KASKUS

Hary Tanoe Siap Bongkar ‘Dosa’ Prabowo di MNC?



Pengusaha muda berbakat Hary Tanoesoedibjo, yang kini menjadi kandidat Calon Wakil Presiden dari Partai Hanura mendampingi Wiranto sebagai Calon Presiden, diperkirakan akan melakukan penyerangan kepada Prabowo Subianto sang Calon Presiden dari Partai Gerindra.

Langkah ini dilakukan dalam rangka menurunkan popularitas Prabowo yang begitu menggelegar di kalangan muda perkotaan. Maklum, Wiranto dan Prabowo sama-sama kandidat Capres 2014 dari kalangan militer, tetapi dari segi popularitas, Wiranto ibarat telapak kaki, Prabowo ibarat kepala. Jauh selisih keduanya.

Sebagai seorang militer kawakan, apalagi sempat menjadi Panglima TNI periode 1998 – 1999 dan Menkopolkam, Wiranto tampaknya belum lelah berjuang menuju Istana, tak lagi sebagai militer yang dia incar, melainkan sebagai Presiden atau Wakil Presiden.

Tahun 2004, Wiranto maju sebagai Calon Presiden didampingi Salahuddin Wahid. Kalah jadi Presiden 2004, namun tak patah semangat, ia kembali maju sebagai Calon Wakil Presiden 2009 mendampingi Jusuf Kalla sebagai Calon Presiden. Rupanya, ini pun gagal.

Tapi bukan Wiranto namanya kalau berhenti sampai disitu. Dua kali gagal tak membuatnya surut semangat. Di usia ke 67 nanti, yaitu pada tahun 2014, Wiranto kembali merencanakan maju sebagai Calon Presiden 2014 bersama sang Media Mogul Hary Tanoesoedibjo sebagai Calon Wakil Presiden 2014.

Akankah perjuangannya menuju kursi panas Istana gagal lagi di 2014? Wiranto rupanya sudah punya jawaban untuk ini.

“Abraham Lincoln itu 6 kali mencalonkan diri jadi Presiden AS dan baru terpilih pada majunya sebagai capres yang keenam,” kata Wiranto optimis.

Ahayy.. Betapa hebat semangat Wiranto dalam memperjuangkan cita-citanya. Kalimat itu berarti Wiranto pun siap maju sebagai Capres sebanyak 6 kali dan siap pula apabila baru menang di periode ke 6.

Eheemm.. Jika pada Pilpres 2014 ia berusia 67 tahun, maka jika karir politik Wiranto benar seperti Abraham Lincoln, maka Wiranto akan menang pada Pipres 2029, ketika Wiranto berusia sekitar 82 tahun.

Wow.. Presiden RI 2029 mungkin pakai tongkat dengan suara parau. Mudah-mudahan Wiranto sempat bertemu dengan Nicolas Flamel, sang alkemis semi mitologis yang konon berhasil menemukan ramuan awet muda, agar tidak kuyuk-kuyuk di tahun 2029. #Kidding

Akan tetapi, saya yakin kalau Wiranto sudah punya strategi yang lebih matang dalam menghadapi Pilpres 2014. Apalagi sudah kalah 2 kali berturut-turut, sudah sewajarnya beliau mengambil pelajaran yang lebih banyak ketimbang Capres-Capres lainnya yang belum pernah naik ke panggung Pilpres.

Kalau begitu, apa kira-kira strategi Wiranto di 2014? Apa yang kira-kira beliau persiapkan ketika menggandeng Hary Tanoesoedibjo? Memangnya apa sih problem Wiranto di 2004 dan 2009, kok kini memilih Hary Tanoe sebagai pendampingnya? Apa kelebihan Hary Tanoe dibanding tokoh-tokoh lainnya yang kira-kira bisa membantu kekurangan Wiranto selama ini?

Media adalah jawabannya. Hary Tanoe sebagai Media Mogul menjadi aset strategis bagi Wiranto untuk mengangkat popularitasnya yang jauh di bawah standard, khususnya jika melihat hasil pencitraannya pada 2004 dan 2009.

Wiranto pasti sadar betul kekurangannya pada penguasaan media adalah salah satu penyebab dirinya kurang memiliki gaung dalam panggung politik. Kebanyakan menilai Wiranto sebagai tokoh militer semata, bukan negarawan. Padahal, Wiranto lah yang membuka keran Reformasi yang berujung pada Demokratisasi negara Republik Indonesia.

