alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
KITA - A TALE TO REMEMBER
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/597608cdc0d77014438b456b/kita---a-tale-to-remember

KITA - A TALE TO REMEMBER

Assalamualaikum. Sebelum gue berdua mulai basa-basinya, ijinkan gue berdua untuk terlebih dahulu meminta ijin momod untuk ikut meramaikan forum ini. Kalian pasti bertanya-tanya kenapa gue berdua?, ya, karena gue gak sendiri. emoticon-Ngakak tapi serius, gue emang gak sendiri. Jadi, sebelum kalian mulai bertanya-tanya dan gue makin ngelantur, gue akan jelaskan kenapa gue gak sendirian.
Perkenalkan, nama gue, ya, panggil aja Piyan. Dan perkenalkan juga, sesosok makhluk di samping gw yang lagi cekikikan baca tulisan ini, namanya, ya, panggil aja Ugi. Dia lebih suka di panggil begitu, percaya deh ke gue. Dan sebelum salah satu di antara kalian mengira kalau gue dan ugi adalah sepasang homo, maka perlu gue jelaskan kalau Ugi adalah perempuan, lebih tepatnya perempuan yang sejak desember 2016 lalu sudah sah secara agama dan negara untuk gw panggil istri. emoticon-Malu (S) emoticon-Malu (S) ya, pokoknya begitulah. emoticon-Hammer2
Dan sebelum akhirnya omongan gue ngelantur kemana-mana, jadi gue serahkan sisanya ke Ugi.
“woooiiii, niiihh!!!”
“iya bentarrr piyaan!!”
*sfx-hening

Hey, hey, hey. Sori ya. Hehehe. Duh jadi ga tauk harus mulai dari mana nih.
“eh piyan, kalau mau pakek emot tuh gimana piyan?”
“itu liat aja di tulisan yang di atas!!”
“ oh iya, hehehe!!” emoticon-Malu (S) emoticon-Malu (S)

Okeh, jadi gini, karena gw dan si Piyan udah baca beberapa cerita di sfth, Gw jadi kepingin ikutan nulis di forum ini. Dan setelah negosiasi yang alot, akhirnya piyan setuju. Dengan syarat, dia akan nulis bagian ceritanya sendiri karena ceritanya akan mengambil dari sudut pandang gw dan dia waktu, juga semua nama tempat dan orang-orang yang terlibat di dalam cerita kita berdua harus di samarkan karena memang kita belum minta ijin dan demi menghindari masalah apabila kelak terjadi hal-hal yang tidak di inginkan. karena Konon, gw denger, penghuni forum ini bisa ngelacak identitas para thread starter yang pada akhirnya menimbulkan kekacauan. Ya,ya,ya, maka dari itu, setelah basa-basi yang agak panjang dan membosankan ini. Ijinkanlah gw, sebagai Ugi, dan Piyan sebagai laki-laki yang gw cintai, untuk memulai cerita ini. Cerita yang buat gw pribadi merupakan sebuah sejarah yang selalu pantas untuk di kenang, lagi dan lagi. gak tauk deh kalo piyan. emoticon-Ngakak
“wooiii jangan sepihak gitu doongg!!”
“biariiinnn!!!”
Oke, oke, jadi sebelum kalian denger ada piring yang di banting. Mendingan kita mulai aja ceritanya. Semoga kisah kami berdua bisa memberikan penghiburan tersendiri, khususnya buat jomblo-jomblo di luar sana yang masih gak tau jodohnya ada di mana. Hehehe
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 2
KITA - A TALE TO REMEMBER



Quote:





Quote:


Quote:



-DAFTAR ISI-

Quote:
Diubah oleh iyugian
PIYAN



1.
nama gue, sudah gue sebutkan di atas, tapi barangkali kalian lupa, ya, nama gue, Piyan. Piyan aja, oke?. Jenis kelamin, sebentar, biar gue tanya Ugi dulu. Oh ya, gue laki-laki tulen, katanya, bukan kw ori, kw super atau kw-kwan yang lain. Nama gue ini pemberian ayah yang sudah meninggal sebelas tahun yang lalu, tepatnya tahun 2006 karena hal yang gak mau gue sebutkan. Beliau adalah satu sosok yang begitu gue kagumi, lebih dari sosok mick jagger yang posternya tertempel di dinding kamar, yang kadang di protes Ugi.

