alexa-tracking
Kategori
Kategori
Pengumuman! Mau dimodalin 25 Juta untuk acara komunitas? Ceritain aja tentang komunitas lo di sini!
Home / FORUM / All / Debate Club /
Trending Topic Debate
4.18 stars - based on 49 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/000000000000000011306488/trending-topic-debate

Trend Topic Debate Club

Tampilkan isi Thread
Thread sudah digembok
Halaman 145 dari 430
Quote:


artinya agan cuman mempermasalahkan keuntungan musisi yg tidak terukur..emoticon-Big Grin
musisi adalah musisi.... mereka tidak harus jadi ahli IT untuk melacak bagaimana rangking popularitas band/musik mereka di dunia maya...

SID ini hanya 1 contoh popularitas mereka di dunia maya...
untuk pengukuran pun ada contoh tentang popularitas suatu situs web, dg contoh ini berarti mudah dilakukan pengukuran terhadap "tingkat ketenaran" suatu band/musisi..
bila memang pola pemasaran musik berubah dg legalisasi semua konten musik didonlot, tidak ada lagi konten berbayar...maka tidak perlu lagi cd/dvd untuk pemasaran, cukup dijadikan sebagai dokumentasi...

keuntungan yg dirasakan musisi itu sendiri adalah meningkatnya permintaan "manggung" baik on air atow off air, yg merupakan efek dari kepopuleran mereka

contoh lagi
Quote:
Quote:


yah betul sih gan..yang di bacarakan disini kan download lagu tanpa izin itu rugi apa nggak. dan saya jelaskan di awal tadi,, musisi pasti ada ruginya tapi tidak terlalu rugi .. karena lebih banyak untung dari pada ruginya.. untungnnya yaitu popularitas. dengan bertambah populer tu lagu,, otomatis juga banddnya lama-kelamaan naik daun emoticon-Big Grin

Quote:


Masih ada jalur indie gan.. di tambah jalur indie tidak menghalangi musisi dalam berkarya. Tidak seperti jka melalui label mayor,, lagu terkesan komersil. Terbatas. Contoh saja,,banyak musisi rock yang berubah jadi melow gitu. seperti killing me inside,. ,dll. karena saya jg musisi,,,ada beberapa band terkenal yang saya kenal,, kalau di lihat di tv.. mainnya melow abis,, cengeng, kurang berskill,, tapi kalau di studio,, buseeett... garang !!..
Quote:

nah itu baru betul...rugi pasti ada..

gk mungkin donk gk rugi.emoticon-Embarrassmentemoticon-Embarrassment

btw elu sendiri sbg musisi merasa terganggu gk dgn layanan unduh gratis di internet2 emoticon-Embarrassmentemoticon-Embarrassment

trs bisa dijwb mengapa byk musisi2 yg menghimbau utk membeli kaset original dibanding bajakan atau mengunduh emoticon-Embarrassmentemoticon-Embarrassment
[quote=]
Masih ada jalur indie gan.. di tambah jalur indie tidak menghalangi musisi dalam berkarya. Tidak seperti jka melalui label mayor,, lagu terkesan komersil. Terbatas. Contoh saja,,banyak musisi rock yang berubah jadi melow gitu. seperti killing me inside,. ,dll. karena saya jg musisi,,,ada beberapa band terkenal yang saya kenal,, kalau di lihat di tv.. mainnya melow abis,, cengeng, kurang berskill,, tapi kalau di studio,, buseeett... garang !!..[/QUOTE]
kalo ini casenya lebih kepada mengikuti selera pasar...

jgn terlalu oot gan ntr dicolek sm ts nya lho emoticon-Genit
Quote:


ababil dongok..!!! gw ga mlintir OS nyuuk..!!!

kalo kita mo polos2an sesuai OS TS...
Quote:


cukup dengan polling multiple choice....dg jawaban:
a. ya

b. tidak

c. tidak peduli

case closed....
begituh maksud loh yak??

