alexa-tracking
Kategori
Kategori
Pengumuman! Mau dimodalin 25 Juta untuk acara komunitas? Ceritain aja tentang komunitas lo di sini!
Home / FORUM / All / Food & Travel / ... / Catatan Perjalanan OANC /
Catatan Anjangsana ke Atap Sumatera (Kerinci 3805 mdpl), 1 - 5 Mei 2014.
4.5 stars - based on 2 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/53a962e162088174218b45d5/catatan-anjangsana-ke-atap-sumatera-kerinci-3805-mdpl-1---5-mei-2014

Catatan Anjangsana ke Atap Sumatera (Kerinci 3805 mdpl), 1 - 5 Mei 2014.

“Selalu ada Kemudahan dalam setiap Kesulitan “
Catatan anjangsana ke Puncak Tertinggi di Tanah Sumatera (Kerinci 3805 mdpl).


Catatan Anjangsana ke Atap Sumatera (Kerinci 3805 mdpl), 1 - 5 Mei 2014.


Puncak-puncak gunung tertinggi di setiap pulau dalam bentangan alam Indonesia Raya memang memiliki daya tarik tersendiri bagi mereka yang menggemari kegiatan pendakian gunung, tak terkecuali Gunung Kerinci. Puncak Gunung tertinggi di tanah Sumatera yang berjarak 3.805 m di atas permukaan laut, Tertinggi ke-2 dalam jajaran puncak-puncak gunung di Indonesia setelah Carstenz Pyramid (4.884 mdpl) namun yang tertinggi di antara Gunung berapi di Indonesia.

Kami termasuk diantara mereka yang terpikat dengan pesona Gunung Kerinci. Walaupun masing-masing sudah disibukan dengan beragam aktifitas, tanggung jawab ataupun rutinitas yang cukup menyita waktu, tenaga serta fikiran, kami tetap memendam asa dan selalu melingkarinya dalam agenda rencana kami bahwa suatu saat kaki kami akan bisa menjejak tanah tertinggi di Pulau Sumatera, puncak Gunung Kerinci.. #tsaah.

Akhir tahun 2013 adalah permulaan dari bertemunya rencana indah dengan realitasnya. Sebagaimana akhir tahun-tahun sebelumnya, di kantor saya selalu ada “pembagian jatah” kalender tahun berikutnya. Baik kalender keluaran kantor sendiri dan tentu saja yang lebih banyak lagi adalah kirimin dari para subkontraktor ataupun supplier..hehe. Karena saya berfikir jumlah hari, bulan dan hari libur dalam setiap kalender pasti sama, saya memutuskan mengambil 2 kalender saja, ia yang dari jenis kalender meja serta kalender dinding (kalimat gak penting dan garing banget ya?).

Setelah Kalender diterima, sejurus kemudian saya langsung sibuk dengan aktifitas lingkar-melingkari dengan spidol merah untuk tanggal yang saya berencana menghabiskan 12 hari jatah cuti tahunan dari kantor. Jatah yang harus dibagi-bagi untuk liburan lebaran, liburan akhir tahun, liburan anak sekolah, liburan keluarga serta last but not least.. untuk pendakian gunung yang memerlukan waktu lebih dari 2 hari 1 malam (weekend).
Pastinya sih 12 hari tidak akan cukup jadi ya kudu di-siasati sebijak-mungkin dan enjoy aja.

1 – 5 Mei 2014 adalah waktu yang akhirnya dipilih untuk Mendaki Gunung Kerinci. Selain pertimbangan “Hari kejepit nasional”, banyak kalangan juga menilai Bulan Mei adalah bulan permulaan yang tepat untuk musim pendakian, dan selanjutnya Juni dan Juli.

Jadwal telah ditetapkan, saatnya menebar racun !

Setelah memfiksasi tanggal pelaksanaan, saya pun mulai menebar racun (baca : mengajak) ke rekan-rekan lain untuk bisa ikut barengan mendaki. Postingan ajakan mendaki bareng pun saya upload di berbagai social-media termasuk pastinya Kaskus. Dari postingan-postingan ajakan tersebut akhirnya berhasil “terjaring” 13 orang peserta atau total 14 orang termasuk saya, 14 orang yang warna-warni, dari beragam usia, pekerjaan, lokasi, suku dan warna rambut >.<. Sebagian besar peserta berasal dari sekitaran Jabodetabek, 1 orang dari Jambi dan 1 lagi bergabung dari Padang.

