alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
" kisah seorang marinir - (life,horror) BASED ON TRUE STORY
4.84 stars - based on 261 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5864c2a31ee5df73608b456d/kisah-seorang-marinir---lifehorror-based-on-true-story

kisah seorang marinir - (life,horror) BASED ON TRUE STORY

Tampilkan isi Thread
Halaman 55 dari 93
Quote:


Kalo punya link ttg kisah mistis bagi dong sistemoticon-Shakehand2
mantaaaaaap, msh blm apdet,,emoticon-Hammer2
Ceitanya mantap jiwa keep apdet 🙌 🙌
penasaran nunggu updatan,kpn donk om emoticon-Bingung
di forum aslinya macet, ya pasti disini juga macet wkwk.
TS sehat? Sedang apa dirimu? Aku Setia menunggu, hingga habisnya kuota ini tuk bolak balik ngecek apdetan.
nunggu maning
Quote:


d forum mana gan,atau linknya gan emoticon-Big Grin
Quote:


Lah bukannya dari awal ada yg nyebut beetalk? Ane ada baca komen2 reader nyebut itu gan. Emang setau ane di aplikasi itu ada forum gaibnya. Tapi gatau juga deh, yang pasti TS disini juga nunggu cerita dari Om Ready emoticon-Jempol
cari² aja pada bagus² koq emoticon-Shakehand2
Quote:


ohhhj,masalahnya aneh namanya beetalk,n ane juga gak ngebaca itu emoticon-Malu
Quote:


cari² aja pada bagus² koq emoticon-Shakehand2

Diubah oleh srikandikoplax
cerita horror terbaik yang pernah ane baca di kaskus! emoticon-Selamat
Ajarin om ready nya main kaskus juga dong agan debby biar bisa langsung tanya2 ke pelaku aslinya emoticon-2 Jempol
Diubah oleh BokerBerdiri
emoticon-Ultah Marathon baca akhire selesai juga...
Terharu sekaligus menginspirasi bgt waktu di aceh kena sunami...
Ditunggu om kelanjutannya... Mantaab
jadi ngefans sama om ready . nitip mintain tanda tangan nya dunk gan
abis marathon...kirain cerita biasa aja,taunya ane kebawa suasana jg...hehehe,
mantep n seru story nya gan
Pertarungan Terakhir 7


Ragil keluar rumah sambil membanting pintu, Arifin berdiri hendak mengejarnya tapi tanganku memberi tanda untuk duduk, aku membuat es lemon tea kesukaannya, dengan irisan jeruk nipis kesukaan Husna. kuhampiri Husna yg tengah duduk di ayunan tepi pantai, rok panjang warna putih dengan rambut terurai melambai-lambai di terpa angin, aku berhenti sejenak,

" sudah besar adekku satu ini, sungguh cantik, salah besar aku selalu menuruti egoku, karna dia juga punya masa depan, cinta dan kasih sayang, dia juga butuh orang di sampingnya, dia butuh pendamping dalam suka dan duka, heemmmm "

aku sodorkan lemon tea itu dan aku duduk di sebelahnya, beberapa saat tak ada perbincangan, lalu aku mengawalinya.

" aku sengaja tidak mau mendekati wanita, karna tidak mau menyakitinya, ada beberapa wanita yg mendekatiku dari berbagai profesi, dari dosen, dokter juga pegawai negri " *huuuuffttt* aku hembuskan rokok sampoerna mildku kuat2

" memang semua ada resiko yg harus di ambil, semua ada pengorbanan yg harus di perjuangkan, mungkin belum sekarang, mungkin belum saatnya aku mencintai wanita lain " kataku lagi

" hatiku sudah terikat oleh seseorang bang dan aku masih mencintainya "

" Husna... kalau kamu mencintainya, cintai dia semestinya, dengan cinta yg sederhana, tidak di lebih-lebihkan, aku sudah menganggapmu seperti saudaraku sendiri, hanya ingin kamu tau memilih seorang pendamping hidup itu perlu di lihat BIBIT,BEBET dan BOBOTnya, apalagi di saat seperti ini " Husna pun menoleh ke arahku, wajahnya yg muram, kini ada sesungging senyum di ujung bibirnya

