KASKUS

ex-Teroris Abdurrahman Ayyub: Teroris Memahami Alquran sebatas Tenggorokan

Abdurrahman: Teroris memahami Alquran sebatas tenggorokan
Selasa, 16 Juli 2013 02:25:00


Abdurahman Ayyub dan Gurunya, Ustadz Abu bakar Ba'asyir

Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) mulai merekrut mantan teroris sebagai senjata pencegahan kaderisasi oleh teroris. Salah satu orang yang direkrut BNPT adalah Abdurrahman Ayyub. Abdurrahman mengaku sebagai anak murid dari Abu Bakar Ba'asyir pemimpin tertinggi Jama'ah Islamiyah. Sepak terjang lelaki berjanggut ini juga tidak terbilang sedikit. Dia mengaku sudah berjihad di banyak tempat seperti Afghanistan, tempat dia bertemu dengan Osamah Bin Laden. Kemudian Filipina dan Australia. Hingga akhirnya sampai ke Madinah dan disadarkan di sana.

Kini dia tidak lagi membela kelompoknya. Tetapi justru menunjuk bahwa para teroris itu adalah satu tanda kehancuran yang diisyaratkan Rasulullah, Nabi Muhammad SAW. "Sudah ada isyarat di zaman nabi. Akan muncul sekelompok manusia, mereka paham Al Quran tidak ada yang sanggup menyamainya namun ternyata pemahamannya sebatas tenggorokan. Kemudian mereka mengkafirkan Saudi, Indonesia dan negara lainnya," kata Guru Umar Patek ini.

Menurut dia, tujuan para teroris tak lain untuk mengganti dasar negara Indonesia. Mereka pun terkenal keras kepala terhadap ajaran sesat itu. "Mereka menjadikan negeri Darul Haq untuk berperang. Karena ini dijadikan negeri Darul Haq. Maka hanya Allah yang mampu mengubah hatinya teroris," lanjutnya.

Dia pun mengajak rekan-rekannya untuk kembali ke jalan yang benar. "Saya mau mengajak saudara saya untuk paham Al Islam yang tidak mudah mengatasnamakan jihad tapi mengorbankan saudara sendiri. Jangan dengan kekerasan. Mereka berpikir itu jalan meraih mati syahid, mendapat bidadari dan membebaskan 70 orang saudara mereka dari safaat," tutupnya.
http://www.merdeka.com/peristiwa/abd...nggorokan.html

Abdul Rahman Ayub, Mantan Komandan JI Australia yang Tempuh Jalan Damai
Senin, 15 April 2013


]Abdul Rahman Ayub, mantan komandan Jamaah Islamiyah (JI) Australia, saat ditemui di Jakarta.

Tolak Lamaran Intelijen, Pilih Keliling Masjid
Sepulang memimpin jaringan Jamaah Islamiyah (JI) Australia, Abdul Rahman Ayub kini memilih jalan damai. Setelah melepaskan sejumlah fasilitas dari JI, teman sepelatihan Hambali yang kini ditahan CIA di Guantanamo itu menghidupi diri dengan berjualan donat dan pastel.

Perawakannya tidak begitu tinggi. Namun, otot-ototnya masih menunjukkan kebugaran pada masa muda. Sorot matanya tajam dan penuh selidik. Genggaman tangannya juga mantap. ’’Bagaimana Anda bisa dapat kontak saya?’’ tanya Ayub kepada wartawan koran ini saat ditemui di sebuah restoran Jepang, Jakarta, Jumat (12/4).

Ayub dan pengawal pribadinya, Aznavour Rasyad, sangat antipublikasi. Selain alasan keamanan, dia tidak gampang memercayai orang. ’’Banyak yang mengaku wartawan, namun ternyata intel. Hanya kedok,’’ ungkapnya.

Karena itu, dia selalu melakukan seleksi awal. ’’Biasanya, saya cek dahulu jalur rekomendasinya ke beberapa orang. Misalnya, Anda mengaku dapat kontak dari si X, lalu Y. Nah, kalau klir, bolehlah kita makan bersama,’’ katanya, lantas tersenyum.

