alexa-tracking
Kategori
Kategori
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/000000000000000005814837/zen

Zen

Tampilkan isi Thread
Halaman 3 dari 57
Quote:


Quote:


saya ingin menjabarkan ini,

zen tidak akan bisa membuat mahluk mencapai kesadaran total jika mahluk tersebut tidak sadar

ajaran Buddhisme Zen hanya akan jadi sekumpulan kata kata jika kita tidak merasakan zen tersebut,

seperti sebuah jubah tidak serta merta membuat seseorang menjadi suci,

dalam bahasa agama Islam bisa saya bilang,
orang yang memakai sorban, melakukan shalat, bergelar haji, membaca Al Qur'an, tidak serta merta menjadikan orang tersebut suci, sadar, mengerti, memahami Islam

sorban hanyalah kain, shalat hanyalah ritual, haji hanyalah gelar dari manusia, Al Qur'an hanyalah buku dan semuanya tak akan ada artinya jika tidak timbul kesadaran dari dalam diri kita sendiri, jika diri kita tidak mewujudkan kesadaran tersebut

dan itulah zen, karena zen adalah makan saat lapar dan tidur saat mengantuk

ini sekedar pendapat pribadi saya saja lho
Bro Coffin, sesuai janji sebelumnya saya bantu sumbang materi untuk Zen.

Apa itu Zen?

Cerita Teka-Teki
Berikut ini ada satu cerita yang menggambarkan hal-hal yang menarik mengenai Zen.

Suatu hari Dao Xin, patriarch Zen ke-4, mengunjungi Fa Rong di Gunung Kepala Banteng. Fa Rong begitu sucinya sehingga tempat tinggalnya dilindungi oleh macan dan serigala sementara burung-burung membawakannya bunga setiap hari. Saat Dao Xin melihat hewan-hewan liar itu, ia berpura-pura takut dan menggerak-gerakkan tangannya untuk melindungi diri. Melihat hal itu, si orang suci berkata, 'Kau masih memiliki rasa takut?' Kemudian saat Fa Rong berkunjung ke rumahnya, Dao Xin menuliskan kata 'Buddha' pada batu tempat duduknya. Saat Fa Rong muncul dan akan duduk, ia melihat kata keramat itu dan tidak jadi duduk. "Kau masih memiliki rasa takut duduk diatas kata tersebut?' kata Dao Xin. Pada saat itu ia sadar dan memperoleh pencerahan. Sejak saat itu ia sadar akan tidak perlunya keberadaan binatang liar yang melindungi rumahnya dan burung yang membawakannya bunga.

Apa yang maksud kata Dao Xin kepada Fa Rong, dan mengapa binatang-binatang liar serta burung-burung tidak lagi datang setelah Fa Rong mendapatkan pencerahan?


Arti Zen

Zen mempunyai tiga arti:
1. Zen berarti meditasi.
2. Zen adalah istilah Jepang untuk ungkapan bahasa China Chan, yang bila ditelusuri berasal dari bahasa Sansekerta 'dhyana'. Dalam bahasa Pali disebut Jhana, menunjuk pada tahapan pengalaman meditasi yang sangat dalam.
3. Zen menunjuk pada satu Kekuatan Absolut atau Realitas Tertinggi, yang tidak dapat disebutkan dengan kata-kata.

Ketiga arti Zen ini saling berkaitan. Secara khusus arti Zen adalah suatu kesadaran/ pengalaman akan ke-Absolut-an/ Realitas Kosmis/ Realitas Tertinggi, yang terjadi secara spontan, tiba-tiba dan melampaui batasan kesadaran seseorang.


Tiga Kategori Zen Buddhisme

Dari sekian banyak macam mazhab Zen, Zen Buddhisme dicatat sebagai yang tercepat dalam mendapatkan pemahaman realitas kosmis. Ada tiga mazhab Buddhisme utama: Mahayana, Hinayana (Theravada) dan Vajrayana. Zen Buddhisme merupakan salah satu aliran utama dalam Buddhisme Mahayana.

Dalam Zen Buddhisme sendiri, ada banyak jalan untuk mendapatkan pemahaman dan realitas kosmis, atau dalam istilah Zen, untuk mengalami satori. Cara yang banyak itu dapat dikelompokkan ke dalam Zen Tathagata dan Zen Patriarki.

