- Beranda
- Komunitas
- News
- Berita dan Politik
Kisah agen Kring Pajak 500200, bersabar hadapi emosi wajib pajak


TS
LadiessMan217
Kisah agen Kring Pajak 500200, bersabar hadapi emosi wajib pajak
Quote:
Menghadapi wajib pajak dengan karakter yang berbeda-beda mempunyai daya tarik tersendiri bagi para agen call center Kring Pajak 500200. Memahami sifat-sifat para wajib pajak yang bermacam-macam, membuat para agen Kring Pajak 500200 belajar untuk berkomunikasi dengan baik. Bahkan belajar bersabar saat menangani wajib pajak yang sedang emosi.
Seperti yang dialami Randy Suqih Lambok. Agen yang meraih penghargaan internasional sebagai the best customer service profesional ini harus tetap bersikap ramah meski wajib pajak sedang emosi.
"Jadi untuk menghadapi wajib pajak yang komplain, bagaimana caranya untuk tetap bersikap ramah. Sementara wajib pajak terus mengajukan pertanyaan dengan komplain dan emosi yang tinggi. Sementara kami di sini harus dengan emosi datar dan jauh di bawah emosi wajib pajak dan ramah," cerita Randy.
Meski begitu, Randy yang sudah bertugas di Kring Pajak 500200 selama 1,5 tahun ini tetap merasa nyaman bekerja sebagai agen. Menurut Randy, di lingkungan kerjanya yang seperti itu akan menempa pribadi seseorang menjadi pribadi yang lebih baik lagi dari sebelumnya.
"Di sini luar biasa. Kita ditempa mulai dari harus mengerti peraturan perpajakan, bersikap. Dan yang paling penting terkesan adalah ditempa untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya," ungkapnya.
Tak jauh beda dengan Randy. Marina Sitinjak, inbound agent yang sejak Maret 2012 lalu bertugas di Kring Pajak juga menuturkan hal yang sama.
Banyak hal yang Marina dapat saat bertugas 1,5 tahun di Kantor Layanan Informasi dan Pengaduan (KLIP) ini. Marina bisa mengaplikasikan ilmu yang ia dapat semasa kuliah diploma III dahulu. Setiap hari wajib pajak mengajukan pertanyaan yang berbeda-beda sehingga ia harus terus update segala peraturan perpajakan.
"Selalu ada (pertanyaan). Jadi saya terus memperbarui kemampuan saya. Apa yang saya dapatkan berguna juga buat saya dan orang lain," kata Marina.
Segala pengalaman yang didapat Marina pun ia jadikan sebagai pengalaman menarik. Sama halnya seperti menghadapi para wajib pajak yang emosi. Justru ini yang membuat Marina belajar untuk menghadapi orang dengan karakter yang berbeda.
"Sukanya banyak sekali di sini. Banyak dapat teman, informasi perpajakan dapat langsung dari pembuat peraturan (Direktorat Peraturan Perpajakan I dan II), teman-teman di sini berjiwa muda. Untuk duka saya anggap saja suka. Kalau dapat wajib pajak yang emosi itu pembelajaran," ujarnya.
Seperti juga Randy dan Marina, Risanto juga sering menerima komplain dari wajib pajak yang emosi. Risanto tetap berusaha bersabar. Maklumlah, wajib pajak yang emosi itu terkadang juga sedang mengalami permasalahan perpajakan dan kurang mendapatkan pelayanan yang baik dari masing-masing Kantor Pelayanan Pajak tempat mereka terdaftar.
"Kadang-kadang mungkin perlu menenangkan diri ketika menghadapi wajib pajak yang sedang ada masalah perpajakan dan kurang mendapatkan pelayanan baik," imbuh Risanto.
Jadi para agen terus semangat ya menghadapi para wajib pajak. Toh, orang sabar disayang Tuhan.
http://www.merdeka.com/peristiwa/kis...jib-pajak.html
Seperti yang dialami Randy Suqih Lambok. Agen yang meraih penghargaan internasional sebagai the best customer service profesional ini harus tetap bersikap ramah meski wajib pajak sedang emosi.
