alexa-tracking
Kategori
Kategori
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5a4fbd479a09517d528b456c/tamat-i-bet-my-life

I Bet My Life

Tampilkan isi Thread
Halaman 14 dari 38
yah tanda" bakal gak lama nih apis sama lydiaemoticon-Sorry
oke.. bakal kaya cerita lama nih kayanya... tentang temennya bang boni
malas sam..teko jateng
critane apik sam, ketoke serius ning jane yo rodo guyonan juga..haha
keep update sam emoticon-Big Grin
Quote:


Wahaha nuwus sam dah ikutan mampir emoticon-Shakehand2

Jadinya gimana sam ? Mau yg serius apa guyonan wae ? emoticon-Leh Uga
Quote:


diproporsikan aja sam kadarnya emoticon-Stick Out Tongue
Quote:


Mungkin bakalan lama gan, tuh kata kata terselubung dari bapak buat penyemangat apis
Part 14

Semenjak gua mengajak Lydia mampir kerumah hari itu, hubungan gua dan Lydia berjalan semakin baik. Lydia juga sudah terlihat semakin akrab dengan keluarga gua, terlebih dengan ibu dan Icha. Sejak saat itu Lydia benar benar sudah dianggap seperti bagian dari keluarga sederhana gua. Dan tentu saja gua cukup senang dengan hal itu, sangat senang malah melihat dia, yang kata bapak berasal dari 'level' keluarga yang berbeda bisa begitu membaur dengan keluarga gua. Kadang saat Lydia ada ditengah tengah keluarga gua, gua suka tersenyum sambil membayangkan:

"kira kira begini kali ya kalo nanti gua dan Lydia udah nikah. Lydia lagi bantuin ibu mertua dan adik iparnya yang sedang masak, sementara gua dan bapak ngajarin jagoan kecil gua nonton bola, sambil ngerokok diruang tengah.."

ahh, harapan manusia memang selalu terlihat indah ketika dibayangkan..

Tapi meski begitu gua juga masih suka memikirkan ucapan bapak tempo hari, gua masih sering bertanya tanya pada diri gua sendiri, tentang ucapan bapak yang mengatakan kalau gua dan Lydia adalah dua insan yang sangat 'berbeda'.

Oke gua akui, dilihat dari manapun gua dan Lydia memang jauh berbeda. Gua biasa saja, sementara Lydia begitu anggun, gua adalah sosok yang tak terlihat diantara orang lain, sementara Lydia adalah sosok yang paling menarik perhatian dibanding yang lain. Dan perbedaan kita akan semakin kentara ketika gua memasukkan latar belakang keluarga untuk saling dibandingkan.

Gua yang lahir dari garis keturunan seorang petani, jelas jauh ketika harus dibandingkan dengan Lydia yang (mungkin adalah) anak seorang direktur. Gua yang setiap hari ke sekolah hanya menaiki motor tua jelas nggak ada apa apanya ketika harus dibandingkan dengan deretan mobil yang berjajar dirumahnya (yang sebenarnya gua juga nggak tau, itu mobil dia semua atau bukan). Gua yang lebih sering memakai barang KW juga jelas nggak akan ada apa apanya dibanding Lydia yang seperti selalu berhiaskan barang bermerk.

Kadang gua juga suka mikir, andai kita berdua sudah benar benar serius dan saling mencintai, apakah tembok besar bernama perbedaan itu masih akan tetap menjadi penghalang ? apakah anak seorang petani seperti gua tetap nggak layak dan nggak akan bisa bersanding dengan Lydia karena semua perbedaan itu ?

Gua memang belum mengenal keluaga Lydia secara personal, gua juga nggak tahu seperti apa reaksi mereka setelah tahu kalau anak perempuannya berpacaran dengan anak yang secara latar belakang nggak selevel dengan mereka. Tapi yang gua tahu, nyokap Lydia (yang biasa dipanggilnya dengan sebutan mama) adalah sosok seorang wanita yang baik. Gua hanya mengambil penilaian dari mamanya, karena gua masih belum pernah bertemu papa nya secara langsung.

