alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Kesunyian Menjadi Teman Terbaik(Reborn)
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b5dcb6294786803538b457b/kesunyian-menjadi-teman-terbaikreborn

Kesunyian Menjadi Teman Terbaik(Reborn)

Tampilkan isi Thread
Halaman 11 dari 14

LV

"Saya sudah siap Pak,Setelah memikirkan nya dengan matang,akhirnya dengan tegas saya memilih Resign dari perusahaan ini?"jawab ku sembari meletakkan bolpoin di atas kertas

"loh Anda bener bener sudah memikirkannya Mas?tunjangan yang akan diberikan serta gaji untuk karyawan yang di mutasi padahal lumayan lho"ujar Site Manager 

"Saya tahu itu Pak,namun itu semua tak dapat membayar rasa kebersamaan dengan keluarga" ucap ku

Site Manager tersebut tersenyum kepadaku lalu berdiri dan menepuk bahuku sembari berkata "pilihan yang bijak, pilihan Anda mengingatkan saya sewaktu pertama kali masuk di perusahaan ini, dan ketika itu saya memilih dimutasi dari pada memikirkan keluarga saya akhirnya hanya penyesalan yang saya terima karna saat ini saya jauh dari keluarga, yah semoga pilihan Mas Salman menjadi pilihan terbaik untuk Mas Salman dan semoga mendapatkan pekerjaan yang lebih baik lagi setelah disini"

"terimakasih Pak, saya pamit dulu" ujar ku seraya menjabat tangannya lalu keluar dari ruangannya

Aku berjalan pelan keluar dari kantor sembari membathin "Maaffin anakmu Mak, maaffin aku San mungkin keputusan ku saat ini akan merugikan kalian dan akan mengubah semua rencana ku namun aku memilih untuk resign karna aku sayang kalian berdua, kalian adalah harta yang berharga bagiku dari pada uang dan tunjuangan yang menggiurkan untukku"

Malam harinya aku duduk berdua dengan Emak lalu surat pengunduran diriku aku tunjukan ke Emak.

"maaffin aku Mak telah mengecewakan Emak" ucap ku lirih

Saat Emak membaca surat tersebut aku tatap wajahnya, ternyata Beliau malah tersenyum lalu berucap "sebenernya Emak saat menandatangi surat izin yang kamu kasih itu juga terpaksa, Emak berharap kamu kerja disini aja meski gaji sedikit Emak enggak apa apa yang penting bisa liat kamu"

"Emak seriusan enggak kecewa?" ujar ku

"iyah, dan dengan surat ini Emak semakin yakin kalau Anak Emak emang bener bener sayang sama Emak"

"Alhamdulillah, makasih Mak udah mendukung keputusan dari ku, doakan Salman supaya dapat kerjaan yang lebih bagus dari sebelumnya yah Mak" ujar ku sembari menciumnya

"iyah pasti emak doakan kok" seraya mengusap rambut ku

"kalau Arsanti gimana Mak?"

"udah enggak usah mikirin aku Mas, aku sama jawabannya seperti Emak" ujar Arsanti yang keluar dari pintu dapur sembari menghidangkan teh kepadaku

"tapi kamu tau kan gaji di sini kecil daripada di tambang?"

"aku enggak perduli gaji Mas, yang aku harapkan kamu tetap disini menemani ku, kita ulang lagi usaha yang sudah kita rencanakan dari awal yah" sembari memeluk lengan ku

"tuh denger Nak, jarang jarang ada wanita sesabar dan sepengertian kayak Arsanti, dan Emak harap kamu tetap semangat yah mencari kerja disini, calon istri yang baik adalah yang mau berusaha dari Nol bersama calon suaminya bukan mau ketika banyak duit aja"

"iyah Mak, berarti enggak salah kan Salman milih dia"

"iyah yang penting sekarang kamu cari kerja dulu, uang buat nikah masih kamu simpen kan?"

"masih kok Mak"

"yaudah tuh duit disimpen jangan dipake pokoknya saat kamu udah kerja dapet beberapa bulan baru deh nikah sama Arsanti"

"iyah Mak, doakan yah moga enggak lama panggilan kerjanya di tempat lain"

"aamiin"jawab Emak


Setelah itu Emak pergi meninggalkan kami berdua untuk melanjutkan aktifitasnya menonton sinetron, sedangkan aku dan Arsanti berdua di ruang tamu.

"kamu bener enggak pernah menyesal aku sudah keluar dari dunia pertambangan?"

"sama sekali enggak Mas, aku malah seneng kok karna waktu kebersamaan kita makin terjalin berbeda ketika Mas kerja di tambang pas aku tidur mas udah berangkat, pulang pas aku ngantuk"

"makasih yah kamu sudah ngertiin aku, jujur tanpa dukungan mu dan Emak entah aku mungkin akan depresi menghadapi masalah ini"

"udah selayaknya aku terus mendukungmu mas, aku yakin kok Allah selalu bersama hambaNya yang sabar, dan aku yakin kelak rencana kita akan benar benar terwujud"

"aamiin" ucap ku lalu mencium rambutnya yang harum semerbak di indra penciuman ku

"oia Mas aku izin pulang yah pas liburan semester ini, maklum kangen sama Mas Andre dan Alfian dirumah"

"oh yaudah pulang aja, nitip salam aja yah buat Kak Fatimah bilang maaf enggak bisa hadir di pesta pernikahan mereka karna aku juga pas lagi training kerja kemaren"

"iyah Mas entar aku salamin deh"


3 hari setelah Arsanti pergi untuk pulang menemui Mas dan adiknya aku disibukkan kembali mencari pekerjaan kesana kemari, puluhan surat lamaran kerja aku masukan kebeberapa perusahaan yang dekat dengan rumah ku hingga ke banjarmasin, namun tak satu pun lamaran pekerjaan ku direspon dikarnakan pengalaman kerja ku bukan di bagian yang perusahaan ingin kan hingga mereka mengabaikannya.