Beliau lahir tahun 1956 di mijen, kecamatan karanganyar, kabupaten demak. Tempat yang sama dimana gue lahir dan dibesarkan sampai satu tahun setelah kepergian ayah, tepatnya tahun 2007, saat gw lulus SMA dan atas anjuran Ibu dan mas Gian- abang gue yang umurnya lebih tua 5 tahun-, gue memutuskan untuk melanjutkan berkuliah di kota yang terkenal dengan sebutan kota lautan api.

Yup, bandung. Bukan tanpa alasan, karena di bandung ada adik perempuan ayah, bu lik Arum, gw biasa memanggilnya begitu. Selain itu, karena Anak bu lik Arum -Antam- pun kebetulan baru saja lulus dari SMA. Sebetulnya, gue pingin kuliah di salah satu perguruan tinggi di malang, karena banyak anak-anak sekelas gue lanjut kuliah disana. Tapi, ya, dulu waktu gue baru masuk SMP, ayah pernah wanti-wanti agar kelak gue melanjutkan kuliah di bandung, di perguruan tinggi dimana beliau juga dulu berkuliah disana. Pernah dulu gue tanya ke ayah perihal wanti-wanti nya itu, “Ayah Cuma mau Adil ke kamu, biar kamu rasain juga apa yang dulu ayah rasain. Bandung keren.” Cuma itu jawabannya, dan beliau tertawa sambil mengusap pundak gue.

2.
Pagi itu, langit agak mendung. Anginnya agak dingin seperti akan turun hujan. Seakan mendukung suasana hati gue yang memang agak tidak karuan karena beberapa menit lagi, gua sudah harus meninggalkan rumah ini, rumah dengan type 45 yang selama ini menjadi tempat gw bernaung. Entahlah, ada rasa senang bercampur bimbang yang menggelayuti gue waktu itu. Senang karena gue akan mendapatkan hal-hal yang baru di luar sana, bandung. Bimbang karena di saat bersamaan gue harus meninggalkan ibu yang selama ini selalu menyambut gue setiap pagi, termasuk pagi yang mendung itu.

“ibu sudah telpon ke bu lik mu, yan. Nanti Antam yang jemput ke bandara.” Katanya begitu gue keluar dari kamar dengan ransel di gendongan sambil menyeret koper yang agak lumayan besar. Bisa gue lihat sekilas ibu tersenyum, walau gue yakin ibu juga sedang menahan gelombang kesedihan yang siap melahap senyumannya kapan saja. gue mengangguk lirih sambil berjalan mendekat ke arah ibu yang duduk di ruang tamu. Pandangannya terlempar jauh waktu itu, entah kemana.

“kamu hati-hati ya disana, jangan nakal, ibu percaya sama kamu kalau kamu gak akan ngecewain ayah.” katanya lagi. kali ini pandangan matanya meraba wajah gue, dan berikutnya sebuah pelukan tanpa sadar gue lemparkan ke tubuhnya. Erat, erat sekali. dan ibu membalasnya.

Ibu, beliau adalah sosok lain yang sangat gue kagumi, lebih dari apapun. Usianya lebih muda dari ayah tiga tahun. Beliau lahir di panembahan, kecamatan Kraton, kabupaten daerah istimewa Yogyakarta.