Tante Ira, begitu beliau biasa disapa, menurut gua adalah sosok wanita sekaligus ibu yang baik. Kira kira begitu penilaian gua selama beberapa kali bertemu dengannya. Beliau selalu menyambut gua dengan ramah ketika gua mampir kerumahnya atau saat gua mengantar Lydia pulang. Sama sekali nggak ada pandangan atau perilaku aneh dari tante Ira perihal kedekatan gua dan Lydia. Beliau masih tetap menerima gua dengan baik, padahal gua juga yakin kalau beliau tahu darimana gua berasal dan latar belakang keluarga gua. Inilah yang selama ini jadi pertanyaan gua;

"masa sih orang seperti tante Ira bakalan ngelarang anaknya menjalin hubungan serius dengan gua hanya karena faktor 'perbedaan' latar belakang kita ?" "apa ini hanya perasaan bapak saja yang berlebihan karena udah keburu sentimen pada orang kaya ?"

***


"fiz.."

".."

"fiiz.. woi !"

"eh, iya. Ada apa Lyd ?"

"tuhkaan, kamu ngelamun lagii.."

Terlalu fokus memikirkan kata kata bapak membuat gua nggak sadar, kalau disamping gua masih ada Lydia yang sedang bercerita. Kali ini gua akui, kalau gua memang sedang melamun, bukan sedang memandangi wajahnya seperti biasanya. Dan wajar kalau kali ini Lydia marah. Tapi untungnya sekarang kumis gua sudah dicukur, jadi nggak ada lagi adegan dia narik kumis gua seperti waktu itu. Yah, walau wajah cemberutnya juga masih terlihat sih.

"hehe, sori ya Lyd.." ucap gua sambil tersenyum.

"kamu lagi mikirin apa sih fiz ? belakangan kaya sering banget ngelamun.."

Gua nggak langsung menjawab pertanyaannya, tapi masih diam sambil berusaha kesana kemari mencari jawaban yang pas. Sial, nggak nemu lagi..

"eh, nggak papa kok.." gua akhirnya berbohong. "haha lagi laper aja kayaknya Lyd, ke kantin aja yuk ?"

"engga ah. Kan kamu bilang aku ga boleh ke kantin, ntar banyak yang godain.." Jawab Lydia kepedean, walau mungkin bener juga sih.

"ah ayo dong Lyd, kan sama aku juga. Biar kamu juga tau kalo aku juga banyak yang godain.."

"dih pede sekali anda ini.." ucapnya, kemudian ikut berdiri dari bangkunya. "emang siapa sih yang sering godain kamu ?"

"bulek kantin, hahaha.." Gua berkata sambil tertawa, kemudian menggandeng tangan Lydia menuju kantin.

Sesampainya dikantin gua langsung berjalan menuju spot favorit gua, ditempat duduk yang ada dibagian pojok kantin. Gua yang sudah kelaparan langsung memesan seporsi nasi pecel, sementara Lydia malah cuma mesen orange juice.

"eh, nggak makan Lyd ?"

"engga deh fiz, lagi diet.. hehe aku nemenin kamu makan aja deh."

Diet ? Mau ngecilin apa lagi sih Lyd ? Justru dibeberapa bagian malah seharusnya ada yang sedikit 'digedein'.

Pipi misalnya, biar makin kenyal kalau dicubit.

Kemudian nasi pecel pesanan gua pun datang, gua yang nggak mau membiarkan Lydia terlalu lama melihat gua makan pun sedikit menambah kecepatan makan gua dari biasanya. Yang justru malah membuat gua menjadi 'tengsin' karena beberapa kali Lydia malah tertawa saat melihat gua sedikit keselek.

"haha, pelan pelan aja kali fiz makannya.." ucapnya sambil tersenyum. "ga biasa makan deket cewe cantik yaa ?"

"haha kamu ternyata narsis juga ya.." ucap gua, kemudian melanjutkan makan. Sementara Lydia masih terlihat memasang senyum, manis sekali.

"hehe, ohiya fiz.. Minggu ini kita jalan jalan yuk."

"boleh.." Gua menyedot es teh yang tadi gua pesan, kemudian mengusap bibir dengan tissue. "kamu pengennya kemana ? Waduk, coban (air terjun), gunung, atau pantai ?"

"wah banyak juga ya pilihannya.. ke pantai aja dulu deh fiz. yang lain belakangan aja, haha."

"haha yaudah, Minggu pagi tak jemput ya. Dandan yang cantik, awas aja kalo masih tidur."