Avu, asistennya, dengan sigap memilih menu. Wajar, Ayub selalu hidup dalam kewaspadaan. Dia adalah mantan orang yang sangat penting di JI, sebuah organisasi klandestin yang sering disebut payung gerakan teror di Indonesia. ’’Saya diamanahi memegang komando JI di Australia sejak 1997 hingga 2002,’’ ujarnya.

Sebelum ditugaskan ke Negeri Kanguru, Ayub bergerak di Sabah, Malaysia. Tepatnya di Sandakan, tak jauh dari Lahad Datu. ’’Saya menjadi semacam penghubung atau kurir bagi mujahidin yang hendak berlatih ke Moro, Filipina, melalui jalur Malaysia,’’ ungkapnya.

Hal itu dilakoni pada 1992–1997.

Bapak tujuh anak itu merupakan alumnus Akademi Militer Mujahidin Afghanistan Kamp Ijtihad Islami Abdul Rasul Sayaf. Dia menempuh ilmu kemiliteran di sana pada 1986–1991. ’’Saya berjuang di garis depan melawan Uni Soviet (Rusia). Berapa yang saya bunuh, wah sudah lupa,’’ ujarnya.

Awalnya, Ayub hanya siswa STM Boedi Oetomo yang mengaji di Masjid DDI, Kramat Raya, pada 1983. Dari sana, dia mengenal Sulaiman Mahmud, komandan Darul Islam Aceh. Dari Mahmud, dia mengenal Abu Bakar Ba’asyir dan Abdullah Sungkar. Lalu, berbaiat untuk setia pada 1985 di Solo.

Ayub berangkat ke Afghanistan bersama 24 orang lainnya dari Indonesia, termasuk Encep Nurjaman alias Riduan Isamudin alias Hambali, otak serangan bom Bali 2002. Di Australia, Ayub tinggal di Perth. Dia bekerja sebagai pengajar agama di komunitas Timur Tengah di sana. Istrinya menyambi menjadi penjahit. ’’Ketika itu, saya sedang proses apply sebagai permanent residence sampai tiba-tiba WTC hancur (2001) dan setahun kemudian Bali diserang bom,’’ ungkapnya.

Dari jaringannya, Ayub mendengar bahwa itu merupakan ulah Hambali, teman sepermainan dan seperjuangannya sejak muda. ’’Saya kecewa sekali. Kok begitu, Indonesia kok dianggap negara perang. Ini saya tidak sepakat,’’ tegasnya.

Di Australia, gerak dakwah Ayub terimbas. Apalagi setelah salah seorang murid pengajiannya yang bernama Jack Roche ditangkap karena merencanakan pengeboman Kedutaan Israel di Canberra. Jack adalah imigran asal Inggris yang memeluk Islam karena dakwah Ayub. ’’Saya memang mengirimnya ke Afghanistan untuk memperdalam agama. Ternyata, dia justru bertemu Osama dan Hambali. Pulang-pulang sudah berubah,’’ kata pria kelahiran 1963 itu. ’’Kalau memang ingin mengebom, ngapain saya utus Jack? saya sendiri juga bisa,’’ ucapnya.

Aparat Australia mulai gelap mata. Setiap yang terdeteksi radikal langsung ditangkap. ’’Saya memang terbang ke Indonesia setelah itu, tapi bukan melarikan diri. Toh, tidak ada bukti apa pun yang bisa mengaitkan saya dengan aksi terorisme,’’ katanya.

Sampai di Jakarta akhir 2002, Ayub memutuskan untuk melepas jabatannya di JI. ’’Saya mencabut baiat (sumpah setia). Saya lepas semua jabatan dan fasilitas saya yang didapatkan di JI,’’ ujarnya. Fasilitas? ’’Oh iya, JI itu organisasi kaya. Kalau selevel saya bisa dapat rumah dinas dan mobil operasional. Infak jamaah besar, bisa miliaran,’’ ungkap Ayub.