"Jadi untuk menghadapi wajib pajak yang komplain, bagaimana caranya untuk tetap bersikap ramah. Sementara wajib pajak terus mengajukan pertanyaan dengan komplain dan emosi yang tinggi. Sementara kami di sini harus dengan emosi datar dan jauh di bawah emosi wajib pajak dan ramah," cerita Randy.
Meski begitu, Randy yang sudah bertugas di Kring Pajak 500200 selama 1,5 tahun ini tetap merasa nyaman bekerja sebagai agen. Menurut Randy, di lingkungan kerjanya yang seperti itu akan menempa pribadi seseorang menjadi pribadi yang lebih baik lagi dari sebelumnya.
"Di sini luar biasa. Kita ditempa mulai dari harus mengerti peraturan perpajakan, bersikap. Dan yang paling penting terkesan adalah ditempa untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya," ungkapnya.
Tak jauh beda dengan Randy. Marina Sitinjak, inbound agent yang sejak Maret 2012 lalu bertugas di Kring Pajak juga menuturkan hal yang sama.
Banyak hal yang Marina dapat saat bertugas 1,5 tahun di Kantor Layanan Informasi dan Pengaduan (KLIP) ini. Marina bisa mengaplikasikan ilmu yang ia dapat semasa kuliah diploma III dahulu. Setiap hari wajib pajak mengajukan pertanyaan yang berbeda-beda sehingga ia harus terus update segala peraturan perpajakan.
"Selalu ada (pertanyaan). Jadi saya terus memperbarui kemampuan saya. Apa yang saya dapatkan berguna juga buat saya dan orang lain," kata Marina.
Segala pengalaman yang didapat Marina pun ia jadikan sebagai pengalaman menarik. Sama halnya seperti menghadapi para wajib pajak yang emosi. Justru ini yang membuat Marina belajar untuk menghadapi orang dengan karakter yang berbeda.
"Sukanya banyak sekali di sini. Banyak dapat teman, informasi perpajakan dapat langsung dari pembuat peraturan (Direktorat Peraturan Perpajakan I dan II), teman-teman di sini berjiwa muda. Untuk duka saya anggap saja suka. Kalau dapat wajib pajak yang emosi itu pembelajaran," ujarnya.
Seperti juga Randy dan Marina, Risanto juga sering menerima komplain dari wajib pajak yang emosi. Risanto tetap berusaha bersabar. Maklumlah, wajib pajak yang emosi itu terkadang juga sedang mengalami permasalahan perpajakan dan kurang mendapatkan pelayanan yang baik dari masing-masing Kantor Pelayanan Pajak tempat mereka terdaftar.
"Kadang-kadang mungkin perlu menenangkan diri ketika menghadapi wajib pajak yang sedang ada masalah perpajakan dan kurang mendapatkan pelayanan baik," imbuh Risanto.
Jadi para agen terus semangat ya menghadapi para wajib pajak. Toh, orang sabar disayang Tuhan.
http://www.merdeka.com/peristiwa/kis...jib-pajak.html
Quote:
Video suka duka pegawai Kring Pajak 500200
Pekerjaan sebagai agent call center bukanlah pekerjaan yang mudah. Perlu keuletan, kesabaran, keikhlasan, dan disiplin yang tinggi dalam menjalankan tugas. Seperti yang dilakukan para agen Kring Pajak 500200.
Dalam bekerja, para agen Kring Pajak 500200 harus fokus dengan pertanyaan atau pengaduan yang dilontarkan wajib pajak. Senantiasa harus mempelajari peraturan perpajakan yang jumlahnya banyak dan selalu berkembang dari waktu ke waktu. Semua itu menjadi tantangan tersendiri bagi para agen Kring Pajak 500200 khususnya Andi Rahmat Taufik.
Bekerja secara profesionalisme dalam menghadapi wajib pajak sudah semestinya dilakukan para agen Kring Pajak 500200. Meski terkadang membuat Andi dan rekan-rekannya harus menarik napas lantaran menerima pertanyaan yang panjang dan tak jarang diselingi dengan nada bicara yang tinggi dari wajib pajak.
Tapi semua itu tidak membuat Andi dan rekan-rekan menjadi kendala dalam bekerja. Justru pengalaman-pengalaman menghadapi para wajib pajak menjadi pembelajaran menuju perbaikan dalam melayani penelepon/pelapor.
Berikut video suka duka pegawai Kring Pajak 500200:
http://www.merdeka.com/peristiwa/vid...ak-500200.html
Quote:

