alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
KITA - A TALE TO REMEMBER
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/597608cdc0d77014438b456b/kita---a-tale-to-remember

KITA - A TALE TO REMEMBER

Tampilkan isi Thread
Halaman 2 dari 2
Asik pasutri.. Ntr yg bagian dialog ksih enter gt, sakit bgt mata wakaakaka gak tau klo baca d pc nyahahaa

Lanjut gan
Quote:
iya silahkan gan, thanks gan udah mau mampir.

Quote:

iya silahkan, sok pilih lahannya gan, masih pada ksong tuh. haha
Quote:
atuh si eta mah, kalo di bejain teh sok telmi kitu. hahaha nyak muhun kang, hatur nuhun pisan nyak tos mampir ka sini. hehehe

Quote:
ihhk iya maaf, itu yang nulis nya si piyan. udah saya bilangin padahal suruh pake enter biar rapih. nanti biar saya rapihin deh. maaf ya. en makasih udah mau baca. hehehe

Quote:
mudah mudahan seru dan bisa memberi sedikit hiburan. hehehe

bona fide, alea jackta est. haha

ugi





1.
Hey hey hey. Setelah piyan yang cerita. Sekarang bagian gw dong. Tapi sebelumnya mohon maaf kalau gaya dan tatanan bahasa gw gak seenak punya piyan walau piyan juga bantuin nulis bagian gw sendiri, tapi gw usahakan sebisa mungkin bantuannya gak mempengaruhi sudut pandang gw pribadi. Ayo kita mulai.
Perkenalkan, ya, walau kalian pasti udah tau, tapi ini buat formalitas aja, nama gw, Ugi. Dan karena piyan belum pulang, jadi, yah, gw bisa nulis tanpa harus di ganggu lantunan paint it blacknya rolling stones yang entah kenapa belakangan ini sering banget dia setel dengan volume yang gw yakin sampe ke rumah pak rt dan rumah rumah lain dalam radius 200 meter. Sial. Piyan itu Bikin malu aja. Tapi sialnya lagi, gw suka. emoticon-Malu (S) emoticon-Malu (S)
Gw lahir dan besar di kota bandung dari sepasang suami istri yang romantisnya udah gak kenal kadar lagi, bapak roy sadikin dan ibu aleya savitri. Atau gw biasa memanggil mereka ayah dan bunda.
Mereka berdua adalah sosok-sosok yang memboyong gw dari surga, atau lebih tepatnya menculik gw dari sana, entah gimana caranya. Dan setelah kurang lebih 9 bulan gw menghuni sebuah ruang sempit namun aman bernama rahim, akhirnya gw bisa melihat dunia dengan keadaan sehat dan tak kurang suatu apa. Namun ternyata, bukan Cuma ayah dan bunda yang menyambut kelahiran gw di dunia, karena ada dua sosok lagi yang juga sama-sama bersuka cita atas kehadiran gw di antara mereka. dua sosok yang sudah lebih dulu ayah culik, jauh sebelum gw. Dan tiga sosok itulah yang pada akhirnya menjadi pondasi atas setiap bagian pemikiran gw saat ini. dua sosok yang, yang dengan terpaksa harus gw akui bahwa gw mencintai mereka semua, sebagai mana mereka mencintai dan melindungi gw, walau harus dengan cara yang kurang bisa diterima oleh akal sehat manapun. emoticon-Ngakak (S)
Dan Dengan segala hormat, ijinkan gw untuk memperkenalkan mereka lebih dulu. Dua sosok laki-laki yang dengan gagah berani menantang siapapun yang membuat gw pulang dalam keadaan menangis. Merekalah, Boni dan Landin. Abang-abang gw tercinta. emoticon-Malu (S)


2.
Abang boni, biasa gw panggil begitu. Usianya 6 tahun lebih tua dari gw. Dia adalah laki-laki paling asimetris yang pernah gw temui. Dia dari segi fisik lebih mirip ke bunda, hidungnya mancung, alisnya lebat, dan jarinya pun panjang-panjang. kulitnya kuning langsat, bersih, bahkan ngalahin gw. namun di balik fisiknya yang cenderung cantik itu, tersimpan jiwa seorang ksatria yang gak takut apa-apa, bahkan ayahnya sendiri. emoticon-Ngakak (S)
Dulu bunda pernah cerita, katanya ;

“kamu tahu gi? Dulu bang boni pernah hampir di gantung sama ayah.” bunda memulai rentetan kisah dari ingatannya, menceritakannya dengan penuh penjiwaan ke gw.

“kenapa bun kenapa??” tanya gw antusias.

“dulu, waktu bang landin di sunat, kan malemnya di rumah ngadain selametan. Kamu masih kecil waktu itu, masih dua taun, bang boni udah kelas dua sd.” Bunda memejamkan matanya, menahan percikan senyum yang sudah siap menyala di bibirnya sebelum melanjutkan lagi ceritanya.