gak perlu masuk IDC, bikin ajah di lounge..!!!!

ini rum debat..!!!! bukan tempat mewek..!!!!
Hmm... Saya gabung ya, debat menarik ini emoticon-Smilie

Sebenarnya, sebagai seseorang yang juga berkeinginan menjadi musisi/bekerja di bidang seni musik, mendownload (dalam konteks ini, maksudnya adalah mendownload musik secara illegal) adalah sesuatu yang rancu. Di satu sisi, kita seolah tidak menghargai usaha dan kerja keras musisi yang menciptakan album tersebut (argumentasi 'toh mereka sudah kaya' tidak berlaku, banyak musisi tidak sekaya yang anda kira!), namun di sisi lainnya, kemampuan finansial untuk membeli CD/mendownload legal terkadang menghalangi keingintahuan dan kehausan saya untuk musik baru yang nyaris tak terbendung.

Namun, kembali pada topik. Apakah hal itu merugikan sang musisi?

Ya.

Namun kenapa?

Faktanya, download dan filesharing adalah cara termudah untuk menyebarkan musik anda dalam skala nasional, bahkan internasional. Coba pikirkan, mana yang lebih mudah: Mengirimkan CD demo anda ke sebuah label indie di Amerika Serikat, atau memberi link download album anda kepada mereka? Jelas opsi kedua, bukan? Nah, di dunia yang sempurna, recognition seperti ini bisa saja membawa mereka ke depan mata khalayak internasional. Salah satu kisah sukses di Indonesia adalah band White Shoes and The Couples Company, yang diundang ke festival termashyur SXSW setelah mereka ditemukan lewat jejaring MySpace.

Apakah uang yang didapat dari metode tersebut cukup? Harusnya ya. Dengan recognition yang lebih besar, terutama dari dunia internasional, serta backing dari sponsor, band-band indie maupun mainstream harusnya bisa mendapatkan uang yang, mungkin tidak berlimpah, namun setidaknya cukup untuk menopang hidup, dari fee konser, penjualan merchandise, dan sebagainya. Sebuah dunia di mana sebuah band mendapatkan uang yang memadai dari performance-nya, adalah dunia yang sempurna bagi saya.

Namun apakah begitu kenyataannya?

Tidak.

Lihat saja apa yang terjadi di negara kita ini. Konser-konser band - mainstream maupun underground - sering tertumpas dan terhalang izin aparat. Dan tidak mengejutkan; kerusuhan, pertengkaran antar penonton, bahkan sikap yang tidak profesional dari crew dan band itu sendiri, marak terjadi di skena musik negara kita. Masih segar di ingatan, bagaimana beberapa penikmat musik punk di Aceh diberangus aparat, lantas di'reformasi', sebuah tindakan yang membuat geram aktivis hak asasi dan penikmat musik, serta menimbulkan begitu banyak pro kontra. Apakah ini skena musik yang kondusif untuk masa depan musisi? Apa ini skena musik yang bisa diandalkan untuk menjadi pegangan hidup? Saya rasa anda setuju, bahwa jawabannya adalah tidak. Adalah hampir mustahil bagi sebuah band untuk hidup 100 persen dari uang manggung, karena faktanya, 'manggung' di Indonesia adalah sebuah ujian mental yang tidak sembarangan.

Selain itu, apakah masyarakat tertarik? Apakah masyarakat mau menghabiskan sebagian uangnya untuk membeli CD terbaru dari band kesayangannya? Statistik jelas berkata tidak. Penjualan CD turun drastis, record store berbondong-bondong gulung tikar, dan musisi kelaparan. Akhirnya, industri berpaling pada sebuah mode penjualan yang berbeda sama sekali - RBT. Sialnya, RBT memakan korban tersendiri: Baik sang artis, yang terpaksa menciptakan musik yang catchy demi RBT yang baik, maupun sang sound engineer. Apa gunanya musik susah-susah di-mixing dan mastering oleh sound engineer, bila hasil akhirnya pepat dalam reff 30 detik dengan kualitas murahan?

