alexa-tracking
Kategori
Kategori
Pengumuman! Mau dimodalin 25 Juta untuk acara komunitas? Ceritain aja tentang komunitas lo di sini!
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
DIARY MATA INDIGO - SEASON 3 : THE NEXT LEVEL
4.64 stars - based on 155 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/59ee0b71902cfe8b0f8b4568/diary-mata-indigo---season-3--the-next-level

DIARY MATA INDIGO - SEASON 3 : THE NEXT LEVEL

Tampilkan isi Thread
Halaman 100 dari 152
DIARY MATA INDIGO - SEASON 3 : THE NEXT LEVEL


Udah sampe agan yus... kyknya 3 hari tamat semua nih ane baca wkwkwkwkwk....
masih menunggu agan yus, jangan cape" ya gan, biar kita bsa tetep menikmati cerita agan yus emoticon-I Love Indonesia
yg gratisan sabar aja nunggu update emoticon-army

nunggu update

wah bukunya larismanis kayake
sibuk juragan yus sampai ga sempat update
keep waiting
Ab det mas yus...
Alhamdulillah buku dah sampe dan sudah saya baca....
memang worth dibeli, apalagi sebelumnya kita baca gratis di Kaskus hehe...
ditambah cerita Mbah Sur yang ternyata menyingkap banyak misteri.

btw kayaknya bakal jadi kentang agak lama nih, nungguin yang beli pada baca semua, emoticon-Sorry
Quote:


Quote:


Quote:


Quote:

agan2 skalian, pada bli lewat mana ya buku lanjutannya? yg next level.

soalnya ane ga punya IG jd ga bisa follow. emoticon-Embarrassment
temen ato sodara ad yg pake IG g gan? numpang follow ama DM aje bentar akunnya agan yus, abis itu transfer klar deh emoticon-Cool
Quote:


Idem neh sama ane, kali aja mau posting di Bu*L*p*k kek emoticon-Smilie
Quote:


coba PM TSnya dl dah, apa ada alternatif lain tanpa perlu follow IGnya dl.
busett janji tgl 3 ini tgl 9 blm jugaa huhuhu sedih
Quote:


Kecian nasib gretongan
emoticon-Leh Uga
Untuk season 3...kita2 masih sama2 gretongan kok agan2...klo bukunya itu Diary Mata indigo season 1 sama season 2.
Sama sama yg di Kaskus, tp ada beda dikit.
Diubah oleh Ramonz
kpn update ya?
sabar menunggu di pojokan
absen sambil nunggu updatean
Sabar..ini ujian🙌
mayan, dah baca yg rahasia seri mbah sur, jadi paham sekarang emoticon-Big Grin

Lanjutkan den mas senopati emoticon-2 Jempol
juaranya kentang! emoticon-Selamat
DMI 3 – Pertempuran 2

Ukuran sosok atau benda itu sangat besar, mirip dengan ukuran Naga raksasa dan Blorong Yaksa milik Yowan. Sisi-sisi benda menyemburkan jilatan-jilatan api, seperti flamethrower. Yang dengan cepat dapat segera menghanguskan dan menghabisi sasaran nya.

Selain itu makhluk-makhluk dengan sosok berbadan api yang membara juga tampak keluar dan terjun dari sisi-sisi benda itu. Berlompatan turun dan turut membantu menghabisi Pasukan Merapi yang ada di bawahnya. Tinju dan pukulan sosok-sosok berbadan api itu langsung membakar dan melebur hangus musuh dan sasaran nya tanpa ampun. Jelas dalam keadaan seperti ini Pasukan Penguasa Utara tidak akan bisa bertahan.

“Tarik Pasukan dari perbatasan. Mundur 300 Depa ke belakang. Perintahkan Wali untuk menyelamatkan yang tersisa”. Gusti Kanjeng Agung Merapi akhirnya memberi perintah. Sesaat kemudian. Aku melihat pasukan Bala Awang-awang milik Eyang Wali yang berbentuk seperti sosok manusia bersayap dan sosok manusia berkepala burung muncul dari arah atas. Mereka memang sepertinya sedari tadi berjaga dan disiapkan untuk situasi seperti ini.

Mereka membawa dan membantu Pasukan Utara yang masih bisa diselamatkan. Eyang Anta dan Eyang Jagad yang lebih dahulu utama diselamatkan. Beberapa dari mereka membantu bertahan dengan serangan mereka yang berbentuk kilatan listrik, petir dan guntur. Supaya pasukan yang lain bisa mundur dan melarikan diri.