Saking letihnya diriku berputar putar di kota yang berjuluk seribu sungai akhirnya aku sempatkan untuk mampir sejenak di mesjid terbesar di kota tersebut yang berseberangan dengan sungai martapura.

"DERRTT...DERRRT...DERRRTTT" Tiba tiba hp ku bergetar tanda ada telpon masuk, aku bergegas mengeluarkannya dari kantong celanaku berharap dapat panggilan kerja, saat melihat di layar hp ku ternyata yang menelpon adalah tetangga sebelah rumah.

"Ada apa yah?, kok tumben tetangga ku menelpon ku?" bathin ku

"halo Man, kamu dimana?" ucap tetangga ku yang sepertinya lagi gelisah

"aku di banjarmasin Mas, ada apa yah kok tumben nelpon?"

"cepetan pulang sekarang juga, Ibu mu Man, ibumu..."

"Emak kenapa Mas?" aku mulai cemas

"TUT..TUT..TUT.." tiba tiba telpon terputus

"dammit...!!!" umpat ku, aku pun mencoba lagi menghubungi tetangga ku namun nihil telponnya malah enggak aktif

Karna rasa cemas yang berlebihan aku bergegas menyalakan motor Arsanti lalu melajukan nya kearah jalan pulang, di hati ku sudah enggak karuan rasa berharap enggak terjadi sesuatu apapun terhadap Emak "Ya Allah jaga lah ibu ku, jauhkan lah beliau dari segala macam mara bahaya" bathin ku sembari berdoa

Sesampainya dirumah aku lalu melihat tetangga ku di teras mondar mandir seperti orang bingung,lalu aku menghampirinya untuk menanyakan perihal keadaan Emak.

"Mas Emak kenapa?, mana Emak?"

"Emak kamu tadi jatuh dari kamar mandi Man"

"Hahh...! Kok bisa Mas, terus mana Emak sekarang"

"udah dirumah sakit, ayo cepetan kita kesana karna saat jatuh dikamar mandi ibumu enggak bergerak sama sekali"

Aku berdua bersama tetangga ku pun bergegas kerumah sakit untuk segera melihat keadaan Emak, entah kenapa perasan ku bertambah cemas saat tau kronologi kejadian yang menimpa Emak ku, aku enggak mau kehilangan orang tua yang mendidik ku semenjak kecil untuk kedua kalinya setelah kepergian Bapak.

Sesampainya dirumah sakit aku lalu di arahkan suster untuk menuju keruangan dimana tempat Emak dirawat, sesampainya didepan kamar dimana Emak dirawat aku lalu membuka pintu masuk, aku begitu lemas saat pandangan ku tertuju kepada Emak yang terbaring enggak bergerak di atas ranjang.

"Maakkk..., Emak enggak apa apa kan, bangun Mak, ini anak mu Mak" ujar ku menangis sembari berusaha membangun kan beliau

"Maaf Mas, Pak mohon untuk jangan mengganggu pasien dulu, mohon bersabar dokter yang akan menangani nya nanti"

"tapi ibu ku enggak apa apa kan Sus?, tolong jawab"

"maaf Mas, saya belum bisa memastikan keadaan Ibunya Mas, sebelum dokter datang, tolong Masnya bisa keluar dulu agar pasien tidak terganggu"

"udah Man kita keluar dulu, bener kata susternya Emak kamu jangan diganggu" ujar tetangga ku membujuk diriku

Aku pun akhirnya keluar sambil sesekali menengok kebelakang berharap Emak bergerak dan memanggilku, namun itu semua hanya angan semata karna ibu masih dalam posisi seperti pertama aku melihatnya.

Aku berdiri di pintu sembari menempelkan wajah ku di kaca dengan lirih aku berucap "Makk..bangun Mak...jangan tinggalin Salman sendiri"

"sabar Man, terus doakan Emak supaya enggak terjadi apa apa dengan Beliau"

"Mas siapa yang nyebab kan Emak seperti ini?" tanya ku

"aku enggak tau Man, yang aku tau ada beberapa orang datang kerumahmu salah satunya ponakan Alm.Bapakmu siapa namanya aku lupa"

"pepet maksud mu?" selidik ku

"aahhh iyah itu si pepet yang dulu pernah tinggal dirumah mu saat kamu pergi dari rumah"

"terus dia ngapain Mas?, dia ngapain kerumah?" ujarku setengah memaksa

"yang aku dengar cuman suara ribut ribut aja entah apa yang Emak dan Pepet perdebatkan"

"sekarang pepet dimana Mas jawab!" aku mulai emosi

"sabar kamu jangan gegabah dulu, inget kondisi Emak mu sekarang"

"enggak bisa!! Jawab Mas dimana Pepet!" bentak ku

"tadi setelah berdebat dengan Emak mu dia pergi kearah rumah orang tua alm.Bapak"

Setelah mendengar penuturan dari tetanggaku akhirnya aku bergegas berlari keluar dari rumah sakit, menuju kerumah untuk mencari sesuatu yang bisa ku pergunakan untuk menghabisi Pepet, aku sudah enggak perduli kelak bakal masuk penjara, karna dirinya lah yang menyebab kan Emak ku begini.

Saat mendapatkan sebuah parang panjang aku lalu mengambilnya, dan pergi kearah dimana pepet singgah, saat tepat di muka rumah orang tua Alm.Bapak aku lalu berjalan dan berteriak "PEETT...LO DIMANA??, KELUAR LO BANGS*T"

Saat mendengar teriakan ku pintu pun terbuka, ketika melihat yang membuka ternyata pepet, aku lalu berlari seraya mengangkat parang bersiap untuk membacoknya namun keburu dirinya sudah menutup pintu.