Jadi ya, jawabannya adalah ya. Download illegal jelas merugikan musisi. RBT sudah mati, konser tak bisa diandalkan, dan kini CD mulai kehilangan prestise dan persona, digantikan oleh solusi cepat bernama download illegal. Saya tidak merasa maupun mengaku suci - saya sendiri mengaku kecanduan download illegal. Saya tidak tahan melihat rentetan link unduhan album-album indie dari negara di penghujung dunia, yang terkumpul manis dalam ribuan blog dunia maya. Namun saya mengaku ber'dosa' dalam kasus ini. Ini adalah candu, 'narkoba', yang sedang coba saya kalahkan.

Karena faktanya, walaupun download illegal sangat praktis dan mudah, tidak ada yang lebih menyenangkan daripada membeli CD itu sendiri. Membuka artwork dan menatap cover album mereka, saya merasakan kerja keras mereka. Saya bisa melihat, bagaimana mereka berusaha untuk membuat uang saya menjadi worth it. Dan saat saya mendengar musik mereka, menggelegar di sound system, rasanya 75 ribu yang saya habiskan tadi di Aquarius tidak sia-sia. Saat anda mendownload sesuatu, ada sebuah perasaan yang mengawang-awang di subconscious anda bahwa ini salah, anda mencurinya. Biasanya kita memutuskan untuk tidak mengacuhkan impuls ini, namun impuls tersebut pasti ada. Sementara dengan CD yang anda beli dengan uang anda sendiri, ada rasa puas yang tak terperikan. Euforia, saat anda berjalan pulang dengan CD tersebut di tangan, tak sabar ingin memainkannya sekeras mungkin tanpa peduli jam berapapun itu. Bahagia, mengetahui bahwa CD tersebut, alunan musik indah tersebut, adalah milik saya.

Dan tidak ada perasaan lain yang lebih baik dari itu.
Quote:


Quote:


lah kan agan yang bilang..
jika pihak rekaman yg rugi maka itu akan menyulitkan musisi jg karena mereka akan sulit mencari produser yg akan memproduksi album mereka
jadi jawaban saya : masih ada cara indie emoticon-Angkat Beer mereka tidak harus lagi tunduk sama mayor lebel.
Quote:


ya keuntungan yang tidak terukur adalah suatu kemubadziran, karena maaf sedikit tidak intelek.
yang saya tekankan adalah keberadaan domain2 gratisan tidak resmi yang ada. dan jelas bukan termasuk skema promosi dari band atau musisi yang bersangkutan. lain halnya dengan mereka yg memang telah merencanakan sebelumnya.
memang popularitas sebuah domain bisa diukur, tapi bagaimana dengan popularitas suatu hits, suatu band yang lagunya tercecer di dunia maya, pasti akan sulit mengumpulkan datanya. inilah yang jadi permasalahan.
ranking-ranking di dunia maya biasanya direlease oleh situs2 resmi, bukan oleh situs2 filesharing. nah sekarang memang apa yang jadi parameter oleh situ2 resmi tersebut?
Youtube? oke terukur
facebook? oke terukur
myspace? oke memang terukur
twitter? oke karena bisa diukur.

filesharing dan blog2 abal abal gimana? padahal ini adalah pemasok utama lagu2 ilegal. ini yang jadi permasalahan. jadi akhirnya secara garis besar memang merugikan pihak musisi gan.
Quote:


ia gan.
tapi ane liat artis sekarang tampaknya tidak terlalu pusing dengan pembajakan. atau ane yang ga pernah nonton tipi emoticon-Hammer2
Quote:

mereka beralih ke strategi begini karena ketidakmampuan mereka utk meredam aksi unduh gratis ini...apakah elo bisa menjamin lagu lo gk bakal di unduh di internet?..gk bs kan..maka dari itu mau gk mau lo harus mengikuti aturan main kalo gk ya bisa-bisa rugi emoticon-Big Grinemoticon-Big Grinemoticon-Big Grinemoticon-Big Grinemoticon-Big Grin..