Kami kemudian menyengaja memilih pesawat terbang sebagai moda transportasi karena pertimbangan waktu serta memilih Jambi ketimbang padang sebagai kota transit sebelum menuju Basecamp pendakian di desa kersik tuo, karena ingin bersilaturrahiim dengan paman & bibi saya yang ada di kota Jambi serta agar bisa dibersamai oleh seorang rekan kami di Jambi yang mengatur transportasi serta akomodasi menuju Kerinci, plus alasan utama di balik semua itu.. karena Tiket PP Jakarta-Jambi lebih murah ketimbang Jakarta-Padang emoticon-Stick Out Tongue

1 Mei 2014, Time to Rollin’ !

Waktu menunjukkan pkl 09.00 WIB ketika saya menjejak Bandara Soekarno-Hatta. Sebagian peserta sudah lebih dahulu tiba, bahkan sudah ada yang tiba jam 7an pagi padahal jadwal penerbangan adalah pkl 11.40 WIB lantaran kita sudah disergap isu sejak malamnya bahwa akan ada pemblokiran akses jalan menuju Bandara di tanggal 1 Mei alias Mayday. Dan ternyata HOAX sodara-sodara ! .. Untungya tak ada keterlambatan di penerbangan Citilink yang kami tumpangi, sehingga kami tak perlu lebih lama lagi di bandara Soetta. Sekitar pukul 12an Citilink 9541 yang kami tumpangi landing dengan selamat sentosa di Bandara Jambi.

Dijemput oleh Paman serta Bibi saya di bandara Jambi dengan 3 mobil, rombongan kami yang berjumlah 12 orang lalu meluncur ke kediaman mereka di kota baru, Jambi untuk transit sejenak sampai dengan Maghrib. Setelah santap siang, istirahat, keliling kota jambi sambil belanja-belanji logistik, selepas maghrib kami sudah duduk manis di elf dari PO. Safa Marwa yang kami carter untuk mengantar kami langsung ke basecamp pendakian kerinci di desa kersik tuo. Membelah pekat malam dan jalanan sepi menuju desa kersik tuo lebih banyak didominasi oleh aktifitas tidur.. thanks to 2 butir antimo yg cukup efektif membuat saya lelap emoticon-Big Grin dan pkl 07.00 kamipun tiba di Basecamp Pendakian Gn. Kerinci, kediaman keluarga berdarah jawa yang akrab di kalangan pendaki untuk istirahat sebelum dan setelah pendakian ke Gunung Kerinci.

2 Mei 2014, Etape 1 : Pintu Rimba – Shelter 1

Kediaman Ibu Jus alias Basecamp cukup ramai pagi itu oleh para pendaki yang akan mendaki kerinci. Banyak juga yang dari jabodetabek dan sekitarnya seperti kami dan sebagian besar sudah siap memulai trekkingnya ketika kami tiba pagi itu. Agaknya mereka sudah sejak kemarin bermalam di basecamp. Kami memilih istirahat dulu meluruskan kaki yang belasan jam tertekuk di elf, sarapan, bersih-bersih dan re-packing.

Pukul 09.15 WIB waktu Kerinci. Seluruh peserta pendakian berdiri melingkar di halaman basecamp untuk briefing dan dosa bersama. Jelang Pkl 09.30 kamipun menaiki angkot yang sengaja kami carter untuk mengantar hingga jelang Pintu Rimba. sekitar 10 menit perjalanan dengan angkot kamipun berhenti dititik terakhir sebelum berjalan kaki 10 menitan lagi menuju Pintu Rimba.

Selepas beristirahat sejenak dan berfoto-foto di pintu rimba, sekitar 15 menit perjalanan dengan mayoritas trek datar kami tiba di Pos 1, berhenti sejenak dan kembali foto-foto emoticon-Big Grin.

Dari pos 1 menuju pos 2 kami masih disuguhi trek yang masih mayoritas mendatar alias banyak bonus, sesekali menanjak dan sesekali juga harus melewati pohon-pohon tumbang yang melintang di jalur. Setelah 30 menitan berjalan kami sampai juga di pos 2. Seperti aktifitas di Pos 1, di pos 2 kami rehat sejenak, ngemil-ngemil plus foto-foto tentunya.

Menuju pos 3 jalur masih mirip-mirip pos 1 ke pos 2, namun porsi tanjakannya lebih banyak dengan waktu tempuh yang lebih lama. Jelang Dzuhur seluruh rombongan berhasil menjejak Pos 3. Di Pos 3 kami rehat agak lama untuk sholat Dzuhur dan makan siang bekal nasi bungkus yang kami bawa dari basecamp, plus menanti hujan yang turun ketika kami sampai di pos 3 mereda.