"PRANK...PIYAR PIYAAARR" parang aku arah kan ke kaca rumah ortu Alm.Bapak

Karna tak kudapati pepet keluar dari pintu depan aku mencoba berjalan kebelakang rumahnya dan ku lihat pepet berlari dari arah belakang rumah, aku pun berlari menyusulnya sembari mengangkat parang ingin menebas badannya, namun hanya mengenai sedikit goresan di bajunya yang robek terkena sabetan parang ku.

"TOLOOONG...TOLONGGG..." Teriak pepet hingga membuat tetangga sekitar rumah ortu Alm.Bapak pada keluar termasuk Pak RT

"BUUGGHH ARRGGH..." teriak pepet yang terjatuh karna tersandung batu

"ampun Man ampun jangan bacok Gue" ujarnya meminta ampun padaku

"dasar iblis laknat Lo, harusnya Lo mati aja dari dulu" ujar ku lalu mengangkat parang ku dan ingin membelah kepalanya namun tangan ku sudah keburu di tangkap oleh beberapa warga setempat

"udah man sabar sabar...istighfar, nyebut" ujar warga yang menyabarkan ku

"enggak bisa, dialah penyebab Emak ku sekarang masuk rumah sakit, dia harus menanggung ini semua" ujar ku yang berusaha melepaskan cekngkraman tangan warga yang mengunci tangan ku, namun tak kunjung dapat ku lepaskan dan Akhirnya parang yang aku pegang lepas dari pegangan ku dan beberapa warga yang memegang ku pun melepaskan ku, namun keburu pepet sudah melarikan diri, rasa kesal karna tidak mendapatkan apa yang aku ingin kan membuat ku terduduk menangis,

Dengan berjalan sempoyongan aku kembali kerumah sakit dimana Emak dirawat, sesampainya dirumah sakit akhirnya aku diizinkan masuk kekamar Emak karna Beliau sudah siuman, dan yang paling membuat ku sedih adalah ternyata Emak terkena struk dibagian kanan beliau dari muka sampai kaki enggak bisa digerakin.

"Makk..." sapa ku dengan suara pelan

"MMaann...?" sahut Emak yang sedikit susah berbicara 

"iyah Mak ini Salman, Emak gimana keadaannya?"

"eemmmak ba..baiik Nnakk, maaffin Emak yyahh Nak" jawab Emak sembari terbata bata

"maaf buat apa Mak?, Emak enggak salah apa apa kok, kenapa meminta maaf sama Salman" ujar ku seraya memeluk tangannya

Dengan tergagap Emak menceritakan bahwa pepet datang kerumah untuk mengusir Emak karna rumah yang kami tempati serta tanahnya sudah dijual olehnya karna semasa Alm.Bapak masih hidup dan kondisi beliau sakit dengan tega surat tanah dirampas dan di balik nama menjadi nama Orang tua Alm.Bapak dan otomatis ketika rumah dijual uangnya akan di bagi rata oleh saudara Alm.Bapak yang berjumlah 4 orang.

Dengan alasan Bapak sudah wafat jadi pepet beserta adik adik Bapak hanya memberikan setengah dari uang hasil penjualan rumah tersebut kepada Emak, bukan masalah uang yang emak pikirkan namun rumah yang di jual ini banyak tersimpan kenangan bersama Alm.Bapak jadi sangat berat ketika Emak tau kalau rumah tersebut akan terjual.

2 hari kemudian aku berdiri tepat didepan rumah ku dan menyaksikan alat berat menghancurkan rumahku, rumah yang selama ini menjadi tempat tinggal ku yang aku bersama alm.Bapak dan Emak bernaung didalamnya selama puluhan tahun, rumah yang di bangun oleh Alm.Bapak dengan susah payah kini rata dengan tanah, entah dimana lagi aku dan Emak akan tinggal...
mantap gan mumpung gabutemoticon-Cendol Gan
Wah di tempat lain ini cerita udah tamat.

Ternyata agan dan istri juga baca ceritanyaas anto dan ari. Itu dua duanya sad ending mas, tp punya mas salman happy.

Alhamdulillah.
Quote:


Jgn kasih tau dlu bray, endingnya ketahuan kan hadeh😒
Lihat 1 balasan
Balasan post ferdy988
Quote:


Ga ada bocoran itu gan, kan masih ga bilangbjg siapa yg jd nikah sama agan.

monggo di lanjut bray,
ane nyimak ya gan
udah lama gak mampir, skali mampir blum update emoticon-Ngakak

Semangat updatenya gan emoticon-Sundul

Arsanti I

Mata ku menatap kosong kearah reruntuhan bangunan yang ada dihadapan ku, entah apa yang terjadi selama 2 minggu setelah aku tinggalkan rumah ini, dulu dirumah ini ada sebuah kehidupan satu keluarga yang begitu harmonis dan mempunyai anak angkat yang bernama asli Ferdy sedangkan Salman adalah nama pemberian Dari Ibu kandungnya yang telah lama meninggalkannya semasa dirinya bayi.

Meskipun dirinya tak setampan artis korea tapi sukses membuat hati ku tak dapat berpaling darinya, sosok yang amat sangat sederhana namun begitu mempesona ku, latar belakang kami sama yaitu ditinggalkan seorang Ibu semasa kecil bedanya aku dapat melihat ibu ku semasa aku berumur 5 tahun sedangkan Salman sejak bayi di tinggalkan ibunya tanpa tau ciri fisik Ibunya seperti apa.

