alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Debate Club /
[HOLY] Anda Bertanya, Muslim Menjawab - Part 26
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/000000000000000015879450/holy-anda-bertanya-muslim-menjawab---part--26

[HOLY] Anda Bertanya, Muslim Menjawab - Part 26

Tampilkan isi Thread
Thread sudah digembok
Halaman 600 dari 1536
Gan izin nanya dong, ane penasaran sama nabi muhammad saw kenapa menikahi perempuan dibawah umur? Secara fisik dan mental kan belum siap. Sekedar pengen tau emoticon-Big Grin
udah udah
tidur tidur
udah malam!!

besok lanjut lagi
Quote:

Bengal ya dulunya emoticon-Ngakak

emoticon-Ngakakemoticon-Ngakak
salaam emoticon-Smilie

Quote:


... النارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوا وَعَشِيا وَيَوْمَ تَقُومُ الساعَةُ

mohon penjelasan mengenai pagi dan petang ... bukankah Firaun telah mati ribuan tahun yg lalu?

disebutkan selanjutnya ... "dan pada hari terjadinya Kiamat" ... apakah ini kejadian selanjutnya atw berbarengan dengan "pagi dan petang" yg disebutkan sebelumnya?
Diubah oleh dionysusxxyyzz
Quote:



junk opo mas?
lha aku bkan mbak emoticon-Cape d... (S)
Quote:


Allah mengkabarkan ttg kejadian gaib dialam kubur.Bahwa Firaun menapat siksa dialam kubur hingga kelak kiamat saatnya manusia dibangkitkan dari alam kubur.
Quote:


he he he ... emoticon-Big Grin

beberapa orang menolak karena menolak penjelasan Rasul dan para Sahabat ...

bukan sy yg anti maksud, toh? emoticon-shakehand emoticon-Smilie
Assalamualaikum WB.

Terima kasih yang berbagi cendol ke we,

Quote:


Tertawanya jangan gede2 nanti bau jigong kedenger sama we emoticon-Shutup (S)

Quote:

Kalau di Hadis banyak nyebut azab kubur,
ada kata2 kubur kubur dan kubur bukan kata anu anu dan anu emoticon-Hammer2

Pembanding ini bener ndak ya
http://www.kaskus.co.id/show_post/00...0639703488/133
http://www.kaskus.co.id/show_post/00...0639705105/134

Kalau we percaya adanya azab kubur emoticon-No Sara Please

Quote:


ha ha ha ... quite odd indeed ...

arabic → english → indonesian ... to understand arabic! emoticon-Big Grin emoticon-Big Grin

The Fire; they are exposed to it morning and evening.

In front of the Fire will they be brought, morning and evening

the 1st construction is in PRESENT TENSE ! ! and the 2nd (Yusuf Ali) add "will they be" ? ? ? which has no place in the original arabic

random picked by feeling? emoticon-Big Grin
Quote:


Sabda Nabi "Seluruh Bid'ah Sesat, Adalah Lafal Umum Tapi Terkhususkan"
Quote:


Hmmmmm.. Gitu ya gan...

Jadi kalau hati seorang yang bersih itu berhak dan punya wewenang untuk membuat-buat syariat baru yang tidak Allah dan Rasul-Nya tetapkan ya gan ?

Kalau begitu Hati Nabi shalallahu alaihi wasallam dan para sahabat-nya tidak ada yang bersih ya kalau begitu...

Bukti-nya mereka ngak ada merayakan tahun baru, isra' mi'raj, nuzul Quran, maulid-tan dLL yang dianggap bid'ah hasanah sekarang ini.....

Atau Nabi shalalallahu alaihi wasallam tidak tau bid'ah itu baik ?

Atau tau baik tapi males melakukan, menyampaikan dan mengajarkan kepada umat bahwa kebaikan tersebut ?