Gue gak begitu heran kenapa ayah bisa jatuh cinta sama ibu, karena jujur saja, di usianya yang saat ini pun, masih tampak gurat keluesan di setiap sudutan wajahnya. Yang gue heran adalah, bagaimana mungkin sosok selues ibu, bisa jatuh cinta pada seorang laki-laki semodel ayah. dulu gue sempat berfikir kalau ayah menggunakan pelet atau hal-hal semcam itu. Namun saat gue tanya langsung ke ibu, beliau hanya terkikik geli sendiri, katanya,

“kalau pelet dan jampi-jampi emang ada, yan, berarti itu gak ada apa-apanya dibanding yang ayah kasih ke ibu dulu sampek bikin ibu gak sempet mikir dua kali buat jatuh cinta ke ayah.”

lalu gue tanya lagi, “memangnya apa bu?” ibu gak langsung menjawab, ia menatap gue, lalu menundukkan sedikit badannya.

“puisi …” bisik ibu pelan ke kuping gue. Puisi, sesederhana itukah? gue gak percaya gitu aja, belum. Belum, sampai akhirnya kelak gue akan merasakan sendiri bagaimana kedahsyatan sebuah puisi.


3.
Mobil yang di kemudikan mas Gian terasa lambat, gue duduk di kursi belakang merangkulkan lengan ke ransel. Ibu duduk di depan, beberapa kali selama perjalanan ibu menoleh ke belakang, memberikan senyum, ya, senyum yang gak bisa gue kategorikan masuk ke area mana, area bahagia atau area sebaliknya. Entahlah, yang gue tahu adalah, hari itu, semuanya terasa puluhan kali lebih lambat. Demak semarang, rasanya seperti perjalanan dari satu ujung bumi ke ujung bumi yang lainnya.

“hey, jangan malu-maluin ya di sana, le!” mas Gian menoleh ketika mobil terpaksa berhenti di lampu merah. Senyum di bibirnya memang merekah, tapi kaca di permukan bening bola matanya tidak bisa ia abaikan begitu saja.

“fokus sama kuliah mu, jangan malah fokus sama cewek-ceweknya..” katanya lagi ketika lampu di hadapan kami berubah warna jadi ijo. Gue tersenyum, tipis.

Mas Gian, ah, dia adalah sosok paling ambigu yang pernah gue kenal. Maksud gue, ya, dia sering ngejailin gue, bahkan sampai gue nangis dulu, itu sering. Tapi kalau ada yang sampai berani bikin gue nangis, mas Gian adalah orang pertama yang lari keluar rumah sambil melantunkan segala sumpah serapah, walau habisnya, mas Gian harus menghadapi omelan ayah. dan berikutnya, tentu saja, ganti dia yang ngomelin gue. sialan Gian itu. Hahahaha. Tapi gue suka gayanya. Dan sepertinya, gue bakal kangen ke dia.

4.
Entah kenapa, kursi di bandara begitu dingin waktu itu. Langit masih mendung, daun-daun masih saling bergerak di luar sana, menandakan angin masih belum lelah untuk berhembus. Mungkin karena itu, tapi gue yakin bukan. Ada hal lain yang membuat semuanya berkali-kali lebih dingin dari biasanya. Ahhhh, ya, perpisahan.

“langsung kabarin ke rumah kalau kamu udah sampai ya??!!” ibu melambaikan tangannya, sedang tangan yang satunya lagi, sibuk menyeka setiap air matanya yang baru jadi. Gue mengangguk, menahan gempuran hebat rasa perih yang menjejak-jejak di tenggorokan.

“kalau nanti pulang harus bawa cewek ya, le!!!” mas Gian melemparkan senyumannya, namun tak lama senyuman itu berubah jadi seringai tertahan karena sekilas tadi, gue melihat ibu menginjak ujung kakinya. Gw tersenyum, dan tanpa sadar, ada satu atau dua titik bening yang meluncur begitu saja dari rongga mata gue. Sial. Jangan sampek si Gian liat.

tangga merebah miring ke badan pesawat. Anak-anaknya menunggu dalam segala hening, membiarkan taip kaki melangkah, menggilas tubuhnya yang tabah. Dan di sanalah gue, di anak tangga yang pertama, menghela nafas, menyadari bahwa masih ada beberapa hal yang tertinggal di belakang sana. Entah apa.