[quote=]
Tapi tidak semua musisi berpikiran seperti saya ini,, masing-masing punya strategi berbeda...
intinya... terganggu apa nggak kalao lagu kita di download gratis itu tergantung tujuan downloadnya untuk apa. kalau cuma untuk di dengar pribadi gpp. tapi kalau untuk komersial,, yah jelas terganggu.
emoticon-Big Grin[/quote]
sama dgn postingan awal gw nih emoticon-shakehand

[quote=]
mengapa byk musisi2 yg menghimbau utk membeli kaset original ?
yah jelas karena mereka dapat revenue dari penjualan kaset original, masa mau menghimbau orang untuk beli bajakan,. yang jadi pertnyaan balik mengapa musisi jarang melarang orang untuk mendownload lagu di internet? tapi kebanyakan hanya melarang pembelian kaset bajakan ? karena bagi mereka dampak kerugian dari download gratis itu tidak seberapa... karena hnya untuk pribadi. lain crita kalau lagunya di download trus di burn ke dalam 1000 keping cd lalu di jual. emoticon-Hammer (S)
[/QUOTE]
tau darimana musisi ybs soal lebih rugi cd bajakan ketimbang unduh gratis emoticon-Amazed?...bisa saja si penguduh mengunduh lagu terus abis itu diburning ke cd kosong lalu dijual deh.. emoticon-Stick Out Tongueemoticon-Stick Out Tongue
segala kemungkinan pasti terjadi donk emoticon-Big Grinemoticon-Big Grinemoticon-Big Grinemoticon-Big Grin

[quote=]
lah kan agan yang bilang..
jika pihak rekaman yg rugi maka itu akan menyulitkan musisi jg karena mereka akan sulit mencari produser yg akan memproduksi album mereka
jadi jawaban saya : masih ada cara indie emoticon-Angkat Beer mereka tidak harus lagi tunduk sama mayor lebel.[/QUOTE]
emoticon-thumbsup: emoticon-thumbsup:....

btw kalo melalui jalur indie mereka hrs berkompetisi dl..bisa beda critanya jika ke label lgs..tinggal ngasih demo lagu sebiji ke produser...jika produser senang bs rekaman album deh emoticon-Big Grinemoticon-Big Grinemoticon-Big Grinemoticon-Big Grin
iye, emang merugikan musisiyong
alasannya jelas : gretongan kagak bayar, padalan bikinnya aja susah sampe dibela belain jual diri (kadang2)
ples itu cuman kerjaan gembel2 yang kagak punya duit buat beli cd audio ori
tapi laen soal lho yah kalau cd audionya udah ndak nungul
misalnya lagu gerejani ave maria
emoticon-Cool
Trending Topic Debate
Quote:


Yg penting kan ga bikin mereka miskin emoticon-Cool
Quote:


emoticon-Marah bangsaddd ... gua odah ngepost panjang panjang lu bales cuma seuprit .. emoticon-Marah

ya udah
semoga kemiskinan menjauh dari kehidupan anda sekalian emoticon-Hammer2
Quote:

keuntungan tak terukur disini bukan karena tidak bisa diukur, melainkan belum diukur secara menyeluruh emoticon-Big Grin
rasanya tidak sulit men-tracking seluruh jejak dunlut sebuah lagu dari semua situs dr dunia maya jika memang perlu dilakukan, walopun selama ini baru situs2 yg agan sebut diatas, youtube dkk...
seperti proses SEO sebuah keyword...... or sumthing..