‘Umar bin Al Khottob berkata,

اجتنبوا أعداء الله في عيدهم


“Jauhilah musuh-musuh Allah di perayaan mereka” (HR. Al Baihaqi, dengan sanad shahih).

ternyata umar berhati picik menurut anda emoticon-Berduka (S)
Quote:


yang nentuin hasanah tidak-nya siapa ya ?

bena ziarah kubur untuik mrngingatkan kematian, ana setuju. tapi kalau kekuburan minta dido'akan sama yang udah mati gimana ya....?
Quote:


emang ada ya zikir ya diajarkan Nabi Shalallahu alaihi wasallam sampai 1000x...?

ngakunya kan aswaja, pasti amalan-nya sesuai sunnah donk

bagi donk gan ana dalil-nya, mana tau besok-besok ini ana bisa ngamalin-nya juga
Quote:


Hmmm.
yang ditanyakan sering banget terjadi di daerah saya gan
banyak orang dari jauh2 untuk ziarah sunan (wali 9)
ketika suatu hari saya iseng2 tanyain katanya supaya doanya terkabul
minta didoakan sama sunan (wali 9).
dalam hati jadi bertanya emag orang mati bisa ngedoain orang yang masih hidup ya emoticon-Big Grin
Quote:


dulu waktu Nabi shalallahu alaihi wasallam masih hidup, ada yang memerintahkan untuk menyelisihi syri'at orang-orang kufar dengan cara diganti syariat baru....

kalau sekarang siapa ya yang berwenang mengantikan kedudukan nabi dalam menetapkan syariat baru...?

Quote:


ada banbyak hadits yang membicarakan tentang siksa kubur, satu diantaranya

Rasulullah shallallaahu ’alaihi wassallam bersabda :

اسْتَعِيْذُوا بِاللهِ مِنْ عَذَابِ اْلقَبْرِ , قَالَتْ : قلْتُ : يَا رَسُولَ اللهِ ! وَ إِنهُمْ لَيُعَذبُوْنَ فِىْ قُبُوْرِهِمْ ? قَالَ : نَعَمْ عَذَابا تَسْمَعُهُ اْلبَهَائِمَ


“Berlindunglah kalian kepada Allah dari adzab qubur”. Berkata Ummu Mubasyir : “Wahai Rasulullah, apakah mereka akan diadzab di kubur mereka ?”. Beliau menjawab : “Ya, (mereka diadzab dengan) adzab yang dapat didengar oleh binatang-binatang” [Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban no. 787, Ahmad 6/362, dan yang lainnya. Lihat Silsilah Ash-Shahiihah no. 1444 oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah].

jika anda termasuk beriman kepada As-Sunnah, ana rasa cukup itu dijadikan pegangan. kalau ingkar Sunnah ya apa boleh buat

Hati-hati Manhaj Salaf/Salafi/Salafiah Palsuh nan Bauk Amis Darah



Siapakah sebenarnya kelompok yang mengklaim sebagai ‘Salafi’ yang akhir-akhir ini mulai marak? Kelompok yang sekarang mengaku-aku sebagai Salafi ini, dahulu dikenal dengan nama Wahabi. Tidak ada perbedaan antara Salafi yang ini dengan Wahabi. Kedua istilah itu ibarat dua sisi pada sekeping mata uang. Satu dari sisi keyakinan dan padu dari segi pemikiran. Sewaktu di Jazirah Arab mereka lebih dikenal dengan Wahhabiyah Hanbaliyah. Namun, ketika diekspor ke luar Saudi, mereka mengatasnamakan dirinya dengan ‘Salafi’, khususnya setelah bergabungnya Muhammad Nashiruddin al-Albani, yang mereka pandang sebagai ulama ahlihadis.

Pada hakikatnya, mereka bukanlah Salafi atau para pengikut Salaf. Mereka lebih tepat jika disebut Salafi Wahabi, yakni pengikut Muhammad ibnu Abdul Wahab yang lahir di Uyainah, Najd, Saudi Arabia tahun 1115 Hijriah (1703 Masehi) dan wafat tahun 1206 Hijriah (1792 Masehi). Pendiri Wahabi ini sangat mengagumi Ibnu Taimiyah, seorang ulama kontroversial yang hidup di abad ke-8 Hijriyah dan banyak mempengaruhi cara berpikirnya (Lihat: Muhammad Abu Zahrah: Tarikh al-Mazhahib al-lslamiyah al-Fiqhiyah, Dar al-Fikr al-Arabi, Cairo, h. 232).

Wahabi berganti baju menjadi Salafi atau terkadang “Ahlussunnah” -yang seringnya tanpa diikuti dengan kata “wal Jamaah”-, karena mereka merasa risih dengan penisbatan tersebut dan mengalami banyak kegagalan dalam dakwahnya. Hal itu diungkapkan oleh Prof. Dr. Sa’id Ramadhan al- Buthi dalam bukunya, as-Salafiyah Marhalah Zamaniyah Mubarakah La Madzhab Islami. Dia mengatakan bahwa, Wahabi mengubah strategi dakwahnya dengan berganti nama menjadi “Salafi” karena mengalami banyak kegagalan dan merasa tersudut dengan panggilan nama Wahabi yang dinisbatkan kepada pendirinya, yakni Muhammad ibnu Abdul Wahab.Apalagi, para ulama berhasil menguak borok dan penyimpangan Wahabi. Di antara para ulama yang telah membuka kedok Salafi Wahabi yaitu al-Allamah al-Kautsari, al-Allamah al-Qusyalri, Mufti Mesir; Syaikh Prof. Dr. Ali Jum’ah, al-Muhaddtis Sayyid Muhammad al-’Alawi al-Maliki, Syaikh Hasan ibnu Ali Assegaf, Syaikh Ahmad al-Ghimari, Syaikh Abdullah al-Harari, dan Iain-Iain. Oleh karena itu, sebagian kaum muslimin menamakan mereka dengan Salafi Palsu atau Mutamaslif.

Untuk menarik simpati umat Islam, Wahabi berupaya mengusung platform dakwah yang sangat terpuji yaitu, memerangi syirik, penyembahan berhala, pengkultusan kuburan, dan membersihkan Islam dari bid’ah dan khurafat. Namun mereka salah kaprah dalam penerapannya, bahkan dapat dibilang, dalam banyak hal mereka telah keluar dari ajaran Islam itu sendiri. Persis seperti ungkapan Sayyidina Ali ketika menumpas kaum khawarij , “Qaul al-Haq yuradu bihi al-bathil” (kalimat yang benar tapi digunakan untuk kebathilan). Para sahabat nabi SAW, imam madzhab, ulama salaf, dan umat islam yang tidak sejalan dengan mereka dikafirkan bahkan tak segan mereka bunuh (Lihat: Aqidah ahl as-Sunnah wa al-Jama’ah, Hasan bin Ali as-Saqqaf , Dar al-Imam an-Nawawi cetakan pertama hal. 213).

Tidak ada satu pun riwayat shahih yang sampai kepada kita menerangkan bahwa ada di antara para sahabat Nabi Saw., ulama salaf dan imam mujtahid (Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, Ahmad ibnu Hanbal, Imam Tsauri dan lainnya) yang menyebut diri mereka dan para pengikutnya sebagai kelompok Salafi. Hingga para Imam ahli hadis sekalipun -seperti Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Dawud, Imam At-Tirmidzi, dan yang lainnya-, tidak ada yang menyebut dirinya sebagai Salafi.

Sebagai sebuah bahasa, kata “salaf’ -yang berarti pendahulu sudah lama muncul dalam khasanah perbendaharaan kata dalam agama Islam, bahkan sejak zaman Nabi Saw., tetapi tidak untuk arti “sekelompok orang yang memiliki keyakinan sama” atau sebuah mazhab dalam Islam. Sebagai contohnya, lihat saja misalkan ucapan salam yang diajarkan Nabi Saw. kepada umatnya saat berziarah kubur yaitu, “Assalamu’alaikum ya ahla al-qubur yaghfirullahu lana wa lakum antum salafuna wa nahnu bi al-atsar: keselamatan untuk kalian wahai ahli kubur, semoga Allah mengampuni kami dan kalian, kalian adalah para pendahulu kami, sedangkan kami nanti pasti akan menyusul.” (HR. Tirmidzi dan Thabarani bab Ma Yaqul ar-Rajul Idza Dakhal al-Maqabir 4/208 no. 975. Ath-Thabarani: al-Mu’jam al-Kabir bab 3, 10/254 no. 12447). Dalam hadis ini tertera kata “salaf’ yang artinya “para pendahulu”.

Adapun awal mula munculnya “Salafi” sebagai istilah adalah di Mesir, setelah usainya penjajahan Inggris. Tepat- nya, saat muncul gerakan pembaruan Islam (al-ishlah ad- dtni) yang dipimpin oleh Jamaluddin al-Afghani dan muridnya, Muhammad Abduh, di akhir abad ke-19 Masehi, yang dikenal dengan gerakan Pan Islamisme. Untuk menumbuhkan rasa patriotisme dan fanatik yang tinggi terhadap peijuangan umat Islam saat itu, di samping dalam rangka membendung pengaruh sekulerisme, penjajahan dan hegemoni Barat atas dunia Islam, Muhammad Abduh mengenalkan istilah “Salafi”.

