alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
[#SFTHChallenge] Sepenggal Kisah Si Montok
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5a7d3f2d1cbfaaef2b8b456f/sfthchallenge-sepenggal-kisah-si-montok

[#SFTHChallenge] Sepenggal Kisah Si Montok

[#SFTHChallenge] Sepenggal Kisah Si Montok


Namaku Princess Belinda Rahayu. Tapi kalian dapat memanggilku Ayu. Umurku dua puluh tujuh tahun. Kulitku putih bersih warisan dari nenekku yang merupakan orang Belanda asli. Dan bila dibandingkan seluruh temanku, akulah yang paling putih. Rambutku coklat bergelombang asli, sehingga aku tidak perlu repot mengecat rambut seperti para sepupuku. Namun yang paling menarik, kurasa adalah bibirku. Bibirku merah alami sempurna, sehingga aku tak perlu ikut-ikutan tato bibir seperti tante-tanteku. Itulah aku, dengan tinggi seratus tujuh puluh lima senti, sekilas pandang anda dan semua orang yang pertama kali mengenalku, mungkin akan mengira aku adalah orang Italy, seperti nenek dari kakekku sebelah ayah. Tapi percayalah, aku Indonesia luar dalam. Asli Indonesia.

Pakaian favoritku apa saja, yang penting warnanya cerah. Warna merah, orange, hijau muda hingga kuning merupakan warna yang tak dapat kutolak. Bahkan itu adalah warna wajib yang kupakai setiap hari. Hanya dua potong gaun hitam di lemariku yang kubeli untuk menghadiri pemakaman orang-orang yang kukenal, dan tiga potong gaun putih untuk menghadiri acara baptisan keponakan-keponakanku.

Aku juga sangat menyukai high heels, mulai dari lima senti hingga dua belas senti tersedia di bawah tempat tidurku. Walaupun hanya memakainya sekali-kali saja, aku setiap minggu pasti menyempatkan waktu merawatnya. Kesukaanku lainnya adalah mengoleksi parfum. Dari yang berharga ratusan ribu hingga jutaan ada padaku. Itu sebabnya banyak yang suka berada di dekatku. Kata mereka, selain tawaku yang indah, suara yang merdu, dan selera humor kelas wahid, aku juga wangi memikat.

Aku tidak memiliki tanggungan yang besar. Selain karena belum berkeluarga, ayah dan ibuku masih aktif bekerja sebagai pemilik sebuah sekolah kuliner swasta. Tanpa adik atau kakak. Satu-satunya hal yang selalu kuwajibkan untuk diriku sendiri adalah menjenguk nenekku di sebuah panti jompo internasional di Bandung setiap akhir bulan. Nenekku tidak membutuhkan banyak biaya, karena seluruh kehidupannya masih ditanggung oleh dana pensiun kakekku yang meninggal sepuluh tahun lalu. Jadi dapat dikatakan seluruh pendapatanku adalah milikku sendiri. Walaupun akhirnya sering juga teman-temanku meminjam untuk keperluan dadakan keluarga mereka, tapi itu bukanlah masalah besar. Mereka selalu mengembalikannya setelah satu dua tahun.

Walaupun bukan artis terkenal, setiap hari aku juga selalu diperhatikan orang-orang, dimanapun aku berada. Bahkan aku sangat yakin mereka juga membicarakanku. Dari ekor-ekor mataku, aku selalu dapat melihat mereka berbisik-bisik. Dan semakin lebarlah senyumku.

“Wow, badak lewat, Ma!” Jerit seorang bocah berpakaian SD yang langsung di tarik oleh ibunya masuk ke salah satu butik pakaian dalam.

Ups, apa kalian mendengarnya? Dengan semangat kuedarkan pandangan mata ke seluruh sudut hall mall terkemuka itu. Kucari badak yang dimaksud. Beberapa orang melewatiku, dan seperti biasa mereka memperhatikanku. Aku tersenyum sebentar ke mereka, dan mencari lagi.

Akhirnya, setelah semenit, kudapati badak yang dimaksud bocah tadi berdiri tegak di belakang satpam. Yup, badak itu adalah aku. Dan dengan jelas kaca mall di belakang satpam itu menunjukkan pantulan bayanganku, aku yang berpakaian kerja merah muda rapi tak ternoda.