Dia mencontohkan, ada dermawan di kawasan Kemang yang menginfakkan rumah mewah dan mobilnya untuk jamaah. ’’Pokoknya, sekali hati sudah diraih, soal harta itu total, nggak pakai hitungan,’’ ujarnya.

Walaupun dirinya tidak terlibat, Ayub tetap saja menjadi target operasi. ’’Saya dikepung hendak ditangkap di Bintaro waktu itu. Alhamdulillah bisa lolos,’’ ujarnya. Alumnus LIPIA itu hidup sembunyi-sembunyi dan berpindah-pindah hingga 2006. ’’Bagaimanapun, saya kenal semua yang terlibat pengeboman itu. Bahkan, pernikahan Hambali saya duiti,’’ ucapnya.

Setelah hampir seluruh jaringan tertangkap, Ayub bersedia ditemui aparat. ’’Saya tegaskan tidak setuju dengan mereka, Hambali dan kawan-kawan itu. Tapi, saya juga tidak mau bekerja untuk pemerintah,’’ kata Ayub. Sebagai tokoh dan organisatoris senior JI, Ayub tentu sangat menggiurkan berbagai lembaga intelijen untuk direkrut. ’’Semua saya tolak. Baik dari Indonesia, BIN, polisi, TNI, BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme), maupun dari Australia. Memang ada tawaran, tapi saya tidak mau,’’ tegasnya.

Meski begitu, dia mengakui bahwa hubungan dirinya dengan ’’para perayunya’’ tetap baik. ’’Kita nafsi-nafsi (sendiri-sendiri). Silakan kalian begitu, saya memilih keliling ke masjid-masjid saja,’’ katanya. Risikonya memang berat. Maklum, sebagai orang yang berketerampilan unik (baca bisa membuat bom), tentu tidak gampang mendapat pekerjaan mulai nol. ’’Jamaah sudah tidak melindungi saya, sedangkan saya juga menolak fasilitas apa pun. Bismillah, saya berjualan donat dan kue pastel keliling ke masjid-masjid,’’ ujarnya.

Istri dan anak-anak Ayub yang diboyong ke Indonesia membantu dengan menjahit dan ikut berjualan. Di sela waktunya, Ayub mendatangi kantong-kantong yang diketahuinya banyak kalangan yang pro dengan pengeboman. ’’Alhamdulillah, banyak yang bersedia berhenti. Saya tidak usah sebut namanya,’’ ungkapnya.

Berhenti dalam arti berhenti memusuhi aparat negara Indonesia. ’’Kalau berlatih, kami terus. Kalau misalnya negara ini diserang asing, Amerika, ya kami lawan sekuat tenaga. Tapi, sekarang ini kan damai. Salat bebas ditegakkan di mana saja,’’ tegasnya.

Meski sudah keluar dari JI, Ayub tetap menjaga hubungan baik dengan Abu Bakar Ba’asyir, pria yang mengutusnya ke Australia pada 1997. ’’Saya sempat menemui Ustad Abu di Rutan Bareskrim. Saya melihat beliau sangat kecewa. Bahkan badannya sampai bergetar ketika tahu saya sudah tidak sepaham,’’ ujarnya.

Di kalangan tertentu, Ayub memang sudah difatwa sesat. Bahkan, darahnya halal. ’’Silakan cek di internet, saya dihujat-hujat begitu rupa. Saya sabar saja karena sebenarnya mereka itu (yang menghujat) adik-adik saya,’’ katanya. Dia sebenarnya ingin bertemu Abdurahim Ba’asyir, putra Ustad Abu. ’’Yang mendidik Iim itu saya. Alhamdulillah, sekarang dia jadi ustad. Dulu, dia terkenal suka membongkar tas mujahidin yang baru pulang dari Afghanistan,’’ ungkapnya, lalu tertawa.

Ayahnya, Ba’asyir, tak mampu menasihati Iim. ’’Kalau sudah begitu, saya yang maju,’’ katanya. Ayub berharap ada lembaga netral yang bisa memfasilitasi dialog. ’’Terus terang, saya tidak mau BNPT atau Densus yang mengadakan. Saya bukan bagian dari mereka,’’ tegasnya. Dihubungi lewat telepon, Abdurahim Ba’asyir hanya tertawa mendengar Ayub ingin berdialog. ’’Saya memang sudah lama sekali tidak mendengar kabarnya,’’ ujar Iim.