" apa itu bang? "

" bibit : berarti kamu harus tau asal muasal orang yg kamu cintai itu, berasal dari mana, keluarga apa, punya penyakit keturunan atau tidak, jangan sampai yg kamu sayangi berasal dari keturunan saudara kiri dan kamu hanya di manfaatkan.

bobot : bermutukah calon suamimu untuk keturunanmu kelak, bukan masalah kekayaan dan harta, tapi paling tidak bisa menghidupi kamu dan memberi masa depan keluargamu yg lebih baik.

bebet : dilingkungan mana kamu nanti berada, di kasihi siapa di lingkunganmu, hingga bukan masalah sandang, tapi lebih pada perlakuan sosial keluarganya padamu, hingga menjadi sebuah keluarga yg komplek dan homogen. Ragil... jagalah selalu cintamu, siramlah setiap hari dengan kehangatan hidup, peluklah seperti hangatnya cinta pertama, mengenal cinta itu tak mudah, tapi amat menyakitkan bila tak pernah merasakannya " aku berdiri dari dudukku dan Husna memelukku dengan erat, kami berpelukan di pantai itu, seakan tak tega melepaskan Husna di kehidupan yg liar, matahari mulai tenggelam, hingga sinar orangenya memenuhi langit pantai delegan, sayup2 terdengar lagu seventeen terdengar, membuat Husna memelukku lebih erat lagi " kau..jaga slalu hatimu "

" makasih bang, semua sudah saya selidiki, mas Teddy adalah pilihan hidupku, saya sudah kenal keluarga dan orang tuanya "

" iya.. aku percaya padamu, dan aku juga yakin dengan pilihanmu yg terbaik bagimu, terbaik bagi kita semua " aku mencium pipinya lalu dia mendongak ke arahku

" saya selalu ada buat abang, buat kita, karna kalianlah keluargaku "

" Husna.. jangan lupa dengan ilmu kuncian yg sudah kamu serap, ilmu yg sudah kamu ambil dari penengah, yg sudah kamu simpan dalam perutmu, jangan sampai lepas dan kembali ke empunya, hingga dia kuat kembali aku sedikit kawatir bila itu terjadi, penengah bisa keluar dari penjara dan akan balas dendam padamu tanpa kamu sadari "

" iya bang " jawab Husna lirih

kami meninggalkan Delegan keesokan harinya, berangkat tak bersamaan mengendarai kendaraan masing2, aku tak langsung pulang masih ada kerinduan yg tersimpan pada ibuku. lewat jalan pantura, kutelusuri jalanan perbatasan lamongan gresik, pagi yg begitu lembut terpaan angin laut juga pemandangan yg menjadi teman selama perjalananku, kapal2 kecil di wilayah paciran dan brondong, hiruk pikuk membawa hasil laut beraneka rupa. sengaja aku lewat tuban walau sebenarnya lebih cepat kalau lewat makam Sunan Drajat tembus ke lamongan, tapi entah kenapa pagi ini aku ingin mengunjungi makam ibuku di babat lewat tuban, kini tanpa terasa aku sampai di desa KUWU.

Desa terjauh yg boleh di datangi santri ponpes langitan saat itu, sekira 3km lagi sudah masuk desa Widang dimana pondok itu sekarang sudah menjadi megah dan mewah, dengan fasilitas2 modern, aku berhenti di punggung jembatan babat, kusandarkan sepeda motor bysonku, dan kuraih kamera Dslr Cannon 600D turun beberapa meter, masjid besar itu terpampang menyapaku, aku ambil beberapa jepret untuk mengobati rasa kangen, para santri muda lalu lalang, melihatku, dengan menunduk dan memberi salam, sebenarnya ada rasa kangen yg besar memasuki pondok, ingin melihat bilik yg dulu aku tempati, bilik kayu besae seukuran 10x10 di tempati santri2 muda berjumlah hampir 20anak, sering kali ustad Syaiful membangunkan kami di malam buta, membawa sebatang rotan yg di ayunkan pada kami yg tengah tertidur pulas, he he he aku tertawa sendiri, sungguh pelajaran hidup yg sangat berharga jika ingat hari2 itu, terasa tersiksa waktu itu, namun amat manis saat beranjak dewasa.