[#SFTHChallenge] Sepenggal Kisah Si Montok


Kalian bingung? Janganlah bingung. Maafkan aku, aku lupa menambahkan satu ciri-ciriku. Bukanlah kusengaja, tapi memang aku sering melupakannya dalam keseharianku. Ciri-ciriku yang lainnya, yang juga sangat berbeda dengan seluruh keluargaku adalah beratku. Beratku seratus delapan kilogram. Itu berdasarkan timbanganku sebulan lalu, saat kena penyakit diare seminggu.

Oh ya, mungkin ini kurang menarik bagi kalian, tapi diare adalah kesukaanku juga. Walaupun aku selalu tidak sengaja mengalaminya, tapi aku sangat menikmatinya. Karena dengan diare, aku dapat naik ke timbangan lagi dan mengamati jarum-jarumnya selama setengah jam.

Sama seperti coklat, burger dan bakso, selain diare, aku juga menyukai hujan. Hujan yang berangin adalah yang terbaik. Karena dengan hujan, itu artinya aku dapat berjalan dengan nyaman di jalan tanpa ada yang memperhatikan. Saat hujan semua orang pasti sibuk dengan diri mereka masing-masing.

Ya, itulah aku. Wanita modern, dengan berbagai kesukaan unik, dan berprofesi sebagai Psikolog. Kalian pasti mengira aku hidup sangat mengasihankan. Oh, tidak. Kalian salah. Aku sangat senang menghadapi hidup ini. Tinggal di salah satu apartemen menengah ke atas, memiliki satu mobil pribadi buatan Jepang dan memiliki sebuah kantor kecil di dekat Bundaran HI adalah hal-hal yang telah menyempurnakan hidupku.

Aku memiliki kehidupan yang menyenangkan, Aku memiliki cukup banyak teman. Walaupun mereka sangat jarang bisa keluar dengan saya, karena sangat sibuk, tapi di saat ada masalah mereka selalu mencariku. Bagiku itu adalah kehormatan karena mereka mempercayaiku. Aku bahkan memiliki karier yang sangat baik Dalam lima tahun masa praktekku, aku telah memiliki lebih dari seratus klien.

Mulai dari suami-suami yang frustasi hingga para selebriti yang stress, adalah makanan harian dalam profesiku. Walaupun aku tahu para istri meminta suami mereka berkonsultasi denganku karena aku adalah psikolog wanita tergemuk, itu tidak menjadi masalah bagiku. Para selebritis pun memiliki alasan beragam, dari aku merupakan pendengar yang baik, hingga aku tidak akan membuat mereka merasa lebih rendah diri lagi, merupakan alasan mereka memilihku. Selama mereka merasa nyaman dan bahagia, aku pun tak keberatan. Bukankah itu memang tugas psikolog. Lagipula bayaran yang mereka berikan juga sangat memadai, walaupun para kaum selebritis ini banyak maunya.

Contohnya, Fiona Fiola. Seorang klien yang harus kutemui sore ini di salah satu café mall terkemuka ini. Dia adalah anak seorang camat yang menjadi Miss Hutan Bakau tiga tahun lalu. Sekarang profesinya adalah artis. Walaupun baru membintangi dua buah film yang satunya gagal putar, dan satunya tidak sesukses harapan produser, dan sepuluh iklan seputar obat nyamuk, obat minum hingga snack dan minuman energy, Fiona adalah salah satu selebritis yang paling sering muncul di infotainment dan kolom gosip.

Fiona adalah salah satu klien yang masuk daftar unikku. Dia tidak pernah mau berkonsultasi di kantorku. Dia selalu memilih café atau restaurant terkenal untuk tempat pertemuan kami. Alasannya dia tidak suka ruangan dokter. Padahal menurutku ruang praktekku sudah dirancang sangat nyaman. Tapi tetap saja kuturuti keinginannya, sebab dia bersedia membayarku cukup banyak.