“Tahun 1998, saya sudah menghitung kekuatan mahasiswa yang melakukan aksi massa. Sebetulnya militer dapat dengan mudah mematahkan seluruh aksi mahasiswa di seluruh Indonesia, terlebih di ibukota Jakarta. Tapi saya pikir, mau sampai kapan seperti ini. Tidak kah reformasi dan demokrasi layak dicoba untuk mengetahui apakah Indonesia cocok menganut sistem itu? Maka ketika itu, saya putuskan tidak memukul mundur mahasiswa, tapi kita buka keran Demokrasi,” kata Wiranto kepada tim suksesnya di tahun 2004 dan 2009.

Begitulah kira-kira pandangan Wiranto terhadap Reformasi. Bagi kebanyakan orang, reformasi adalah hasil pergerakan mahasiswa. Tapi bagi Wiranto, reformasi dan demokratisasi Indonesia adalah karena peran beliau dan militer yang memutuskan membuka pintu demokrasi.

Menarik bukan? Kita jangan berdebat soal klaim Wiranto itu. Namun jika ditilik dari sudut pandangnya itu, sesungguhnya Wiranto ingin dikenal sebagai tokoh militer yang mendukung Reformasi. Atau lebih tajam, Wiranto adalah Tokoh Kunci Reformasi 1998!



Jika ini benar, maka sudah pasti Wiranto ingin semua masyarakat tahu bahwa berkat dirinya Reformasi bisa terwujud. Pertanyaan saya, sudahkah anda semua mendengar jargon itu di kabar angin (obrolan masyarakat), kabar media (Pers) dan kabar sosial media (jagad maya)?

Tak pernah !
Jawaban yang pasti dan solid. Saya bisa jamin. Belum pernah ada yang menyebut tagline “Wiranto Tokoh Kunci Reformasi 1998”

Kok bisa??
Padahal Wiranto sudah menjelaskan kesaksian penting ini pada tim suksesnya di 2004 dan 2009.

Ooo.. iya..ya.. Wiranto belum memiliki penguasaan pada media.

Itulah sebabnya ia menggandeng Hary Tanoe dan sontak langsung menggadang pengusaha etnis Tionghoa asal Surabaya yang besar karena dana dari George Soros ini, sebagai Wakil Presiden Hanura 2014.

Apalagi, Wiranto tahu betul bahwa Prabowo Subianto yang di masa reformasi akrab dikenal dengan sebutan ‘Penjahat HAM dan Reformasi’ kini bisa menjadi salah satu kandidat Calon Presiden favorit, juga karena penguasaan media (dan social media). Sebagai ‘Pahlawan Reformasi’ tentu Wiranto juga ingin sekaligus tak rela jika Prabowo, rivalnya di dunia militer yang dulunya ‘Penjahat Reformasi’ kini jauh lebih populer dibanding dirinya.

Dan Wiranto juga tahu betul, sekedar menguasai media dengan menggandeng sang Media Mogul Hary Tanoe tidak cukup untuk mengangkat profil dirinya. Harus ada sasaran tembak dan peperangan opini di media dan social media, agar menjadi sorotan dan dengan demikian Wiranto dapat memperkenalkan profil ‘sesungguhnya’ yang menjadi ‘bakat terpendam’ dirinya di tengah peperangan tersebut.

Berada di sisi baik dalam perang tersebut juga syarat mutlak agar simpati dan perhatian publik luas jatuh kepada Wiranto. Lantas siapa yang pantas menjadi sasaran tembak Wiranto? Bukankah Wiranto adalah salah satu tokoh yang hampir tidak memiliki musuh nyata, kecuali Prabowo Subianto?



#Ups jawabannya sudah terucap dalam pertanyaan di atas. Ya, Prabowo Subianto adalah satu-satunya musuh alami Wiranto. Bagi Wiranto, sesumbar kudeta Prabowo di era Reformasi merupakan salah satu bentuk pengkhianatan terbesar kepada negara Republik Indonesia.

“Kalau Prabowo berani kudeta saat itu (1998), saya sendiri yang akan turun untuk menembak kepalanya,” ucap Wiranto tegas.

Maka saya prediksikan, strategi mengangkat popularitas Wiranto dengan menggandeng Hary Tanoe adalah dengan melakukan penyerangan terbuka kepada sang Capres Militer Terpopuler 2014 Prabowo Subianto. Dan tentunya penyerangan itu akan dilakukan melalui jejaring raksasa media Hary Tanoe.