“yah, Piyan berangkat ke Bandung. Mohon doanya.” Gw tersenyum sambil mulai menjejakkan kaki melewati tiap anak-anak tangga yang masih tanpa suara.

“awas kalau Bandung gak keren kayak yang ayah bilang!!
Diubah oleh iyugian
BANDUNG DAN PEREMPUAN YANG BERJALAN BERSAMA SERIGALA





1.
Husein sastranegara international airport. Sebuah tempat bernama bandara yang ternyata lebih kecil dari yang gue bayangkan sebelumnya. Kecil namun rumit, karena pesawat yang gue tumpangi harus dua kali memutari langit untuk sekedar mencari landasan pacu sebelum akhirnya bisa mendarat dengan selamat. Dan segera saja, udara bandung yang sejuk langsung menyengat. –Astaga-, itu adalah kata pertama yang keluar dari mulut begitu gue berjalan meninggalkan pesawat. Anginnya berhembus dingin, lebih dingin dari udara demak pagi tadi yang gue tinggalkan.
Di pintu keluar bandara, gue berhenti sebentar untuk mengamati orang-orang yang berdiri sambil menjulurkan papan nama ke atas kepala masing-masing. Di antara kerumunan itu, Cuma satu orang yang berdiri diam, seorang laki-laki dengan jaket levis kegedean, rambut yang sepertinya belum di sisir dari lahir, celana boxer cepak yang membuat dengkulnya mencuat menantang dunia. Matanya seperti mencari, dan saat pandangannya terhenti tepat ke arah gue, senyumnya mengembang di susul tangannya yang melambai di antara papan-papan nama di sekelilingnya. laki-laki itu adalah Antam, ya, Antam anaknya bu lik Arum.

“gimana yan?” tanyanya setelah cukup lama kami berdua berpelukan dan berjabat tangan.
“dingin tam!” gue reflek menjawab. Lalu kami berdua tertawa sambil mulai mengambil langkah meninggalkan bandara.

Antam, ya, Antam. Gue kenal sosok yang satu ini, karena dulu kami berdua mengenyam masa sekolah di tempat yang sama di demak, sampai akhirnya kami harus berpisah karena Antam dan bu lik Arum pindah ke bandung, menyusul ayah Antam yang waktu itu bekerja sebagai tenaga medis di salah satu rumah sakit, ayah Antam sendiri asli bandung, dan gue masih gak tau gimana ayah antam dan bu lik arum bertemu. Konon, kata Antam, ayahnya bertemu dengan bu lik arum di sekitaran jalan malioboro saat bu lik dan kawan-kawan sejurusnya sedang ngamen dari satu angkringan ke angkringan yang lain untuk acara penggalangan dana entah buat apa dan saat itu juga, ayahnya antam yang sedang makan nasi kucing di salah satu angkringan langsung jatuh cinta pada bu lik arum. waktu itu ayahnya kuliah di jogja, begitu juga bu lik arum. Gue sendiri pernah tanya ke bu lik perihal cerita versi Antam itu apakah bisa di percaya kebenarannya. “musik itu bahasa, yan.” Katanya setelah terkikik agak lama. “pak lik mu itu, walaupun orang bandung dan gak ngerti bahasa jawa, tapi dia ngerti bahasa musik. Ya, mungkin karena itu pak lik kamu suka sama bu lik. Kalau soal cerita versi Antam, semuanya bisa di percaya, kecuali satu, waktu itu seinget bu lik, pak lik mu gak lagi makan nasi kucing.” Dan bu lik terkik lagi sambil menggelengkan kepalanya dan berlalu ke ruang tamu. Percakapan itu adalah percakapan tahun lalu, saat lebaran di rumah gue.