Kadangkala kupikir dia tidak memperhitungkan konsekuensinya. Bertemu denganku di tempat umum mungkin saja akan mencemari kariernya. Tapi dengan alasan bahwa bila terlihat bersamaku, maka dia akan dinilai sebagai wanita baik hati karena mau berteman denganku, dia juga menganggap terlihat bersamaku maka dia juga akan terlihat sepandai aku. Yah, semoga saja, harapku.

Pukul empat sore tepat. Kulirik sekilas seluruh café itu dan menemukan Fiona di pojok bercahayakan lampu kuning lima watt.. Sialan. Umpatku dalam hati. Kursi di café itu semuanya terbuat dari kayu. Semoga saja cukup kuat menampung berat badanku, doaku dalam hati.

“Hai” Sapaku seriang mungkin.

Secangkir kopi dan sepotong cheesecake telah menemani Fiona. Tapi tampaknya dia tidak terlalu berminat. Dan yang pasti dia sedang sangat risau. Matanya tidak fokus ketika kusapa, dan jari-jarinya mengetuk meja tak beraturan.

Kupesan secangkir teh dan mengabaikan tatapan si pelayan. Mereka hanya pelayan, pikirku.

“Aku hamil” Bisik Fiona setelah si pelayan pergi.

Aku memandangi wajah kecil berbingkai rambut pirang imitasi itu. Aku mungkin harus tampak terkejut, tapi rasanya aku tidak pandai berakting. Aku mengenal banyak artis yang datang padaku stress karena pekerjaan, tapi lebih banyak lagi karena kehidupan seks mereka.

Fiona adalah salah satu artis yang mengunjungiku untuk berbagi kisah asmaranya. Walaupun dia tidak pernah secara blak-blakan mengatakan hubungannya sejauh apa, tapi sebagai psikolog aku sudah terlalu banyak membaca. Jadi bagaimana reaksiku?

“Hah?” Itu reaksi yang cukup baik menurutku.

Tapi tampaknya itu sudah cukup memuaskan Fiona. Ya, mungkin aku boleh jadi artis juga.

“Iya. Aku mengetahuinya tiga hari lalu. Tidak. Aku belum tahu berapa bulan. Tapi mungkin dua bulan”

“Kamu sudah menghubungi Rino?” tanyaku menyelidik.

Rino, seorang pemain sepak bola nasional yang dikencani Fiona setahun terakhir ini. Walaupun tak pernah mengenal secara langsung Rino, tapi aku cukup memiliki informasi tentang si playboy lapangan hijau satu ini. Setidaknya tiga pacarnya, termasuk Fiona, melakukan konsultasi sebulan sekali denganku. Mereka tak saling mengenal, tapi mereka memiliki kemiripan. Artis pendatang baru yang ingin cepat melejit lewat berkencan dengan selebritis yang memiliki banyak kontroversi.

Sebelum sempat menjawab, pelayan kerdil yang menatapku tadi telah balik membawa pesananku. Fiona diam. Dan tetap diam semenit setelah pelayan itu pergi. Matanya bergerak tak beraturan lagi.

“Aku ingin kamu menemuinya”

Oh, jadi itu maksud pertemuan sore ini. Tampaknya Fiona merasa kehadiranku akan memberikan nilai tambah untuk mendesak Rino bertanggung jawab. Tapi itu bukanlah taktik yang baik, pikirku. Entahlah…

Aku baru saja hendak mengemukakan pendapatku, ketika tiba-tiba muncul laki-laki itu. Dia duduk di samping Fiona dengan gusar. Wajahnya kurang senang, seperti merasa terganggu. Dia bahkan hanya menatapku dengan ekor mata meremehkan.

Dia menggenggam tangan Fiona dan mengecup pipinya. Tidak ada kemesraan berlebihan, tapi yang pasti itu bukan kecupan persahabatan. Laki-laki itu menolak pelayan dengan mengusirnya secara kurang ajar, tapi dia tetap tak menatapku.

Laki-laki yang sangat tidak sopan. Mengingat usianya telah lewat setengah abad, dan setahuku memiliki seorang cucu yang baru lahir dua minggu lalu, dia benar-benar bukan laki-laki yang dapat dianggap sebagai panutan. Walaupun pekerjaannya adalah pengacara ternama.

