ini judulnya ngutang tapi lupa kalau punya utang, sama spt yang 1 lagi sudah ada kontrak jangka panjang malah lupa tidak dianggarkan/dibayarkan akhirnya dituntut sama pabrikan pesawat luar dagelan
dibalas tax import lagi dari negara yang dituju yang ada amsyong, disini sudah pernah akhirnya dihajar negara lain dengan tax import setinggi langit
biasa saja kok, yang bilang naninu hal spt ini biasa di proyek konstruksi manapun. itulah gunanya rekayasa, teknik konstruksi, ilmunya ada. berita receh yang dibesar-besarkan
disini juga konsisten ada yang jadi buzzer dan kadrun selama bertahun-tahun. gaji UMR mungkin so, tekuni saja guys
wen12691 air sumur juga kalau ngebornya tidak pas, kurang dalam ketika kemarau yang ada mesin ngeraung terus kok. ada pula dalam radius 1-2km ada pabrik sudah bisa dipastikan air tanahnya minimal tercemar limbah buangan plus minus menurut saya
tidak semua air tanah bisa dikonsumsi dengan layak, daerah bekasi kabupaten itu air tanah fosfor dan zinc nya terlalu tinggi. warnanya kuning dan cepat bikin karat kalau mau pakai pam ya wajib sedia tandon lah, minimal kalau air tidak lancar masih punya cadangan, tinggal irit pemakain saja
air bersih yang spt apa dulu, kalau cuma galon air tanah bogor/sukabumi sih murah, modal alat UV yang tidak pernah di kalibrasi dan di terra air juga tidak tahu kadar Ph nya aman atau tidak, yg penting kelihatan bersih saja depot airnya
sampai sekarang saja masih banyak satpam yang belum ganti seragam ke coklat, ini mau berubah lagi. janc#k
kalau mereka krisis kita yang bantu lalu kalau indonesia krisis BB sampai ancaman pembangkit shut down siapa yang mau bantu? coba dipikir sampai kesana
yang larang jokowi, yang buka luhut, yang disalahkan kadrun yang tidak jelas ambil perannya apa buzzer makin kesini kok ya makin delusi ya :D
biasanya kalau vaksin ke 1 sudah KIPI, yang kedua baik-baik saja pengalaman saya AZ ke 1 ya sama KIPI nya malah batuk pilek sampai bedrest. pas AZ ke 2 nihil keluhan
lalu BRIN mau di isi orang macam apa kalau tugasnya sama cuma ganti nama? jkw ngaplo juga lama-lama nunjuk lembaga riset dipimpin sama orang non riset