alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
YANG HIDUP BERCERITA (Dwilogi 100 Tahun Setelah Aku Mati)
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ba0a446620881e04c8b4569/yang-hidup-bercerita-dwilogi-100-tahun-setelah-aku-mati

YANG HIDUP BERCERITA (Dwilogi 100 Tahun Setelah Aku Mati)

YANG HIDUP BERCERITA


(DWILOGI 100 TAHUN SETELAH AKU MATI)


 
YANG HIDUP BERCERITA (Dwilogi 100 Tahun Setelah Aku Mati)

Jika cerita lalu tentang kematian, maka ini cerita tentang hidup


 
MUKADIMAH



Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh



Sudah cukup lama sejak pertama kali akun kulon.kali memposting 100 Tahun Setelah Aku Mati pada 2016 yang lalu. Tidak terasa dua tahun sudah terlewati, dan ternyata benar bahwa perpisahan itu menyisakan rindu.


Kali ini perkenankanlah saya (WN) mewakili Mas Rizal untuk berterimakasih sebesar-besarnya kepada Mimin, Momod, dan semua agan dan agan wati jagad KASKUS yang sudah membaca 100 Tahun Setelah Aku Mati. Berkat dukungan dan doa dari semua agan dan aganwati di sini, 100TSAM sudah menjelma menjadi sebuah Novel yang bisa di terima dengan baik oleh pembaca tanah air, pernah juga di pentaskan dalam sebuah pertunjukan teater di Jogja, dan tak lama lagi akan di angkat sebagai film layar lebar.

Spoiler for Novel:


Spoiler for Teater:


Semoga cerita tersebut dapat menginspirasi dan di ambil hikmahnya oleh seluruh mata dan hati agan serta aganwati.


Dalam cerita ini saya berusaha memperbaiki cara penulisan yang begitu acakadutdi 100TSAM, semoga lebih nyaman untuk di baca.

Saya juga menulis cerita dengan judul CERMIN di SFTH , namun mohon maaf belum mampu saya lanjutkan karena beberapa sebab. Doakan nanti bisa kembali saya lanjutkan.

Oke, kembali ke topik.


Kali ini sesuai permintaan si empu cerita, saya akan kembali membahasakan kisah mereka yang sudah kalian kenal pada cerita lalu. Kisah ini merupakan jawaban atas pertanyaan kalian yang mungkin sudah ada sejak setahun lalu.

untukmu yang belum membaca kisah sebelum ini, silahkan klik


100 Tahun Setelah Aku Mati
untuk informasi Novel dan Film via ig @wn_naufal

 
“Cerita kemarin mengenai romantika maut, tapi sungguh jangan kalian sesali. Karena sejatinya perpisahan dan kematian merupakan akibat dari pertemuan dan kelahiran. Akan kuajak kalian bertualang, ke kehidupan mereka, dan kisahnya di mulai!”
--------------------




SEBUAH PROLOG
 
 Aku akan menceritakan padamu sebuah cerita, kugunakan bahasa dan tutur kata yang tertulis dalam aksara. Aku adalah orang baru yang tidak tercantum dalam cerita sebelum  ini. Namun demikian, namaku tersirat oleh suamiku yang menyebut nama lainku beberapa kali.



Seperti yang kalian duga aku adalah istri dari orang yang kalian kenal bernama Rizal, nama tengahnya adalah Markus, MUNGKIN namanya adalah Markus Horizon, atau Markus Fadillah, bisa juga dengan nama Markus Notonegoro, atau juga Markus-Markus lain, pokoknya banyak. Emmm tapi aku membayangkan sebuah nama “Rizal Markus Hartono” Terdengar keren kan? Nama belakanya seperti nama Almarhum Bapaknya.


Tapi sebenarnya Hartono bukanlah nama belakangnya, ataupun nama Bapaknya. Aku juga tidak menjamin nama Markus adalah nama tengahnya yang asli, dan nama Rizal tentunya hanya bisa kamu gunakan di dalam tulisan ini, tapi sebaiknya kita pakai nama terakhir tadi. Yaa walaupun nama itu hanya berlaku sampai lembar terakhir cerita.


Oke oke, aku minta maaf karena aku benar-benar tidak bisa memberitahumu, karena sssstttt ini adalah cerita rahasia, dan kalian sudah diperbolehkan menyimak sebuah rahasia. Makanya jangan tanyakan lagi, setuju?
Ahhh Great ... Kalian memang sahabatku, baiklah kita lanjutkan perkenalan kita.
 Aku adalah istri keduanya, kalian tau? Aku adalah bunga kertas miliknya, milik mas Rizal dan juga milik Abima. Dalam cerita ini akan kuceritakan padamu mengenai sebuah mimpi miliku yang kebanyakan dari kalian sudah raih begitu mata kalian terbuka.


Akan kuceritakan lagi sebuah kisah bagaimana aku menemukan dan ditemukan olehnya, atau bisa juga ini kisah tentang bagaimana kami saling dipertemukan. Kepada dua orang itu, Risa dan Rizal, orang yang bahkan tidak kuduga akan mengukir sebuah takdir yang tidak bisa kutolak.


Satu hal yang kudapati dari kisah yang kulakukan sendiri ini adalah betapa aku dan mungkin kita semua, hidup dalam sebuah garis yang dibuat sang pencipta, kadang garis itu lurus, namun juga kadang berkelok, beberapa kali kualami garis yang kulalui harus saling bersimpang siur seperti benang kusut yang harus kuurai sendiri, jangan sombong dan mengatakan bahwa “aku menggambar sendiri garisku” karena kalian sebenarnya tidak menggambar garis, kalian hanya mewarnainya. Membuat semburat berona agar garis yang kalian lalui itu bercorak, kadang gelap seperti hitam, kadang terang seperti putih dan kuning, kadang dalam seperti biru, kadang juga sejuk seperti hijau, kadang berkobar seperti merah, atau bahkan sendu seperti abu-abu. Seperti hidup ini, kita hanya bisa merubah nasib, namun tidak bisa kita melawan Takdir.