Ya, itu bukan Rino. Laki-laki dengan kumis dan rambut yang beruban itu adalah Ali Fokhati. Pengacara ternama dengan bayaran puluhan juta per jam, menangani kasus nasional hingga internasional. Dan setahuku, Fiona tidak memiliki hubungan apapun dengan si tua bangka ini. Tapi sekarang, aku yakin aku salah.

Fiona terlihat semakin gugup. Matanya bergerak tak teratur lagi. Walaupun mata bersoftlense biru itu menatapku sekilas, dia tampaknya enggan memperkenalkanku. Jadi, aku diam. Setidaknya aku dibayar per jam juga.

“Mas, aku hamil” suara Fiona sedikit mengandung isakan.

“Hah?” Seruku terkejut. Dan yakinlah itu bukan akting.

Dua manusia itu menatapku lalu saling berpandangan lagi. Semenit kemudian laki-laki itu melepaskan tangan Fiona. Dengan kasar.

“Mas…….”

“Kalau begitu kita sudah tidak ada hubungan lagi.”

“Tapi……..”

“Sudah berkali-kali kubilang, aku tak pernah menginginkan anak darimu!”

“Lalu bagaimana?”

“Itu urusanmu”

“Aku akan melaporkan, Mas. Aku akan katakan pada istri mas” Fiona mulai menangis. Sia-sia kupikir.

Laki-laki itu menatapku. Benar-benar menatapku. Lalu senyum sinis itu mengembang.

“Silahkan! Bahkan walaupun kau bawa saksi sebesar gajah ini, Bela takkan menceraikanku. Yah, paling-paling nasibmu tak berbeda jauh dengan Keli, sekertarisku.”

“Maksud mas?”

“Setiap bulan Bela menerima telepon hingga surat gelap. Yang datang ke rumah pun banyak. Tapi bagi dia, kalian bukan masalah. Dia bukan wanita bodoh yang mau bercerai hanya karena urusan sepele seperti ini. Bagi Bela, kalian adalah penggantinya jika dia dan teman-temannya jalan-jalan. Jadi ada yang ngurusin aku……. Jadi Fiona, sebaiknya kau tidak menghubungiku lagi. Lagi pula Rino juga mendapatkan bagian yang sama denganku kan?”

“Mas, teganya kau!”

“Jadi, selagi ada teman gajahmu ini, cobalah untuk bertanya padanya kira-kira solusi apa yang terbaik. Daripada dia hanya berguna untuk merusak kursi Café ini. Oh ya kalau kau hendak mengajukan ini ke media masa, pikirkan lagi. Aku dapat menuntutmu, menghancurkanmu. Aku memiliki banyak cara untuk itu. Setidaknya untuk kariermu kan?”

Aku terdiam. Kurang ajar. Belum pernah kutemui orang sekurang ajar ini. Selama ini orang-orang dewasa hanya menatapku dan berbisik-bisik di belakangku. Yang berani terang-terangan hanyalah anak-anak. Bukannya tidak menghargai kejujuran orang dewasa, tapi sopan santun tentulah hal yang patut dijunjung tinggi oleh manusia-manusia beradab, terutama yang berpendidikan.

Laki-laki itu pergi dengan pongah. Dia bahkan tak berbalik untuk melihat Fiona yang seperti patung es. Tak bergerak.

Lima menit. Fiona telah berdiam diri selama lima menit. Tak ada histeris. Dan itu lebih menakutkan bagiku yang mengenal Fiona.

“Jadi itu anaknya?” tanyaku hati-hati. Untunglah tempat duduk kami sangat pojok. Para pelayanpun sulit melihat. Mungkin itu juga yang menjadikan café ini tempat pilihan pertemuan Fiona. Yah, setidaknya dia cukup cerdas untuk hal begini.

“Entahlah”

Fiona mulai menyuap cheesecake dengan bernafsu. Tangannya gemetaran hebat. Tapi dia terlihat lebih tenang daripada saat kulihat pertama kali tadi.