“terus kenapa bunda dia sampe mau di gantung sama ayah?” gw bertanya makin antusias. Membayangkan ulah macam apa yang bang boni perbuat sampai ayah yang cinta damai harus bertindak sedemikian nekat.

“jadi, waktu tamu-tamu pada ngaji di dalem di ruang tengah, bang boni di luar sendirian karena bunda jagain kamu sama bang landin. kamu tau bang boni ngapain?”

“ngapain bun?” tanya gw gak sabar karena yakin seyakin yakinnya kalau yang bang boni lakukan adalah satu hal di luar nalar manusia normal.

“dia nyalain kembang api yang terbang tuh, yang meledaknya di atas gitu, yang banyak kalau pas lagi malem taun baru itu.” Bunda terkikik geli sendiri.

“itu doang?” gw sempat kecewa, karena mengharapkan sesuatu yang lebih spektakuler lagi dari bang boni, namun ternyata gw terlalu cepat menyimpulkan karena bunda buru-buru melanjutkan ceritanya yang terpotong karena tawanya sendiri.

“bunda gak tahu gimana pikirannya si boni itu, di tancepin itu gagang kembang api ke tanah, terus dia nyalain, tapi karena dia nancepinnya kurang lurus dan kurang dalem, kembang apinya jatoh, terus terbang masuk ke rumah, meledak di dalem, di ruang tamu. Yang lagi pada ngaji langsung lari keluar semua. Ha ha ha ha!!” tawa bunda meledak. Gw juga. Bisa gw bayangkan seperti apa situasi malem itu, astaga, bang boni, sosok yang satu ini memang biangnya segala keladi.

Itu Cuma secuil kecil segala ke abnormal an bang boni, kelak akan gw ceritakan lebih banyak lagi. karena sekarang gw juga ingin menceritakan abang gw yang satu lagi, bang landin.


3.
Osama bin landin. begitu bang boni mengajari gw bagaimana memanggil bang landin. abang kedua gw yang lebih condong ke sifat - sifat ayah yang tenang dan cinta damai. Pokoknya sangat bertolak belakang dengan bang boni yang umurnya lebih tua 3 tahun.
Bang landin, walaupun dia tenang dan lebih suka menghindari kekacauan, dia tak akan segan menghajar siapapun yang berani memperlakukan gw dengan semena-mena, bahkan bang boni pun pernah di hajarnya sampai bang boni harus bersembunyi di balik ketek ayah. hahaha, ah masa-masa itu. Biarkan gw mengingatnya lagi sedikit dan berbagi di sini.
Waktu itu, bang boni baru resmi masuk ke sma, bang landin baru masuk kelas satu smp, dan gw baru kelas 4 sd. Langit siang itu cerah saat gw pulang dan bang boni menghadang gw di depan pagar rumah.

“heh, kamu siapa?” sentak bang boni sambil berkacak pinggang dan memasang wajah galak. Membuat gw sontak diam dan berhenti tepat di depannya.

“ihh bang bonii!!” gw mendengus kesal. Namun bang boni bertahan.

“siapa kamu hah? Panggil-panggil aku abang? Kamu anak siapa?” bang boni memicingkan mata, mendekatkan wajahnya ke wajah gw.

“bang landiiiiiiiinnnn, tolooonnnggg ugiiii!!” gw langsung berteriak sekencang-kencangnya. Memanggil bang landing yang gw harap sudah ada di rumah, entah di bagian mana.

[i/] “siapa juga itu landin, hah? Kamu mau cari gara-gara sama aku? Dasar cengeng!! Pergi dari sini, di sini bukan tempatnya orang-orang cengeng!! Pergiii!!”[/i] bang boni mendorong-dorong pundak gw yang sudah sesenggukan naik turun. Kalau di inget-inget sekarang, semua itu lucu, tapi dulu, ya ampun, gw bener-bener gak tau harus ngapain, karena gw pikir bang boni kerasukan arwah jahat dan ngusir-ngusir gw dari rumah. Gw harus kemana atuh bang? Pikir gw waktu itu. Hahaha.

“bonii, udah ah, tuh ugi jadi nangis gitu!!” suara bunda yang berasal dari jendela ruang tamu seakan kabar baik dari surga. Namun entah kenapa, suara bunda malah membuat bang boni makin jadi.

“anak ini gak boleh masuk ke rumah kita bun!! Liat, masa anak cengeng gini manggil-manggil aku abang, bun? Kan lucu!!” bang boni menggelengkan kepalanya, bibirnya mengerucut, mencibir gw yang sudah mulai meneteskan air mata. sementara bunda malah ketawa ngeliat kelakuan bejad anaknya.

