alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Burung Kertas Merah Muda
4.97 stars - based on 35 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5a9e541d60e24b916d8b4567/burung-kertas-merah-muda

[17+] BKMM

Tampilkan isi Thread
Halaman 20 dari 27
Cuk Jaran... si Rianemoticon-Blue Guy Bata (L)

Neng Anna mau dinodai, untung ada babang Rendy a true Heroemoticon-Belo

Tak tunggu next partnya Ganemoticon-Belum Tidur
Muay thai salah satu basic dr MMA.. Vs taekwondo mah kena gulung aja tu rian.. Cek aja di utube.. Taekwondo vs muay thai.. Apalagi MMA.
Nendaaa Duluu Gaaan.. Mau Naik Ke Atas Gunung Dulu..
Quote:


Quote:


oke gan
Quote:

sama2 mematikan kok Gan asal bisa jaga jarak sama tendangannya. Muang Thai juga sama jangan sampe deket tendangan tumit sama tumit tangan.

Dan jangan lupa strategi dan emosi memainkan peranan penting emoticon-Smilie

Quote:


itu ane moon ane masuk ke tubuh si rendy emoticon-Blue Guy Peace
emoticon-raining emoticon-Ngacir
Diubah oleh kkaze22
Quote:


ente kira shaman king.. emoticon-Amazed
Quote:


Yoh asakura emoticon-Ngakak emoticon-Ngacir
Quote:


coba ente liat Tedo nya si DK-yo di yucub bre .. mungkin bisa dipake untuk real life

Chapter 59

*TOK! TOK*

“Anna, aku masuk ya.” ucap Rendy seraya membuka pintu kamarnya.

“Eh!” Rendy yang melihat Anna sedang melaksakan sholat dzuhur kembali menutup pintu kamarnya kembali.

Beberapa jam setelah tragedi rumah Rian, Anna singgah di rumah Rendy. Orang tua dari Rendy meminta agar Anna tinggal sementara di rumah itu untuk menghindari Rian yang bisa saja kembali menemui Anna ke rumahnya. Saat itu, Anna sedang beristirahat dan menenangkan diri di kamar Rendy. Tak lama kemudian, muncul Anita yang baru saja pulang dari kuliahnya.
“Ngapain kamu di depan kamar?” tanya Anita.

“Eh, Kakak. Lagi nunggu Anna sholat.” jawab Rendy.

“Orang sholat kok ditungguin. Emang bakalan kabur.” ujar Anita.

“Hehehehe...”

“Eh, tadi kamu bilang ada Anna?”

“Iya, Kak.”

“Rendy! Aku udah selesai!” ucap Anna dari balik pintu kamarnya.

Mendengar Anna sudah selesai, Rendy masuk ke dalam kamarnya sambil membawa makan siang untuk Anna. Sedangkan Anita lebih memilih merebahkan tubuhnya di kamar Tasya yang sedang ditinggal pergi menuntut ilmu oleh pemiliknya.
“Gimana sekarang keadaan kamu?” tanya Rendy kepada Anna.

“Aku udah baikan. Tapi, aku masih sedikit shock.” jawab Anna.

“Tadi waktu kamu sholat, aku didoain gak?” tanya Rendy kembali.

Anna tersenyum lalu mengusap wajah Rendy di bagian pipi kirinya. “Aku selalu menyebut namamu di setiap satu tarikan napas dalam doaku.”

“...”

“Rendy.” panggil Anna.

“Iya.”

“Kenapa diam?”

“Aku tak kuasa membalas untaian mutiara yang terkandung dalam kalimat cintamu.” ujar Rendy.

“Aku tak butuh balasan. Perasaan ini timbul tanpa sebab.” ujar Anna pelan.

“...”

“Aku juga tak punya alasan mengapa aku harus berhenti mencintaimu. Karena aku mencintaimu tanpa alasan.” ujar Anna.

“...”

“Aku tak peduli siapa kamu, dari mana asalmu, dan apa yang telah atau akan kamu lakukan.” lanjut Anna.

“...”

