KASKUS

Sejarah Banjir Jakarta & 7 Banjir Besar Yang Pernah Terjadi di Jakarta



Halloo Agan/Aganwati sekalian!!!
Ane cuman mau berbagi info tentang
"Sejarah Banjir Jakarta & 7 Banjir Besar Yang Pernah Terjadi di Jakarta".

Mohon maaf kalo ternyata

Mohon maaf juga kalo thread ane mungkin rada mirip dengan thread lain yang pernah agan baca


Jikalau ada yang salah mohon kasih komeng.
Jangan langsung di


Tapi sebelumnya budayakan komeng bermutu dan


Langsung dimulai aja ya gan, jangan lupa siapin


Quote:Bagi sebagian orang mungkin tidak percaya kalau bencana banjir di Jakarta ini sudah mulai ada sejak jaman Belanda.
Beberapa tahun setelah Belanda mendarat, pemerintahan kolonial sudah merasakan rumitnya menangani banjir di Batavia.
Banjir besar pertama kali mereka rasakan di tahun 1621, diikuti tahun 1654 dan 1876.

Spoiler for Pict 1:

Spoiler for Pict 2:

Sering dilanda banjir pemerintah Belanda merasa perlu untuk mulai mengelola air secara serius.
Tahun 1918 Pemerintah  Belanda mulai membangun beberapa.
Selanjutnya karena semakin kompleksnya masalah air yang melimpah, memaksa Pemerintahanan Kolonial membangun Banjir Kanal Barat (BKB) pada tahun 1922.

Spoiler for Pict 3:

Meski sudah dibangun BKB, bukan berarti persoalan banjir di Jakarta bisa langsung diselesaikan.
Pada Januari 1932 lagi-lagi banjir besar melumpuhkan Kota Jakarta.
Ratusan rumah di kawasan Jalan Sabang dan Thamrin digenangi air.
Saat pemerintahan beralih ke Republik Indonesia masalah banjir di Jakarta pun tak kunjung bisa diselesaikan.
Tercatat sejak kemerdekaan beberapa banjir besar terjadi di Jakarta, seperti pada tahun 1976, 1984, 1994, 1996, 1997, 1999, 2002, 2007 dan 2008.

Spoiler for Pict 4:

Dari beberapa kejadian banjir besar yang terjadi  tahun 1996, 2002 dan 2007, ada beberapa catatan yang bisa kita ambil berkaitan dengan masalah hidrologi maupun karakter cuaca.

• Bulan Januari dan Pebruari adalah bulan dengan curah hujan tinggi yang berpotensi menyebabkan terjadinya banjir.

• Banjir di Jakarta sering disebabkan karena hujan dengan kapasitas besar terus menerus  turun.
Hujan yang  hanya turun sekali biasanya tak sampai membuat Kali Ciliwung melimpas.

• Hujan besar sebelumnya bisa memabah masalah pada hujan besar berikutnya.
Ini terlihat dalam kasus banjir tahun 2002.
Curah hujan awal Januari membawa banyak material dan menyebabkan terjadinya sedimentasi di dasar sungai.
Akibatnya ketika hujan yang sama kembali muncul tanggal 31 Januari, banjir sulit dielakan.

• Tinggi muka air laut tidak mempengaruhi  banjir yang terjadi tahun  1996 , 2002 dan  2007.

Banjir tahun 2002 dan 2007 disebabkan oleh curah hujan ektrim yang turun lebih dari dua hari.
Hal ini menyebabkan tinggi muka air Sungai Ciliwung di daerah Manggarai mencapai puncaknya.
Untuk tahun 2007 sekaligus terjadi kombinasi penyebab banjir akibat hujan di daerah hulu dan dan daerah hilir.

Spoiler for Pict 5:

Jika kita melihat dari sejarah yang sudah diuraikan diatas, banjir sudah terjadi sejak jaman kolonial Belanda, hampir empat abad yang lalu.
Ini artinya di saat jumlah penduduk Jakarta masih sedikit, banjir pun sudah terjadi di Jakarta.
Dalam dekade terakhir, ternyata banjir semakin sering dialami.

Spoiler for Pict 6:

Melihat kecenderungan banjir di Jakarta yang semakin  sering serta  semakin banyak daerah yang tergenang, memberikan indikasi bahwa penyebab banjir semakin beragam.
Dimana satu dan lain penyebab saling menguatkan sehingga potensi terjadinya genangan semakin besar.

