandang Lencari terakhir kali. Lencari yang baru bangun dari tidur. Lencari yang terkejut menemukan surat darinya.

Harap harap cemas Jingga menanti reaksi Lencari. Tiba tiba Ia merasa bersalah, telah merusak kebahagiaan Lencari saat ini dengan surat konyol itu. Ia membayangkan Lencari menangis sedih kala membaca surat itu, kebingungan mencari dimana Jingga. Membuka luka lama. Sementara dirinya hanya bisa bersembunyi di kejauhan. Bahkan sesaat lagi pergi. Ini seperti melukai Lencari lalu pergi. Benar benar jahat. Kalau ada waktu, Jingga akan mengambil kembali surat itu. Apapun resikonya. Tanpa sadar Jingga memukuli kepalanya sendiri sambil bergumam, bodoh...bodoh.

Jantung Jingga berhenti berdetak kala pintu bilik Lencari terbuka. Muncul Lencari bak matahari pagi menyinari wajah Jingga. Hangat, lembut dan menenangkan. Dengan melihat wajah Jingga saja orang akan bisa menebak bahwa apa yang dilihat Jingga adalah hal yang paling luar biasa dalam hidup Jingga.

Dikejauhan Lencari keluar bilik hendak menuju pemandian. Dalam kondisi mengantuk, tanpa sadar menginjak seikat daun lontar dibawah pintu. Lencari mengambil lalu diletakkan di meja tanpa membacanya. Ia pikir dokumen dari Pangeran yang harus dipelajarinya, seperti yang sudah sudah dilakukan Pangeran.

Namun yang ditangkap Jingga lain. Ia melihat tidak adanya perubahan ekspresi Lencari saat mengambil suratnya. Lencari hanya mengambil lalu meletakkan di meja, kemudian berjalan keluar menuju pemandian pribadi. Sikap itu amat menghancurkan perasaan Jingga. Ia merasa Lencari sudah melupakannya. Suratnya seperti tidak berguna, tidak menggetarkan jiwanya. Jangankan dibaca, dilihatpun tidak.

Tiba tiba Jingga menjadi lemas. Sedih, malu, hancur, lucu menjadi satu. Ia tertawa sendiri sementara matanya meneteskan air mata. Tanpa menunggu lama, Jingga langsung turun, berlari cepat kembali ke Toko.

Andaka tidak bertanya darimana Tuannya semalam. Ia hanya menunggu tuannya siap berangkat. Tak lama Jingga sudah siap. Matanya merah oleh tangis sepanjang jalan tadi.
"Ayo kita berangkat," ajak Jingga. Andaka menutup toko lalu mengeluarkan dua ekor kuda tunggangan. Tanpa banyak bicara mereka berdua bergerak menuju gerbang Utara, ke Kahuripan.

***

LENCARI

Setelah mandi di Pemandian khusus dirinya, Lencari kembali masuk bilik. Mengenakan baju kerja, berdandan seperti biasa menggunakan riasan tipis, bersahaja. Ia lalu ingat tadi meletakkan seikat daun lontar diatas meja kerja. Ada perasaan tak biasa menyeruak dalam dadanya. Lencari menghampiri meja kerja. Saat membuka ikatannya, Lencari tersentak melihat guratan di daun lontar itu. Itu guratan khas yang dulu selalu dibacanya disaat saat sepi sendiri di Kahuripan. Lencari beranjak keluar, berkeliling mencari cari adakah seseorang yang meninggalkan daun lontar ini masih berada disini. Para Emban mengeleng saat ditanya adakah orang yang datang kemari.

uSAI usahanya mencari sia sia, Lencari kembali masuk bilik, menutup pintu dari dalam. Ia mulai membaca lembar demi lembar surat dari Jingga yang ditulis menggunakan bahasa sandi Sansekerta.

Apa kabar Cari,
Maaf baru kali ini aku memberi kabar,
Bukan karena tidak sempat, tapi aku tahu kamu sudah menjadi istri orang,
Sekian lama aku mencarimu, namun setelah menemukan, aku tidak berani menemuimu.
Pagar pernikahan terlalu kuat untukku.
Aku tidak ingin namamu rusak oleh perasaanku.

Apa kabarmu Cari,
Aku lihat kamu senantiasa dilimpahi nikmat luar biasa,
Kegiatan yang bermanfaat,
Suami yang perhatian,
Setiap aku melihat kalian berdua,
Aku selalu mendoakan kebahagiaanmu,
Meski tak bisa kupungkiri
betapa bahagianya bila itu diriku

Bila kau tanya kabarku Cari,
Aku biasa saja,
difitnah dan diburu,
Sama seperti dulu,
tak ada bedanya.

Aku pamit Cari
mencoba berbuat hal benar dan berguna
bersama sahabat seperjuangan
jadi jangan sedih
aku tidak sendiri

Sampai jumpa cari
Aku selalu mencintaimu

Jingga
profile-picture
profile-picture
profile-picture
itkgid dan 12 lainnya memberi reputasi
Halaman 82 dari 231
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di