“Kamu tau gak apa yang selalu aku doakan?” tanya Anna.

“...” Rendy menggelengkan kepalanya.

“Aku ingin disatukan denganmu. Jika tak bisa bersatu di dunia, aku ingin kita bersatu di akhirat.”

“Sekarang, aku yang kehabisan kata-kata, Na.” ujar Rendy.

“Nita! Tasya! Ngapain kalian di depan pintu!” suara dari Mama terdengar dari luar kamar Rendy.

Ujaran kalimat yang dikeluarkan dengan nada cukup tinggi mampu membuyarkan suasana Rendy dan Anna. Rendy yang mendengar itu bergegas menuju pintu kamarnya dan membukanya. Ternyata, di depan pintu sudah ada Anita dan Tasya yang baru saja pulang dari sekolahnya.
“Kalian nguping ya!” Rendy berkata dengan nada sedikit meninggi.

“Kak Anita yang ngajakin, Kak.” ujar Tasya pelan.

“Apaan sih! Siapa suruh mau ikutan!” ujar Anita.

“Kalian ini gak sopan! Mama gak pernah ngajarin kalian kayak gini!” ujar Mama.

Mama mendekati Anita dan Tasya, “Tadi Rendy sama Anna ngomong apa aja?”

“Aku tak kuasa membalas untaian mutiara yang terkandung dalam kalimat cintamu.” Anita memperagakan kalimat yang diucapkan Rendy. “Hahahahahaha!”

Mama, Tasya, dan juga Anita tertawa setelah Anita memberi tahu apa yang telah didengar olehnya.

“Mama! Kalian sama aja ya!” ujar Rendy

****

Sang pusat tata surya yang berjarak jutaan kilometer dari bumi perlahan mulai tergelincir. Senyawa uap air yang menggumpal bagai kapas di atas langit ikut menyembunyikan cahaya dari sang mentari tersebut. Tak terdengar lagi kicauan unggas bertulang belakang yang memiliki sayap di atas dahan dan ranting. Rendy hanya bisa melihat Anna yang sedang terlelap dalam mimpi di siang hari. Tak lama kemudian, Anna membuka matanya.
“Hai, Anna!” panggil Rendy.

“Duh, maaf Rendy. Aku ketiduran.” ujar Anna.

“Gak apa-apa. Kamu keliatan capek banget.”

“Iya, Maaf. Aku gak bisa tidur semalam karena kepikiran Rian.”

“Ya udah kamu cuci muka sama ganti baju dulu. Itu ada bajunya Tasya. Ukuran badan kamu untung sama ya sama Tasya. Jadi gak perlu repot nyariin baju ganti.” ujar Rendy.

“Iya, makasih Rendy.”

“Aku tunggu di bawah ya. Aku mau ngajak kamu ke suatu tempat supaya pikiran kamu tenang.”

“Berdua aja?” tanya Anna.

“Iya, berdua aja sama aku.”

Rendy pun keluar dari kamarnya dan menunggu Anna yang sedang berganti pakaian di kamar Rendy. Rendy duduk di ruang keluarga sambil melihat acara televisi yang tak begitu penting dalam hidup manusia di masa sekarang. Tak lama kemudian, Anna berjalan menuruni anak tangga. Dibalut dengan baju lengan panjang berwarna biru muda dan celana panjang berwarna biru tua serta tak lupa dengan hijabnya yang berwarna putih.
“Pas banget kan bajunya.” ujar Rendy.

“Iya, muat kok ini.” ujar Anna.

“Hahahaha! Bukan itu...”

“Laut.” Rendy menunjuk ke arah celana yang di gunakan oleh Anna. “Langit.” Rendy menunjuk pada baju yang dipakai. “Awan.” hijab putih yang digunakan Anna diibaratkan awan oleh Rendy.

“Apaan sih kamu.” Anna tersipu malu.

“Kalau ini...” Rendy memegang kedua pipi Anna yang kemerahan.”Matahari yang sedang sembunyi dibalik awan karena malu.” ujar Rendy.

“Gombal!” Anna menampar Rendy dengan pelan.