Kenyataan ini tentu membuat tantangan dalam menghadapi banjir yang akan datang menjadi lebih berat lagi.
Permasalahan terus menerus bertambah sementara penyelesaian yang diambil sangat terbatas.

Kesadaran perlunya diambil tindakan penanggulangan banjir sudah ada sejak lama.
Batavia yang dilanda banjir besar tahun 1918, membuat  Prof. Ir. Herman Van Breen, seorang guru besar berkebangsaan Belanda, merencanakan satu konsep yang lebih strategis dalam menanggulangi banjir. 
Konsepnya adalah berusaha mengendalikan aliran air dari hulu sungai dan membatasi volume air masuk kota.

Untuk itu perlu dibangun saluran kolektor di pinggir selatan kota untuk menampung limpahan air, dan selanjutnya dialirkan ke laut melalui tepian barat kota.
Saluran kolektor yang dibangun itu kini dikenal sebagai Banjir Kanal Barat (BKB) yang memotong Kota Jakarta dari Pintu Air Manggarai bermuara di kawasan Muara Angke.

Penetapan Manggarai sebagai titik awal karena saat itu, karena wilayah ini merupakan batas selatan kota yang relatif aman dari gangguan banjir sehingga memudahkan sistem pengendalian aliran air di saat musim hujan.
Banjir Kanal Barat (BKB) ini mulai dibangun tahun 1922.
Untuk mengatur debit aliran air ke dalam kota, banjir kanal ini dilengkapi beberapa pintu air.
Dengan adanya BKB, beban sungai di utara saluran kolektor relatif terkendali.
Karena itu, alur-alur tersebut, serta beberapa kanal yang dibangun kemudian, dimanfaatkan sebagai sistem makro drainase kota guna mengatasi genangan air di dalam kota.

Setelah kemerdekaan banyak konsep/studi yang telah dilakukan.
Dari beberapa studi yang ada, yang menonjol adalah studi yang dilakukan oleh Nedeco "The Master Plan for Drainage and Flood Control of Jakarta" oleh NEDECO 1973.

Pengendalian banjir didefinisikan oleh NEDECO 1973 sebagai upaya mengalihkan banjir dari sungai-sungai dan mencegahnya mengalir ke dalam wilayah kota.
Drainase ini diartikan sebagai upaya evakuasi runoff pada saat hujan lebat yang terjadi di wilayah kota tersebut untuk bisa mengalir dengan lancar ke dalam saluran pengalihan banjir.

Spoiler for Pict 7:

NEDECO 1973 merekomendasikan rehabilitasi sistem drainase yang ada untuk penyaluran runoff secara efisien, dan upaya-upaya yang spesifik untuk mengendalikan banjir.
Upaya pertama dalam pengendalian banjir adalah usulan pembangunan Banjir Kanal Timur (BKT) dari sungai Cipinang ke arah Timur sebagai penampung dan pengalih banjir dari sungai-sungai Cipinang, Sunter, Buaran, dan Cakung.
Selain itu direkomendasikan pelebaran saluran BKB pada titik belokan ke utara ke sungai Angke di Pesing, untuk menampung banjir dari sungai Grogol dan Sekretaris.

Spoiler for Pict 8:

Spoiler for Pict 9:

Spoiler for Pict 10:


Quote:Jika Sudah Seperti ini,kenapa harus saling menyalahkan?
Mari kita berkaca pada sejarah!


Sumber

Thx buat agan-aganwati yang udah mampir!

Semoga bermanfaat dan menambah pengetahuan.
Bagi yg sudah ISO,klo berkenan bagi nya gan dan yg blm ISO bisa bantu supaya trit ini gak tenggelem


Quote:This Thread Supported By :

KLIK BANNER TO VISIT KALONG MALAM BASE CAMP


Kejadian 7 banjir besar yg pernah terjadi di Jakarta ada di post#2

7 Banjir Besar Yang Pernah Terjadi di Jakarta

Quote:

Quote:Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan membangun dam atau tanggul raksasa atau giant seawall di pantai utara Jakarta.
Proyek ini dibangun untuk mengatasi banjir di Jakarta yang terjadi sejak zaman kolonial.

Terlebih lagi saat ini terjadi peningkatan permukaan air laut dan penurunan permukaan tanah (land subsidence) telah terjadi di sebagian wilayah Jakarta.
Makanya, DKI Jakarta merasa pembangunan bendungan raksasa atau giant seawall di pantai utara Jakarta mendesak dan perlu cepat dilakukan.

