alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
[MATURE / 21+] Burung Kertas Merah Muda 2
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b331e83902cfe3a048b4567/mature---21-burung-kertas-merah-muda-2

[MATURE / 21+] Burung Kertas Merah Muda 2

Tampilkan isi Thread
Halaman 24 dari 47
Quote:


Tapi ane yakin kok kalo si gavin ketemu sama anita mungkin si Gavin bakal berubah jadi baik Mungkin
tergantung Writer bakal di bawa kemana alur Ceritanya gan hoho emoticon-Cool
Quote:


Nah itu dia, tak selamanya yg buruk akan tetap buruk gan hehe.
ayoo semangat bang rendy update nya
Up gan
karakter rendy sadis sih,bokapnya pengusaha hebat tp anaknya lbh milih mandiri dan berjuang sendiri emoticon-Cool
Balasan post chrishana
mantappppppp.... makin sering buka buka kaskus lagi setelah baca ini. Ane masih gelar tiker sama nyeduh kopi nih gan
Lihat 1 balasan
Quote:


Iye gan.... Tapi sayang, kopinye abis... Lum update jg... 😭😭😭
Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


udah di tulis, tinggal di post...
tapi gw ngurus anak istri dulu...
siap bos...sambil ngopi dah.

Chapter 31

“Nu, masih inget gue kan?” tanya Rheva dalam media sosialnya.

“Masih dong. Siapa coba yang mudah melupakan kakak kelas paling cantik pas SMA. Hahahahaha...” balas Danu.

“Lo kerja di perusahaan security hardware kan?”

“Iya, kenapa emangnya?”

“Gue butuh hidden cam sama voice recorder. Lo ada gak?”

“Itu mah gue gak ada, Va. Itu jatuhnya udah agent equipment. Kalau mau, gue ada kenalan yang jual. Emang lo buat apa?”

“Ada deh...”

“Kalau gak jelas alasannya, gue gak mau kasih kontaknya nih.”

“Iya. Buat nyadap omongan bos gue dan buat bantu Rendy.”

“Rendy? Kenapa dia?”

“Gue gak bisa jelasin di sini. Ceritanya panjang.”

“Oke kita ketemuan aja. Kirim aja nomor HP lo, nanti gue whatsapp.”


****

Bermodalkan segenap keberanian, Rheva mengetuk pintu ruangan atasannya. Beberapa detik kemudian, terbukalah pintu ruangan itu dan mendapatkan sosok pria yang tampan dengan tubuh layaknya model pria namun licik dan jahat. Terpampang jelas namanya ada di atas meja kerjanya, Gavin Ramaditya.
“Ada apa cantik?” tanya Gavin.

“Pak, saya...”

“Kenapa? Kangen sama aku?” Sini masuk...” Gavin menarik Rheva masuk ke dalam ruangannya.

“Ada apa, sayang?” Gavin memeluk tubuh Rheva dari belakang.

“Pak, jangan peluk-peluk...” Rheva memberontak.

“Tubuhmu bagus, wajahmu cantik, aku gemas...” goda Gavin.

“Pak, saya mau bicara...” ujar Rheva.

“Oh, mau bicara... Bilang dong... Duduk...”

Rheva duduk menghadap meja kerja Gavin, “Pak, nanti siang saya mau izin keluar. Saya ada perlu.”

“Kenapa? Mau ketemu pacar kamu?” tanya Gavin.

“Nggak, Pak... Saya mau ketemu teman saya. Ada urusan yang harus saya selesaikan.”

“Ya udah, silahkan...” ujar Gavin.

“Beneran, Pak?”

“Iya... Masa aku bohong...”

“Terima kasih, Pak… Terima kasih...” Rheva tersenyum lebar.

“Iya, sama-sama... Setiap hari aja kamu senyum kayak gitu... Runtuh nih keimananku... Hahahahaha...” ujar Gavin.

“Saya keluar ya, Pak.” Rheva beranjak dari duduknya dan keluar dari ruangan Gavin.

Rheva tersenyum lebar seraya berjalan ke arah meja kerjanya. Melanjutkan pekerjaannya yang harus dia selesaikan sebelum siang datang. Tak lupa juga dia mengabarkan adik kelasnya waktu SMA dulu, yang juga sahabat satu-satunya yang dimiliki Rendy hingga saat ini.
“Nu, jadi ya siang ini...” sent.

