Namanya Diabadikan : Siapa Saja Mereka?

Sumber : Pengetahuan pendidikan, bahan bacaan media cetak dan online (banyak sumbernya, susah kalau disebutin satu persatu)

Kita mungkin selama ini mengenal jalan Jenderal Sudirman, Jalan Soekarno-Hatta, Gedung Ahmad Yani, Lanuma Halim Perdanakusumah, Lanud Iswahjudi, Lanud Adi Sumarmo, RS. Gatot Subroto dan banyak lagi. Kita juga tahu siapa mereka dan apa saja jasa-jasanya yang sudah diberikan kepada bangsa ini, mereka pahlawan. Namun, ada juga nama2 yang mungkin masih "asing" di telinga kita, pernah mendengar, melihat tempat namanya diabadikan, tapi tidak tahu siapa saja mereka. Di Trit/thread ini, ane (coba make bahasa kaskus yah) akan mengulas beberapa nama prajurit pahlawan yg namanya diabadikan, dan mungkin masih "asing" ditelinga kita semua. Langsung saja kita angkat kisahnya, siapa saja mereka.........


1. LANDASAN SUPARLAN
Quote:


Adalah nama Landasan Pacu di Pusdikpassus. Terletak di Kecamatan Batujajar, Bandung - Jawa Barat. Landasan Pacu ini memiliki panjang 1.652 meter dengan permukaan aspal dan ketinggian 762 meter di atas permukaan tanah. Dinamakan demikian untuk mengenang kepahlawanan PRATU SUPARLAN yang gugur dalam tugas, diresmikan oleh Danjen Kopasus pada 1995 Mayjen Prabowo Subianto.

Suparlan adalah prajurit Kopassus yang gugur tahun 1980. Prajurit hebat ini mengorbankan dirinya sendiri demi menyelamatkan regu gabungan Kopassus dan Kostrad dari pembantaian Fretilin. Kisahnya bermula ketika 1 Unit gabungan berkekuatan 9 orang personil (4 Kopasus, 5 Kostrad) dibawah pimpinan Lettu Poniman Dasuki (Brigjen Purn.) melaksanakan Patroli di "Zona Z" pedalaman Timor. Zona ini dikenal masih sangat rawan, terindikasi menjadi daerah konsentrasi dari tokoh-tokoh Fretelin seperti Lobato, Lere dan Xanana. Disamping itu, terkonsentrasi 300 -an Fretelin dengan persenjataan campuran, serta kebanyakannya adalah mantan Tropaz Portugal yg berpengalam dalam pertempuran di Mozambique. Pada awalnya Tim Kopassus Kostrad ini ingin menyergap Pos Pengamatan Fretelin, dan setelah melumpuhkan Pos Pengematan Fretelin, tiba tiba dari berbagai arah muncul pasukan Fretelin yang lebih besar, kontak senjata pun tak terhindarkan. Pertempuran menjadi tidak berimbang karena kalah jumlah. Unit Gabungan terdesak hebat, digunting dari berbagai arah, termasuk dari ketinggian bukit-bukit. Hujan tembakan menghujani personel Unit Gabungan ini.

Personel operator Minimi dari Kostrad yang pertama-tama tumbang, langsung gugur ditempat, kemudian disusul 3 orang lainnya di formasi paling belakang yang juga terkena tembakan. Sisa 5 personil terdesak hebat dan bertahan mati-matian. Kalah jumlah, sisa unit gabungan mundur setapak demi setapak sehingga menghampiri bibir jurang sambil mencari kemungkinan meloloskan diri dari killing ground. Hanya ada satu celah untuk meloloskan diri, akan tetapi dibutuhkan waktu yang cepat untuk melintas sebelum pasukan Fretilin menutup celah bukit tersebut. Komandan Unit memerintahkan sisa unit menuju ke celah tersebut, dan Pratu Suparlan paling depan, bukannya mendengarkan perintah, Pratu Suparlan mundur kebelakang tanpa mengindahkan perintah Dan Unitnya. "Komandan Bawa yang lainnya, saya akan berusaha menghambat!"

Disinilah Pratu Suparlan menunjukkan sifat kepahlawanannya, antara kehormatannya sebagai laki-laki, Prajurit, Korps dan negaranya, Tanpa menghiraukan peringatan Dan Unitnya agar mundur, Pratu Suparlan membuang senjatanya dan mengambil Minimi milik rekannya yang gugur. Pratu Suparlan berlari kearah datangnya Fretilin dan menyambutnya dengan siraman Minimi... Jatuh bangun terkena tembakan di tubuhnya, Suparlan mengamuk seperti banteng (penuturan saksi mata Fretilin yang tertangkap), mengejar mereka hingga ke semak persembunyian fretelin tidak terhitung berapa peluru yang sudah bersarang di badannya. PDL Pratu Suparlan berubah warna menjadi merah karena darah yang membanjiri tubuhnya. Pratu Suparlan menyerang hingga sampai kehabisan amunisi. Kondisinya mulai Lemas karena kekurangan darah, dia mencabut pisau komandonya dan bertarung satu lawan satu. Sepertinya Fretilin berniat mempermainkannya dengan tidak membunuhnya secara langsung. Suparlan bertarung mati-matian sendiri hanya berbekalkan pisau komandonya, sempat merobohkan 6 orang Fretilin, hingga tangannya tidak mampu lagi menggenggam pisau.

Dan Unit dengan sisa pasukannya melihat Pratu Suparlan tidak muncul, memutuskan untuk kembali mencari Pratu Suparlan dan membantu. Suparlan sendiri dikelilingi oleh puluhan Fretilin, bagaikan menunggu malaikat maut yang akan menjemput nyawanya.

Suparlan seorang yang cerdik, taktik dia melemahkan dirinya sangat tepat, saat dia terduduk, pasukan Fretilin berkerumun mendekatinya siap mengeksekusi. Tepat disaat 1 tembakan mengenai lehernya, Suparlan oleng hampir roboh ke tanah. Dengan sisa-sisa tenaganya, diambil 2 granat dari balik kantong PDL nya, langsung mencabut pin. Didahului teriakan "Allahuakhbar...!" berlari serta meloncat berjibaku pas ditengah2 rimbunan Freteilin yang mengepungnya .....granat meledak....disertai gugurnya seorang prajurit pemberani dengan membawa bersama sejumlah musuh.

Mengetahui gugurnya Suparlan, sisa 5 personil yang tadi meloloskan diri dan sudah menguasai ketinggian, berbalik menyerang dan menembak kerumunan Fretilin dari ketinggian dengan bertubi-tubi. Dalam kontak senjatan sengit ini, kembali 3 personil Baret Merah tumbang meregang nyawa.

Sekonyong-konyang, bala bantuan tiba (gabungan Kostrad/Brimob) membantu memukul mundur Fretelin dengan cara menjepit. Riuh rendah tembakan makin menjadi-jadi. Mayat bergelimpangan di mana-mana, termasuk 7 personil Unit Gabungan tadi. Dari jumlah asal 9 orang Unit Gabungan Kopasus/Kostrad, yang tersisa tinggal 2 orang, yaitu Dan Unit Lettu Poniman Dasuki dan Partu Tamsil.

Setelah Freteilin terpukul mundur, meninggalkan rekan mereka yang sudah menjadi mayat dan juga yang cedera, pembersihan dan konsolidasi langsung dilakukan. Bagaimana dengan nasib Suparlan? Jenazahnya sangat menyedihkan, hancur tidak berbentuk lagi. Dari pihak Fretilin ditemukan sejumlah 43 mayat dan sejumlah yang cedera dan bisa ditawan hidup-hidup. Saat diinterogasi, anggota Fretelin ini hanya menceritakan bagaimana Pratu Suparlan bertempur sendiri sampai gugur.



2. LANUD ATANG SANDJAJA
Quote:


Berlokasi di Semplak, Bogor dan merupakan Lanud Type A dan pangkalan helikopter bagi TNI-AU.