Lydia hanya tertawa, kemudian menaruh telapak tangannya di kening, membentuk isyarat menghormat ala militer.

"haha, siap bos !"

***


Gua merasa beruntung tinggal dikota ini, kota yang menurut gua juga sangat beruntung karena diberkahi kondisi alam yang lengkap. Disini lu bisa nemuin semua jenis wisata alam yang lu mau. Dari gunung, hutan, waduk, air terjun, pantai, laut, sampai wisata 'lendir' dan 'keringat' pun bisa lu jumpain disini.

Tapi kali ini gua nggak akan mengajak Lydia untuk 'nyobain' semua wisata itu. Sesuai permintaan dia kemarin, gua hanya akan mengajaknya ke pantai. Dan gua kembali harus merasa beruntung, karena disini cukup banyak pantai yang tersedia.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan, akhirnya kita berdua sampai juga di pantai yang dituju. Gua mengajak Lydia ke pantai yang jalurnya relatif mudah dan sudah cukup populer disini. Ke sebuah pantai yang terlihat semakin cantik dengan adanya pura yang ada tepat dibibir pantai. Mirip mirip dengan yang ada di tanah lot Bali gitu lah.

Lydia langsung mengajak gua berjalan mendekat kearah bibir pantai. Bergabung dengan pengunjung lain yang jumlahnya juga lumayan karena saat itu adalah hari Minggu. Kita berdua berdiri tepat dibibir pantai, merasakan deburan ombak yang menerjang kaki kaki kita.

Lydia nampak senang sekali saat itu, wajahnya terlihat bahagia saat merasakan permukaan pasir yang kita pijak sedikit bergeser karena hantaman ombak pantai selatan yang memang terkenal lebih 'ganas'. Beberapa kali dia juga nampak senang bermain dengan air laut, terutama saat beberapa kali ia dengan sengaja menyipratkan air itu kearah gua.

"ah, apaan sih Lyd.. jadi basah semua kan."

"Kamu mah aneh fiz.. masa main ke pantai ngga mau basah, haha nih rasain nih."

"oh jadi nantangin basah basahan nih ?"

"hahaha.."

BYURR... BYURR.. BYURR..

Setelah puas berbasah basahan, Lydia malah mengajak gua berjalan menuju pura yang letaknya ada diatas batu dipinggir laut. Kebetulan untuk menuju kesana sudah ada jembatan khusus, tapi ya agak gimana gitu badan udah basah gini Lydia malah ngajak jalan kesana. Kenapa nggak kesini dulu, baru setelah itu main air. Kalau gini kan agak tengsin juga dilihat banyak orang. Mana diajakin ganti baju dulu nggak mau lagi.

"wah disini enak ya fiz.. anginnya kenceng." ucapnya sumringah saat sudah sampai diatas.

"iyaa, tapi kalo nanti kamu masuk angin gimana ? mana badan kamu masih basah juga.."

"udah tenang aja, bentar lagi juga kering kok." jawabnya cuek, kemudian mengeluarkan sebuah kacamata hitam dan kamera poket dari tasnya.

"ohiya, tolong fotoin aku ya fiz.."

Dia menyodorkan kamera poketnya pada gua, lalu memasang kacamata hitam gelapnya. Yang justru malah terlihat lucu karena hidungnya yang 'minimalis' seolah nggak mampu menyangga beban kacamatanya.

"pfftt, haha kamu lucu banget sih Lyd.."

"buruan fiz.. ish malah ketawa mulu. Aku tau yaa kamu lagi ngetawain apa."

"haha iya iya Lyd bentar.." ucap gua, masih menahan tawa. "siap yaa, gayanya yang cantik dong.. cheers !"

CEKREKK !

CEKREKK !

CEKREKK !

Setelah puas berfoto foto, gua mengajak Lydia untuk segera berganti baju, takut kalau terlalu lama kebasahan dia malah masuk angin. Kemudian setelah itu mengajaknya makan karena hari sudah semakin siang, bahkan waktu makan siang pun sudah lewat karena kita terlalu asik bermain air dan berfoto.

Kita mampir disebuah kedai yang menyediakan berbagai macam seafood, gua memesan ikan bakar, sementara Lydia memesan kepiting asam manis.