Dia mengakui bahwa Ayub pernah mendidiknya. ’’Ya, beliau memang guru saya. Itu fakta,’’ sahutnya. Soal sikapnya sekarang yang ’’berubah’’, Iim tidak mau berkomentar. ’’Sampaikan salam saja dan silakan itu buku-bukunya yang dulu dibaca lagi,’’ ungkapnya.
http://www.radarlampung.co.id/read/r...uh-jalan-damai


SBY: Kelompok Teroris Ingin Indonesia Jadi Negara Islam
Senin, 17/05/2010 10:14 WIB
Luhur Hertanto - detikNews


Presiden SBY

Jakarta - Menjadikan Indonesia sebagai negara Islam rupanya merupakan tujuan rencana serangan kelompok terorisme. Padahal wacana untuk membentuk negara Islam sebenarnya telah tuntas dalam sejarah berdirinya NKRI. Demikian tanggapan Presiden SBY tentang terungkapnya rencana serangan kelompok terorisme. Hal ini disampaikannya di Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta, sebelum bertolak ke Singapora dan Malaysia, Senin (17/5/2010). "Ini terkuak dari pengakuan para tersangka. Mereka terus melakukan aksi terorisme untuk berdirinya negara Islam, sesuatu yang telah rampung dalam sejarah kita," tegas SBY.

Presiden menegaskan, meski Indonesia bukan negara Islam namun sangat menghormati ajaran Islam. Bahkan telah pula mengadopsi nilai-nilai Islam di dalam tata aturan dan praktik bernegara. "Tapi kalau kelompok itu ingin merubah dasar negara kita, tentu itu sesuatu yang tidak bisa diterima," sambung SBY.

Selain berkeingin menjadi Indonesia sebagai negara Islam, kelompok terorisme juga tegas menolak praktik demokrasi. Padahal negara demokrasi adalah hasil dari reformasi yang adalah keinginan seluruh
rakyat Indonesia, minus kelompok terorisme tentunya. Lebih lanjut Presiden mengingatkan seluruh warga masyarakat untuk bersama-sama mencegah munculnya kelompok terorisme. Sebab meski 10 tahun terakhir sudah banyak gembong terorisme ditangkap dan dihukum, tetapi rupanya aski perekrutan anggota baru tetap berlangsung. "Agar anak-anak dan saudara-saudara kita tidak terjebak dalam aksi terorisme," sambung SBY.
http://news.detik..com/read/2010/05/...i-negara-islam



Umat Islam, Korban Utama Kejahatan dan Terorisme Global
Selasa, 2013 Mei 28 22:21

Pembunuhan sadis terhadap seorang tentara Inggris di London kembali membangkitkan gelombang Islamphobia di negara-negara Arab termasuk Inggris. Selain itu, serial televisi di awal penayangannya menampilkan pribadi anti pahlawan yang beragama Islam dan tengah melakukan kejahatan. Kemudian tudingan pun diarahkan kepada umat Islam tanpa ada yang membuktikan bahwa pribadi tersebut mewakili umat Muslim saat melakukan kejahatan atau seluruh umat Islam membenarkan aksi seperti itu.

Serial ini ditayangkan pertama kali sejak insiden 11 September di New York dan kemudian aksi peledakan bom di London dan Madrid. Disusul kemudian dengan pengeboman di kota Boston, Amerika dan pembunuhan seorang serdadu Inggris di London. Akibat peristiwa tersebut dan disebabkan pelakunya beragama Islam, maka seluruh masyarakat Islam mulai mendapat akibatnya. Mereka didiskriminasi dan mendapat beragam kesulitan.

