alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
REBORN: Karma Will Always Find Its Way [TAMAT]
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5a16b6e2c0d770b0058b4568/reborn-karma-will-always-find-its-way-tamat

REBORN: Karma Will Always Find Its Way

Tampilkan isi Thread
Halaman 45 dari 203
Ijin ninggalin bercak * ehhh... jejak

Sya pke hp bisa kok buka igo lover

Quote:


Quote:


ahaha bener di PC bisa ane HP btw Bini ane ntuh ngarep bisa2 di jitak beneran ama bini wadaww emoticon-Hammer2 aw
Diubah oleh kkaze22
Quote:


Anjaaaayyy...bnyak bener koleksinya gan? 😍

Kmaren kok update cuman sekali update gan?hari ini 3 chapter lg donks...hahay
Aish karma lagi kayaknya.
Quote:


Ane kira karena ada yg berontak gan emoticon-Ngakak emoticon-Ngakak emoticon-Ngakak
apdet siang dong gan

Bagian 45

Ternyata kos Ana hanya berjarak sekitar 10 menit dari kantor, itu juga karna kejebak macet diperempatan jalan yang lampu merahnya lama banget. Mungkin, kalau ditempuh dengan berjalan kaki hanya memakan waktu 15-20 menit.

Gue sempet berpikir bahwa Ana tinggal dengan orang tuanya, tapi ternyata dia kos sendiri, perantauan sendirian dari Bangka Belitung.

Gue mampir ke kos Ana yang bisa dibilang cukup luas, ada teras kecil persis didepan kamarnya, dengan dua buah kursi kayu dan meja kayu kecil. Gue memilih tempat disana untuk duduk kemudian menyulut sebatang rokok.

“Mau minum apaan Gus?” Tanya Ana dari depan pintunya.

“Ga usah Na, Gue bawa botol minum kok.”

“Oh yaudah. Lo ga langsung balik kan? Gue mandi dulu ya sebentar.” Ucap Ana yang kemudian Gue balas dengan anggukan kecil.

Ana masuk ke kamarnya dan sedikit merapatkan pintunya. Gue mengecek beberapa notifikasi di handphone sambil sesekali berbalas whatsapp dengan Lisa.

Sekitar setengah jam berikutnya, Ana sudah keluar dari kamarnya kemudian duduk di bangku kayu disamping Gue sambil menyandarkan badannya dan menyilangkan kaki nya.

“Gue lagi pesen pizza Gus, kita makan bareng ya.” ucap Ana sambil memainkan rambutnya yang setengah basah. Harum sampho sangat tercium dari rambutnya.

Kami mengobrol banyak malam itu, ternyata Ana tipe orang yang sangat seru diajak ngobrol. Dan memang dasarnya Gue ga pernah atau mungkin ga biasa ngobrol lama sama cewek, ga tau kenapa Gue malah jadi tertarik sama Ana. Gue merasa, Ana adalah sosok nyata dari gabungan Felicia dengan Lisa. Dari wajah dan fisiknya, ga beda jauh lah sama Lisa, mungkin karna sama-sama chinese, Yaa walaupun masih lebih cantik Lisa menurut Gue. Sedangkan dari kepribadian dan cara bicara nya, mirip sekali dengan Felicia, apalagi gestur tubuhnya saat dia berbicara, benar-benar sukses bikin Gue gemas ingin mencubit pipi nya yang chubby.

Kami menikmati seloyang pizza ukuran sedang berdua didepan teras kecil kamar kos Ana, tentu saja masih saling mengobrol banyak hal. Dia banyak bercerita tentang dirinya. Gue jadi tau ternyata dia sudah punya pacar yang sudah berjalan hampir 4 tahun lamanya. Namun, sudah sekitar 2 tahun ini pacarnya bekerja di sebuah perusahaan ternama di Malaysia.

Ana seorang penganut Budha, sedangkan Pacarnya Katholik. Tapi sepertinya itu bukan masalah besar bagi mereka karna kedua keluarga mereka tidak mempermasalahkan perbedaan itu.

