alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Hobby / ... / Sipil /
Civil Engineering
4.71 stars - based on 83 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/000000000000000000876158/civil-engineering

Civil Engineering

Lihat Isi Thread
Halaman 232 dari 360
Quote:


mas Agpin.....saya coba bantu ya ...kebutuhan tulangan kolom itu tergantung pembebanan aja jadi kalo diperlirakan sampe 24 D 22 itu kayanya boros banget deh, biasanya cara perhitungan kolom biasanya pake rumus istimawan juga bisa kalo dilapangan cara menentukan tulangan kolom biasanya pake rasio penulangan aja kalo di PBI dari 1 - 6 % tapi kalo di SNI 3 - 8 % tergantung agan peke yang mana .......emoticon-I Love Indonesia
Quote:


ealah mksdnya curing beton tah, klo ane sih biasanya curing G pake karung goni tp pake Geotextile (Geotekstil).
Civil Engineering Civil Engineering
Quote:


PERAWATAN Proses curing (perawatan) pada beton memainkan peran penting pada pengembangan kekuatan dan daya tahan beton , proses curing dilaksanakan segera setelah proses pencetakan selesai. Proses curing ini meliputi pemeliharaan kelembaban dan kondisi suhu, baik dalam beton maupun di permukaan beton dalam periode waktu tertentu . Proses curing pada beton bertujuan memberikan kelembaban yang cukup pada proses hidrasi lanjutan dan pengembangan kekuatan, stabilitas volume, ketahanan terhadap pembekuan dan pencairan serta abrasi.

Lamanya proses curing tergantung pada faktor-faktor sebagai berikut :

1. Jenis semen yang digunakan
2. Proporsi dari campuran
3. Ukuran dan bentuk daripada beton
4. Kondisi cuaca disekitarnya
5. Kondisi cuaca setelahnya

Beton di tanah (misalnya trotoar, tempat parkir, jalanan, lantai, pelapis saluran) dan beton struktur (misalnya deck jembatan, dermaga, kolom, balok, lempengan) membutuhkan waktu curing minimal tujuh hari dengan suhu sekitar 5 ° C diatas suhu sekitarnya.

Institut Beton Amerika (American Concrete Institute-ACI) merekomendasikan jangka waktu minimum curing, proses curing dilakukan minimum hingga mencapai kekuatan 70 % dari kekuatan yang direncanakan.

70 % kekuatan dapat dicapai dengan cepat apabila curing dilakukan pada temperatur yang tinggi dan atau dengan penggunaan bahan kimia tambahan yang digunakan untuk mempercepat perkembangan kuat tekan.

Komite Institut Beton Amerika merekomendasikan waktu minimum curing sbb :

1. ASTM C 150 semen tipe I, waktu minimum curing 7 hari
2. ASTM C 150 semen tipe II, waktu minimum curing 10 hari
3. ASTM C 150 semen tipe III, waktu minimum curing 3 hari
4. ASTM C 150 semen tipe IV atau V minimum curing 14 hari
5. ASTM C 595, C 845, C 1157 waktu curing bervariasi

Grafik pengaruh waktu curing terhadap perkembangan kuat tekan
Civil Engineering

Temperatur curing yang tinggi dapat membantu perkembangan kuatan tekan awal beton tetapi dapat menurunkan kekuatan pada umur 28 hari.

Grafik pengaruh temperatur curing terhadap perkembangan kuat tekan
Civil Engineering
Sumber : http://www.cement.org

Geogrid, Definisi dan Fungsi

Definisi

Geogrid adalah salah satu jenis material Geosintetik (Geosynthetic) yang mempunyai bukaan yang cukup besar, dan kekakuan badan yang lebih baik dibanding Geotextile.
Civil Engineering
Material dasar Geogrid bisa berupa : Polyphropylene, Polyethilene dan Polyesther atau material polymer yang lain.

Berdasarkan bentuk bukaannya (Aperture), maka Geogrid bisa dibagi menjadi :

1. Geogrid Uniaxial

Adalah Geogrid yang mempunyai bentuk bukaan tunggal dalam satu segmen (ruas)
Civil Engineering

2. Geogrid Biaxial

Adalah Geogrid yang mempunyai bukaan berbentuk persegi
Civil Engineering

3. Geogrid Triax

Adalah Geogrid yang mempunyai bukaan berbentuk segitiga
Civil Engineering

Fungsi Geogrid

Secara umum Geogrid adalah bahan Geosintetik yang berfungsi sebagai Perkuatan (reinforcement) dan Stabilisasi (stabilization), dengan penjelasan detailnya sebagai berikut :

1. Geogrid Uniaxial

Berfungsi sebagai material perkuatan pada sistem konstruksi dinding penahan tanah (Retaining Wall) dan perkuatan lereng (Slope reinforcement)
Civil Engineering Civil Engineering