Jelang Pukul 13.00 WIB, Seluruh rombongan mulai beringsut dari Pos 3 menuju Shelter 1 dalam dalam kondisi kenyang dan menunaikan sholat dzuhur untuk rekan2 yang Muslim. Hujan tinggal menyisakan rintiknya saja namun dari ‘gelagat’-nya porsi derasnya belum lagi turun mengingat mendung masih menggantung.

Dan benar.. belum lama berjalan lepas dari Pos 3 hujan kembali mengguyur dan seperti dugaan kami..lebih deras !. Perjalanan menuju shelter 1 pun harus ditempuh dengan perlengkapan ‘anti hujan’ .. raincoat, ponco, payung dll. Menuju shelter 1 trek tanjakan mulai lebih sering dan menguras tenaga, ditambah tanah yang licin akibat hujan sukses membuat kami cukup kepayahan selama di jalur. Jelang pukul 3 sore kami tiba di Shelter 1, dengan hujan yang masih setia menemani walau rintik tapi awet.

Kami memilih melanjut ke Shelter 2 sebagai destinasi kami bermalam dalam tenda ketimbang membuka tenda di shelter 1 walau konskwensinya kami nantinya harus berjalan dalam gelap malam sebelum sampai di shelter 2.

Spoiler for Jelang Pintu Rimba:

Spoiler for Effect Tongsis:

Spoiler for Masih ceria dan seger:


Menuju Shelter 2, Ujian Keteguhan

Tabiat asli trek pendakian gunung Kerinci dimulai selepas shelter 1 “ ujar seorang rekan mengingatkan kami beberapa pekan sebelum pendakian. Dan apa yang kemudian kami hadapi sepanjang jalur menuju Shelter 2 seperti menegaskan statement tersebut. Dengan rintik hujan yang masih terus setia menemani, kami disuguhi trek pendakian yang minim bonus jalur mendatar dengan terkadang harus melewati tanjakan dengan keterjalan sekitar 60 derajat yang memaksa kami sedikit merayap.

Panjangnya jalur dengan suguhan tanjakan terjal serta licin dan berlumpurnya tanah pijakan membuat rombongan mulai terpecah-pecah ke dalam beberapa kelompok. Dinginpun mulai lebih menusuk hingga ke dalam tulang, membuat kami harus memaksa untuk tetap bergerak walau perlahan untuk menjaga tubuh tetap hangat ketimbang berdiam lama yang cepat membuat tubuh lebih didera kedingingan.

Seperti yang telah kami perkirakan sesampainya di Shelter 1, kami harus melupakan idealita itinerary yang telah disusun bahwa kami semua akan tiba di Shelter 2 untuk membuka tenda sebelum gelap atau maghrib. Setelah berpayah-payah dalam jalur Shelter 1 menuju Shelter 2 akhirnya keseluruhan rombongan sukses menjejak Shelter 2 sekitar pkl 19.30 WIB dan sempat berpapasan dengan rombongan 53 orang pendaki dari Malaysia yang memutuskan turun malam itu kembali ke desa kersik tuo.

Aktifitas Camp Area pun mulai digelar sesampainya kami di Shelter 2. Pasang tenda, ganti pakaian, Sholat lalu masak-masakan. Setelah kenyang santap malam, chit-chat sebentar kamipun langsung terlelap di tenda masing-masing mengingat kami hanya punya waktu tidur yang cukup singkat dan harus bangun sebelum pkl 02.00 WIB untuk “Summit Attack”.

3 Mei 2014, Jalan Terjal Menuju Atap Pulau Sumatera

30 menit sebelum pkl 02.00 WIB saya mulai terbangun. Melihat keluar tenda, rintik hujan sudah tak lagi menemani. Alhamdulillah cerah, guman saya lirih sambil mulai membangunkan Yuda rekan satu tenda. Kami berdua kemudian mulai memasak air di vestibul tenda untuk menyeduh kopi dan teh hangat. “kehidupan” di beberapa tenda juga mulai menggeliat tanda kalau mereka juga tengah bersiap untuk summit attack walau suara dengkuran juga masih terdengar memenuhi alam raya emoticon-Big Grin.

15 menit sebelum pkl 02.00 WIB, saya baru benar-benar keluar tenda, lengkap dengan segala peralatan, memakai sepatu dan mulai “gedor-gedor” tenda sebelah mengingatkan rekan-rekan untuk segera bersiap.