“heh sia … eta si ugi sia apain ha?” di pintu ruang tamu, bang landin berdiri menatap gw dan bang boni bergantian. Ada semacam api yang menyala di balik lebar bola matanya yang terbuka. Ini dia, penyelamat gw. hahaha.

“eh eh eh, sia berani sama aing??” bang boni membalikkan badannya yang sejak tadi terarah ke gw. satu tangannya teracung ke arah bang landin yang masih berdiri di ambang pintu ruang tamu.

“sia nantangin aing bon? Udah aing bilang jangan suka bikin mewek ade sia!!”

“emang kenapa heh kalo aing gangguin??”

“si ugi teh cewek boonn!!”

“emang apa bedanya heh!!”

Entah siapa yang mulai lebih dulu, setelah jual beli omongan tidak mampu mengguyur keadaan, akhirnya bang boni dan bang landin harus saling membenturkan pukulan demi pukulan. Membiarkan gw berdiri beku di luar pagar, dan bunda, entah kenapa tak pernah mencoba melerai kedua anak laki-lakinya yang bukan hanya kali ini saja saling berkelahi.

“biarin aja, daripada berantem sama anak tetangga.” Cuma itu yang bunda katakan setiap kali kedua abang gw berkelahi. Cuma itu, gak lebih.
Dan siang itu, lagi dan lagi, gw harus di buat takjub oleh kekutan bang landin yang entah ia dapatkan dari mana, karena bang boni berlari masuk ke rumah sambil menjerit kesakitan dan menghamburkan sumpah serapah, mengutuk bang landin yang tak lain adalah adik kandungnya sendiri. Hahahaha dan lagi, gw merasa bahagia setiap kali gw mengingat cuilan kejadian bertahun-tahun yang lalu itu. Ya ampun. Boni, landin, aing kangeen. Hahaha

4.
Bertahun-tahun harus berbagi atap yang sama dengan bang boni dan bang landin membuat gw lambat laun juga mulai terjangkit pola pikir mereka berdua. dari cara berpakaian, musik, bahkan potongan rambut gw pun tanpa sadar semakin pendek, sampai saat gw menginjak masa SMA, rambut gw udah bener-bener cepak. Dan gw gak perduli itu, karena buat gw, selain lebih nyaman dan gampang ngurusnya, rambut cepak gw ternyata bisa sedikit mengobati rasa kangen ke bang boni yang sudah kerja di jakarta dan bang landin yang sedang sibuk mengurusi skripsinya di bogor.
Masa awal SMA adalah masa tersulit buat gw, karena, harus gw akui, beberapa kali gw harus keluar masuk ruang bp karena kedapatan berkelahi dengan laki-laki berlagak sok iya. Yang beraninya godain perempuan di kantin. Shit, gw benci mereka, dan karena sudah sejak kecil menyaksikan adegan kekerasan yang di peragakan oleh kedua abang gw, maka, ya, gw dengan entengnya menantang mereka, laki-laki dengan gaya sok iya itu tanpa takut kalau kulit gw bakal lecet, berdarah, memar atau hal-hal lain semacamnya. Bang boni dan bang landin pun sering berpesan, dulu, waktu gw masih sd ingusan,

“kalau ada yang gangguin kamu, kamu hajar aja. Ulah sieun kalah atau menang. Yang penting kamu udah berani buat ngebela diri kamu sendiri. itu udah bagus gi. Ini baru adek aing!!” pesan bang boni tempo hari sambil mengusap air mata gw yang jatuh berceceran setelah beradu pukul dengan alwi, temen sekelas gw waktu sd kelas 5.

“kalau ada yang gangguin kamu, mending diemin aja, gi. Kalau masih nganggu, kamu pindah, gak usah deket-deket. Tapi kalau masih ngeganggu juga, udah berih aja, tuman yang begitu mah, tempelengin, sampe jari sia pada potong kalo perlu!!!” itu pesan bang landin yang cinta damai. Osama bin landin. ya.

Dan begitulah, ugi. Yang kata kebanyakan orang berdiri tepat di atas batas antara perempuan dan laki-laki. feminisme berselimut maskulinitas. Atau apalah itu namanya, gw gak perduli. Karena gw adalah gw, dan yang terpenting lagi, gw udah laku. Hahahaha catat itu.

Kirain ga bakalan update.. Eh taunya... Update terakhir oke pisannn.

Wah, calon edan ini cerita, harus dilanjutkannn hahahaha.
gua udah laku.
hahahaha catat itu.

kok kzl ya emoticon-Roll Eyes (Sarcastic)
kan gua belum emoticon-Shutup
Diubah oleh katouyung
wkwkwkwkwk, osama bin landin, osi ae sam sam

dibikin indexnya dong om piyan, hehehee
ijin bangun tenda dimari gan emoticon-Big Grin
Quote:
thanks banget lho gan, iya pasti lanjut kok cuma updet nya gak pasti.maklum nulisnya angin anginan. hehehe

Quote:
berarti lo belum laku kalo kesel. hahaha

Quote:
hahaha iya sudah di bikin indexnya. maaf baru sempet. thanks ya dah mau mampir.