“Wali !!!..... Turunkan Aku, Aku masih ingin bertarung..... Aku masih bisa bertarung...... Biar Aku sendirian yang habisi mereka”. Eyang Jagad berteriak-teriak emosi. Meronta-ronta ingin melepaskan diri dari Kyai Angin yang berusaha menariknya mundur dari arena pertarungan.

“Ini perintah Jagad !!!..... Jangan dipaksakan...... Sudah banyak yang jadi korban..... Kita harus mundur untuk menyusun rencana..........”. Kata-kata Eyang Wali tidak kalah keras, secepatnya melesat membawa Eyang Jagad menjauh dari medan pertempuran. Eyang Anta pun memimpin pasukan nya mundur, masuk kembali ke dalam tanah dan menjauh dari arena pertempuran lewat lorong-lorong bawah tanah bumi.

Pasukan Utara perlahan mundur, menjauh dan akhir nya menghilang dari arena pertempuran. Keputusan ini menurutku sangat tepat mengingat untuk menghindari korban yang akan jauh lebih besar dari Pasukan Utara. Tetapi jelas hal ini menimbulkan banyak pertanyaan di benak ku. Mengapa siluman penghuni Alas Purwo malah mendapat banyak bantuan dari siluman-siluman dan makhluk astral daerah lain? Terutama makhluk-makhluk astral dari daerah timur?

Gambaran yang terpampang di atas meja granit warna abu-abu itu perlahan menghilang. Meja itu kembali menjadi meja biasa. Seluruh yang ada di ruangan itu tampak cemas. Wajahnya rata-rata kusut dan tidak bisa lepas dari raut kekhawatiran. Yowan apalagi Aku hanya bisa termangu dengan pikiran bingung. Kenapa semua hal ini bisa terjadi?

“Apa yang sebenarnya terjadi Eyang?”. Yowan bertanya kepada Mbah Sur disebelahnya yang tak henti-henti nya menghela napas panjang. Namun Kakek nya itu tampak hanya diam saja, dan tak kunjung menjawab

“Kami pun sebenarnya tidak menyangka kalau jumlah pasukan yang akan menyerbu sebesar itu. Ditambah dengan kehadiran Badhe yang tak disangka-sangka”. Kyai Angin tampak paling gusar diantara yang lain. Aku paham, dia pasti mengkhawatirkan keselamatan Eyang Wali saudara nya. Aku sendiri yang masih buta situasi merasa perlu bertanya untuk mencari benang merah dari semua situasi ini.

“Maaf para Eyang Semua... Maaf juga Nyi Ratu...... Saya masih belum mengerti situasi yang sebenarnya. Apakah ada yang tahu kenapa semuanya bisa jadi seperti ini? Jujur seharusnya yang menyerang hanya para siluman Alas Purwo. Saya tahu mereka semua menjadi kuat dan hampir tak terkalahkan karena sudah mendapatkan kekuatan khusus dari darah korban pesugihan yang ada di Gudang Bojonegoro. Saya tahu mereka semua mengincar Saya untuk membalas dendam kematian Saudara mereka Darsuni....”.. Aku mencoba angkat bicara. Sepertinya ada sesuatu yang tidak Aku ketahui.

“Bukan Sampeyan yang mereka incar Nak Yus......”. Mbah Sur akhirnya buka suara. Aku sudah menyangka sebelumnya kalau Mbah Sur sebenarnya yang mengetahui bagaimana situasi yang sesungguhnya.

“Mereka mengincar Arya......”. Mata Yowan terbelalak terkejut mendengar kata-kata Mbah Sur. Begitu pun juga dengan ku. Hampir berbarengan Aku dan Yowan menatap Arya yang duduk dipangkuan Yowan. Bagaimana mungkin?

“Para Astral Pesugihan dan Para Astral Gelap adalah jenis astral yang sangat tergila-gila pada darah. Mereka bengis, kejam, dan tak kenal belas kasihan. Bagi mereka, darah (terutama yang berasal dari korban-korban mereka) mampu memberikan kekuatan yang mampu menembus batas-batas alam astral. Termasuk mempengaruhi fisik alam manusia. Ketika mereka mendapatkan kekuatan itu. Akan semakin besar kesempatan mereka untuk menumpahkan darah, dan kekuatan mereka akan lebih besar lagi. Tujuan mereka adalah menjadi makhluk yang nyata di dimensi manusia maupun dimensi alam gaib”. Mbah Sur menjelaskan semuanya pada ku dan Yowan tentang apa yang sebenarnya sedang dihadapi. Semua yang ada mendengarkan dan memberi perhatian penuh padanya.

