KASKUS

Konflik Terbesar di benua afrika Kongo Civil War

Agan yuk membahas konflik terbesar di Benua Afrika, konflik kongo.

ane mohon masukan dari agan untuk sharing knowladge tentang konflik ini.



Inet ane mati maklum pake gretongan di sevel

Mari kita mulai, ane copas dari blog sebelah

Afrika. Inilah nama benua yang terletak di antara Samudera Hindia &
Samudera Atlantik. Benua ini terkenal karena memiliki sumber daya alam yang melimpah, wilayah liar yang masih tersebar luas, & orang-orang kulit hitam yang perkasa. Di sisi lain, Afrika juga dikenal sebagai salah satu wilayah yang penuh konflik. Anggapan itu tidak sepenuhnya salah karena faktanya, Benua Afrika memang masih sering diliputi konflik & perang saudara hingga sekarang. Dari sekian banyak konflik di sana, salah satu yang terbesar & paling berdarah adalah Perang Kongo yang terjadi di jantung Benua Afrika.

Perang Kongo (Congo War; Guerre du Congo) adalah rangkaian konflik yang terjadi di Republik Demokratik Kongo (RDK, dulunya Zaire). Perang ini sendiri bisa dibagi ke dalam 2 periode : periode pertama (1996 - 1997) & periode kedua (1998 - 2003). Total, ada sekitar 8 negara Afrika & puluhan kelompok milisi yang terlibat dalam perang ini. Karena begitu banyaknya pihak yang terlibat dalam perang ini & besarnya jumlah kerugian yang timbul, perang ini - lebih spesifik, perang yang terjadi dalam periode kedua - kerap disebut juga sebagai "Perang Besar Afrika" (African Great War) atau "Perang Dunianya Afrika" (African's World War).


LATAR BELAKANG

1. Perang Sipil Rwanda (1990 - 1993)

Bicara soal perang di Kongo, mau tak mau kita harus melongok sedikit
soal perang sipil Rwanda

Genosida di Rwanda
karena perang di Kongo bisa dibilang merupakan imbas langsung dari perang sipil di Rwanda. Perang sipil di Rwanda merupakan perang yang terjadi di Rwanda antara etnis mayoritas Hutu dengan etnis minoritas Tutsi pada tahun 1990-1993. Akar dari perang tersebut bermula setelah melalui referendum yang diadakan Belgia untuk memerdekakan Rwanda, mayoritas rakyat Rwanda menginginkan perubahan sistem politik yang selama masa penjajahan didominasi oleh etnis Tutsi. Rwanda akhirnya merdeka pada tahun 1962 & peristiwa kemerdekaan Rwanda tersebut selanjutnya diikuti oleh eksodus besar-besaran etnis Tutsi dari Rwanda ke negara-negara sekitarnya.
Tahun 1990, sebuah kelompok bersenjata bernama Rwandan Patriotic Front (RPF; Front Patriotik Rwanda) yang terdiri dari komunitas pengungsi Tutsi di Uganda melakukan serangan ke Rwanda & meletuslah Perang Sipil Rwanda antara kelompok milisi RPF (Tutsi) melawan tentara Rwanda & milisi Interahamwe (Hutu). Selama perang sipil tersebut, berlangsung juga aksi-aksi pembantaian yang dilakukan oleh milisi Hutu & militer Rwanda terhadap komunitas Tutsi di Rwanda (dikenal sebagai "genosida Rwanda"). Mobutu Sese Seko sendiri selaku pemimpin dari Zaire (sekarang bernama RDK) memberikan dukungannya pada pemerintah Rwanda & etnis Hutu.
Namun dalam perkembangannya, pasukan RPF berhasil mendesak pasukan pemerintah Rwanda sehingga perang akhirnya berakhir pada tahun 1993 dengan kemenangan pasukan RPF.

Usai kemenangan pasukan RPF (Tutsi), jutaan orang Hutu yang masih ada di Rwanda pun berbondong-bondong mengungsi ke wilayah timur Zaire karena takut etnis Tutsi akan melakukan genosida balasan terhadap mereka sehingga wilayah timur Zaire pun selanjutnya menjadi semacam kompleks pengungsian besar. Di antara mereka, terdapat pula sejumlah anggota milisi Interahamwe (Hutu) yang memakai wilayah kompleks pengungsian di Zaire timur sebagai markas untuk melacarkan serangan balasan ke Rwanda. Merasa bahwa menggulingkan rezim Mobutu adalah satu-satunya cara untuk mengakhiri ancaman milisi Hutu terhadap Rwanda, pemerintah Rwanda pun menyiapkan pasukannya kalau-kalau pecah pertempuran melawan rezim Mobutu di kawasan Afrika.

