Hitungan Tarif BPJS

Liputan6.com, Jakarta : Kapitasi dan INA CBGs (Indonesia Case Base Group's) akhir-akhir ini kerap kita dengar. Apalagi saat program Jaminan Kesehatan Nasional sudah meluncur awal tahun ini.

Keduanya sebenarnya merupakan sistem pembayaran. InaCBG's bukanlah sistem baru karena telah ada sejak 2006 dan dibuat Kementerian Kesehatan. Bahkan pada 2008, INA CBGs digunakan dalam program Jamkesmas (Jaminan Kesehatan Masyarakat).

Begitu pula dalam program JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) yang sudah berlaku sejak semingggu lalu. Sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 69 tahun 2013 tentang Standar Pelayanan Kesehatan pada fasilitas kesehatan tingkat pertama dan tingkat lanjutan. Inilah perbedaan dari ketiga istilah itu:

1. Kapitasi untuk fasilitas kesehatan primer

Menurut Permenkes tersebut, kapitasi adalah besaran pembayaran per-bulan yang dibayar dimuka oleh BPJS Kesehatan kepada Fasilitas Kesehatan (Faskes) Tingkat Pertama (primer) berdasarkan jumlah peserta yang terdaftar tanpa memperhitungkan jenis dan jumlah pelayanan kesehatan yang diberikan.

Seperti disampaikan oleh Direktur Pelayanan BPJS Kesehatan Fadjriadinur, bahwa faskes primer akan mendapatkan pembayaran di muka dengan menggunakan kapitasi. Nantinya, dana ini yang bisa dikelola oleh faskes primer termasuk dalam penanganan pencegahan penyakit atau preventif.

"Misalnya, ada 5.000 peserta BPJS Kesehatan yang terdaftar pada satu faskes dengan kapitasi Rp 8.000 per orang per bulan. Idealnya 5.000 orang bisa untuk 1 orang dokter dengan waktu buka 6 jam. Kemudian silakan dilihat yang sakit berapa, yang pasti dia dibayar sesuai dengan jumlah peserta terdaftar 5.000 dikalikan Rp 8.000 berarti dokter mengelola Rp 40 juta. Dana inilah yang setiap akhir bulan akan ia kelola untuk bayar lab, apotek, bidan dan sebagainya," kata Fadjri.

Maka itu, Fadjri mengatakan, ketika klinik memiliki dana dengan jumlah tertentu dan semakin sedikit orang yang sakit maka akan besar pula penghasilannya. Artinya dokter bertanggung jawab terhadap kesehatan dan harus mendorong 5000 orang ini untuk tidak sakit agar penghasilannya tetap.

"Idealnya memang 5.000. Tergantung praktik, tapi yang penting kemampuannya. Terlalu banyak peserta tapi jumlah dokter sedikit. Itu yang nggak boleh,"ungkapnya.

2. Tarif Non Kapitasi juga untuk faskes pertama

Sesuai Permenkes, besaran pembayaran klaim oleh BPJS Kesehatan kepada Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama berdasarkan jenis dan jumlah pelayanan kesehatan yang diberikan. Namun tarifnya ini belum dibahas secara jelas besarannya.

3. Tarif Indonesian - Case Based Groups yang selanjutnya disebut Tarif INA-CBG’s

Tarif INACBGs merupakan besaran pembayaran klaim oleh BPJS Kesehatan kepada Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjutan atas paket layanan yang didasarkan kepada pengelompokan diagnosis penyakit.

Menurut Ketua Casemix Center (NCC), Bambang Wibowo perhitungan tarif ini diberlakukan di fasilitas kesehatan lanjutan dalam hal ini adalah rumah sakit.

"Perhitungannya lebih objektif berdasarkan pada biaya sebenarnya. INACBGs merupakan sistem pengelompokkan penyakit berdasarkan ciri klinis yang sama dan sumber daya yang digunkan dalam pengobatan. Pengelompokkan ini ditujukan untuk pembiayaan kesehatan pada penyelenggara jaminan kesehatan sebagai pola pembayaran yang bersifat prospektif," jelasnya.

Untuk lebih mudahnya, Bambang menjelaskan bahwa INACBGs adalah tarif berbentuk paket yang mencakup seluruh komponen biaya rumah sakit.

