alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5085767ae874b4e206000014/lalitavistara-dalam-relief-borobudur
Lalitavistara dalam relief Borobudur
NAMO SAKYAMUNI BUDDHAYA

Lalitavistara dalam relief Borobudur


Thread ini akan mendokumentasikan relief Borobudur yang berasal dari kitab Lalitavistara, yang menceritakan Riwayat Hidup Buddha.
Setiap relief akan diberi keterangan dan narasi, jadi mirip buku cerita bergambar untuk anak-anak.

Tujuan dibuatnya thread ini:
1. Berbagi keindahan relief Borobudur dengan artinya
2. Mendokumentasikan relief Borobudur supaya tidak hilang ditelan zaman
3. Menerjemahkan ke bahasa Indonesia material berbahasa Inggris
4. Meluruskan pandangan salah sekelompok orang (you know who laaah)


Referensi:
Galeri Lalitavistara di Borobudur di photodharma.net
Tipitakadhara Mingun Sayadaw. (2008). RIWAYAT AGUNG PARA BUDDHA 1. Ehipassiko Foundation & Giri Mangala Publications
Tipitakadhara Mingun Sayadaw. (2008). RIWAYAT AGUNG PARA BUDDHA 2. Ehipassiko Foundation & Giri Mangala Publications
Tipitakadhara Mingun Sayadaw. (2008). RIWAYAT AGUNG PARA BUDDHA 3. Ehipassiko Foundation & Giri Mangala Publications
Rangkuman lalitavistara
Lalitavistara di Borobudur
Light of Asia. (1879). Sir Edwin Arnold. Buddha Dharma Education Association. Buddhanet (PDF)
The Life of Buddha by Andre Ferdinand Herold [1922], tr. from the French by Paul C. Blum [1927]

Lalitavistara: Riwayat Hidup sang Buddha seperti dikisahkan pada relief Candi Borobudur. (2011). Titus Leber. PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko & Kepustakaan Populer Gramedia.

LALITAVISTARA SUTRA. Jilid I (2012). Upashaka Pandita Sumatijnana. LAUT WANGI PUBLISHING
LALITAVISTARA SUTRA. Jilid II (2013). Upashaka Pandita Sumatijnana. LAUT WANGI PUBLISHING

Semua tulisan diadaptasi dari sumber yang valid, namun harap dimengerti jika ada yang tidak akurat karena diambil dari sumber berbeda, dan memang sengaja disederhanakan supaya lebih nikmat dibaca.


ENJOY!


--------------
Kalau suka, mohon di rate + cendol. Itu aja sih....

Lalitavistara dalam relief Borobudur
Bala tentara MARA menyerang Pertapa Gautama di bawah pohon Bodhi


======

Buku ini sudah ada versi lengkapnya yang dikerjakan oleh Ehipassiko Foundation, dan tersedia dalam dwibahasa Inggris dan Indonesia
Tersedia gratis dan dapat dibaca melalui:

Reading Lalitavistara Online Book

reserved for index1

Lalitavistara dalam relief Borobudur

Lalitawistara (sansekerta) / 方廣大莊嚴經 Fāngguǎng dà zhuāngyán jīng (mandarin) / rgya cher rol pa (Tibetan)

Merupakan penggambaran riwayat Sang Buddha dalam deretan relief-relief (tetapi bukan merupakan riwayat yang lengkap ) yang dimulai dari turunnya Sang Buddha dari sorga Tusita, dan berakhir dengan wejangan pertama di Taman Rusa dekat kota Banaras. Relief ini berderet dari tangga pada sisi sebelah selatan, setelah melampui deretan relief sebanyak 27 pigura yang dimulai dari tangga sisi timur. Ke-27 pigura tersebut menggambarkan kesibukan, baik di sorga maupun di dunia, sebagai persiapan untuk menyambut hadirnya penjelmaan terakhir Sang Bodhisattwa selaku calon Buddha. Relief tersebut menggambarkan lahirnya Sang Buddha di arcapada ini sebagai Pangeran Siddhartha, putra Raja Suddhodana dan Permaisuri Maya dari Negeri Kapilawastu. Relief tersebut berjumlah 120 pigura, yang berakhir dengan wejangan pertama, yang secara simbolis dinyatakan sebagai Pemutaran Roda Dharma.

Lalitavistara Sutra itu sendiri ditulis sekitar abad pertama sampai abad ketiga Masehi. Di dalam kitab ini terdapat beberapa aspek yang tua yang berasal dari legenda lisan, dan juga elemen-elemen yang berkembang belakangan yang tidak terdapat di versi riwayat Buddha yang lebih tua. Kitab ini sangat terkenal di kalangan Buddhis Mahayana dan Wajrayana, tetapi tidak diketahui Buddhisme Therawada. Di antara semua seri relief Borobudur, identifikasi relief Lalitavistara adalah yang paling lengkap.

The Lalitavistara Sutra (English: Extensive Sport Sutra) is a Mahayana Buddhist Vaipulya sutra that describes the sports (lila) of Gautama Buddha. It is a compilation of various works by no single author and includes some material from the Sarvastivada school. The scholar P. L. Vaidya dates the finished Sanskrit text to the third century.
This title refers to the idea that the Buddha’s last incarnation was a performance intentionally given to enlighten mankind.