Quote:
silahkan gan, awas kena gusur ya. haha

Crita dr pasutri nih...nunut ngopi ndek sini ye..
Smoga lancar sampai kelar critanya...

Salken ya bray..
Quote:


Iya gan...emoticon-Big Grin

emoticon-Cool oh ya .hy neng ugi lam kenal ya..emoticon-Blue Guy Cendol (L)emoticon-Blue Guy Cendol (L)
Diubah oleh jonyfa
panggil saja, BONNA



1.
Putih abu-abu, konon adalah masa paling indah. Bagi kebanyakan orang sih mungkin iya.tapi buat gw. no, big no no. karena di sma, dari sekian ratus pelajar yang ada, temen gw bisa di hitung Cuma pake jari tangan, salah satunya adalah Piyan yang dari smp kelas satu entah kenapa mau dan bisa menerima segala kemaskulinan yang melekat di diri ini.
Gw sadar kenapa Cuma segelintir orang yang mau berteman sama gw.
pertama mungkin karena gaya gw yang emang cuek dan nyaris tanpa dandanan.
kedua, karena gw cewek dan suka berantem, sumpah itu gak baik emang. Membuat gw angker di mata banyak cewek lain, dan membuat cowok-cowok harus mikir dua kali kalau mau deketin gw. ya, itu kenyataan yang pahit.
Dan ketiga, ini yang membuat gw harus beberapa kali menelan getir, vespa, ya vespa yang sudah turun temurun dari kakek, ayah, bang boni dan bang landin. vespa yang seakan diciptakan hanya untuk mengabdi di keluarga gw entah sampai kapan.
Vespa ini, harus gw ceritakan karena beliau-kalau boleh gw panggil gitu- ibarat mecin di cerita-cerita gw selanjutnya. Benar-benar melengkapi. emoticon-Ngakak (S)
Beliau adalah vespa kongo, varian vespa yang sangat-sangat spesial karena beliau tidak lahir di itali seperti saudara-saudaranya yang lain, tapi beliau lahir di jerman.
Punya lambang garuda di body bagian depan sebelah kiri, kata ayah, itu menambahkan kebanggaan para pasukan republik indonesia yang bertugas di kongo, yang mendapatkan vespa spesial ini sebagai kendaraan di sana dari presiden ri waktu itu, bung karno. Itulah sebabnya vespa ini di namai vespa kongo.
Di keluarga gw, beliau punya banyak nama, bukan kongo. Dulu kakek memanggilnya bella, entah kenapa. lalu setelah vespa ini turun ke ayah, namanya berubah jadi Aleya, ya aleya itu nama bunda.emoticon-Ngakak (S)
Setelah bang boni masuk sma maka aleya pun berpindah ke tangannya, dengan perubahan nama lagi tentu saja.
nama yang bener-bener gak akan terpikirkan bahkan oleh ketujuh turunan keluarga gw yang kelak juga akan mewarisi si vespa kalau masih ada. SANTET. Ya, itu nama yang boni berikan untuk si vespa. Nama yang katanya sangat cocok, karena di tangan bang boni, warna cat yang membalut tubuh si vespa pun berganti menjadi hitam doff, dengan dua garis merah vertikal di bodi depan, tepat di samping lambang garuda yang masih bertengger di sana.
Setelah tiga tahun, maka SANTET berpindah tangan ke bang landin.
bisa kalian bayangkan sosok damai bang landin mengendarai SANTET di jalanan? jangan di bayangkan sebelum kalian kecewa, karena di tangan bang landin sang vespa langsung kembali ke fitrahnya, warnanya berubah menjadi biru cerah, secerah langit bandung di awal januari. Dengan nama baru yang super elegan dan berbau eropa, ELEANOR. Dan gw sukaaaaaa, sampai pada akhirnya, saat gw masuk SMA, rasa sukaa gw mendadak berubah menjadi perasaan benci yang mendalam. Sial.

2.
Sore itu, semua berkumpul di ruang tengah yang lega. Gw duduk di apit ayah dan bunda. Sementara bang boni dan bang landin bersebelahan. Keduanya menatap gw dalam-dalam dengan mata berkaca-kaca.
Setelah hening yang cukup lama, ayah membuka suara dengan nada terharu yang dibuat-buat.

“gi, kamu tahu kan tradisi di keluarga kita?” ayah berdehem, melirik gw, bang boni dan bang landin.