“Aku tidak tahu siapa ayah anak ini. Rino atau dia. Aku sudah mencoba ke Rino, tapi dia juga hanya mengusirku. Jadi kupikir tidak ada salahnya mencoba ke Mas Ali. Kupikir dia tidak terlalu serius dengan kata-katanya tentang tak mau memiliki anak denganku. Kupikir, dia akan bahagia akan kehadiran anak ini di masa tuanya. Aku pikir, dia tidak tahu tenatang Rino. Aku pikir, akulah satu-satunya daun muda dalam hidupnya……..”

Dan kupikir, kau sangat bodoh, batinku kesal.

“Kau tidak pernah menceritakannya padaku”

“Untuk apa? Hubungan kami jauh lebih lama dari Rino. Bahkan dia yang membantuku memenangkan lomba itu, entah bagaimana caranya. Jadi bagiku rahasia ini aman, dan aku tak ingin mencoba-coba membongkarnya. Kecuali hari ini…….”

Ya, kecuali hari ini. Saat kau terdesak, dan aku justru amat sangat terhina. Kau bahkan tidak mencoba minta maaf karena melibatkanku, pikirku.

“Aku pergi. Ini bayaran perjammu. Tidak, Mas Ali benar. Aku tahu yang harus kulakukan. Demi karierku.”

Kutatap amplop coklat itu. Mencoba bersikap professional adalah kebanggaanku, tapi rasanya tidak tepat untuk saat ini.

“Fiona, menurutku itu bukanlah pilihan!”

“Itu pilihanku. Dan banyak artis-artis lain juga melakukannya. Kalaupun terbongkar, anggaplah sebagai pendongkrak popularitas. Aku tak membutuhkan anak ini. Tidak juga keluargaku. Bagaimanapun, tahun depan ayahku ikut pencalonan walikota. Oh ya, mungkin untuk beberapa bulan ke depan aku belum membutuhkanmu, nanti kuhubungi.”

Aku kali ini yang terdiam seperti patung es. Dan Fiona berlalu.

Pukul setengah enam. Tehku yang cangkir kedua sudah dingin. Pelayan itu pun sering bolak-balik. Mungkin memastikan aku tidak merusak kursi café mereka. Tiba-tiba darahku mendidih. Aku marah pada pengacara tua tak bermoral itu. Aku marah pada Fiona, yang menganggapku sebagai teman curhat bayaran. Aku marah pada pelayan yang sok tahu dan sok keren. Aku marah……. Ya, aku marah pada diriku sendiri karena membiarkan ini semua terjadi.

Kuambil amplop coklat itu dan menghitungnya. Jumlah yang sama. Selembar uang seratus ribuan kulempar ke atas meja dan berlalu. Itu lebih dari cukup. Biarlah pelayan itu bersenang-senang dengan tip yang tak seberapa itu. Hanya itu kesenangannya kan?

[#SFTHChallenge] Sepenggal Kisah Si Montok


Kupercepat langkah menuju lantai lima. Dan kulihat butik itu. Enam baju dipasang pada manekin sekurus para pragawati. Semuanya sangat indah. Tanpa mempedulikan pandangan para SPG butik, kutunjuk sebuah baju di manekin. Ukurannya? Aku tak peduli. Aku hanya ingin membelinya. Dan dengan bangga kubawa gaun selutut berwarna jamrud itu keluar.

Ya, mulai hari ini aku akan berubah. Tidak ada lagi badak, gajah ataupun kuda nil dalam embel-embel panggilanku. Enam bulan, ya, enam bulan lagi aku berjanji akan bisa memakai gaun jamrud ini. Dan bila saat itu tiba akan kubuat si pengacara tua itu menyembah-nyembahku.

Aku kini kasihan pada Fiona, Bela dan para klien wanitaku yang lebih mementingkan materi, seks, dan penampilan. Mereka mungkin tak berotak. Tapi, ada yang lebih parah. Mereka tak memiliki harga diri. Dan ini saatnya aku menunjukkan pada mereka.

Mungkin klienku akan sangat berkurang, tapi aku yakin harga diriku akan sangat jauh bertambah.

Pukul enam sore. Lebih baik aku makan malam di Warteg Kuning dekat apartemenku. Nasi goreng dan gado-gadonya cukup lumayan. Setelah itu semuanya akan berakhir menyenangkan juga.