1: The Prelude to the Birth of Buddha (panels 1-15)
2: The Birth and Early Life of Buddha (panels 16-45)
3: Buddha's Marriage and Renunciation (panels 46-75)
4: The Buddha's Awakening (panels 76-105)
5: The Preaching of the First Sermon (panels 106-120)

Lalitavistara dalam relief Borobudur

Spoiler for PETA RELIEF (BWK):


DAFTAR ISI

Persiapan sebelum kelahiran Buddha
Relief 1. Bodhisattva di surga Tusita
Relief 2. Bodhisattva mengumumkan bahwa beliau akan lahir di alam manusia
Relief 3. Para Dewa mengunjungi tanah India.
Relief 4. Pratyeka Buddha meninggalkan dunia
Relief 5. Sang Bodhisattva mengajar Dharma kepada para Dewa
Relief 6. Bodhisattva memberikan mahkota-Nya kepada penerusnya, Maitreya.
Relief 7. Bodhisattva berkonsultasi dengan para dewa
Relief 8. Percakapan Ratu Maya dengan raja
Relief 9. Para dewi mengunjungi Ratu Maya

Relief 10. Para dewa memutuskan untuk mengikuti Bodhisattva turun ke dunia
Relief 11. Para Bodhisattva dari sepuluh penjuru mata angin menghormati Calon Buddha.

Relief 12. Bodhisattva turun ke dunia
Relief 13. Bodhisatva memasuki rahim Ratu Maya.

Relief 14. Bodhisattva di dalam rahim Ratu Maya
Relief 15. Ratu Maya pergi menemui Raja di taman Asoka.
Relief 16. Raja Suddhodana menemui Ratu Maya.


Kelahiran dan masa muda Bodhisattva
Relief 17. Ratu menceritakan mimpinya dan meminta penafsiran
Relief 18. Para Brahmana menafsirkan mimpi ratu
Relief 19. Raja memberikan hadiah kepada para brahmana

Relief 20. Para dewa membangun Istana
Reliefs 21. Ratu Maya berada di lebih dari satu istana
Relief 22. Ratu Maya menyembuhkan orang sakit

Relief 23. Suku Sakya memberikan dana
Reliefs 24. Raja mengambil kehidupan suci sementara
Relief 25. Keajaiban di Kapilavastu

Relief 26. Ratu Maya mempersiapkan diri.
Reliefs 27. Ratu Maya pergi ke Taman Lumbini

Relief 28. Kelahiran Sang Bodhisattva
Relief 29. Perayaan dan Pemberian nama
Relief 30. Mahapapajapati Gotami mengasuh Pangeran Siddharta

Relief 31. Pertapa Asita meramalkan bahwa pangeran akan menjadi Buddha
Relief 32. Para dewa menghormati Siddharta
Relief 33. Raja diminta membawa Siddharta ke Kuil
Relief 34. Arak-arakan ke Kuil
Relief 35. Patung dewa menghormati Siddharta

Relief 36. Para bangsawan mempersembahkan perhiasan
Relief 37. Siddharta pergi ke sekolah
Relief 38. Siddharta belajar di ruang kelas

Relief 39. Siddharta pergi ke desa
Relief 40. Siddharta bermeditasi di bawah pohon jambu

Relief 41. Klan Sakya meminta agar Bodhisattva menikah
Relief 42. Memberikan cincin ke Gopa

Relief 43. Siddharta setuju untuk ikut dalam kompetisi
Relief 44. Devadatta membunuh seekor gajah
Relief 45. Siddharta menyingkirkan mayat gajah


Pernikahan Bodhisattva dan Melepaskan keduniawian
Relief 46. Siddharta memenangkan kompetisi matematika
Relief 47. Siddharta memenangkan kontes
Relief 48. Siddharta memenangkan kontes lain
Relief 49. Siddharta memenangkan kompetisi memanah
Relief 50. Gopa setuju untuk menikahi Bodhisattva
Relief 51. Gopa dan Siddharta di Istana
Relief 52. Siddharta mengingat kehidupan yg lampau
Relief 53. Para dewa mengingatkan Siddharta tentang tugas-Nya
Relief 54. Siddharta diberikan tiga buah istana
Relief 55. Siddharta dijaga dalam istana
Relief 56. Siddharta melihat orang tua
Relief 57. Siddharta melihat orang sakit
Relief 58. Siddharta melihat orang mati
Relief 59. Siddharta melihat seorang pertapa
Relief 60. Gopa menceritakan mimpi buruknya

reserved for index2

akan memuat:

1. Cara benar membaca relief
2. Perbandingan Penggambaran kelahiran Siddharta antara Borobudur dan negara lain
3. Perbandingan ringkasan disini dan kitab aslinya
4. Daftar istilah


5. Sekilas Proses Pengerjaan

Quote:Original Posted By xenocross
berikut sekilas proses pengerjaan

Naskah diambil dari kitab Lalitavistara yang asli
Lalitavistara dalam relief Borobudur