“gak mungkin dia gak tahu yah!!” bang boni menyela, yang langsung di susul desisan bunda. Memaksanya untuk tidak bicara. Bang landin terkekeh.

“……” gw mengangguk tanpa berkata apa-apa. Gw tahu tradisi macam apa yang sedang ayah bicarakan ini. Tak lain dan tak bukan adalah perihal si vespa yang terparkir tidur di halaman, yang warna biru cerahnya menantang warna merah temaram yang di hunuskan senja menjelang malam.

“kamu udah resmi masuk SMA, dan itu berarti..” ayah berhenti. “siapa namanya ndin?” tanya ayah ke bang landin yang khidmat mendengarkan.

“ELEANOR.” Jawab bang landin mantap.

Ayah mengangguk sebelum kembali meneruskan kata-katanya. “itu berarti, ELEANOR bakal jadi tanggung jawab kamu, gi.”

“tapi yah …” gw mendongak berusaha untuk menyergah.

“gak ada tapi-tapi. Bukannya ayah sama bunda gak mau buat ngasih kamu kendaraan yang lebih mewah dari ELEANOR, gi. Tapi kamu harus ngerti, vespa itu udah di keluarga kita dari kakek masih muda. Kalau kamu gak mau, siapa lagi?” Ayah tersenyum penuh wibawa. “vespa itu udah bagian dari keluarga kita. Ayah harap kamu ngerti, gi.”.

“yah, bukannya ugi gak mau. Ugi tau vespa itu udah sama ayah sebelum ugi. Tapi …”

“tuh kan bun, boni bilang juga apa, si ugi teh bukan keluarga kitaa bun!!!!” belum selsai gw menuntaskan kalimat, bang boni memotong, sambil mengacung-acungkan jari telunjuknya ke arah gw yang tergagap.

“bun ihhhh, masa gituuu!!!” gw menatap bunda, meminta suaranya. Sementara bang landin mengusap punggung bang boni yang naik turun karena nafasnya sudah saling memburu.

“gi, maaf, bunda gak bisa bantu kamu sekarang.” Bunda menggigiti bibirnya, menatap cemas ke arah gw yang juga sama menatapnya. “tunjukin sama boni kalau kamu bagian dari keluarga kita gi, plis!” terdengar suara bunda makin parau. Dan seketika, gw melemas dan tanpa sadar mengangguk.

“iya bun.”

Dan anggukan lemas kepala gw langsung di sambut riuh tawa bang landin, ayah dan bunda. Sementara bang boni berdiri, mengulurkan tangan kanannya, meraih tangan gw dengan paksa dan menjabatnya.

“sia … sia … sia emang adek aing giiii!!! Makasiiiihhhh!!!” lalu tawa di ruang tengah waktu itu meledak, menyemburat ke segala jurusan, membentur dinding-dinding, foto-foto dalam pigura, juga membentur tubuh gw yang masih lemas karena membayangkan bahwa gw ternyata tetap gak bisa melawan tradisi yang sudah ada sejak lama. Secuil sisi feminim gw yang tersisa, berontak marah pada keadaan. Tapi gw bisa apa atuh?.



3.
Hari minggu. Dua hari setelah penerimaan mandat di ruang tengah itu. Jarum jam yang melingkar di tangan kiri bang landin menunjukkan pukul setengah 4 sore. Angin berhembus sepoi-sepoi, agak dingin, namun tak menggugurkan apapun.

“emang mau kamu apain gi?” tanya bang landin dari sebelah vespa yang terparkir di halaman dengan mesin yang sudah menyala.

“mau aku kasih nama!!” gw menjawab sambil mengenakan jaket levis pudar penuh emblem yang semalam di berikan bang boni. Jaket kebanggan, ini bakal gantiin abang jagain kamu, katanya semalam sambil matanya berkaca-kaca.

“ohh…” bang landin mengangguk, sesaat sebelum arah tubuhnya berbalik, gw melihat sebuah senyum terurai dari salah satu sudut bibirnya.

Tanpa gw dan bang landin saling bicara, vespa melaju, membelah dinding dingin bernama waktu. Tubuh sintalnya melesat, bersolek liar menggoda setiap kali ia melumat tikungan yang ada.
Sesekali bang landin melambaikan tangan saat tanpa sengaja berpapasan dengan pengendara vespa yang lain.
Setelah kurang lebih setengah jam di hantam udara dingin di atas vespa, akhirnya di halaman sebuah rumah yang agak lumayan besar namun penuh dengan perkakas dan alat entah apa itu namanya, bang landin mematikan mesin. Seketika, dua orang laki-laki yang sedang sibuk dengan alatnya masing-masing langsung berdiri, melemparkan senyum ke bang landin dan gw secara bersamaan.

“oii sugan teh teu jadi sia kadie!” dalam bahasa sunda, itu artinya “oii, kirain gak jadi lo kesini.”