“Tapi Na, kalo chinese gitu pengennya dapet pasangan yang chinese juga dan atau yang seagama ya?” Tanya Gue ke Ana ditengah obrolan saat Ana menanyakan tentang hubungan Gue dengan Lisa.

“Enggak tau deh. Keluarga Gue sih ga begitu pengaruh. Gue pernah punya pacar non chinese kok, tapi seagama. Dan waktu itu keluarga Gue ga masalah.” Jawab Ana sambil menggigit pizza yang ia potong kecil-kecil.

“Ya iya, biar beda ras nya tapi seagama mungkin masih gampang kali ya? Lah Gue sama cewek Gue apa kabar? Beda dua-dua nya.”

“Ya dari keluarga cewek lo gimana? Dari keluarga lo gimana?”

“Keluarga Gue mah biasa aja sih, Cuma kalo keluarga dia gatau dah, kayanya sih Nyokapnya ga masalah, Cuma Kokonya yang keliatan banget ga suka sama gue..”

“Tapi nyokapnya tau latar belakang lo, maksudnya tau lo muslim?”

“Tau sih, dan tanggapan nyokapnya juga biasa aja.”

“Ya kalo gitu ga masalah dong?”

“Tapi Guenya sih yang masih ngerasa ada yang ngeganjel gitu Na, apa karna pengaruh Kokonya juga ya yang ga suka sama gue? Atau karna perbedaan gue sama Lisa terlalu banyak buat diabaikan.” ucap Gue sambil menyandarkan badan dan membuang pandangan ke pagar kos Ana.

“Lo jangan terlalu fokus ke soal perbedaan kalian. Kadang, udah sama-sama yakin buat berjuang malah lupa ternyata masalah perasaanlah inti dari suatu hubungan itu.” ucap Ana sambil menatap Gue.

“Masalah perasaan? Maksudnya?” Gue menoleh ke Ana dan memasang wajah bingung.

“Gini. Oke kalian beda dalam banyak hal. Tapi bukannya manusia itu bisa saling cinta karna berbeda ya? Dan masalah sebenernya bukan perbedaan itu, tapi perasaan kalian. Bener ga kalian saling sayang, saling siap perjuangin satu sama lain, saling jaga kepercayaan, saling jujur, saling menjaga perasaan. Itu inti yang harus kalian bangun, bukan malah fokus sama perbedaan aja.” jawab Ana panjang lebar sambil duduk menyamping menghadap Gue.

Gue hanya terdiam menatap Ana. Gue baru sadar, jelas saja Ana lebih mengerti tentang hal ini walaupun umurnya lebih muda dari Gue. Karna dia udah lebih dulu menjalin hubungan dengan perbedaan keyakinan. Tapi masih tetap bertahan walaupun harus sangat jarang buat saling bertemu, karna dia dan pasangannya sudah membangun hal-hal yang dia sebutkan tadi. Mereka ga fokus ke masalah perbedaan itu tapi fokus dengan apa yang mereka rasakan. Itu lah apa yang ga terjadi antara Gue dan Lisa.

Lisa memang pernah bilang, kalo soal perbedaan keyakinan, dia akan ikut Gue. Asal Gue bisa memperjuangkan dia menghadapi keluarganya. Kemungkinan terburuk menurut Lisa, dia akan dipaksa pulang ke Surabaya dan ga akan bisa keluar dari rumah. Dan kalo sampe sejauh itu, Lisa menyerahkan sepenuhnya dengan perjuangan apa yang akan Gue lakuin. Tapi, justru Gue yang ragu. Apa iya Gue bisa membimbing Lisa nanti? Apa bisa Gue memperjuangkan Lisa dihadapan keluarganya? Atau, apa Gue tega merebut Lisa dari seorang Ibu yang udah berjuang mati-matian untuk membesarkan Lisa sendirian?

“Kalo Gue ya Gus. Gue malah sebenernya kalo mau pindah keyakinan, Gue ga mau ikut keyakinan cowok Gue.” Ucap Ana membuyarkan lamunan Gue.

“Maksudnya? Katanya lo ga masalah kalo ikut keyakinan dia?” tanya Gue lagi dengan wajah bingung.

“Kapan Gue bilang gitu? Gue bilang ga masalah sama perbedaan Gue sama dia. Tapi sebenernya, Gue ga mau kalo harus ikut keyakinan dia. Gue malah tertarik buat belajar tentang Islam.” Ucap Ana dengan wajah yang masih tersenyum namun nada bicara nya terdengar ragu.

“Kok gitu? Emang bisa ya kita milih-milih mau pindah ke agama apa?” tanya Gue masih dengan nada bingung.

“Lah, lo gimana sih. Lo nanya sendiri malah jawab sendiri. Hahaha” jawab Ana sambil tertawa dengan matanya yang menipis sambil menutup mulutnya dengan telapak tangannya.

“Maksudnya apa sih? Kok Gue ga ngerti ya? Kenapa lo malah ketawa lagi.” Gue malah semakin kebingungan dengan ekspresi Ana.

“Gus. Kita ga bisa milih mau terlahir dalam keluarga yang menganut keyakinan apa, kan? Dan saat udah dewasa, Gue merasa kayanya ada keyakinan lain yang membuat Gue ingin mempelajarinya lebih dalam. Dan Gue ga bisa milih, ternyata ada perasaan yang menuntun Gue buat masuk ke Islam daripada ikut keyakinan Katholik nya cowok Gue.” Jawab Ana sambil memangku dagunya dengan tangan yang disandarkan kepegangan kursi.

“Ooh. Gue ngerti. Tapi kalo menurut Gue, lo ngerasa kaya gitu karna disekiling lo terlalu banyak orang-orang muslim aja. Lo sering ngeliat orang sholat, puasa, makanya jadi lo ngerasa penasaran dan pengen mempelajarinya.” jawab Gue santai sambil mengeluarkan rokok dari bungkusnya.

“Sok tau lo. Kata siapa? Dari kecil justru Gue lebih sering ketemu sama orang-orang Katholik. Bahkan Gue juga pernah ikut nyanyi di gereja. Kalo menurut lo rasa penasaran Gue muncul karna kebawa arus sekitar, lo sok tau banget namanya.” Jawab Ana nyolot sambil memasang wajah manyun.

“Tapi itu tergantung kemana Tuhan bakal nuntun Gue. Seandainya emang Gue jodoh sama cowok Gue, ya Gue akan ikut keyakinan dia.” lanjut Ana sambil berdiri dari duduknya dan masuk ke kamar kos nya.

Gue geleng-geleng kepala sambil tersenyum sendirian. Kayanya emang ada yang salah dalam diri Gue. Ko Hendri yang dulu sempat ngomongin masalah keyakinannya buat masuk Islam malah Gue berusaha bikin dia ragu, Lisa juga selalu Gue buat ragu setiap kali dia bilang mau ikut Gue, sekarang Ana sampe nyolot karna ga terima dengan penilaian Gue tentang keyakinannya.

Entahlah, kalo memang Tuhan bisa menuntun seseorang menuju apa yang Dia pilih, berarti apa yang Gue lakukan juga sesuai dengan tuntunan Tuhan, dengan membuat ragu orang yang mencari sebuah keyakinan.

Ana kembali dari kamar nya dengan membawa dua dua gelas kecil dan sebotol air dingin. Kemudian meletakkannya diatas meja lalu kembali duduk menyamping menghadap Gue.

“Tapi bisa aja kan, Tuhan ternyata udah menulis di buku takdir, bahwa Gue akan ketemu cowok yang baru Gue kenal belum sebulan, terus Gue malah semakin yakin buat menemukan jalan Gue sama cowok itu?” tanya Ana sambil memasang senyumnya menatap Gue.

