alexa-tracking
Kategori
Kategori
4.86 stars - based on 7 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ce69b7fa72768264611cdba/hijrah-sang-bodyguard

Hijrah Sang Bodyguard


Hijrah Sang Bodyguard

 
 
Aldo seorang Bodiguard Jendral, khusus pada tahanan kriminal di penjara Le Shong. Ia berumur 32 tahun saat ini. Sejak usia tujuh tahun, ia dibesarkan oleh ayahnya, Fernando yang juga mantan Bodiguard sang Jendral. Aldo melanjutkan profesi ayahnya.
 
Sejak kecil, Aldo dibesarkan dengan kasar dan keras. Jika apa yang diperintahkan ayahnya tidak sesuai, maka sepatu boot milik Fernando langsung melayang ke wajah anak itu. Hal itu menciptakan Aldo, seorang yang keras dan juga kasar pada siapa saja. Ia tak takut pada siapapun, kecuali ayahnya.
 
Profesi sebagai Bodiguard telah lima tahun ia jalani. Sang Jendral sering menyuruhnya untuk berkeliling memantau keadaan para narapidana.
 
Para tahanan tak ada yang berani padanya. Sebab, sedikit saja melawan, sepatu boot miliknya akan menerjang wajah-wajah para tahanan itu. Ia sangat kejam, bengis dan suka menyiksa, tetapi tidak untuk membunuh. Baginya, jeritan siksaan lebih ia sukai.
 
Suatu hari, seorang tahanan baru, ingin melarikan diri, hal itu diketahui oleh Aldo. Pada saat itu juga tahanan tersebut langsung disiksa di tempat hingga darah segar keluar dari bibir dan pelipisnya, wajahnya penuh dengan lebam berwarna ungu, dan perutnya terasa nyeri. Sang tahanan kapok, dan tak berani berniat melarikan diri lagi.
 
***
 
Ada satu tahanan lama yang suka membuat Aldo kesal. Ia dipanggil Ustadz oleh para tahanan yang ada di situ. Sudah berpuluh kali ia menyiksa lelaki tua itu, tetapi seakan tidak menghiraukannya, tahanan itu tetap mengulangi perbuatan yang sama yang sangat mengganggu Aldo. Ia suka melantunkan bahasa yang yang tak dimengerti, juga melakukan gerakan-gerakan ritual yang sangat dibenci oleh sang Bodiguard.
 
Hari ini, ketika Aldo keliling panjara, kembali ia mendengar lantunan-lantunan yang sangat mengganggunya.
 
“Hei, kamu tua bangka! Keluar! Hentikan aktivitasmu itu, telingaku sakit mendengar suara jelekmu!” bentak sang Bodiguard. Matanya melotot, dan giginya menggeretak. Ia terlihat seakan ingin menerkam lelaki tua yang sangat dibencinya itu.
 
Hari ini, jika tahanan itu tak juga menuruti perintahnya, ia akan melanggar perinsipnya sendiri. Yaitu, akan menyiksanya hingga mati.
 
Sementara para tahanan mulai ramai mengintip dari balik jeruji. Ada rasa khawatir yang mulai merasuk. Mereka sangat mencintai sang Ustadz, karena hanya ia yang selalu memberikan nasihat dan membimbing mereka menjadi pribadi yang baik.
 
Sang Ustadz tetap pada aktivitasnya. Ia tak menghiraukan teriakan Aldo. Membuat sang Bodiguard semakin marah. Ia masuk ke dalam sel. Terlihat Tubuh seseorang yang sangat kurus, hanya kulit yang membungkus tulang-tulang di tubuhnya. Ia seperti mayat hidup. Namun, wajahnya sejuk dan bersih. Tak ada rasa takut terlihat di wajahnya.
 
Kesal melihat tahanan yang meremehkannya, ia mendaratkan sepatu bootnya ke wajah lelaki tua itu. Tahanan tinggal tulang itu tersungkur ke lantai. Sebuah kitab yang sedari tadi dipegangnya pun ikut terjatuh. Buru-buru sang tahanan meraihnya kembali serta menciumnya.
 
Darahnya semakin panas melihat tingkah si tua renta, Aldo menendang lengan lelaki itu, tetapi sang tahanan semakin mengeratkan pegangannya dan memeluk kitab tersebut.
 
“Berikan padaku benda itu!” perintah Aldo pada lelaki yang sedang disiksanya.
 
“Tidak akan! Tangan busukmu tak pantas menyentuh kitab suciku!” Ucapan tahanan itu membuat Aldo semakin naik pitam.
 
“Kau sungguh menghinaku! Aku tidak akan membiarkanmu kali ini. Berikan benda itu!” Suara Aldo semakin meninggi. Namun, sang tahanan lagi-lagi mengacuhkannya.
 
