KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5a4df3c460e24b5b3b8b4567/aku-melihat-mereka

Aku Melihat Mereka

Tampilkan isi Thread
Halaman 14 dari 21

Bagian Akhir

Saat sedang membaca pesan dari Surya suara Gagah dan Axel yang sudah bangun seketika memecah keheningan saat itu,

“Xel kowe meh balek kapan?”(Xel kamu mau pulang kapan) tanya Gagah ke Axel),

“aku Sabtu wae ketoke Gah, la kowe mbek Yusuf meh kapan?”(aku kayaknya Sabtu gah, kamu sama Yusuf mau pulang kapan?),

“Jon meh balek kapan?”(jon mau pulang kapan?) teriak Gagah dari dalam kamar,

“manut cuk, ki Surya sms aku jare kon mampir neng cafene deen”(ngikut cuk, ini Surya sms kata dia kita suruh mampir ke cafenya),

“Surya koncone dewe SMA jon?”saut Axel,(Surya teman kita waktu SMA jon?)

“iyo Xel, piye?(iya Xel, gimana?),

“yowes to yo balek bareng-bareng wae numpak mobil mengko mampir neng ngone deen”(ya udah kita pulang bareng-bareng aja naik mobil nanti mampir ke tempat dia),

“cocoklah kalau gitu" jawabku.

Kami bertiga bersiap-siap untuk kembali ke rumah kami di Jogja, sesampainya kami di Jogja kami bertiga mampir ke tempat Surya teman kami, walaupun hari itu adalah malam minggu tapi memang karena kampung kami bukanlah kampung yang terlalu ramai jadi saat kami datang sekitar pukul 10:00 malam jalanan didepan cafe ini juga sudah tidak sepadat saat sore hari. Aku, Axel dan Gagah memesan kopi untuk meminumnya di kursi luar yang cukup dekat jaraknya dengan jalan raya, saat kami sedang memesan kopi dari belakang teman kami Surya datang,

“Gah, Suf, Xel seko ndi kowe?”(Gah, Suf, Xel kalian darimana?) sambil menjabat tangan kami satu persatu,

“ki bar dolan-dolan, piye kabarmu? saiki sukses no”(ini habis main-main, gimana kabarmu? sekarang udah sukses) kata Axel ke Surya,

“halah biasa wae Xel cilik-cilikan daripada nek rak kuliah nganggur, la kalian sido kuliah neng Malang to?”(hah biasa aja Xel kecil-kecilan daripada kalau ngak kuliah nganggur, kalian jadi kuliah di Malang?)

“sakmene kok cilik ki lo hemmm, sido to ya iki mau gek seko kono langsung mampir rene sek”(segini kok kecil hemmm, jadi dong ini tadi dari sana langsung mampir ke sini dulu) ucap Axel,

Kami berempat ngobrol di luar sambil minum kopi dan merokok, aku duduk bersebelahan dengan Axel menghadap jalan sedangkan Gagah dan Surya menghadap ke arah dalam cafe.

“modal akeh kwe Sur?”(modal banyak kamu Sur?) tanya Gagah ke Surya,

“mayanlah Gah seng ngurusi bapakku kabeh nek kui”(lumayan Gah yang ngurus bapakku semua kalau itu).

Sambil tertawa-tawa membahas kebodohan kami saat masih SMA dari depanku atau dibelakang Gagah dan Surya ada sesuatu yang lewat, aku yang kaget tersedak karena hal itu,

“santai jon santai rak sah kesusu nek kurang mengko dijok’i meneh” (santai jon santai nanti kalau kurang ditambah lagi) kata Surya,

“hahaha tenan ki?” (hahaha beneran ni) jawabku sambil batuk-batuk karena tersedak kopi,

“tenan, awalan gratis sek nek ngo kalian-kalian”(beneran, awalan ini gratis dulu kalau buat kalian-kalian),

untuk menghilangkan efek tersedakku aku meminum air putih, saat sedang membuka botol dan akan meminumnya tiba-tiba aku mendengar ada suara,

“heeee”,

aku melihat ke arah teman-temanku tapi tidak ada yang bersuara begitu, setelah selesai minum aku menaruh gales minumku dimeja, aku melihat jam tanganku waktu menunjukkan sekitar pukul 11:40 malam tak berapa lama aku memejamkan mataku sambil berucap dalam hati,

“nyuwun sewu, sinten ngeh seng wonten teng mriki”(permisi, siapa ya yang ada disini),

awalnya aku tak mendengar suara apapun, sampai pada pertanyaanku yang kesekian kalinya aku mendengar ada suara teriakan,

“haaaaaaaaaa”,

“Astagfirullah”, seketika itu aku membuka mataku,

aku bertanya ke teman-temanku,

“seng bengok-bengok mau sopo?”(yang teriak tadi siapa?),

“rak ono seng bengok-bengok jon, ngimpi kowe wong ngombe kopi kok malah ditinggal turu”(ngak ada yang teriak jon, kamu mimpi kali orang minum kopi kok malah ditinggal tidur) jawab Surya”.