Jelang Pkl 02.30 WIB, dengan di awali sedikit briefing dan tentu saja do’a bersama, rombongan mulai beranjak menuju Shelter 3 untuk seterusnya menuju Puncak Gunung Kerinci. Dinihari itu tak semua dari ke-14 peserta rombongan memutuskan ikut serta dalam kafilah Summit Attack. Keseluruh 4 orang srikandi dalam rombongan memutuskan tidak ikut muncak, serta 3 orang pria. 1 orang srikandi belakangan kemudian menyusul bersama 2 orang pria yang memang sudah mengkonfirmasi akan menyusul ke puncak.

Benar seperti yang disampaikan banyak rekan di Catatan Perjalanannya, dari tingkat kesulitan jalur maka etape Shelter 2 ke Shelter 3 ditahbiskan sebagai yang terberat. Dari tanjakannya yang sangat terjal, minimnya pijakan yang aman di beberapa lokasi serta cerukan-cerukan jalur air yang dalam & sempit membuat pilihan kami untuk ngecamp di shelter 2 terasa sangat pas. Kami bersyukur dinihari itu cuaca cerah, entah seperti apa tingkat kesulitannya bila kami harus melewati jalur tersebut dalam kondisi hujan dan apalagi bila harus sambil menggendong keril.

Satu setengah jam lebih melewati jalur sulit dari shelter 2 menuju shelter 3 kami akhirnya tiba di shelter 3, yang merupakan batas vegetasi. Shelter 3 adalah camp area yang sangat terbuka dimana setiap pendaki yang memilih bermalam disini harus bersiap dengan terpaan angin dingin yang bisa sangat kencang sewaktu-waktu. Cukup banyak tenda pendaki yang berdiri di shelter 3 dinihari itu.

Di shelter 3 kami beristirahat agak lama sambil menanti masuknya waktu Sholat Subuh. Lepas sholat subuh, sekitar pkl 05.00 WIB kami bersiap untuk mulai mendaki trek terbuka menuju puncak yang didominasi batuan dan pasir. “ Mirip-mirip trek menuju Puncak Slamet ”, ujar seorang rekan.

Langkah demi langkah kami ayunkan, menyusuri trek berbatu serta pasir yang terkadang kerikil yang kita pijak menggelincirkan bila kita tidak hati-hati. Saya sendiri sempat tergelincir di jalur pasir berkerikil dan merosot hampir 1 meter ke bawah. Trekking pole yang sangat berguna di sepanjang jalur khususnya jalur shelter 1 hingga shelter 3, kembali sangat terasa manfaatnya untuk membantu menopang tubuh dari shelter 3 menuju puncak.

Sunrise kami abadikan di pertengahan jalur dari Shelter 3 menuju Tugu Yuda. Ketika hari semakin terang, semua pendaki yang ada jalur ketika itu dibuat takjub bin terkesima dengan hadirnya pelangi yang sempurna menghiasi langit kerinci pagi itu. Alhamdulillah, “Rejeki anak soleh..” , seloroh seorang peserta rombongan.

Jelang pkl 06.30 kami menjejak Tugu Yudha. Rehat sejenak, bersantap cemilan sambil menatap puncak kerinci yang sudah jelas terpampang di depan mata dengan kemiringan trek berbatu yang lumayan. “45 menitan lagi dah.... “, celetuk seorang rekan menyemangati.

Waktu menunjukkan jelang pkl 07.30 WIB ketika kami akhirnya berhasil menjejak tanah tertinggi di Pulau Sumatera. Lantunan kesyukuran langsung berkumandang seraya sujud di tanah berbatu puncak kerinci. Cuaca cerah yang mengiringi sejak beringsut dari shelter 2 tetap setia menemani hingga kaki-kaki kami menjejak Puncak Kerinci, 3.805 mdpl. Alhamdulillah.

Spoiler for Semburat Mentari di Lereng Kerinci:

Spoiler for Habis Hujan Terbitlah Pelangi:

Spoiler for Puncak so dekat:

Spoiler for Stand On Highest Volcano in Indonesia:

Diubah oleh abumusyaffa
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 3
Episode Turun : Ketika Menurun tak Lebih Mudah dari Mendaki

45 menitan di puncak, sekitar pkl 08.30 kami memutuskan turun dari puncak. Perjalanan turun dari Puncak menuju shelter 3 ternyata tak lebih mudah dari ketika mendakinya. Kami harus berhati-hati betul dengan pijakan di tanah berbatu dengan potensi kerikil-kerikil serta pasir yang menggelincirkan, ditambah lagi dengan panas yang muali sangat menyengat. Trekking Pole benar-benar terasa manfaatnya menyusuri jalur menurun ini. PR trek turun yang juga menyulitkan ada di etape Shelter 3 menuju Shelter 2, alhasil kami cukup bersusah payah menuruni cerukan-cerukan jalur air yang cukup dalam selama etape ini yang terkadang harus berfikir keras untuk mencari pijakan atau pegangan yang aman.