Berdasarkan kajian Jakarta Coastal Defence Strategy (JCDS), sebuah studi persiapan untuk membuat dam raksasa disebutkan banjir di Jakarta yang terjadi sejak masa penjajahan.
Banjir pertama terjadi tahun 1621, diikuti tahun berikutnya tahun 1654 dan 1876.
Akibat banjir ini pemerintah Belanda tahun 1918 membangun bendungan yakni Bendungan Hilir, Bendungan Jago dan Bendungan Udik.

Namun tiga bendungan itu tidak bisa mengatasi banjir, maka Belanda membangun Banjir Kanal Barat (BKB), mulai dari Pintu Air Manggarai sampai Muara Angke pada tahun 1922.

Meski sudah dibangun BKB, Jakarta tetap saja banjir pada Januari 1932.
Ratusan rumah di kawasan Jalan Sabang dan Thamrin digenangi air.


Quote:Berikut 7 Banjir Besar yang Pernah terjadi di Jakarta dari Masa Pemerintahan RI :

Quote:1. Februari 1976

Banjir besar di Jakarta melanda pada Februari 1976.
Jakarta Pusat menjadi lokasi terparah dalam banjir, lebih 200.000 jiwa diungsikan.


Quote:2. 19 Januari 1977

19 Januari 1977, Jakarta kembali banjir, setidaknya 100.000 jiwa diungsikan.


Quote:3. Januari 1984

Memasuki tahun 1980-an persoalan banjir terus berlanjut.
Januari 1984, sebanyak 291 Rukun Tetangga (RT) di aliran Sungai Grogol terendam.
Dampaknya terasa di Jakarta Timur, Barat dan Pusat, jumlah total korban tercatat 8.596 kepala keluarga.


Quote:4.13 Februari 1989

Lalu pada 13 Februari 1989, giliran Sungai Ciliwung dan Sungai Pesanggrahan meluap akibat tidak mampu menampung banjir kiriman dari hulu, 4.400 kepala keluarga harus mengungsi.
Setelah itu hampir setiap tahun terjadi banjir.


Quote:5. 13 Januari 1997

Banjir besar kemudian terjadi pada 13 Januari 1997.
Hujan deras selama 2 hari menyebabkan 4 kelurahan di Jakarta Timur alibat luapan Sungai Cipinang, 754 rumah, 2640 jiwa terendam air sekitar 80 cm.
Selain itu beberapa jalan utama di Jakarta Barat dan Jakarta Pusat pun lumpuh akibat banjir.
Banjir pada tahun ini juga menyebabkan sarana telekomunikasi dan listrik mati total.


Quote:6. 26 Januari 1999

Banjir besar terjadi lagi pada 26 Januari 1999 banjir terjadi lagi di Jakarta, Tangerang, dan Bekasi.
Ribuan rumah terendam, 6 korban tewas, 30.000 jiwa mengungsi.


Quote:7. 2-4 Februari 2007

Lalu pada 2 -4 Februari 2007 Jakarta dalam kondisi darurat.
Banjir menggenangi sekitar 60 persen wilayah Jakarta.
Sebanyak 150.000 jiwa mengungsi, 1379 gardu induk terganggu, 420.000 pelanggan listrik terganggu.


Quote:Sumber
banjir..banjir everywhere

Mampir Juga Dimari Gan

Quote:
Spoiler for trit yang lain:
Untuk menampung komen dari kaskuser
sekarang termasuk banjir terbesar dalam sejarah jakarta ya gan
ternyata banjir di Jakarta udah terjadi ratusan tahun sebelum masehi
dari jaman dulu aja udah banjir
macet everywhere....
wah, ternyata jakarta udh pernah banjir waktu dulu ya gan
ane baru tau gan
Telat ngantor every time
masalah semakin kompleks
penduduk semakin beragam
ketika banjir saling menyalahkan
Berarti Jakarta emang udah jodoh ama banjir
stlh baca trit yg agan buat,menurut ane klo banjir dijakarta itu bukan kesalahan dari gubernur (siapapun gubernur). yang pasti,itu adl tanggung jwb bersama
banjir 2007 mnurut gw yg parah banget!!
waktu itu pas bgt ada tes masuk UM univ negeri di rawamangun..jalan satu2nya yg bisa dilaluin dr ps.rebo ya tol dalkot...
beuuuh...klo liat pemukiman dr atas (tol dalkot) udh kaya' lautan...
coklat semua dan ujung atap yg kliatan cuma satu-dua..
ngeri banget!!
jaman dahulu aja udah banjir besr gitu ya
apalagi skrg makin padat penduduknya