2. Perang Sipil Angola



Tak lama sesudah Angola merdeka dari tangan Portugal pada tahun 1975, Kelompok-kelompok gerilyawan yang sebelumnya bersatu melawan Portugal (MPLA, FNLA, & UNITA) pada perkembangannya berkonflik satu sama lain Untuk memperebutkan kekuasaan di Angola.
Konflik sempat mereda setelah ketiganya sepakat membentuk pemerintahan transisi usai perundingan yang diadakan di Portugal. Periode damai tersebut sayangnya tak berlangsung lama setelah 2 bulan kemudian, konflik antara ketiganya kembali meletus menjadi apa yang dikenal sebagai "perang sipil Angola"

Konflik yang terjadi di Angola kemungkinan tidak akan berkepanjangan jika negara-negara adidaya tidak ikut campur. Jika Uni Soviet & Kuba mendukung kelompok MPLA yang memegang tampuk kepemimpinan Angola, AS beserta sekutunya di Afrika seperti Zaire & Afrika selatan mendukung kelompok UNITA & FNLA. Sikap Zaire dalam perang sipil Angola pada gilirannya berdampak pada sikap Angola ketika Perang Kongo meletus. Pemerintah Angola berusaha memanfaatkan momen tersebut untuk Menumbangkan rezim berkuasa Mobutu yang mendukung milisi anti-komunis di Angola, sementara milisi anti-komunis UNITA sempat mengirimkan bntuan
pasukan ke Zaire untuk membantu pasukan pro-Mobutu.

3. Terbentuknya Aliansi Pemberontak di Zaire


Di tubuh Zaire sendiri, sejak dekade 90-an muncul gelombang ketidak puasan terhadap rezim Mobutu menyusul ambruknya ekonomi Zaire akibat maraknya kegiatan korupsi di tubuh pemerintahan & berhentinya dukungan dari AS terhadap rezim Mobutu usai tumbangnya Uni Soviet (salah satu alasan utama AS mendukung rezim Mobutu adalah menghentikan penyebaran paham komunisme di Afrika tengah). Kondisi Zaire semakin lemah menyusul semakin rapuhnya kondisi presiden Mobutu akibat penyakit kanker yang dideritanya.

Di tempat lain, Laurent-Desire Kabila - penganut faham komunisme & pengikut Lubumba yang dulu dikudeta oleh Mobutu - yang selama ini bersembunyi di pelosok Tenggara Zaire & memimpin kelompok pemberontak
bernama Popular Revolutionary Party (PRP; Partai Revolusioner Populer) mulai menjalin kontak dengan kelompok-kelompok pemberontak lain di berbagai wilayah Zaire & kelompok milisi Tutsi. Kelompok-kelompok tersebut kemudian melebur menjadi kelompok pemberontak baru bernama Alliance des Forces Democratiques pour la Liberation du Congo-Zaire (AFDL-CZ; Aliansi Pasukan Demokratik untuk Pembebasan Kongo-Zaire) atau biasa disingkat AFDL. Pembentukan AFDL & lemahnya kondisi internal Zaire menyebabkan perang di Zaire hanya tinggal menunggu waktu...

PERANG KONGO I (1996-1997)

Dimulainya Peperangan

Tanggal 4 Oktober 1996, kelompok pemberontak dari etnis Banyamulenge -
etnis lokal yang masih memiliki hubungan dekat dengan etnis Tutsi - melakukan serangan ke desa Lamera, Zaire timur. Pemerintah pusat Zaire yang merasa terkejut dengan serangan tersebut kemudian menyatakan bahwa mereka akan mendeportasi etnis Banyamulenge keluar dari wilayah Zaire secara besar-besaran. Lebih lanjut, pemerintah Zaire menambahkan bahwa etnis Banyamulenge yang tidak meninggalkan Zaire dalam waktu 2 minggu akan dieksekusi di tempat. Keputusan pemerintah tersebut ternyata menjadi blunder karena semakin memperkeruh keadaan & meningkatkan tensi pemberontakan.

Awal Oktober 1996, kelompok gabungan pemberontak anti-Mobutu & tentara
nasional Rwanda melakukan serangan ke wilayah Zaire timur melalui Burundi. Hanya dalam waktu relatif singkat, kota-kota penting di kawasan itu seperti Uvira & Bukavu berhasil mereka kuasai. Pasukan gabungan tersebut kemudian melaju lebih jauh & menyerang kota penting lainnya, Goma, dari arah selatan & timur sekaligus.
Pasukan Zaire yang ditempatkan di kawasan tersebut akhirnya dipaksa Mundur pada awal November. Pemerintah Zaire lantas meresponnya dengan mengirim pasukan yang dilengkapi dengan senjata berat ke wilayah Zaire timur, namun nyatanya keberadaan mereka di sana malah memperburuk keadaan. Sebabnya adalah karena mereka yang dikirim ke sana tidak bisa membedakan penduduk lokal dengan anggota pemberontak, mereka
kerap melakukan pendobrakan paksa & perampasan di rumah-rumah penduduk setempat.