Satu saranku kepadamu sebelum melanjutkan lembar demi lembar tulisan ini adalah, jangan menebak endingnya. Karena sama seperti cerita 100 Tahun Setelah Aku Mati, cerita ini adalah tentang proses, dari peristiwa satu ke peristiwa lain yang berkaitan, endingnya ada di kepala dan hati kalian. Tentang bagaimana cara kalian menerjemahkan isi tulisan ini...
 
Cerita ini kami persembahkan untuk semua tokoh dalam cerita, dan semua mata hati para pembaca...
Teramat khusus untuk Risa..
 
-Asterina Afet Nebia


-----------------------------------





SEBUAH PROLOG LAGI

 

Sebenarnya kalian sudah tidak asing denganku….. bukan, aku bukan Sari. Saat cerita ini ditulis Sari sudah tidak disini lagi, maksudku tidak berada di dunia dimana aku dan kalian hidup.Lalu siapa aku?  tentunya aku adalah Rizal, teman dari Sari, suami dari Risa dan Asterina, dan juga Ayah dari Abima. Yaa memang benar sih, hampir dari kesemua nama itu telah kurubah susunan huruf baik vokal dan konsonannya serta bunyi pelafalnya tapi setidaknya kalian jadi mengenal kami dari nama-nama itu.

Nama Istri keduaku adalah Asterina Afet Nebia, hhmmm, nama yang unik, nama itu memang bukan berasal dari kosakata endemik daerah sini.  Itu aku sadur dari bahasa tanah leluhurnya, dan lagi nama itu hanya nama yang kusematkan padanya dalam cerita ini, nama aslinya sungguh tak bisa kusebutkan.Yaa karena seperti kata dia tadi, ini adalah cerita rahasiaaa.

Sssstttt... sebaiknya kupelankan suaraku. Dan kita harus kongkalikong  untuk menjaga rahasia  ini tetap terjaga. Kalian setuju? Naahhh kalian memang benar temanku, sekarang aku tidak akan ragu membagi kisah dwilogi ini.

Dalam cerita kali ini kalian akan bertemu denganku lagi, mengenal lebih dalam tentang kami, bahkan jauh lebih dalam dari pada cerita sebelumnya. Kali ini akan dibagikan sebuah judul tentang perpisahan, dan sebuah pertemuan. Kisah mengenai derita dan bahagia yang saling bersanding berbatas sekat setipis lidi. Kisah mengenai janji tak tertagih, kepada hati yang tak terganti.

 Tak akan aku bersapa lama dengan kalian di halaman awal ini, tentunya kalian sudah mengenalku sangat baik lewat 740 halaman cerita sebelumnya, kali ini kugunakan nama yang lebih lengkap.. sesuai yang sudah diberikan istriku pada prolog pertama.

 

Cerita ini kami persembahkan untuk semua tokoh dalam cerita, dan semua mata hati para pembaca...

Jika cerita pertama untuk Sari, maka cerita ini untukmu Nduk.


-Rizal Markus Hartono


INDEKS:
1. PART 1 RINDU!
2. PART 2 PENUNGGU MAKAM
3. PART 3 AWAL MULA
4. PART 4 GADIS BIJAK
5. PART 5 BERTEMU BAPAK
6. PART 6 WANITA SELAIN RISA? (Bagian 1 )
7. PART 7 WANITA SELAIN RISA? (Bagian 2 )
8. PART 8 WANITA SELAIN RISA? (Bagian 3 )
profile-picture
profile-picture
profile-picture
HRRYZ30 dan 131 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh kulon.kali
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 32
Wah, ada sambungannya ya emoticon-2 Jempol
profile-picture
hhasbunnur memberi reputasi
Om Rizal meramaikan sfth lagi emoticon-Matabelo
profile-picture
RedSucks memberi reputasi
keren banget semoga bia dateng
Wih, apakah Rizal disini sudah menemukan dan menjalani cita-citanya ?
selamat pej one gan. Semoga ceritanya kembali menghanyutkan pembaca seperti eps 1
gak sabar nunggu misteri apakah yg akan terbuka kembali 🤣🤣
profile-picture
yukinura memberi reputasi
wah bakalan terbayar nih.. rasa penasaran ane 😁
Mantab, prolognya aja udah "njlimet" 😂😂😂
profile-picture
spam.hunter memberi reputasi
oke bangun tenda dulu
mantap gan...akhirnya ada lanjutannya

RINDU !

YANG HIDUP BERCERITA (Dwilogi 100 Tahun Setelah Aku Mati)
Masih segar ingatanku, bahkan indraku yang lain masih dapat merasakannya. Genggaman lembut tangannya, desah halus suaranya, harum rambutnya dan senyumannya yang memanja. Kutarik nafas dan menghirup oksigen dalam-dalam untuk mengisi paru-paru yang terasa sesak. Entah karena apa, apakah kerinduan mungkin juga berpengaruh pada sulitnya memperoleh suplai oksigen?

Aku menggendong Abima, jemarinya yang kecil menggenggam pundaku dengan erat. Kuelus kepala anak yang sedang meronta itu, memohon untuk diturunkan dari dekapan kencang bapaknya.

“Ayah tau nak, Ayah juga rindu sama Ibumu” kataku sambil mencium ubun-ubun anak semata wayangku itu, aku bicara seolah anak yang belum bisa berbahasa ini mengerti ucapan yang kugunakan.

Aku duduk memangku Abima yang merengek, mainan dan jajanan kesukaannya sama sekali tidak membuatnya tenang. Botol susu yang kutimang didepan wajahnya juga tidak dia pedulikan sama sekali, aku tau pasti jika dia sedang gelisah, selama dua minggu tidak bertemu ibunya.

Kubawa Abima berjalan-jalan, di sebuah taman yang sangat tidak asing bagiku. Sebuah taman yang dimasa remajaku dulu menjadi saksi bisu tentang ikrar perasaan antara aku dan Risa. Tepat di rerumputan ini, dibawah naungan pohon cemara udang yang sama, saat kali pertama aku menyatakan diri dan bertanya,apakah Risa mau jadi kekasihku.Siapa yang sangka, jika ternyata gadis yang pertama kukenal di SMP itu menjadii istriku di kemudian hari.