Dicocokkan dengan relief, lalu dirangkum supaya tidak terlalu panjang juga tidak terlalu pendek
Lalitavistara dalam relief Borobudur




Lalitavistara dalam relief Borobudur

relief 001

THE SCRIPTURE OF THE SAVIOUR OF THE WORLD,
LORD BUDDHA PRINCE SIDDHARTHA STYLED ON EARTH
IN EARTH AND HEAVENS AND HELLS INCOMPARABLE,
ALL-HONOURED, WISEST, BEST, MOST PITIFUL;
THE TEACHER OF NIRVANA AND THE LAW.


namaḥ sarvabuddhabodhisattvebhyaḥ / lalitavistaraḥ / om namo daśadiganantāparyantalokadhātupratiṣṭhita sarvabuddhabodhisattvāryaśrāvakapratyekabuddhebhyo 'tītānāgatapratyutpannebhyaḥ

LALITAVISTARA
Om Aku bersujud kepada semua Buddha Bodhisattva, para Pratyekabuddha serta para Sravaka yang bersemayam di sepuluh penjuru, di berbagai alam yang tiada terhitung, di semesta raya yang tak terbatas



Setelah melengkapi dirinya dengan Dasa-Paramita ( Sepuluh Kesempurnaan ) pada kehidupan terakhirnya sebagai (seorang manusia ) Pangeran Wessantara, Boddhisatta kita terlahir di alam surga Tusita bernama Dewa Setaketu. Dewa Setaketu, Bakal Buddha Gotama kita, menikmati kebahagiaan surgawi di surga Tusita selama 4.000 tahun surgawi yang sama dengan 576.000.000 ( lima ratus tujuh puluh enam juta ) tahun manusia. Kemudian, 1.000 tahun manusia sebelum kehidupannya di Surga Tusita berakhir, para Brahma dari alam Suddhavassasa berseru,”Teman-teman! Seribu tahun dari sekarang, akan muncul seorang Buddha di alam manusia!”



Relief 1.
Bodhisattva di surga Tusita

Lalitavistara, East Wall, Panel 1,
Lalitavistara dalam relief Borobudur

Sebelum kelahirannya yang terakhir dan pencerahan di bawah Pohon Bodhi, Sang Bodhisattva berdiam di istana megah di surga Tusita yang dipenuhi alunan delapan puluh empat ribu alat musik dan wangi aroma bunga mekar. Setelah dimuliakan dan dipuji oleh seratus ribu dewa, suara dari seratus milyar koti apsara berseru bersama-sama “Sekaranglah waktunya, jangan biarkan lewat sia-sia”
Mereka mengingatkan beliau bahwa setelah berkalpa-kalpa penyempurnaan diri, waktu bagi kelahiran terakhirnya telah tiba

Quote:“O, Boddhisatta Dewa, Engkau telah memenuhi Sepuluh Kesempurnaan, bukan untuk memberoleh kebahagiaan Sakka, Mara, Brahma, atau Raja Dunia. Engkau memenuhi Kesempurnaan ini dengan cita-cita hanya untuk mencapai Ke-Buddha-an, agar memperoleh Kebebasan, juga untuk membebaskan makhluk-makhluk lain, manusia, dewa dan Brahma. O, Boddhisatta dewa, ini adalah waktu yang paling tepat bagi-Mu untuk menjadi Buddha, ini benar-benar waktu yang tepat untuk menjadi Buddha! Oleh karena itu, sudilah Engkau masuk ke rahim ibu-Mu di alam manusia. Setelah mencapai Pencerahan-Sempurna, semoga Engkau juga membebaskan manusia, dewa, dan Brahma dari samsara dengan mengajarkan Dhamma Keabadian, Nibbana.

relief 002

Relief 2.
Bodhisattva mengumumkan bahwa beliau akan lahir di alam manusia

Lalitavistara, East Wall, Panel 2,
Lalitavistara dalam relief Borobudur

Setelah meninggalkan aula besar, Sang Bodhisattva pergi ke istana surgawi bernama Dharmoccaya, dimana dahulu para bodhisattva dari sepuluh penjuru melakukan meditasi khusuk. Segera setelah para apsara dan dewa-dewa minor pergi, diumumkan bahwa dalam waktu duabelas tahun Sang Bodhisattva akan memasuki rahim ibu-Nya.

relief 003

Reliefs 3
Para Dewa mengunjungi tanah India.

Lalitavistara, East Wall, Panel 3,
Lalitavistara dalam relief Borobudur

Para putra dewa turun ke tanah suci India dengan menyamar sebagai pendeta brahmana untuk mengajar para orang suci mengenai bagaimana Bodhisattva – setelah kelahirannya – akan mendapatkan tujuh permata seorang Raja Dunia (chakravartin)
”Tetapi jika Sang Bodhisattva meninggalkan kehidupan perumah-tangga dan mengembara sebagai pertapa tanpa rumah, beliau akan menjadi seorang Buddha – guru para dewa dan manusia dan pembabar dharma tiada tara yang tidak membutuhkan bantuan siapapun”, demikian para dewa menginstruksikan.
Reliefs 4
Pratyeka Buddha meninggalkan dunia

Lalitavistara, East Wall, Panel 4
Lalitavistara dalam relief Borobudur

Pada saat yang sama, para Putra Dewa lain mengunjungi para Pratyekabuddha yang suci untuk memberitahu mereka mengenai kelahiran Sang Bodhisattva. Untuk memberi jalan bagi Buddha yang akan datang, para Pratyekabuddha terbang ke dunia api, dimana mereka memasuki Nirvana.