Melihat kondisi Zaire timur yang semakin memburuk & bisa mengancam nyawa pengungsi-pengungsi Hutu di sana, PBB menyusun rencana untuk segera mengirim pasukan multinasional. Mendengar berita tersebut, pasukan AFDL lantas melakukan serangan kilat ke kompleks pengungsi Hutu di Kimbumba dengan tujuan mengarahkan para pengungsi untuk kembali ke Rwanda tanpa melukai mereka & mencegah campur tangan asing. Pasukan Zaire & milisi Hutu yang menjaga kompleks pengungsian tersebut berusaha melawan sekuat tenaga, namun mereka gagal mencegah para pengungsi melarikan diri ke arah Rwanda & sekitarnya. Hilangnya kompleks Pengungsian tersebut karena para pengungsinya pergi melarikan diri pada gilirannya menyebabkan PBB mengurungkan niatnya untuk mengirim pasukan multinasional. Di lain pihak, banyak dari anggota milisi Hutu yang melarikan diri ke wilayah
Zaire barat.

Hilangnya Wilayah Zaire Satu Demi Satu

Setelah berhasil mengembalikan para pengungsi Hutu ke wilayah Rwanda,
pasukan anti-Mobutu & pemerintah Rwanda kini memfokuskan diri pada tujuan utama mereka : menggulingkan rezim Mobutu. Untuk mencapai tujuan tersebut, mereka menyusun rencana untuk menguasai seluruh wilayah timur
Zaire. Ada indikasi bahwa rencana menguasai Zaire timur tersebut berlatar belakang ekonomi karena wilayah timur Zaire memang banyak mengandung mineral-mineral berharga mahal seperti kobalt, emas, & seng.

Dalam perang merebut wilayah timur Zaire, negara-negara seperti Angola, Burundi, & Uganda mulai melibatkan diri. Angola yang memiliki pemerintahan berhaluan komunis ingin menumbangkan rezim Mobutu yang menyokong kelompok pemberontak anti-komunis di negaranya Burundi yang letaknya bersebelahan dengan Rwanda memang memiliki pemerintahan yang didominasi oleh etnis Tutsi.
Dan Uganda? Mereka melakukan itu sebagai semacam bentuk balas budi di mana ketika terjadi perang sipil di Uganda pada dekade 1980-an, banyak dari anggota perantauan Tutsi di Uganda yang membantu pasukan pimpinan Yoweri Museveni untuk menggulingkan rezim berkuasa di Uganda saat itu. Sebagai konsekuensinya, Zaire pun kini harus bertempur melawan 4 negara
sekaligus : Angola, Burundi, Rwanda, & Uganda.

Kembali ke medan perang. Selama pertempuran di wilayah Zaire timur, pasukan Zaire terbukti tidak bertaji karena rendahnya rasa disiplin & keahlian mereka dalam berperang. Sebagai contoh, pasukan Zaire begitu mudah kehilangan persenjataan berat semisal artileri & tank sejak awal pertempuran. Mereka juga mudah panik & seringkali langsung mundur tanpa perlawanan berarti ketika pasukan lawan mendekat. Selain itu, ketika bergerak mundur pasukan Zaire sering melakukan aksi-aksi perampasan kepada penduduk lokal Zaire di rute yang mereka lewati. Akibatnya sudah jelas, penduduk lokal Zaire semakin kehilangan simpati terhadap tentara negara mereka sendiri. Sadar bahwa tentara nasionalnya tidak bisa diandalkan, pemerintah Zaire terpaksa memakai milisi Hutu dari Rwanda, milisi anti-komunis Angola, & tentara-tentara bayaran untuk membantu menahan laju pasukan gabungan anti-Mobutu.

Habisnya kesabaran penduduk lokal terhadap tindakan-tindakan tentara Zaire akhirnya berbuntut pada pertempuran di kota penting Kisangani pada bulan Maret 1997. Saat itu, penduduk lokal memandu kelompok pemberontak ke lokasi-lokasi strategis di sekitar kantong pertahanan milik pasukan Zaire & milisi Hutu. Pasukan gabungan anti-Mobutu tersebut kemudian mengepung kantong pertahanan mtersebut dari 3 arah sekaligus. Hanya dalam waktu 2 hari, kota Kisangani akhirnya berhasil dikuasai oleh pasukan anti-Mobutu. Pasukan Zaire sendiri sempat mengirimkan pesawat tempur untuk menggempur pasukan anti-Mobutu. Namun usai pertempuran di Kisangani, pesawat tempur milik Zaire tidak pernah terlihat digunakan lagi.