“jadi atuh, masa gak jadi ..” bang landin menjabat tangan kedua laki-laki itu yang kini saling berdiri berhadapan.

“terus eta mau di apain lagi vespa sia ndin?” tanya laki-laki yang satunya, yang rambutnya panjang bergelombang dan dibiarkan terurai beitu saja.

“udah bukan vespa aing lagi sekarang mah. Udah turun ke ade aing yeuh. Hahaha tau tuh mau dia apain.” Bang landin melemparkan pandangannya ke arah gw.

“mau di apain atuh gi?” tanya si gondrong-panggil aja begitu deh- sambil memandangi gw yag masih berdiri di samping vespa.

Gw emang minta bang landin buat nganter ke tempat airbrush, tapi dalam bayangan gw, bang landin bakal membawa gw ke sebuah bengkel atau yang semacam itu. Gw sama sekali gak membayangkan kalau gw bakal di bawa ke sebuah rumah yang sebenarnya bagus kalau di urus.

“ini, mau di airbrush sedikit kang..” gw bicara perlahan, sambil menundukkan sedikit pandangan. Sementara bang landin sibuk membahas entah apa dengan laki-laki yang satunya lagi.

“oh sok atuh mau di gambarin apaan? Tapi jangan panggil akang atuh euy, asa udah kolot pisan. Ha ha ha” tawanya meledak, kepalanya naik turun, membuat helai-helai rambutnya yang bergelombang terburai kesana-sini. “panggil aja kemod, gi” katanya setelah tawanya mereda.

“iya kang, eh, mod. Hehehe” gw meringis canggung.

“mau di gambarin apa? Kembang-kembang da gak mungkin ya?” kemod memandangi gw dari ujung kaki sampai kepala, seakan sudah menilai seperti apa selera gw.

“ih apaan kembang-kembang mah. Hahaha” gw mau gak mau harus tertawa, membayangkan akan seperti apa reaksi bang boni saat gw pulang nanti kalau tubuh bahenol vespa ini berlumuran kembang-kembang. “ini mod, Cuma di airbrush gini aja di sebelah sini, lama gak?” tanya gw sambil menyodorkan selembar kertas dan menunjuk ke arah bodi vespa belakang.

“oh gini doang? Sebentar ini mah, maghrib juga beres.” Kemod mengangguk angguk memandangi selembar kertas di tangannya. “yaudah sok tungguin aja di sana gi, sama akang landin sama akang reza, sok!”

“iya sip, makasih ya mod!” gw melempar senyum.

“makasih? Aing kerjain aja belum masa udah makasih. Hahaha” kemod nyengir lebar sambil memandangi gw yang juga sedang bersiap-siap untuk tertawa.


……

Benar kata kemod, bahwa apa yang gw minta tak akan memakan waktu berjam-jam karena dalam selang beberapa puluh menit, kemod sudah berdiri di hadapan gw, bang landin dan reza yang sedang sibuk membahas perpeloncoan mahasiswa baru. Sial.

“udah?” tanya gw antusias pada kemod yang masih mengenakan masker dari kaos yang sudah belel dan tak bisa di tebak apa warnanya.

“udah lah, kan gw bilang juga gak bakal lama.” Kemod membusungkan dada, lalu lanjutnya “kecuali …”

“kecuali apa?” tanya gw lebih antusias lagi bercampur penasaran.

“kecuali gw di suruh bikin candi ato telaga sama perahunya. Ha ha ha” kemod terbahak, bang landin, reza, dan gw juga ikut terbahak.

“jangan di denger kalo budak itu ngomong mah gi, isinya kentut semua dia!!” bang landin menggelengkan kepala, lalu lanjut lagi ketawa. Semua orang ketawa sore itu. Bahkan daun dan rumput sepertinya ikut ketawa, entah kenapa.

“sok atuh di liat gi, cocok apa enggak?” sela kemod di antara tawa kami semua. Dan mendadak suasana berubah hening.

Kami berempat berjalan beriringan menuju vespa gw yang menunggu di pojok halaman. Kemod di depan, memimpin. Gw dan bang landin bersebelahan, sementara reza di barisan belakang.

“dan inilah, bonna fide, alea jacta est …. Treng treng treng …” kemod menundukkan badannya, hampir seperti gerakan rukuk dalam sholat, namun tak lama ia kembali berdiri tegak. “padahal mah aing teh gak tau artinya da … hahaha” tawanya meletus lagi, di susul tawa semua orang yang ada.

“bonna fide … Alea jacta est ….” Bang landin yang sepertinya baru menyadari sesuatu langsung berhenti tertawa. Pandangannya kini tertuju ke arah gw dengan kedua ujung alisnya saling bertemu. “ini pasti dari buku catetan terjemahan pribahasa latin aing ya?” tanyanya.