Ketika para Dewa bertanya kepada Makhluk Agung, ke keluarga manakah Bodhisattva akan dilahirkan untuk terakhir kalinya, beliau menjawab bahwa pada kelahirannya yang terakhir, beliau harus lahir ke dalam keluarga yang diturunkan dari silsilah raja dunia, bebas dari kejelekkan paling kecil sekalipun dan diberkahi enam puluh empat kesempurnaan. Bodhisattva juga harus memasuki rahim seorang perempuan yang bebas dari semua kesalahan seorang perempuan dan diberkahi tiga puluh dua kualitas baik. Sebagai tambahan, Sang Bodhisattva di kelahirannya yang terakhir harus memasuki rahim ibu-Nya pada hari ke-15 ketika bulan purnama dan segaris dengan konstellasi Pusya (Cancer)
Setelah Sang Bodhisattva telah selesai menjabarkan enam puluh empat kesempurnaan keluarga yang akan dimasukinya, beserta tiga puluh dua kualitas baik ibu-Nya, para Dewa menyadari bahwa Bodhisattva akan terlahir di keluarga penguasa Kapilavastu, raja Suddhodana dan istrinya Ratu Mahamaya, di kota kaum Sakya.

Dan semakin mereka mengamati bumi Jambudvipa
Yang manakah dari para keluarga raja ksatria itu?
Seluruh anggota keluarga mereka lihat memiliki kesalahan,
kecuali hanya Sakya;
Inilah keluarga yang tanpa cela.

relief 005

Relief 5.
Sang Bodhisattva mengajar Dharma kepada para Dewa

Lalitavistara, East Wall, Panel 5
Lalitavistara dalam relief Borobudur

Setelah Sang Bodhisattva telah memastikan keluarga kelahiran yang terakhir, beliau kembali ke istana kristal surgawi dan duduk di singasana yang dihiasi buah-buah karma baiknya yang matang.
Beliau kemudian mulai membabarkan ajaran yang dinamakan “Napas kehidupan - 108 pintu berkilau untuk masuk ke dalam dharma” kepada kumpulan dewa-dewa Tusita.

Spoiler for cuplikan 108 pintu:

relief 006

Relief 6.
Bodhisattva memberikan mahkota-Nya kepada penerusnya, Maitreya.

Lalitavistara, East Wall, Panel 6
Lalitavistara dalam relief Borobudur

Para putra dewa menangis karena berpikir bahwa kediaman surgawi mereka tidak akan lagi bersinar setelah Bodhisattva tidak ada. Untuk menghentikan air mata mereka, Sang Bodhisattva berkata: “Lihatlah disini Bodhisattva Maitreya, Dia akan membimbingmu di dalam Dharma”. Melepaskan mahkotanya dari kepala, beliau menempatkannya di kepala Maitreya dan berkata, “Setelah aku, oh Maitreya yang mulia, Engkau akan mencapai Kebijaksanaan sempurna dan tertinggi”

relief 007

Relief 7.
Bodhisattva berkonsultasi dengan para dewa mengenai bentuk inkarnasi yang akan beliau ambil.

Lalitavistara, East Wall, Panel 7
Lalitavistara dalam relief Borobudur

Setelah menempatkan Maitreya di istana Tusita, beliau bertanya pada para dewa, bentuk apa yang harus dia ambil ketika turun memasuki rahim ibu-Nya.
”Dituliskan di kitab para brahmana,” jawab putra-dewa Ugrateja, ”Bodhisattva harus mengambil bentuk gajah yang perkasa dan gagah dengan enam gading, seperti dibungkus jaring emas, bercahaya terang, dan kepala diwarnai merah dan sangat cantik”

relief 008-009

Reliefs 8
Percakapan Ratu Maya dengan raja

Lalitavistara, East Wall, Panel 8
Lalitavistara dalam relief Borobudur

Di kerajaan Kapilavastu, ratu bertemu dengan suaminya Raja Suddhodana dan meminta izin untuk mengambil delapan sila, yang disetujui raja.


Quote: Hari itu adalah tanggal 9 di bulan asalha (Juni-Juli) tahun 67 Mahà Era, ketika Ratu Siri Mahàmàyà berumur lima puluh lima tahun empat bulan, penduduk kerajaan sedang merayakan festival bintang Uttaràsàlha, sebuah peristiwa tradisi tahunan. Semuanya bergembira, turut serta dalam perayaan ini.
Siri Mahàmàyà Devi juga turut serta dalam festival yang berlangsung dari tanggal 9 sampai tanggal 14 ini. Selama festival ini, tidak ada orang yang meminum minuman keras dan tidak ada yang memakai hiasan bunga, menggunakan wewangian, dan hiasan lainnya. Pada hari purnama di bulan itu, permaisuri bangun pagi-pagi, mandi dengan air harum, dan melakukan dàna besar dengan memberikan uang dan benda-benda lainnya senilai empat ratus ribu. Kemudian ia mengganti pakaian dan makan pagi yang terdiri dari makanan pilihan, kemudian ia menerima Delapan Sila, dari gurunya Petapa Devila, kemudian memasuki kamar istana yang dihias indah dan menghabiskan hari itu di atas dipan yang indah, dan menjalani Delapan Sila