namun apa kaitan secara langsung dg kepuasan yg dirasakan musisi tsbt jika memang mereka merasa besar dari internet??
kepuasan mendapat sambutan meriah dr banyaknya penonton saya kira lebih berarti ketimbang membaca jumlah dunlut-an lagu mereka liwat situs gretongan yg mungkin ribuan jumlahnya emoticon-Big Grin

ada sumber tentang upaya pemberangusan situs2 penyedia lagu2 gratisan oleh pemerintah, tentu agan sudah membaca dr guglingan... tp upaya tsbt "cuman" menyentuh situs dalam negeri, sangat jauh dr harapan untuk menyentuh situs luar negeri..
ada cuplikannya..
Quote:

dr artikel diatasemoticon-fuck sudah jelas dikatakan begitu sulitnya mengatasi penyedia konten gretongan dari luar negeri yg notabene penyedia terbesar di dunia maya, karena berkaitan birokrasi yg rumit..
mereka cuman dapat menyentuh situs lokalemoticon-Big Grin

apakah musisi harus menyerah dg kondisi ini??
justru menurut ane mereka harus mensiasati kondisi dengan tidak memandangnya sebagai kerugian, tetapi menyikapinnya sebagai ajang promosi gretongan emoticon-Big Grin
sehingga tidak habis energi untuk membahas sesuatu yg sulit digapai atas nama hak intelektual, tetapi terus berusaha berkarya dan tetap mendapat keuntunganemoticon-Big Grin
Quote:

itung2an ekonomi ya gan??
kalo analoginya yg beginiemoticon-thumbdown gemana gan??
Quote:
Quote:


saya mencoba memahami apresiasi anda kepada musisi dan musik itu sendiri, tapi rasanya sulit untuk org dg tingkat ekonomi spt saya untuk meniru pola pikir anda...
tetapi tentu semua bisa dikompromikan bukan??emoticon-Big Grin

bagaimana jika saya akan membeli produk musik sebagai apresiasi saya terhadap musisi dan musik itu sendiri.... tapi dg ketentuan2 yg mungkin dapat saya capai.. misal:

1. produk musik dengan harga murah meriah...
produk lagu/album musik baru dalam bentuk CD yg umumnya dibanderol dengan harga Rp.75.000,-....diturunkan dg harga Rp.7.500,-.....
kalo tetep 75rebu cuman dibeli kalangan ekonomi menengah atas bukan ? Lalu untuk rakyat kecil kek gw, mana sanggup membelinya ? Katanya musik itu universal, tapi mengapa rakyat dengan ekonomi menengah bawah dan remaja yang belum berpenghasilan tidak dilindungi haknya dalam memiliki/menikmati lagu pilihannya ? Jangan salahkan saya dan mereka bila mencari yang lebih murah atau bahkan gratisan dengan donlod dari inet.

2. Lagu bisa dijual bijian.
Selama ini, lagu yang dijual adalah dalam sebuah album musik yang terdiri dari kurang lebih 10 lagu. Sedangkan penikmat musik belum tentu bisa menerima semua lagu dalam satu album tsb. Tapi untuk bisa memiliki sebuah lagu saja, mengapa harus membeli satu album?? jangan dipaksa membeli satu album, bila mereka ingin satu lagu saja dari album tsb. Oleh karena itu, label harus bisa menjual per satuan lagu.

3. Sampel Sound (contoh lagu)
Bagaimana mau membeli sebuah lagu bila kita tidak tau kualitas lagu tsb ? Untuk itu, label harus bisa menyediakan contoh suara, minimal terdiri dari 3 bagian yaitu Intro, Reff/Chorus dan Ending masing masing lagu. sample sound ini harus mudah diakses dan gratizz, misal ditarok di internet, jadi bisa denger duluan walow ga keseluruhan