Aku memandang sekeliling, suasana senja yang lenggang oleh aktivitas manusia, angin yang berhawa dingin meniup beberapa helai daun bugenfil yang terbawa hembusannya, selembar diantaranya mendarat tepat dikepala Abima.

“Hari ini kok rasanya dingin ya bim?, kalo Ibumu masih ada pasti Ayah udah dimarahin gara-gara gak makein kamu baju hangat” kataku sambil tersenyum miris.

Aku menggendong lagi abima, mengajaknya berjalan pulang karena hari menjelang petang.
“Sini mas, biar Ibu yang gendong abima” kata mertuaku yang menyambut kami didepan pintu.

“Inggih bu, Bapak apa sudah pulang?” tanyaku sambil melepas gendonganku.

“Ada di teras belakang, kamu susul aja” balasnya sambil menunjuk arah belakang rumah.

“Saya permisi bertemu bapak” ucapku sambil menuju ke teras belakang.

Ibu mertuaku kini sudah pensiun dini, ya beliau memutuskan mempercepat pensiunya sebagai pegawai di Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Thailand segera setelah Risa meninggal.Aku menuju Bapak mertuaku yang duduk termangu diatas kursi, didepanya secangkir teh yang sudah tampak mendingin tersaji namun tidak tersentuh. Jelas perwira polisi ini sedang memikirkan sesuatu, garis-garis tegas pada wajahnya menyiratkan pesan yang kalut, sorot mata yang biasa tegas kini berasa sayu,memandang dengan kosong tanpa titik fokus sama sekali.

“Pak” ucapku dengan pelan untuk menegur beliau yang tengah bermuram.

“Ehh le, kamu rupanya.. dimana cucu Bapak?” kata beliau sambil berusaha menghilangkan jejak kemasaman yang tadi jelas terlihat diwajahnya.

“Ada sama Ibu pak” jawabku

“Yaudah,biar sama ibumu dulu..”

Kami berdua sama-sama diam, momen bisu seperti ini sering terjadi setelah peristiwa menyedihkan itu,seolah masing-masing dari kami saling berhati-hati dalam bicara, terutama mengenai kejadian itu, namun tidak tahan rasanya saat melihat mertuaku yang ikut berundung sedih, dan akhirnya kalimat itu terucap.

“Pak,saya juga merindukan Risa” kataku sambil sedikit menunduk.
Bapak mertuaku menghela nafas panjang, dan mengangguk, tangannya yang besar meremas lenganku kemudian menepuknya ringan.

“Kita semua merindukan Risa, semua yang mengenalnya pasti juga akan begitu le. Yaa terutama kita sebagai keluarganya. Apalagi Bapak, Bapak endak menyangka akan secepat ini, anak semata wayang yang menjadi kebanggaan keluarga, yang di gadang-gadang oleh kami ternyata tidak berumur panjang” ucap beliau dengan suara tergetar,matanya kembali menerawang,menyapu awang-awang dengan tatapan kosong.

“Maafkan saya pak. Saya sudah ingkar dengan sumpah saya sendiri untuk menjaga risa, saya sudah berdosa, dan ….“

“Cukup le, sudah cukup peristiwa itu meninggalkan rindu. Jangan kamu tambah dengan meninggalkan penyesalan, tidak ada yang bersalah, begitu juga kamu. Baik bapak dan Ibunya Risa sama sekali tidak menyalahkan ini kepada siapapun. Terutama kamu”

Aku terdiam mendengar ungkapan beliau, apa benar seperti itu? Maksudku apa benar aku tidak patut dipersalahkan? Jelas aku ini adalah orang yang bertanggung jawab kepada Istriku, lahir dan batin. Dan sekarang, saat aku tidak dapat menjaganya aku tidak bisa berhenti menyalahkan diri.
Kembali lagi moment bisu itu terjadi, diantara menantu dan bapak mertua. Keduanya sama-sama diam, mencoba memendam dan meredam rasa sedih dari sebuah petaka buruk yang terjadi belum lama ini.

--

Abima tertidur pulas, selimut beludru berwarna pink menyelimutinya. Selimut itu adalah selimut yang sama, yang pernah digunakan almarhumah ibunya untuk menyelimuti tubuhnya semasa lajang. Kini benda itu diwariskan kepada anaknya yang belum genap berumr 2 tahun, untuk menggantikan dekapan hangatnya dimalam hari.

Aku terduduk diatas kasur, didalam kamar milik Risa. Pandanganku kembali berkeliling, memicing berusaha mengenal benda-benda sekitar di tengah redup cahaya lampu tidur.Aku dan abima menginap di rumah mertuaku, karena sekarang tidak ada yang menjaga abima dan aku harus melanjutkan hidupku. Setiap pagi dimana aku harus pergi melanjutkan koas yang sudah setengah jalan.

Aku berdiri dari ranjang dan menatap Abima yang tengah pulas tertidur.

“bahkan kamu kehilangan ibumu lebih cepat dari ayah saat kehilangan nenekmu dulu nak” ucapku kelu sambil berjalan dan duduk didepan meja belajar.

Melamun, mengenang, mengingat dan apapun yang bisa membuatku kembali kepada saat bersama Risa walau hanya lewat sebatas memori dan selembar foto ketika kami masih SMA.
Spoiler for :

“Tidakah kamu merindukan kami nduk? aku merindukanmu.. sangat.. memang belum lama kita terpisah nyawa, tanah kuburmu pun pasti belum mengering, tapi kenapa rasa rindu ini seperti aku sudah berpisah lama denganmu, atau ini karena aku yang sudah tau bahwa aku akan berpisah denganmu selamanya”
Setetes air menetes meluncur cepat melewati kulit wajahku, segera saja kuseka air mata itu agar tidak mengundang tetesan lain yang akan membanjiri wajahku.