=====================================================

Relief 9
Para dewi mengunjungi Ratu Maya

Lalitavistara, East Wall, Panel 9
Lalitavistara dalam relief Borobudur

Dengan penuh keingin-tahuan, para putri-dewa dari Surga Keinginan turun ke bumi untuk mengunjungi kota Kapila yang megah, yang dihiasi seratus ribu taman, supaya mereka dapat melihat perempuan yang telah dipilih untuk melahirkan Bodhisattva.

relief 010-011

Relief 10.
Para dewa memutuskan untuk mengikuti Bodhisattva turun ke dunia

Lalitavistara, East Wall, Panel 10
Lalitavistara dalam relief Borobudur

”Tidaklah pantas bagi kami, oh yang mulia, dan adalah sikap tidak tahu terima kasih jika kami membiarkan Bodhisattva pergi sendirian dan tanpa pengiring”, demikian raja para Dewa berkata. ”Siapa diantara kita yang dapat dengan setia dan terus menerus mengiringi Bodhisattva?”

Mendengar kata-kata ini, delapan puluh empat ribu dewa dari alam Catumaharajika dan juga ratusan dan ribuan dewa dari Timur, Selatan, Barat, dan Utara berkumpul bersama.

”Dengarlah kata-kata ini, oh penguasa para dewa, keputusan kami sekarang,” demikian yang tertinggi dari para putra-dewa bersabda. ”Kami akan meninggalkan kekayaan serta kesenangan nafsu keinginan,
dan juga kebahagiaan tertinggi samadhi, sebaliknya menyerahkan diri kami kepada makhluk suci dan mulia ini.”

=========================================

Relief 11.
Para Bodhisattva dari sepuluh penjuru mata angin menghormati Calon Buddha.

Lalitavistara, East Wall, Panel 11
Lalitavistara dalam relief Borobudur

Ketika waktunya tiba bagi Bodhisattva untuk turun ke dunia, banyak ratusan ribu bodhisattva (lain) dari Timur, juga banyak ratusan ribu bodhisattva (lain) dari sepuluh penjuru, semuanya hanya akan terlahir sekali lagi, berkumpul untuk memberi hormat pada Calon Buddha.
Reliefs 12
Bodhisattva turun ke dunia

Lalitavistara, East Wall, Panel 12

Lalitavistara dalam relief Borobudur

Setelah Bodhisattva menempatkan dirinya di singasana yang berasal dari kebajikannya, beliau meninggalkan surga Tusita dikelilingi oleh seratus milyar koti bodhisattva, dewa, naga, dan yaksa.

"Sekaranglah saatnya bagi Sang Singa untuk berangkat!
Ambillah kelahiran, yang teragung di antara manusia!
Berdasarkan perhatian serta belas kasih pada semesta,
dengarlah doa-doa kami demi pemberian Dharma

=====================================================


Reliefs 13
Bodhisatva memasuki rahim Ratu Maya.

Lalitavistara, East Wall, Panel 13
Lalitavistara dalam relief Borobudur

Bodhisattva turun dari kediaman surgawi Tusita dan memasuki rahim ibu-Nya dalam bentuk gajah putih dengan enam gading, lengkap dengan semua organ tubuh yang tidak tercela. Pada waktu ratu tidur di dipan, ia mempunyai mimpi sebagai berikut: “Seperti salju dan perak, dengan enam gading, kaki yang indah, belalai yang bagus warna tembaga dan kepala kemerahan bunga mawar, seekor gajah perkasa telah memasuki rahimku, gerakannya anggun dan tungkainya sekuat permata.”

Pada malam yang sama, sebuah teratai besar mekar dari lautan dalam, membelah bumi, dan naik ke alam Brahma, Penguasa Alam. Semua biji dari tiga juta dunia – semua kekuatan dan sari mereka – dikandung dalam teratai tersebut seperti setetes madu. Brahma mengambil sarinya dan kekuatannya dan menaruhnya di dalam sebuah mangkuk lapis-lazuli dan mempersembahkannya pada Bodhisattva, yang meminumnya demi menghormati sang dewa agung.

Spoiler for versi panjang:

relief 014-016

Relief 14.
Bodhisattva di dalam rahim Ratu Maya

Lalitavistara, East Wall, Panel 14
Lalitavistara dalam relief Borobudur

Setelah beliau memasuki rahim ibu-Nya, sebuah paviliun permata (Ratnavyuha) muncul untuk menaungi Bodhisattva, yang dalam kelahiran terakhirnya tidak mempunyai bentuk alami fetus. Di dalam paviliun beliau duduk bersila, lengkap dengan seluruh organ dan tanda-tanda.
Diiringi oleh kumpulan makhluk surgawi dan membawa tetesan sari (teratai), Brahma mendekati istana permata Bodhisattva untuk memandangnya, mengaguminya dan melayaninya, dan untuk mendengar Dharma.