“Siap kakak cantik...”

“Apaan sih lo, Nu...” sent.

“Hahahaha... Gue hubungin temen gue dulu, Va...”

“OK” sent.

****

Takut, itulah perasaan yang dialami oleh Rheva Ramadhani saat ini. Merasa gentar menghadapi sesuatu yang dianggap akan mendatangkan bencana. Bayang-bayang Rendy akan mengalami depresi berat karena mengetahui Anna akan dipersunting oleh atasannya sendiri, Gavin Ramaditya.

Tak hanya itu, Rheva juga gelisah akan sikap Rendy yang terus berusaha meyakinkan Anna dan ingin menyingkirkan Gavin tanpa mengetahui siapa Gavin sebenarnya. Sampai-sampai perasaan itu merangsang menyentuh indra dan hati. Tak ingin Rendy celaka karena Gavin akan menghalalkan segala cara agar tujuannya tercapai.

Titik pusat tata surya berupa bola berisi gas yang mendatangkan terang dan panas pada bumi pada siang hari sudah naik tepat di atas kepala. Sudah waktunya untuk orang-orang yang bekerja di suatu instansi beristirahat. Pada waktu ini juga, Rheva sudah bersiap pergi menuju tempat yang dijanjikan oleh Danu dan temannya. Tempatnya cukup jauh dari kantor di mana Rheva bekerja. Bisa memakan waktu dua jam menggunakan kendaraan umum.

Rheva telah sampai di tempat tujuan. Sebuah kafe yang berada di daerah Pejaten, Jakarta Selatan. Berjalan dengan kedua kakinya dengan perlahan. Jarak dari halte bus ke tempat tujuan memakan waktu sepuluh menit. Di sana sudah ada Danu dan seorang temannya.
“Maaf yah lama.” ujar Rheva yang langsung duduk bersama.

“Iya, gak apa-apa, Va...” ujar Danu.

“Oh iya, ini temen gue, Va...”

“Hai! Rheva!” Rheva mengajak berjabat tangan.

“Aji...” ujar teman dari Danu sambil menjabat tangan Rheva.

“Udah napas dulu aja, Va... Hahahahaha...” ujar Danu.

“Iya, gila ya penuh banget transjakarta jam segini... Pengap...”

“Mas! Pesen dong!” Aji mengangkat suaranya serta tangan kanannya untuk memanggil pelayan.

****

Ada sedikit kelegaan dalam hati Rheva. Barang-barang yang Rheva butuhkan untuk membantu mengungkap siapa Gavin telah berada di tangannya. Aji memberikan barang tersebut dan menjelaskannya setelah mereka bertiga selesai makan siang bersama.
“Ini voice recorder-nya. Tinggal tekan record aja, nanti dia langsung rekam sendiri. Memorypenyimpanannya pakai micro SD.” ujar Aji sambil memberikan barang tersebut.

“Wah, terima kasih, Mas...”

“Dan ini hidden cam-nya. Modelnya kayak pulpen, kamu bisa kantongin di kemeja kamu sambil merekam.” ujar Aji.

“Terima kasih banyak, Mas Aji...” ujar Rheva senang hati.

“Oh iya, kalau boleh tau, kamu butuh barang ini untuk apa?” tanya Aji pada Rheva.

“Gini, Mas... Aku mau bantu temanku, namanya Rendy. Rendy ini sayang banget sama perempuan namanya Anna. Tapi, Anna mau menikah dengan atasanku, Gavin. Gavin ini jahat, Mas... Bukan lelaki baik-baik... Aku aja yang jadi sekretarisnya, sering banget diajak hubungan badan. Dan, beberapa kali dia main sama perempuan bayaran dan minta booking hotel sama aku.” ujar Rheva.

“Gavin dan bapaknya, juga berencana untuk menghancurkan hidup keluarganya Rendy karena masalah persaingan bisnis.” lanjut Rheva.

“Mas ini berapa harga semuanya?” tanya Rheva.

“Oh, gak usah. Kamu ambil aja.” ujar Aji.

“Mas... Jangan gitu, ah...”

“Va, aku juga mau bantu kamu kalau masalahnya seperti ini. Kamu gak usah bayar apa-apa sama aku.” ujar Aji meyakinkan Rheva.

“Beneran, Mas?”

“Udah, Va... Rejeki jangan ditolak... Gue juga bakalan bantu Rendy sebisa gue...” ujar Danu.

“Makasih banyak... Gak salah ya gue hubungin lo, Nu...” ujar Rheva.

“Toilet dulu ya, bentar...” Aji beranjak dari duduknya.

“Ji, ikut gue...” Danu menyusul Aji.

“Lo serius tuh?” tanya Danu seraya membuka pintu toilet.

“Apaan?”

“Itu ngasih gratis...”

“Iya serius... Gue juga mau bantu kalau kondisinya kayak gitu.”

“Mau bantu atau... Naksir sama Rheva? Hahahaha!” ujar Danu sambil menggoda.

“Apaan sih! Naksir siapa coba...”

“Cantik, kan?”

“Iya sih... Cantik banget... Tapi, kan lo tau sendiri gue belom bisa move on setelah gue ditinggal nikah mantan gue...” ujar Aji.

“Udah sikat... Gue dukung...”

“Apaan sih! Gak jelas luh!”

“Dih! Dasar tolol permanen! Inget umur, orang tua minta cucu!” ujar Danu sambil mendorong kepala Aji pelan.

“Anjir! Ngeplak kepala yang lebih tua.”

“Lo abisnya bego sampe ke tulang belakang. Kesel gue.” ujar Danu seraya berjalan keluar toilet.

Danu dan Aji melangkah kaki bergerak maju dari toilet menuju ke meja di mana Rheva sedang mencoba alat yang diberikan Aji kepadanya. Rheva merapihannya kembali dan memasukannya ke dalam tas seraya melihan Aji dan Danu sedang melangkah dari satu titik menuju meja yang sedang Rheva tempati.
“Mau ke mana lagi nih kita?” tanya Aji.

“Gue balik kantor, Ji.” ujar Danu.

“Aku juga kayaknya balik lagi ke kantor, Mas… Ada yang ketinggalan.” ujar Rheva.

“Ya udah. Yuk, aku anterin!”

“Gak usah, Mas… Ngerepotin…” Rheva menolak.

“Rejeki jangan ditolak, Va. Orang si Aji mau berbuat baik kok ditolak.” ujar Danu.

“Udah, gak apa-apa kok. Ayo, Va!”

“Iya, Mas Aji…”

“Gue duluan ya. Beda parkiran kita… Dah!” Danu melambaikan tangan dan berpisah.

Sementara itu, Aji dan Rheva berjalan ke tempat di mana mobil milik Aji diparkirkan. Setelah beberapa menit berjalan, Aji membuka pintu mobil sedan besutan Jepang miliknya. Mereka bersiap menuju tempat tujuan.
Hanya membutuhkan waktu satu jam, sampailah mereka di depan kantor tempat Rheva bekerja. Aji memarkirkan mobilnya di dalam area parker gedung tersebut.
“Terima kasih ya, Mas Aji…” ujar Rheva sambil tersenyum.

“Iya, sama-sama… Sebentar lagi udah jam pulang kerja, aku tunggu kamu di sini aja ya.” ujar Aji.

"Eh, jangan Mas... Aku pulang sendiri aja gak apa-apa kok..."

"Jangan, Va... Gak apa-apa nanti aku antar... Jangan sendirian, apa lagi atasan kamu kayak gitu. Yang ada, kamu diculik paksa di jalan."

"Beneran gak apa-apa, Mas?" tanya Rheva.

"Beneran, aku di sini aja nunggu kamu."

"Ya udah kalau gitu, aku gak lama kok. Aku masuk dulu ya, Mas..."

"Oke, Va..."