Sekitar tahun 1962, negara-negara tetangga belum ada yang mengoperasikan pesawat supersonic seperti Mig-21. Selain itu, AURI pada masa itu juga mengoperasikan jenis helikopter terbesar di dunia buatan Soviet, Mi-6. Begitu besarnya helikopter ini, sehingga ketika diangkut lewat darat setelah diturunkan di Tanjung Priok dengan memakai truk khusus menuju Halim untuk dirakit, sirip tegak ekornya tersangkut pada kabel bertegangan tinggi. Mayor (Tek) Atang Sandjaja, yang kebetulan memegang body helikopter tersengat arisan listrik bertegangan tinggi. Pemuda kelahiran Bandung ini pun tewas seketika. Sebelumnya, Atang Sandjaja terlibat dalam penyiapan perakitan berbagai pesawat helikopter termasuk helikopter Mi-6. Untuk mengenangnya, namanya kemudian diabadikan sebagai nama lapangan udara menggantikan Lanud Semplak di Bogor.


3. LANUD SUGIRI SUKANI
Quote:


Berlokasi di Cirebon dan merupakan Pangkalan Udara TNI-AU type D.

Letkol Udara Sugiri Sukani adalah orang lama di PGT (sekarang Paskhas AU). Menjadi komandan pertempuran yang disegani pada jaman revolusi fisik 1945, terjun di Irian dalam rangka Trikora, dan terakhir ikut operasi penerjunan di Semenanjung Malaysia dalam rangka Konfrontasi yang kemudian merenggut nyawanya.

Dalam penerjunan di Labis dan Pontian, dekat Johor Bahru pada tanggal 2 September 1964, pesawat C-130 Hercules yang diterbangkan Mayor Udara Djalaloedin Tantu bersama 7 awak pesawat jatuh di Selat Malaka. Sebuah sumber menyatakan bahwa kecelakaan pesawat Hercules yang melakukan terbang malam tersebut akibat terbang terlalu rendah untuk menghindari deteksi radar lawan. Letkol Udara Sugiri Sukani, Komandan Resimen PGT dan Letnan Satu Udara Suroso ada didalam pesawat malang tersebut. Unsur yang ikut tewas dalam peristiwa tersebut adalah 47 orang personil PGT dan 10 orang Cina Melayu, diantaranya adalah dua gadis. Sedangkan 2 Hercules lainnya berhasil menerjunkan pasukan PGT didaerah sasaran. Pasukan ini berjumlah 3 Peleton terdiri dari 1 Peleton dari Jakarta dan 2 Peleton dari Bandung.

Jumlah personil PGT yang gugur/hilang selama operasi Dwikora berjumlah 83 orang sedangkan yang tertangkap berjumlah 117 orang.


4. LANUD HAJI ABDULLAH SANUSI HANADJOEDDIN
Quote:


Lanud Haji Abdullah Sanusi Hanandjoeddin berlokasi di Tanjung Pandan, Bangka Belitong. Merupakan Lanud Type C dan dulunya bernama Lanud Tanjung Pandan sebelum berganti nama pada 22 Oktober 2012 yang diresmikan langsung oleh KASAU Marsekal Imam Sufaat, S.IP.

Pergantian nama Lanud Tanjung Pandan menjadi Lanud H. Abdullah Sanusi Hananjoeddin merupakan salah satu komitmen generasi penerus sebagai bentuk penghargaan kepada para Pahlawan dan Sesepuh TNI AU dengan mengabadikan nama mereka sebagai nama Pangkalan Udara TNI Angkatan Udara yang masih menggunakan nama daerah.

Dalam catatan sejarah Almarhum H. AS. Hanandjoeddin yang dilahirkan di Mempiu, Kecamatan Membalong, Belitung pada 8 Agustus 1910. Sebelum Revolusi kemerdekaan, AS. Hanandjoedin bekerja pada penerbangan Jepang bernama “Ozawa Butai”. Beliau dikenal sebagai salah seorang pelopor pembentukan BKR Divisi VIII Jawa Timur, khususnya BKR Udara Jawa Timur di Pangkalan Udara Bugis Malang.

Jabatan militer terakhir H. AS. Hanandjoeddin adalah Komandan Kompi Pasgat di Lanud Palembang, setelah pensiun dari TNI AU, Hanandjoeddin menjabat sebagai Bupati Belitung periode 1967-1972. Sebagai Bupati Belitung, AS. Hanandjoeddin dikenang masyarakat Belitung banyak memberikan kontribusi bagi kemajuan wilayah yang sekarang menjadi bagian dari Propinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Indra Cahya Hanandjoeddin purta keenam H. AS. Hanandjoeddin mengatakan, pemakaian nama H. AS. Hanandjoeddin menjadi nama Pangkalan Udara di Pulau Belitung kami anggap sebagai upaya mulia institusi TNI Angkatan Udara untuk melestarikan semangat dan nilai perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia di tahun 1945


5. LAPANGAN TUGIMAN
Quote:

Dulunya bernama Lapangan Mapangat, berganti menjadi Lapangan Tugiman untuk mengenang gugurnya Sertu RPKAD Tugiman. Sekarang bernama Lanud Sam Ratulangi dan merupakan Lanud Type C.

Ketika penumpasan Permesta di Manado, Sertu Tugiman merupakan anggota dari pasukan RPKAD pimpinan Lettu Benny Moerdani yang mendarat di Wori. Dalam kontak senjata sengit memperebutkan Lapangan Udara Mapangat, Tugiman yang menjadi Danru dan merengsek dari rusuk kiri, gugur terkena tembakan senapan mesin. Rupanya, Sersan RPKAD yang kenyang pengalaman tempur ini keliru memperhitungkan senapan mesin yang diawaki para bekas KNIL itu. Perhitungannya, senjata musuh sedang reload, dan ada jeda tembakan. Maka majulah Tugiman kedepan sambil koprol, persis ketika putaran koprol kedua, senapan mesin Permesta menyalak. 2 peluru kaliber besar mengantam tepat kepala dan dadanya, gugur lah Tugiman sebagai pahlawan bangsa.

Untuk mengenangnya, oleh Pemerintah Pusat namanya diabadikan sementara menjadi Lapangan Tugiman. Ketika konsolidasi perdamaian antara Permesta dan Pusat berjalan, namanya pun masih tetap dikekalkan, sebelum nantinya berganti menjadi Lapangan Sam Ratulangi.


6. LANUD WIRIADINATA
Quote:


Berlokasi di Tasikmalaya - Jawa Barat, merupakan Lapangan Udara TNI-AU Type C.

Marsekal Muda R.H.A Wiriadinata dilahirkan di Situreja, Sumedang, 15 Agustus 1920 dan mengawali karier militernya di Pasukan Pertahanan Pangkalan (PPP) AURI dengan pangkat OMO (Opsir Muda Oedara) II. Saat perang kemerdekaan melawan Belanda pasukan ini begitu disegani karena hanya mereka satu-satunya yang memiliki senjata 12,7 mm. Karena kehebatannya, Wiriadinata kemudian diangkat menjadi Komandan Pertempuran Panembahan Senopati 105 (PPS-105) yang kemudian terkenal dengan nama Pasukan Garuda Mulya yang beroperasi disekitar daerah Yogyakarta dan Surakarta (Solo).

Pada tahun 1950-an, Wiriadinata yang saat itu berpangkat Kapten (U) mengikuti Sekolah Para Dasar Angkatan II di Lanud Andir, Bandung. Wiriadinata kemudian diangkat menjadi komandan PGT pertama pada tahun1952 sekaligus merangkap sebagai Komandan Lanud Andir. Ia juga pernah menjadi Panglima Gabungan Pendidikan Paratroops (KOGABDIK PARA) di Lanud Margahayu, Bandung. Wiriadinata terlibat langsung dalam penumpasan berbagai gerakan separatis di Indonesia seperti DI/TII di Jawa Barat dan Sul-Sel, RMS di Maluku dan PRRI/PERMESTA di Sumatera dan Kalimantan. Saat operasi 17 Agustus di Padang tahun 1958, Wiriadinata yang saat itu berpangkat Letkol (U) dipercaya menjadi wakil komandan operasi bersama Letkol (L) John Lie sedangkan pimpinan operasi dipegang oleh Kolonel Ahmad Yani.

Berdasarkan Surat keputusan Men/Pangau Nomor : III/PERS/MKS/1963 tanggal 22 Mei 1963, maka pada tanggal 9 April 1963 Komodor (U) RA. Wiriadinata dikukuhkan menjadi Panglima KOPPAU dan menjabat selama 1 tahun, kemudian pada tahun 1964 digantikan oleh Komodor (U) Ramli Sumardi. Setelah itu Wiriadinata diberi jabatan sebagai Irjen Mabes AURI dengan pangkat Marsekal Muda (U) hingga tahun 1967.