Agresi militer ke Afghanistan dan Irak serta pengeboman berulang kali di Pakistan, Yaman serta Somalia merupakan dampak dari Islamphobia Barat pasca peristiwa serangan teroris. Bahkan di negara Barat sendiri setiap aksi teroris pasti dilimpahkan kepada kelompok radikal yang mereka sebut muslim. Mereka kemudian dengan berbagai alasan mulai menerapkan pembatasan kepada umat muslim.

Di Amerika, sejumlah warga bahkan dilarang naik pesawat terbang gara-gara memiliki nama berbau Islam atau keturunan Timur Tengah. Bahkan ada sebuah kasus seorang penumpang gagal naik pesawat karena memakai T-Shirt bertulisan Arab. Di kondisi seperti ini, berbagai fenomena seperti aksi memata-matai kehidupan pribadi orang muslim, menyadap percakapan telepon mereka, inspeksi ke perpustakaan umum untuk mendapatkan informasi buku yang dipinjam, penutupan lembaga amal muslim dan bahkan pengawasan terhadap orang muslim saat bepergian ke luar negeri menjadi hal biasa dalam koridor Islamphobia.

Insiden terbunuhnya seorang serdadu Inggris di London Rabu (22/5) juga mengakibatkan ratusan ribu muslim di London dan kota-kota lain di negara ini mendapat acaman gelombang Islamphobia. Langkah pertama Islamphobia di Inggris tertuju pada para imam jamaah masjid di negara ini. Rencananya para imam jamaah ini akan diawasi dengan ketat dengan dalih mencegah penyebaran radikalisme kepada para pemuda.

Padahal di saat yang sama, pemerintah Inggris bersama sekutunya di Uni Eropa tengah aktif memberi bantuan kepada kubu paling radikal di Dunia Arab, yakni kelompok Salafi dan Wahabi untuk berperang dengan pemerintah Suriah. Sejumlah anggota kelompok radikal yang mendapat bantuan politik, finansial dan senjata dari negara Eropa dan Amerika tak segan-segan mengunyah jantung tentara Suriah yang mereka bunuh. Aksi sadis dan memalukan ini dilakukan di depan kamera dan direkam.

Kerjasama seperti ini antara pemerintah Barat dengan kelompok teroris bukan terbatas di Suriah. Bahkan terkait pelaku pembunuhan serdadu Inggris di London pun ditemukan adanya indikasi kerjasama intelijen sang pelaku dengan Dinas Intelijen Dalam Negeri Inggris, IM-5.

Bagaimanapun juga terdapat sekelompok orang yang menilai kekerasan yang diistilahkan radikalisme Islam adalah bikinan Dinas Intelijen Barat dan mereka ini meyakini pula bahwa kerjasama tersebut ditujukan untuk memburukkan nama Islam di dunia. Kelompok lain meyakini bahwa kekerasan Barat dalam mengagresi negara Islam dan dukungan terhadap Rezim Zionis Israel pada akhirnya menyuburkan gerakan radikalisme di Dunia Islam.

Selain itu, kebijakan luar negeri Barat dinilai sebagai faktor maraknya terorisme di dunia. Meski demikian terlepas dari dua kemungkinan ini yang paling dekat dengan realita, sebuah kenyataan yang tak dapat dipungkiri bahwa umat Islam bila di banding dengan umat lainnya paling banyak yang harus membayar aksi kekerasan serta terorisme di dunia. Mereka pun menjadi korban terbesar terorisme.
http://indonesian.irib.ir/fokus/-/as...ent/id/5425674



'Terorisme Tak Ada Kaitannya dengan Islam!'
Kamis, 07 Maret 2013, 19:53 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Silaturrahim Organisasi Masyarakat/Lembaga Islam (SOLI) menegaskan terorisme tidak ada kaitan dan tidak benar dikaitkan dengan Islam. Soalnya, karena tidak memiliki dasar ajaran dan akar di dalamnya. "Penggunaan dalih agama untuk melakukan terorisme adalah pengingkaran dan perlawanan terhadap Islam sebagai agama perdamaian dan kerahmatan bagi seluruh umat manusia dan alam semesta," kata Marwah Daud Ibrahim kepada pers di Jakarta, Kamis (7/3).

