KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
[MATURE / 21+] Burung Kertas Merah Muda 2
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b331e83902cfe3a048b4567/mature---21-burung-kertas-merah-muda-2

[MATURE / 21+] Burung Kertas Merah Muda 2

Tampilkan isi Thread
Halaman 23 dari 47
baru selesai baca dari cerita awal sampai cerita akhir, ditungu kelanjutannya om rendy...
mana nu bang rendi
Quote:


masih sibuk ngurus istri sama anak.
Lihat 1 balasan
Balasan post chrishana
ditunggu om
Lihat 1 balasan

Chapter 29

“Tapi, aku gak mau kamu ngorbanin sesuatu yang tak pantas kamu korbankan, Va.” ujar Rendy.

“Kamu punya cara apa untuk ngebuktiin Gavin itu gak baik ke Anna?” tanya Rendy.

“Ya kamu bisa rekam pada saat dia ngajak kamu check in atau ngajak berhubungan misalnya.” ujar Rendy.

“Oke, aku akan lakuin itu.”

“Tapi, jangan kamu terima ajakannya.”

“Anna mana bisa percaya kalau hanya lewat suara, Ren.” ujar Rheva.

“...”

“Percaya sama aku, Rendy...” ujar Rheva.

Rendy tak bisa berkata apa-apa lagi. Bibirnya kaku dan mulut terkunci. Ingin mengeluarkan sepatah kata tetapi seperti ada yang menahan dari dalam hati dan pikirannya. Rheva hanya memegang tangan Rendy untuk meyakinkan Rendy bahwa tidak akan terjadi apa-apa lalu berjalan keluar dari kamar Rendy.

Sekarang, Rendy berada dalam situasi sulit. Dia harus melibatkan orang-orang disekitarnya untuk membuktikan bahwa Gavin adalah lelaki yang buruk dan tak pantas jika disandingkan dengan Anna yang cantik dan berhijab. Tak lama kemudian, masuklah Anita ke dalam kamar Rendy dan menemukan Rendy sedang duduk sendiri di atas ranjangnya.
“Tadi itu Rheva bukan ya?” tanya Anita.

“Iya, Kak...”

“Kamu kenapa?”

“Gak apa-apa... Gak tau ah... Pusing...” Rendy merebahkan tubuhnya dan menutup wajahnya dengan bantal.

“Ih!” Anita menarik bantal yang menutupi wajah Rendy. “Kamu tuh kalau ditanya jawab yang benar!” protes Anita.

“...”

“Ada masalah sama Rheva?” tanya Anita.

“Nggak ada... Bukan sama Rheva.” jawab Rendy.

“Anna?”

“Iya...”

Anita merubah posisinya. Kini dia merebahkan tubuhnya dan memiringkannya menghadap Rendy. Wajah Rendy dan Anita saling berdekatan. Namun, tak ada niat Anita untuk menggoda Rendy walaupun dia hanya memakai sport bra dan hotpants saja.
“Kamu kenapa lagi sama Anna? Berantem?” tanya Anita.

“Nggak, Kak...” jawab Rendy singkat.

“...”

“...” Rendy hanya diam.

“Rendy! Kok malah diem!” Anita meninggikan suaranya di telinga Rendy.

“Aduh! Apaan sih!” Rendy kesal.

“Ceritanya terusin! Ngeselin banget!”

“Iya iya... Dia mau nikah, Kak...” ujar Rendy.

“Ya bagus dong dia mau nikah...”

“Kak, aku gak masalah deh dia mau nikah sama siapa. Tapi, aku gak ikhlas ngelepas Anna dari hatiku kalau dia salah memilih laki-laki!” ujar Rendy dengan emosi.

Anita langsung memeluk Rendy yang kala itu sedang dikuasai oleh emosi. Anita menghela napas panjang dan tersenyum serta berbicara setengah berbisik di telinga Rendy.
“Rendy, Anna lebih memilihnya mungkin karena ada usaha dari lelaki itu untuk menghalalkannya.” Anita mengendurkan pelukannya. “Sekarang, aku tanya sama kamu. Usaha apa yang sudah kamu lakukan untuk meyakinkan dia? Sudah kamu lamar dia? Bicara dengan orang tuanya?” tanya Anita.

“...”

“Wanita melihat pria itu dari apa yang dia lakukan untuk membuktikan cintanya terhadap wanita yang ia cinta. Bukan hanya sekedar yakin dalam hati saja. Ingat, cinta itu diyakini dalam hati, diucapkan dengan lisan, serta dibuktikan dengan perbuatan.” ujar Anita.

“...”

“Kalau memang kamu cinta dengan Anna, doakanlah dia yang terbaik. Doa adalah pembuktian cinta terhebat, tak akan ada yang bisa menandingi.” ujar Anita.