“Tapi mengapa mereka mengincar Arya Eyang?”. Yowan seperti biasa tampak paling tidak sabar. Aku sampai harus menyentuh bahu nya sebagai isyarat supaya dirinya tetap tenang dan menjaga unggah-ungguh tata krama, terutama di depan para Eyang. Termasuk Eyang Kakung nya sendiri yaitu Mbah Sur.

“Darah memang memberikan mereka kekuatan yang mampu menembus batas dimensi astral, namun darah yang mereka butuhkan cukup banyak. Butuh waktu yang lama bagi mereka untuk mendapatkan kekuatan yang mereka inginkan. Cara tercepat bagi mereka untuk menjadi nyata adalah dengan memangsa dan menghisap kekuatan makhluk astral campuran seperti Arya”. Eyang Gusti Kanjeng Agung Merapi kali ini mencoba memberikan penjelasan. Penjelasan yang membuat semua yang ada di situ semakin gelisah.

“Kejadian ini bukan hanya sekali ini terjadi......”. Nyi Penguasa Selatan tiba-tiba menyambung. Dirinya lalu menceritakan kalau kejadian ini pernah terjadi juga pada jaman dulu. Jaman dulu ketika Nyi Penguasa Selatan pertama kali nya menikah dengan salah satu Raja di tanah jawa. Pernikahan itu pun juga menghasilkan keturunan seorang makhluk campuran atau hibrida. Mirip seperti Arya. Walaupun Nyi Ratu menceritakan bahwa keturunan nya lebih menyerupai manusia yang memiliki kemampuan-kemampuan luar biasa, dan bisa menjelma menjadi sosok astral sekehendak keinginan nya.

Seperti hal nya Arya, anaknya itu menjadi incaran siluman-siluman dan makhluk-makhluk astral jahat. Peperangan tak dapat dihindarkan. Para Astral jahat haus darah itu berduyun-duyun menyerbu dengan jumlah sangat banyak. Sampai-sampai akhirnya Nyi Ratu Penguasa Selatan waktu itu terpaksa berperang dan memimpin seluruh Pasukan Selatan bertempur habis-habisan, dan mengakibatkan air laut naik ke daratan serta menyapu segala sesuatunya. Termasuk salah satu dinasti kerajaan Jawa yang ada pada waktu itu, dan segala isinya.

“Hal itu seharusnya tidak perlu terjadi kalau seandainya para Tetua Merapi memberikan bantuan, dan tidak sekedar menutup diri dari dunia luar”. Nyi Ratu Penguasa tampak berkata sinis ke arah 9 Tetua. Membuat suasana di seputar meja menjadi terasa kurang enak dan tegang.

“Jangan salahkan kami Nyi, kami sudah memperingatkan untuk tetap menjaga batas-batas dua alam. Bukan malah membantu mereka atau bahkan menikah”. Nyai Melati membalas dengan nada tak kalah sinisnya. Dua wanita saling nyinyir jelas bukan pertanda bagus.

“Sudah-sudah... yang lalu tidak usah dibahas. Biarlah berlalu”. Gusti Kanjeng Agung Merapi langsung melerai dan menenangkan suasana. Membuat Nyai Melati dan Nyi Penguasa Selatan tidak saling berbalas pantun lagi. Sekarang saat nya kembali ke topik semula. Namun sepertinya masih ada yang kurang. Masih ada pertanyaan yang masih menggantung dan belum terjawab sampai saat ini.

“Lalu Arya ini sebenarnya apa Eyang?”, tanya ku pada siapa pun yang bisa menjawab pertanyaan ku di ruangan ini. Yowan pun Aku lihat juga punya keingin-tahuan yang sama.

“Arya bisa dibilang adalah makhluk hybrid (hibrida). Dia adalah makhluk campuran makhluk nyata manusia dan makhluk astral. Di dalam dirinya mengalir astral hidup alam nyata dan astral gaib. Keduanya saling mendukung dan kuat. Dia lahir dari dua manusia dengan kemampuan astral yang luar biasa. Atau dengan kata lain, dia keturunan manusia setengah makhluk astral....”. Ganti Aku yang terbelalak mendengarnya. Ada perasaan yang berkecamuk. Setengah tidak terima.