Menuju Kinshasa

Jatuhnya Kisangani ke tangan pasukan anti-Mobutu sekaligus meruntuhkan reputasi Mobutu karena pertempuran di Kisangani menunjukkan bagaimana opini masyarakat Zaire terhadap rezim Mobutu. Perlahan tapi pasti, pasukan gabungan anti-Mobutu pun mulai bergerak ke arah ibukota Zaire, Kinshasa, & merebut kota-kota di rute yang mereka lewati. Namun, pergerakan pasukan gabungan anti-Mobutu tersebut sempat tertahan ketika mereka mendapatkan perlawanan sengit dari pasukan gabungan Zaire & milisi anti-komunis Angola di kota Kenge yang hanya berjarak 120 mil dari Kinshasa. Selama perang ini, pasukan anti-Mobutu sempat dipaksa mundur kembali ke Zaire timur sebelum akhirnya berhasil memukul balik pasukan pro-Mobutu. Korban jiwa yang timbul akibat pertempuran di Kengen mencapai 300 orang lebih & menjadikan pertempuran tersebut sebagai salah satu peristiwa pertempuran paling berdarah selama Perang Kongo Pertama.
Pasukan anti-Mobutu akhirnya tiba di tepi Kinshasa. Pembicaraan damai sempat dilakukan untuk mencegah konflik meletus, namun gagal setelah perwakilan yang dikirim oleh kelompok anti-Mobutu ditembak oleh seorang pendukung Mobutu. Pasukan anti-Mobutu akhirnya membanjiri kota Kinshasa, namun tidak timbul pertumpahan darah karena pasukan Zaire sudah diinstruksikan sebelumnya untuk bekerja sama dengan pasukan anti-Mobutu bila situasi sudah tidak mendukung. Perang Kongo Pertama pun secara resmi berakhir pada bulan Mei 1997 dengan kemenangan pasukan anti-Mobutu. Mobutu sendiri berhasil melarikan diri tepat sebelum pasukan gabungan yang menentangnya menduduki kota Kinshasa. Ia tidak pernah Kembali lagi ke Zaire hingga akhirnya meninggal pada tanggal 7 September 1997 di kota Rabat, Maroko.



RINGKASAN PERANG FASE I

1. Waktu & Lokasi Pertempuran
- Waktu : 1996 - 1997
- Lokasi : Zaire (sekarang Republik Demokratik Kongo)

2. Pihak yang Bertempur
(Grup) - UNITA, milisi Hutu Rwanda
(Negara) - Zaire
/vs/
(Grup) - AFDL
(Negara) - Angola, Burundi, Rwanda, Uganda

3. Hasil Akhir
- Kemenangan AFDL & sekutu-sekutunya
- Laurent-Desire Kabila menjadi presiden Zaire yang baru
- Nama "Zaire" diubah menjadi "Republik Demokratik Kongo"

4. Korban Jiwa
Tidak diketahui.
*PERIODE DAMAI SEMENTARA (1997-1998)*

Tidak lama setelah tumbangnya rezim Mobutu, Laurent-Desire Kabila - pemimpin kelompok AFDL, kelompok pemberontak utama yang menggulingkan rezim Mobutu - naik menjadi presiden Zaire. Berbagai perubahan pun ia lakukan, salah satunya adalah mengganti nama Zaire menjadi Republik Demokratik Kongo (RDK). Di lain pihak, Rwanda & Uganda yang membantu pasukan AFDL menumbangkan rezim Mobutu tetap menempatkan pasukannya di wilayah RDK.

Seiring berjalannya waktu, relasi antara Kabila dengan Rwanda & Uganda mulai meregang, setelah Kabila melihat bahwa Rwanda & Uganda mengeksploitasi mineral yang ada di wilayah timur RDK untuk kepentingan mereka sendiri. Dari kubu RDK sendiri, rakyat RDK melihat Kabila tidak lebih sebagai boneka asing karena ia menjadi pemimpin RDK berkat bantuan negara-negara asing dalam menumbangkan Mobutu. Maka Kabila pun melakukan sejumlah langkah berani seperti mengganti Sejumlah staf kepercayaannya yang berasal dari Rwanda dengan staf dari etnis Kongo & menyuruh staf-staf dari Rwanda tersebut untuk kembali ke negara asal mereka.