2.
Di luar bandara, angin yang lebih dingin lagi menyambut langkah gue dan Antam. Gue gak habis pikir kenapa Antam tahan pake celana boxer gitu, mungkin udah biasa, atau mungkin karena Antam memang sudah cukup lama kehilangan kewarasannya.
“mang …” langkah kami berdua terhenti di samping seorang laki-laki berusia 30an yang duduk melamun di atas motornya.
“eh tam, kumaha?” tanya si laki-laki itu dalam logat sunda kental sambil menatap gue dan Antam bergantian.
“tos mang, ie weh mamang bawa koper sama ranselnya, dia mah biar sama saya aja.”
“oh enya atuh tam.” Laki-laki yang di panggil mamang oleh antam itu mengangguk, turun dari jok motor yang entah sudah berapa lama menyanga tubuhnya. Lalu menghampiri gw, mengulurkan jabat tangannya. “saya tisna, tapi Antam panggil saya mang entis, panggil aja begitu. Hehe”
“oh iya mang, saya piyan, saudaranya antam.” Gw tersenyum ramah. Namun ternyata gak cukup untuk menandingi keramahan mang entis.
“yaudah sini tas sama koper nya biar mamang bawa duluan!”
“oh iya mang iya”

Setelah mang entis yang membawa koper dan tas gue menghilang dengan motornya, Gue menoleh antam.
“kita di sini aja tam?”
“bentar yan …” jawabnya dengan tatapan mata kosong entah kemana.
“bentar? Nungguin apa?” gue pikir antam menunggu jemputan atau hal-hal semacam itu karena gue sendiri gak tau antam jemput gue pake apa.
“aing lupa, kunci motornya di mana yan!” jawabnya masih dengan pandangan kosong menerawang dan merogoh setiap saku jaket levisnya.
“asuuu …” gue menoyor kepalanya, dan seketika, toyoran gue seakan menyalakan lampu di kepalanya. Antam berlari dengan kecepatan yang mungkin setara dengan kecepatan ussain bolt, menerobos padat kendaraan dan pejalan kaki, meninggalkan gue yang Cuma bisa melongo menatap punggungnya.
“tungguuuu bentaaaar yaaan, aing pasti kembaliii!!” teriaknya dari kejauhan.

Setelah sepuluh menit berlalu, Antam kembali dengan nafas terengah sambil menunduk. Satu tangannya bertumpu di lutunya, satu tangannya yang lain menggoyangkan kunci motor ke muka gue. “ketinggalan di warung kopi tadi, sial. Hahaha” katanya.

3.
“motor ini?” gue bertanya ke antam yang masih sibuk mengatur nafasnya.
“ho’oh..”
“dari kapan lo punya vespa?” tanya gue lagi sambil memandangi vespa yang antam bawa untuk menjemput gue.
“bukan punya gw yan, pinjem punya tetangga. Mobil di bawa ayah ke karawang dari kemaren. Baru pulang nanti abis maghrib atau isya.” Jawabnya, kali ini nafasnya terdengar sudah kembali ke tempo normal.
“oh gitu, punya mang entis?”
“bukan, mang entis mah ojeg langganan mboke yan, bu lik lo tuh!” antam memasukkan kunci motor ke dudukannya, memutarnya, dan dengan satu selahan ajaib, mesin menyala.
“ohh gituuu” gue mengangguk, masih takjub pada suara mesin si vespa. Ya, gue emang gak hapal soal vespa, tapi gue tahu kalau ini bukan vespa sembarangan. Pernah sekali di bahas di sma, pelajaran sejarah. Ya, ini gak salah lagi, vespa kongo yang melegenda itu. Klasik dan eksentrik. Di tambah warnanya yang biru cerah, vespa ini gue yakin akan menarik perhatian pengguna jalan lain. Tapi, hey, tunggu dulu, ujung mata gue menangkap satu kalimat yang tersusun di bodi pantat sebelah kirinya, bona fide, alea jacta est. kalimat itu tersusun rapih, kecil-kecil dan berhuruf sambung.
“dengan tujuan yang baik dan bisa di percaya, keputusan sudah di buat dan tidak bisa di batalkan. Sekarang hasilnya tergantung pada nasib, itu artinya kata yang punya vespa ini. Haha” Antam nyengir lebar memandangi gue yang mengkerutkan jidat membaca tulisan di bodi belakang vespa yang akan membawa kami berdua.
“yang punya pasti orang keren ya tam?” gue tersenyum dan mulai naik ke jok yang sudah menunggu.
“ya, keren buat sebagian orang. Buat sebagian yang lain yang masih waras, dia gila. Ha ha ha ha!” Antam tertawa, lalu dengan satu sentakan lembut, di bawanya vespa itu melaju, membelah udara kota bandung yang masih asing buat gue.