Quote:
Original Posted By Uthe18►
bukan
si Gayus di bagian penghitungan pajak
btw, banyak yg SALAH PAHAM deh
orang Pajak (trmasuk Gayus dkk dan juga atas2annya) mah bukan KORUPSI kaleee....
mereka itu (para pegawai Pajak) kan TIDAK menerima uang pembayaran pajak WP
Orang bayar pajak mah ke Bank/tempat ditunjuk bukannya bayar ke KPP
Lebih tepatnya mereka itu disebut PEMBAJAK PAJAK
karena kelakuan mereka pajak yg seharusnya dibayarkan 100% tapi cuma disetorkan (berdasarkan laporan dan verifikasi petugas/pejabat pajak) paling banter 10-40% doang sedangkan 20-40% (max paling banter WP cuma bayar 50-70% sehigga WP bisa HEMAT sisanya untuk Capex) untuk para oknum pegawai tersebut
Contoh kasus Gayus, Pajak seharusnya terbayar RP2 triliun tapi cuma dilaporkan ma Gayus hanya Rp140 miliar sedangkan WP membayar Rp450 miliar dimana Rp450 miliar - 140 miliar = Rp310 miliar dibuat bancakan ma Gayus beserta atasan2nya
Dari kejadian itu kan ke-2 pihak (WP dan oknum pegawai) sama2 UNTUNG (selisih Rp1,65 triliun bisa dipakai buat Capex perusahaan atau bayar hutang), dan yg buntung adalah negara yg mengalami KEKURANGAN PENERIMAAN sebesar selisihnya
bukan

si Gayus di bagian penghitungan pajak

btw, banyak yg SALAH PAHAM deh

orang Pajak (trmasuk Gayus dkk dan juga atas2annya) mah bukan KORUPSI kaleee....

mereka itu (para pegawai Pajak) kan TIDAK menerima uang pembayaran pajak WP

Orang bayar pajak mah ke Bank/tempat ditunjuk bukannya bayar ke KPP

Lebih tepatnya mereka itu disebut PEMBAJAK PAJAK

karena kelakuan mereka pajak yg seharusnya dibayarkan 100% tapi cuma disetorkan (berdasarkan laporan dan verifikasi petugas/pejabat pajak) paling banter 10-40% doang sedangkan 20-40% (max paling banter WP cuma bayar 50-70% sehigga WP bisa HEMAT sisanya untuk Capex) untuk para oknum pegawai tersebut

Contoh kasus Gayus, Pajak seharusnya terbayar RP2 triliun tapi cuma dilaporkan ma Gayus hanya Rp140 miliar sedangkan WP membayar Rp450 miliar dimana Rp450 miliar - 140 miliar = Rp310 miliar dibuat bancakan ma Gayus beserta atasan2nya

Dari kejadian itu kan ke-2 pihak (WP dan oknum pegawai) sama2 UNTUNG (selisih Rp1,65 triliun bisa dipakai buat Capex perusahaan atau bayar hutang), dan yg buntung adalah negara yg mengalami KEKURANGAN PENERIMAAN sebesar selisihnya

Diubah oleh LadiessMan217 23-07-2013 10:39
0
5.9K
Kutip
22
Balasan


Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama


Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan