alexa-tracking
Kategori
Kategori
Pengumuman! Mau dimodalin 25 Juta untuk acara komunitas? Ceritain aja tentang komunitas lo di sini!
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Sri Mulyani Telah Kaji Soal Daya Beli Lesu, Ini Hasilnya
4.38 stars - based on 8 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/59ad827a96bde606328b4569/sri-mulyani-telah-kaji-soal-daya-beli-lesu-ini-hasilnya

Sri Mulyani Telah Kaji Soal Daya Beli Lesu, Ini Hasilnya

Tampilkan isi Thread
Halaman 12 dari 14
Quote:


itu gak bisa dibilang indikator ekonomi, karena orang kesana banyak yg bawa pulang gratis.
Quote:


Wew, yg boneng gan?
Tp setidak2ny mrk tau mau belanja kan?walopun pada akhir ny bisa bawa pulang gratis (nyolong)
Quote:


uda desak-desakan gitu. lu masukin ke dalam tas siapa yg perhatiin?
mau pake coba, terus jalan keluar aja gak ada yg tau kok.
Quote:





terlalu detil ampe mudah diplesetin lo...







kolektif dr awal gias dimulai

emoticon-Leh Ugaemoticon-Wakaka
Quote:


Ente kaga sendirian gan, di kota ane yang notabene kantong terbesar jokowi aja dah banyak yang berpaling (asal bukan doi 2019 nanti) emoticon-Malu

FYI : Ane bukan pendukung/hater doi, ane golput
Diubah oleh spiids
sudahlah
ngutang aja lagi
Quote:


yaelah pameran GIIAS buat tolok ukur emoticon-Cape d... (S) emoticon-Ngakak (S)
jakarta tempat ngumpulnya horang kayak emoticon-thumbsup

coba GIIAS di adain di tasik, klaten, kediri ato dikupang
gw yakin pasti sepi
Quote:


bukannya klo bicara daya beli itu selalu bicara soal kesulurhan?
lagian orang kaya cuma berapa sih? 10-20%???
Quote:


coba ke warkop sekitar surabaya, kebanyakan ada banner wifi, bahkan yang cuma ukuran 2 X 2 meter ada wifinya. Coba pake google maps cari warkop wifi di surabaya dan sekitarnya. Kalau tidak ada wifinya tidak laku, itulah persaingan warkop di surabaya dan sekitarnya.
Saya ngobrol dengan tukang becak pancal, mereka mengeluh kalah dengan tukang becak bermotor dan gojek. Sebagian tukang becak pancal dan bermotor yang kalah saingan dengan gojek jadi ikut toko2 untuk mengirim barang2 yang terlalu banyak untuk gojek tapi terlalu sedikit untuk pick up seperti 3 atau 4 kardus besar snack atau besi beton 20-30 batang. Tapi sebagai konsekuensinya, becak yang ikut toko dilarang ambil penumpang, ini semacam kesepakatan bersama para tukang becak di surabaya dan sekitarnya. Kalau becak pancal masih banyak di sekitar pasar tradisional, para orang tua biasanya tidak bisa pake gojek atau ada becak langganan.
Kalau di Surabaya, mall2 kelas A (TP, GM, Supermall) masih rame dan masih ada pembeli. yang mulai sepi mall2 kelas B ke bawah.
Menurut saya ada perubahan mindset di sebagian kelas menengah dan kelas atas bawah. Dulu kalau tren baju polo, semua pakai polo. Sekarang masyarakat tidak lagi ikut tren atau mementingkan merek, tapi memakai yang mereka mau. Jadi sekarang ini pasar sangat2 tersegmentasi. Sekarang yang penting barangnya bagus. Teman saya baru buka usaha pakaian distro tapi desainnya sedikit berbau militer, dan laris luar biasa. Kalau dulu kan liat mereknya apa dulu atau apakah gambar di kaosnya ngetren. Sekarang liat di mall2, sepertinya hampir tidak ada yang pakai pakaian yang sama. Sepertinya perusahaan besar yang punya merek tergerus perusahaan kecil yang lebih tau segmentasi pasar. Perusahaan besar produksi 1 desain puluhan lusin, laku beberapa lusin. UKM produksi 1 desain yang disukai segmennya 1-2 lusin, tidak laku 1-2 potong. Perusahaan besar melihat ini kelesuan pasar, sedang UKM tidak melihat ini sebagai kelesuan pasar.
Yang punya duit sekarang lebih suka belanja ke luar negeri. Sekarang di sana barang bermerek jauh lebih murah. jadi, mereka liburan/berobat sekaligus shoping.
Dulu para pemilik pabrik jadi importir karena impor lebih murah. Sekarang importir merana karena impor dipersulit. Tapi pemilik pabrik jadi senang. Kapanhari ngobrol dengan pemilik pabrik garmen, pabriknya kewalahan memenuhi permintaan konfeksi karena impor pakaian dipersulit.
Apakah ada kelesuan pasar? Ada, dari yang listriknya 900 VA yang subsidinya diambil. Mereka mengurangi pengeluaran mereka, meskipun long weekend kemarin mulai ada yang berani keluar biaya untuk jalan2 ke tempat2 wisata.
Dari orang2 kaya tidak berani beli properti dan mobil, karena timbul ketakutan kalau beli properti atau mobil akan diperiksa pajak "duitnya dari mana?". Tapi sepertinya sekarang mulai berani melepaskan diri dari ketakutan akan pajak.
Diubah oleh Chen21
Quote:


maksudnya gimana nih ? orang miskin bisa beli mobil ?
pantes dagangan ane lama lakunya, Alhamdulillah emoticon-Smilie
Quote:


berarti di kota agan mungkin pertumbuhan ekonominya bagus, tapi coba kompare dengan kota lain, indonesia tuch luas gan jangan agan melihat tingkat pertumbuhan di satu kota saja, coba ke kota lain yg tadi saya bilang ke agan, jangan agan samakan daya beli masyarakat di kota surabaya sama dengan daya beli masyarakat di tegal misalnya pasti akan jauh beda gan, banyak faktor yg mendukung daya beli masyarakat gan.
Quote:


setubuh banget gan emoticon-Ngakak
Quote:


jd bray maksudloh pemerintah yg memproduksi HOAX selama ini dng menampilkan data² palsu 😁

saracen adalah pemerintah , hhmmmm emoticon-Leh Uga



Quote:


sudah ke jember dan kediri, mirip2. sepertinya Jatim memang lumayan ekonominya dibanding yang lain.
Orang tegal kalau mau, pindah ke surabaya, jual soto tegal niru sedap malam sama tulang gorengnya. Sepertinya bakal laris.
Quote:


turun gan...tahun 2016 perbulan itu dapat 100-120 unit...tahun ini 80-90an doank

ane kerja di dealer motor
Aaaaaaaa
Diubah oleh vicgibb
Quote:


gue dr demen jd enek sm si smi, byk jebakan betmen kebijakannya jg gajebo emoticon-Busa:
Quote:


Pantesan para atlet kita kebanyakan pake dana sendiri
Quote:


Sepertinya doi memang tidak punya kapabilitas untuk bisa memenuhi tuntutan bossnya yang lagi ngejar infrastruktur, end up nya rakyat yang di cekik dengan regulasi2 doi.. emoticon-Malu
Halaman 12 dari 14


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di