Langkah yang dilakukan Kabila tidak sampai di situ. Lebih lanjut, ia memerintahkan pasukan Rwanda & Uganda untuk segera angkat kaki dari negaranya. Perintah Kabila tersebut mengejutkan Rwanda & Uganda yang melihat Kabila mulai berani berseberangan dengan mereka. Maka, tak lama
kemudian pihak Rwanda & Uganda mulai berusaha merongrong rezim Kabila dengan cara mengompori etnis Banyamulenge - etnis di RDK timur yang memang memiliki kedekatan dengan etnis Tutsi - untuk melakukan pemberontakan. Kebetulan etnis Banyamulenge sejak lama memang memiliki hubungan yang kurang baik dengan pemerintah pusat RDK beserta etnis-etnis lain di RDK timur.

"Negara Republik Demokratik Kongo secara singkat memang bisa dipanggil dengan sebutan Kongo, namun dalam artikel ini saya akan memakai nama Republik Demokratik Kongo (RDK) karena di kawasan Afrika tengah, ada 2 negara yang memakai nama Kongo : Republik Kongo yang beribukota di
Brazzavile & Republik Demokratik Kongo (RDK) yang beribukota di Kinshasa."



PERANG KONGO II (1998-2003)

*Timbulnya Pemberontakan*

Tanggal 2 Agustus 1998, komunitas Banyamulenge membentuk kelompok pemberontak anti-Kabila yang bernama Rassemblement Congolais pour la Democratie (RCD; Pekumpulan untuk Demokrasi Kongo) & melakukan pemberontakan di kota Goma, RDK timur. Dalam aksi pemberontakan tersebut, pemerintah Rwanda & Uganda juga mengirimkan pasukannya untuk membantu pasukan RCD. Pasukan gabungan baru yang anti-Kabila tersebut dalam waktu relatif singkat berhasil merebut kota-kota penting di RDK
timur seperti Bukavu & Uvira.

Kabila yang terkejut akan aksi pemberontakan tersebut lalu membentuk kelompok milisi baru bernama Mai-Mai & meminta bantuan milisi-milisi etnis Hutu yang masih bermukim di RDK untuk membantunya. Lebih lanjut, melalui stasiun radio di Bunia, RDK timur, Kabila menyuruh penduduk
setempat mempersenjatai diri mereka dengan semua benda tajam yang mereka miliki untuk membunuh etnis Tutsi Rwanda. Paul Kagame selaku pemimpin Rwanda lantas meresponnya dengan menyatakan bahwa Kabila berencana melakukan genosida terhadap etnis Tutsi sambil menyatakan bahwa wilayah
timur RDK secara historis merupakan bagian dari wilayah Rwanda.

Alur perang yang terjadi kembali meniru alur Perang Kongo Pertama. Pasukan gabungan anti-pemerintah RDK bergerak perlahan tapi pasti ke arah Kinshasa, sementara pasukan RDK berusaha menghentikan pergerakan mereka dengan susah payah. Namun bedanya, jika di Perang Kongo Pertama
penduduk lokal membantu pasukan anti-pemerintah, kali ini mereka bahu membahu untuk menahan laju pasukan anti-pemerintah. Dalam periode yang kurang lebih bersamaan, Uganda juga membentuk kelompok milisi baru bernama Mouvement pour la Liberation du Congo (MLC; Gerakan Pembebasan
Kongo).


*Dimulainya "Perang Dunia Versi Afrika"*

Situasi perang yang semakin runyam membuat Kabila pergi keluar RDK untuk meminta Bantuan negara-negara asing. Diplomasinya membuahkan hasil di mana 4 negara Afrika setuju untuk mengirimkan pasukan bantuan ke RDK : Angola, Chad, Namibia, & Zimbabwe. Selain keempat negara tersebut, Libya juga membantu menyediakan pesawat untuk mengangkut pasukan dari negara Afrika lain ke RDK. Sudan juga menyatakan dukungannya kepada RDK, namun dukungan yang mereka berikan berupa bantuan kepada kelompok milisi anti-pemerintah di Uganda. Di luar Afrika, negara-negara seperti AS & Jepang juga memberikan dukungan kepada Kabila untuk mempertahankan pemerintahannya, namun enggan mengirimkan bantuan pasukan ke sana.