“Tapi... Saya dan Yowan.... Kami manusia Mbah.....”, ujar ku kemudian. Mungkin Aku yang kurang paham dengan maksud Mbah Sur. Bagaimana mungkin kami disebut manusia setengah makhluk Astral?

“Yus... kamu pernah cerita. Waktu kecil, kamu pernah mati suri kan?”. Yowan tiba-tiba mengingatkan ku. Cerita itu memang menjadi bagian dari sejarah hidupku. Aku pun hanya mengangguk menjawab pertanyaan itu.

“Orang yang pernah mati suri, separuh dirinya telah menjadi milik alam sana. Karena mereka telah menginjak alam antara. Separuh diri mereka adalah bagian dari alam sebelah. Bisa dibilang, mereka adalah manusia setengah makhluk astral”. Kata-kata Mbah Sur bagaikan petir yang menggelegar keras tepat disebelah telingaku. Dengan keras dan cepat menyadarkanku. Seolah menjawab seluruh misteri yang terjadi di dalam hidupku.

“Bagaimana dengan Yowan Mbah?”. Tanyaku kemudian. Yowan memandangku dengan tatapan sendu. Ada mulai rona sembab di mata nya.

“Yowan dipersiapkan sedari kecil untuk menjadi manusia dengan kekuatan astral luar biasa. Bahkan semenjak Yowan berada di dalam kandungan”. Kata-kata Mbah Sur itu membuatku teringat cerita Mbah Sur dulu. Bahwa saat mengandung Yowan, Ibu nya Yowan sampai harus menjalani beberapa ritual yang cukup gelap dan mengakrabkan janin nya dengan dunia astral hitam. Mulai sampai bertapa di bawah pancuran dan hanya makan kunyit pada hari-hari tertentu, sampai bahkan di saat kelahiran yowan, bayi Yowan harus dipaksa meminum air rebusan tali pusar nya sendiri, dan tidak boleh diberi ASI. Ritual gelap pun tetap diberikan sampai Yowan beranjak menjadi balita.

“Karena semenjak di kandung dalam bentuk janin Yowan sudah akrab dengan energi astral, akhirnya Yowan.....”.

“Menjadi manusia setengah makhluk astral”. Aku terpaksa memotong kata-kata Mbah Sur, karena Aku lihat Yowan hampir menangis. Aku tidak ingin melihatnya menangis. Mengungkap masa kecilnya yang kelam sangat melukai hatinya. Arya Aku lihat mencoba menghibur Yowan dengan menyentuhkan tangan nya di pipi Yowan. Semua sudah terjawab. Siapa Arya dan kenapa Arya yang diincar.

Pola nya jelas. Kekuatan astral makhluk hibrida akan membuat mereka mampu menjadi makhluk yang nyata dan mampu menembus dimensi manusia. Mereka akan mendapatkan bentuk fisik, dan mampu melakukan apa pun yang mereka inginkan terhadap kaum manusia. Termasuk membunuh dan menumpahkan darah. Dan darah itu akan semakin membuat kekuatan mereka semakin besar dan nyata lagi. Aku sudah mengalami sendiri bagaimana Darsuni yang makhluk astral dapat dengan mudah hendak menghabisiku. Seandainya tidak ada Arya pada waktu itu, mungkin Aku tidak akan ada di sini.

“Mereka pasti akan segera bergerak kembali. Kita harus bersiap dengan kekuatan penuh, menjaga kehormatan dan keamaan teritori kita”. Eyang Tara segera memberi masukan. Dirinya tampak geram melihat banyak korban dari kubu Pasukan Utara.

“Tapi kita belum mengerahkan seluruh kekuatan Pasukan Utara. Masih ada harapan untuk menang sepertinya”. Eyang Pentungpinanggul seperti biasa tampak yang paling optimis dibanding yang lain. Karakternya yang penuh semangat dan tidak terlalu serius memang dibutuhkan pada saat-saat seperti ini. Aku yang lumayan paham karakter dan besaran kekuatan pasukan Merapi agak kurang setuju

