alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Hobby / ... / Spiritual /
Ketuhanan Vedanta
4.39 stars - based on 127 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/000000000000000001649363/ketuhanan-vedanta

Vedantha (kusus Hindu)

Tampilkan isi Thread
Halaman 37 dari 315
Quote:


Guru pakgelgel sapa emank?

TUHAN bersifat MAHA KONTRADIKTIF?
Saya gag lihat itu tuh pak....
Yang bikin kontradiktif itu karena kita pake BAHASA INDONESIA yang mengartikan kata "MAHA" menjadi kalimat ABSOLUT, padahal seharusnya kata "MAHA" ini diartikan dalam kalimat KOMPARATIF. Bila pakgelgel bisa mengartikan kata MAHA dalam kalimat KOMPARATIF, tentu bapak bisa mencerna kalimat2 yang kontradiktif. Siapa sih yang PALING MAMPU melebarkan rejeki? TUHAN kan? lalu siapa sih yang PALING MAMPU menyempitkan rejeki? ya TUHAN juga kan? Coba kalo pakgelgel artikan kata MAHA ini dalam artian ABSOLUT, MAHA PENGASIH = Absolut pengasihnya, Lho ko di sana tertulis TUHAN juga MAHA PENYIKSA, kalimat Absolut dari MAHA PENGASIH jadi cacat dong? Kan jadi aneh tentunya kalo di artikan kata"MAHA" itu dalam pengertian ABSOLUT.... emoticon-Embarrassment

No wonder ea jadinya kalo TUHAN menciptakan SETAN cuma buat DIZHOLIMI, padahal bukan TUHAN yang menzholimi tapi SETAN itu sendirilah yang menzholimi dirinya karena KESOMBONGAN nya. Jadi bukan karena SETAN inget larangan TUHAN, kalo SETAN inget larangan TUHAN pasti dia ngomongnya "Wahai TUHAN bukankah ENGKAU melarangku menyembah kepada selain ENGKAU?" , tapi SETAN gag ngomong gitu kan? dia ngomongnya "dia tercipta dari tanah, sedangkan aku dari api", gitcu pakgelgel.... emoticon-Embarrassment

Tambahan:
Kalo MAHA KONTRADIKTIF / berpasang2an, ko Asma'ul Husna jumlahnya 99, kalo dibagi dua hasilnya kan bukan bilangan bulat emoticon-Belo
Quote:


daripada bingung mikirin kesaksian orang lain
lebih baik kita ikuti ajaran masing-masing
sehingga diri sendirilah yang menyaksikan..
dan timbul keyakinan bukan dari katanya-katanya...

gitu..
mudah thoh?
Quote:


Bukan, itu 'kan pikiran orang doktrinis. Kalau orang bebas (spiritualis) tidak akan meyakini sesuatu dulu sebelum dipelajari. Jadi tahapannya: Mengenal, mempelajari, membuktikan, baru diyakini/dijalankan. Bahkan harusnya tak ada kata "diyakini", tapi yang benar "Sudah dilihat, dirasakan, dialami, dipraktekkan". emoticon-shakehand
Quote:


mudah banget bro, emang seharusnya begitu...karna saya juga melakoninya sesuai dengan apa yg saya yakini.

Hanya saja fungsi pertanyaan saya diatas tadi, jika pak gelgel bersedia menjawabnya, hanya sekedar penyeimbang opini yg sudah terbentuk dlm trit ini saja, siapa tau opini tsb salah? Kan kasian jg bagi yg udah terlanjur mempercayai apalagi meyakininya...
Karna kesaksian tsb jg dr seorang master Falun Dafa yakni Master Li Hongzi....
-- dopost--
--inet lemot--
Quote:

bro Aaron..
setiap orang kan diciptakan berbeda-beda,
ada yang kuat,
ada yang lemah,
ada yang belajar terus tapi gak bisa-bisa,
ada yang cukup sekali mendengar tapi langsung paham...

Utk masalah tahapan,
utk bro Aaron mungkin yang cocok seperti itu,
Ada pembuktian dulu --> baru dijalankan...

Bagaimana ada pembuktian,
kalau langkah-langkahnya belum dijalankan...

Kalau saya tahapnya gini bro...

Mempelajari
Membenarkan secara konsep
(masih tataran logika)
Menjalankan langkah-2 dengan seksama
Penyaksian
Membuktikan
Yakin

emoticon-shakehand

Keyakinan memang gak akan didapatkan
hanya dengan membaca
sebelum
mengalami
merasakan
menyaksikan
(
Kalau ada orang yang meyakini,
hanya dengan membaca itu mgkn yang dinamakan
keyakinan buta -- dan sangat rentan salah
)
Quote:


Kalau begini tahapnya, maaf saja, itu namanya doktrinis. Anda membenarkan dulu sebelum membuktikan. Bisa dipastikan Anda memilih agama bukan karena memilih secara pribadi, tapi dipilihkan orang tua (keluarga yang lebih tua). emoticon-Smilie emoticon-shakehand
Quote:


hehhe...
boleh saja bro Aaron berpendapat begitu...
Terdoktrin...
Terdogma...

