KASKUS

(sisi lain) Wamenhan: Harga BBM Naik per 1 Juni 2013

Harga bahan bakar minyak (BBM) naik per 1 Juni 2013. Demikian informasi yang disampaikan Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan) Syafri Syamsudin di sela-sela kunjungan kenegaraannya di Filipina.

Syafri mengakui banyak hal mempengaruhi situasi di Tanah Air. Satu di antaranya rencana penaikan harga BBM. Ia mengatakan pemerintah sepakat menaikkan harga BBM. Hanya minyak tanah yang tak mengalami kenaikan harga.

Kenaikan BBM bersubsidi, katanya, berimbas pada alokasi anggaran sejumlah kementerian. Kemenhan pun terkena pemangkasan anggaran sekitar Rp1,3 triliun. Kemudian, anggaran itu disalurkan ke masyarakat berpenghasilan rendah melalui program bantuan dana kompensasi.

Kunjungan Syafri ke Filipina beragenda memmrpomosikan pesawat CN-295. Syafri pun menyempatkan diri berdialog dengan warga Indonesia yang tinggal di Filipina.

sumber: http://www.metrotvnews.com/metronews...er-1-Juni-2013

=================================

wamenhan yg omong kenaikan bbm? wowww....
la kemenhan juga kena imbas anggarannya gitu kok om

Mungkin juga pusing mikir ntar Leo mo diisi solar apa minyak tanah
Quote:Original Posted By Bowo1908
la kemenhan juga kena imbas anggarannya gitu kok om

Mungkin juga pusing mikir ntar Leo mo diisi solar apa minyak tanah


minyak tanah non subsidi mahal

Leo dipasangin konverter gas aja, leo BBG, biar kaya busway
Quote:Original Posted By Black.Deneb.X4


minyak tanah non subsidi mahal

Leo dipasangin konverter gas aja, leo BBG, biar kaya busway


Haa..Haa sumpah lucu banget atas ane sampe ngakak2 bacanya... Leo jadi kaya busway hahaha
Quote:Original Posted By Jitenbee


Haa..Haa sumpah lucu banget atas ane sampe ngakak2 bacanya... Leo jadi kaya busway hahaha


lho ini serius

diesel bisa dimodif pake BBG

tapi buat kendaraan tempur, keamanannya ga terjamin
Quote:Original Posted By Black.Deneb.X4


lho ini serius

diesel bisa dimodif pake BBG

tapi buat kendaraan tempur, keamanannya ga terjamin


klo leo pake BIODIESEL gmna om?
dari sisi performa ?
Semoga sukses nyalesnya pak
lha nasib utang bbmnya gimana??
Quote:Original Posted By Mayjunes


klo leo pake BIODIESEL gmna om?
dari sisi performa ?


ga ada bedanya

mesin multifuel, diisi minyak goreng aja jalan itu
Quote:Original Posted By Black.Deneb.X4


mesin multifuel, diisi minyak goreng aja jalan itu


baru tau ane...

klo gitu minta stok topi miring cs hasil sitaan satpol pepi aja untuk jaga2 klo jatah bbm nya abis
Quote:Original Posted By Arvinzkiy


baru tau ane...

klo gitu minta stok topi miring cs hasil sitaan satpol pepi aja untuk jaga2 klo jatah bbm nya abis


kalo itu beneran bisa

jaman PD 2 vodka buat BBM darurat
Itu mah vodka gelap Rusia gila-gilaan kadar alkoholnya.

Buat yang lain-lain, kecuali mesin sudah dimodif, jangan dicoba di motor/mobil sendiri. Tapi kasarannya, alkohol bisa dipaksa masuk mesin bensin, minyak goreng bisa dipaksa masuk diesel.
Quote:Original Posted By tonnyc
Itu mah vodka gelap Rusia gila-gilaan kadar alkoholnya.

Buat yang lain-lain, kecuali mesin sudah dimodif, jangan dicoba di motor/mobil sendiri. Tapi kasarannya, alkohol bisa dipaksa masuk mesin bensin, minyak goreng bisa dipaksa masuk diesel.


klo leo pake mesin diesel berarti minyak2 jelantah bekas pkl bisa dimanfaatkan tuh untuk bahan bakar cadangan
yang dinaikin harusnya yang mobil sipil plat hitam aja lah
yang kuning, industri kecil, motor, harusnya dilarang...
nah kalo mobil perwira2 juga harus tetap ngikut yang non-subsidi, sedangkan khusus alutsita baru subsidi...
Quote:Original Posted By invalidface
yang dinaikin harusnya yang mobil sipil plat hitam aja lah
yang kuning, industri kecil, motor, harusnya dilarang...
nah kalo mobil perwira2 juga harus tetap ngikut yang non-subsidi, sedangkan khusus alutsita baru subsidi...