“Apa kakak juga melakukan itu?” tanya Rendy.

“Iya, aku selalu doakan orang yang aku cinta, walaupun sekarang aku gak tau di mana dia dan gimana kabarnya.” jawab Anita.

“Mantan kakak?”

“...” Anita hanya menganggukkan kepalanya. “Itulah kenapa aku selalu menolak lamaran para lelaki. Karena hatiku masih ada satu nama yang belum bisa digantikan.”

*PLAK!*

Satu tamparan keras mendarat di pipi Rendy. Anita melayangkan telapak tangannya tepat ke arah wajah Rendy. Rendy yang bingung langsung melampiaskan emosinya pada Anita.
“Aduh! Apaan sih!” ujar Rendy seraya memegang pipinya.

“Sempet-sempetnya liatin dada aku!” ujar Anita sambil menutupi bagian dadanya.

“Keliatan, Kak! Keliatan! Siapa suruh cuma pake sport bra doang!” ujar Rendy tak mau kalah.

Tiba-tiba saja Anita menerjang tubuh Rendy hingga tubuhnya terbaring di atas ranjangnya. Posisi Anita sekarang sedang menduduki tubuh Rendy dengan kedua tangan Anita menahan bahu Rendy. Lalu, Anita mendekatkan dan menempelkan tubuhnya tepat di atas tubuh Rendy.
“Hayo... Kamu napsu kan...” goda Anita.

“Kak! Apa-apaan sih! Bangun gak!” Rendy mencoba meronta.

“Apanya yang bangun? Aku apa kamu?” Anita makin menggoda Rendy.

“Kakak! Berat tau gak! Aku sumpahin kakak besok obesitas!” Rendy membentak.

“Heh! Kurang ajar! Ya udah aku gini aja terus... Gak mau bangun...” ujar Anita.

“Ya ampun, Kak! Hobinya jelek banget asli...” ujar Rendy.

“Adik sepupuku yang tampan dan manis...” Anita membelai lembut pipi Rendy, “Kan sekarang kamu lagi galau... Gimana kalau aku...” tiba-tiba saja Anita berhenti bicara.

“Ini apaan sih kok ngeganjel?” tanya Anita sambil memegang bagian celananya.

“...”

“Astaga, Rendy! Kamu nafsu ya!” Anita bangun dari duduknya berpindah posisi ke samping Rendy.

“Nggak!”

“Itu punya kamu berdiri! Kurang ajar kamu!” Anita mengambil guling dan bersiap memukul.

“Kak! Jangan! Stop!” Rendy memberikan sinyal stop kepada Anita.

“Rasakan ini, dasar nakal!”

*BUG!*

“TIDAAAAAAK!!!” Rendy berteriak kencang.

profile-picture
profile-picture
elangbiru00 dan jimmi2008 memberi reputasi
Balasan post abang.cepak
sudah ya gan
Lihat 1 balasan
akhirnyaa ada anita emoticon-Big Grin
Mari kita tunggu episode selanjutnya, mohon bersabar ini ujian
“Rasakan ini, dasar nakal!”

BUG!

“TIDAAAAAAK!!!” Rendy berteriak kencang.
emoticon-Big Grinemoticon-Big Grin
Terancam keselamatan si otong emoticon-Turut Berduka
Diubah oleh doyanbokep
post nya kalo g ada anna seru gan
kok ane ga rela ya kalau rheva sampai gituan ma si gavin
fun sih klo punya sodara kek anita emoticon-Wakaka
Joninya Rendy bangun wkwkk...
berarti tergoda juga donk ma Anita..
pentungan rendy di pukul pake Guling emoticon-Ngakak

emoticon-Bata (S) Cinta Sejati Anita Si Gavin omg emoticon-Nohope
Diubah oleh kkaze22
Balasan post chrishana
mantappp gan.... ane penunggu setia disini nihhh. Lanjutkan gannnn emoticon-thumbsup emoticon-thumbsup emoticon-thumbsup

Chapter 30

Ada seorang perempuan muda duduk sendiri. Di bawah arunika pagi hari dengan suasana seperti menggambarkan isi hati. Wajahnya terus menunduk dan murung. Tak terpancar nayanika yang biasanya nampak di hari-hari sebelum masalah meruncing. Ditemani dengan wangi dari petrikor yang disebabkan oleh rintik gerimis sebelum sang pusat tata surya menampakkan diri. Tak bisa ditahan laju dari air matanya yang terus menetes. Masalah hati yang membuat nafasnya tak beraturan dan sesak di dada.
“Dek...” panggil seorang lelaki.

“Eh, Bang Tommy.” perempuan itu menghapus air matanya.

“Kenapa kamu pagi-pagi?” tanya Tommy.