4.
Di rumah Antam yang dua lantai, barulah gue merasa agak hangat. Tapi gue rasa bukan karena rumahnya, tapi karena secangkir kopi, setumpuk pisang molen, dan obrolan bu lik dan anta lah yang membuat semuanya menjadi hangat. Entah sudah berapa lama gue, bu lik dan antam terlibat obrolan yang tanpa tujuan, gue gak tahu. Sampai akhirnya obrolan kami bertiga terhenti saat sesorang masuk ke ruang tamu, tanpa salam dan tanpa permisi.

“eh si antam udah sampe geuning!!” sosok itu meringis, menundukkan sedikit kepalanya saat memandang gue yang duduk di sebelah antam.
“udah kok gi, sini masuk dulu, ada pisang molen tuh, karesep kamu.” Bu lik berdiri,menyambut sosok itu yang sepertinya sudah sangat akrab di rumah ini.
“enggak ah teh, aku mau buru-buru nih.” Jawabnya cepat. “tam, mana kunci?”
“nih … makasih ya gi, nuhun pisan. Hehehe!” antam melemparkan kunci yang tergeletak di atas meja, dan dengan sigap, sosok itu menangkapnya. Namun bukannya pergi, sosok itu malah masuk ke ruang tamu, menghampiri gue yang masih terperangah menatapnya.
“ini sodaranya antam ya?” tanyanya.
Gue mengangguk canggung.
“ugi…” sosok itu mengulurkan tangannya.
“piyan …” gue menjabatnya.
“hati hati yan, dia tuh pawang serigala. Ha ha ha ha!” antam dan bu lik tertawa, sementara gue gak paham apa maksudnya. Ya, gue terlalu sibuk mengamati sosok yang gue jabat tangannya itu. Perempuan muda, cantik, salah satu gigi gingsulnya menyembul dari senyum bibirnya yang lesung. Namun bukan itu yang menarik perhatian gue, melainkan dandananya. Ya, untuk sekilas, tadi gue pikir kalau sosok ini adalah laki-laki. ya wajar aja, gila, sosok yang bernama ugi ini, rambutnya pendek, bahkan lebih pendek dari rambut antam. Celana cut bray yang robek di kanan kiri dengkulnya, dan kaos singlet bertuliskan white lion membuat gue berani taruhan kalau kalian pun akan mengiranya sebagai laki-kali untuk seklias tadi.
“bukan pawang serigalaaaa, ih antaam!!” bibirnya mengerucut, matanya yang tajam menatap antam.
“oh apa atuh??” tanya antam sambil masih menahan tawa.
“perempuan yang berjalan bersama serigala!!” jawabnya ketus. Antam dan bu lik arum tertawa lagi. dan gue masih gak ngerti apa maksud omongan mereka ini. Sampai akhirnya ugi pamit menarik diri, membalikkan badannya. Dan barulah gue paham apa maksudnya antam ketika mata gue jelas menangkap satu pemandangan yang, yang membuat gue lagi lagi terperangah pada sosok ugi. Di tengkuknya yang jenjang, jelas terpampang gambar kepala serigala seukuran bungkus rokok di tengkuk ugi.
“itu tatto permanen.” Kata antam ke arah gue yang masih gak berkedip menatap punggung ugi. “dia pemilik resmi vespa kongo yang tadi gw pake buat jemput lo.” Katanya lagi. “menurut lo, yan, keren atau gila? Ha ha ha”.
“menurut gue, keren sama gila itu kadang beda tipis.” Gue melirik antam setelah ugi dan vespa kongonya lenyap dari jangkauan mata. ya, keren dan gila emang hanya di pisahkan oleh segaris benang tipis. Gue gak mau, atau lebih tepatnya gak bisa menyimpulkan dulu kalau ugi itu keren, gila, atau gabungan antara keduanya. Karena gue jujur saja, masih terpana oleh kehadirannya yang begitu tiba-tiba. Dan mendadak, gue teringat kata-kata di vespa kongonya - bona fide, alea jacta est- entah kenapa.