Kalau kita ingin cepat membuat cadangan strategis BBM tanpa harus mengorbankan bidang-bidang lain, harga BBM harus naik. Pembatasan ke plat-kuning/hitam kurang efisien dan akan banyak menimbulkan kecurangan-kecurangan dan munculnya pasar gelap.

Subsidi untuk BBM alutsista tidak ada secara nyata. Secara makroekonomi, pemberian subsidi ke militer itu cuma ngrepotin akuntansi saja tanpa ada efek apa-apa. Ujung-ujungnya duit keluarnya juga dari APBN. Cuma kalau satu lewat pos subsidi BBM sedangkan satunya lagi lewat pos Hankam.

Mau bikin cadangan strategis BBM praktis cuma ada 2 cara.
1. Korbankan anggaran pendidikan. Lalu gunakan uang tersebut untuk beli BBM tambahan dari luar negeri. Tapi kalau konsumsi nggak ditekan gue nggak yakin ini ada efeknya, sebab kalau kuota BBM subsidi naik terus ya toh habis juga.
2. Naikkan harga BBM, sehingga sipil secara otomatis akan mencari cara untuk lebih hemat. (Kenapa di bidang BBG kita kalah sama Thailand? Karena selama bensin dan solar masih Rp. 4500, ngapain pakai gas? Ngapain ngelihatin biofuel? Ngapain ngelihat energi terbarukan? Toh masih ditanggung negara.) Seharusnya BBM yang dihemat lalu bisa disimpan sebagai cadangan strategis dan jika diperlukan, bisa dijual kembali dengan harga pasar dunia.

Nasionalisasi, cari sumur baru, dll, nggak ngefek. Masalah utamanya bukan di tetek-bengek kayak gitu, tapi fakta bahwa minyak bumi bukan sumber energi terbarukan dan cadangan minyak bumi kita sudah tipis padahal kebutuhan energi kita selalu meningkat.
Quote:Original Posted By tonnyc


Kalau kita ingin cepat membuat cadangan strategis BBM tanpa harus mengorbankan bidang-bidang lain, harga BBM harus naik. Pembatasan ke plat-kuning/hitam kurang efisien dan akan banyak menimbulkan kecurangan-kecurangan dan munculnya pasar gelap.

Subsidi untuk BBM alutsista tidak ada secara nyata. Secara makroekonomi, pemberian subsidi ke militer itu cuma ngrepotin akuntansi saja tanpa ada efek apa-apa. Ujung-ujungnya duit keluarnya juga dari APBN. Cuma kalau satu lewat pos subsidi BBM sedangkan satunya lagi lewat pos Hankam.

Mau bikin cadangan strategis BBM praktis cuma ada 2 cara.
1. Korbankan anggaran pendidikan. Lalu gunakan uang tersebut untuk beli BBM tambahan dari luar negeri. Tapi kalau konsumsi nggak ditekan gue nggak yakin ini ada efeknya, sebab kalau kuota BBM subsidi naik terus ya toh habis juga.
2. Naikkan harga BBM, sehingga sipil secara otomatis akan mencari cara untuk lebih hemat. (Kenapa di bidang BBG kita kalah sama Thailand? Karena selama bensin dan solar masih Rp. 4500, ngapain pakai gas? Ngapain ngelihatin biofuel? Ngapain ngelihat energi terbarukan? Toh masih ditanggung negara.) Seharusnya BBM yang dihemat lalu bisa disimpan sebagai cadangan strategis dan jika diperlukan, bisa dijual kembali dengan harga pasar dunia.

Nasionalisasi, cari sumur baru, dll, nggak ngefek. Masalah utamanya bukan di tetek-bengek kayak gitu, tapi fakta bahwa minyak bumi bukan sumber energi terbarukan dan cadangan minyak bumi kita sudah tipis padahal kebutuhan energi kita selalu meningkat.

Cara pertama kayaknya ga mungkin dilakukan, selama konstusi kita mengamanatkan anggaran pendidikan 20% maka selama itu pemerintah ga akan berani nguranginya wong ni penghematan anggaran alokasi kemendiknas ga dipangkas

Quote:Original Posted By invalidface
yang dinaikin harusnya yang mobil sipil plat hitam aja lah
yang kuning, industri kecil, motor, harusnya dilarang...
nah kalo mobil perwira2 juga harus tetap ngikut yang non-subsidi, sedangkan khusus alutsita baru subsidi...


kalo cuma sebatas pembatasan berdasarkan plat item, kuning, merah sih menurut hemat saya masih kurang efektif.
gimana kalo semua kendaraan bermotor harus make bbm sesuai dengan spesifikasi mesin pabrikan. kan sekarang banyak th mobil mewah ngisi premium padahal kalo di liat rekomendasi pabrik harusnya pertamax.

mohon di bimbing kalo ada yg salah
Quote:Original Posted By kaisepo

Cara pertama kayaknya ga mungkin dilakukan, selama konstusi kita mengamanatkan anggaran pendidikan 20% maka selama itu pemerintah ga akan berani nguranginya wong ni penghematan anggaran alokasi kemendiknas ga dipangkas