Isunya sudah pasti, soal kejahatan HAM (penculikan aktivis) dan sesumbar kudeta Prabowo yang singkatnya akan dilabeli “Prabowo, Pengkhianat Negara Republik Indonesia”.

Hary Tanoe sebagai Media Mogul, kini menguasai RCTI, Global TV, MNC TV, ANTV, Harian Seputar Indonesia, Okezone.Com, Sindonews.Com, MNC Radio Networks dengan 33 jaringan dan lebih dari 100 jaringan di seluruh Indonesia, kemudian juga jejaring SindoTV yang memiliki 15 stasiun TV lokal serta Top TV yang menguasai 7 TV lokal.

Dapatkah jejaring media sebesar itu menjadikan Prabowo Subianto kembali sebagai ‘Penjahat Reformasi’ di mata masyarakat luas?

Saya kok lebih yakin langkah dari duet Wiranto – Hary Tanoe ini akan berhasil membuat Prabowo mengalami penurunan drastis, baik dari segi pencitraan dan dukungan masyarakat luas ya.

Bisa dibayangkan, para pembaca koran dan media online MNC Group, para pemirsa televisi MNC Group juga para pendengar radio MNC Group di seluruh Indonesia, setiap harinya diperdengarkan ‘pesan’ bahwa ‘Prabowo Penjahat HAM’ lalu ‘Prabowo Penjahat Reformasi’ lalu ‘Prabowo Pengkhianat Negara’ dan seterusnya.

Dengan segala pandangan dan netralitas serta tidak melihat dari sisi etika jurnalisme dan moralitas, saya kira taktik duet Wiranto – Hary Tanoe menyerang Prabowo Subianto kok akan berhasil menurunkan popularitas Prabowo dalam waktu cepat. Dan mungkin saja, strategi dan taktik yang sama akan mengangkat popularitas Wiranto sebagai ‘Pahlawan Reformasi’ lalu ‘Tokoh Kunci Reformasi’ juga berpeluang berhasil.

Apalagi, aksi duet maut Wiranto dan Hary Tanoe ini juga diprediksi akan membuat banyak pihak berpartisipasi ‘membantu’ pemborokan nama Prabowo. Para pendukung Megawati dan Aburizal Bakrie sudah tentu akan senang jika popularitas Prabowo menurun drastis. Setidaknya pesaing-pesaing di papan atas berkurang. Masalah akan ada kompetitor baru, yakni Wiranto – Hary Tanoe, kelihatannya Megawati dan Aburizal Bakrie tidak masalah, yang penting Prabowo turun dulu dari peringkat atas.

Akankah duet Wiranto – Hary Tanoe menyerang Megawati dan Aburizal Bakrie? Saya rasa tidak. Sebab, Hary Tanoe dikenal cukup dekat dengan keluarga Soekarno. Selain itu, Hary Tanoe juga dekat dengan almarhum Gus Dur yang merupakan ‘kawan’ dari Megawati.

Soal Bakrie, saya juga yakin Hary Tanoe tidak akan menyerang Calon Presiden dari Golkar yang konon akan digagalkan memasuki awal 2014. Masih ingat, Hary Tanoe baru saja membeli ANTV, sejumlah ruas tol serta sedikit saham Bumi Plc dari keluarga Bakrie? Saya rasa menyerang Bakrie juga satu hal yang mustahil dilakukan Wiranto – Hary Tanoe.

Maka itu, saya yakin strategi Wiranto – Hary Tanoe dalam mengangkat profil mereka untuk Pilpres 2014 adalah menyerang Prabowo sebagai sasaran tembak satu-satunya yang bisa memberikan panggung bagi duet maut ini ke panggung yang lebih besar.

Pertanyaannya kemudian, apakah Prabowo Subianto akan diam saja menghadapi kemungkinan serangan itu? Nggak mungkin dong.

Lantas apa yang mungkin menjadi bahan bagi Prabowo untuk menyerang balik duet Wiranto – Hary Tanoe?

Apa saja dosa Wiranto? Sulit menjawabnya. Tokoh militer ini tidak populer tapi boleh dibilang tak ada dosa.

Apa saja dosa Hary Tanoe? Naah, ini dia. Sebetulnya Hary Tanoe juga memiliki banyak dosa, hanya saja dengan penguasaannya kepada media massa nasional, sang Media Mogul ini selalu mampu lolos dari sorotan publik juga media.