”Istana permata Bodhisattva tidak dapat dihancurkan seperti permata, tetapi jika disentuh lembut seperti kain. Di dalamnya terdapat apapun yang dapat ditemukan dalam alam keinginan (Kamaloka)”

Beliau merenungkan segala sesuatu yang termasuk dalam alam nafsu keinginan. Mudra tangan-Nya menunjukkan bahwa Beliau sedang membabarkan Dharma kepada Brahma, Indra, dan dewa-dewa lain yang mengunjunginya
===============================================

Relief 15.
Ratu Maya pergi menemui Raja di taman Asoka.

Lalitavistara, East Wall, Panel 15
Lalitavistara dalam relief Borobudur

Ratu Maya bangkit dari dipan, ceria dalam pikiran dan tubuh, penuh kebahagiaan, semangat, dan kepuasan. Dikelilingi oleh iringan perempuan, ia turun dari tingkat atas istana dan pergi ke taman Asoka.
======================================================


Relief 16.
Raja Suddhodana menemui Ratu Maya.

Lalitavistara, South Wall, Panel 16
Lalitavistara dalam relief Borobudur

Ratu Maya mengutus pembawa pesan untuk memberitahu raja bahwa ia hendak bertemu. Tetapi ketika raja mencoba memasuki taman, ia menemukan bahwa ia secara fisik tidak dapat melakukannya.
”Belum pernah sebelumnya, bahkan ketika aku memimpin pasukan, aku merasa tubuhku sendiri seberat sekarang,” demikian raja berkata dalam hati. ”Tidak dapat memasuki kediaman keluargaku sendiri, kepada siapakah aku harus meminta petunjuk?”. Sebagai jawaban, beberapa Putra-dewa menampakkan diri di langit dan memberitahu raja bahwa sebabnya adalah kehadiran Bodhisattva di rahim Ratu Maya.
Relief 17.
Ratu menceritakan mimpinya dan meminta penafsiran

Lalitavistara, South Wall, Panel 17
Lalitavistara dalam relief Borobudur

Setelah mendengar kata-kata para Putra-dewa, raja memasuki taman Asoka, memandang istrinya dengan hormat dan berkata:
”Apa yang perlu kulakukan untukmu, apakah urusan yang hendak kau sampaikan? Katakanlah!”

“ Seperti salju dan perak, melebihi kejayaan matahari dan bulan, seekor gajah perkasa telah memasuki rahimku dengan gerakan anggun dan tungkai sekuat permata,”
demikian Ratu berkata.
”Apakah artinya ini? Kita harus memanggil brahmana-brahmana terpelajar yang dapat menafsirkan mimpi ini dan yang mengetahui aturan perbintangan ke istana. Biarlah mereka datang dan membuka kebenaran. Kemudian kita akan tahu apakah ini akan memberiku kebahagiaan ataukah mimpi ini meramalkan bencana bagi suku kita”
===============================================

Reliefs 18
Para Brahmana menafsirkan mimpi ratu

Lalitavistara, South Wall, Panel 18
Lalitavistara dalam relief Borobudur

Raja memerintahkan untuk memanggil para brahmana. Ratu berdiri di depan para brahmana dan berkata, “Seperti salju dan perak, melebihi kejayaan matahari dan bulan, dengan anggun dan gagah, dengan enam gading dan kemuliaan, tungkainya sekuat permata dan penuh keindahan, seekor gajah perkasa telah memasuki rahimku. Ungkapkanlah padaku arti dari mimpi ini”

”Lihatlah, sebuah kebahagiaan besar akan datang padamu,” para brahmana berkata setelah mendengar ucapan Ratu. ”Seorang putra akan lahir diberkahi dengan tanda-tanda yang akan mencirikan dia sebagai keturunan ras unggul dan calon penguasa dunia. Jika dia meninggalkan cinta, kekuasaan kerajaan, dan istana tanpa penyesalan, ia akan meninggalkan keduniawian demi belas kasih untuk dunia dan menjadi Yang Tercerahkan, yang akan dihormati di tiga dunia dan membuat dunia bergembira oleh nektar keabadian.”

Spoiler for versi panjang:

================================

Relief 19
Raja memberikan hadiah kepada para brahmana

Lalitavistara, South Wall, Panel 19
Lalitavistara dalam relief Borobudur

Gembira oleh berita tersebut, Raja Suddhodana mengadakan jamuan makan untuk menghormati para brahmana, kemudian memberi mereka hadiah.

relief 020-022

Reliefs 20
Para dewa membangun Istana

Lalitavistara, South Wall, Panel 20
Lalitavistara dalam relief Borobudur

Dewa Sakra dan Empat Maharaja dewa menampakkan diri di depan raja dan menawarkan untuk membangun Paviliun untuk Ratu Maya dan Bodhisattva selama Ratu mengandung.
Para dewa membangun istana-istana untuk permaisuri.