Sekitar Pkl 12.30 kesemua rombongan sudah kembali ada di Shelter 2. Istirahat bin leyeh-leyeh, masak-masakan, bongkar tenda, packing untuk turun dll. Pkl 14.30 kami semua telah bersiap untuk turun kembali ke basecamp dengan estimasi tiba di pintu rimba sekitar pkl 20.00 WIB menilik ritme pergerakan kami sedari awal pendakian.

Mendung yang mulai menggayuti kami sejak pukul 13.30 WIB akhirnya sukses berubah menjadi air hujan tak berapa lama selepas kami meninggalkan shelter 2. Kondisi hujan di hari kemarin dan sore itu membuat jalur licin dan berlumpur di beberapa titik. Ditambah padatnya pendaki yang mengunjungi kerinci di long weekend tersebut, termasuk ke-53 pendaki dari Malaysia yang turun semalam, sukses membuat jalur semakin “rusak” yang membuat kami harus ekstra hati-hati melewatinya di beberapa titik, terutama yang bersisian dengan semacam jurang di sisi kirinya.

Rute dari Shelter 2 ke Shelter 1 yang memang panjang, terasa lebih panjang dengan medan yang basah & berlumpur. Beberapa di antara kami sudah cukup kepayahan menempuh etape ini. Kami berusaha untuk tak banyak berhenti istirahat dan terus berjalan walau perlahan agar tak terlalu larut sampai di Pintu Rimba, terlebih beberapa rekan pendaki dan porter mengingatkan untuk bisa melewati Shelter 1 sebelum maghrib karena konon harimau/macan yang memang masih ada di Taman Nasional Gunung Kerinci lebih senang sliweran di Shelter 1 sekitar maghrib.

Setelah cukup kepayahan di jalur dan 2 kali insiden hampir terperosoknya 2 anggota rombongan ke jurang karena tanah pijakannya yg gembur karena jalur yang rusak & berlumpur, Jelang pkl 17.30 kami akhirnya menjejak Shelter 1. Istirahat sebentar di Shelter 1, kami langsung bergegas menuju Pos 3 dengan harapan bisa istirahat maghriban disana sambil sedikit masak-masak.

Ketika Musibah Mendera dan Pertolongan-NYA terasa dekat

Menuju Pos 3 jalur masih tak bersahabat, ditambah kondisi fisik sebagian besar rekan yang agak kepayahan kami pun memilih berjalan perlahan dengan tetap beriringan. Beberapa senter dan headlamp rekan dalam rombongan yang mati membuat kami harus mengatur komposisi berjalan.

Kami menemui Maghrib di Pertengahan jalur menuju Pos 3 dengan kondisi sebagian anggota yang semakin kepayahan. Setelah 10 menitan berhenti ketika maghrib tiba, selepasnya kami lanjut berjalan walau perlahan. Pkl 19.30 akhirnya kami berhasil menjejak Pos 3 dan mendapati ada satu tenda yang sudah berdiri di pos ini, yang setelah kami tanyakan adalah rombongan rekan2 mahasiswa dari gabungan beberapa MAPALA/OPA di sekitaran Jambi yakni SEKBER PECINTA ALAM KERINCI, MAKOPALA DIMITRI dan MAPALA STAIN KERINCI.

Sesampai di Pos 3, seluruh rombongan lalu istirahat. Beberapa rekan langsung mengeluarkan peralatan masak dan logistik untuk menyeduh minuman hangan, membuat makanan dll. Rekan2 Mahasiswa yang berkemah di Pos 3 juga ikut sigap memberikan bantuan minuman dan makanan hangat untuk rombongan kami, terutama untuk beberapa rekan yang sudah terlihat sangat kepayahan.