Ketua Presidium Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) itu membacakan pernyataan bersama para tokoh Muslim dan pimpinan ormas/lembaga Islam tingkat pusat setelah mengadakan pertemuan di Pusat Dakwah Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat. Karena itu, kata Marwan, SOLI menentang secara tegas segala bentuk tindakan terorisme bermotifkan ideologi keagamaan, politik dan kejahatan yang dilakukan individu, kelompok atau negara. "Terorisme adalah kejahatan terhadap umat manusia dan kemanusiaan. Islam adalah agama yang menjunjung tinggi dan melindungi kehidupan manusia," katanya.

Marwah mengatakan umat Islam memberikan apresiasi atas keberhasilan pemerintah dan aparat keamanan dalam pemberantasan tindak pidana terorisme. Berkat kerja keras aparat keamanan dan dukungan semua pihak, Indonesia mendapat pengakuan internasional dalam pemberantasan terorisme. "Walaupun demikian, akhir-akhir ini terdapat indikasi pemberantasan terorisme telah menyimpang dari semangat menciptakan keamanan negara, mengesampingkan dimensi kemanusiaan dan menunjukkan adanya unsur tindak kekerasan oleh aparat," tuturnya.

Karena itu, SOLI mendesak pemerintah mengevaluasi kinerja Detasemen Khusus 88 Antiteror dan menggantikan dengan lembaga lain yang lebih kredibel. "Kami mendesak pemerintah mengevaluasi, mengaudit kinerja -termasuk keuangan-lembaga tersebut dan menggantikannya dengan lembaga baru yang kredibel, profesional dan berintegritas dengan melibatkan unsur-unsur masyarakat," katanya.

Pernyataan bersama itu ditandatangani sedikitnya 22 tokoh Muslim dan pimpinan ormas/lembaga Islam diantaranya Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin, Wakil Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat Amirsyah Tambunan, Ketua Presidium ICMI Marwah Daud Ibrahim dan lain-lain. Sebelumnya, di situs Youtube sempat beredar video kekerasan yang dilakukan beberapa orang berseragam aparat kepolisian yang diduga anggota Densus 88 terhadap seseorang yang disebut-sebut terduga teroris. Video kekerasan itu memicu pro-kontra di masyarakat termasuk di kalangan Muslim dan ormas/lembaga Islam.
http://www.republika.co.id/berita/na...a-dengan-islam

--------------------------------

Di Indonesia saat ini, ancaman terbesar itu sesungguhnya datang dari koruptor. Ancamannya terhadap Negara, menyebabkan sendi-sendi kehidupan di negara ini terancam, dan bahkan bisa membuat NKRI akhirnya tenggelam. Dalam bukunya "Muqaddimah" bapak pelopor ilmu sosiologi dunia, Ibnu Chaldun, menganalisa bahwa dari ratusan Kerajaan dan Kesultanan di masa lampau yang dipelajarinya, kebanyakan negara-negara itu runtuh dan lenyap akibat kebejatan moral daripada pemimpin dan rakyatnya, bukan akibat peperangan dengan negeri asing atau oleh sebab pemberontakan di dalam negeri.


Huntington’s Clash Revisited
By DAVID BROOKS
Published: March 3, 2011


David Brooks

Samuel Huntington was one of America’s greatest political scientists. In 1993, he published a sensational essay in Foreign Affairs called “The Clash of Civilizations?” The essay, which became a book, argued that the post-cold war would be marked by civilizational conflict.

Human beings, Huntington wrote, are divided along cultural lines — Western, Islamic, Hindu and so on. There is no universal civilization. Instead, there are these cultural blocks, each within its own distinct set of values.

The Islamic civilization, he wrote, is the most troublesome. People in the Arab world do not share the general suppositions of the Western world. Their primary attachment is to their religion, not to their nation-state. Their culture is inhospitable to certain liberal ideals, like pluralism, individualism and democracy.