"Berbasis pada data costing dan coding penyakit mengacu pada Internastional Classification of Diseases (ICD) yang disusun WHO (Organisasi Kesehatan Dunia), Sehingga menggunakan ICD 10 untuk mendiagnosis 14.500 kode dan ICD 9 Clinical Modification yang mencakup 7.500 kode. Sedangkan tarif INACBGs terdiri dari 1.077 kode CBG yang terdiri dari 789 rawat inap dan 288 rawat jaan dengan tingkat keparahannya," terangnya.

Bambang menambahkan, tarif INACBGs dikelompokkan menjadi 6 jenis rumah sakit yaitu rumah sakit kelas D, C, B dan A serta rumah sakit umum dan rumah sakit rujukan nasional. Selain itu tarif ini juga diususun berdasarkan perawatan kelas 1, 2 dan 3. Perlu diketahui, sebelumnya, dalam Jamkesmas yang ada hanya tarif INACBGs untuk kelas 3.

(Fit/Abd)
Kasih bocoran aja..

- kalau dana kesehatan murah, sudah pasti. Obat dan pemeriksaan murah..

- sulit utk memberikan obat bagus dan pemeriksaan canggih, krn dana yg ditanggung pemerintah sedikit, kapan bisa maju ilmu kedokteran kita.
Misal, laparoskopi mahal, pakenya laparotomi, bekas luka perut lebih lebar. Mis ct scan jd jrg krn mahal, dan tehnik operasi canggih lainnya tidak dilakukan krn lebih mahal.
Apa gunanya asuransi. Agan bayar bpjs yg kelas satu itu utk kamar, bukan utk obat dan pemeriksaan canggih

- pembodohan pasti, krn pendidikan kedokteran akan terhambat, rs sakit pendidikan bisa sepi pasien, krn gak semua kasus bisa dirujuk, otomatis dokter indonesia masa depan akan bodoh semua.

- direksi bpjs dan bawahannya gaji ratusan juta, pelayan kesehatan digaji tukang parkir. Otomatis ogah2an, kalau org miskin gak masalah, kalau org kaya?.

- dananya bakal kemana? Kalau agan ikut asuransi swasta, jangka waktu tertentu, gak sakit uang kembali utuh, malah bisa seperti menabung. Kalau bpjs agan gak sakit uang gak kembali, kalau target 125juta org minimal ikut bayar yg 25ribu, sebulan bisa 2 triliun, yakin pasti sisa krn biaya yg ditanggung kalau sakit rendah/murah. Bakal kemana uangnya?

KELIHATANNYA BAGUS. 10 PERSEN SAKIT BERARTI 500 ORANG. SAKIT BATUK PILEK DEMAM MISAL 50.000 RUPIAH.
50.000 X 500 = 25.000.000 itu kalau 10% orang sakit dan sakitnya ringan dan cuman sakit satu kali. Kalau sakitnya gak sembuh, berobat lagi, 10% aja, total udh 50 juta, padahal tanggungannya 40jt utk obat, lab, pelayan kesehatan. Kalau yg sakit sedikit enak, kalau pas wabah, kliniknya cuman buka 1jam aja, biar dikit yg berobat. Otomatis dikasih obat murah, kalau dikasih obat bagus dokternya yg bayar, kecuali dokternya kaya punya usaha lain gak masalah.
Nanti kalau uangnya kurang, dokternya praktek dukun, agan semua dikasih air putih yang udah dibacain doa.

Kalau mau masimalkan preventif, sarjana kesehatan masyarakat jg donk
kalo ada yang masih belom ngerti coba tanya sama jokowi... pasti dijelasin...
Asyik ada trit BPJS lagi, tunggu para profesi yang berhubungan dengan program ini baik yang merasa keberatan dan dirugikan maupun pihak yang diuntungan berdatangan
mohon bantuan suhu

kali aja ada yg tau, link download tarif bpjs.

uda muter2 di gugel gak nemu.
BPJS kalo menurut ane bagus gan, tp yg bikin anggarannya super duper dongo
jasa tindakan medis bukan kaya ngejual barang...hehe