Pada tahun 1967, Presiden Soekarno menunjuk Wiriadinata sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta mendampingi Letjen (KKO) Ali Sadikin. Duet ini kemudian memimpin Jakarta selama dua periode hingga 1977 yang dikenal sebagai “periode emas” DKI Jakarta. Setelah itu Presiden RI kedua Soeharto mengangkat Wiriadinata sebagai Wakil ketua Dewan Pertimbangan Agung (DPA) periode 1978-1983.

Sebagai penghormatan kepada Marsda Purn. R.H.A Wiriadinata, pada tahun 2001 TNI AU melakukan penggantian nama atas Lanud Tasikmalaya,Jawa Barat menjadi Lanud Wiriadinata. Penggantian ini berasal dari usulan Paguyuban Masyarakat Pasundan mengingat besarnya jasa Wiriadinata kepada TNI AU dan juga negara.
7. JALAN LEMBONG ( Bandung )
Quote:


Terletak di Kota Bandung (mungkin juga terdapat di kota2 lainnya dipenjuru tanah air?) dan merupakan jalan masuk ke Museum Wangsit Siliwangi.

Letkol A.G Lembong, salah satu prajurit Siliwangi yang menjadi korban dalam Peristiwa Kudeta Angkatan Perang Ratu Adil. Sebelumnya jalan itu bernama Oude Hospitaalweg. Pada tanggal 23 Januari 1950 pukul 09.00 pagi, Pasukan "Angkatan Perang Ratu Adil" (APRA) dengan kekuatan sekitar 800 orang yang terdiri dari pasukan KNIL meyerbu kota Bandung dari arah Utara dan Cimahi. Peyerbuan yang dipimpin oleh Kapten Raymod Westerling, Westerling terkenal berdarah dingin dan membunuh ratusan orang-orang pribumi.

Letkol Lembong, ajudannya Lettu Kailola dan 59 prajurit TNI gugur dalam peristiwa ini. Jenazah mereka dibiarkan bergelimpangan di jalan0jalan di Kota Bandung. Lembong sendiri gugur bersama ajudannya tepat dipintu pagar kantornya, dia tidak mengetahui bahwa kantornya sudah dikuasai APRA. Tanpa ampun, kedua perwira ini diberondong dengan senapan mesin. Terdapat 36 luka tembak di jenazah Lembong dan 14 di jenazah Kailola, disamping luka tusukan bayonet dan sangkur.


8. JALAN MARHADI ( Madiun )
Quote:


Nama Jalan ini hanya terdapat di Kota Madiun - Jawa Timur. Mengambil sempena nama Kolonel Anumerta Marhadi. Beliau merupakan perwira TNI dengan pangkat tertinggi yang gugur dalam Pemberontakan PKI di Madiun. Beliau gugur dalam pertempuran di Desa Kresek. Ditempat terjadi pertempuran itu sekarang didirikan Monumen yang dikenal dengan nama Monumen Kresek. Untuk mengenang para prajurit TNI yang gugur dalam pertempuran Kresek.

Suasana mencekam dan menakutkan menyelimuti seluruh warga kota Madiun dan sekitarnya tahun 1948 lalu. Disana-sini terjadi penculikan serta pembantaian. Beberapa pejabat, perwira TNI, pimpinan partai, alim ulama, tokoh masyarakat dan warga yang dianggap musuh dibunuh dengan kejam. Sebuah gerakan yang terkenal dengan sebutan G30S/PKI menjadi dalang keresahan pada saat itu.

Salah satu dari sekian banyak tempat tragedi tersebut yang cukup terkenal adalah desa Kresek. Karena juga merupakan basis pelarian salah satu gembong gerakan tersebut, Muso. Yang kemudian tertangkap/terbunuh bersama seluruh pendukungnya di desa tersebut juga oleh serangan gabungan TNI dari Divisi Siliwangi, Divisi-II (Semarang-Surakarta), Divisi-I (Jawa timur), pasukan Mobile Brigade Besar (MBB) Jawa Timur serta dibantu oleh warga dan tokoh-tokoh masyarakat sekitar.

Di desa Kresek tersebut banyak prajurit TNI dan pamong desa yang gugur dalam pertempuran melawan PKI maupun karena dibantai PKI. Kolonel Marhadi adalah prajurit TNI berpangkat tertinggi yang gugur dalam pertempuran desa Kresek, namanya lalu diabadikan menjadi salah satu nama jalan di kota madiun dan didirikan pula patungnya di alun alun kota Madiun sebagai bentuk penghormatan. Dan untuk mengenang para korban keganasan PKI di desa Kresek tersebut, maka dibangunlah sebuah monumen yang menjadi saksi sejarah.

Menurut warga setempat, area monumen kresek dahulu adalah bekas rumah warga yang dijadikan PKI sebagai ajang pembantaian, warga sekitar dikurung di dalam rumah tersebut lalu rumah tersebut tersebut dibakar bersama warga yang ada di dalamnya. Di sebelah utara monumen kresek terdapat monumen kecil yang terbuat dari batu kali/sungai yang mengukir nama-nama prajurit TNI dan para pamong desa yang dibantai oleh PKI.


9. LANUD SYAMSUDDIN NOOR
Quote:


Berlokasi di Kota Banjarmasin - Kalimantan Selatan, merupakan Lanud TNI-AU Type C.

Tidak banyak warga Kalimantan Selatan tahu tentang pejuang yang satu ini. Walaupun namanya kemudian menjadi nama bandar udara terbesar di Kalimantan, namun kisah hidupnya masih tertutup oleh minimnya catatan sejarah lokal Kalimantan Selatan. Ini dampak yang terasa akibat dominannya pencatatan sejarah di daerah Jawa.

Letnan Udara Moehammad Sjamsoeddin Noor, lahir di Alabio (Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan), tanggal 5 November 1924. Ayahnya adalah seorang ulama dan aktif di pergerakan nasional yaitu H. Abdul Gaffar Noor, sedangkan ibunya Hj. Putri Ratna Wilis juga aktif di pergerakan berbasis keagaamaan.

Aktivitas sang ayah yang aktif di pergerakan, membawa keluarga ini hijrah ke Batavia, sehingga Moehammad Sjamsoeddin Noor menghabiskan masa pendidikannya di Batavia. Pada tahun 1939 Moehammad Sjamsoeddin Noor lulus dari HIS Batavia, kemudian dilanjutkan ke MULO Bogor lulus tahun 1942. Kemudian dilanjutkan lagi AMS Jogjakarta lulus tahun 1945.
Pada tahun 1945, seluruh pemuda Indonesia bersiap untuk mempertahankan kemerdekaan yang baru saja di proklamasikan. Pemuda Moehammad Sjamsoeddin Noor pun terpanggil untuk membela negara dengan memasuki Akademi Militer Jogjakarta. Setahun di akademi, diteruskan masuk Sekolah Kejuruan Penerbang. Negara kembali menugaskan Moehammad Sjamsoeddin Noor untuk mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Penerbang di India dan Burma. Selama tiga tahun pendidikan ini beliau jalani dengan kedisiplinan, sehingga setelah lulus beliau dipercaya untuk menerbangkan pesawat angkut dan pesawat tempur AURI. Bergabungnya Moehammad Sjamsoeddin Noor ke barisan pilot pesawat tempur AURI menambah kekuatan militer Indonesia kala itu, dikarenakan masih langkanya tenaga pilot pesawat tempur.