Antam gokil ke bandara cuma pake boxer emoticon-Ngakak
Si Ugi juga keren emoticon-Cool
Diubah oleh sayabaik46
ceritanya seru emoticon-Matabelo
numpang nampang dulu ah, mumpung habis mandi
emoticon-Shakehand2
Bau bau husein intl airport ane pasti mampir.... emoticon-Leh Uga
Quote:
setelah cukup lama, gue simpulkan kalo orang bandung emang gokil-gokil. hahaha thanks ya udah mau baca en mampir gan ..


Quote:
makasih banyak. hehehe

Quote:
jangan lupa pake baju gan. hehehe makasih.

Quote:
haha ada apakah sama husein intl airport gan? haha

Quote:


Dulu pas lagi horor2nya ane pernah disuruh mampir kesitu. Bantu bantu dikit soal hercules, gan, bangke kapal yang masih diusahain buat terbang.
sama orang provinsi..
Diubah oleh henseyashburn
Quote:
wuiihh, pantes aja .. hahaha taun kapan itu gan?

Quote:


2009 seinget ane... Jangan OOT ah, balik ke cerita ente dulu. emoticon-Peace

Bau baunya cerita ente bakal banyak kenangan dari kota kembang nih... Izin bangun hotel disini gann. Jadi kangen Bandung yang dulu.

Ugi, doi anak VAC ?
Diubah oleh henseyashburn
Quote:
oh iya iya iya, haha silahkan gan. anak apa? vac? vac teh apa?

Quote:


Thanks, bruh.

Hahah, si agan langsung nyunda...

Vespa antique club, gan. Kalo udah bawa congo, selera antiknya udah berat itu.... Anyway musik rolling stone nya oke punya, tambah2in yak di cerita selanjutnya.
Quote:

si piyan mah emang katrok dasar sia piyan!! huh. iya gan, nanti ada di cerita itu soal vespa, itu vespa bukan punya gw sendiri tadinya. make itu pun awalnya kepaksa, tapi lama lama jadi enak en nyaman sendiri. hahaha
rame nih,
ikut mantau emoticon-Shakehand2
menarik nih, ijin nenda di mari bray
Quote:

Setuju gan.
Dari dulu kan Bandung jadi kiblat fashion.
Oya sama2 gan emoticon-Shakehand2
Ijen gabong gan . Neng kene gan

Kayaknya ceritanya bakal seru ni...emoticon-Smilie

Ohya tu vespa konggo emang keren gan apalagi tu tulisanya
Bona fide, alea jacta est...emoticon-Peaceemoticon-Peace
Quote:


Hahahahahaemoticon-Ngakak (S)

Aduh ugi nyariosna...emoticon-Hammeremoticon-Ngakak (S)

Nya vespa tea atuh... TOP
Mangga dilanjut caritana...
Diubah oleh henseyashburn
Halaman 1 dari 2


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di