Reliefs 21
Ratu Maya berada di lebih dari satu istana

Lalitavistara, South Wall, Panel 21
Lalitavistara dalam relief Borobudur
Melalui kekuatan meditasi, Bodhisattva membuat Ratu terlihat secara bersamaan di semua istana. Hal ini dilakukan untuk menghindari kecemburuan. Sang Makhluk Agung yang belum lahir menciptakan keajaiban penampakan serentak ibu-Nya di semua istana-istana berbeda yang dibangun untuk menghormati permaisuri.


Relief 22
Ratu Maya menyembuhkan orang sakit

Lalitavistara, South Wall, Panel 22
Lalitavistara dalam relief Borobudur

Laki-laki, perempuan, anak-anak, yang dirasuki oleh roh jahat langsung sembuh ketika mereka melihat Ratu. Juga mereka yang menderita karena berbagai penyakit, Ibu Bodhisattva akan menyentuhkan tangannya ke kepala mereka dan mereka segera sembuh karena sentuhannya.

relief 023-025

Reliefs 23
Suku Sakya memberikan dana

Lalitavistara, South Wall, Panel 23
Lalitavistara dalam relief Borobudur

Seluruh suku Sakya di Kapilavastu berpesta, bersenang-senang, bergembira, memberi hadiah dana dan melakukan perbuatan bajik.


Reliefs 24
Raja mengambil kehidupan suci sementara

Lalitavistara, South Wall, Panel 24
Lalitavistara dalam relief Borobudur

Sementara itu, Raja mulai menjalani kehidupan suci. Tidak lagi mengurus negara, ia menjalani kehidupan suci seperti mereka yang hidup di hutan dan hanya memikirkan Dharma.


Relief 25.
Keajaiban di Kapilavastu

Lalitavistara, South Wall, Panel 25
Lalitavistara dalam relief Borobudur

Total sebanyak tiga puluh dua pertanda terjadi selama bulan ke-10 kehamilan Ratu (bulan terakhir). Dari lereng Himalaya datang Singa muda yang mengitari tembok kota dan kemudian berbaring di gerbang kota tanpa menyakiti siapapun. Gajah-gajah putih tiba untuk memberi hormat kepada Raja dan anak-anak dewa datang ke Kediaman pribadi Raja untuk duduk di pangkuannya.

Setelah itu semua tenang, seluruh semesta alam diam dan bersiap-siap menyambut dengan menahan napas

relief 026-027

Reliefs 26
Ratu Maya mempersiapkan diri.

Lalitavistara, South Wall, Panel 26
Lalitavistara dalam relief Borobudur

Ketika Ratu Maya, melalui kekuatan pancaran Bodhisattva, menyadari bahwa waktu kelahiran sudah dekat, ia menemui Raja dan berkata: ”Waktunya telah tiba bagiku untuk pergi ke taman. Sekaranglah musim terbaik, musim semi, waktunya para wanita merias diri, ketika dengungan lebah dan nyanyian burung bulbul dan merak terdengar, dan waktunya bunga mekar memperlihatkan keindahannya. Mari, berilah perintah, mari kita pergi tanpa menunda”

Reliefs 27
Ratu Maya pergi ke Taman Lumbini

Lalitavistara, South Wall, Panel 27
Lalitavistara dalam relief Borobudur

Senang dan berbahagia, Raja memerintahkan pengiringnya:
”Siapkan pasukan berkuda, gajah, kereta, dan pengiring, dan hiaslah Lumbini, tempat terbaik. Biarlah Ratu Maya naik sendirian di sebuah kereta tanpa ditemani pria atau wanita. Dan biarlah perempuan-perempuan dengan berbagai pakaian menarik kereta itu”

Spoiler for versi panjang:
Relief 28.
Kelahiran Sang Bodhisattva

Lalitavistara, South Wall, Panel 28

Lalitavistara dalam relief Borobudur

Setelah Ratu memasuki Taman Lumbini dan turun dari keretanya, ia berjalan dari pohon ke pohon sampai akhirnya ia tiba di tempat dimana pohon besar plaksa tumbuh. Tergerak oleh kemuliaan Bodhisattva, pohon besar itu merunduk dan memberi salam pada Ratu.
Ratu memegang dahan pohon dengan tangan kanannya dan melihat ke langit dengan mulut sedikit terbuka.

Sang Bodhisattva, muncul setelah 10 bulan penuh, keluar dari sisi kanan tubuh ibu-Nya, dengan bentuk sempurna, memiliki semua ingatan dan pengetahuan dan tidak tercemar oleh ketidakmurnian rahim ibu-Nya. Kelahiran ini tanpa rasa sakit ibu-Nya sedikitpun.

Dipenuhi dengan rasa hormat, para dewa Brahma dan Sakra menerima Bodhisattva dan membungkus-Nya dengan kain sutera dari benang emas dan perak, mengenali dan mengetahui tentang-Nya. Ketika Bodhisattva turun ke tanah, bumi terbuka dan bunga teratai tumbuh untuk menerima-Nya. Para Raja Naga memandikannya dengan aliran air hangat dan air sejuk, dan pada saat yang sama para makhluk surgawi memercikkan air wangi dan menebarkan bunga. Sang Bodhisattva menempatkan diri-Nya di atas teratai dan melihat ke empat penjuru.