Pada hari Minggu, tanggal 26 November 1950, Moehammad Sjamsoedin Noor menjalankan tugas negara menerbangkan pesawat Dakota 446 milik AURI dari Lapangan Andir Bandung (sekarang Bandara Husin Sastranegara) menuju landasan pacu Tasikmalaya Jawa Barat. Di perjalanan, badai dan memburuknya cuaca menjadi kendala. Kondisi ini diperparah dengan rusaknya mesin pesawat, membuat Dakota kehilangan kendali. Pesawat pun jatuh setelah menabrak tebing Gunung Galunggung, sekitar 15 Kilometer dari Malang Bong, Kecamatan Ciawi, Tasikmalaya, Jawa Barat. Seluruh awak pesawat termasuk M. Sjamsoedddin Noor gugur sebagai pahlawan.
Prosesi pemakamannya dilakukan secara militer di Taman Makam Pahlawan Cikutra Bandung, pada tanggal 26 November 1950. Diikuti tembakan salvo ke udara, TNI AU kehilangan salah satu penerbang muda terbaik bangsa. M. Sjamsudin Noor wafat di usia muda 26 tahun. Sebagai jasanya beliau dianugerahi gelar Pelopor Indonesia Airways

Guna mengenang jasa perjuangannya, tanggal 13 Januari 1970, Pemerintah Daerah Kalimantan Selatan dan Pimpinan Pangkalan Udara mengusulkan agar Lapangan Udara Ulin diganti menjadi Pangkalan Udara Sjamsudin Noor.
Dipilihnya Sjamsudin Noor sebagai nama Pangkalan Udara (Lanud), juga melalui proses panjang. Setidaknya ada 3 pilihan nama pahlawan baik sipil maupun militer yang diusulkan kala itu. Masing-masing Komodor Udara Supadio, Pangeran Antasari dan Sjamsoedin Noor sendiri. Melalui SK DPRD Kalsel, diputuskan nama Sjamsoedin Noor menggantikan Landasan Udara Oelin pemberian nama dari Belanda dan Jepang


10. LANUD ISKANDAR
Quote:


Berlokasi di Pangkalan Bun, Kota Waringin Barat - Kalimantan Tengah. Merupakan Lapangan Udara TNI-AU Type C.

Lanud ini mengambil sempena nama Sersan Udara Iskandar, pelaku penerjunana pertama AURI pada 17 Oktober 1947 di Desa Sambi Kotawaringin. Pahlawan Iskandar adalah seorang putera daerah Kotawaringin, termasuk tiga belas (13) anggota tim Pasukan Para Komando yang untuk mengenang jasa kepahlawanannya, selanjutnya namanya diabadikan pada Pangkalan TNI AU sebagai hari lahirnya Pasukan Khas TNI Angkatan Udara (Korpaskhasau). Untuk mengenang sejarah Operasi Linud AURI pertama oleh Pasukan Payung Pertamanya itu, maka pada tanggal 9 April 1978 telah diresmikan oleh Pangkodau III Marsma TNI Sutiharsono

Ada pepatah yang mengatakan “tidak kenal maka tidak sayang” bukanlah sebuha slogan semata, namun sangat besar artinya apalagi itu berkaitan dengan system dalam suatu mekanisme kerja suatu institusi. Pangkalan TNI AU Iskandar (Lanud) Iskandar bukanlah sebuah Lanud Induk yang memiliki skadron-skadron Udara dengan dilengkapi Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista) yang canggih, besar dan modern dengan jumlah personel yang memadai, namun Lanud Iskandar adalah sebuah pangkalan type “C” yang merupakan bagian integral dari Pangkalan TNI AU. Sehingga Lanud Iskandar dalam melaksanakan pembinaan dan pengoperasian dibawah perintah Koopsau II yang berkedudukan di propinsi Kalimantan Tengah tepatnya di Pangkalan Bun Kabupaten Kotawaringin Barat.

Nama Iskandar memang tidak sebesar nama-nama seperti Iswahjudi, Halim Perdanakusuma, Agustinus Adisutjipto, Abdulrachman Saleh dan lain-lain yang semuanya telah diabadikan sebagai nama Pangkalan TNI AU (Lanud) di Pulau Jawa. Akan tetapi kalau dilihat dari sejarah perjuangan yang telah diberikan kepada rakyat Indonesia, maka sosok Iskandar merupakan putera daerah yang lahir pada tanggal 11 Juli 1928 di Jemras, Kec. Cempaga Kotawaringin Timur, tentunya tidak kalah besarnya, dengan pengabdian para pejuang lainnya sesuai dengan kemampuan pada saat itu. Sehingga perjuangannya memiliki arti tersendiri bagi masyarakat di daerah Kalimantan Tengah dan sekitarnya. Tidak sedikit juga kita jumpai ada beberapa pejabat ataupun anggota TNI AU yang masih sering keliru dalam menyebutkan atau mengirim surat-surat keperluan administrasi ke Lanud Iskandar dengan alamat Lanud Iskandar Muda atau Lanud Iskandarsyah di Palangka Raya.

Pangkalan TNI AU Iskandar merupakan upaya TNI AU untuk mengenang para pahlawan yang telah berbakti kepada bangsa dan Negara, TNI AU khususnya.
Nice info..
Quote:Original Posted By samuel.tirta
nanti akan diupdate dengan nama2 lainnya. Maaf belum bisa kasi gambar, belum tau cara masukin foto


nama suparlan, cocok untuk dijadikan nama APC dan sejenisnya

Quote:Original Posted By ttatung


nama suparlan, cocok untuk dijadikan nama APC dan sejenisnya



Nama Medium Tank Pindad aja.Tapi proteksinya jg mesti jempolan seperti prajurit Suparlan yg dihantam berulang kali tapi tetap bs bertahan sampai akhir.Daripada SBS (Selalu Bersama SBY).
11. LANUD DUMATUBUN
Quote:


Juga dikenal dengan nama Bandar Udara Dumatubun. Merupakan Lapangan Udara TNI-AU Type D, terletak di Langgur, Kabupaten Maluku Tenggara, Maluku. Bandar udara ini memiliki ukuran landasan pacu 1.300 x 30 m. Jarak dari pusat kota sekitar 3 km. Pangkalan Udara (Lanud) TNI-AU Dumatubun bermarkas di bandar udara ini.

Mengambil sempena nama Letnan Udara Domingus E.F. Dumatubun yang gugur pada saat latihan terbang malam dengan pesawat pembon B-25 Mitchell pada tanggal 25 Mei 1960. Pesawatnya jatuh di daerah Pondok Gede (sekarang SPBU Pertamina), hanya 6 hari sebelum Presiden Soekarno menyematkan wing penerbang di dadanya sebagai penerbang AURI. Turut gugur bersamanya Letnan Udara J. Wattimena. Untuk mengenangnya, namanya diabadikan sebagai Lapangan Udara di kampung halamannya di Langgur.


12. MONUMEN JUSMAN EFFENDI
Quote:


Terletak di Lapangan Udara Sulaiman - Bandung.

Sosok Jusman Effendi yang diangkat sebagai figur sekolah para dasar skadik 204 Lanud Sulaiman ini. Almarhum pada jamannya dikenal sebagai peterjun yang berani dan handal. Namanya sangat bersahaja di kalangan pelatih dan peterjun para karena dedikasinya yang sangat tinggi bagi kalangan pecinta wahana udara, dan merupakan legenda dikalangan penerjun-penerjun TNI.


13. MONUMEN PRAJURIT SOEJITNO
Quote:


Terletak di alun alun kota Bojonegoro, tepatnya di tengah alun alun ada satu patung berdiri kokoh menghadap ke arah barat. Patung yang terbuat dari kuningan tersebut adalah salah satu figur Pejuang/Pahlawan dari Bojonegoro yang bernama lengkap RM Soejitno Koesoemobroto, yang gugur pada tanggal 15 Januari 1949 pada saat terjadi pertempuran antara Tentara Republik Indonesia dengan Belanda.

Soejitno yang mempunyai nama lengkap RM Soejitno Koesoemobroto ini lahir pada tanggal 4 November 1925. Putra dari RM Koesoemobroto ini mengeyam Pendidikan Dasar (ELS) di Tuban kemudian melanjutkan HOS nya di Surabaya akan tetapi belum sampai lulus kemudian menyelesaikan pendidikan setingkat SMP nya di Tuban. Soejitno adalah seorang sosok yang mempunyai sifat pendiam dan cukup berwibawa, ramah tamah (supel) dan berdisiplin.

Setelah itu Soejitno melanjutkan pendidikan di Syodenco (Perwira PETA) di Bogor. Karir Soejitno di awali pada zaman Penjajahan Jepang sebagai perwira PETA (Syodenco) di Dai Ni Daidan Tuban. Kemudian setelah Indonesia merdeka Soejitno masuk BKR, TKR, TRI, TNI di Batalyon Suharto Resimen 30 Divisi V di Tuban. Pada awal tahun 1948 pindah kesatus ke Batalyon 16 Brigade Ronggolawe dengan pangkat Letnan Satu dengan jabatan sebagai Perwira Operasi.