Lalu, dari manakah munculnya istilah “Salafi” untuk menggelari orang yang mengklaim dirinya sebagai satu- satunya penerus ajaran as-salafu ash-shalih, yakni para sahabat, tabiln dan tabi’at-tabim? Yang jelas, bukan dari sahabat Nabi Saw., bukan dari para ulama salaf terdahulu, bahkan bukan pula dari para imam ahli hadis sekalipun. Nashiruddin al-Albani lah yang pertama kali mempopulerkan istilah SALAFI ini, sebagaimana terekam dalam sebuah dialognya dengan salah satu pengikutnya, yaitu Abdul Halim Abu Syuqqah, pada bulan Juli 1999/Rabiul Akhir 1420 H (Lihat Majalah As-Sunnah edisi 06\IV\1420, h. 20-25.)

Seiring dengan kelihaiannya dalam ‘mengaduk-aduk’ hadis emoticon-Ngakak (S), Albani sebagai pendatang baru di ranah Wahabi, juga lihai dalam meracik nama baru untuk me-refresh dan meremajakan faham yang kian memiliki image negatif di dunia Islam itu. Dia sangat berjasa bagi kelanjutan dakwah Salafi Wahabi dengan ide istilah “salafi”-nya itu.

Yang patut direnungkan, bukankah penggunaan istilah seperti itu juga merupakan “hal baru dalam agama” alias bid’ah, suatu kata yang selalu mereka dengung-dengungkan dalam menghantam umat Islam?

Spoiler for Baca Selengkapnya disini gan:


siapa di sini pengikut mazhab imam syafi'i tunjuk tangan emoticon-Request

Kegiatan tahlilan marak dilakukan oleh sebagian orang yang ingin mendoakan agar amal ibadah yang bersangkutan diterima oleh Allah Subhanahu wa ta’ala.

Saya tidak ingin berpolemik dengan membahas tentang si orang penting ini, tetapi ingin sekedar membagi yang saya baca, mengenai prosesi tahlilan tersebut. Benarkah amaliah ini benar-benar di syariatkan oleh agama ini? Dan benarkah bahwa imam Syafi’i yang diklaim sebagai madzab yang diikuti oleh sebahagian besar oleh umat Islam di negeri ini menganjurkannya atau justru MELARANGNYA?

Dalam sebuah kitab kecil, selamatan kematian atau yang biasa kita sebut tahlilan dibahas secara singkat dan padat, khususnya dari pandangan imam Syafi’i sendiri. Tujuannya adalah untuk meluruskan pemahaman yang keliru dari kegiatan ini.

Ternyata kegiatan tahlilan ini dari sejak jaman sahabat dianggap sebagai kegiatan meratap yang dilarang oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam.

Dari Jabir bin Abdillah Al Bajaliy, ia berkata:”Kami (yakni para Sahabat semuanya) memandang/menganggap (yakni menurut mazhab kami para Sahabat) bahwa berkumpul-kumpul di tempat ahli mayit dan membuatkan makanan sesudah ditanamnya mayit termasuk dari bagian meratap.”

Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Ibnu Majah (no 1612) dengan derajat yang shahih.

Dan an niyahah/ meratap ini adalah perbuatan jahiliyyah yang dilarang oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam;

Diriwayatkan dalam sahih Muslim dari Abu Hurairah radiyallahu anhu. bahawa Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda:

“Ada dua perkara yang masih dilakukan oleh manusia, yang kedua duanya merupakan bentuk kekufuran: mencela keturunan, dan meratapi orang mati”.





Pandangan Imam Syafii.


Nah, bagaimana dengan pandangan imam Syafii sendiri –yang katanya- mayoritas ummat Islam di Indonesia bermadzab dengannya, apakah ia sepakat dengan kebanyakan kaum muslimin ini atau justru beliau sendiri yang melarang kegiatan tahlilan ini?

Didalam kitab al Umm (I/318), telah berkata imam Syafii berkaitan dengan hal ini;

“Aku benci al ma’tam, yaitu berkumpul-kumpul di rumah ahli mayit meskipun tidak ada tangisan, karena sesungguhnya yang demikian itu akan memperbahrui kesedihan.”

Jadi, imam Syafii sendiri tidak suka dengan kegiatan tahlilan yang dilakukan sebagaimana yang banyak dilakukan oleh ummat Islam sendiri.

Membaca Al Qur’an untuk orang mati (menurut Imam Syafi’i).

Dalam Al Qur’an, di surat An Najm ayat 38 dan 39 disebutkan disana;

[53.38] (yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain,

[53.39] dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.