Istilah "membenarkan"...
dari segi konsep (bisa diterima nalar..tapi jelas belum dinamakan yakin)

Masa sih...
utk memilih suatu jalan hidup... dipilihkan ortu?
Bahkan utk milih baju aja..(hal yang sepele)
saya pilih sendiri koq bro......

emoticon-shakehand
Quote:


Jadi keyakinan Anda didasari atas apa? Saya penasaran ingin tahu. emoticon-Smilie
Quote:


mungkin sama dengan bro Aaron...
merasakan
mengalami
penyaksian

mungkin bedanya...
kalau saya...
semua itu didapatkan,
setelah menjalankan langkah-langkah

emoticon-Smilie
Quote:

emoticon-Sundul Up

Quote:

emoticon-Angkat Beer emoticon-Shakehand2
Quote:

Pendapat saya bro.. kalau emang disebut doktrinis.. 99% orang di indonesia itu doktrinis, karena ber-agama adalah kewajiban bagi seluruh rakyat Indonesia.. mungkin kurang dari 1% orang yang memilih keyakinannya atau merubah keyakinannya.

Mengenai pembabaran pak gelgel, saya pribadi tidak meyakininya 100% namun tidak bijak juga kalau menyalahkannya. Membaca thread ini seperti membaca buku, buku adalah benar dari sudut pandang pengarangnya.

bagi orang awam seperti saya, cukuplah dijadikan referensi pembanding untuk mencari kebenaran yang lebih benar. saya akan cari buku yang lain dan tempatkan semua buku itu dalam perpustakaan ilmu. Sambil berdoa memohon bimbingan TUHAN untuk membisikkan kebenaran dalam hati kita...emoticon-Smilie

kalau dalam agama saya ada ungkapan:
"Bacalah, dengan NAMA TUHAN mu yang maha menciptakan"
membaca pengetahuan sambil memohon petunjuk TUHAN, yang menciptakan saya..emoticon-Smilie
Membaca, sambil memohon agar diberikan penyaksian atas ke Maha Agungan-NYA

Penyaksian yang diberikan kepada pak Gelgel belum tentu sama dengan penyaksian yang dianugerahkan kepada saya. bahkan belum tentu saya mengalami penyaksian itu.

Selanjutnya.. silahkan pak Gelgel membuka lembaran buku pengetahuannya. Ijinkan saya membacanya dan saya akan mencari kebenaran sendiri, sesuai petunjuk TUHAN.
hidup itu sendiri kan doktrin....gak mau di doktrin ?, pilih kehidupan lain... emoticon-Embarrassment
Quote:


Kalau bicara soal statistik/hukum/ketata-negaraan, bahkan atheis pun masuk dalam hitungan 'beragama'. emoticon-Smilie Berapa banyak orang yang berani mengosongkan kolom agama di KTP-nya? emoticon-Embarrassment

Tapi karena ini room spiritual, jelas kita tidak bicara soal beragama dalam konteks "KTP", tapi beragama dalam konteks keyakinan pribadi. Dan "hal pribadi" dalam memilih agama itulah yang dishare disini; Ada yang memilih karena sudah mempelajarinya matang-matang, ada yang memilih karena sudah dari sononya (dipilihkan orang tua), ada juga yang tidak memilih apa-apa (tapi tentu masih ada setidaknya 1 agama dalam kolom KTP-nya). emoticon-Smilie

emoticon-shakehand
Quote:


Hidup itu bebas, orang bebas baru bisa sukses karena mendobrak doktrin-doktrin yang berkembang di masyarakat. Coba baca kisah-kisah seperti M. Yunus, Oprah Winfrey, Gandhi, dll. Anda akan menemukan bahwa mereka adalah sebagian dari yang berani mendobrak "tradisi".

Yang tidak berani mendobrak tradisi, jadilah dia seperti robot. Celakanya robot-robot ini ingin "merobotkan" orang lain juga, dengan mendirikan negara dengan asas agama tertentu, hukum negara mau diganti dengan hukum agama, sistem ekonomi mau diganti dengan syariat agama, dlsb. Masa dunia mau dibentuk dengan satu sistem? Padahal hidup adalah pilihan. emoticon-Smilie
Quote:



yup...bebas... ujung2nya apa sih dari bebas ?
Quote:


sesepuh bagi2 ajarannya dimari yaaak
Quote:


saya bukan sesepuh mas... juga gak punya ajaran apa-apaan....emoticon-Smilie

sama ts, pak gelgel ato mas aronspark aja.... emoticon-Embarrassment
Quote:


Ujung-ujungnya juga apa sih dari terdoktrin? emoticon-Embarrassment

Quote:


Sama Mas Pengging dan Berliant saja. emoticon-Embarrassment

emoticon-Ngacir
Halaman 37 dari 315


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di