- Zen Tathagata adalah bentuk meditasi yang secara tradisional diajarkan oleh sang Buddha kepada kebanyakan murid-muridnya.

Dalam Zen Tathagata, penekanannya adalah pada pencapaian satu pikiran yang terpusat melalui konsentrasi dan kontemplasi. Ini semacam bentuk meditasi yang biasa dipaparkan dalam bagian literatur naratif Buddhisme dan kadang-kadang disebut sebagai 'meditasi sesuai dengan tradisi'

- Zen Patriarki adalah bentuk meditasi yang diajarkan oleh Bodhidharma di China. Zen Patriarki ini pada sejarahnya berasal dari ajaran sang Buddha juga, yang diturunkan kepada Mahakasyapa, yang nantinya menurunkannya kepada Bodhidharma melalui 28 patriarch India.
Zen Patriarki terkenal dengan istilah 'Ajaran diluar kitab suci dan kata-kata (diluar tradisi), diajarkan dari hati ke hati, langsung menuju ke hati dan memberikan pencerahan spontan kepada murid-murid.

Dalam Zen Patriarki, penekanannya pada bagaimana menyatu dengan kekosongan melalui proses mempertahankan kesadaran murni kita. Zen Patriarki sering dilambangkan dengan istilah 'kunci pikiran' atau 'mata-dharma sejati'.

Cerita berikut ini menggambarkan mengenai Zen Tathagata dan Zen Patriarki.

Yang Shan menanyai adik kelasnya, Zhi Xian tentang bagaimana kemajuan spiritualnya. 'Tahun lalu aku miskin tetapi tidak miskin; tahun ini aku miskin dan tidak memiliki apapun' , jawabnya.
Yang Shan gembira mendengar jawaban itu. Tentu saja ia tidak bergembira atas kemiskinan adik kelasnya, seperti yang ditunjukkan dari arti harfiah atas jawaban Zhi Xian. Ia memahami artinya yang lebih dalam dan menyatakan, 'Selamat adik kelas, kau telah mencapai Zen Tathagata tetapi kau belum memimpikan Zen Patriarki.'
Zhi Xian menjawab, 'Aku memiliki indera yang biasa kugunakan untuk melihat terus-menerus seorang gadis cantik; jika orang lain tidak tahu, tolong jangan bangunkan aku dari mimpiku.'
Yang Shan melonjak gembira dan melaporkan pada guru mereka, Wei Shan, bahwa Zhi Xian telah mencapai Zen Patriarki.
Quote:


sip bro, makasih tambahannya, saya masukin ke post yang udah direserve
Zen Buddhisme Theravada

Meditasi adalah jalan esensial menuju pencerahan, bukan hanya dalam Zen Buddhisme tetapi juga dalam mazhab Buddhisme lainnya.

Dalam bahasa Pali, bahasa utama dalam Buddhisme Theravada, Zen disebut Jhana atau meditasi, yang di dalamnya termasuk konsentrasi dan kontemplasi mental yang dapat meningkatkan kesadaran dari pengalaman kehidupan normal pada tingkat kemurnian pencerahan yang lebih tinggi. Pemurnian pikiran ini dirintangi oleh lima nirvarana (rintangan dalam kemajuan) yaitu nafsu sensual, rasa dendam, kemalasan, keraguan dan kebingungan. Saat kelima rintangan ini dapat diatasi, orang yang bersangkutan mencapai keadaan samadhi atau pikiran yang terpusat pada satu hal, dan siap untuk melakukan kontemplasi.

Dalam meditasi Theravada, topik pokok untuk kontemplasi adalah anicca
(ketidakkekalan), dukkha (penderitaan) dan anatta (Tiada-Aku). Zen atau Jhana dalam Buddhisme Theravada ada dua jenis utama yaitu samatha-yana (meditasi keheningan) dan vipassana (insight meditation). Keduanya juga diterapkan pada mazhab Buddhisme Mahayana dan Vajrayana.