Teman, aku tidak habisnya berpikir tentang ini, tentang semua yang menimpaku dan orang terdekatku yang kenapa sangat dekat dengan maut, apakah Tuhan sengaja? Yaa semua yang terjadi bukan kebetulan, Tuhan yang maha tidak akan membuat ketidak sengajaan.
Hanya saja aku belum mengerti kenapa..
--
Malam itu kupuaskan rasa rindu itu untuk menjalar masuk kesetiap sendi dan pembuluh darahku. Secara otomatis Otakku bekerja untuk memvisualkan Risa tengah duduk dipangkuanku, ku bayangkan lagi wajah ayunya yang dihias senyum menawan itu tepat didepan wajahku.
Dengan lembut dia menyibakan rambut yang menutupi keningku, dan dia kecup dengan penuh kasih.

“Aku menyayangimu mas” ucapnya dengan halus, sangat halus dan pelan, mungkin hanya aku yang bisa mendengarnya.

“Aku juga menyayangimu nduk” jawabku sambil tertunduk.

Membiarkan pertahananku runtuh untuk tidak menangis. Kupegangi dadaku yang terasa sesak dan getir menahan kelu dari imajinasiku yang terasa nyata.

“Kamu bohong nduk!, kalau kamu menyayangiku kenapa kamu pergi!”

BERSAMBUNG
profile-picture
profile-picture
profile-picture
hidan.tec94 dan 12 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh kulon.kali
Lihat 4 balasan
love it.. cakep, mas WN.

*subscribe dulu
mejeng pejwann
Keren..
nitip sendal om emoticon-Menang
profile-picture
abynub memberi reputasi

PENUNGGU MAKAM

YANG HIDUP BERCERITA (Dwilogi 100 Tahun Setelah Aku Mati)
Kulepas jas putih yang menjadi ciri khas profesiku, dan berjalan dengan enggan menuju tempat parkir. Teman-temanku di rumah sakit ini sering memperhatikanku, menanyakan apakah aku baik-baik saja. Sungguh sebuah hal konyol jika menganggap pertanyaan itu bisa membuatku merasa lebih baik, sudah jelas aku sedang tidak merasa baik.mungkin memang lebih tepatnya aku harus jadi pasien dari pada dokter yang magang disini.

Aku sudah masuk kedalam mobil sedan berwarna krem itu, kusam dan berdebu aku sudah malas sekali mencucinya, satu-satunya hal rutin yang kulakukan di dalam mobil tua ini adalah mengganti pewangi ruangannya jika aromanya mulai tidak terasa .
] Kuganti pewangi lama itu dengan yang baru, sengaja kuselipkan stok pewangi ruangan ini,karena yaa sedikit banyak akan mengingatkanku kepada momentku bersamanya, ini adalah aroma kesukaan Risa. Mawar, aroma mawar yang lembut.

Kujalankan mobilku menuju rumah, abima pasti sudah sangat bosan seharian hanya bersama simbok. Tapi entah ada angin apa tanpa pikir panjang kuputar kemudiku dan menuju suatu tempat.. yaa, seperti dugaanmu aku akan mengunjungi istriku.
Kuparkirkan kendaraanku di pelataran depan kompleks pemakaman yang luas itu.

Aku berjalan memasuki lingkungan dimana ratusan mayat bersemayam disini, termasuk Risa istriku yang beristirahat untuk selamanya disini, kupandan sekeliling makhluk-mahluk gaib penghuni pemakaman ini mendesis-desis seperti ular saat melihatku.

“Haaaaaaaaaaa...... haaaaaaaaaaaaaaaa” sesosok kuntilakan yang tengah bertengger diatas pohon kamboja berteriak histeris.

“Kenapa kalian berisik sekali?. Aku tidak akan mengganggu kalian!” kataku ke kuntilanak itu sambil berlalu.
Makam risa berada di pinggiran, aku harus berjalan beberapa puluh meter untuk sampai kesana. Dan begitu sudah dekat dengan lokasinya aku melihat sesuatu, sosok bebrbalut pakaian hitam.

“Kamu?” kataku sedikit kaget saat tau siapa sosok yang duduk di sebel ah batu nisan Risa itu.

“Selamat sore mas Rizal,” kata gadis berkerudung gelap itu.

“Kamu ngapain disini?” tanyaku dengan heran kenapa gadis ini bisa disini.

“Sama seperti alasan mas rizal kesini” jawabnya dengan kalem..

Tampak dia bersimpuh sambil menaburkan bunga-bunga berwarna warni diatas pusara. Sedikit senyum tipis dia layangkan padaku saat bicara.

“Kamu sama siapa kesini?” tanyaku

“Sendirian mas, ya sampai mas Rizal tiba-tiba dateng barusan,”

“Serius sendiri? Jasmine dimana?”

“Ya di rumah, kan aku bilang kesini sendiri”

“Rin, kamu jauh-jauh dari Magelang ke Jogja sendiri?” Gadis yang usianya lebih muda 4 tahun dariku itu mengangguk kecil.

“Mas Rizal gak usah kuatir, mbak Risa dulu ngajarin banyak hal, aku gak mungkin kesasar. Mas Rizal kesini mau ngintrogasi aku apa nengokin mbak Risa sih?” jawabnya sambil bergeser untuk memberiku ruang duduk.

Aku berjongkok di sebelahnya, dan melafalkan alfatihah untuk almarhumah istriku ini, kupandangi pusara berlapis keramik berwarna putih itu, diatasnya nampak bunga-bunga yang sudah kering sisa pemberian pelayat sebulan lalu. diantaranya masih segar karena baru saja ditaburkan oleh Rina, nama gadis disebelahku.

“Banyak orang menyayangkan, jelas diantaranya adalah aku dan mas Rizal. Kenapa orang baik seperti mbak Risa begitu cepat diambil oleh Tuhan” ucapnya sambil membetulkan letak kerudungnya. Kujawab dengan sekali anggukan dan desahan nafas panjang, sudah habis rasanya kalimatku untuk menggambarkan bagaimana rasa sedihku.

“Yaa. Terlalu baik untuk ditimbun tanah dan kutinggalkan disini” akhirnya aku menjawab dengan kelu.

“Mas Rizal, bolehkah aku bertanya sesuatu?”