Aldo mengambil kerah baju lelaki itu, kemudian menyeret tubuh yang tak berdaging itu keluar dari sel. Para tahanan semakin jelas melihatnya. Mereka menangis menyaksikan Ustadz yang disayangi lemah tak berdaya.
 
Aldo mengambil tongkat dan memukuli pria lemah di depannya. Namun, tak ada jerit kesakitan yang keluar dari pria tua itu. Ia seakan ikhlas dianiaya oleh Bodiguard yang terkenal kejam itu.
 
Siksaan demi siksaan yang dilakukan Aldo tak berhasil membuat pria tua itu bertekuk lutut. Kesabarannya telah habis. Dengan sekuat tenaga ia menerjangkan kaki panjangnya ke tubuh lelaki yang sudah tak berdaya. Lagi kitab itu terjatuh dari genggaman, dan ketika tertatih hendak mengambil, tangannya dipijak oleh sang Bodiguard. Bunyi tulang patah terdengar, membuat tangis para tahanan lain memecah. Namun sang Bodiguard seakan menikmati kekajamannya.
 
Tangan tahanan itu tak bisa lagi digerakkan, ia tak mampu meraih kitab usang yang setia menemaninya sejak berada di penjara. Hanya air mata mulai bercucuran dari kedua netranya.
 
Aldo mengambil kitab itu dan membukanya. Ia merasakan sesuatu yang aneh, seakan pernah menyentuh dan mengenal huruf-huruf dalam lembaran itu. Dicobanya mengingat, di mana dan kapan ia pernah melihat buku yang dipegangnya.
 
Seakan mendapat hidayah, memori masa kecilnya berputar seperti sedang tayang di ingatan. Yah, ia dulu akrab dengan kitab ini, saat sebelum keluarganya tercerai berai.
 
Ia mengingat saat-saat bersenda gurau dengan kedua orang tuanya. Mereka bahagia dengan nuansa agama Islam yang kental. Namun kebahagiaan itu hancur seketika saat pintu rumahnya didobrak oleh orang-orang tak dikenal dan menangkap paksa sang ayah yang sedang tilawah dengan kitab sama yang dipegangnya saat ini. Sang ibu mati terbunuh sebab didorong dan terjatuh terbentur lemari kayu, sementara ia diculik oleh seseorang yang saat ini menjadi ayah yang telah membesarkannya.
 
“Kau terlalu sayang tercipta sebagai anak seorang terorist, kau lebih cocok menjadi anakku. Aldo Fernando. Yah, itu nama yang cocok untukmu.”
 
***
 
“Yah, aku ingat dengan kitab ini, ini huruf-huruf yang dulu sering kubaca.” Ia menyentuh lembar- lembar dari kitab itu. Seakan tidak percaya dengan kejadian hari ini, ia melihat ke arah lelaki tua yang saat ini sedang bernapas tersenggal-senggal.
 
“Tidak mungkin, ah ... mungkinkah?” Ia berdebat dengan pikirannya sendiri. Kemudian ia membuka baju sang tahanan seperti ingin memastikan sesuatu. Pemuda itu menangis histeris ketika melihat sebuah tanda hitam di samping perut lelaki tua itu.
 
“Ayah ... benarkah ini, Kau, Ayah? Ampuni aku, Ayah ... aku anak durhaka yang tega menyiksa ayahnya sendiri. Ampuun ayah, kumohon maafkan anakmu ini!” Aldo menjerit histeris tak kuasa menahan tangis.
 
Para tahanan terkejut melihat kenyataan yang terjadi di depan mereka. Lima tahun selalu bertemu, hanya kemarahan yang tercipta antara dua manusia yang berhubungan darah itu.
 
Dengan napas tersenggal-senggal, sang tahanan membuka mata dan melihat wajah anak yang sudah lama terpisah darinya penuh dengan curahan air mata.
 
“Taubatlah, Nak. Hijrahlah menjadi lebih baik. Dengan begitu, ayah akan memaafkanmu dan semoga kita bisa bersama dan berkumpul kembali di syurga in syaa Allah.” Lelaki tua itu menghembuskan napas terakhir setelah mengucap dua kalimat syahadat.

***
 
Setahun sudah berlalu. Kini, tak ada lagi Aldo sang Bodiguard kejam, melainkan Ilham Al Fatih seorang Ustadz yang memberikan ceramahnya di penjara-penjara.

 
Kisah ini terisnspirasi dari kisah Ahmad Izzah al andalusy.
 



Aqmalia S Manik


Palu, 23 Mei 2019


profile-picture
profile-picture
profile-picture
AnisMo dan 17 lainnya memberi reputasi
18
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Keren, tulisannya rapi🙂🙂🙂
profile-picture
LiaManik33 memberi reputasi
profile picture
LiaManik33
terima kasih, Mbak.
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di