“Kekuatan Pasukan Utara tidak akan cukup untuk melawan mereka. Peperangan barusan membuat Pasukan Merapi banyak berkurang. Mau tidak mau kita harus menggabungkan kekuatan Utara dan Selatan”. Mau tidak mau Aku harus meminta kedua kubu yang tidak pernah akur ini untuk bersatu. Kebetulan kedua kubu ini Aku lihat punya kepentingan untuk menjaga kehormatan teritori mereka. Apalagi Aku sangat paham, kedua kubu ini adalah penjaga sentral kekuatan astral Pulau Jawa. Kalau sampai pertahanan teritori mereka tembus, maka bukan saja keseimbangan alam astral yang terganggu. Tetapi keseimbangan alam manusia pun juga akan terganggu. Para makhluk astral itu akan dengan mudah mengambil alih tubuh-tubuh manusia untuk melakukan apa pun yang mereka inginkan. Tetapi sepertinya urusan mempertahankan teritori ini juga bukan hal mudah saat ini.

“Tanpa kehadiran Badhe mungkin iya Kisanak. Tapi dengan kehadiran Badhe, seluruh Pasukan Utara digabung dengan Pasukan Selatan sekalipun belum tentu bisa memenangkan perang”. Nyi Penguasa Selatan akhirnya mencoba memberikan pendapat.

“Benar, apalagi kabar adanya keberadaan Arya pun sudah menyebar di kalangan para astral pesugihan yang lain. Termasuk di kalangan para astral pengacau dan pemberontak yang berada di wilayah Kraton Merapi”. Eyang Karta mencoba menjelaskan pada ku. Baru saja sekitar 2 hari yang lalu Pasukan Bala Satwa yang berada di bawah pimpinan nya menumpas Astral Pesugihan Kerajaan Tuyul dan Pasukan Siluman Kera Putih di wilayah lereng Merapi. Mereka sengaja berani menyerbu dan menyerang Kedaulatan Kraton Merapi dari dalam, setelah mendengar adanya keberadaan Arya.

“Kraton Laut Selatan juga mengalami hal yang sama. Beberapa hari yang lalu terjadi pemberontakan kelompok Blorong yang bermukim di seputaran Pantai Krakal, dipimpin oleh Nyai Blorong Kertapati. Mereka juga astral pesugihan yang mencoba merongrong kekuatan Kraton Laut Selatan setelah mendengar keberadaan Arya. Tapi untung nya semua dapat diredam”. Nyi Penguasa Selatan menjelaskan hal yang sama. Membuat harapanku semakin turun ke titik nol.

“Dirimu harus tahu Kisanak. Kita menghadapi krisis. Selain serangan dari luar, kita menghadapi rongrongan dari dalam. Selain itu peperangan yang terjadi antara Pasukan Selatan dan Pasukan Utara sebelumnya di lereng Merapi juga telah membuat kekuatan masing-masing sama-sama turun drastis. Pasukan yang tersisa secara jumlah tidak cukup banyak sekarang”. Eyang Kanjeng Merapi menghadapkan kenyataan yang sesungguhnya, Dan hal itu pun diamini oleh Nyi Penguasa Selatan.

“Bagaimana dengan para Naga Eyang?”. Tanyaku kemudian. Aneh memang. Pada pertempuran di garis perbatasan sebelumnya Aku tidak melihat ada Naga yang turut berperang.

Eyang Kanjeng Agung Merapi lalu kembali membuat gerakan mengusap meja granit yang ada dihadapan nya. Kembali meja granit dihadapanku bagaikan sebuah layar televisi menunjukkan sebuah gambar bergerak. Para Naga tampak dalam wujud humanoid (setengah manusia) sedang berlatih tanding satu sama lain. Mereka semua tampak gagah mengenakan baju zirah mereka masing-masing dengan warna-warna khasnya. Bumi, Geni, Bayu, Tirta, Bajra, Sengkala, Runting, dan Visadhara, gembira rasanya bisa melihat mereka. Cuma Naga Wisesa yang tidak tampak. Hanya saja ada satu hal yang membuat harapanku akan para naga malah pupus. Para Naga walaupun tampak gagah mengenakan baju zirah dengan wujud setengah manusia (humanoid) namun wujud mereka jauh lebih kecil dari wujud humanoid yang Aku kenal dulu. Wujud mereka semua kecil-kecil, bahkan wujud mereka tidak lebih tinggi dari Arya. Mereka semua saat ini hanya berwujud Naga chibi. Aku sendiri Cuma bisa bengong dan tak mampu berkata apa-apa lagi.

“Para Naga belum siap Kisanak.....”, Eyang Tara pun mengatakan itu sambil menghela napas, diikuti oleh Eyang Melati dan Eyang Karta.

