KASKUS

Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat membuat beban utang lua

JAKARTA, KOMPAS - Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat membuat beban utang luar negeri bertambah. Bahkan, risiko default berupa gagal bayar atau tunda bayar bisa meningkat jika pengutang tidak berhati-hati dalam pengelolaan utangnya.

Utang luar negeri pemerintah, bank sentral, dan swasta per Juni 2013 sebesar 257 ,98 miliar dollar AS. Dengan nilai tukar rupiah pada Kamis (22/8/2013) Rp 10.795 per dollar AS, maka utang itu setara Rp 2.784 triliun. Padahal, pada Senin (20/8), nilai tukar rupiah Rp 10.451 per dollar AS. Dengan nilai tukar itu, utang menjadi Rp 2.696 triliun. Ada selisih Rp 88 triliun dengan asumsi mengabaikan lindung nilai (hedging).
Data Bank Indonesia (BI) yang dapat dihimpun Kompas, kemarin, menunjukkan, utang luar negeri terdiri dari utang pemerintah dan BI sebesar 123,992 miliar dollar AS serta utang swasta sebesar 133,988 miliar dollar AS.
Porsi terbesar utang luar negeri mengucur ke sektor keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan, yakni 111,294 miliar dollar AS atau 43,1 persen dari total utang luar negeri. Sektor berikutnya adalah industri pengolahan sebesar 27, 944 miliar dollar AS atau 10,8 persen dan sektor pertambangan dan penggalian sebesar 25, 874 miliar dollar AS atau setara 10 persen dari total utang luar negeri.
Padahal, menurut ekonom Standard Chartered Indonesia, Eric Sugandi, pertumbuhan sektor keuangan, persewaan, dan jasa diperkirakan melambat tahun depan. Sebagian besar pendapatan sektor tersebut di dalam negeri dalam rupiah.
Melemahnya rupiah terhadap dollar AS akan membuat beban sektor keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan dalam membayar utang semakin berat. Kemampuan membayar utang luar negeri akan berkurang. ”Dari sisi pertumbuhan ekonomi, perlambatan di sektor ini membuat kontribusinya terhadap ekonomi berkurang,” ujar Eric.
Sebelumnya Gubernur BI Agus DW Martowardojo mengatakan, sekitar 15 persen utang swasta belum menggunakan lindung nilai. Dengan demikian, nilai utang akan fluktuatif bergantung pada nilai tukar. Akan tetapi, ujar Eric, lindung nilai pun memiliki batas waktu. Jika kondisi rupiah terus melemah dan lindung nilai sudah berakhir batas waktunya, risiko tunda bayar atau gagal bayar utang luar negeri bisa meningkat juga.

Masih menarik

Risiko bisa bertambah jika industri tersebut memperoleh pendapatan dalam rupiah. Apalagi jika bahan baku dan barang modalnya masih impor sehingga menggerus pendapatan.
Ekonom BNI, Ryan Kiryanto, mengemukakan, beberapa sektor yang masih menarik pertumbuhan tahun depan, antara lain pengolahan atau manufaktur dan kebutuhan konsumen (consumer goods). Namun, menurut Eric, sektor pengolahan masih bergantung pada impor barang modal. Jika dollar AS terus menguat dan industri yang bergerak di sektor pengolahan mengerem impor bahan baku, produksi akan melambat. ”Lagi-lagi kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi akan berkurang,” ujar Eric.
Beban berat juga dirasakan sektor pertambangan dan penggalian yang selama ini masih mengimpor barang modal. Umumnya industri ini juga memiliki utang dollar AS. Meski hasilnya diekspor dan memperoleh dollar AS, harga komoditas masih tertekan.
Data BI menunjukkan, sekitar 68 persen utang luar negeri dalam bentuk dollar AS atau sekitar 175 , 402 miliar dollar AS. Adapun 13,3 persen berupa rupiah dan 12,5 persen berupa yen Jepang. Rasio utang terhadap produk domestik bruto per akhir Juni 2013 sekitar 31,3 persen.
Pertumbuhan ekonomi per triwulan II-2013 sebesar 5,81 persen. BI memperkirakan, pertumbuhan ekonomi tahun ini 5,8-6,2 persen dengan kecenderungan ke batas bawah. (IDR)