Gue menatap Ana sambil tersenyum dan berusaha berpikir positif bahwa ini bisa saja hanya sebuah candaan. Dan lagipula, kenapa harus dengan Ana kalo emang Gue mau ‘membawa' orang ikut dengan Gue, toh jauh-jauh hari Lisa sudah menyatakan bersedia.

“Bisa jadi sih Na. Cinta kan bisa jadi apa aja.” ucap Gue membalas omongan Ana sambil cengengesan.

Ana membuang pandangannya dan ga lagi menatap Gue, tapi masih dengan senyumnya yang mengembang. Gue memperhatikan dari samping sambil berpikir, Gue ga mau lagi kejebak dengan perasaan yang ujung-ujungnya hanya akan merepotkan Gue sendiri kedepannya nanti.

Sekitar jam 9 malam, Gue pamit pulang dan segera menuju rumah. Ga banyak yang Gue pikirkan saat itu, selain omongan Ana mengenai fokus pemikiran suatu hubungan. Gue akan mencoba nya dengan Lisa, menepis segala pemikiran tentang perbedaan kami, dan fokus dengan apa yang akan kami perjuangkan kedepannya nanti.

Tapi, sejak malam itu, Gue dan Ana jadi agak kaku di kantor. Sebenernya sih Ana yang jadi kaku. Ada aja hal yang bikin Gue tertawa sendiri melihat tingkahnya. Gue jadi semakin suka menggoda nya.

“Na, lo kalo ke kantor pake make up ya?” tanya Gue di suatu sore saat sedang santai karna kerjaan sudah selesai.

“Enggak. Gue mah paling pake pelembab sama handbody doang. Kenapa emang?” Jawab Ana tanpa menoleh kearah Gue dan tetap fokus ke layar komputernya.

“Ah, ga percaya Gue. Kayanya tiap hari Gue liat lo makin cantik aja.” ucap Gue sambil ga melepas pandangan menatap Ana.

Yang di gombalin masih tetap enggan menoleh, tapi terlihat jelas rona merah di pipinya yang chubby. Dan tentu saja omongan itu ga lepas dari tanggapan Mba Airin dan Mba Novi.

“Heh, dilarang gombal-gombalan di jam kerja.” Sambar Mba Airin dengan wajah cemberut yang dibuat-buat.

“Lo apaan sih Gus, jangan ngerayu-rayu anak orang kalo cuma buat becanda.” Ucap Mba Novi sambil mencubit lengan Gue.

“Lah? Apa salahnya sih memuji kecantikan orang? Lagipula emang Ana cantik kok.” Gue menjawab dengan cengesan.

Ana yang sepertinya semakin ‘gerah' dengan pujian Gue malah meninggalkan meja kerja nya entah kemana.

“Tapi nanti anak orang bisa jadi malah berharap lho. Lo mah gitu sih, sama aja kaya kebanyakan cowok. Suka banget ngasih harapan palsu.” lanjut Mba Novi setengah berbisik sambil menatap Ana yang berjalan menjauh.

“Gapapa tapi Gus. Gue dukung kalo lo sama Ana, bawa deh dia ikut lo. Jangan Lisa, kasian nanti Lisa dosa.” sambar Mba Airin.

Mba Airin memang sekeyakinan dengan Lisa. Gue sampe hapal senandung puji-pujian yang biasa dia nyanyikan saat sambil bekerja, dengan nada puji-pujian yang sama dengan yang sering disenandungkan oleh Lisa.

“Lagian siapa juga yang mau bawa-bawa anak orang? Bawa diri sendiri aja Gue repot.” jawab Gue menutup obrolan yang Gue khawatir malah makin melebar.

Dari semua hal yang pernah terjadi antara Gue dan Lisa, Gue tetap bersyukur dia masih ada menemani disamping Gue. Terlepas dari kecurangan yang pernah dia lakukan, Lisa benar-benar sosok perempuan yang Gue butuhkan. Menjalani hubungan dengan Lisa, sangat bertolak belakang ketika Gue menjalani hubungan dengan Liana.