Huntington correctly foresaw that the Arab strongman regimes were fragile and were threatened by the masses of unemployed young men. He thought these regimes could fall, but he did not believe that the nations would modernize in a Western direction. Amid the tumult of regime change, the rebels would selectively borrow tools from the West, but their borrowing would be refracted through their own beliefs. They would follow their own trajectory and not become more Western.

The Muslim world has bloody borders, he continued. There are wars and tensions where the Muslim world comes into conflict with other civilizations. Even if decrepit regimes fell, he suggested, there would still be a fundamental clash of civilizations between Islam and the West. The Western nations would do well to keep their distance from Muslim affairs. The more the two civilizations intermingle, the worse the tensions will be.

Huntington’s thesis set off a furious debate. But with the historic changes sweeping through the Arab world, it’s illuminating to go back and read his argument today.

In retrospect, I’d say that Huntington committed the Fundamental Attribution Error. That is, he ascribed to traits qualities that are actually determined by context.

He argued that people in Arab lands are intrinsically not nationalistic. He argued that they do not hunger for pluralism and democracy in the way these things are understood in the West. But it now appears as though they were simply living in circumstances that did not allow that patriotism or those spiritual hungers to come to the surface.

It now appears that people in these nations, like people in all nations, have multiple authentic selves. In some circumstances, one set of identities manifests itself, but when those circumstances change, other equally authentic identities and desires get activated.

For most of the past few decades, people in Arab nations were living under regimes that rule by fear. In these circumstances, most people shared the conspiracy mongering and the political passivity that these regimes encouraged. But when the fear lessened, and the opportunity for change arose, different aspirations were energized. Over the past weeks, we’ve seen Arab people ferociously attached to their national identities. We’ve seen them willing to risk their lives for pluralism, openness and democracy.

I’d say Huntington was also wrong in the way he defined culture.

In some ways, each of us is like every person on earth; in some ways, each of us is like the members of our culture and group; and, in some ways, each of us is unique. Huntington minimized the power of universal political values and exaggerated the influence of distinct cultural values. It’s easy to see why he did this. He was arguing against global elites who sometimes refuse to acknowledge the power of culture at all.

But it seems clear that many people in Arab nations do share a universal hunger for liberty. They feel the presence of universal human rights and feel insulted when they are not accorded them.

Culture is important, but underneath cultural differences there are these universal aspirations for dignity, for political systems that listen to, respond to and respect the will of the people.

Finally, I’d say Huntington misunderstood the nature of historical change. In his book, he describes transformations that move along linear, projectable trajectories. But that’s not how things work in times of tumult. Instead, one person moves a step. Then the next person moves a step. Pretty soon, millions are caught up in a contagion, activating passions they had but dimly perceived just weeks before. They get swept up in momentums that have no central authority and that, nonetheless, exercise a sweeping influence on those caught up in their tides.

I write all this not to denigrate the great Huntington. He may still be proved right. The Arab world may modernize on its own separate path. But his mistakes illuminate useful truths: that all people share certain aspirations and that history is wide open. The tumult of events can transform the traits and qualities that seemed, even to great experts, etched in stone.
http://www.nytimes.com/2011/03/04/op...ooks.html?_r=0

Skema Kejatuhan Sebuah Peradaban akibat Rebutan Sumber-sumber Ekonomi

source: Social Conflict Trips Civilization Collapse

ada yang tobat juga teroris




pesen tempat dulu ahhh ....................

ane di sini
mo gampang perang dengan kebejatan moral??
paling gampang dari bangku sekolah, mo ada UTS/UAS jangan sekalipun hati nurani membolehkan nyontek..
dimulai dari hal kecil dululah.
Asal mula korupsi kan dari nyontek aka budaya instant, gak usah belajar ntar liat temen gampang
nah coba doski nasihatin dah tuh gurunya
masa ngaku ustad tp cuma paham sampe tenggorokan aja,trus nyebarin paham kebencian pula
sekalian main2 ke kantornya amarah,voai*lam dll,sama sadarin tuh orang2 yg suka majang foto hoax buat ngajak jihad di fb,kaskus dll