Padahal, Hary Tanoe memiliki daftar dosa seperti kasus Sisminbakum (Sistem Administrasi Badan Hukum), kasus pajak PT Bhakti Investama (perusahaan induk seluruh bisnis Hary Tanoe), kasus korupsi vaksin flu burung, hingga yang paling baru kasus korupsi PT Garam (bukan perusahaan rokok Gudang Garam lho).

Canggihnya Hary Tanoe, pengusaha dengan titipan dana dari George Soros ini selalu ‘berhasil’ menggeser sorotan kepada kakaknya sendiri yaitu Hartono Tanoesoedibjo. Seperti pada kasus Sisminbakum, dari semula menyorot nama Hary Tanoe, lalu entah bagaimana berpindah sorotan kepada Hartono Tanoe.

Hal yang sama juga terjadi pada kasus vaksin flu burung dan PT Garam, dimana nama Hary Tanoe sempat muncul lalu seketika ‘sulap’ berubah jadi Hartono Tanoe.

Kadang saya suka bertanya-tanya, ada deal apa yah antara Hary Tanoe dengan kakaknya Hartono Tanoe? Kok sampai-sampai mau selalu dijadikan ‘tumbal’ bagi dosa-dosa Hary Tanoe. Setidaknya, kok Hartono Tanoe mau-maunya menanggung ‘beban’ ini sendirian? Apakah karena Hartono Tanoe adalah kakak yang baik?

Kalau untuk kasus pajak Bhakti Investama agak sedikit berbeda gaya. Dalam kasus pajak yang melibatkan induk perusahaan seluruh bisnis Hary Tanoe ini, memang nama Hary Tanoe yang sejak awal disorot. Hanya saja, isu ini mendadak lenyap dari pandangan. Tanpa digeser ke Hartono Tanoe lho ya.

Apa betul Hary Tanoe punya ‘ilmu menghilang’ karena kedekatannya dengan mistikus-mistikus Jawa Timur? #Kidding
Fyuhh.. Tak terasa sudah 5 halaman Word Office saya celoteh ngalor-ngidul dari membahas Wiranto, penyerangan Prabowo hingga dosa-dosa Hary Tanoe.

Saya kira cukup dulu ya teman-teman Kaskuser. Kita tunggu saja bagaimana kelanjutan perang duet Wiranto – Hary Tanoe dengan Prabowo Subianto di awal 2014 nanti.

Saya sudahi dulu sampai disini.

Selamat membaca..
berat banget ini trit

ane ga paham
Beuhh serem amat beritanya
ane gak ngerti urusan politik gan
cuman tau nama prabowo aja
Bongkar² aib orang, kaya ngga punya kesalahan saja
wah gan, tapi menurut ane sih...presiden berkaliber seperti mereka sangat dibutuhkan buat masa sekarang..scara masyarakat kita udah terlalu bebas, seakan mereka mau menang sendiri semuanya..kali aja bersama mereka ada perubahan...
tapi siapapun presidennya ane lebih mmilih Pak de Joko aja deh...
lebih merakyat..hehe
pprokernya realistis sih....
Bukannya semua orang politik itu mirip2 sifat n kelakuannya11 12
nyimak dulu gan
hary tanoe? ngarep amat berhasil jadi wapres ya

pebisnis jkt tau mah kebusukan doi.
tai kampanye..gw golput aja ah nanti
too long: didn't read.

lebih bagus dibikin part 1 - part 2 dst.
black campaign detected
itu pendapat siape ? emang heran gw ama pak TOWIRAN berkali kali gagal jadi presiden atau wapres eh masih nekat aja jnyalonin adi presiden, mending ngurus cucu biar sisa hidupnya lebih bahagia.
beuhhhh lieur euy
ane udah baca seluruh isi trit ente gan
memang benar prabowo pada tahun 1998 banyak banget dosanya.
tapi bukan berarti wiranto juga ga berdosa.
mungkin belum terkuak aja.
kayanya susasan pilpres 2014 nanti akan semakin panas!
coba diteruskan gan.pengen tau selanjutnya nih...
bongkar aja biar masyarakat melek akan sejarah
apapun berita nya.. ane golput forever
Pasukan cybernya wiranto
thread yang sangat panjang dan berisi...
ane mabok gan bacanya...
hahahahaha...
×