Selama 7 tahun dengan Liana, Gue selalu jadi tokoh utama yang mengambil alih semua keputusan dalam hubungan Gue dengan Liana. Dan Liana, adalah sosok ‘Putri Solo' dalam hubungan kami. Dia selalu bilang Iya atas apa yang Gue ucapkan. Ga pernah sekalipun dia menentang pendapat Gue, sekalipun dia tau Gue salah. Dia adalah sosok seorang yang sangat penyayang dan selalu mengalah, tapi hal itu malah membuat Gue semakin kelewat batas, lupa diri, dan gagal dalam menjaga kepercayaan yang dia serahkan sepenuhnya ke Gue.

Sedangkan dengan Lisa, Gue berusaha sebaik mungkin dalam bersikap. Lisa adalah tokoh utama nya. Dia yang membuat segala peraturan. Gue harus minum susu kaleng, minum air putih, mengurangi rokok, menjaga jam tidur Gue, dan banyak peraturan-peraturan lain yang dia terapkan, tapi justru membuat hidup Gue menjadi lebih baik, setidaknya Gue merasa lebih sehat. Lisa ga pernah menelan mentah-mentah apa pendapat Gue. Dia selalu tanpa ragu mempertanyakannya. Dan ketika ada hal salah yang Gue lakukan, Lisa pasti langsung menegur Gue. Hal itu yang membuat Gue lebih berhati-hati dalam bersikap.

Sebuah hubungan, yang di mata teman-teman dekat Gue terlihat dewasa. Walaupun ga sepenuhnya seperti itu. Gue adalah sosok laki-laki manja didepan Lisa. Bukan karna Gue yang ga mau berusaha, tapi Lisa yang lebih suka melakukan semuanya sendiri sesuai dengan apa yang dia mau, dan Gue hanya diminta pendapat di akhir saja sebelum dia mengucapkan “Everything is under control”.

Gue selalu percaya, percaya banget malah, apapun yang kita tanam pasti akan kita petik nanti nya. Lisa bukan sosok orang yang bisa selalu tau apa kenakalan Gue dibelakang dia. Bisa aja Gue menghianati dia. Tapi Gue sendiri yang bingung, apa yang mau Gue cari di cewek lain kalo menurut gue apa yang gue butuhkan udah ada di Lisa?

Sampai suatu sore, akhir bulan Juli 2015 setelah cuti bersama lebaran. Ana mengucapkan selamat lebaran ke Gue, kemudian menatap Gue sambil berkata pelan,

Tahun depan apa dua tahun lagi Gus kita bisa ngerayain lebaran berdua?
Diubah oleh ucln
komen dulu baru baca 😁
, kemudian menatap Gue sambil berkata pelan, “Tahun depan apa dua tahun lagi Gus kita bisa ngerayain lebaran berdua?”

kode keras
frontal banget ya si ana...tanpa tadeng aling aling emoticon-Big Grin
Gw sih kalo jadi lisa or felicia, nggak akan mau sama cowok yang begitu, cuma mikirin perasaannya
Quote:


setuju, ane juga ogah.... emoticon-Cool

eh,,,,
#TeamLisaemoticon-Kiss
Yg ditunggu tunggu..... emoticon-Matabelo

Apa rasanya dikodein gitu ya emoticon-Ngakak
Ambil positif nya aja gan, mungkin doi mau ngajak silaturahmi aj :v
Udah cukup waktunya jadi silent reader gara-gara mulustrasi Ana emoticon-Ngakak (S)
Setelah dibuat baper sama kelakuan Lisa, sekarang Ana yang bikin ane baper gemes emoticon-Malu (S)
Ditunggu lanjutannya aja ah emoticon-Ngacir
duh ana bikin baper.
Post ini telah dihapus oleh kaskus.support17
mulai lagi kelakuan.
Halaman 45 dari 203


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di