“Em boleh, Rin. Tanya aja”

“Apa ada pesan terakhir dari mbak Risa sebelum meninggal?” tanyanya

Aku menggeleng pelan, dan berusaha mengingat malam terakhir aku tidur mendekapnya.

“Nggak ada Rin, sama sekali... sama sekali risa nggak berkata tentang apapun.hanya percakapan biasa, dan paginya Risa sudah ......”

“Sudah tenang” ujarnya memotong perkataanku.

“Mbak Risa tidak meninggalkan sebuah keinginan apapun mas, maksudku tidak ada angan yang tertinggal. Sudah dia miliki semuanya, kehidupannya... kamu dan Abima Mas”
“Lalu dia memilih pergi meninggalkan semuanya?” jawabku dengan sedikit ketus.

“Apakah mbak Risa punya pilihan? Saat Tuhan memintanya untuk kembali di sisi-Nya?” jawabnya dengan cepat, yang membuatku menelan ludah karena tidak berani menjawab lagi

“Awalnya aku juga tidak habis pikir mas, tapi akhirnya aku sadar bahwa memang seperti inilah hidup, kita nggak pernah tau kan? Kadang aku mikir gini, kalau kita semua, hidup dalam sebuah garis yang dibuat sang pencipta, kadang garis itu lurus, namun juga kadang berkelok, beberapa kali aku alami garis yang aku lalui harus saling bersimpang siur seperti benang kusut yang harus kita urai sendiri, dan mungkin mbak Risa sudah berada pada pucuk terakhir dari helai kehidupan yang dipintal oleh Tuhan”

“Yaa kamu ada benernya juga Rin” kataku sambil memandang dengan lembut kepada gadis itu, dia memalingkan wajahnya dan menatap nama yang tertera ada batu nisan Risa.

“Risa Ayuningtyas, kamu tau mas. Kadanng Tuhan itu memberi 2 pilihan saat ada orang datang dihidup kita” katanya sambil berdiri dan merapihkan roknya.

“Apa itu Rin?”
“ Yaa ada yang dikirim untuk jadi pengalaman hidup, dan ada juga yang jadi teman hidup. Beruntunglah kamu mas, saaat Tuhan mengirim mbak Risa untuk menjadi keduanya” katanya sambil melangkah meninggalkanku.

Aku termangu,menatap pusara Risa, gadis lugu itu benar.. betapa beruntungnya aku saat Tuhan mengirimkan dia Risa, sebagai teman dan pengalaman untuk hidupku.

“Rin” panggilku kepada Rina yang berjalan.

“iya mas?”

“mau kemana?”

“sudah hampir jam 5 mas, aku harus pulang. Ayah sama Ibuku nanti khawatir. Assalamualaikum mas Rizal, tolong sampaikan salamku buat si Ganteng Abima”

“Walaikumusallam Rin, aku anter ya” seruku sambil berdiri.

“Terimakasih tawarannya mas, tapi aku udah mesen taksi. Dan inget mas, Abima udah nunggu dirumah” katanya seraya tersenyum. Aku mengangguk kulempar senyum kepada Gadis asal Jawa Tengah itu.

“Terimakasih Rin sudah jauh-jauh Cuma untuk ngirim doa buat Risa”

“Apa lagi yang bisa aku lakuin mas? Untuk salah satu orang paling berjasa buat hidupku. Tanpa mbak Risa, entah aku bakal gimana. Aku gak akan bisa seperti ini, bye mas” katanya untuk terakhir kali dan dia berlalu tanpa menoleh lagi.
Aku berjongkok lagi didepan makam Risa.

“Lihat itu nduk? Dia Gadis penjual bunga yang kamu tolong dulu, kayaknya bener katamu dulu. Rina akan banyak bertemu dengan kita”.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
indi.angel dan 14 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh kulon.kali
Lihat 1 balasan

AWAL MULA

Aku melangkah keluar dari kompleks kuburan itu, dan menuju mobil. Rina sudah tidak terlihat lagi, mungkin taksi yang dipesannya sudah menjemput dia untuk pulang ke magelang.
Aku berkendara perlahan, kubuka jendela untuk membiarkan angin senja masuk..
Aku jadi teringat kepada rina, gadis tidak terduga yang tak sengaja ditemui oleh kami, aku dan Risa. Waktu itu adalah tahun 2008, tepatnya bulan Januari, saat aku pulang kampung untuk menghabiskan liburan musim panasku dari Melbourne.
--
“Nduk, ini langsung mau pulang kan?” tanyaku kepada risa yang nampak terkantuk-kantuk dengan dahi yang menempel di dasbor, aku sendiri heran dengan kelakuan anak aneh itu apa gak sakit tuh jidatnya.

“Emmmm... gimana ya? Aku pengen sesuatu sih” katanya dengan jidat yang masih menempel di dasbor.

“Apa? Es krim? Kan tadi udah” jawabku asal untuk menerka keinginan anak ini, yang biasanya gak jauh dari makanan.

“Makan terus ihhh” protesnya sambil mencubit lenganku.

“Adaaawww, trus apa dong?” tanyaku lagi.

“Aku tuh belum punya anggrek bulan lho mas”

“Terus?”

“Dibeliin apa gimana gitu kek, peka dikit napa sih!” katanya sambil sekali lagi mencubit lenganku, tepat dimana tadi dia mencubitnya.

“Iya-iya aahhh,wajib ya nyubit kenceng gitu?”

“Hehe, abis kangen satu setengah tahun gak nyubitin kamu mas”

“Kangen kok pake acara nyiksa gini” jawabku dengan sebel.

“Jadi mau beliin gak nih?, protes mulu ahh. Kalo jadi lampu merah depan belok kiri” seru Risa sambil menunjuk lampu merah yang sudah nampak dari kejauhan.

“Loh emangnya kita belinya dimana?”

“Di magelang, hehe sekalian maen lah mas, apalagi disana kan murah”
“nduk, kemaren kita sebelum berangkat udah dari Ketep, ini aja udah hampir sampe rumahmu, kok malah mau muter jauh ke megelang Cuma beli kembang” balasku dengan sewot, bukan gimana-gimana masalahnya adalah kami sedang dalam perjalanan pulang dari jakarta, setelah mengunjungi Dewi.