4. Menyediakan beberapa pilihan media dan kualitas audio
pihak label dapat memproduksi lagu tdk hanya berupa CD saja, tapi juga kaset dan MP3 format. penikmat musik dari berbagai kalangan ekonomi, tentunya tidak semuanya menginginkan kualitas lagu dalam bentuk CD. Ada yang sekedar ingin mendengarkan lagu, dan menomorduakan kualitas audio atowpun kualitas medianya.. jadi kalangan bawah pun memiliki hak yg sama sebagi penikmat musik

gimana gan.???? setujuh gak??
Quote:


sebagaimana kita ketahui, penyelenggaraan konser pertunjukan membutuhkan persiapan yang tidak sembarangan, musisi juga ga mau ambil resiko konser musiknya jadi garing, oleh karena itu parameter popularitas sekecil apapun yang mempengaruhi harus terukur dan ikut dipertimbangkan.
popularitas di internet (yang terukur tentunya), bisa jadi sebagai parameter awal keberterimaan masyarakat atas musiknya, nah sekarang kalo masih tercecer mau gimana, sedangkan misal tuh band tidak masuk ke dalam jajaran top chart yang umum.
saya melihat kejadian pengunggahan dan pendonlotan di luar yang resmi itu merugikan karena itu merupakan undesigned immeasurable promotion gan.
ditambah lagi pemerintah masih mengakui kesulitan untuk mengontrol situs2 berbagi file luar negeri, ini menambah celaka si musisi, jadi ada baiknya sebagai penikmat/pengunggah memilih portal-portal tertentu jika pun ingin donlot gratisan. ya kalopun ga bisa ngasi support berupa pembelian karya, minimalnya ada jejak yang ditinggalkan oleh pengunggah dan pengunduh tersebut untuk dijadikan ukuran bagi si musisi.
Quote:


Gw sih berdebat sesuai statement dari TSemoticon-Cool . Disitu jelas2 tertulis tanpa izin, yg mana berarti secara ilegal.
Kalau tuh artis memang ingin promosi lalu bagi2 albumnya scr gratis lwt situsnya, ya ok emang ga ada masalah si musisi ikhlas pendengar senang. Masalahnya itu si musisi udah ga ingin share lagi, albumnya eksklusif hanya dijual lwt CD / kaset. Nah ini masih mau lu bajak? Jelas si musisi merasa dirugikan, karena dia emang lg gak promosi. Ibaratnya kalo ada software versi gratis ama berbayar, lu milih versi berbayar bajakan emoticon-Hammer Gimana ga rugi tuh pengembang software?

Eh yg namanya debat itu kita milih 2 kutub! Pro / kontra.
Engga ada namanya "kembali ke pribadi masing2", "sesuaikan dengan kondisi", "semua ada sisi negatif / positif", dll
Lo udah dukung pernyataan musisi tdk rugi dgn adanya aksi donlod tanpa izin. Sekarang pertahanin argumen lo emoticon-army:

Quote:
Quote:


ya bsa saja seperti itu. tp dari awal merintih karir harusnya kan mereka udah tau,, pembajakan lagu nantinya pasti ada, dan di jaman sekrang ini,,,internet punya kontribusi besar dalam hal itu. Jadi siap jadi musisi tenar,, berarti siap juga untuk di bajak , apalagi di negeri ini emoticon-Big Grin
Menurut opini saya, mereka menggratiskan lagu emang pada dasarnya karena
untuk memperkuat nama mereka. semakin banyak di download, semakin besar nama mereka. coba agan baca berita DISINI..

Saya kutip dari blog itu ada kutipan komentar dari band KOIL dan NAIF :

Quote:


Quote:


TREND menyebarkan lagu via internet bukan hal baru lagi di kalangan musisi,, udah banyak musisi yang sebarkan lagu bahkan mereka di internet.
seperti : Radiohead, Metallica,Coldplay, Koil, naif, The Upstairs, dll
so, kesimpulan saya, musisi tidak terlalu di rugikan dengan maraknya unduh gratis lagu mereka, malah terkadang justru membawa hoki buat mereka. emoticon-Shakehand2

Quote:


kalau sudah berbau CD Bajakan , berarti sudah berrsifat komersil, terjadi transaksi jual beli secara ilegal. mencari keuntungan dari karya orang lain. Kalau unduh gratis, belum tentu bersifat komersil,, bisa saja hanya untuk keperluan pribadi sang pengunduh, untuk di dengar saja, atau mungkin cuma mau mereview lagu dan bisa jadi jika si pengunduh suka dengan lagu itu,, dia beli RBT nya atau CD Originalnya . emoticon-Big Grin