"Mas dirimu sekarang ada dimana?, kenapa hp mu tak kunjung jua aktif?apakah dirimu sudah tak memeperdulikan ku lagi yang mencari carimu selama 2 hari?" bathin ku sembari mengusap air mata ku yang sudah menetes

Aku mempertanyakan keberadaannya pada tetangga sebelah rumah, ternyata Mas Salman sudah 5 hari yang lalu pindah rumah, dan meninggalkan satu sepeda motor kepunyaan ku.

Sedikit cerita setelah kejadian terjualnya rumah Mas Salman dari tetangganya bahwa dia kini tinggal di sebuah rumah yang amat jauh dari suasana perkotaan, Emak yang aku anggap sebagai Ibuku sendiri kini terbaring tak berdaya dikarnakan penyakit struk yang beliau alami dan Salman dengan setia masih merawat ibunya hingga kini dan bekerja sebagai reseptionis di sebuah penginapan syar'iyah namun saat aku tanyakan kepada tetangga dirumahnya mereka tak ada satu pun yang tau alamat tempat tinggalnya bahkan penginapan tempat dirinya bekerja pun tidak ada yang tau.

Aku bertanya kepada Bang Nur yang sudah di anggap Abang angkat oleh Salman pun tidak tau dimana keberadaan Salman, Kiwil yah si Kiwil aku ingat Mas Salman adalah teman akrab si kiwil siapa tau dirinya mengetahui dimana keberadaan Mas Salman.

Aku lalu mengendarai sepeda motor menuju kerumah kiwil yang alhamdulillah masih inget jalan menuju rumahnya, sesampai dirumah kiwil aku mencoba mengetok rumahnya, enggak lama keluarlah Kiwil, saat melihatku dirinya sedikit terkejut

"maaf Lo ini kan teman dekat Salman yah?" selidiknya

"iyah bisa dibilang pacarnya Mas, Gue kesini untuk mencari tau dimana Mas Salman tinggal?"

"waduh Gue bener bener enggak tau mbak, Lo tanya yang lain gih" jawab kiwil

"please Mas" ujar ku yang bener bener memelas seperti pengemis yang meminta belas kasih

"aduh tatapan Lo jangan gitu dong ke Gue, Gue bener bener enggak bisa liat cewek mewek gini, ahhh maaffin Gue Man, cewek Lo bikin Gue lemah" ujar kiwil

"gimana Mas, Lo mau kasih tau Gue dimana alamat Mas Salman sekarang?"

"oke tunggu sebentar yah" lalu dirinya masuk kerumah entah apa yang akan di ambil

Enggak lama Kiwil muncul lalu memberikan sepucuk kertas yang bertuliskan alamat suatu daerah yang berseberangan dengan tempat tinggal Mas salman yang dulu yaitu Martapura, daerah yang paling dekat dengan banjarbaru.

"pacar Lo 3 hari yang lalu dateng saat Gue nikahan, dan memberikan alamatnya yang sekarang dan doi berpesan supaya jangan kasih tau ke orang lain, terpaksa dah Gue berkhianat ama janjinya karna Lo maksa maksa Gue" ujar kiwil

"makasih Mas, bantuan Mas Kiwil semoga berarti buat ku" sembari tersenyum lalu pergi dari rumah tersebut


Lalu aku bergegas berjalan menuju sepeda motorku dan melajukan kearah dimana alamat tersebut tertera, meskipun aku belum tau jelasnya alamat tersebut karna bukan asli orang sini, butuh 2 jam perjalanan yang ku lalui karna sebentar sebentar diriku berhenti sejenak untuk bertanya dimana alamat Mas Salman yang tertera pada kertas.

Akhirnya motorku terhenti pada suatu rumah yang memiliki gang yang cukup sempit, dan hanya cukup satu motor untuk dapat memasukinya, disinikah tempat Mas Salman sekarang tinggal?, dipedesaan yang cukup jauh dari perkotaan?. lalu diriku memasuki gang sempit tersebut dan bertanya kepada orang orang apakah kenal dengan Mas Salman a.k.a Ferdy atau Emak Asiah?, akhirnya orang kampung tersebut menunjuk sebuah rumah paling ujung yang bercat putih, rumah minimalis yang cukup sederhana dengan cat yang sudah agak luntur tersebut sekarang ditinggali oleh Mas Salman, aku tak menyangka kenapa kehidupannya sekarang begitu miris.

Saat mengetuk rumahnya terdengar suara dari dalam, yah suara Emak yang aku rindukan "siapa?" tanya Emak

"aku Mak Arsanti" jawab ku

Enggak lama pintu pun di buka, pandangan pertama melihat kondisi Emak yang sekarang dengan Emak yang sebelum aku tinggalkan sangat lah berbeda jauh, fisiknya yang dulu sangat kuat kini hanya bertumpu pada suatu benda untuk dirinya bisa berjalan.

"Mak..." ucap ku sembari meneteskan air mata karna sedih melihat beliau sekarang seperti ini

"kamu Nak?, kok bisa tau alamat Emak yang sekarang?" tanya Beliau

"Emak kenapa enggak ngasih tau aku kalau emak sekarang kondisinya seperti ini?, Mana mas salman?, kenapa dia tega enggak kasih tau aku?, ya Allah Mak.." aku menutupi mulutku lalu memeluk Emak

"maaffin Emak Nak, bukan Maksud Emak dan Salman jahat ke kamu tapi kondisi kami sekarang berbeda dengan apa yang kamu lihat dulu" ujar Beliau sembari membelai rambut ku

Aku lalu membimbing Beliau berjalan kearah kursi untuk supaya Beliau bisa duduk, dengan setengah badan yang sudah enggak berfungsi dengan baik Beliau berjalan pelan menuju kursi lalu duduk.