“Dih gitu sih, jadi gak nih? Jadi sayang gak nih? Kalo enggak tak tinggal tidur”

“Hadehhhh,iya deh wel bawel” kataku sambil berbelok arah menuju jalan magelang..
Teman, mungkin buatmu Risa ini terkesan egois ya, Mau menang sendiri, suka mengintimidasi, alay, dan sebagainya. Aku gak menyangkal sih, emang iya, tapi justru itu yang membuatku rindu dengannya. Lucu dan kadang membuatku heran, namun dibalik itu semua Risa adalah perempuan yang sangat baik tidak segan menolong orang lain, siapapun itu. Sifatnya juga bisa sangat lembut dan perhatian, dia bukan perempuan yang ingin selalu tampak wah, dan juga mewah. Dia menjadi apa adanya dia yang baik adanya. Membuaku jatuh cinta selalu setiap melihat dan mendengarya.
--
Magelang, kota di kaki gunung ini berhawa sejuk dingin, membuatnya cocok menjadi sentral produksi tanaman. Kami sudah sampai di daerah penghasil bibit tanaman, grenhouse penjaja benih dan bibit berjejer sepanjang jalan. Kubiarkan Risa memilih salah satu diantaranya.
“Kesana yuk mas, kayaknya bagus-bagus tanamannya” kata risa sambil menunjuk sebuah outlet yang terlihat rimbun dengan pilihan koleksi yang banyak.“

Kami masuk kedalam green house yang beratap baja ringan dengan lapisan kaca dan plastik UV itu, di kanan kirai nampak rindang dengan beberapa pepohonan yang dibentuk seperti dai Bonsai. Bunga-bunga krisan dan aster tumbuh jamak didalam pot dan polybag yang berjajar, mawar bermacam warna, tanaman-tanaman hias seperti Aglonema,Anthurium, dan banyak lagi jenis tanaman hias yang membuat Risa memandang sekeliling dengan mata berbinar, seperti yang kalian tau. Salah satu hobinya adalah berkebun.

“Ada nggak ya mas?” tanya Risa kepadaku.

“Selamat sore, selamat datang. Ada yang bisa saya bantu?”

Kami menoleh ke asal suara yang menyapa kami, di balik meja seorang gadis muda berdiri sambil tersenyum. Dia berkerudung berwarna hikau pudar telapak tanganya yang putih terlihat menjembul dari balik kaos lengan panjangnya.
“Ada yang bisa saya bantu?” kata dia lagi, kami tidak langsung menjawab. Baik aku dan Risa sedang melihat gadis itu, ada yang sedikit tidak biasa.. yaa yaitu pandangan matanya. Dapat kupastikan gadis itu tidak bisa melihat..

“Ahh iya ini mbak, kita lagi cari anggrek bulan. Apakah ada disini?” kata Risa dengan sedikit cepat.
“Oh iya, ada disana mbak. Mari saya antar” kata gadis itu sambil berjalan untuk menunjukan dimana letak rak yang menjual anggrek bulan. Tapi rupanya gadis itu tidak berjalan engan hati-hati sampai dia tersandung pinggir meja dan Brukkk.. dia jatuh terjerembab.
“Ehh, aduh mbak, ehh mbak gapapa? Mas bantuin dong” kata Risa dengan tergesa membantu gadis itu. Aku membantunya berdiri dan memapahnya duduk disebuah kursi.

“Mbak gapapa? Apa ada yang sakit?”tanyaku sambil mengurut tanganya yang nampaknya sedikit terkilir karena digunakan untuk tumpuan jatuhnya.

“Emm gapapa kok mas, mbak Cuma sakit dikit” kata gadis itu sambil meringis.

“Dek, kamu kenapa?” tiba-tiba seorang wanita yang aku pikir ibunya, datang.

“Em gapapa kok bu, tadi Cuma jatoh. Udah dibantuin sama mas mbak ini” jawabnya.

“Yaudah, kamu masuk aja gh, minta sama mbak buat diliat ada luka apa nggak, dan mas mbak. Terimakasih sekali lho. Maaf kalau merepotkan” jawab ibu gadis itu sambil tersenyum ramah.
Dia itu berlalu,berjalan pelan menggunakan tongkat kecil untuk membantunya. Aku dan Risa masih memandang gadis itu, entahlah ada sedikit perasaan simpatik saat melihatnya, dan tiba-tiba untuk kali kedua gadis itu hampir terjatuh karena tidak sengaja menyenggol pot bunga yang terbuat dari tanah liat dan membuatnya pecah.Tanpa babibu Risa menghampirinya.
“Mas, liat-liat dulu, aku tak bantuin mbaknya itu” katanya sambil berlalu dan memintaku memilihkan anggrek yang bagus untuknya.
--

“Sini mbak biar saya bantu” kata risa sambil tersenyum.

“Gak perlu repot-repot mbak, saya bisa sendiri kok” jawabnya.

“Ahh jangan gitu, namaku Risa.. nama kamu siapa?” tanya risa lagi.

“Asterina mbak, tapi disini dipanggil Rina” katanya dengan tangannya yang sudah diraih Risa untuk berjabat tangan.
Kuhampiri Risa, karena bingung juga kalau disuruh milih anggrek yang sesuai seleranya. Kalian tau kan dia itu cewek super ribet, pas di pilihin eee tapi ternyata gak cocok kan runyam jadinya..

“Ini yang mau minta kembang siapa sih nduk?kok aku yang disuruh milih? “ kataku setelah berada didekatnya.

“Iya iya mas, bentaran doang. Kenalin dulu mas, ini temen baruku” katanya smbil mengenalkan teman barunya.

“Saya Rina mas”

“Saya Rizal” balasku sambil menjabat tangan gadis buta itu itu.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
indi.angel dan 11 lainnya memberi reputasi

GADIS BIJAK

Kami masih berada di green house itu sambil menemani Risa yang sedang heboh menawar beberapa pot anggrek bulan dengan harga yang dia tawar sadis dan seporadis.