“Gak apa-apa, Bang...” jawabnya.

“Rendy?” tanya Tommy kembali.

“...” perempuan itu hanya mengangguk.

“Bukannya kamu mau nikah sama pria lain?” tanya Tommy.

“...” dia menggelengkan kepalanya. “Gak tau aku, Bang... Hatiku masih memilih Rendy...” jawab perempuan dengan nama Devianna Azzahra yang ada di ID Card miliknya.

“...”

“Tapi, aku ragu. Dulu, dia mati-matian pertahanin aku sampai detik akhir aku pergi. Sekarang, semua pergi... Rendy berubah... Aku gak bisa ngerasain dia perjuangin aku... Justru, aku kecewa sama sikapnya dia...” ujar Anna.

“Apa yang bikin kamu kecewa, dek?”

“Dia mau aku mengakhiri hubunganku dengan calon suamiku.”

“Gak mungkin Rendy berkata seperti itu kalau gak ada alasannya...” ujar Tommy.

“Aku tau gimana dia... Aku kenal dia sudah lumayan lama... Sebaiknya, kamu jangan berpikiran negatif dulu... Kamu mau naik atau masih mau di sini?”

“Aku mau di sini dulu, Bang...”

“Ya udah... Coba kamu bicara dulu sama Rendy... Aku gak bisa bantu lebih banyak karena ini masalah hati dan hubungan kalian...” Tommy beranjak dari duduknya dan meninggalkan Anna sendirian.

Perempuan itu kembali dalam masa sendirinya di area taman gedung perkantoran tempat dia bekerja. Beberapa menit kemudian, terdengar suara sepeda motor besutan Jepang dengan suara khas dari mesin dua silinder terpakir di parkiran khusus motor besar. Anna langsung berdiri dari duduknya dan menunggu pria yang mengendarai motor tersebut berjalan ke arahnya.

Ada sebuah perasaan yang ingin dia utarakan kepada pria tersebut. Perasaan yang kuat membuat Anna berdebar dan bibirnya bergetar. Pria yang ditunggu pun tengah berjalan ke arahnya.
“Bismillah...”ucap Anna dalam hati seraya melihat pria itu berjalan ke arahnya.

“Ren...”

Pria itu hanya menatap Anna lalu melanjutkan langkahnya ke dalam area gedung. Ini adalah kali pertama Anna merasa diabaikan. Merasa sebagai makhluk halus yang tak kasat mata dilihat oleh pria tersebut. Pria yang namanya tertanam berakar kuat di dalam hatinya kini tengah mengabaikan dirinya. Batinnya tercabik dan perih setelah melihat sikap dari pria tersebut di depan matanya. Seperti mengisyaratkan untuk pergi dari hidupnya.
****

Sesampainya di tempat di mana Rendy bekerja, dia langsung menaruh tas miliknya di atas meja dan menyandarkan tubuhnya di atas kursi kerja miliknya. Sambil mengangkat kepala dan memejamkan matanya sejenak sambil menghela napas panjang berkali-kali.

Terlihat seorang perempuan dengan rambutnya hitam lurus memanjang tergerai menghampiri dirinya sambil membawa secangkir teh hangat buatannya. Berjalan perlahan dan hati-hati agar air teh yang ada di cangkir itu tidak tumpah setetespun.
“Mas...” panggil perempuan itu.

“Iya, Ver...” jawab Rendy sambil merubah posisi duduknya.

“Tehnya diminum dulu, Mas...” Vera menaruh teh tersebut di atas meja. “Mas Rendy ada apa?” tanya Vera.

“Gak ada apa-apa kok...” ujar Rendy sambil memutar kursi menghadap jendela.

“Mas...” Vera berdiri di samping Rendy yang sedang menatap langit. “Jangan bilang gak apa-apa... Kamu gak bisa nyembunyiin apa yang kamu rasain saat ini, Mas... Sikapmu berkata demikian...” ujar Vera.

“...”

Rendy kembali duduk di kursinya dan menghadap ke meja kerjanya. Vera menghela napas panjang dan duduk di depan Rendy. Vera terus menatap Rendy yang pandangannya merunduk. Bergejolak dengan candramawa hatinya saat ini.
“Mas...” Vera menggenggam tangan Rendy.

“...”

“Masalah sama Mbak Anna?” tanya Vera.

“Udahlah, Ver... Aku gak mau bahas itu...” ujar Rendy.

“Ikhlaskanlah, Mas... Bukannya dia mau menikah?”

“Aku akan ikhlas kalau yang dia pilih adalah lelaki yang baik dan pantas bersanding dengannya.” ujar Rendy.

“Kalau memang menurut Mas lelaki itu gak baik, cukup kita doakan saja supaya dia menjadi lebih dan yang terbaik untuk Mbak Anna...”