Saat seorang murid Theravada bermeditasi, ia berjalan melewati empat tingkatan jhana.
1. jhana pertama: meditator mengalami transisi dari kesadaran atau keinginan sensual ke keadaan ketenangan diri yang tidak terguncang oleh rangsangan eksternal.
2. jhana kedua: meditator mengalami semangat, kebahagiaan, dan satu kejelasan pikiran.
3. jhana ketiga: meditator sangat bersemangat dan mengalami suatu keadaan yang paling bahagia yang mungkin dialami oleh manusia, suatu keadaan yang penuh konsentrasi tanpa terganggu apapun.
4. jhana keempat: meditator mencapai kebebasan dari ikatan dunia yang berbau sensual, mencapai pemahaman diri dan dapat mengendalikan tubuhnya, mempertahankan konsentrasi penuh yang sempurna dan ketenangan hati dan biasanya memiliki kemampuan supranatural.

Proses pencerahan dalam Buddhisme Theravada disebut sebagai pencerahan bertahap.


Zen Buddhisme Mahayana

Dalam dan luasnya meditasi Buddhist direfleksikan dari bervariasinya pendekatan yang biasa digunakan dalam ketiga aliran utama Buddhisme. Ini dikarenakan Buddha dan guru-guru Buddhist lainnya sadar bahwa meskipun orang mungkin menyakini filosofi yang sama dan mengejar tujuan yang sama, mereka memiliki kebutuhan dan kemampuan yang berbeda.

Selama meditasi insight, disamping berkontemplasi pada tiga doktrin theravada, para penganut Mahayana sering kali merefleksikan pada kekosongan realitas kosmis, pada penderitaan makhluk hidup, pada keinginan untuk menyelamatkan mereka dan pada kerinduan untuk menyelamatkan dunia. Sementara meditasi para penganut Theravada hanya mengarah pada ketidakterikatan diri, kontemplasi para penganut Mahayana mengarah pada ketidakterikatan baik dari diri sendiri maupun dari fenomena. Para penganut Mahayana melakukan meditasi melampaui empat tingkatan meditasi, yaitu empat keadaan lebih tinggi yang dikenal sebagai empat dhyana dan delapan keadaan samadhi.

Pada tingkatan kelima, meditator merefleksikan kekosongan ruang yang tidak terbatas; tingkatan keenam, pada lingkaran kesadaran yang tidak terbatas; tingkatan ketujuh, pada ketidakterbatasan lingkaran kehampaan; tingkatan kedelapan, pada ketidakterbatasan lingkaran baik ada pemikiran maupun tanpa pemikiran.


Zen Buddhisme Vajrayana

Meditasi Vajrayana sangat dipengaruhi oleh Tantra, dan menggunakan alat bantu seperti mantra, mudra, visualisasi dan mandala untuk membantu seorang meditator mencapai kesadaran kosmis.
Mantra adalah kombinasi suara mistik; mudra adalah formasi mistik dan posisi jari meditator yang dikenal dengan kuncian-tangan (hand-seal); mandala adalah rancangan mistik, biasanya dalam bentuk geometris, mewakili alam semesta.
Zen

Zen
Yg punya ebook Zen, bahasa indo minta dong...

Buat TS, knp ga dibahas 1/1 filsafat zen ini..?
Zen
emoticon-I Love Indonesia

asik nih ! ceritanya !
Quote:


kalau soal penjelasan filsafat saya nunggu yang lebih ahli aja om emoticon-Big Grin
Zen

bookmark dl ... emoticon-linux2 ... skalian mau baca" soal Zen emoticon-Matabelo

yang ilustrasi seperti diatas keren banget tuh ...

ikut nyimak ya mas coffin emoticon-Smilie
Quote:


monggo om, semoga bermanfaat,
nubi ijin menyimak emoticon-Embarrassment
duduk dengan tenang menunggu uraian selanjutnya para sesepuh diatas emoticon-Smilie




emoticon-linux2
Quote:


menyadari bahwa saat anda membaca tulisan ini anda masih hidup juga zen emoticon-Smilie
PUISI BAU KENTUT!

Seorang cendekiawan, Zhou Zi, yang telah mempelajari konsep Buddhisme dari gurunya, seorang Mahabhikshu Zen, pada suatu hari membuat suatu puisi yang menurutnya merupakan pencerminan keadaan batinnya yang tenang, tentram dan bahagia. Dalam puisinya tersebut, dilukiskan bagaimana dia telah mencapai keadaan batin yang damai, kokoh, tidak terpengaruh oleh bahkan delapan mata angin sekalipun.