Tepat di sebelah caffee ini ada sebuah rumah kosong, aku berjalan ke arah rumah tersebut di depan rumah itu sedikit ke arah selatan tiba-tiba ada mmt sebuah angkringan yang menutupi bekas angkringan yang sudah tak terpakai bergerak sangat keras seolah-olah ada yg menggerakan padahal saat itu angin sedang bertiup biasa saja, akupun terbangun dari tempat dudukku dan berjalan ke arah mmt tersebut,

“meh neng ndi jon?(mau kemana jon)tanya Gagah,

“sek dilit”(sebentar),

tektektek kulangkahkan kakiku perlahan-lahan, aku melihat dibelakang mmt tadi ada sebuah rumah besar yang sangat megah, aku tidak berani menghampiri bekas angkringan tersebut, aku hanya berdiri didepan rumah kosong tadi dan tiba-tiba aku mendengar suara yang sangat jelas ditelingaku,

“husss”

seketika itu aku berjalan kembali ke arah tempat teman-temanku berkumpul,

“ngopo sih jon”(kenapa sih jon)tanya Axel,

“rak popo Xel, pegel sikile bar perjalanan adoh”(nggak papa Xel, kakiku pegel abis perjalanan jauh),

aku berusaha mengalihkan perhatianku dan kembali ngobrol dengan teman-temanku tak terasa waktu menunjukkan pukul 1:30 pagi karena pengunjung cafepun suda pulang semua akhirnya kami bertiga berpamitan pulang ke Surya,

“Sur balek sek ya makasih lo traktirane”(Sur pulang dulu ya makasih lo traktirannya) ucap kami bertiga ke Surya samil berjabatan tangan untuk berpamitan pulang,

“santai to ya mbek konco dewe, kapan-kapan mampir neh ya”(santai aja sama temen sendiri, kapan-kapan mampir lagi ya).

Kamipun berjalan menuju ke parkiran tempat mobil Axel, kali ini Axel yang menyetir kata dia agar nanti tidak repot untuk bertukar tempat. Axel memilih jalan ke arah selatan melewati bekas angkringan yang ada diseberang caffee Surya tadi namun anehnya saat aku melewati tempat ini untuk ke dua kalinya aku tidak melihat ada rumah disitu, jangankan sebuah rumah bangunanpun tidak ada, yang aku lihat hanya lahan kosong yang dipenuhi rerumput dan sebuah sumur yang terletak ditengah lahan kosong ini.

Mungkin ini sedikit cerita dari pengalamanku tentang duniaku dan juga dunia “mereka”, sampai saat ini aku dan Gagah masih melihat “mereka” seperti “mereka” melihat kami, terkadang kami berdua memberi saran sesuai kapasitas kami kepada seseorang yang bertanya kepada kami dan memiliki hubungan dekat dengan kami. Mereka bisa datang saat kami tidur ataupun saat kami terjaga, mereka ada di setiap hari-hari, saat pagi, siang, sore ataupun malam. Hanya saja saat malam datang, saat kehidupan kita manusia mulai lengah, “mereka” justru hadir dengan kesibukannya, “mereka” hadir tak jauh dari kita, dilingkungan disekitar kita, mungkin disamping kita, dibelakang kita, atau mungkin disebelah kita saat kita sedang terbaring dan memejamkan mata.
profile-picture
AnakRumahan580 memberi reputasi
Diubah oleh ioctaviann
sudah tamatkah ini?




bagus critanya.
Quote:


buat judul ini udah selesai gan

makasih udah mampir emoticon-Shakehand2
gembok part 14
Quote:


terima kasih udh mampir gan emoticon-Shakehand2
gembok part 17
Quote:


terima kasih udh mampir gan emoticon-Shakehand2
ada yang mau cerita ini dilanjut ke part 2 nggak?
Lanjut om
Ijin ninggalin jejak gan kayanya menarik nih,
ampe kudu login ane
Quote:


d tunggu part 2 nya gan emoticon-Jempol
Post ini telah dihapus oleh kaskus.support17
mampir
minyak
Mantauuu emoticon-Big Grin
Quote:


emoticon-Travelleremoticon-Travelleremoticon-Travelleremoticon-Travelleremoticon-Travelleremoticon-Travelleremoticon-Travelleremoticon-Traveller
Diubah oleh filusufkacang
hmm.. bahas sesuatu yg goib
tak kan ada ujungnya wkwk
sereeeem jiiir
Quote:


...



Diubah oleh hatalomba
kapan yg ke dua nya di rilis
Halaman 14 dari 21


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di