"nomer hp Mas Salman kenapa enggak pernah aktif lagi Mak?, aku bener bener khawatir dengan kalian, dan kenapa Emak mesti pindah kesini?, rumah Emak yang dulu kenapa sekarang rata dengan tanah?"

Beliau dengan terbata bata menjawab pertanyaan ku satu persatu hingga tak sanggup lagi aku mendengarkannya hingga menangis sesegukan di pangkuan Emak.

"sekarang Salman kerja di penginapan Nak dia kerja malam, siangnya dirumah bantu ngurus Emak, masak, nyuci baju Emak, dan bersih bersih rumah, hpnya kemaren hilang saat bertengkar dengan pepet makanya enggak aktif lagi nomernya"

"kondisi Emak sekarang gimana?"

"Alhamdulillah baik Nak, Salman lah yang sekarang merawat Emak dan merelakan semua uang yang dia kumpulkan buat nikahin kamu hanya untuk mengoabati penyakit Emak" jawab Emak sedih

"Mas Salman sekarang mana Mak?" tanya ku sembari mengambil kan air putih kepada Beliau

"dia lagi beli sesuatu diwarung Nak, mungkin sebentar lagi akan balik"

Enggak lama terdengar suara sepeda motor vario yang didapatnya saat bekerja di tambang, setelah mematikan mesin pintu pun terbuka pandangan ku lalu mengarah kepadanya, lama kami saling pandang setelah itu dengan cuek dirinya berjalan melalui ku kearah dapur untuk menaruh bahan makanan mentah.

"Mak, aku izin mau ngajak Mas Salman sebentar yah" ucapku

"iyah Nak, hati hati dijalan" jawab Emak

Lalu aku berjalan mendekatinya dan memegang tangannya, lalu menariknya untuk keluar rumah.

"mau kemana?" ujarnya yang menyetop ku

"ikut aku, aku pengen ngomong"

"kalau ngomong disini aja, ngapain pake keluar segala" ucapnya dengan sikap dingin kepadaku

"Lo udah bikin Gue nangis 3 hari sekarang Lo mau nolak ajakan Gue?" ujar ku yang mulai sedikit mengeluarkan airmata

Karna melihat ku menangis akhirnya dirinya mau ikut juga seraya berkata "mau kemana sekarang?"

"kedanau" jawab ku singkat

Motor pun melaju kearah danau tempat dimana biasa kami nongkrong untuk melepaskan rasa jenuh dan bosan dirumah, sesampainya di danau aku lalu turun dan berjalan mendekatinya.

"PLAKKK....!!" dengan reflek aku menampar pipinya

"Lo ngajak Gue kesini cuman buat Lo tampar doang?" ucapnya

"iyah karna Lo udah bikin Gue nangis selama 3 hari, Lo kemana saat Gue nyari Elo?, kenapa cuman Kiwil yang boleh tau alamat Lo, Gue siapa Lo Mas! Gue siapa Lo!"

Dirinya hanya terdiam lalu pergi kearah jembatan dan duduk disana sembari menatap kosong kearah danau, aku dengan rasa menyesal setelah melihatnya dengan wajah yang menunjukan kesedihan akhirnya meminta maaf lalu duduk disampingnya dan bersandar dibahunya.

"maaffin Aku San, uang yang aku rencanakan untuk masa depan kita sudah habis, aku lebih memilih kesembuhan Emak dari pada masa depan ku, kalau kamu mau, kamu bisa mencari lelaki lain yang bisa membahagiakanmu dan lebih mapan dari ku"

Pernyataannya membuat dadaku begitu sesak, kemana Mas Salman yang dulu?, yang membuat ku bangga mempunyai lelaki seperti dia, kenapa sekarang semangatnya menjadi redup begini?, dan membuatku sedikit kecewa atas perubahan sikapnya kepadaku.
akhirnya di reborn jua emoticon-Smilie
Ohh iya ky ap kabar bang nur
Smlm hndk mampir ujar Mun hndk ke pantai asmara emoticon-Big Grin
Lanjut urang banua jua emoticon-Hammer (S)
Jejak
Partnya bikin emoticon-Mewek

Arsanti II

"apa gunanya cincin ini tersemat dijari manis ku Mas?, kalau sekarang Mas Salman yang dulu aku kenal adalah sosok pria tangguh dan kuat menghadapi setiap cobaan kini tak aku dapati sifat itu didiri Mas, yang ada hanya lelaki yang bermental tempe, gampang menyerah tanpa mau berusaha untuk mengulangnya dari nol"

"Lo mau pakai atau Lo buang enggak akan bisa merubah keadaan San, Lo wanita satu satunya yang Gue cintai namun kecintaan Gue terhadap orang tua yang merawat Gue semenjak kecil mengalahkan itu semua, maaffin Gue dan Gue harap ini pertemuan terakhir kita San" ujarnya lalu berdiri dan berjalan kearah sepeda motor

"kamu serius Mas dengan apa yang kamu katakan barusan?"

"apakah ada terlihat keraguan di wajah Gue?" 

Wajahnya menatap serius kearah ku, yah dirinya memang serius untuk mengakhiri hubungan ini, yang sudah 5 tahun berjalan kini kandas sia sia.

"yuk pulang, Gue enggak bisa ninggalin Emak lama lama" pintanya yang mulai menyalakan sepeda motor ku

Diperjalanan kami berdua hanya terdiam seribu bahasa, tak satu pun dari kami yang berbicara, sesampainya dirumah lalu Mas Salman bergegas masuk kedalam kamarnya dan menutupnya begitu saja tanpa ingin melihat ku untuk yang terakhir kalinya.