Dengan semangat kulangkahkan kakiku menuju mobil SUV kuning yang baru kubeli dua bulan lalu. Tiga orang satpam tampak terkikik-kikik di belakangku. Tunggu saja. Aku berbalik dan tersenyum pada mereka.

Tunggu saja, itu janjiku.



Diubah oleh sun81
Halaman 1 dari 2
Ijin nenda,, btw keren
dah tamat?
Keren sis pengalaman ente
Quote:


Thank Uuu.......Jangankan nenda, bikin rusun pun silahkanemoticon-Ngakak

Quote:


Iya......Namanya jg cuman sepenggalemoticon-Smilie emoticon-Smilie

Quote:


Waduuhh.....62 kg cukup lahemoticon-Ngakak

Pengalaman tetangga dari anak teman kakek yang ketemu di angkot saat mimpi emoticon-Ngakak (S)
Sungguh, ini salah satu cerita terkeren yang pernah ane baca, alur dan kata-katanya asik, tapi koplak emoticon-Big Grin emoticon-thumbsup dan lebih bahagia lagi kalo cerita ini belum tamat...
jangan tamat donk, ane menikmatinya. Ini seperti rasa dahaga yang tersegarkan oleh es buah disiang hari emoticon-Frown.
Siap siapRate 5 meluncur sis. Terlalu sayang rasanya jika cerita ini sedikit mendapat apresiasi. Semoga jadi HT emoticon-Nyepi
Diubah oleh wisnup451r
Quote:


Aihhh....jadiemoticon-Embarrassment emoticon-Embarrassment

Ini cerita udah lama bersemedi di laptop......Kebetulan ada challenge dr SFTH, jd coba-coba diikutin......Lagian syaratnya harus Tamat alias cerpen emoticon-Shakehand2 Thanks ya!!emoticon-Peluk
Quote:

Oh my God emoticon-Ngakak
Btw udah nerbitin buku apa sekarang? Mau donk beli emoticon-Embarrassment
Quote:


iya siiih..
but it would be better when u complete it
Quote:


Belum satupun......Para penerbit masih belum meminang goresan pena Aneemoticon-Ngakak

Karya Ane yang lain Novel Kisah para Keturunan Bajak Laut
n Lovelicious
Singgah ya........Siapa tahu minat juga emoticon-Smilie emoticon-Smilie
Quote:


Maksudnya sampe si tokoh utama singset??emoticon-Ngakak Wah.......itu bisa jadi novel emoticon-Salam Kenal
bagus tapi kentangemoticon-Hammer2
Awal baca sempet di bikin greget karena tokoh utama nya narsis banget cuih emoticon-Ngakak

Pas ditengah dibikin makin lucu sama ejekan anak kecil emoticon-Ngakak

Nah, bagian isinya mulai dibuat tegang oleh sebuah masalah emoticon-Takut

Terakhir, entahlah..
ane bingung antara mau ikut marah, kasihan, apa ngakak yak emoticon-Ngakak

Yang jelas para pemerannya koplak semua! Gila emoticon-Big Grin
lanjutkan sissss
Quote:


Nggak kentang, kok......ini cerpen yang berakhir dengan penyelesaian dari masing2 pembaca.emoticon-Shakehand2 emoticon-Shakehand2 Mo buat tokoh utamanya jd singset, tetap montok ato bahenol, terserah......emoticon-Salam Kenal emoticon-Salam Kenal

emoticon-Peluk emoticon-Peluk
Quote:


Karena cerita lama, moodnya udah hanyut......moga2 balik lagi yaemoticon-2 Jempol emoticon-2 Jempol

Quote:


Thanks ya!!emoticon-2 Jempol emoticon-2 Jempol

Bukan jenis cerita romantis untuk bulan cinta.........jadi sangat kurang yang singgahemoticon-Mewek emoticon-Mewek

Sabar-sabar.. emoticon-Big Grin ane juga sama. Trit sfth ane sepi pengunjung. Tidak menarik emoticon-Ngakak
Tapi yg penting udah berusaha dan berani mencoba. emoticon-thumbsup
Kek nya menarik nih

Nyimak dlu ah emoticon-Cool
Halaman 1 dari 2


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di