“Nyi, bagaimana dengan khodam raksasa Jaya Baruna?”. Yowan tiba-tiba bertanya kepada Nyi Penguasa Selatan. Nyi Penguasa Selatan tampak terkejut mendengar pertanyaan Yowan. Tampak ragu untuk menjawab.

“Tidak mungkin menggunakan khodam raksasa itu. Jika Jaya Baruna dikeluarkan, maka tidak ada pilihan lain selain membuat air laut naik ke daratan. Tidak mungkin mengulang kesalahan yang sama di masa lalu, membahayakan nyawa manusia dalam jumlah besar”. Apa yang dikatakan oleh Nyi Penguasa Selatan tampak tidak diharapkan oleh Yowan. Muka nya tampak semakin masam.

“Tapi apakah ada harapan lain Nyi? Setelah Blorong Yaksa tidak ada, hanya khodam raksasa Jaya Baruna satu-satu nya harapan. Apa ada pilihan lain?”. Yowan mulai menunjukkan karakter keras nya. Aku mulai melihat ada yang tidak benar di sini. Jika memang dalam situasi ingin menggabungkan kekuatan untuk berperang, tidak mungkin ada dua komando di dalam nya.

“Apa pun itu sebaiknya kita simpan dulu Yow. Jangan langsung digunakan. Apalagi kalau itu harus menimbulkan bahaya atau resiko yang tidak sepadan.....”. Aku mencoba memberikan pengertian pada Yowan. Aku sudah hafal karakternya. Kalau kita keras, maka dia akan semakin keras lagi.

“Para Eyang sekalian dan Nyi Roro, Saya tahu ini bukan situasi yang mudah. Tetapi akan selalu ada harapan kalau kita mau mencoba dan berjuang. Jumlah boleh sedikit, tetapi strategi dan semangat kita tidak boleh kalah. Yang penting semua yang ada di sini sepakat dulu. Bahwa kita akan menggabungkan kekuatan”. Para Eyang dan Nyi Penguasa Selatan yang ada di situ tampak saling pandang. Tidak mudah memang bagi mereka untuk saling menerima dan berkerja sama setelah saling tidak akur dalam waktu yang lama.

“Saya rasa benar kata Nak Yus, mau tidak mau Kubu Selatan dan Kubu Utara, harus bersatu”. Mbah Sur juga berusaha mendukung dan menambahkan

“Saya mohon Nyi. Mohon kesediaan Nyi Roro untuk bersedia bergabung dengan Pasukan Utara dan menggabungkan kekuatan”. Yowan juga turut membantuku dan menyampaikan keinginan nya untuk agar Utara dan Selatan bergabung.

“Baiklah Kisanak, Pasukan Utara bersedia untuk bergabung dengan Pasukan Selatan.......”. Eyang Kanjen Merapi akhirnya memberikan restu, diikuti oleh anggukan Para Eyang yang hadir di situ.

“Jika para Panglima sudah meminta dan Sepakat, apa boleh buat. Baiklah, Pasukan Selatan bersedia untuk bergabung dengan Pasukan Utara”. Nyi Penguasa Selatan juga akhirnya memberikan restu. Aku cukup lega mendengarnya. Setidaknya ada harapan kalau kedua kubu ini mau bergabung. Sekarang tinggal urusanku dengan Yowan sebagai sesama Panglima dari kedua kubu.

“Yow, Nanti Aku yang atur strateginya ya? Kamu bantu Aku untuk mengarahkan Pasukan Selatan sesuai strateginya nanti”. Mau tidak mau Aku harus memberikan pengertian kepada nya, bahwa tidak mungkin ada dua matahari yang memimpin. Semua harus satu komando. Walaupun Yowan juga adalah Panglima, tetapi posisi dirinya dan pasukan nya tetap di bawah pengaturanku.

“Kamu kan suami ku Yus....Apa pun yang kamu arahkan, pasti Aku ikuti”, Yowan mengedipkan sebelah mata nya. Aku cukup lega dibuatnya. Tidak ada penolakan atau hambatan dari Yowan. Sekarang tinggal memikirkan strateginya.

“Lalu strateginya bagaimana Yus?”. Yowan bertanya kepada ku setengah mengingatkan. Seluruh yang ada di ruangan itu pun mengarahkan pandangan nya padaku. Membuatku setengah mati gaya.

“Aku coba pikirin itu nanti”, jawabku pendek kemudian...



Halaman 100 dari 152


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di