Sampai apa yang kami khawatiri akhirnya terjadi. Salah seorang rekan pendaki putri dalam rombongan, yang memang sudah kepayahan terutama selepas shelter 1 menuju Pos 3, tiba-tiba didera seperti sesak nafas dengan tubuh yang mengigil. Kontan, semua yang ada di Pos 3 dilanda kepanikan yang luar biasa. Alhamdulillah, beberapa orang rekan tetap tenang dan langsung sigap mengevakuasi ybs ke tenda rekan2 mahasiswa yang sudah di Pos 3 tersebut. Rekan-rekan pendaki putri lainnya kemudian ikut masuk ke dalam tenda bersama rekan kami yang drop tersebut, yang ditengarai sebagai Gejala Hypothermia.

Pakaian basah dari rekan kami tsb kemudian dilucuti dan diganti dengan pakaian kering, dimasukan kedalam sleeping bag sampai telapak kaki dan tangannya ditempelkan dengan gelas yang berisi air panas untuk menghangatkan suhu tubuhnya yang mendingin, sambil terus menjaga rekan kami tersebut agar terus tersadar dengan terus mengajak berkomunikasi dan meminta rekan kami terus melantun dzikir-dzikir tertentu.

Alhamdulillah, segala puji bagi RABB yang Maha berkehendak dan berkuasa. Setelah perjuangan selama beberapa lama akhirnya rekan kami perlahan mulai pulih. Suhu tubuhnya kembali menghangat, respon komunikasinya semakin membaik, mulai mengalun tawanya membalas candaan kami dsb.

Kelegaan langsung menyeruak di Pos 3 malam itu mendapati rekan kami yang drop sudah semakin membaik kondisinya. Lantunan kesyukuran juga ikut memenuhi udara pos 3 dan ucapan terima kasih yang bertubi-tubi dari seluruh rombongan kami kepada rekan-rekan pecinta alam yang membuka tenda-nya di Pos 3 sebelum kedatangan kami. Tenda mereka, perlengkapan serta ketersediaan makanan/minuman hangat yang memang tengah mereka masak ketika kami datang begitu sangat membantu proses evakuasi serta pemulihan rekan kami tersebut.

Kami percaya dan memahami semua semata bukan “kebetulan”. Kami percaya semua adalah bentuk pelajaran sekaligus pertolongan dan kasih sayang-NYA kepada kami. Walau tertatih, Dzat yang Maha Kuasa menguatkan kami, terutama rekan kami yang sempat drop kondisinya, untuk terus bisa berjalan dan sampai di Pos 3. Tempat dimana “kondisi & pertolongan” telah siap sedia menerima rekan kami yang drop kondisinya, yang dihadirkan-NYA melalui rombongan rekan-rekan mahasiswa-mahasiswi yang memilih berkemah di Pos 3 tersebut.

Spoiler for Bersama para penolong yang luar biasa di POS 3:


Masa-Masa Kembalinya Keceriaan Perjalanan

Pukul 22.00 WIB. Dua orang Ranger, Bang Levi & Murdam, yang sempat kami hubungi ketika awal rekan kami colaps melalui rekan kami yang bersiaga di Basecamp sudah tiba di Pos 3, yang selain untuk mengecek kondisi rombongan kami juga untuk mengevakuasi rombongan lain yang cedera terkilir kakinya di dekat shelter 1.

Rombongan pun akhirnya saya putuskan di pecah. Sebagian besar anggota rombongan saya instruksikan untuk terus menuju pintu rimba yang tinggal kurang dari 2 jam lagi dari Pos 2. Sedangkan saya dan 3 rekan pria serta 1 rekan wanita memutuskan untuk tetap di pos 3 membuka tenda, untuk menemani rekan kami yang sempat drop dan mulai pulih untuk beristirahat di Pos 3 dan melanjutkan lagi trek yang tersisa esok paginya.

Pagi menjelang, semua yang beristirahat di Pos 3 telah terbangun. Saya mencek rekan yang kemarin drop dan mendapati kondisinya sudah pulih, segar, ceria kembali bin ketawa-ketiwi. Alhamdulillah. Pagi itu kami isi dengan masak-masak serta packing untuk persiapan menyelesaikan trek Pos 3 menuju Pintu Rimba untuk selanjutnya dijemput dengan angkot yang telah kami pesan menuju Basecamp.

Pkl 09.00 WIB rute penyelesaian dimulai. Tak banyak yang bisa diceritakan dalam etape Pos 3 menuju Pintu Rimba kecuali berjalan dalam keceriaan, sambil terkadang “mentertawakan” momen-momen lucu yang spontan ketika proses colaps dan evakuasi rekan kami semalam. 2 jam lebih berjalan santai kami akhirnya tiba di Pintu Rimba. Disini kami istirahat agak lama, karena seorang porter yang menemani kami mencarikan buah markisa di sekitar pintu rimba dan lumayan banyak dapatnya. Manis-Manis Asam dan Segar sekali. Kamipun ikutan mencari buah markisa tersebut dan lahap menyantapnya di Pintu Rimba.