Datangnya pasukan multinasional Afrika ke RDK pun memulai babak baru dimulainya "perang dunia versi Afrika". Pasukan gabungan RDK, Angola, Chad, Namibia, & Zimbabwe bertempur melawan pasukan gabungan Rwanda, Uganda, & Burundi. Alur perang pun mulai berubah di mana pasukan anti-Kabila yang semula bisa bergerak perlahan tapi pasti ke arah Kinshasa dipaksa untuk mundur kembali ke wilayah timur RDK. Meskipun berhasil mencegah pasukan anti-Kabila menguasai Kinshasa, pasukan gabungan pro-Kabila sendiri gagal mengenyahkan pasukan anti-Kabila yang menguasai wilayah timur RDK.

Masuknya negara-negara Afrika lain ke medan perang RDK erat kaitannya dengan kepentingan masing-masing negara di RDK. Namibia & Zimbabwe memiliki motivasi yang kurang lebih serupa: mengamankan lahan kaya mineral & logam mulia di wilayah RDK. Chad menerjunkan pasukan atas
tekanan Perancis - mantan penjajah Chad - karena RDK adalah salah satu negara berbahasa Perancis terbesar di dunia, namun Chad juga menjadi negara pertama yang mundur dari medan perang karena aksi-aksi kejahatan kemanusiaan & perampasan yang dilakukan oleh tentaranya sehingga memicu kecaman internasional.

Angola sendiri sejak Perang Kongo I memiliki kepentingan untuk memberangus milisi anti-pemerintah UNITA yang sejak permulaan perang sipil memakai wilayah RDK sebagai markasnya. Saat
Mobutu masih menjadi pemimpin RDK alias Zaire, Mobutu memang sengaja memberi izin bagi UNITA untuk memakai wilayah negaranya sebagai markas karena Mobutu tidak menyukai rezim komunis yang berkuasa di Angola.Pasca tumbangnya rezim Mobutu, Angola tidak yakin dengan kapasitas pemerintah baru RDK untuk menghentikan aktivitas UNITA sehingga Angola kembali mengirim pasukan ke RDK untuk membantu pemerintah setempat. Selama Perang Kongo Kedua, pasukan Angola yang memiliki pengalaman tempur puluhan tahun sebagai akibat dari perang sipil di negaranya terbukti menjadi pasukan sekutu RDK yang paling tangguh & paling dominan dalam menentukan alur peperangan.


*Buntunya Alur Peperangan*

Selama perang, kedua belah pihak juga memakai anak-anak sebagai anggota milisi. Kembali ke medan perang, situasi perang yang menemui jalan buntu akhirnya membuat pihak-pihak yang terlibat dalam perang sepakat untuk berunding. Melalui perundingan yang diadakan di Lusaka, Zambia, pada bulan Juni 1999, keenam negara yang terlibat dalam konflik (RDK, Angola,
Namibia, Zimbabwe, Rwanda, & Uganda) sepakat untuk mengakhiri konflik bersenjata. Kendati demikian, perang dalam skala kecil masih terus terjadi antara milisi pro-Kabila melawan milisi anti-Kabila di mana masing-masing milisi didukung oleh negara-negara yang terlibat dalam perang. Di sisi lain, Kabila juga dikritik oleh dunia internasional karena tindakannya dalam membatasi penerjunan pasukan PBB & menghambat proses pembicaraan untuk membentuk pemerintahan transisi di RDK.

Bulan Agustus 1999, terjadi konflik di Kisangani antara pasukan Rwanda dengan pasukan Uganda yang selama ini bersekutu. Konflik tersebut konon dilatar belakangi oleh perebutan wilayah kaya mineral & logam mulia di wilayah timur RDK. Konflik antara keduanya berakhir setelah keduanya
sepakat untuk berdamai melalui perundingan yang difasilitasi oleh PBB & keduanya pun menarik mundur pasukannya dari Kisangani pada pertengahan tahun 2000. Meskipun pada akhirnya berdamai, konflik yang muncul antara keduanya menandakan adanya keretakan di tubuh koalisi anti-Kabila
sehingga mereka tidak punya cukup kekuatan lagi untuk memenangkan pertempuran.

Secara umum, konflik yang terjadi sepanjang Perang Kongo Kedua jarang berupa pertempuran-pertempuran besar & lebih didominasi pertempuran-pertempuran gerilya karena masing-masing negara tidak mau mengorbankan personil maupun alutsista berharganya untuk gugur di RDK.
Sebagai gantinya, mereka menyokong kelompok-kelompok milisi untuk bertempur melawan kelompok milisi yang disokong lawan. Pasukan militer dari masing-masing negara sendiri lebih banyak ditempatkan secara pasif di titik-titik penting seperti kota besar, bandara, atau area
pertambangan. Hal itulah yang kemungkinan besar menjadi penyebab mengapa tidak ada perubahan-perubahan penting di medan perang.