“Hehehehe... Yuk berangkat!” Rendy mengambil kunci mobil milik Mama. “Mama! Aku pinjem mobilnya sebentar!” teriak Rendy.

“Iya! Hati-hati ya!” teriak Mama dari dalam dapur.

Rendy bersiap menyalakan mesin mobil E90 buatan Jerman dengan dibekali mesin N46B20 dengan kapasitas 2.000 cc yang mempunyai silinder segaris 16 katup valvetronic DOHC VANOS. Tak membutuhkan waktu lama untuk memanaskan mesin tersebut, Rendy langsung keluar dari rumahnya dan berangkat ke tempat tujuan.

Satu jam berlalu, dan sampailah mereka di tempat tujuan. Mereka berkunjung ke daerah pesisir laut di mana menjadi pembatas antara daratan dan lautan. Sekumpulan air asin dengan volume yang sangat banyak terlihat bergelombang dengan ombak yang menggulung.
“Biasanya, aku ke sini kalau mau nenangin pikiran.” ujar Rendy.

“Tempatnya sepi. Suasanya enak.” ujar Anna.

“Ya karena lagi hari biasa aja. Kalau hari libur, ramai banget di sini.”

Mereka berdua duduk di bebatuan tepi pantai. Sambil melihat laut biru yang indah dengan pemandangan kapal laut yang sedang berlayar di tengah sana. Cuaca kali ini sedang cerah. Tapi, matahari masih malu untuk menampakkan wujudnya dari balik awan. Anna yang duduk di samping Rendy, tak lupa merangkul dan memeluk tangan Rendy lalu menyandarkan kepalanya.
“Rendy.” panggil Anna.

“Iya.”

“Terima kasih.”

“Buat?”

“Sudah menjaga dan mencintaiku.”

profile-picture
profile-picture
rieezy dan jimmi2008 memberi reputasi
Maaf nih ren kan pernah baca ntah part brp lu duduk tepi danau sambil megang origami kertas merah pas masa sudah dewasa ?

Aku ingin disatukan denganmu. Jika tak bisa bersatu di dunia, aku ingin kita bersatu di akhirat.
Anna kemana ?

dia pingin bersanding, tapi dia tidak ada di sebelah di masa lo sudah kerja Anna kemana ren ?? Jangan bilang anna...

emoticon-raining emoticon-Frown emoticon-Matahari
Quote:


hyoi gattai, amidamaru!

Quote:


apapun beladiri nya, yg penting jangan disalah gunakan dan jangan dipakai untuk melawan yang lemah..

Quote:


Anna kenapa gan?

Chapter 60

Tiga hari setelah kejadian di mana Anna hampir menjadi korban keganasan nafsu birahi dari Rian, suasana sekolah ada sedikit perubahan. Pada saat Rendy datang ke sekolah, banyak murid yang menyapa. Padahal Rendy tak mengenali siapa murid-murid yang menyapa. Ternyata, rumor perkelahian Rendy dengan orang yang paling ditakuti di sekolah menyebar ke semua penjuru. Dan kini, Rendy menjadi orang yang paling disegani.

Ini adalah hari ke empat di mana Anna tak menunjukkan batang hidungnya di kelas. Tak ada satupun orang yang tahu keadaan Anna kecuali Rendy dan Rheva. Tapi, mereka berdua memilih bungkam daripada menceritakan kejadian yang baru saja di alami oleh Anna, guna menghindari opini negatif dari teman-teman.
“Wih, jagoan neon.” ujar Danu.

“Ada apaan sih? Semua pada sok kenal sama gue deh.” ujar Rendy.

“Lo jadi orang terkenal sekarang satu sekolahan.”

“Dih, gimana bisa?” tanya Rendy.

“Satu sekolahan udah tau lo menang ribut sama Rian.”

“Siapa yang nyebarin info tuh?”

“Yayang lo lah, Rheva.” jawab Danu.

“Haduh.”