Rheva membuka pintu mobil dan menutupnya. Berjalan menuju pintu masuk gedung perkantoran. Terus melangkah maju dan hilang dari pandangan. Sedangkan Aji, masih setia menunggu Rheva yang tak lama lagi akan menemui dirinya kembali.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
dany.agus dan 5 lainnya memberi reputasi
Mantabbb, nambah 1 lg allynya.. mas Aji..emoticon-Blue Guy Cendol (S)
Mantab om, semakin seru ini..emoticon-Big Grinemoticon-Ngacir
Asiikkk... Update...
untung buka kaskus hari ini... Jadi ga ketinggalan. lanjut ommm... Mantapppemoticon-thumbsup emoticon-thumbsup emoticon-thumbsup
Balasan post abang.cepak
Nyeduh jahe aja gan enak anget

Chapter 32

“Sekarang aku tanya sama kamu! Vera gak bisa dihubungin! Terus kita cari ke mana!” ujar Rendy.

“Siapa yang buat dia seperti itu? Kamu! Siapa yang harus bertanggung jawab kalau dia melakukan sesuatu atau ada sesuatu yang terjadi sama dia? Kamu, Rendy! Kamu!” ujar Anna.

“Loh, kenapa aku?” tanya Rendy.

“Karena kamu yang buat dia seperti itu, Rendy!” ujar Anna sedikit marah.

“...”

“Vera dengan Tasya itu seumuran. Kamu gak ngebayang ya kalau itu terjadi sama Tasya gimana?” tanya Anna.

“Ya aku tinggal hubungin Danu.” jawab Rendy enteng.

“Astaga! Kalau yang nyakitin hatinya itu orang lain gimana, Rendy!”

Pertengkaran antara Anna dan Rendy di dalam elevator membuat gempar. Banyak orang yang ingin melangkah masuk ke dalam lift, tetapi meraka mengurungkan niat karena melihat Anna dan Rendy bertengkar hebat sampai suara mereka terdengar keluar pintu lift. Padahal, lift selalu berhenti di tempat di mana orang menekan tombol turun. Namun, orang-orang lebih memilih menggunakan lift lain daripada harus satu lift dengan mereka.
“Kenapa Vera bisa sampai seperti itu?” tanya Anna.

“Aku cuma kasih tau apa yang mau aku lakuin.” jawab Rendy.

“Apa?”

“Aku mau resign.” jawab Rendy kembali.

“...” Anna hanya diam tak menanggapi.

“Aku gak bisa kerja di sini kalau suasana hatiku kacau gak karuan.”

“...”

*TING!*

Bel dari lift yang ditumpangi oleh Anna dan Rendy berbunyi. Pertanda bahwa ia sudah selesai mengantarkan Anna dan Rendy sampai ke lantai dasar seraya pintunya terbuka perlahan. Rendy dan Anna perlahan bergerak maju keluar dari lift.

Anna seketika berubah. Dia menjadi diam tanpa banyak bicara ataupun marah. Tetapi, napasnya masih tak beraturan seperti orang sehabis melakoni lomba lari maraton. Ada rangsangan yang tepat menyayat hati milik Anna setelah mendapatkan kabar bahwa Rendy akan pergi meninggalkan perusahaan yang sekarang dia tempati untuk bekerja.
“Dek...” Rendy menghampiri Vanessa di meja resepsionis.

“...” Vanessa sedikit terkejut melihat ada Anna di samping Rendy.

“Lihat perempuan ini gak tadi keluar dari sini?” Rendy menunjukkan profile picture dari Vera yang terpasang di aplikasi whatsapp.

“Ini... Tadi aku lihat dia keluar terus gak tau lagi ke mana. Memang ada apa, Kak?” tanya Vanessa.

“Aku mau cari dia sekarang...” ujar Rendy.

“Tadi dia jalan cepat sambil nangis sih, Kak... Yang aku lihat, dia ke gerbang keluar di depan.” ujar Vanessa.

“Iya, Dek... Makasih ya...” Rendy melangkah pergi meninggalkan meja resepsionis.

Beberapa kali Rendy mencoba menghubungi Vera, tetapi nomornya tak dapat dijangkau. Telepon genggamnya seakan sengaja dimatikan agar Vera tak dapat diganggu oleh siapapun termasuk Rendy. Rendy pun menyesali dengan apa yang dia perbuat. Seharusnya, dia merahasiakannya terlebih dahulu.

Rendy berjalan perlahan menuju area parkir. Di sampingnya ada Anna yang menemani. Momen emas yang langka bagi mereka berdua bisa berjalan berdampingan. Namun gagal dimanfaatkan karena keadaan yang tak diharapkan. Berjalan berdua tanpa kata, tanpa bicara, suasana berubah senyap. Hingga akhirnya Rendy dan Anna sampai di tempat di mana motor milik Rendy terparkir.
“Mau ke mana?” tanya Anna seraya menerima helm yang Rendy beri.