2. Geogrid Biaxial

Berfungsi sebagai stabilisasi tanah dasar. Seperti pada tanah dasar lunak (soft clay maupun tanah gambut). Metode kerjanya adalah interlocking, artinya mengunci agregat yang ada di atas Geogrid sehingga lapisan agregat tersebut lebih kaku, dan mudah dilakukan pemadatan.
Civil Engineering Civil Engineering

3. Geogrid Triax

Fungsinya sama dengan Biaxial sebagai material stabilisasi tanah dasar lunak, hanya saja performance nya lebih baik. Hal ini disebabkan bentuk bukaan segitiga lebih kaku sehingga penyebaran beban menjadi lebih merata.
Civil Engineering
Civil Engineering

Geogrid vs Geotextile

Apakah Tensile Strength Merupakah Hal Utama dalam Stabilisasi Tanah Lunak ?

Artikel ini ditulis sebagai jawaban atas pertanyaan, mengapa dalam spesifikasi Tensar TRIAX Geogrid tidak dicantumkan Tensile Strength ?

Mari perhatikan spesifikasi TRIAX TX-160 berikut :
Civil Engineering

Dalam spesifikasi tersebut tidak dicantumkan Tensile Strength ? Mengapa ? Jawaban singkatnya adalah karena seringkali Tensile Strength menjadi satu-satunya referensi untuk mendesain stabilisasi tanah dasar lunak pada struktur perkerasan. Padahal tidak demikian.

Uraian mengenai jawaban ini dijelaskan sebagai berikut :

1. Jika memang benar Tensile Strength menjadi hal yang utama dalam desain stabilisasi tanah dasar lunak maka penggunaan Geotextile Woven menjadi satu-satunya pilihan terbaik karena memiliki Tensile Strength yang cukup tinggi dan harganya lebih murah dibandingkan Geogrid Biaxial maupun TRIAX. Sebagai contoh Geotextile Woven 250 gr/m² buatan lokal mempunyai Tensile Strength lebih dari 50 kN/m. Sedangkan Geogrid Biaxial (seperti Tensar SS30, dulu mempunyai spesifikasi yang masih menyebutkan Tensile Strength) hanya mempunyai Tensile Strength sebesar 30 kN/m²). Tetapi performa Geotextile Woven 250 gr/m² dan Tensar SS30 ini sangatlah berbeda, perhatikan gambar berikut :

Spoiler for Gambar:


Stabilisasi Menggunakan Geotextile Stabilisasi Menggunakan Tensar Biaxial Geogrid

Gambar 1 dan 2, merupakan proses penggelaran 2 bahan Geosintetik yang berbeda pada daerah tanah dasar lunak (rawa).

Pada gambar 1 Stabilisasi Menggunaan Geotextile, terlihat bahwa dalam proses penggelaran saja sudah mengalami kesulitan karena Geotextile tersebut tidak dapat menopang berat badan orang yang menggelarnya. Sedangkan pada gambar 2, Stabilisasi menggunakan Tensar Biaxial Geogrid, proses penggelaran menjadi demikian mudahnya. Mengapa bisa terjadi demikian ? Padahal Tensile Strength Geotexile lebih besar daripada Tensar Geogrid Biaxial. Sebab faktor kekakuan (Stiffness) bahan lebih utama dibandingkan Tensile Strength. Cara kerja kedua bahan juga berbeda, Geotextile menggunakan mekanisme Membrane Effect (yang hanya mengandalkan Tensile Strength), sedangkan Tensar Geogrid (Biaxial maupun TRIAX) menggunakan mekanisme Interlocking (Confinement Effect).
Civil Engineering
Gambar 3 Mekanisme Cara Kerja Geotextile dan Geogrid

2. Banyak merk dari Geogrid Biaxial yang mengaku mempunyai Tensile Strength yang lebih tinggi dibandingkan Tensar Geogrid, apakah mempunyai Performa yang lebih baik ?

Gambar berikut diambil dari studi kasus Stabilisasi tanah dasar Proyek Pelebaran Jalan Pamanukan – Eretan Kulon (Pantura, Jawa Barat, 2005) .
Spoiler for Gambar:


Stabilisasi Menggunakan Geogrid Biaxial merk X Stabilisasi Menggunakan Tensar Geogrid Biaxial

Pada Gambar 4, Geogrid Biaxial merk X yang digunakan mempunyai spesifikasi Tensile Strength sebesar 60 kN/m. Sedangkan Gambar 5, Tensar Geogrid Biaxial SS30 hanya mempunyai Tensile Strength sebesar 30 kN/m. Tetapi Performa kedua Geogrid Biaxial tersebut sangatlah berbeda. Geogrid Biaxial merk X tersebut mudah sekali rusak, terutama dalam proses pemadatan, sehingga mekanisme kerja Interlocking nya menjadi tidak efektif bahkan tidak bermanfaat sama sekali.