10 menit berjalan menuju jalan yang bisa di akses angkot, menunggu sebentar kedatangan si Angkot, Jelang Pkl 13.00 WIB seluruh rombongan akhirnya bisa selamat kembali berkumpul dengan rekan-rekan lain yang sedari semalam telah beristirahat di Basecamp.

Episode selanjutnya di Basecamp sudah bisa ditebak. Bersih-Bersih diri dan gear yang penuh lumpur, makan siang, nge-charge Handphone, Rebahan, Belanja Kaos Gunung Kerinci yang dijual si Ibu Jus penunggu Basecamp, chit-chat dan tentu saja foto-foto sambil menanti kedatangan Angkot Carteran yang akan mengantar kami ke Sungai Penuh untuk selanjutnya menaiki kembali Elf Safa Marwa carteran menuju kediaman Paman & Bibi saya di Kota Jambi, istirahat dan transit sejenak sebelum menuju Bandara Jambi.

Ahad 5 Mei 2014, Jelang Subuh. Elf yang membawa rombongan kami tiba di depan kediaman Paman & Bibi saya setelah 12 jam-an perjalanan yang panjang dari Sungai Penuh. Selepas Sholat subuh kamipun semua terlelap melanjutkan episode tidur di elf yang kurang nyenyak. Terbangun dari tidur, sajian sarapan lengkap sudah menanti kami plus buah-buahnya. Luar biasa sekali jamuan Paman & Bibi saya, padahal ini ada kali pertama kunjungan saya di rumah mereka dan langsung merepotkan dengan membawa 14 orang rombongan emoticon-Big Grin

Dengan kembali diantar oleh Paman & Bibi saya menuju Bandara Jambi, Pkl 12.40 WIB akhirnya seluruh rombongan sudah on-board dalam pesawat dan heading back to Jekardah ! Alhamdulillah. Berakhir sudah perjalanan kami beranjangsana ke tanah tertinggi di Pulau Sumatera dengan begitu banyak cerita serta kenangan yang menyertai untuk di-share.

Spoiler for Foto Keluarga Wajib di Tugu Macan:

Diubah oleh abumusyaffa
Terima Kasih kami sampaikan kepada :

1. ALLAH SWT yang Maha Kuasa, Yang Memudahkan dan Memberkahi perjalanan kami, sehingga tujuan besar dari perjalanan kami tercapai yaitu “Semua Peserta Kembali ke Rumah Masing-Masing dengan Selamat dan dapat menceritakannya kembali kepada yang lain.. “.

2. Orang Tua dan Keluarga kami yang tak pernah berhenti mendo’akan setiap perjalanan kami.

3. Keluarga Bpk Said/Ibu Lily, atas jamuannya yang sangat luar biasa selama transit kami di Kota Jambi.

4. Keluarga Besar KASKUS OANC atas inspirasi, keramahan dan kehangatan interaksinya.

5. Keluarga Besar Komunitas Pecinta Alam Warna-Warni (KPAWW), organisasi sederhana tempat dimana kami banyak berdinamisasi terkait kegiatan di alam bebas, khususnya pendakian gunung, terkhusus Sdr. Sumedi Faiska, rekan KPAWW yang berdiam di Jambi, yang telah mengatur akomodasi perjalanan team sedemikian rupa.

6. SEKBER PA KERINCI, MAKOPALA DIMITRI dan MAPALA STAIN KERINCI atas perbantuannya yang sangat luar biasa ketika momen-momen musibah menimpa salah seorang peserta di Pos 3.

7. Ibu Jus dan keluarga yang berdiam di BASECAMP Kerinci atas tempat istirahat yang penuh kehangatan dan keakraban, tempat bersih-bersih serta sajian makannya yang maknyus.

8. Bang Levi, Murdam dkk, Para Ranger Gunung Kerinci, yang sudah sedikit direpotkan untuk mengecek dan memastikan kondisi rombongan kami selama musibah di Pos 3.