Pada tanggal 15 Januari 1949 terjadi pertempuran yang dahsyat sehingga Lettu Soejitno gugur sebagai komando perlawanan di Temayang, yang di kenal dengan Palagan Temayang. Atas pengabdian dan pengorbanan Lettu Soejitno ini oleh rakyat dan pemerintah kabupaten Bojonegoro, Soejitno di angkat dan di tetapkan sebagai pahlawan daerah Bojonegoro. Sehingga wajib di monumenkan di tengah alun alun


14. JALAN R.A. FADILLAH
Quote:


Berlokasi di Komplek Kopasus, Cijantung - Jakarta Timur. Beliau adalah Kapten Anumerta R.A. Fadillah Tjitrokoesoemo yang gugur saat menumpas gerakan PRRI di Riau tahun 1958.

Dikisahkan, 2 kompi RPKAD yang diturunkan dalam operasi Tegas kala itu, Kompi A dipimpin Lettu Inf. Benny Moerdani diterjunkan di Simpang Tiga, untuk merebut landasan udara, dan Kompi B yang dipimpin Kapten Inf. Fadillah mendarat di Bengkalis, untuk menyapu Sungai Siak selanjutnya menembus hutan menuju Pekanbaru. Kompi B juga bertugas mengamankan ladang-ladang minyak yang tersebar di Pekanbaru.

Pasukan Benny sukses merebut Simpang Tiga nyaris tanpa kerugian. Rupanya pasukan pemberontak memilih mundur dan memusatkan pertahanan di Batang Kuantan yang terletak di tepi Sungai Siak. Ada ribuan pasukan PRRI yang memperkuat kekuatan di sana. Pertahanan pasukan PRRI sangat ideal. Mereka memasang banyak kubu senapan mesin di tepi sungai yang lebarnya hampir 100 meter dan berarus deras. Di belakang mereka, hutan rimba kawasan Bukit Barisan membentang luas. Ideal sekali untuk medan gerilya. Tak lupa, PRRI juga menghancurkan semua akses penyeberangan. Tentu ini kesulitan besar bagi pasukan TNI.

Kompi B RPKAD tak gentar. Pertempuran di Batang Kuantan berjalan sengit. Angkatan Udara mengirimkan pesawat B-25 untuk memberikan bantuan tembakan udara. Tetapi pilot pesawat terkena tembakan gencar sehingga harus kembali ke pangkalan Tanjung Pinang. Tembakan bertubi-tubi membuat pasukan pemberontak bisa dipukul. Mereka mencoba meloloskan diri dari pasukan TNI. Kompi B mencoba menghadang mereka yang mundur.

Namun, nahas saat itulah Kapten Fadillah tertembak. Dia dan seorang prajurit RPKAD lainnya tewas tertembak muntahan peluru senapan mesin tanggal 2 April 1958. Sejumlah sumber menyebut, Kapten Fadillah masih mencoba mengobarkan semangat tempur anak buahnya sebelum tewas. "Selamat berjuang," pesannya.

Kematian Fadillah membuat semangat tempur pasukannya menyala. Mereka menggempur pertahanan PRRI habis-habisan. Seluruh pertahanan di Batang Kuantan bersih disapu RPKAD dan pasukan lain. Hal ini sekaligus mematahkan perlawanan RI di seluruh Riau.


15. LAPBAK AHMAD KIRANG
Quote:


Juga berlokasi di Komplek Kopasus Cijantung.

Achmad Kirang kelahiran 8 November 1949 gugur pada usia 31 tahun RS Bumiphol, Bangkok Thailand, 2 hari pasca Operasi Pembebasan Sandera di Bandara Don Muang, Bangkok - Thailand. Merupakan seorang prajurit Baret Merah yang penuh pengalaman tempur, merintis karir militernya dari bawah, sehingga mencapai Capa menjelang gugurnya. Beliau juga seorang yang ahli dalam spesialisasi Tempur Tanpa Senjata, serta penyandang sabuk Karateka Dan IV.

Mendapat kenaikan pangkat secara Anumerta 2 tingkat lebih tinggi menjadi Letnan Satu Anumerta, serta mendapatkan penghargaan Bintang Sakti yang diserah terimakah kepada ahli warisnya. Untuk mengenang jasa-jasanya, namanya diabadikan dalam satu Lapbak (Lapangan Tembak) di Cijantung.


16. JALAN SAHABUDDIN
Quote:


Berlokasi di Bangka Belitong.

TAK banyak masyarakat Bangka Belitung (Babel) mengenal sosok Sahabudin. Padahal, Sahabudin, pria kelahiran Dusun Tutut Desa
Penyamun, Kecamatan Pemali, menyerahkan nyawanya untuk mempertahankan Tanah Air Republik Indonesia. Kelasi II Pelaut Sahabudin gugur di Laut Aru 15 Januari 1962 bersama Jos Sudarso, Wiratno dan teman2nya yang lain dalam MTB Matjan Tutul.

Sahabudin sebelum bergabung sebagai TNI AL menamatkan pendidikan di Sekolah Teknik (ST) Sungailiat. Sahabudin dikenal sebagai anak yang rajin, suka bergaul sesama rekan, dan sahabat di kampungnya, Dusun Tutut, sekitar 10 kilometer dari Sungailiat. Seusai menamatkan pendidikan di ST, Sahabudin berminat melanjutkan cita-cita sebagai seorang tentara. Keinginan Sahabudin sempat membuat bingung pihak keluarganya. Sebab, pihak keluarga beranggapan keinginan Sahabudin tersebut sulit terwujud. Kondisi ekonomi keluarganya tidaklah memungkinkan dirinya untuk menjadi tentara. Untuk melamar menjadi anggota TNI AL mesti ke luar Pulau Bangka sehingga butuh biaya yang tak sedikit.

Kini namanya diabadikan sebagai nama sebuah jalan di kota kelahirannya.
No 8 salah tu gan , tahun ama nama gerakan nya ga nyambung
Trus sebagian juga repost sih karena sudah ada dalam thread lain walau tujuan nya bukan specific seperti thread ini
Tp gpp gan, thread ini bisa jadi rangkuman
Quote:Original Posted By badruman9886
No 8 salah tu gan , tahun ama nama gerakan nya ga nyambung
Trus sebagian juga repost sih karena sudah ada dalam thread lain walau tujuan nya bukan specific seperti thread ini
Tp gpp gan, thread ini bisa jadi rangkuman


Maksudnya Jalan Marhadi? Tidak nyambungnya dimana gan? bisa dijelasin? soalnya ane ngambil sumber dari sejarah monumen. Mungkin agan ini bisa tambahkan data2nya. Repost ya? waduh hapus aja deh, padahal dah searching tadi. Ane kira nama2 seperti Jusman Efendi, Iskandar, Dominggus, dan nanti banyak lagi belum ada yg kenal disini. Rupanya repost ya?
17. GEDUNG PERPUSTAKAAN EKO IDANG PRABOWO
Quote:


Berlokasi di Komplek Candrasa, Pangkalan Ujung, Surabaya.

Nama Eko Idang Prabowo diambil dari nama perwira TNI AL Mayor Laut (T) Eko Idang Prabowo yang gugur dalam latihan penyelamatan kapal selam di perairan Situbondo tahun 2012. Almarhum tercatat sebagai lulusan Akademi Angkatan Laut (AAL) tahun angkatan XLVI, tahun 2000 (Moro Prabu). Saat gugur, jabatan terakhir adalah Kepala Divisi (Kadiv) MPK KRI Cakra 401.

Untuk mengenangnya, namanya kini diabadikan menjadi nama Gedung Perpustakaan di Pangkalan Ujung Surabaya. Gedung Perpus ini diresmikan pada 16 Agustus 2013 oleh Danguspurlatim, Laksma TNI Arie Sadewo.


18. MESS ANDIS SOLIKHIN & MESS HUTASUHUT
Quote:


Mess Solikhin berlokasi di Jalan Wuni Madiun, sedangkan Mess Hutasuhut berlokasi di jalan Diponegoro, Madiun.

Kedua penerbang ini diantara 4 penerbang TN-AU yang gugur di Lanud Iswahjudi pada tanggal 28 Maret 2002. Keduanya gugur saat melaksanakan manuver loop dengan pesawat Hawk MK-53 dan di udara terjadi Air Collison. Disamping kedua penerbang, peristiwa tersebut juga mengakibatkan gugurnya dua penerbang lainnya, yakni Kapten Pnb. Weko Nartomo dan Kapten Pnb. Masrial.