Quote:


yup. benar gan emoticon-Big Grin tapi terkadang faktor keberuntungan juga berperan penting.
KANGEN Band... band indie yang tenar karena pembajakan lagu. emoticon-Big Grin

emoticon-Angkat Beer
Quote:

SIp emoticon-shakehand jangan sampe tengah jalan lu jadi kontra emoticon-Big Grin

Quote:

Kayanya udah jelas yah semuanya, saya batasi hanya File musik, tanpa izin
Kalo yg ini kan musisinya kasih izin:
SAYKOJI - KASKUS ANTHEM (free download)
yah hanya difokuskan pada profit, keuntungan atau kerugian dari sisi materi musisinya saja.

Quote:

emoticon-Angkat Beer
[quote=]anotherscissorz

analoginya gini tong...
lu bikin grup band... dg dana terbatas masuk rekaman dan promo album... liwat tipi radio dan roadshow ke daerah...
minimnya publikasi di radio n tipi, kira2 berapa penonton yg bisa lu datengin buat nonton aksi tolol luh dipanggung??
dgn kapasitas gedung 100rebu, bisa ngisi duaratus org ajah lu harus bersukur...
walopun pulang dg bayaran dipotong gara2 miskin penonton...

lain waktu lu bikin band lagi... dana terbatas wat promo tipi ma radio...
lu juga upload di inet dan nitip lapak di berbagai situs gretongan...
bahkan bikin blog khusus tentang band tolol lu itu....
ternyata banyak ababil2 dongok yg suka ma lagu lu yg ga ada kualitasnya samasekali....

trus lu promo roadshow....
kapasitas gedung 500rebu orang penuh mbludag.... sampe2 panitia bikin layar besar di luar buat yg ga kebagian tempat di dalem...
[b][/quote]
elu disini menanalogikan keutungan dr promosi dan konser sedngkan gw menanalogikan dr sisi penjualan ..ya gk nyambung tong emoticon-Gila..
bedakan marketing dgn penjualan..atau lo gk bs membedakannya emoticon-Big Grin emoticon-Big Grin emoticon-Big Grin emoticon-Big Grin

apa yg gw contohin sebelumnya itu tdk terbantahkan...buktinya user yg gw kuot mengakuinya hehehehehe emoticon-Big Grinemoticon-Big Grin...
Quote:


Hmm, coba saya tanggapi satu persatu ya emoticon-Angkat Beer

1. Sebenarnya ini yang paling saya sayangkan, yaitu mahalnya harga CD. 75 ribu itu tidak sedikit, dan itu biasanya harga CD yang diproduksi oleh distributor di Indonesia. Kalau CD band impor (misalnya band indie yang tak punya link label di sini), biasanya membengkak menjadi 150-200 ribu lebih. Nah, ini yang saya sayangkan. Sebenarnya, era penjualan dengan CD itu sudah mulai berakhir. Saya prediksi, dalam waktu 5-10 tahun ke depan, CD akan menjadi novelty item/collectible, sama seperti vinyl sekarang ini. Solusinya gampang-gampang susah gan. Seperti yang sudah saya katakan tadi, harusnya ada akses dan dukungan pemerintah/sponsor untuk konser2 band baik indie/mainstream. Kalau perlu, subsidikan dari dana APBD Kementrian Budaya dan Pariwisata. Musik indie nasional bukannya masuk kebudayaan lokal juga? Idealnya, musisi bisa hidup dari uang konser, bukan uang CD. Karena, seperti yang sudah agan katakan, tak semua orang bisa membeli CD original.