“emang kenapa?” gw balik bertanya.

“ah … emang gak salah lagi ini adek aing!! Ha ha ha”. Tawanya meledak lebih keras lagi. lalu dengan cepat kedua tangannya merangkul gw, melesakkan muka gw ke dadanya.

….




Selepas isya, barulah gw dan bang landin meninggalkan rumah kemod yang penuh dengan tawa dan bau cat di mana mana.

“jadi panggilannya apa, gi?” tanya bang landin yang wajahnya merebah di pundak gw.

“panggil aja, Bonna.”

“siapanya boni?” tanya bang landin lagi.

“mungkin kakek buyutnya. Ha ha ha” gw dan bang landin tertawa. Sementara bonna, ia menggerung lembut, seakan sedang menyapa ramah udara malam kota bandung yang masih lenggang.

eh sepi euy. hahaha
GETARAN YANG PERTAMA





1.
Seperti biasa, bandung saat senja menjelang maghrib adalah waktu paling cocok untuk segelas teh manis hangat dan lagu angie-nya the rolling stones, Bersama semilir angin yang tenang tanpa bising kendaraan di beranda rumah. Ada rasa kantuk yang mendadak menyerang gw, namun tiba-tiba, satu suara yang gw kenal sejak cukup lama menangkal rasa kantuk yang barusan.

“hey, geulis!”

Gw langsung menoleh ke arah pagar teralis yang setenghanya terbuka, dimana Antam sudah berdiri di sana dengan satu tangannya melambai-lambai tak karuan ke arah gw.

“hoii, ada apa kasep?” gw balas melaimbaikan tangan.

“boleh ke situ?” tanyanya.

“ya boleh atuh ntam, ih kaya ke siapa wae!” gw mengangguk gemas. “sini, sini, sini, ada naon ntam?”

“ini gi, anu . . .” bola mata Antam berputar-butar, seakan dia sedang mencari kata apa yang ingin dia ucapkan.

“anu naon?” gw mencoba mengikuti arah matanya yang kemudian berhenti tepat ke arah bona yang berselimut teduh warna senja di sudut halaman.

“itu gi, boleh besok gw pinjem si bona?” tanyanya sambil menggigiti bibir bawahnya, persis anak kecil yang sedang minta uang jajan ke bapaknya.

“ih boleh atuh ntam, tumben atuh? Mau kemana?”

“itu besok mau jemput saudara yang dari demak tea gi. Mobil teh kan lagi di bawa ayah ke karawang, pulangnya abis maghrib katanya. Jadi, yah, gak ada pilihan selain bona.” Antam menjelaskan sambil masih menggigiti bibirnya. “boleh ya gi, boleh ya?” rengeknya.

“gak ada pilihan selain bona? Sialan juga siaa!!! Hahaha” gw menggelngkan kepala. “iya boleh antam, boleh, eh tapi jangan di pake bawa yang berat siah!”

“buat bawa saudara gw doang kok gi, barang-barangnya biar di bawa mang entis, gw udah bilang kemaren ke mang entis kok!”

“oh gitu, yaudah atuh ntam bawa aja besok. Eh tapi …”

“ih tapi tapi wae dari tadi, kayak yang mau pinjem mobil presiden aing euy!” Antam mendengus kesal, memotong ucapan gw yang sudah menggantung di ujung lidah.

“gw sorenya mau keluar ntam, gimana atuh?”

“gak sampek sore ugiii!!”

“oh yaudah atuh iya iya. Eh …”

“eh kenapa lagiiii sih??” Antam mendengus lagi, kali ini lebih keras. Sementara gw setengah mati berusaha menahan tawa saat memandangi wajahnya yang sedemikian rupa.

“ini kenapa jadi galakan yang mau pinjem ya?”

“abisnya kebanyakan tapi-tapi sia!!” Antam menoyor kepala gw. sialan. Dan belum sempat gw membalas toyoran kepalanya, dia sudah ngeloyor pergi. “udah ah, gw balik dulu. Besok gw ambil si bona rada pagian ya geulis? Dadah!”



2.
Jam setengah sepuluh pagi menjelang siang saat pintu kamar gw di ketuk dan suara ramah menelusup dari celah-celahnya.

“gi, itu ada antam.”

“iya bilang bentar bun. Tanggung nih!”

“tanggung? Cepet bangun, kasian dia nungguin dari tadi!!”

“iya bunda iya!”

Dan gw terpaksa bangun dengan kelopak mata yang masih saling tarik menarik dengan hebatnya. Satu tangan gw terulur meraba-raba kunci bona di atas meja. gw seret langkah dari kamar sampai di beranda yang gw rasa jaraknya sekarang hampir sama dengan jarak bogor jakarta. Tapi, tapi semua itu mendadak siran saat gw baru saja berdiri di pintu beranda. Cuma karena satu sosok bernama Antam yang melambaikan tangannya ke arah gw sedang sibuk mengucek mata.