Mayor Pnb. Syahbuddin Nur Hutasuhut merupakan alumnus AAU Tahun 1989, Sekbang ke-43 tahun 1991, Flaying Instructur di Australia tahun 1997 dan Sekkau tahun 1998. Sebelum mejadi Kadisops Skadron Udara 15, terbaqng dengan pesawat F-5 Tiger II Skadron Udar 14 dan sebagai Instruktur di Lanud Adi Sucipto Yogjakarta. Sedangkan Kapten Pnb.Andis Sholikin alumnus IDP Angkatan V tahun 1987, sekbang ke-39 tahun 1989, SIP tahun 1999 dan Sekkau tahun 2001. Sebelumnya bertugas sebagai penerbang F-5 Tiger II di Skadron Udara 14 dan Instruktur di Lanud Adi Sucipto Yogjakarta.

Untuk mengenang mereka, nama-nama mereka diabadikan dalam bentuk nama Mess dalam jajaran Lanud Iswahjudi yang yang peresmiannya dilakukan Komandan Lanud Iswahjudi Marsekal Pertama TNI Imam Sufaat S.IP, Selasa malam tanggal 21 Desember 2004 di Madiun.


19. TUGU/JALAN MAIMUN SALEH
Quote:


Lokasi Banda Aceh.

Kalau Anda melintasi jalan raya Banda Aceh-Medan — dari arah Medan menuju Banda Aceh—di sekitar Km 14 sebelum memasuki kota Banda Aceh, tepatnya di simpang Desa Aneuk Galong, Kecamatan Sukamakmur, Aceh Besar, di sisi kiri akan terlihat sebuah monumen pesawat tempur jenis Hawk 200, milik TNI Angkatan Udara. Monumen pesawat tempur itu dipasang di atas tugu Maimun Saleh, yang dimaksudkan untuk mengenang jasa Maimun Saleh sebagai penerbang pertama asal Aceh. Maimun Saleh gugur pada 1 Agustus 1952 dalam usia 25 tahun akibat kecelakaan pesawat intai di Pangkalan Udara Semplak, Bogor, Jawa Barat. Monumen pesawat tempur ini sengaja ditempatkan di Aneuk Galong karena Maimun Saleh lahir di desa ini. Pendirian monumen itu tak lepas dari inisiatif Marsekal Udara Teuku Syahril, putra Aceh kelahiran Montasik Aceh Basar, yang pada 2008 menjabat sebagai Komandan Operasi Angkatan Udara I. Desa Aneuk Galong dan Desa Montasik tempat kelahiran Teuku Syahril tidak berjauhan.

Nama Maimun Saleh, selain diabadikan pada tugu di simpang Aneuk Galong, juga telah diabadikan pada bandara militer Lhoknga Aceh Besar. Setelah lapangan terbang Lhoknga tidak digunakan lagi, karena telah dibangun Bandara Blang Bintang yang sekarang bernama Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM), maka nama Maimun Saleh kemudian diabadikan pada lapangan terbang Cot Bak U di Sabang. Selain itu, nama Maimun Saleh juga diabadikan sebagai nama jalan di pusat perbelanjaan Peunayong, Banda Aceh.

Pesawat tempur Hawk-200 buatan Inggeris, pada 1980-an yang dijadikan monumen atas tugu itu adalah pesawat tempur utuh dan asli. Hanya saja, pesawat ini tidak bisa lagi dipergunakan karena beberapa bagian badan pesawat ada yang sudah retak. Atas usaha Marsekal Teuku Syahril dengan berbagai perjuangan yang membutuhkan waktu, akhirnya pesawat tersebut berhasil diboyong ke kampung Maimun Saleh untuk dijadikan monumen yang berjarak hanya sekitar 200 meter rumah Maimun Saleh sendiri.

Riwayat hidup
Maimun Saleh lahir 14 Mei 1929. Dia putra kedua dari lima bersaudara pasangan Tgk HM Saleh dan Aisyah, yaitu Tgk Hasballah, Maimun Saleh, Abasyah, Hadisyah dan Tgk Faisal. Maimun Saleh menempuh pendidikan di sekolah Taman Siswa dan sekolah menengah Islam di Koetaradja (sekarang Banda Aceh). Tahun 1949 Maimun diterima menjadi murid penerbang di Koetaradja. Pada 1950 dia dipindahkan ke sekolah penerbang di Kalijati Jawa Barat, dan 1 Februari 1951 berhasil memperoleh ijazah sebagai penerbang kelas 3.

Setelah itu, Maimun Saleh masuk Skuadron IV (pengintai darat) dan turut serta dalam semua operasi yang dijalankan oleh skuadron ini. Namun maut tak dapat disangka. Pada Jumat, 1 Agustus 1952, Sersan Maimun Saleh yang sedang menerbangkan pesawat intai Auster IV-R-80 mengalami kecelakaan di Pangkalan Udara Semplak Bogor pukul 09.25 WIB. Maimun gugur dalam kecelakaan itu.

Atas prakarsa Teuku Syahril, pembangunan monumen pesawat tempur di atas tugu Maimun Saleh, selain untuk mengenang jasa penerbang pertama dari Aceh, juga sebagai bentuk terima kasih dan ikatan batin antara Angkatan Udara dan masyarakat Aceh. Ini juga terkait dengan jasa masyarakat Aceh yang menyumbangkan pesawat terbang pertama RI-001 Seulawah kepada Indonesia sebagai modal awal saat Indonesia baru merdeka. Prosesi peletakan pesawat tempur Hawk-200 di atas Tugu Maimun Saleh dilakukan Januari 2008, dan dipimpin Danlanud SIM, Letkol Pnb Fachri Adami.

Pesawat tempur yang dijadikan monumen itu adalah pesawat asli, bukan replika, termasuk empat amunisi yang terdapat di atas sayap pesawat. Hanya saja, pada amunisi itu detonator dan peluru ledakannya tidak dipasang lagi. Jet tempur itu sendiri sebenarnya sudah dibawa ke Aceh pada 2003, setelah pesawat mengalami kecelakaan saat melakukan penerbangan di Pekanbaru, Riau. Dalam kecelakaan itu beberapa bagian badan pesawat retak dan tak bisa diterbangkan lagi.

Peresmian monumen pesawat tersebut oleh Marsekal Muda TNI Eddy Suyanto ST pada 24 September 2010.


20. MUSEUM DIRGANTARA A. SULAKSONO
Quote:


Museum ini berlokasi di Kota Malang dan diresmikan penggunaannya pada 8 Mei 2013 oleh Danlanud Abdulrachman Saleh, Marsma TNI Gutomo.

Tentang pemilihan nama "A. Sulaksono" sebagai nama museum ini, tidak lain adalah untuk mengenang dan memberikan penghargaan kepada Almarhum Marsma TNI Anumerta Albertus Sulaksono, yang gugur dalam pelaksanaan tugas uji alat digital maping camera buatan Jerman, dengan menggunakan pesawat Cassa A-2106. Pesawat yang ditumpanginya jatuh di gunung Salak Bogor pada tanggal 26 Juni 2008.

Dalam perjalanan kariernya, Kolonel Pnb A. Sulaksono banyak berjasa bagi Lanud Abd Saleh karena sikap keteladanannya yang demikian besar dan sangat pantas ditiru bagi para yuniornya, maka nama A. Sulaksono diabadikan sebagai nama museum ini.
21. MONUMEN KARYONO - RISDIYANTO
Quote:
Berlokasi di Komplek Akademi Angkatan Laut, Surabaya.

Monumen ini dibangun untuk mengenang dua orang Kadet AAL jurusan Marinir, Sermatar Kadet Karyono dan Sermatar Kadet Risdiyanto yang gugur saat melaksanakan Latihan Pendaratan Amfibi. Keduanya tenggelam bersama Kenderaan Lapis Baja Amfibi BTR-60 yang beratnya hampir 14 ton.


22. JALAN/LAPANGAN SEPAKBOLA RADEN SADJAD
Quote:
Berlokasi di Tasikmalaya - Jawa Barat.

DUNIA penerbangan di Kota Bandung memiliki sejarah panjang, di mana para pelakunya dan lapangan terbang di kota ini yang dahulu zaman lampau masih bernama Andir, sudah memiliki reputasi internasional. Walau saat itu masih dikuasai Belanda, Inggris, dan Amerika, kaum bumi-putera pun, khususnya Orang Sunda, ternyata kemampuannya diakui selama Perang Dunia II di Asia (1942-1945) maupun beberapa tahun sesudahnya.