"kalian kenapa Nak?" selidik Emak yang curiga dengan gelagat kami

"enggak apa apa kok Mak, Santi pulang yah" ujar ku seraya mencium tangan Beliau

"oh iyah Nak hati hati dijalan"


Aku kalu berjalan keluar rumah namun langkah ku terhenti karna melihat cincin pemberian Mas Salman masih tersemat di jari manis ku, lalu aku mencoba untuk melepaskan cincin tersebut dan berjalan kembali kedalam untuk mendatangi Emak dan memberikan cincin itu ke tangan Emak.

"loh ini cincin dari Salman kok kamu kasih ke Ibu Nak?"

Aku enggak menjawab pertanyaan Ibu dan tetap melangkah keluar rumah sambil menyapu air mata yang mulai jatuh di pipi ku, motor lalu ku nyalakan dan pandangan ku kembali aku arahkan kerumah Mas Salman berharap dirinya berdiri di muka pintu namun itu semua cuman khayalan ku saja.

Akhirnya aku pulang dengan penuh kekecewaan yang teramat sangat, "tega kamu Mas, kenapa kamu menyianyiakan hubungan yang sudah lama terjalin?, salah ku dimana?, kenapa dirimu menolak untuk mengulang usaha kita yang sudah kita rencanakan bertahun tahun yang lalu" bathin ku

Sebenernya banyak pertanyaan yang masih mengganjal dihatiku tentang sikap perubahan Mas Salman yang tiba tiba berubah drastis, antara yakin atau enggak dengan kata kata terakhir yang dirinya ucapkan kepadaku, aku curiga ada sesuatu yang ditutupi olehnya, aku tau persis ini bukan sifat Mas Salman karna aku sudah mengenalnya bertahun tahun.

Namun aku sudah terlanjur kecewa dan sakit hati dengan kata katanya meskipun aku tak yakin yang di ucapkan dirinya itu dari hatinya, mau enggak mau akhirnya aku harus tinggal sendiri di kota ini tanpa ada Mas Salman yang dulu selalu menemani disetiap waktuku, dan mungkin tinggal nunggu waktu untuk diriku dapat melupakannya.

Selama 5 tahun tinggal dan berkuliah di kota ini selama itu pula banyak lelaki yang mendekati ku hingga ingin menikahiku namun aku tolak semua bukan karna aku belum bisa move on dari Mas Salman tapi aku ingin konsen dengan kuliah ku dan membanggakan Kakak ku yang rela masih membiyayai kuliah ku.


Tepat ditahun 2014 akhirnya aku wisuda juga dengan bergelar s1 ada rasa bahagia tersendiri saat melihat Mas Andre bangga melihat ku sudah wisuda, namun dihati kecil ku merasa sedih karena di tahun 2011 setahun setelah aku lost contact dengan Mas Salman ternyata dirinya sudah tidak sendiri, yah dia telah menggandeng wanita lain yang entah pacarnya atau bakal jadi calon istrinya.

Malam harinya tepat di tahun yang sama saat aku sudah di wisuda aku berkeinginan untuk pamit kepada Emak karna diriku akan pulang kembali ke rumah asal ku, sesampainya dirumah Mas Salman motor aku matikan dan langkah ku terhenti ketika mendengar suara percekcok kan antara Mas Salman dengan perempuan yang entah siapa didalam rumah Mas Salman.

Karna penasaran lalu aku mendekatkan telinga ku dipintu masuk rumahnya.

Mas Salman: Wet kenapa kamu kok nolak Rendra kemaren pas dilamar?

Wanita: Kenapa kamu ngomong gitu Cung?, seharusnya kamu senang lah karna aku pengennya suami ku kelak kamu bukan rendra atau siapapun!

Mas Salman: Wet pernikahan itu enggak selamanya masalah cinta, karna kita butuh makan, butuh banyak uang apa lagi ketika mempunyai anak, pernikahan enggak semudah kita mengucapkan aku trima nikahnya tapi tanggung jawabnya Wet, dan benar apa yang di bilang Ayah kamu kalau beliau hanya ingin menantu yang mapan untuk siapa?, ya untuk kamu sendiri bukan untuk beliau, kamu anak kesayangannya jadi jangan kecewain Ayah kamu Wet, bahagiakan Orang Tua mu dengan menghadiahinya seorang Cucu yang lucu.

Wanita: Tapi Mas?"

Enggak lama ku dengar sayup sayup lagu yang di nyanyikan oleh mas Salman kepada wanita tersebut, dalam hati ku lebay banget deh selama pacaran aja aku enggak pernah sekalipun di nyanyikan lagu olehnya.

Setelah bernyanyi Mas Salman kembali berbincang dengan wanita tersebut, terdengar suara tangisan dari wanita itu yang sepertinya berat melepaskan Mas Salman.


Wanita: Tapi Mas, kamu...?

Mas Salman: Aku Wet?, kenapa harus berpikir kenapa dengan aku?aku disini bahagia ketika melihat temen aku bahagia, apalagi melihatmu berpakaian pengantin dan bersanding dengan teman ku udah mewakilkan rasa bahagia aku

Wanita: Massss

Mas Salman: Takdir Allah udah di tentuin Wet, dan takdirmu adalah menikah dengannya, dan takdir kita enggak akan pernah satu

Wanita: Apa kita bisa berteman lagi seperti dulu Mas?, awal awal ketika kita kenal?

Mas Salman: Hehehe ada ada aja kamu Wet, jadi teringat waktu kamu jorokin aku ke got, dasar cewek usil kamu dulu


Karna sudah males dengerin pembicaraan mereka akhirnya aku masuk rumahnya tanpa mengetuk pintu hingga membuat perempuan yang duduk disamping Mas Salman terkejut terlebih lagi Mas Salman yang sedikit menjauhkan badannya dari badan wanita itu, sedangkan aku hanya tersenyum lalu berjalan kearah kamar Emak.