Tanpa bantuan siapapun, Bodhisattva berjalan tujuh (7) langkah ke timur dan berkata:
”Aku akan menjadi yang pertama dari semua dharma, akar bajik dari keselamatan”
Selagi Bodhisattva berjalan, sebuah payung putih dan dua kipas besar bergerak diatas-Nya tanpa dipegang. Dan kemanapun Bodhisattva melangkah, sebuah teratai tumbuh menyambut kaki-Nya

Berjalan tujuh langkah ke selatan, Ia berkata:
”Aku akan menjadi objek yang pantas untuk diberi persembahan oleh dewa dan manusia”

Kemudian berjalan tujuh langkah ke barat, Ia berseru:
”Akulah yang terbaik di dunia, karena inilah kelahiranku yang terakhir”

Berjalan tujuh langkah ke utara, Sang Bodhisattva berkata: [i] “Aku akan menjadi tiada tara diantara semua makhluk.”[/i]

Bodhisattva mengarahkan wajah ke bawah dan berjalan tujuh langkah, dan berseru:
“Aku akan menghancurkan Mara dan balatentaranya. Aku akan memadamkan api neraka dengan hujan dari Awan Besar Dharma, memenuhi penghuni alam neraka dengan kebahagiaan besar.”

Berjalan tujuh langkah lagi, dengan menatap ke atas, Ia berkata:
”Hanya di tempat yang tinggilah selanjutnya aku akan terlihat kepada semua makhluk.”

Begitu kalimat-kalimat itu diucapkan oleh Bodhisattva, seketika itu juga tiga juta dunia mendengar suaranya, lalu mereka berkata: "Lihatlah wujud sejati pengetahuan, lahir dari kematangan sempurna perbuatan Bodhisattva."
Berbagai kejadian ajaib juga terjadi ketika Bodhisattva lahir.

Para dewa dan dewi menaburkan bunga, melantunkan pujian, dan memberikan berbagai persembahan untuk menyambut kelahiran Bodhisattva

relief 029-030

Relief 29
Perayaan dan Pemberian nama

Lalitavistara, South Wall, Panel 29
Lalitavistara dalam relief Borobudur

Para orang suci dari berbagai penjuru India datang ke Kapilavastu untuk memberi selamat kepada Raja Suddhodana dan mendoakan kesehatan dan keberuntungan anaknya yang baru dilahirkan. Menempati tempat paling utama adalah Sakra dan Brahma (yang datang dengan menyamar) yang mengucapkan syair-syair ucapan selamat.



Ketika dia mendekati anak tersebut, Raja memberi hormat dan ia mengatakan:
"Berilah hormat pada pangeran, yang kuberi nama Siddharta"

Mereka semua memberi hormat, dan para brahmana, diinspirasi para dewa, bernyanyi:

"Semua makhluk bergembira, dan jalan-jalan yang dilalui manusia tidak lagi kasar berbatu, karena Beliau telah lahir, Beliau yang memberi kebahagiaan: Beliau akan membawa kebahagiaan ke dunia.
Di kegelapan sebuah cahaya agung telah terbit, matahari dan bulan seperti bara redup, karena Beliau telah lahir, Beliau yang memberi cahaya: Beliau akan membawa cahaya ke dunia.

Yang buta melihat, yang tuli mendengar, yang bodoh telah mendapatkan kembali akal, karena Ia telah lahir, Ia yang mengembalikan penglihatan, dan mengembalikan pendengaran, dan menyembuhkan pikiran: Ia akan membawa penglihatan, Ia akan membawa pendengaran, Ia akan membawa akal ke dunia.

Angin sepoi-sepoi harum berhembus meringankan penderitaan umat manusia, karena Dia telah lahir, Dia yang menyembuhkan: Dia akan membawa kesehatan ke dunia.
Api tidak lagi kejam tanpa perasaan, arus sungai dihentikan, bumi bergetar lembut: Dia akan menjadi Yang Melihat Kebenaran



Relief 30
Mahapapajapati Gotami mengasuh Pangeran Siddharta

Lalitavistara, South Wall, Panel 30
Lalitavistara dalam relief Borobudur

Tujuh hari setelah melahirkan, Ibunda Bodhisattva, Ratu Maya, meninggal dan lahir di surga Tusita, mengikuti jejak semua ibunda para Buddha terdahulu, yang karenanya terhindar dari kematian akibat patah hati apabila melihat putranya meninggalkan rumah di kemudian hari.

Walaupun 500 wanita muda suku Sakya menawarkan untuk mengasuh Bodhisattva, para tetua suku menganggap mereka terlalu bangga akan kecantikan mereka sehingga tidak layak.

"Selain Mahaprajapati Gautami, adik perempuan dari ibu pangeran, tidak ada yang dapat mengasuh pangeran dengan memuaskan," demikian diumumkan oleh para wanita suku Sakya.

Dipercaya oleh mereka, Mahaprajapati Gautami mengasuh pangeran muda, dibantu oleh 32 pengasuh, delapan untuk menggendongnya, delapan lainnya untuk memberi susu, delapan lainnya bertugas memandikan, dan delapan lagi untuk bermain dengannya.