Banyak orang Sunda memiliki andil dan peran menonjol dalam situasi dunia saat itu, baik dunia penerbangan militer dan sipil. Sayangnya, berbagai catatan terhadap mereka seakan lenyap dalam berbagai publikasi sejarah nasional.

Dari sejumlah orang Sunda tersebut, di antaranya adalah Letnan Udara Raden Sadjad, pilot pituin Tasikmalaya-Sumedang. Karena kemampuannya menonjol, Sadjad menjadi dihormati pihak Sekutu, terutama kalangan angkatan udara pada Perang Dunia II.

Boleh jadi, nama Raden Sadjad sebenarnya terlupakan disamping ketenaran pilot asal Madura, Halim Perdanakusuma, yang ikut menerbangkan pesawat pengembom Lanchester Inggris pada tahun 1943-1944. Saat itu, Angkatan Udara Inggris melakukan pengeboman Kota Berlin Nazi Jerman yang dikenal untuk menghancurkan berbagai sasaran.

Nama tenar Sadjad dimulai pada Januari 1942 saat masih kadet penerbang, ia "ditantang" taruhan gaji sampai ratusan Gulden Belanda dengan kadet Belanda, Noordraven. Saat itu, Sadjad ditantang untuk menerbangkan manuver pesawat pembom terbaru milik Angkatan Udara Hindia Belanda, yaitu B-25 Mitchell.

Saat itu, Belanda dipasok sejumlah pesawat B-25 Mitchell dari Amerika dan Australia ke Lapangan Terbang Andir, untuk memperkuat pertahanan Kota Bandung dari ancaman serbuan Jepang. Sadjad kemudian menang taruhan, karena mampu menerbangkan B-25 Mitchell bermanuver jungkir balik, di atas pemakaman Sirnaraga dekat Lapangan terbang Andir. Segera saja nama Sadjad menjadi perhatian pasukan Amerika dan Belanda, walau kemudian Lapangan Terbang Andir jatuh ke tangan Jepang pada Maret 1942.

Pasca penyerahan di Kalijati Subang, 8 Maret 1942, Belanda bersama Inggris, Amerika, dan Australia melanjutkan perang dengan Jepang di perairan Indonesia dan daratan Asia Tenggara. Sadjad direkrut sebagai co-pilot pesawat pembom yang ditugaskan ke Burma (kini Myanmar).

Pesawat tersebut tertembak pesawat pemburu Jepang dan jatuh di hutan, namun ia selamat. Lima bulan kemudian, Sadjad pulang ke Tasikmalaya, padahal keluarganya sudah tahlilan karena menyangka sudah gugur.

Pasca perebutan Pulau Morotai, Kep. Maluku, pada tahun 1945, pasukan Amerika dibawah komando Jenderal Mac Arthur mempercayakan Sadjad menjadi penguasa Lapangan Terbang Morotai. Para penerbang Amerika dan sekutu segan kepada Sadjad, yang juga sangat disukai penduduk pribumi, sehingga tentara Amerika menjulukinya sebagai "King Sadjad".

Saat era Perang Kemerdekaan Republik Indonesia pada tahun 1946, Sadjad kembali ke Bandung, lalu merakit dan mengaktifkan kembali sebuah pesawat pembom Bristol Blenheim eks Belanda dengan memasang mesin Sakai eks Jepang. Walau kemudian pesawat tersebut sempat terperosok di Pemakaman Sirnaraga Bandung dan Maospati Madiun, Sadjad memperoleh "hadiah" satu slof rokok jadul Kansas dari Panglima Jenderal Soedifman.

Menjelang tahun 1947, Sadjad pula yang memulihkan empat pesawat pemburu Messerschmidt Bfio9 E7 eks AU Jepang pasokan Luftwaffe (AU Nazi Jerman) untuk digunakan Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI). Pada tahun 1941, Jepang memperoleh lima buah Bfi09 E7 eks Jepang yang dipasok Nazi Jerman, di mana empat di antaranya berbasis di Lapangan Terbang Andir Bandung.

Namun keempat pesawat Bfi09 E7 AURI tersebut tamat riwayatnya saat serbuan pasukan Belanda melalui Operasi Gagak pada 10 Desember 1948 di Yogyakarta. Berbagai pesawat tempur milik AURI dihancurkan Belanda saat berada di Lapangan Terbang Maguwo, termasuk keempat Bfiog E-7 itu.

Pada tahun 1952, Sadjad ditugaskan kembali menjadi Komandan Lapangan Terbang Morotai, yang kali ini sudah dikelola AURI. Sadjad kemudian dijadikan andalan AURI untuk mengembangkan lapangan terbang tersebut menjadi pangkalan udara, dengan bantuan masyarakat pribumi karena sangat menyukainya, dan sering mengadakan pertunjukan layar tancap di sana.

Raden Sadjad pula lah, yang bersama Letkol Salatun, yang berhasil "mengompori" Presiden Soekarno agar membeli pesawat pembom tercanggih masa itu, TU-16 Badger buatan Uni Soviet yang berkemampuan membawa senjata nuklir. Saat itu keperluannya untuk Operasi Trikora Pembebasan Irian Barat tahun 1961-1962, lantaran Belanda mengirimkan kapal induk Kareel Doorman.

Disebutkan, Raden Sadjad sudah meninggal karena usia tua dengan terakhir berpangkat terakhir mayor udara. Namun tak seperti umumnya tokoh yang dianggap berjasa bagi perjuangan Indonesia lainnya, Raden Sadjad dimakamkan di makam umum Karang Nangka, pinggiran Lapangan Sepakbola Sukamantri, Kec. Ciawi, Kab. Tasikmalaya.

Raden Sadjad juga dikenal sebagai perintis AURI (kini TNI-AU) sekaligus peletak dasar penerbangan, yang juga memperoleh Bintang Sakti, Bintang Swabhuana Paksa, Nararia, Bintang Gerilya.


21. MUSEUM BAHARI LM. ABDUL KADIR
Quote:
Berlokasi di Sumbawa Besar NTB.

Almarhum Laksamana Madya TNI (Purn.) Lalu Manambai Abdul Kadir lahir 28 November 1928 di Sumbawa. Selama di TNI Angkatan Laut, Lalu Manambai Abdulkadir, telah menempati berbagai posisi strategis, baik penugasan di laut maupun di darat. Mulai dari Komandan Komando Jenis Kapal Selam (Dankojenkasel), Panglima Armada (Pangarma) Laut Republik Indonesia, hingga Deputy Kepala Staf Angkatan Laut (DEKASAL) Republik Indonesia.

Tugas negara yang cukup heroik dan monumental adalah ketika Komodor Laut (Bintang Satu), Manambai Abdulkadir ditugaskan sebagai Komandan Komando Satgas Kapal Selam Armada Laut Republik Indonesia dalam Operasi Mandala dalam rangka Pembebasan Irian Barat bersama Komodor Laut, Yos Sudarso. Yang dalam operasi itu, KRI. Macan Tutul (yang dipimpin Yos Sudarso), dibom oleh Belanda, dan Komodor Laut, Yos Sudarso pun gugur di laut Arafuru.

Tugas negara lainnya adalah, ketika Presiden RI Pertama, Bung Karno menugaskannya untuk menjemput Kapal Selam hasil kerjasama Pemerintah Uni Sovyet dan Pemerintah Indonesia ke Polandia pada tahun 1958, yang mengantarkan Manambai sebagai Putra Indonesia pertama, yang mendapatkan Sertifikasi Kualifikasi Pendidikan Kapal Selam dan Pelatihan Persenjataan Bawah Laut, dengan predikat kelulusan terbaik, “Summa Cumlaude” (Sangat Terpuji), setelah melalui pendidikan selama 1,5 tahun (1958-1959), di Sekolah Komandan Kapal Selam Angkatan Laut Polandia. Pengakuan yang sama diberikan oleh Angkatan Laut Amerika Serikat, dengan menganugerahkan Submarine Qualificatio Certificate (Sertifikat Kualifikasi Kapal Selam), kepada Laksamana Madya TNI. H. L. Manambai Abdulkadir, yang ditanda-tangani dan diserahkan oleh Komandan Komando Kawasan Pasifik Angkatan Laut Amerika Serikat (Commander US Navy In Chief Pacifik), Admiral Jhon S. McCain Jr, pada tanggal 21 November 1968. (Sekarang Senator Jhon S. McCain, Mantan Calon Presiden AS). Tak heran bila sekembali dan setibanya di Indonesia, dengan membawa Kapal Selam bantuan Pemerintah Uni Sovyet tersebut, tidak kurang dari Presiden Republik Indonesia/ Panglima Tertinggi Angkatan Perang Republik Indonesia (PANGTI APRI), Bung Karno (yang sering menjulukinya “Koboi dari Sumbawa”), dan Panglima Operasi Mandala, Mayor Jenderal TNI. Soeharto, waktu itu menjemputnya langsung di atas Kapal Selam, yang kemudian diberi nama KRI. Nanggala 402.