“Nduk, dari pada kamu nawarnya ngawur gitu, mending kamu minta gratis aja” kataku dengan sewot kepada Risa, kali ini aku memihak ibu itu yang kurasa sedang dizolimi oleh Risa.

“Iih mas, apaan sih bukannya belain aku” katanya sambil berbisik dan mencubit lenganku.

“Gimana mau belain kamu, lha wong kamu ngaco begitu. Harga 100 ribu kok ditawar 30ribu, bikin malu aja” balasku dengan tidak kalah ketus.

“Yauwis aku gak usah nawar, harganya 100ribu, aku mau beli sepuluh biji, bayarin yakk” jawabnya lagi dengan lebih rese.

“Weett, sepuluh biji? Buat apaan??. Sepuluh biji jadi sejuta dong” kataku sambil bergidik.

“Iya, mau enggak beliin segitu?”

“Hiii.. nehi lah ya, keluar duit sejuta Cuma buat beli kembang” jawabku membela diri.

“Yaudah gausah bawel, cintamu tuh berat diongkos Mas” ujarnya sambil memonyongkan bibir mengejeku.
Aku tau dia bercanda, tapi dari pada cari perkara dengan cewek cerewet ini lebih baik aku diam dan pasrah, aku mengedipkan mata kepada ibu itu untuk mengisyaratkan aku sudah menyerah menghadapi anak ini, sekaligus sebagai isyarat maaf kalau ini anak kebangeten banget dan memilih memperhatikan bagaimana ibu itu sedang bertahan memperjuangkan dagangannya agar tidak bangkrut digulung inflasi yang disebabkan oleh Risa.

“Risa!! Kamu kok sampe sini?” terdengar teriakan memanggil nama Risa, yang membuat kami menoleh keasal suara.

“Jasmine!! Loh ini rumahmu?” pekik Risa sambil menghampiri seorang cewek yang berjalan kearah kami. Kedua cewek itu ngobrol dengan suara tinggi, seperti mereka itu sedan bicara dari jarak jauh, padahal saling berhadapan.
Kayaknya ini satu type kayak risa. Sama-sama bawel, sama-sama rempong. Kalo ibarat kenalpot motor mungkin mereka ini buatan pabrikan yang sama. Batinku sambil memperhaikan gadis yang di panggil Jasmine oleh Risa itu.

“Mas, kenalin ini temen sekalasku. Namanya Jasmine. Min ini yang sering aku ceriatain kekamu itu lho” kata Risa dengan sangat semangat.

“Waaah ini to yang jadi topik omongan Risa, hehe. Saya Jasmine mas” kata cewek yang berparas arab itu.

“Ehh bentar deh min, jangan bilang ini greenhouse punya keluargamu?” tanya risa menyelidik.

“Lha emang iya, kenapa emang ris?”

“Ehh.. hehe gapapa” kata Risa dengan gesture tubuh yang kikuk. Risa kemudian memutar badan dan menuju kearah Ibu dari Jasmine Tadi.

“Hehe bu, saya jadinya ambil satu aja ya bu. Pake harga awal” kata Risa dengan wajah merah menahan malu.
Ibu itu tersenyum lembut sambil bicara.

“Mbak ini tadi mbok bilang kalau temennya Jasmine, kan nanti saya bawain gratis buat mbak” ucap ibu itu.

“Ehhh hehe enggak bu, gak usah repot-repot. Hehe maaf bu, saya nawarnya ngaco tadi”

“Sssstt.. mas, bantuin napa sih? Malu aku, gak enak sama ibunya jasmine ini lho” kata Risa yang menyenggol lenganku meminta bantuan agar rasa malunya sedikit berkurang.

“Sukurin! Salah siapa ngawur gitu. Kena batunya sendiri kan” kataku sambil menahan tawa.
Yaa dan akhirnya kalian tau?, entah apa semua cewek itu bertabiat sama soal barang gratis atau memang Risanya aja yang urat malunya udah putus, jadi dia menerima bujukan dari Ibunya Jasmine untuk dua pot anggrek bulan gratis tanpa biaya.

“Hehe, makasih banyak lho bu. Jadi enggak enak lho saya” katanya dengan tengil sambil menggaruk kepalanya yang jelas tidak gatal itu.

“Hadehh dasar, apanya yang gak enak” batinku dalam hati sambil mengurut jidat
--
Kami masih berada disana untuk beberapa lama, sambil menungggu Risa menuntaskan hasrat bawelnya itu dengan ngobrol secara heboh bersama Jasmine. Sampai tiba-tiba Risa berbalik badan dan setengah berteriak kearahku.

“Mas, abis ini makan yuk” ajaknya semangat.

“Makan lagi makan lagi..” jawabku dengan malas.

“Iiihhh, sekalian nraktir Jasmine sama si Rina adiknya tadi, kan aku uda di kasih bunga gratis”

“Eh?, Rina tadi adiknya Jasmine?”

“Ho’oh mas. Yaaa mau ya”


“Ayok deh” jawabku mengiyakan ajakan Risa.
Perlu beberapa lama sampai Jasmine mampu menggandeng adiknya keluar dari rumah. Dugaanku Rina ini memang butuh sedikit dibujuk kalau berpergian, aku dapat memahaminya.
Kupacu kendaraanku, menyusuri jalanan yang menanjak dan berkelok hingga kami sampai di sebuah rumah makan yang kami tuju, sebuah makan di lereng merapi, menyuguhkan pemandangan dataran tinggi yang memanjakan mata.

“Mas, foto yuk” ajak Risa mulai merajuk setelah kami selesai makan.

“Gak mau, males” jawabku sekenanya.

“Yaudah fotoin aja ya” katanya dengan tengil

“Di ajak foto aja gak mau apalagi suruh motoin sih duk” balasku dengan sewot.

“Diihhh diihh, kepedean.sapa yang ngajak foto sih mas? Kan tadi tak tanyain mau foto nggak? Bukan ayo foto bareng. Salah siapa mukanya bonyok gitu” katanya dengan tertawa mengejek, kujawab ledekanya barusan dengan ngedumel saja tidak jelas, sambil sesekali melirik Rina yang sedang tertawa tertahan.