Btw, saya juga bukan orang kaya lho. Beli CD 75 ribuan biasanya sebulan sekali. Yang lumayan sering itu beli CD band indie yang paling mahal 50 ribu. Itupun terkadang hutang sama ortu (saya masih SMP gan emoticon-Hammer)

2. Bukannya di iTunes/Amazon sudah ada opsi mau membeli satu album atau satu lagu? Mungkin, Indonesia juga perlu toko-toko online yang menjual lagu secara satuan, sambil bekerjasama dengan artisnya sendiri. Contoh yang bagus adalah Gogoyoko, sebuah website luar negeri yang biasa digunakan band-band indie untuk menyediakan albumnya secara streaming gratis, lalu membebaskan pendengar untuk membeli perlagu atau satu album. Bedanya, Gogoyoko dijalankan oleh artis itu sendiri, alias tanpa perantara label. Sehingga, mayoritas keuntungan dari penjualan didapat langsung oleh sang artis, tanpa dipotong-potong oleh sponsor/label. Tidak seperti biasanya, di mana menurut sebuah artikel yang saya baca di majalah Rolling Stone, artis hanya mendapat sekitar 5-10 persen royalti total dari uang manggung, penjualan album/RBT/kaset, sponsor, dsb. Banyak band indie luar negeri yang menggunakan layanan Gogoyoko, walaupun basisnya masih di Skandinavia. Kalau Indonesia punya, bukannya itu solusi yang baik?

3. Saya rasa, mungkin ini gunanya banyak artis mengupload demo/teaser/bahkan video klip lagu terbarunya di Youtube, Vimeo, MySpace, Bandcamp, dsb. Masalahnya dua: Kebanyakan artis merasa enggan karena video klipnya bisa dengan mudah diunduh oleh fansnya, dan karena tidak ada kultur review musik di Indonesia. Coba anda lihat di luar negeri (maaf lagi-lagi mengaca kultur musik luar negeri), jika ada band yang ingin merilis album baru, mereka membebaskan fansnya untuk menstreaming album tersebut, setidaknya selama 30 detik. Bahkan, sesekali ada yang membiarkan mereka mengunduh gratis salah satu lagu dari album tersebut. Mungkin saya kurang teliti, so correct me if I'm wrong, tapi apakah Indonesia seperti itu? Yang digembar-gemborkan, yang dimainkan saat tampil, hanya single-nya. Sehingga orang membeli album itu hanya untuk mendengar single tersebut, tanpa peduli lagu lainnya. Selain itu, kultur review musik. Saya tidak mau membeli album secara 'buta'. Biasanya, saya membeli atas rekomendasi teman/review. Namun, Indonesia tak punya kultur review musik yang kuat. Kita tak punya banyak jurnalis-jurnalis musik yang berspesialisasi. Kalaupun ada, kebanyakan sifatnya underground dan hanya diketahui segmen masyarakat tertentu. Bahkan beberapa hanya ada di Internet. Padahal tak semua orang bisa mengakses Internet, bukan? Mungkin kita perlu koran/tabloid murah yang khusus mereview dan membahas musik, tak seperti majalah-majalah remaja masa kini yang mengesampingkan musik dan mengedepankan tren. Majalah-majalah gratis namun berkualitas seperti !Free Magazine, serta Zine-Zine adalah masa depan. Masa kita menggunakan Dahsyat sebagai barometer kualitas musik nasional?

4. Lagi-lagi, saya mengacu pada kultur musik luar negeri, kali ini bernama Bandcamp. Saya percaya bahwa artis-artis independen bisa hidup bila website-website seperti Bandcamp dan Gogoyoko merambah Indonesia dan didukung oleh pemerintah. Di Bandcamp, kita bisa membeli link unduhan album mereka (dalam berbagai format, namun tergantung band-nya), atau mail order album/vinyl/7 inch mereka. Dan uangnya jatuh ke mana? Ke artis itu sendiri. Bagi saya, ini adalah sistem yang belum terkenal, namun konsepnya unggul. Di mana konsumer masih dimanjakan dengan akses dan pilihan yang luas, namun tanpa merugikan band, karena uang konsumer langsung diberikan pada band.

Semoga argumentasi saya bermanfaat emoticon-Smilie
Halaman 145 dari 430
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di