Yup, itu sudah amanat UU, baru bisa dirubah kalau ada revisi UU yang dilakukan oleh anggota DPR dan Pemerintah yang berkuasa atas persetujuan MK. Sebenarnya yang paling realistis itu dengan memotong subsidi BBM dan menaikan pajak kendaraan bermotor secara progresif. Misalnya orang/kepemilikan pribadi yang memiliki motor/mobil atas nama dirinya lebih dari dua unit akan dikenakan pajak kendaraan hingga 20 persen keatas dari nilai beli kendaraan itu (untuk menekan pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor). Lalu pendataan ulang untuk NPWP dan potensi pajak usaha, karena selama ini usaha kecil menengah masih bebas pajak, padahal keberadaan mereka dilindungi oleh negara. Seperti warung bakso, bakmi, warung tegal, toko kelontong dan lain lain yang menempati toko dan komplek pasar dengan luasan area usaha diatas 2X3 meter minimal harusnya sudah dikenai pajak dari nilai beli/sewa lahan atau lapak usahanya tersebut. Begitu juga dengan para pemilik tanah, baik itu instansi atau perorangan, seharusnya semua kena pajak tanah dan harus ditagih dengan keras. Soalnya melihat potensi pajak yang ada selama ini sebagai sumber utama pendapatan pemerintah dalam APBN masih sangat kurang cakupan luasan beban pajak yang diterapkan pemerintah kepada masyarakat kita yang manja ini. Kalau ane lihat sih di negara negara Barat sumber pendapatan pemerintah dari pajak sangatlah vital dan krusial, sementara potensinya di Indonesia masih bisa digali lebih jauh lagi.
Quote:Original Posted By madokafc


Spoiler for ?:


ngetik pake spasi & enter dong







susah dibaca
Sekedar data:

Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, di tahun 2010 konsumsi BBM adalah setara dengan 388.241.000 barel minyak. Benar ini banyak macamnya, tapi oleh Kementerian ESDM sudah dirata-ratakan jadi setara segitu. Konsumsi BBM per tahun memang naik turun, tapi saya rasa kalau kita perkirakan tahun 2014 adalah sekitar 400 juta barel, rasanya tidak terlalu berlebihan.

Cadangan strategis BBM itu bukan hanya cadangan BBM yang diperlukan untuk kebutuhan alutsista TNI. Salah itu. Yang benar, cadangan strategis BBM itu cadangan BBM agar ekonomi negara tidak mandeg kalau ada apa-apa. Kalau TNI bisa jalan tapi ekonomi mandeg selama perang, percuma. Kita sudah kalah sebelum perang dimulai. Jadi cadangan strategis BBM itu harus bisa memenuhi kebutuhan seluruh negara selama situasi darurat. Rata-rata negara besar ingin minimal cukup untuk 3 bulan. Amerika pinginnya juga segitu, tapi karena konsumsi BBM di sana begitu besarnya, cuma cukup untuk sebulan lebih. Cina ingin 3 bulan, tapi belum kesampaian juga, masih sekitar 1 bulanan.

Karena cadangan strategis diinginkan agar cukup untuk menjalankan ekonomi negara selama minimal 3 bulan, berarti kita butuh 3/12 = 1/4 dari setara 400 juta barel = setara 100 juta barel. Kalau belum bisa, minimal 1 bulan lah. Berarti setara 33 juta barel.

Kalau nggak salah ada petinggi Pertamina yang bilang kalau cadangan strategis kita cuma cukup untuk 3 hari. Tiga hari dibagi 30 = 1/10. Berarti kita sudah ada 3,3 juta barel. Yah masih kurang 30 juta barel lagi.

Anggap saja harga minyak 2013 rata-rata 110 dolar per barel. Berarti kita harus siapin 3,3 miliar dolar. Asumsi kurs $1 = Rp. 9700 berarti sekitar Rp 32 triliun. Ini sebenarnya masih kurang, karena Pertamina belum memiliki infrastruktur untuk menampung cadangan strategis itu. Itu harus dibangun sambil jalan. Duitnya berapa? Kagak tahu, tapi anggap saja juga 32 triliun. Tapi enaknya nanti kalau sudah selesai kedepannya cuma perlu ngitung biaya perawatan fasilitas dan susutnya BBM, dan ini jauh lebih sedikit. Tapi anggap saja pertamanya butuh 32+32 = 64 triliun. Kalau mau 3 bulan kalikan 3 jadi 192 triliun.

Subsidi BBM 2013 tanpa kenaikan harga diperkirakan Rp. 193,8 triliun.

Pangkas subsidi BBM secara bertahap. Alihkan dananya ke pos lain, termasuk pengadaan cadangan strategis. Tahun 2020 tercapai deh cadangan strategis 3 bulan.