Sembari menunggu sunset beberapa saat lagi, gua dan Lydia menghabiskan waktu dengan duduk duduk dipinggir pantai sambil menikmati jagung bakar yang baru saja gua beli.

"makasih ya fiz.. kamu udah nemenin aku seharian ini, aku seneeng banget."

"Iya Lyd.. sama sama." balas gua, sembari meniup niup jagung bakar gua yang masih terasa panas.

Lydia menatap jauh kearah lautan, kearah matahari yang sebentar lagi akan tenggelam. Dari sudut bibirnya, gua bisa menangkap kalau setelah itu ia terlihat sedang tersenyum.

"aku ngga nyangka fiz, kalau aku yang dulunya ga mau diajak pindah kesini sekarang malah ngerasa seneng banget disini, sama kamu." Lydia mulai mendekatkan posisi duduknya disebelah gua.

".."

"aku juga ngga nyangka, kalau cowo irit ngomong yang duduk disebelahku waktu itu sekarang juga lagi duduk disebelahku." Dia mulai menyandarkan kepalanya di bahu gua.

"kamu tahu nggak Lyd ? apa yang sangat ingin aku lakuin sekarang ?" Gua membelai rambut panjangnya secara perlahan.

"apa itu fiz ?"

"menghentikan waktu.."

".." Lydia masih menyandarkan tubuhnya disamping gua, sementara pandangan kita masih fokus kearah sang mentari yang sudah semakin tenggelam.

"tapi karena itu mustahil, aku cuma bisa berharap. Meski waktu terus berputar, aku harap gadis yang kini sedang duduk disebelah nggak akan berputar, apa lagi berpaling mencari lelaki lain.."

Gua sedikit melirik kebawah, mencoba menatap wajah Lydia yang masih bersandar dibahu gua. Sementara Lydia juga nampak sedang mencoba mendongakkan kepala, agar pandangan kita saling bertemu.

"Dan aku juga punya harapan yang sama fiz.."

Lydia tersenyum, menunjukkan senyumnya yang selalu terlihat manis. Kemudian sedikit mendekatkan wajahnya. Gua bisa merasakan deru nafas dan aroma tubuhnya saat itu, karena kita benar benar berada dalam jarak yang begitu dekat.

"Semoga harapan kita terkabul ya Lyd.."

Lydia mengangguk, kemudian bibir kita saling bertemu, tepat bersamaan dengan tenggelamnya sang surya di ufuk barat.

Gua masih belum begitu mengerti, perbedaan seperti apa yang akan mengganggu hubungan kita. Tapi yang gua tau, kita berdua punya perasaan dan harapan yang sama.
gak usah terlalu mempermasalahkan perbedaan...persamaanlah yg seharusnya diutamakan

contohnya Apis suka french kiss...Lydia juga suka emoticon-Big Grin
sok2 an romantis nih ending part nyaemoticon-Leh Uga
wah wah iki wis onok jalinsel gurung Sam ng Ngon iku
Ternyata apis jauh lebih hoki dr pada lu mbing. emoticon-Big Grin
Quote:

Kalo lu sukanya apa sam ? French fries ya ? emoticon-Leh Uga
Quote:

Biar macem pelem pelem korea brus emoticon-Big Grin
Quote:

Wes onok sam, wes dibangun. Tapi urung nyambung
Quote:

Tapi gua lebih ganteng pis emoticon-Cool
wah Yo anget iki berarti
lah ini part kaya nonton drakor yg judul nya apa yah hmm arghhh di ingaat-ingat lupa

Btw sok romantis lo fiz emoticon-Bata (S) palingan bentar lagi pasti ada konflik emoticon-Ngakak
Kalo mau sama, noh batangan aja ganemoticon-Ngakakemoticon-Ngakakemoticon-Ngakak
Quote:


yup konflik masalah "derajat" abis itu putus heheheh .. peace ahh emoticon-Blue Guy Peace
emoticon-Jempol
Nyimak akh gan emoticon-Traveller
Apis aja udah ciuman sama Lydia. Lo masih ngejar-ngejar Dara yang udah mempunyai lelaki yang ia sayangi emoticon-Leh Uga
Tanda2 nih bakalan ada badai monica emoticon-Leh Uga
Quote:


Opo neh iki badai monica emoticon-Nohope
Halaman 14 dari 38


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di