Rendy melihat sekeliling kelas. Tapi tak ada bayang-bayang Anna di sana. Tapi, Rendy tidak mau berperasangka buruk. Bisa saja Anna masih trauma untuk kembali ke sekolah karena masih ada Rian di sekolah ini. Tapi, Rendy penasaran dan lebih memilih bertanya kepada Danu.
“Anna ke mana?” tanya Rendy.

“Gak tau. Kalau sama ini gak masuk, udah empat hari gak masuk.” jawab Danu.

“Oh...”

“Lo lagi nyembunyiin sesuatu ya?” tanya Danu.

“Sok tau lo!”

“Gini, Ren. Gue tuh suka nonton anime Detective Conan. Dan aura detektif gue sekarang lagi dalam posisi on.” ujar Danu.

“Kebanyakan ngayal lo, tutup panci!”

“Jadi gini. Ini pasti ada hubungannya sama Rian. Karena Rian itu pacarnya Anna, dan lo ribut sama Rian. Dan yang pasti, Rheva juga lihat lo dan Rian ribut. Dan yang lebih anehnya lagi, wali kelas kita gak nanya sama kita-kita Anna ke mana. Bahkan gak ada surat panggilan orang tua buat Anna.” ujar Danu.

Rendy menghela napas panjang. “Oke, gue nyerah. Tapi, lo jangan bocor ke siapapun.”

“Rahasia aman.” Danu mengacungkan ibu jarinya.

“Malam itu, Anna nelpon gue sambil nangis. Dia cerita kalau dia berantem sama Rian. Paginya, gue nyariin Anna kan tuh. Pas nyariin, kebetulan gue ketemu Rheva. Rheva sempet nanya gue ngapain. Gue jawab, gue nyari Anna. Karena Rheva juga tau kalau Anna sama Rian sering bareng, Rheva nelpon Rian deh tuh.” ujar Rendy.

“Terus?”

“Ternyata Anna lagi sama Rian di rumahnya. Lo tau kan kasusnya adek gue sama Mario? Nah, itu kalau gue telat dikit aja, kejadian juga tuh sama Anna.” lanjut Rendy.

“Serius lo?! Terus, Rian?!” Danu terkejut.

“Gue bantai!” jawab Rendi.

****

Seluruh pelajar SMA Trinusa melanjutkan pelajarannya setelah sebuah bel melantunkan nada statis yang semua orang pun tahu bahwa itu adalah sebuah penanda di mana seluruh murid harus masuk ke dalam kelasnya masing-masing tak terkecuali Rendy. Tapi, Rendy tak dapat berkonsentrasi pada pelajaran kali ini karena bayang-bayang Anna masih melekat kuat di memori otaknya. Hingga akhirnya, lamunan Rendy buyar karena getaran telepon genggamnya.
“Rendy, pulang sekolah nanti aku mau ketemu kamu sebentar, boleh?” received from Anna.

“Boleh, boleh banget. Mau ketemu di mana?” sent to Anna.

“Taman deket rumahku aja. Aku tunggu di sana ya nanti.” received.

Rendy yang dari tadi murung, kini tersenyum tipis karena mendapatkan kabar dari perempuan yang dia cintai. Namun, dia masih tetap tidak berkonsentrasi pada pelajaran. Tapi, dia berkonsentrasi menunggu bel pulang berbunyi.

Saat yang ditunggu-tunggu oleh Rendy telah tiba. Bel sekolah nyaring berbunyi. Rendy dengan segera merapihkan barang-barangnya lalu berlari menuju di mana sepeda motornya di parkirkan. Tak ingin Anna menunggu lama, Rendy langsung bergegas melesat menuju ke tempat di mana Anna dan Rendy berjanji untuk bertemu.

Hanya dengan waktu empat puluh menit saja, Rendy sudah sampai di tujuan. Rendy mencari sosok perempuan yang ingin ditemui di dalam taman tersebut. Rendy akhirnya bertemu dengan perempuan yang sedang duduk di bangku taman sambil menggoyangkan kakinya. Rendy senang campur heran karena Anna membawa tas besar yang dia taruh di samping bangku tempat dia duduk.
“Anna.” panggil Rendy.