“Yaudah, mas disitu aja.. jagain tuh si rina, awas aja ya kalo rina sampe kenapa-napa. Anak orang dijagain!”

“Iya wel bawel”
--
“Ada apa Rin?” tanyaku kepada gadis itu.

“Ehh, emm enggak mas. Lucu aja curi denger obrolan mas Rizal sama Mbak Risa, maaf ya gak sopan”.

“Ahh, gak perlu minta maaf. Gak perlu curi denger juga suara kayak Toa si Risa bakal kedenger sampe tempat parkir” balasku sambil menggaruk kepala yang tak gatal.

“Hehe mas rizal ini tipe cowok dibawah kuasa pasangan ya?” tanya dia untuk membuat obrolan.

“Waahh tau aja kamu rin.” Jawabku lagi...
Kulihat gadis itu, dia gadis yang memiliki wajah ala-ala timur tengah entah kebetulan atau memang dia ini seorang keturunan, sejenak kucoba menerka kehidupannya kehidupan di dalam kegelapan, di masa kecil sering kubayangkan itu dengan inderaku yang seperti ini, mungkin akan lebih mudah hidupku jika aku tidak bisa melihat sama sekali.

“Rin kamu tau gak?, kadang kita lebih baik gak melihat sama sekali dari pada melihat apa yang gak ingin orang lain lihat” kataku dengan pelan, kalimat itu terucap begitu saja.
Rina sedikit terkesiap saat mendengar pertanyaanku, digerakanya kepalanya untuk menoleh kearahku dan memasang wajah heran,seolah bertanya kenapa aku bertanya seperti itu?

“Eh maaf, sebelumnya apa kamu tersinggung?” tanyaku dengan lebih hati-hati.
Dia menggeleng.

“Oke,gini, sebenarnya banyak yang bisa kita syukuri dari kegelapan rin.. kamu gak perlu melihat ketidak adilan, kamu gak perlu lihat betapa orang itu gak semuanya baik, kamu gak perlu lihat bagaimana sebuah kenyataan itu kadang gak sesuai dengan apa yang kita harapkan, kadang aku ingin kayak kamu.gelap aku gak harus peduli dengan semua ini karena aku gak lihat semua ini” kataku dengan penuh arti.
Rina tidak langsung menjawab, dia tersenyum dan berdiri sambil meraih tongkatnya dan berjalan sedikit kedepan,melawan arah angin, membuat kerudung berwarna jingga yang dia kenakan berkibar terkena angin membuatnya sedikit tersingkap dan memperlihatkan rambutnya yang berwarna gelap.

“Rin, maaf.. apa kamu tersinggung?” tanyaku dengan menyesal karena pertanyaan dan pernyataan aneh yang seharusnya tidak aku ucapkan kepadanya.

“Sama sekali enggak mas, aku Cuma mau ngrasain angin aja. Sejuk, adem... dan kata-kata mas rizal tadi aku kurang setuju... mungkin memang aku juga bakal nyesel kalau bisa melihat kenyataan kalau gak semuanya adil, kalau semua orang itu gak selalu baik, kalau kenyataan itu gak selalu sama dengan doa kita dan apapun itu mas.... aku tau dan aku paham,ada satu hal yang terlewat dari kemungkinan yang mas rizal bilang tadi. adalah mas rizal gak perlu melihat buat merasakanya, mas rizal gak perlu melihat buat tau kalau kadang dunia tidak adil, kadang gak semua orang baik, dan kadang doa kita dijawab dengan cara lain oleh Tuhan.. aku buta. Tapi aku bisa merasakan apa yang dikatakan mas rizal tadi. Tapi bukankah indah mas bisa melihat? Karena dengan melihat mas rizal tau bagaimana harus bersikap atas itu semua tadi, tidak sepertiku yang hanya bisa merasakan aja, tanpa bisa melihat dan bersikap, dan berujung pada kata aku gak harus peduli”
Diakhirinya ucapan lembut itu dengan terpejam, tutur katanya tenang seolah enteng saja dia mengucapkan kalimatny yang mungkin juga berisi pengharapan untuk dapat melihat dunia.
Aku tertegun mendengarnya, jawabanya membuatku malu dimana malah pertanyaanku tadi menunjukan betapa lemahnya aku, betapa aku kembali tidak bersuyukur dengan nikmat Tuhan.

“Mas ?” rina memanggilku pelan, karena sedari tadi aku hanya diam saja.

“Sebenarnya aku mau kasih nasihat, tapi ternyata aku kalah bijak sama kamu...maaf ya Rin, aku paham. Omonganmu tadi bener... gak sepantasnya aku bicara kayak gitu” kataku sambil menggaruk leher.
Rina tersenyum lagi, dan mengangguk kecil dan kepalanya bergerak, seolah sedang melihat pemandangan didepanya.

“Kamu tau rin?, ketika kamu bisa melihat lagi.. kamu mungkin akan jadi salah satu orang paling bersyukur didunia” kataku

“Kenapa begitu mas?”

“Ya seperti katamu tadi Rin, setelah matamu bisa melihat lagi, bukankah indah? Kamu bisa mengambil sikap dari apa yang kamu lihat, bersyukur? Atau malah mengeluh sepertiku tadi?, tapi aku harap kamu pilih pilihan pertama. Aku jadi belajar dari kamu, terimakasih” ucapku dengan lembut kepada gadis bijak itu.
Dia sekali lagi tersenyum, dan berjalan melawan angin, kulihat perbedaan di senyumya, kali ini dia sedikit lebih lepas tersenyum, merayakan kemenangan argumennya.
---
“Rin, kamu benar-benar gadis yang bijak.” Gumamku sambil menekan pedal gas untuk pulang kerumah.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
hidan.tec94 dan 14 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
lanjut gan 👍🙏
Tergembok Guysemoticon-Hansipemoticon-Jempol
Diubah oleh gethuk.jogja
Wah sudah dimulai toh..., ikut nyimak gan....!
Halaman 1 dari 32


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di