Perang Kongo Kedua juga menjadi arena bagi aksi-aksi kejahatan kemanusiaan terhadap etnis lokal Pygmi. Penyebab kenapa etnis tersebut menjadi fokus perhatian karena selama perang berlangsung, para pasukan dari kedua belah pihak melakukan penyerangan secara sengaja ke pemukiman mereka, melakukan pelecehan seksual terhadap wanitanya, & bahkan memakan dagingnya karena mereka percaya daging orang Pygmi bisa memberikan kekuatan magis. Meskipun kedua belah pihak diketahui sama-sama melakukan kegiatan mengerikan tersebut, mayoritasnya dilakukan oleh pasukan anti-Kabila di wilayah timur RDK.


*Terbunuhnya Kabila & Perkembangan Perundingan Damai*

Tanggal 16 Januari 2001, terjadi peristiwa penembakan terhadap Kabila yang akhirnya merenggut nyawanya setelah ia sempat dirawat selama 2 hari. Berbagai dugaan & tuduhan lalu muncul ke permukaan mengenai siapa yang mendalangi pembunuhan Kabila. Posisi lowong Laurent-Desire Kabila
kemudian digantikan oleh putranya, Joseph Kabila. Berbeda dengan ayahnya, Joseph Kabila cenderung lebih lunak & kooperatif dibanding ayahnya sehingga perundingan-perundingan yang selama ini menemui jalan buntu pun mulai menemukan titik terang. Di tahun ini, tim pengawas PBB
juga melaporkan adanya aktivitas eksploitasi mineral secara ilegal oleh Rwanda

Tahun 2002, kondisi kubu anti-Kabila semakin melemah setelah sejumlah besar tentara Rwanda melakukan desersi atau membelot ke kubu pro-Kabila. Milisi-milisi dari etnis Banyamulenge yang selama ini menjadi milisi anti-Kabila yang paling dominan juga mulai menghentikan aktivitas
perangnya karena lelah akan konflik yang tidak jelas kapan akan berakhirnya. Di lain pihak, kondisi RDK di bawah pemerintahan Joseph Kabila juga semakin mantap menyusul keberhasilannya menstabilkan kondisi wilayah RDK barat & keberadaan pasukan perdamaian internasional di sana
sejak tahun 2001. Setelah melalui perundingan damai yang alot & panjang, Joseph Kabila akhirnya setuju untuk berbagi kekuasaan dengan kelompok pemberontak dalam pemerintahan (power-shared government) pada akhir tahun 2002 melalui apa yang dikenal sebagai Persetujuan Pretoria (Pretoria Accord). Hasil dari perundingan itu kemudian dilaksanakan pada bulan Juni 2003
melalui pembentukan pemerintahan transisi RDK di mana pemerintahan tersebut bertanggung jawab atas segala urusan nasional RDK hingga diadakan pemilu untuk mendapatkan pemimpin baru RDK. Pembentukan pemerintahan transisi tersebut lalu diikuti dengan penarikan mundur
semua pasukan negara-negara Afrika yang terlibat perang, kecuali Rwanda.

Sejak itu, bisa dikatakan Perang Kongo Kedua secara resmi sudah berakhir.



*KONDISI PASCA PERANG*

Pemilu untuk menentukan pemimpin baru RDK secara demokratis akhirnya dilaksanakan pada bulan Juni 2006 di mana Joseph Kabila keluar sebagai pemenang, namun kerusuhan timbul tak lama kemudian setelah munculnya isu bahwa Kabila melakukan kecurangan. Pemilu ulang pun kembali dilaksanakan di bulan Oktober 2006 di mana Kabila kembali keluar sebagai pemenang, namun kali ini dengan perolehan suara yang lebih besar. Kendati hasil pemilu tersebut masih menuai rasa tidak puas dari pihak oposisi, Joseph Kabila pada akhirnya resmi diangkat sebagai presiden RDK terhitung sejak akhir 2006. Diangkatnya Kabila sebagai presiden RDK pun mengakhiri aktivitas pemerintahan transisi yang terbentuk sejak tahun 2003.

Kendati Perang Kongo Kedua sudah resmi berakhir sejak tahun 2003, konflik di RDK belum benar-benar usai hingga sekarang. Masih rapuhnya pemerintahan baru RDK & ketergantungan mereka akan keberadaan pasukan asing menjadi penyebab utama kenapa konflik lokal tersebut masih belum
selesai hingga sekarang.

Contoh konflik utama yang masih terjadi di RDK
hingga sekarang adalah konflik di wilayah RDK timur antara milisi pro etnis Hutu melawan milisi
pro etnis Tutsi. Belakangan, konflik di timur RDK juga memasuki fase baru setelah kelompok pemberontak Lord's Resistance Army (LRA; Tentara Perlawanan Tuhan) yang berasal dari Uganda mendirikan markas baru di pelosok timur RDK & menyerang penduduk setempat.