motorku kembali meraung membelah aspal, kenangan sepanjang perjalanan mengingatkanku di masa2 pahit silam, bayangan mamaku begitu nampak jelas ketika menggandengku di jalan ini, tiba di pemakaman umum karangasem, saat itu sudah siang, penampakan2 ruh yg belum sempurna begitu ramai memenuhi gerbang dekat tempat sampah, juga ada beberapa peziarah yg tengah kusyuk berdoa, aku diam tak menyapa para ruh itu, seakan aku tak melihatnya dan berlalu begitu saja, tiba di makam mama aku duduk mengelus nisannya, bunga kamboja yg dulu kutanam kini sudah besar, dengan bunga warna kuning yg amat harum menemaniku berdoa. kangen ma..... kataku perlahan, sebenarnya ada keinginan yg amat bisa bertemu dengan mama walaupun berbentuk ruh, tapi aku menyadari bahwa mama sudha tenang di sana, hingga tanpa kusadari, ruh2 itu sudah bergerombol di sampingku, mengendus2, menggeleng2, tanpa ekspresi wajahnya begitu datar, kedua tangannya tak bergerak, melayang, hanya bagian tubuh leher dan kepala bergerak gemulai seperti ditiup angin, aku mencoba mengenali satu2, wajah pucat pasi itu hampir mirip semua, tetapi ada bagian fisik yg tetap bisa kukenali.

pakdhe Suratin, ruh yg tepat berada di depanku mendekat, wajahnya di dekatkan ke wajahku, pakdhe Suratin adalah tetanggaku yg meninggal kecelakaan sekeluarga waktu pernikahan putranya, rombongan itu tertabrak kereta waktu melintasi rel dan mesinnya mati, matanya yg hitam menatapku tajam2, mulutnya di buka lebar, seakan berusaha mengenaliku, aku tersenyum dan mengangguk

" iya pakdhe..saya ready.. bocah kecil yg sering sampean kasih jajan, bocah kecil yg selalu sampean beri nasi dalam bungkus koran, dan sampean sembunyikan dalam balik bajumu pakdhe "

ekspresi pakdhe Suratin berubah, seperti memelas dan ingin menyampaikan sesuatu, tapi mulutnya hanya terbuka, tak mengeluarkan sepatah katapun, ketika aku berbicara dengan pakdhe Suratin, rupanya ruh2 yg lain berdesakan mencoba bertatap muka denganku, mungkin mereka ingin aku mengenalinya, hingga pandanganku ke depan seperti tertutup kabut, samar-samar jari tengahku ku angkat, ingin meraih pakdhe Suratin diantara mereka, agar aku tau apa yg akan di sampaikannya, tapi..,, ruh2 itu tak terasa kusentuh sudah tak ada energy dan memori yg tersimpan di sana, hanya seperti bayang2 putih yg tak bisa kugapai, aku lihat ujung jariku, untuk memastikan tidak ada yg salah, bhakan sudah aku alirkan energi di ujungnya, hanya untuk memastikan yg terjadi, juga tak berarti apa2, aku mundur sejenak, timbul rasa takut dan keraguan diantara kerumunan ruh yg begitu banyak, aku sedikit berlari ke arah gerbang, tapi kini pemandangan kuburan itu menjadi sangat kabur, seperti tertutup awan atau kabut yg tebal, para peziarah sudah tak bisa kutemui lagi, dimana mereka...???



profile-picture
Titikhitam198 memberi reputasi
wihh ada update an,
Thanks ganz, ane baca dlu emoticon-2 Jempol
Wah ada updatean pas baru baca..

Jadi penasaran gmn dgn perkimpoian husna..
om Ready udah di bawa ke alam gaib ya, sereemm
Halaman 55 dari 93


×
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di