"Mak" sapa ku sembari tersenyum kearah Beliau

"eh kamu San, masuk sini" pinta Emak

"gimana kabarnya Mak?, sehat?" tanya ku

"Alhamdulillah Nak seperti yang kamu lihat sekarang" jawab Beliau

"syukur deh kalau gitu Santi ikut seneng liat Emak sehat"

"kamu kemana aja San?, kok enggak pernah nengok Emak lagi?, kirain kamu udah enggak inget Emak"

"maaf Mak Santi sibuk sama jadwal kuliah yang padat, jadi enggak sempat untuk menjenguk Emak"

"yasudah enggak apa apa" sembari membelai rambutku

"siapanya Mas Salman itu Mak?" tanya ku

"oh itu Auliya enggak tau Salman kenal dimana katanya sih teman waktu masih sekolah smk"

"oh, pacarnya yang sekarang Mak?"

"emak juga enggak tau, akhir akhir ini hubungan mereka seperti enggak sehat deh, bertengkar terus tiap malam, Emak malah berharap kamu Nak yang jadi istri Salman kelak" ujar Emak sembari memegang tangan ku

"Santi enggak tau Mak, serahin aja sama Allah kalau memang Santi berjodoh sama Mas Salman insya Allah akan di mudahkan"

"aamiin, Emak selalu doain kamu kok disini"

"Mak santi kesini sebenernya mau pamit sama Emak, santi mau pulang kerumah tempat tinggal santi, karna santi sekarang udah wisuda dan disuruh Mas Andre untuk balik" ujar ku

"lah terus enggak bakal kesini lagi dong?" tanya emak dengan raut wajah sedih

"insya Allah Mak, Santi enggak tau juga, rencana sih Santi nyari kerja yang deket sama rumah juga disana"

"yaudah Emak bisa apa mau menghalangi kamu pergi Emak bukan siapa siapamu, tapi Emak harap datang kesini yah kalau ada waktu" pinta Emak

Aku pun mengangguk lalu mencium pipi kanan dan kiri beliau lalu pergi keluar dari kamar, saat aku keluar kamar ternyata wanita tersebut sudah enggak ada, hanya tertinggal Mas Salman yang terdiam sembari memegang gitarnya yang di anggurin.

"Mas, aku pamit yah"

Saat mendengar suara ku dirinya lalu terkejut lalu menganggukan kepalanya sembari memberikan sedikit senyum kearah ku.

"aku enggak akan balik lagi kesini Mas, aku akan menetap disana, jaga Emak baik baik yah, assalamu'alaikum" ujar ku lalu melewatinya

"wa'alaikumsalam" jawabnya singkat

Padahal yang aku harapkan dirinya menahan ku untuk tidak pergi dari sini namun ah sudah lah mungkin dirinya sedang menenangkan diri karna terlihat gambaran kesedih diwajahnya.
Lanjut.......emoticon-Ngacir
sepertinya ada sesuatu, kenapa salman ga ngomong baik2 sama ashanty ya pas pergi,
rahasia apa yg disembunyikan salman ya,,

Arsanti III

Semenjak kepergian ku dari kota yang penuh dengan kenagan manis berasama Mas Salman, sedikit demi sedikit aku merubah semua pakaian ku yang dulu terbuka kini makin tertutup dan pakaian wajib bagi wanita yaitu hijab syar'i, kemana pun aku berada kecuali dirumah aku selalu menggunakan pakaian ini, dari segi pergaulan aku juga mulai menjaga jarak dari para lelaki yang bukan mahrom aku, dan aku berharap dengan perubahan ini aku mendapatkan sesosok pemimpin rumah tangga yang benar benar dapat membimbing ku menuju surgaNya.

Sangat susah memang setelah aku berpakaian tertutup ketika melamar pekerjaan di perusahaan, akhirnya Mas Andre menyuruhku untuk dirumah saja atau kadang membantunya di bengkel untuk menjadi kasir, namun kebanyakan hari hari ku, aku habiskan dirumah, kadang pergi ke majelis pengajian untuk mendengarkan ceramah dari para ustadz atau nonton streaming yutub.

Terhitung dari tahun 2014 sampai 2016 puluhan kali Mas Andre mencarikan pasangan untuk ku dengan cara ta'aruf namun entah ada saja hambatan ku dalam melaksanakan ta'aruf tersebut, terkadang hati ku enggak srek kepada beberapa lelaki tersebut, dan kadang aku srek dengan lelaki yang di jodohkan oleh Mas Andre eh ternyata sudah mempunyai istri dan mas Andre akhirnya menolak lelaki tersebut karna enggan adiknya di poligami.

"kenapa yah Dek dari sekian banyak lelaki yang Mas kenalin ke kamu rata rata gagal terus?" ujar Mas Andre

"yah emang bukan jodohnya aja kali Mas" jawab ku

"tapi umurmu sudah matang sebenernya, Mas udah punya anak umur 4 tahun kamunya belum juga nikah, Mas akan sangat tenang kalau Adik Mas udah nikah"

"iyah Mas ku, insya Allah pasti kalau jodoh akan datang kok dengan sendirinya asal kita enggak pernah nyerah dalam berdoa"

"lagian kalian dulu ngapain sih pake bertengkar segala, kan Mas susah nyariin kriteria seperti dia dek" ujar Mas Andre

"dia?, dia siapa Mas" selidik ku

"Salman lah, siapa lagi, kalian itu sangat cocok bagi Mas"

ketika nama tersebut disebut Mas Andre, aku teringat lagi kenangan dengannya, lelaki yang ku kenal hampir 13 tahun lalu kini mulai menghiasi ingatan ku, kebersamaan kami dulu memang enggak pernah terpisahkan layaknya seperti anak itik yang selalu mengikuti induknya kemana pun pergi.