Perang Kongo Kedua juga membawa dampak serius bagi kerusakan lingkungan setempat, terutama bagi kehidupan satwa-satwa ekstotis Afrika di kawasan RDK. Sebabnya tidak lain karena selama Konflik, para prajurit yang terlibat dalam perang sengaja memburu satwa-satwa di kawasan tersebut, entah untuk diambil dagingnya atau untuk dijual lagi. Hal tersebut juga diperparah oleh aktivitas pembabatan hutan & perusakan habitat yang masih sering terjadi. Dikhawatirkan bila tidak ada tindakan antisipasi dari pemerintah setempat, fauna-fauna penting seperti gorila & gajah Afrika yang ada di sana akan punah dalam waktu singkat.

Dampak negatif dari Perang Kongo Kedua yang paling terasa adalah timbulnya korban jiwa di mana selama periode perang, jumlah korban tewas mencapai 3 juta lebih & 2 juta lainnya yang masih hidup mengungsi keluar RDK. Jumlah korban tewas juga belum sampai di situ karena hancurnya fasilitas-fasilitas penting akibat perang menyebabkan sekitar 45.000 rakyat RDK meninggal setiap bulannya hingga sekarang akibat penyakit atau kelaparan. Karena besarnya jumlah korban & dampak negatif jangka panjang yang ditimbulkan, Perang Kongo Kedua kerap disebut-sebut sebagai
tragedi kemanusiaan terbesar sejak Perang Dunia II.

Masalah besar lainnya yang masih menghantui penduduk Kongo hingga sekarang - utamanya wanita -
maraknya kasus kejahatan seksual. Milisi-milisi di RDK yang masih aktif sering melakukan aksi-aksi pemerkosaan kepada penduduk sipil dengan berbagai tujuan, salah satunya untuk menyebarkan penyakit menular seksual secara sengaja kepada para korbannya. Akibatnya sungguh menyedihkan karena banyak dari para perempuan korban pemerkosaan yang mengalami trauma & bahkan dikucilkan oleh penduduk sekitar.


*RINGKASAN PERANG FASE II*

*1. Waktu & Lokasi Pertempuran*
- Waktu : 1998 - 2003
- Lokasi : Republik Demokratik Kongo

*2. Pihak yang Bertempur*
(Grup) - Mai-Mai, milisi-milisi pro Hutu
(Negara) - Angola, Chad, Namibia, RD Kongo, Zimbabwe
/melawan/
(Grup) - MLC, RCD, milisi-milisi pro Tutsi
(Negara) - Burundi, Rwanda, Uganda

*3. Hasil Akhir*
- Perang berakhir tanpa pemenang
- Pembentukan pemerintahan transisi sementara di RD Kongo
- Konflik skala kecil berlanjut di timur RD Kongo

*4. Korban Jiwa*
Sekitar 5.400.000.


reserve
Buat TS, kalau ingin membuka diskusi, maka TS perlu ngasih artikel pengantar dulu biar ada kejelasan topik yg dibahas & ada bahan yg bisa dipake buat memulai diskusi. Kalau cuma kayak gini, TS gak beda dengan ngejunk

Kalau TS cuma kepengen nanya, udah ada tempatnya di thread Q/A
Kirain udah ada pembahasan-nya
Tampilin juga petanya, gan TS.
First, kalau ngambil artikel dari luar, tampilin alamat lengkap sumbernya

http://republik-tawon.blogspot.com/2...-di-benua.html
http://republik-tawon.blogspot.com/2...-benua_29.html


Second, adalah hal yg kurang tepat menyebut perang ini sebagai "perang saudara" (civil war). Karena sejak permulaan hingga berakhirnya perang, angkatan bersenjata dari negara-negara di luar Zaire / RD Kongo ikut terjun & terlibat langsung di medan konflik. Faktor eksternal juga sangat berperan dalam perang ini karena perangnya bisa dikatakan sebagai lanjutan langsung dari konflik Hutu vs Tutsi yg sempat meletus di Rwanda

Contoh dari sisa-sisa konflik Rwanda & RD Kongo bisa dilihat pada pemberontakan M23 di RD Kongo timur menjelang akhir tahun lalu. Kelompok pemberontaknya didominasi oleh etnis Tutsi & disokong oleh rezim Tutsi di Rwanda, sementara lawannya adalah militer RD Kongo & milisi-milisi Hutu
perang yang dilakukan secara ngawur oleh orang yang tidak tahu hukum perang, hasilnya hanyalah kepiluan
oh ternyata begini ya