9. Seluruh pihak yang telah membantu baik secara langsung ataupun tidak langsung untuk kelancaran perjalanan kami.


+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Rincian Biaya :

1. Tiket Pesawat Terbang CITILINK (Return Ticket/PP) Jakarta-Jambi-Jakarta : Rp. 960.000,-

2. Carter Elf Safa Marwa PP : Kota Jambi – Sungai Penuh – Kota Jambi = Rp.2.200.000 (Kapasitas Normal 11 Seats dengan tarif umum Rp.120.000/orang atau Discount Rp.440.000).

3. Ongkos Tambahan Elf dari Sungai Penuh langsung ke Basecamp Kersik Tuo : Rp.300.000,-

4. Carter Angkot Basecamp Kersik Tuo – Pintu Rimba : Rp.100.000 (14 orang full + keril).

5. Carter Angkot Basecamp Kersik Tuo – Sungai Penuh : Rp.10.000/orang

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Tambahan Gallery Photo :

Spoiler for Old Soldiers Never Die.. They Just Fade Away:

Spoiler for Turun yuk gan:

Spoiler for Jalur menuju Top Kerinci dari Shelter 3:


Diubah oleh abumusyaffa
Nice trip bro emoticon-Smilie
mungkin bisa ditambahkan informasi biaya2 perjalanannya emoticon-Smilie

saya kekerinci sekitar 7tahun lalu emoticon-Smilie insyallah agustus ini akan kesana jika memang diizinkan Tuhan lagi emoticon-Big Grin

Quote:


Siap, rencananya begitu bro.. Besok sy tambahkan emoticon-Smilie

ah kerinci, semoga saja bisa kesana menjejakan dengkul kopong ini
mantaapp ... kerinci....sayang sekarang udah rame ga kaya pertama2 naik dulu, bisa cuma berdua di gunung emoticon-Big Grin

selamat ya om trip nya emoticon-Selamat emoticon-Selamat
uuppss....dopost....emoticon-Embarrassment
Diubah oleh 911gt2
Quote:


kan gak tiap hari juga ramenya..
hehehe..

kalau musim liburan pasti rame..
habis lebaran dan 17agustus-an
Quote:


Aamiin.. ayok gan semangat ! emoticon-I Love Indonesia (S)

Quote:


Makasih um.. ketika kami kesana memang ruame pake bingits !

woh ada si salva emoticon-Embarrassment , tongsisholic emoticon-Hammer2

semoga dapet rejeki buat ke kerinci tahun depan emoticon-Malu (S)
Diubah oleh rorronoa
emoticon-Embarrassment udah release pendakian atap sumatranya paman
tapi lagi lagi saya ditinggal
nice trip dan manstap cerita perjalanannnya , poto2nya juga keren emoticon-Shakehand2

Mantep tritnya om Rudy.
Makin tinggi aja ni gunungnya. emoticon-Stick Out Tongue
Udah lama bener ditunggu nih ceritanye. Tua-tua KELADI!!
selamat bro ditunggu yg bisa jalan barengnya nihhh achhh emoticon-Shakehand2
selamet tripnyah om...emoticon-Selamatemoticon-Selamat
gagal merapat , bocah masih seuprit emoticon-No Hope
emoticon-No Hope next time I'll be there emoticon-I Love Indonesia (S)emoticon-I Love Indonesia (S)

Numpang Mejeng Gaan,...

Spoiler for Pintu Rimba:
Diubah oleh kura2sabarand
emoticon-Matabelo
belum dapet kesempatan ke sini emoticon-Mewek
Barakallah, selamat bang.

Kerinci memang selalu menggoda bang,

dah 14 tahun berlalu saya terakhir kesana, mudah mudahan kalo ada kesempatan lagi ke kerinci bisa bersama keluarga..
Quote:


wah, kenal dengan Salva juga toh... hehe. Tongsis-nya sempat hilang waktu di kerinci emoticon-Big Grin

Quote:


Terima kasih paman... , pamannya sibuk terus sih jadinya sayanya segan tuk ngajak emoticon-Malu (S)

Quote:


Aih.. ada kk sesepuh Traveller Kaskus , jadi malu emoticon-Malu (S)

Quote:


Makasih kakak suniyor ... next time boleh lah jalen bareng ya kong emoticon-Big Grin

Quote:


Iyah paman.. terima kasih, siipp..keluarga adalah hal yg utama emoticon-I Love Indonesia (S)

Quote:


Jyaaaahhhh... dia nebar pesona dimarih emoticon-Mad (S)

Quote:


Semangat paman emoticon-I Love Indonesia (S)

Quote:


Aamiin, terima kasih

Iya om.. pesonanya memang teramat menggoda emoticon-Malu (S)

Halaman 1 dari 3


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di