“Rendy.”

“Kamu ngapain bawa tas besar gini?” tanya Rendy.

“Setelah kejadian kemarin, orang tuaku memutuskan aku pindah dari sini.” jawab Anna.

“Pindah?”

“...” Anna mengangguk pelan.

“Kenapa secepat ini, Na?”

“Orang tuaku khawatir terjadi lagi kejadian kemarin.” jawab Anna.

“Na, aku mohon jangan pergi! Ada aku di sini yang jaga kamu. Apa kamu gak bilang itu ke orang tuamu?” Rendy berkata seraya memegang kedua tangan Anna.

“Orang tuaku gak mau ngerepotin kamu dan keluargamu walaupun aku sudah dianggap seperti anak sendiri sama orang tuamu, Ren.”

“...”

“Berat langkah kakiku untuk beranjak. Perih hatiku untuk menerima. Tapi, ini sudah menjadi takdir, Rendy.” ujar Anna seraya air matanya jatuh dengan deras.

“...”

“Kamu adalah matahari. Matahari yang menerangi hidupku. Tapi kita ditakdirkan untuk tidak bersatu.”

“Kenapa begitu?”

“Karena aku adalah bumi.”

“...”

“Alam semesta akan binasa jika bersatu dengan matahari, Rendy.”

Anna memeluk Rendy dengan erat. Tangisannya tak bisa dibendung oleh kelopak matanya. Tak ada satu kata lanjutan yang diucapkan oleh Rendy maupun Anna. Keduanya sedang merasakan pahitnya perpisahan, perihnya ditinggalkan, dan sakitnya menerima kenyataan.
“Orang tuaku sudah menunggu. Aku harus pergi sekarang.” ujar Anna.

“Sebelum kamu pergi, aku mau kamu tahu. Aku mau kamu tanamkan dipikiranmu kalau cintaku tak akan bergeser sedikitpun.” ujar Rendy dengan bibir bergetar.

“Aku akan tetap dengan perasaanku. Dan tak akan ada yang bisa merubahnya. Bagiku, kamu tetap menjadi anugerah terindah dari Tuhan untukku.”

“...”

Anna sudah siap pergi dengan tas besarnya. “Selamat tinggal, Rendy!”

Rendy hanya bisa melihat beratnya langkah kaki Anna yang sedang berjalan pergi meninggalkannya sendiri. Tak terasa tetesan air mata jatuh ke pipinya. Rendy hanya mampu menatap kepergian Anna dan akhirnya hilang dari pandangan.

Kini, hanya ada sekumpulan burung kertas merah muda yang selalu disimpan baik-baik oleh Rendy. Sebuah kenang-kenangan yang selalu terkenang tak bisa dilupakan yang berisi kata-kata yang bersatu menjadi kalimat dengan mutiara cinta yang diberikan untuk Rendy dari Anna.

Kisah cinta kasih mereka berakhir dengan perpisahan.
profile-picture
profile-picture
rieezy dan jimmi2008 memberi reputasi
Quote:


Keren bre..simple to kudu sering praktek
nice story. ane sih berharap endingnya gak kayak gitu tapi ternyata udah ending aja hehehe kirain bakal dipanjangin lagi ceritanya. cuma bisa bantu emoticon-Rate 5 Star ajah gan.
Quote:


emang belom gan.. masih ada lanjutan nya..
Quote:


ealah kirain storynya end di chapter 60 karena kisah cinta mereka berakhir dengan perpisahan. emoticon-Leh Uga
ok deh ane tungguin kisah lanjutannya gan.
Justru makin seru gan.. Rendy di uji keteguhannya
dan cerita ini bagian pertama akhirnya selesai
Burung Kertas Merah Muda


Lanjutkan gan


Gembok dulu
Diubah oleh getsyad
Sudah kuduga ada yang inget part brp si rendy megang kertas origami di kampus depan danaw ??

Bagian pertama selesai thanks emoticon-Smilie
Diubah oleh kkaze22
Halaman 20 dari 27


×
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di