“Antaaaaam … lo seriusss?” gw Cumiik histeris. Bagaimana enggak kalau melihat Antam yang mau ke bandara hanya dengan celana boxer dan jaket levis belel warisan ayahnya?.

“serius apanya gi?” tanya antam tanpa perasaan berdosa dan bersalah sedikitpun.

“lo serius mau begitu ke bandara, Antaam?” gw Cumiik makin keras.

“ya emangnya harus gimana atuh? Pake jas gitu? Gak punya jas kan gw mah, ada sih punya ayah, tapi kegedean semua kan!!” Antam menerawang, seakan sedang berkaca pada langit yang birunya sama cerahnya dengan bona. Lalu kepalanya menggeleng-geleng.

“ya maksud gw, gimana gitu, pake celana yang bener kek, terus itu rambut juga di sisir atuh antaaam!!” gw teriak gemas. Semua kantuk yang masih melekat di kelopakmata itu sekarang benar-benar hilang entah kemana.

“ah ribet, kayak mau jemput megawati aja!”

“ih terserah sia deh. Nih nih nih, cepet deh angkat kaki dari sini!! Bisa stress sendiri gw nanti lama-lama deket sia mah!!” gw mendengus sambil melemparkan kunci ke arah antam yang langsung dengan sigap menangkapnya. Dan dengan sebuah senyuman, ia pergi begitu saja, tanpa permisi atau tanpa salam perpisahan. Ah, sial dia itu. Gw Cuma bisa berdoa, semoga bona baik-baik aja berada di tangan orang kayak antam.



3.
Jam di dinding baru menunjukkan pukul 4 sore saat telpon rumah berdering. Di susul teriakan bunda yang memanggil nama gw, pertanda bahwa telpon itu dialamatkan buat gw.

“giii, dari vero nihh! Katanya bisa gak berangkat sekarang?” teriak bunda.

“coba bentar deh bun aku liat dulu antam udah pulang apa belum! Bilangin aja nanti aku telpon lagi!” gw menyahut tak kalah kencangnya dengan teriakan bunda. Setelah itu, dengan celana cut bray yang sobek di dengkul kanan dan kiri dan dengan kaos oblong gw dengan santai melangkah meninggalkan kamar menuju rumah Antam. Udara lembut yang menyesatkan segera menyapa gw begitu sampai di beranda.

Di halaman rumah Antam, Bona gagah terparkir. Pintu depan terbuka lebar, menampilkan tiga sosok yang sedang hangat bercengkrama di dalamnya. Seperti biasa, gw masuk ke rumah Antam tanpa permisi, dan entah kenapa, mendadak tubuh gw kehilangan kemampuannya untuk bergerak saat sepasang mata yang asing itu terlempar ke arah gw, namun gw sebisa mungkin memasang raut wajah yang biasanya, walau jujur saja itu sulit sekali.

“eh Antam udah pulang gening!” gw meringis ke arah antam, lalu menundukkan kepala sedikit ke arah suadaranya, bukan karena sopan, tapi, tapi jujur aja, ada yang aneh dengan pancaran setiap detik dari sepasang matanya. Pancaran maha teduh yang membuat kedua kaki gw seakan terpancang.

“udah kok gi, sini masuk dulu, ada pisang molen tuh karesep kamu!” Teh Arum, begitu biasanya gw memanggil ibunya Antam, menyambut gw dengan keramahannya.

“enggak ah teh, aku mau buru-buru nih.” Gw tersenyum tipis untuk menjawab tawaran teh Arum. “tam, mana kunci?”

“nih gi, nuhun pisan ya! Hehehe” Antam melemparkan kunci yang tergeltak di atas meja. dengan cepat gw menangkapnya. Namun bukannya segera pergi, gw malah berjalan menghampiri saudaranya Antam.

“eh ini saudaranya antam ya?” tanya gw dengan polosnya. Sementara dia hanya mengangguk canggung, gw tanpa sadar mengulurkan sejabat tangan.

“Ugi …”

“Piyan ….” Ia berkata lirih, dan saat tangannya menjabat tangan gw. entah kenapa, ada getaran aneh yang terasa, menjalar dari ujung jemari sampai akhirnya menyesakkan rongga dada. Membuat gw bertanya-tanya, gak mungkin ini cinta, gak mungkin. Dari sekian banyak laki-laki yang pernah gw temui, gak pernah gw rasa ada getaran yang semacam ini. Gak pernah ada sedikitpun. Tapi mata itu, sial, ada yang lain di sana. Siapa tadi namanya? Piyan, iya piyan.

Halaman 2 dari 2


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di