“Ke rumahku.” jawab Rendy.

“Ngapain?” tanya Anna kembali.

“Aku mau pinjam mobil Mama untuk cari di mana Vera. Gak mungkin kan kita bertiga naik motorku.” ujar Rendy.

“...”

Kali ini, Anna mau tidak mau menuruti apa kata Rendy. Rendy benar, tidak mungkin menjemput Vera dengan motor besarnya. Tanpa berpikir dan menunggu lama, Rendy langsung melajukan sepeda motornya menuju rumahnya yang ada di daerah Jakarta Selatan.
****

“Rendy, seandainya kau tahu betapa ku merindukan saat-saat seperti ini lagi... Saat di mana kita bersama... Saat di mana kau selalu menjagaku layaknya tuan putri...”

Tumbuhan berbatang dan keras berbaris tak beraturan di pinggiran lalu lintas kendaraan di pusat ibu kota. Memainkan bagian cabang yang banyak ditumbuhi daunan di mana menjadikanna alat untuk mereka bernapas. Menari mengikuti irama sang udara yang bergerak dari daerah bertekanan tinggi menuju daerah bertekanan rendah.

Sudah lama Anna tak merasakan momen ini. Di mana dia sedang bersama Rendy di atas kuda besi miliknya. Jalan ke sana ke mari hanya untuk sekedar merubah suasana hati menjadi riang kembali. Bertahun-tahun lamanya mereka berpisah dan akhirnya mereka dipersatukan kembali dengan takdir yang tak disangka-sangka. Sebuah perasaan yang terkubur akhirnya bangkit kembali setelah sekian lama.
“Rendy...” panggil Anna.

“Iya...”

Anna melingkarkan tangannya pada pinggang Rendy. Terbawa oleh suasana akan kerinduan masa lalu. Masa lalu yang sulit untuk dihapus dari memori ingatannya. Menguatkan perasaan mereka kembali setelah terpenjara pada jurang sekian tahun lamanya. Tetesan air mata yang turun menandakan bahwa Anna bahagia dapat dipertemukan kembali dengan Rendy. Membasahi bagian punggung dari jaketnya yang dikenakan saat itu.

Rendy juga tak menolak pelukan yang diberikan Anna saat itu. Sebuah rangsangan masuk menembus hingga ke hati menyentuh raga. Perasaan yang telah lama dipendam kini hidup bertumbuh subur dalam sanubarinya. Perasaan yang sama-sama mereka rasakan.
****

Satu jam perjalanan, Rendy memarkirkan motornya di garasi rumahnya. Mamanya yang mendengar suara motor Rendy berjalan keluar dari dalam ruang tengah. Menaruh majalah yang sedang dibacanya untuk melihat ada apa Rendy pulang ke rumah pada saat jam kerja.
“Rendy, kok sudah pulang?” tanya Mama dari depan pintu.

“Aku mau pinjem mobil Mama. Ada perlu.” ujar Rendy.

“Oh iya, Ma... Tebak nih aku sama siapa?” Rendy memperlihatkan Anna pada Mama.

“Ya ampun! Anna! Ini Anna kan? Bener kan?” Mama terkejut melihat Anna.

“Mama...” Anna memeluk Mama Rendy. “Ma, aku kangen banget sama Mama...”

****

“Rendy, ada satu pertanyaanku yang ingin ku ajukan padamu. Masih adakah darahku yang bergerak dari pembuluh arteri menuju jantungmu setelah aku menyakiti hatimu?”

profile-picture
profile-picture
profile-picture
dany.agus dan 6 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Hore update emoticon-2 Jempolemoticon-2 Jempol
epic bener part trakhirnya ini mas
Quote:


epic gimana gan?
saya udah mythic

#MobileLegend
Lihat 1 balasan
Balasan post chrishana
ahahahahahaha bisa bener,,,lanjut mas,,,sehat slalu real nya biar lancar nulisnya
Masih tetap ada malah semakin kuat
Halaman 24 dari 47


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di