Sungguh bangga sekali Zhou Zi akan puisi barunya tersebut, sehingga dia berniat untuk mengirimkan kepada gurunya yang tinggal di seberang sungai, dengan harapan akan memperoleh pujian. Zhou Zi segera mengirimkan kurir untuk menyampaikan puisinya tersebut, yang diberi judul "Hati yang Tiada Tergoyahkan". Setelah gurunya menerima kiriman puisi tersebut dan membacanya, dimana oleh kurir cendekiawan dimintakan agar gurunya dapat menuliskan kesannya, maka beliau menuliskan sesuatu di balik kertas puisi tersebut dan diserahkannya kembali melalui kurir.

Zhou Zi menunggu kedatangan kurirnya untuk membaca pujian yang disampaikan oleh gurunya, dan segera dibuka sampul berisi kertas puisinya. Betapa marahnya Zhou Zi menemukan tulisan gurunya berupa tinta merah dengan tiga huruf besar, "PUISI BAU KENTUT". Sungguh geram Zhou Zi, dia menilai gurunya benar-benar tidak mengerti ungkapan yang mendalam dari dia akan konsep Buddhisme tentang keseimbangan batinnya. Zhou Zi memutuskan untuk segera ke seberang sungai menemui gurunya.

Sesampainya di tempat gurunya, Zhou Zi menanyakan dengan emosi yang ditahan, "Kenapa suhu mencela puisi saya, apakah suhu tidak bisa menangkap arti kiasan yang begitu mendalam dari puisi ini?"

Mahabhikshu Zen tersebut tertawa dan berkata; "Ha...ha....ha..., lihatlah dirimu sendiri muridku, baru terkena satu angin kentut saja, Anda sudah terbirit-birit ke sini..., apalagi kalau diterpa delapan mata angin sekaligus!" (satu angin yang dimaksud oleh Mahabhikshu Zen tersebut adalah keadaan batin yang dicela).


Sang Buddha bersabda:


"Mereka yang telah memotong semua kemelekatannya
dan telah mengatasi gejolak batinnya,
akan tenang, tentram dan bahagia,
karena dia telah mencapai keadaan batin yang damai."
(Samyutta Nikaya I, 212).
Quote:


selamat menikmati secangkir kopi emoticon-coffee
Quote:


xixiixixixixii.. yg ini lucu yaww..... emoticon-Embarrassmentemoticon-Embarrassmentemoticon-Embarrassment
permisi? bisa minta tolong gak soal gambar yang ceritanya

Apel yang digigit...

cerita2 biksu2 bertanya mengapa penjelasan Buddha itu selalu dengan perumpamaan? trus dikasih jawaban, "bisakah kalian memakan apel yang sudah aku gigit?"

saya nyari2 gak ketemu picnya emoticon-Embarrassment
Quote:


iya cara ngetesnya pinter emoticon-Big Grin

Quote:


wah nanti tak cari dulu ya om, kayaknya sih baru baca nih kisah ini,

nanti kalau udah ketemu langsung tak taruh sini
SAYA KENCING DIMANA?

Suatu hari dua pendeta Zen berjalan di tengah hutan.
Tiba-tiba pendeta Zen yang lebih tua mau kencing.
Dengan tanpa beban pendeta tua ini kencing di sebelah patung Buddha.
Tentu saja yang muda marah.

Tanpa menoleh seinchi pun pendeta tua tadi bertanya :
tunjukkan saya tempat di mana tidak ada Buddha?
Tentu saja dijawab standar kalau semua tempat adalah Buddha.
Dengan enteng pendeta tua bertanya balik :
kalau begitu saya kencing di mana dong?

Pembahasan :

Menganggap atribut agama sebagai sesuatu yang suci tentu baik.
Namun melekat berlebihan pada konsep kesucian,
kemudian memproduksi kekotoran batin ,
tentu layak direnungkan.

Terutama karena kesucian tidak diciptakan untuk menghasilkan kemarahan/permusuhan.
Lebih-lebih kalau konsep kesucian menghasilkan pembunuhan.
Kesucian juga mengerikan.

Kesucian ada karena ada kekotoran, tanpa kekotoran kesucian menghilang.
Totalitas dari keduanya itulah yang membebaskan.
Halaman 3 dari 57


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di