Berkaitan dengan hal ini maka Al Hafidh Ibnu Katsir menafsirkannya sebagai berikut;

“Yaitu, sebagaimana seseorang tidak akan memikul dosa orang lain, demikian juga seseorang tidak akan memperoleh ganjaran/pahala kecuali apa-apa yang telah ia usahakan untuk dirinya sendiri.

Dan dari ayat yang mulia ini, al Imam Asy Syafii bersama para ulama yang mengikutinya telah mengeluarkan suatu hukum: Bahwa Al Qur’an tidak akan sampai hadiah pahalanya kepada orang yang telah mati.

Karena bacaan tersebut bukan dari amal dan usaha mereka. Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam tidak pernah mensyariatkan umatnya (untuk menghadiahkan bacaan Qur’an kepada orang yang telah mati) dan tidak juga pernah menggemarkannya atau memberikan petunjuk kepada mereka dengan baik dengan nash (dalil yang tegas dan terang) dan tidak juga dengan isyarat (sampai-sampai dalil isyarat pun tidak ada).

Dan tidak pernah dinukil dari seorang pun Sahabat (bahwa mereka pernah mengirim bacaan Al Qur’an kepada orang yang telah mati).

Kalau sekiranya perbuatan itu baik, tentu para Sahabat telah mendahului kita mengamalkannya.

Dan dalam masalah peribadatan hanya terbatas kepada dalil tidak bileh dipalingkan dengan bermacam qiyas dan ra’yu (pikiran).”

Jadi, dari keterangan ibnu Katsir ini jelas bahwa perbuatan membaca Al Qur’an dengan tujuan pahalanya disampaikan kepada si mayit tidak akan sampai, dan demikianlah pandangan ulama besar yang dianut oleh sebahagian besar kaum muslimin di negeri ini.

Lantas, mengapa mereka berbeda dengan imam mereka sendiri?

Wallahu a’lam.

emoticon-No Sara Please
Dari Sa’id bin Musayyab Radhiyallahu ‘anhu, bahwa dia melihat seseorang mengerjakan lebih dari dua rakaat shalat setelah terbit fajar. Lalu beliau melarangnya. Maka orang tersebut berkata, “Wahai Abu Muhammad (nama panggilan Sa’id bin Musayyab), apakah Allah akan menyiksa saya karena shalat?” Ia menjawab : “Tidak, tetapi Allah akan menyiksa kamu karena menyalahi Sunnah”

Diriwayatkan oleh Nafi’ Radhiyallahu ‘anhu, “Seseorang bersin di samping Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhu, lalu ia berkata, ‘Alhamdulillah wassalamu ‘ala Rasulih (segala puji bagi Allah dan kesejahteraan kepada RasulNya)’. Maka Ibnu Umar berkata, “Dan saya mengatakan, Alhamdulillah wassalamu ‘ala Rasulillah. Tetapi tidak demikian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kami. Beliau mengajarkan agar kami mengatakan, “Alhamdulillah ‘ala kulli hal” (segala puji bagi Allah dalam segala hal)

Sufyan bin Uyainah berkata, “Saya mendengar bahwa seseorang datang kepada Malik bin Anas Radhiyallahu ‘anhu lalu berkata, “Wahai Abu Abdullah (nama panggilan Malik), dari mana saya ihram?” Ia berkata, “Dari Dzulhulaifah, tempat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ihram” Ia berkata, “Saya ingin ihram dari masjid dari samping makam (nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam), “Ia berkata, “Jangan kamu lakukan. Sebab saya mengkhawatirkan engkau tertimpa fitnah”, Ia berkata, “Fitnah apakah dalam hal ini? Karena aku hanya menambahkan beberapa mil saja!” Ia berkata, “Fitnah manakah yang lebih besar daripada kamu melihat bahwa kamu mendahului keutamaan yang ditinggalkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam? Sesungguhnya Allah berfirman, “Maka hendaklah orang –orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa adzab yang pedih
gw yakin pasti ada yang mendebat ini tapi tenang cuma di suruh berhati hati sama mereka emoticon-Takut (S)



apabila kalian melihat orang-orang yg memperdebatkannya, maka mereka itulah yg dimaksudkan Allah, maka berhati-hatilah terhadap mereka. ( ibnumajah 46 )

emoticon-Big Grin emoticon-No Sara Please
Quote:


Quote:


dijawab ama tuhannya anak ayam:

Quote:


Halaman 600 dari 1536
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di