“...”

“Terima kasih, Vera... Aku mau sendiri dulu... Ada yang harus aku pikirkan sejenak.” ujar Rendy.

“Iya, Mas... Aku tinggal kerja dulu ya...”

Rendy termenung sendiri di meja kerjanya. Menyendiri layaknya genta di atas menara gereja yang senyap. Berpikir akan sesuatu hingga genta dalam pikirannya berbunyi, menandakan bahwa dia sudah siap dengan keputusan yang di ambil.

Tepat pukul 10.00 WIB, Rendy menghampiri Vera yang sedang bekerja. Menghiraukan Anna yang duduk di samping Vera dengan headset menempel di telinganya. Mereka berdua masuk ke dalam ruang senyap. Di mana ruangan ini menjadi saksi air mata Rendy dan Anna ketika terjadi pertikaian di waktu yang sudah lalu.
“Ada apa, Mas?” tanya Vera.

“Cuma kamu yang tau masalah ini... Jangan kasih tau siapa-siapa...” ujar Rendy.

“Iya, ada apa, Mas?” tanya Vera yang semakin penasaran.

“Aku mau resign.” ujar Rendy.

“Hah! Mas, serius?” Vera terkejut.

“Iya...”

“Mas, jangan ambil keputusan sendiri...” ujar Vera.

“Maaf, aku harus melakukan ini... Aku gak bisa kerja di sini kalau suasana hatiku kacau... Apa lagi, aku harus melihat Anna setiap hari yang membuatku semakin tercabik...” ujar Rendy.

“Mas... Aku mohon jangan pergi...” Vera menggenggam tangan Rendy dengan kencang.

“...”

“Ya kamu bisa tenang gak lihat Anna tapi bagaimana denganku, Mas? Walaupun kamu adalah seseorang yang tak mungkin aku miliki, aku tetap ingin melihatmu.” ujar Vera.

“...”

“Setidaknya, kamu sudah aku anggap seperti kakakku sendiri, Mas... Kamu selalu bantu aku jika aku sedang kesulitan, mendengarkan semua cerita dan curhatanku... Aku butuh kamu, Mas...” lanjut Vera.

“...”

“Jawab, Mas!”

“Aku gak bisa merubah keputusanku, maaf...” ujar Rendy.

“Aku benci sama kamu, Mas... Aku benci sama kamu! Egois!” Vera keluar dari ruangan sambil membanting pintu dengan keras.

Seluru karyawan yang ada di sekitar langsung melihat menuju sumber suara bantingan pintu. Di sana ada Vera yang berjalan cepat keluar ruangan sambil menahan tangis dan laju air matanya. Dia mematikan IP Phone miliknya, lalu mengambil telepon genggam dan dompet miliknya. Berjalan cepat meninggalkan meja kerjanya menuju elevator untuk mengantarkannya ke lantai dasar gedung perkantoran ini.
“Tom!” Rendy menanggil Tommy seraya setengah berlari menghampiri. “Vera mana?” tanya Rendy.

“Gak tau aku... Dia langsung main pergi gitu aja... Kau apakan dia?” tanya Tommy.

“Gue gak bisa jelasin... Gue butuh Vera ada di mana...”

“Kau whatsapp aja, Ren...” ujar Tommy.

Pending... HP-nya juga gak aktif...” ujar Rendy.

Anna mematikan telepon yang ada di mejanya, “Rendy... Kamu gak ada jadwal meeting, kan?” tanya Anna.

“...”

“Ikut aku! Kita cari Vera!” Anna menarik tangan Rendy.

“Na, apaan sih!” Rendy mencoba melawan.

“Kamu yang buat dia menangis! Mana rasa tanggung jawabmu, Rendy!” Anna membentak Rendy di depan Tommy.

“...”

“Jangan menyalahkan siapapun! Dia menangis itu salahmu! Cepat kita cari dia!”

Kali ini, Rendy tidak bisa membantah. Kalimat yang diutarakan oleh Anna tak dapat dijawab oleh Rendy. Rendy merasa memang dia harus menanggung apa yang sudah dia perbuat. Rendy juga merasa harusnya dia bisa menahan egonya agar tak melukai perasaan orang lain.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
dany.agus dan 4 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh chrishana
Lihat 1 balasan
semoga vera tidak bertemu Gavin
dan semoga Vera tidak kenapa2 😢
Lanjutannya Rheva gmn om?

Cerita semakin memanas pemirsa... Lanjutkan om, kami setia menunggu ceritamu..emoticon-Cendol (S)
masih disini menanti kelanjutannya emoticon-Big Grin
Quote:


Keknya benci bgt sm gavin omemoticon-Leh Uga
Halaman 23 dari 47


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di