Gambar selanjutnya adalah studi kasus, pengujian Tensile Strength di laboratorium Bahan Teknik di Jl. Sangkuriang Bandung, Jawa Barat, antara dua Geogrid Biaxial yang sangat mirip, yaitu Tensar Geogrid Biaxial SS30 dan Geogrid Biaxial ‘merk Y’ asal Cina.

Gambar 6 Proses Pengujian Tensile Strength Tensar Geogrid SS30
Gambar 6a
Civil Engineering

Gambar 6b
Civil Engineering


Gambar 7 Proses Pengujian Tensile Strength Geogrid Biaxial ‘merk Y’

Gambar 7a
Civil Engineering

Gambar 7b
Civil Engineering


Hasil uji Tensile Strength kedua merk Geogrid tersebut memiliki nilai yang hampir sama (diatas 50 kN/m). Bahkan Geogrid Biaxial merk Y memiliki Tensile Strength sedikit lebih tinggi (hampir 60 kN/m). Tetapi dari proses pengujian tersebut terlihat perbedaan performanya.

Gambar 6b merupakan dua bagian Tensar Geogrid SS30 yang putus setelah ditarik dengan tegangan maximumnya. Geogrid SS30 ini putus pada bagian tengah badan geogrid dengan bentuk putusan yang teratur.

Sedangkan Gambar 7b merupakan dua bagian Geogrid Biaxial ‘merk Y’ yang putus setelah ditarik dengan tegangan maximumnya. Geogrid ini putus dengan bentuk yang tidak teratur dan terbagi menjadi serat-serat kecil.

Bentuk putusan tidak teratur menjadi serat-serat kecil ini menunjukan bahwa Geogrid tersebut terbuat dari bahan dasar dan proses pembuatan yang kurang baik. Sehingga pada proses pemadatan, terutama mengunakan material granular, Geogrid Biaxial ‘merk Y’ ini akan mudah rusak (badan Geogrid menjadi pecah-pecah). Akibatnya mekanisme Interlocking menjadi tidak efektif.

Sumber

Spoiler for u/ Agan Blackroot:
Quote:


Iya cak edy, lebih tepat nya membuat beton menjadi lecak ( kyk becek gitu deh ) menaikain nilai slump :-)

@wong civil :
makasih kk atas informasi nya emoticon-thumbsup:
Civil Engineering
Quote:


walah..ada bang bedul.
Ow, pake rumusnya Istimawan ya bang..nti deh ane baca-baca lagi. Buat laporan PKL ni bang emoticon-Malu
emoticon-shakehand

poto

:matabelo :matabelo sudah ada index,
ikutan nyumbang poto,
maaf kameranya jelek :iloveindonesia
Spoiler for sosrobahu:

Spoiler for sosrobahu:

Spoiler for sosrobahu:

Spoiler for sosrobahu:
Quote:


Oklek, masuk cak edypri, ntar silahken di cek OYI!!!

Quote:


wah keren nih mas brooooo, UPLOAD Fotonya di Facebook ceweknya yach???emoticon-Big Grin

Mei Ishigawa
Post ini telah di hapus oleh
Post ini telah di hapus oleh
Quote:


ya coba aja deh gampang kok....emoticon-I Love Indonesia
Gan pengen tanya, disini blh membicarakan masalah kerjaan ga ya ? ane final year student yg jg merangkap jd job seeker. Nah ane cm pengen tau kira2 perusahaan2 kontraktor yg OK tuh apa aja yah ? Terus bagaimana karirnya ? Mungkin ada yg mau ngasi bocoran. hehe. thx
Quote:


maksudna baca gambar kayak gini lo brother
Spoiler for gamabar 1:


Spoiler for gambar 2:


ket:yang saya tanyakan da saya kasih tanda dan nama

A=?

sampai

F=?
masalahnya kelihatan gampang ya gan...
soalnya ane masih newbie di dunia sipil
hehehehe mohon sesepuh juga membantu ane ya...
Quote:


saya coba bantu yach... mungkin di tempat mas bro ada itu buku dengan judul Dasar-dasar Perencanaan Beton Bertulang Berdasarkan SKSNI T-15-1991-03 karya W.C. Vis dan Gideon Kusuma. nah di buku itu lengkap deh dari cara gambar dan cara membacanya coba mas bro cari dulu dan mungkin bermanfaat dan bisa memberi pencerahan emoticon-Big Grin
ane angkatan 2009 gan,minat sma struktur kira2 yg pnting d struktur apa aja ya?
Quote:


Dipegang dulu SST dan SSTT sbg kunci kerja

Job Done^^

Quote:


kalau ada linknya mas bro...biar ane download...sebelumnya terimah kasih ya mas.bro
Quote:


help me please emoticon-I Love Indonesia
Quote:


ini kebetulan saya ada, pinjem dari perpus..emoticon-Malu
halaman berapa ya gan? emoticon-Hammer2
Halaman 232 dari 360


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di