Selain tugas tersebut di atas, Laksamana Madya TNI. H. L. Manambai Abdulkadir pernah ditugaskan sebagai Komandan Komando Satuan Tugas Khusus RI di Pakistan, Panglima Armada Latgab ALRI dengan Angkatan Laut Australia, Panglima Armada Latgab ALRI dengan Angkatan Laut Pakistan dan Panglima Armada Latgab ALRI dengan Angkatan Laut India, serta tugas- tugas penting-strategis lainnya.

Selama rentang pengabdiannya kepada bangsa dan negara, Laksamana Madya TNI. H. L. Manambai Abdulkadir dianugerahi 23 buah Bintang Tanda Jasa dan Bintang Kehormatan dari negara. Serta mendapat kepercayaan dari Pemerintah diberbagai jabatan penting dan strategis. Baik dalam Korps Angkatan Laut dan Kesatuan TNI maupun dalam jabatan sipil- kekaryaan lainnya. Manambai juga berulang kali mendapat kepercayaan untuk mewakili kepentingan Pemerintah, Negara dan Bangsa Indonesia dalam berbagai forum internasional. Diantaranya ke Polandia, Rusia, Amerika Serikat, Belanda, Prancis, Italia, Negara- negara Eropa, Australia, Jepang, Singapura, Malaysia, Thailand, India, Pakistan, Negara- negara Asia dan Kawasan Afrika dan Negara- negara Timur Tengah.

Almarhum dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata Jakarta.
Kiprah dan catatan perjuangannya telah menorehkan kebanggaan tersendiri bagi kita semua, sebagai Tau Tana Samawa. Laksamana Madya TNI. H. L. Manambai Abdulkadir, telah menorehkan sejarah panjang perjalanan hidup dan kariernya, baik sebagai putra Samawa, maupun sebagai putra bangsa dan pejuang nasional. Baik dalam penugasan selama dinas aktif di TNI Angkatan Laut dengan pangkat terakhir Laksamana Madya, sebagai Komandan Komando Jenis Kapal Selam (Dankojenkasel) pada 1962-1965, Panglima Armada (Pangarma) Laut Republik Indonesia, merangkap Panglima Armada Strategis Angkatan Laut, tahun 1966-1969, Deputy Kepala Staf Angkatan Laut (DEKASAL), tahun 1969-1973, maupun dalam jabatan kekaryaannya sebagai Wakil Ketua Otorita Asahan (1984-1989), Sekretaris Jenderal Departemen Perdagangan dan Koperasi Republik Indonesia (1978-1983), serta sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (Ambassador Extraordinary and Plenipotentiary) Republik Indonesia untuk Pemerintah Tanzania, merangkap Duta Besar untuk Kenya, Zambia, Uganda, Republik Mauritius, Republik Malawi, Republik Rwanda, Republik Burundi dan Uni Comorros, yang berpusat di Dar-es Salaam-Tanzania dan di Lusaka-Zambia (Afrika Timur), pada tahun 1974 hingga 1978.

Beberapa catatan penting :
1. Laksamana Madya TNI. H. L. Manambai Abdulkadir, Lahir di Sumbawa Besar 28 November 1928. Wafat di Jakarta 15 Februari 1995, dalam usia 66 tahun lebih 3 bulan, dan dikebumikan di TMP Kalibata Jakarta pada 16 Februari 1995.

2. Laksamana Madya TNI. H. L. Manambai Abdulkadir, tercatat sebagai pemegang record satu-satunya Perwira Tinggi Termuda. Mencapai pangkat Komodor Laut (Bintang Satu) pada usia 36 Tahun dan mencapai pangkat Laksamana Madya (Bintang Tiga) pada usia 42 Tahun. Yang tidak pernah dicapai oleh Perwira Tinggi lainnya hingga saat ini.

3. Laksamana Madya TNI. H. L. Manambai Abdulkadir, adalah kolega dan sahabat akrab Admiral Jhon S. McCain (Mantan Calon Presiden Amerika Serikat yang berpasangan dengan Sarah Palin), sewaktu McCain menjabat sebagai Panglima Komando Kawasan Pasifik Angkatan Laut Amerika Serikat (Commander US Navy In Chief Pacifik), dibuktikan dengan adanya komunikasi dan korespondensi yang intensif berupa beberapa buah surat yang dikirimkan oleh McCain dari Francisco tertanggal 19 November 1969 dan Kartu Pos yang dikirim dari Pangkalan Angkatan Laut AS di Okonawa-Jepang tertanggal 7 Agustus 1971, kepada Manambai, yang menggambarkan kedekatan dan kehangatan hubungan mereka. (Surat dan Kartu Pos McCain dapat dilihat di Museum Bahari Laksamana Madya TNI. H. L. Manambai Abdulkadir - Sumbawa Besar).

4. Admiral Jhon S. McCain, Panglima Komando Kawasan Pasifik Angkatan Laut Amerika Serikat (Commander US Navy In Chief Pacifik), bersama istrinya pernah mengunjungi Laksamana Madya TNI. H. L. Manambai Abdulkadir di Surabaya pada tahun 1969, pada saat Manambai menjabat sebagai Panglima Armada (Pangarma) Laut Republik Indonesia. Dibuktikan oleh surat McCain yang menyatakan terima kasih dan kepuasannya atas pelayanan serta keramah tamahan Manambai dan isteri selama kunjungan McCain dan isterinya ke Surabaya. (Surat McCain dapat dilihat di Museum Bahari Laksamana Madya TNI. H. L. Manambai Abdulkadir - Sumbawa Besar).

Nanti di UPDATE lagi.
Silahkan kalau ada yg mau menambahkan, terutama nama2 yang tidak terkenal, atau mungkin masih "asing" di telinga kita. Ane off dulu
Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa menganpuni dosa dan khilaf mereka semua dan menerima amal ibadahnya. Amin ...

Pak Suparlan ...
Luar biasa sekali Bapak.

wew Bf-109 E7 di indonesia?
Ki-61 Tony mungkin tuh...
Yang paling menarik si suparlan
Quote:Original Posted By samuel.tirta


Maksudnya Jalan Marhadi? Tidak nyambungnya dimana gan? bisa dijelasin? soalnya ane ngambil sumber dari sejarah monumen. Mungkin agan ini bisa tambahkan data2nya. Repost ya? waduh hapus aja deh, padahal dah searching tadi. Ane kira nama2 seperti Jusman Efendi, Iskandar, Dominggus, dan nanti banyak lagi belum ada yg kenal disini. Rupanya repost ya?


kayaknya nggak repost deh..mungkin cm repetisi dr old kaskus cm nggak repost...nice thread,

cendol sent
Oneliner
ente tak batain ya
Quote:17. soal PERTAMAX, NICE INFO GAN, HIDUP KASKUS, MANTAP GAN, dan ONE LINER lainnya, gak perlu ada aturan tertentu, silakan DENBATA bergerak. perlawanan terhadap denbata akan dibawa ke dewan mods. moderator akan memberi dukungan.

Quote:Original Posted By slick11
Nice info..


kisah mirip Pratu Suparlan ini juga pernah saya temukan di buku sejarah Marinir, tempat peristiwa juga di Timtim...sayang,bukunya dipinjam tak kembali jadi saya lupa persisnya nama sang pahlawan...monggo para tukang tambak mohon berbagi cerita
ngebayangin pak Parlan seperti tokoh di film Platoon walaupun kisahnya beda
saya salut dan hormat pak...

Spoiler for platoon:
Quote:Original Posted By toesbolteroes11


Nama Medium Tank Pindad aja.Tapi proteksinya jg mesti jempolan seperti prajurit Suparlan yg dihantam berulang kali tapi tetap bs bertahan sampai akhir.Daripada SBS (Selalu Bersama SBY).


setuju, semoga tank medium pindad seperti pratu suparlan,
setroooong sampe mati
mata ane capek bacanya gan, bukan karena ceritanya panjang. tapi font/hurufnya kecil2.....