(paling dianggap antek australi)
Berarti Abu Bakar Baasyir itu teroris kesimpulannya
Quote:Original Posted By seanman
mo gampang perang dengan kebejatan moral??
paling gampang dari bangku sekolah, mo ada UTS/UAS jangan sekalipun hati nurani membolehkan nyontek..
dimulai dari hal kecil dululah.
Asal mula korupsi kan dari nyontek aka budaya instant, gak usah belajar ntar liat temen gampang

faktor lingkungan juga berpengaruh gan. kan kalo mo jadi orang bener itu susah kalo berada di dalam lingkungan yg ga bener
islam is terorist, itu fakta..
semua berawal dari koruptor, efeknya banyak pengangguran, namanya pengangguran diiming iming fasilitas dan ideologi tertentu, pasti tertarik.
islam itu rahmatan lillalamin.
banyak pemberitaan media yg menyudutkan islam menjadikan islam seolah-olah identik dng teroris. itu fakta
abang ini sepertinya tahu betul masalahnya :

Quote:Original Posted By cukireznor
islam itu rahmatan lillalamin.
banyak pemberitaan media yg menyudutkan islam menjadikan islam seolah-olah identik dng teroris. itu fakta


ada beberapa orang Islam yang bangga disebut teroris, itu juga fakta
Kebanyakan calon2 teroris kan emang gitu. Pengetahuan agamanya masih minim, tapi ingin mengaktualisasikan diri sebagai orang suci. Akhirnya gampang didoktrin dgn rangkaian dalil2 permusuhan & kebencian.

Pertama2 diajari utk mengkafirkan orang lain, lalu saudara2nya sendiri, menjauhi mereka menuju 'kesempurnaan' iman. Lalu di-brainwash utk membenci orang2 yg dikafirkan. Lalu diajak memerangi mereka yg dianggap kafir, dari sesama muslim yg beda aliran, sekte lain, sampai agama lain. Pada tahap ini, pikiran anak labil itu sdh kebolak-balik, mencuri, menipu, & membunuh pun dianggap kebenaran utk kepentingan 'jihad'.
Pemerintah+Ulama Saudi dikafirkan..
Riyadh dibombardir.
Mekkah pernah ditemukan bom nyala.

Dengan fakta-fakta itu gw pun masih heran, ada aja orang Indonesia yang bilang kalo aksi radikal ini markasnya di Saudi.

Osama bin Laden emang pernah tinggal di Saudi, tapi dia & orangtuanya asli Yaman Selatan.
Pindah Saudi pas Osama masih kecil/remaja.

Salman Al-Audah CS emang dari Saudi, tapi kini pun dia mendekam di Penjara kelas teroris di Saudi atas rekomendasi Pimpinan Lajnah era 90-an, Syaikh Abdul Aziz bin Bazz.
Teroris yang suka bunuh diri itu ya ?
Di dalam islam bukannya dilarang bunuh diri?
MAsih juga mengatas namakan Islam

Kalo gua liat sih teroris itu cuman orang yang malas kerja, ga mampu buat hidup enak di dunia. Jadi ketika dikibulin buat bunuh diri, mau2 aja..

Kalau di Islam kan kita diwajibkan berusaha..
Trid ini berbau teori kontrasepsi...
wah ini tentang kaum takfiri muktazilah ya
Quote:Original Posted By leonosphire
Teroris yang suka bunuh diri itu ya ?
Di dalam islam bukannya dilarang bunuh diri?
MAsih juga mengatas namakan Islam

Kalo gua liat sih teroris itu cuman orang yang malas kerja, ga mampu buat hidup enak di dunia. Jadi ketika dikibulin buat bunuh diri, mau2 aja..

Kalau di Islam kan kita diwajibkan berusaha..


bunuh diri itu haram.. apalagi buat ngebunuh orang lain juga.. dasar teroris2 cacad owtak
sadarlah wahai otak radikal ikutilah cara damai yg dilakukan teman kalian diatas
Quote:Original Posted By lemonbars


ada beberapa orang Islam yang bangga disebut teroris, itu juga fakta


ada juga orang yg terlalu goblok untuk bisa ngerti sarkasme, itu juga fakta,