Entah bagaimana sekarang keadaanya?, apakah dirinya sekarang sudah menikah atau ah kenapa pikiran ku jadi kacau begini saat dirinya menghantui pikiran ku lagi, padahal setahun yang lalu aku mulai mencoba untuk melupakan lelaki ini.

"Mas please jangan bahas dia lagi yah, masih banyak kan pembahasan yang lain selain dia?" ujar ku

"wah wah wah keknya udah ketahuan nih ternyata Adiknya Mas masih merindukan dia yah ihiiy" goda Mas Andre

"apaan sih ishh...enggak lucu ah becandanya" ujar ku sembari memukul lengan Mas Andre

"ada beberapa bulan yang lalu Salman nelpon Mbak Fatimah loh, dan kata Mbak Fatimah sekarang Salman bekerja di sebuah perusahaan dengan menjabat sebagai supir malamnya dia lanjutkan bekerja menjaga di sebuah penginapan dan yang paling penting dari itu semua Salman masih jomblo😁"

"masa sih Mas, coba mana minta nomernya" ujar ku tanpa sadar masuk pancingan Mas Andre

"hahaha...iya kan emang bener lagi kangen?, udah lah dek bilang aja jujur ke Mas kalau kamu mau besok aku datangin Salman kesini buat lamar kamu"

"dih dia gitu kan, bisa banget mancing mancing aku supaya jujur, enggak usah repot repot Mas, kalau dia niat yaudah datang aja kesini enggak usah pake dijemput segala"

"yaudah tanggung sendiri yah kalau salman dapat yang lain selain dirimu"

"masss...lama lama nyebelin yah aku lempar juga ini asbak" ujar ku kesal

Akhirnya Mas Andre lari menjauh dari ku dan puas mengerjai ku habis habisan, sebenernya dalam hati kecil ku sendiri setelah mendengar pertama kali nama Salman disebut menjadi berharap dirinyalah lelaki yang kelak menjadi pemimpin dalam rumah tangga ku, yah walaupun itu semua hanya khayalan ku namun dengan berdoa dan sholat aku yakin Allah kelak akan menemukan ku dengan Mas Salman atau seseorang yang baik menurutNya.

Tanggal 30 desember 2016 tepat di sore hari Mbak Fatimah meminta ku untuk membantunya memasak makanan karna malam harinya dirumah Mbak Fatimah akan diadakan jamuan makan malam antar keluarga, seharian penuh aku membantu Mbak Fatimah untuk memasak hingga sore hari akhirnya selesai juga akhirnya aku bisa beristirahat melepas lelah di kamar dimana dulu Mas Salman pernah tinggal dan tidur disini.

Ingin rasanya aku tidur sejenak karna lelahnya menyiapkan jamuan makan yang cukup besar karna undangan dari keluarga Mbak Fatimah yang datang mencapai 50 orang, jam 5 sore aku di bangun kan oleh Mbak Fatimah.

"dek bangun dek"

"hmmm,,,,iyah Mbak?, udah maghrib yah?" jawab ku sembari menggeliat

"baru jam 5 belum masuk maghrib kali dek, di luar akan ada tamu tuh bantu kakak untuk menerima tamunya yah" pinta Kak Fatimah

"oh yaudah aku mandi dulu sebentar Kak, udah bau badan ku" ujar ku yang berjalan menuju kamar mandi


Setelah mandi lalu aku berjalan dan duduk di ruang tamu sambil menonton tv, saat Mbak Fatimah melihat ku duduk dan nonton tv Beliau berkata "aduh si cantik malah santai disini, tuh tamunya udah dateng dari tadi kenapa enggak disambut?"

"hah?, masa iyah Kak?, wah kok enggak ngetok pintu sih atau mencet bel?" tanya ku heran

"mungkin enggak tau kali pencetan bel nya dimana" ujar Mbaj Fatimah sembari menahan tawa

"ini tamu kok ndeso banget sih, masa udah mau tahun 2017 belum tau gimana caranya mencet bel" bathin ku sembari bergegas keluar untuk membukakan pintu

Saat membuka pintu ternyata tamunya cuman satu orang cowok pula, Mbak Fatimah gimana sih kenapa aku harus menghadapi cowok yang bukan muhrim aku?, akhirnya dengan jalan menunduk aku menyapa tamu tersebut tanpa melihat wajahnya "Maaf Mas silahkan masuk kata Mbak fatimah"

Orang tersebut berbalik namun tak jua kunjung masuk memenuhi permintaan ku, sekali lagi aku menyuruhnya masuk "mas silahkan masuk"

Kedua kalinya permintaan ku enggak di tanggapi, dengan kesal aku lalu mengarahkan pandangan ke arah orang tersebut betapa terkejutnya aku, sosok lelaki tersebut ternyata orang yang aku kenal selama belasan tahun silam, kini dirinya berdiri tepat di depan ku dengan senyum yang sudah lama senyum itu aku rindukan...

"kenapa?, kaget yah?" sapanya

Aku tetap terdiam tanpa bisa menjawab pertanyaannya,namun aku pandangi lagi untuk meyakinkan apakah benar ini dia?karna sedikit berbeda dari penampilannya yang sekarang berjenggot dan badan yang agak kurusan...
Lanjut............emoticon-Ngacir
Diubah oleh tawalani
kalo versi pdf nya gak lengkap ya om , yg ini kek nya versi lengkap waktu putus sm arsanti .
Quote:


Iya maka dr itu ane reborn gan supaya jelas dan melanjutkan yg tertunda
Halaman 11 dari 14


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di